https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology E-ISSN: 3025-2709 (Onlin. & P-ISSN - (Prin. DOI: 10. 61510/skyeast. This is an open access article under the CC BY-NC license Perhitungan Kapasitas Air Conditioner untuk Kenyamanan Termal pada Gedung Serba Guna di Politeknik Penerbangan Palembang Moch. Daffa Firata1. Romi Ario Nugroho2. Yani Yudha Wirawan3. Asep Muhamad Soleh4. Indra Martadinata5. Politeknik Penerbangan Palembang. Palembang. Indonesia, email: daffa. trbu3@poltekbangplg. Politeknik Penerbangan Palembang. Palembang. Indonesia, email: romi. trbu3@poltekbangplg. Politeknik Penerbangan Palembang. Palembang. Indonesia, email: yudha@poltekbangplg. Politeknik Penerbangan Palembang. Palembang. Indonesia, email: asep@poltekbangplg. Politeknik Penerbangan Palembang. Palembang. Indonesia, email: indrakoe@poltekbangplg. Corresponding Author: romi. trbu3@poltekbangplg. Abstract: Thermal comfort is a critical factor in creating an environment that supports indoor activities, particularly in tropical regions such as Palembang. The Multipurpose Hall (GSG) on the first floor of Politeknik Penerbangan Palembang, frequently used by academic staff and students, experiences high temperatures and excessive air humidity due to rising ambient heat. This study aims to calculate the ideal air conditioner (AC) capacity required to achieve thermal comfort in accordance with established standards. A quantitative research approach was employed by collecting field data such as room dimensions, actual temperature and humidity, as well as the number and type of AC units installed. Additionally, a Guttman scale-based survey was conducted with 30 respondents to assess user comfort perceptions. The results showed that the current installed AC capacity of 48 PK is insufficient compared to the actual requirement of 52 PK. Furthermore, 66% of respondents indicated that the current thermal conditions were unsatisfactory. Therefore, an additional 4 PK of AC capacity is recommended to address the cooling deficit. This improvement is expected to enhance thermal comfort and support productive indoor activities across the entire GSG area. Keyword: Thermal comfort. Air Conditioning Capacity. Guttman Scale. Air Humidity. Abstrak: Kenyamanan termal merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas di dalam ruangan, terutama pada wilayah dengan iklim tropis seperti Kota Palembang. Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang yang sering digunakan oleh sivitas akademika, mengalami masalah suhu tinggi dan kelembaban udara berlebih akibat meningkatnya temperatur lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kapasitas air conditioner (AC) yang ideal agar mampu menciptakan kenyamanan termal sesuai standar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui pengumpulan data lapangan berupa dimensi ruangan, suhu dan kelembapan aktual, serta jumlah dan jenis air conditioner (AC) yang digunakan. Selain itu, survei dengan skala Guttman juga dilakukan kepada 30 responden guna menilai persepsi kenyamanan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kapasitas air conditioner (AC) yang terpasang saat ini sebesar 48 PK masih berada di bawah kebutuhan aktual sebesar 52 PK. Sementara itu, 66% SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 responden menyatakan bahwa kenyamanan termal belum tercapai secara optimal. Dengan demikian, peningkatan kapasitas air conditioner (AC) sebesar 4 PK diperlukan untuk mengatasi defisit pendinginan. Penambahan ini diharapkan dapat menunjang kualitas aktivitas dalam ruangan serta memberikan kenyamanan yang merata di seluruh area Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1. Kata Kunci: Kenyamanan Termal. Kapasitas AC. Skala Guttman. Kelembaban Udara. PENDAHULUAN Kenyamanan termal merupakan sebuah keadaan yang mengekspresikan kepuasaan dari rasa nyaman seseorang terhadap lingkungannya. Indonesia merupakan daerah tropis yang wilayahnya di sekitar garis khatulistiwa dengan iklim hangat, maka dari itu kenyamanan termalnya pada faktor suhu 24-27oC dan kelembaban udaranya 50-60% (Febiyani, 2. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian (Eka Nur dkk. , 2. yang menyatakan bahwa standar yang ditetapkan dalam SNI 03-6572-2001 yang menentukan tingkat suhu nyaman bagi WNI untuk mendukung kenyamanan termal dibagi menjadi tiga yaitu sejuk yang nyaman . ,522,8oC), mencapai kenyamanan optimal pada suhu efektif . ,8-25,8oC), dan kehangatan yang nyaman . ,8-27,1oC). Lingkungan seseorang pada sebuah keadaan atau kegiatan dibagi menjadi dua, yaitu luar dan dalam ruangan. Pada umumnya kegiatan seseorang setiap harinya dilakukan di dalam ruangan, sehingga membutuhkan sirkulasi udara yang baik sehingga menciptakan kenyamanan termal ruang untuk beraktivitas dan bergerak. Pada umumnya ruangan yang baik untuk menciptakan kenyaman termal adalah ruangan yang memiliki lebar dan arah bukaan suatu ruangan. Ruang yang lebih luas dan arah bukaan yang tepat membantu kondisi kenyamanan ruangan tersebut. Seiring berjalannya waktu, dunia sedang mengalami globalisasi yang ditandai terjadinya naik turun suhu secara tidak konsisten. Salah satunya adalah Negara Indonesia, dengan kondisi Indonesia sekarang yang sedang mengalami peningkatan suhu akibat pemanasan global sehingga menyebabkan kondisi panas dan gerah. Menurut penelitian (Febriani Irma et al. , 2. suhu di Indonesia sangat meningkat dari sebelumnya, salah satu faktornya ialah peningkatan emisi gas rumah kaca dan kurangnya penanaman tumbuhan hijau. Selain itu, di tahun 2024 salah satu kota di Indonesia yaitu Palembang. Sumatera Selatan masuk dalam daftar empat kota dengan suhu tertinggi di Asia Tenggara dalam periode Juli (BMKG, 2. sampai Agustus (BMKG, 2. dengan rata-rata suhu terendah 30 oC dan tertinggi Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang berada di Kota Palembang, sehingga ruangan tersebut sering terasa panas akibat suhu yang tinggi di kota Suhu yang panas dalam suatu ruangan sangat diperlukan air conditioner (AC). Air Conditioner (AC) merupakan alat yang berfungsi untuk mengkondisikan udara ruangan menjadi sejuk, serta sebagai penyejuk udara pada suatu ruangan (Usman dkk. , 2. Berdasarkan survey lapangan yang dilakukan, jumlah air conditioner (AC) di Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang memiliki 18 buah air conditioner (AC) split, dengan jumlah air conditioner (AC) tersebut kenyamanan thermal di GSG Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang masih cukup sulit didapatkan, melihat suhu cuaca yang panas di kota tersebut. Menurut penelitian (Rahardjo dkk. , 2. ruangan yang lebar dan arah bukaan suatu ruangan saja tidak cukup untuk menciptakan kenyamanan termal dan perlu adanya faktor tambahan yaitu pendingin udara pada ruangan atau bangunan. Kurangnya jumlah air conditioner (AC) serta pengguna ruangan yang cukup kompleks menjadi salah satu faktor utama terhadap kenyamanan thermal di suatu ruangan (Nuryanti dkk. , 2. Pemakaian air conditioner (AC) berfungsi untuk mendinginkan ruangan sehingga memperoleh kenyamanan termal ruang agar seseorang nyaman untuk beraktivitas dalam SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 Permasalahan yang masih sering diterjadi saat pemakaian air conditioner (AC) adalah saat proses pemasangannya, dimana ditemukannya pemasangan air conditioner (AC) dengan kapasitas yang belum sesuai standar. Berdasarkan penelitian (Adzikri fikri, 2. menyatakan bahwa jika air conditioner (AC) yang dipasang melebihi dengan perhitungan kapasitasnya, maka ini akan menjadi pemborosan konsumsi daya listrik. Sebaliknya jika kapasitas air conditioner (AC) yang terpasang terlalu rendah dari apa yang dibutuhkan, maka hal ini akan menjadi ketidaknyamanan bagi pengguna ruangan disamping konsumsi daya listrik yang meningkat karena beban kerja air conditioner (AC) meningkat. Penelitian lain juga dilakukan oleh (Aizat Samarul Fuad dkk. , t. ), menyatakan bahwa Gedung Laboratorium Teknik 2. Institut Teknologi Sumatera memiliki kapasitas pendingin yang tidak cukup untuk membuat kenyaman bagi para pengguna, melihat luas bangunan yang cukup luas serta jumlah penghuni dan penggunaan peralatan yang menggunakan sinar atau cahaya cukup banyak, dengan menggunakan 1 buah air conditioner (AC) sebesar 5020 W tidak cukup untuk membuat kenyamanan gedung tersebut. Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian terkait perhitungan kapasitas air conditioner (AC) terhadap kenyamanan termal pada sebuah ruangan atau bangunan dengan menggunakan luas bangunan itu sendiri. Faktor perhitungan luas bangunan ini agar memastikan kapasitas air conditioner (AC) yang digunakan tepat. Penelitian juga nantinya akan melaksanakan survei kepuasan dari pengguna Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang guna melihat kenyamanan thermal dengan jumlah air conditioner (AC) yang digunakan saat ini. Namun, hingga saat ini belum banyak penelitian yang secara spesifik meninjau hubungan antara kapasitas AC dengan luas ruangan dan tingkat kenyamanan termal aktual di lingkungan kampus penerbangan, khususnya di wilayah beriklim panas seperti Palembang. Selain itu, sebagian besar penelitian terdahulu hanya berfokus pada perhitungan teknis kapasitas pendingin tanpa mempertimbangkan persepsi kenyamanan pengguna ruang. Dengan demikian, terdapat kesenjangan penelitian . esearch ga. dalam integrasi antara aspek teknis . apasitas AC) dan aspek manusiawi . ingkat kenyamanan termal penggun. pada studi bangunan pendidikan di daerah tropis. Pada penelitian ini, penulis meneliti Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang. Hal tersebut disebabkan bahwa Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 sendiri merupakan ruangan yang sering digunakan oleh civitas akademika Politeknik Penerbangan Palembang sehingga sangat diperlukan sekali kenyamanan termal pada ruangan Dengan metode kuantitatif, penelitian ini bertujuan menghitung kapasitas air conditioner (AC) agar nantinya perhitungan ini bisa memberikan gambaran seberapa banyak jumlah air conditioner (AC) yang harus digunakan dari jumlah sebelumnya agar memberikan kenyamanan bagi pengguna Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang. Diharapkan kedepannya hasil penelitian ini dapat diimplementasikan ke ruangan atau gedung lain yang berada di Kampus Politeknik Penerbangan Palembang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan sistem pendingin ruangan di bangunan pendidikan lainnya, khususnya di lingkungan tropis dengan karakteristik suhu tinggi seperti Palembang. KAJIAN PUSTAKA Kenyamanan termal merupakan kondisi di mana seseorang merasa puas terhadap suhu dan kelembaban udara di sekitarnya. Dalam iklim tropis seperti Indonesia, kenyamanan termal sangat dipengaruhi oleh suhu udara, kelembaban relatif, serta sirkulasi dan distribusi udara di dalam ruangan. SNI 6390:2011 menetapkan bahwa suhu nyaman dalam ruangan berada pada kisaran 25,5 A 1,5 AC dengan kelembaban relatif sekitar 60% untuk mendukung kenyamanan SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 Air conditioner (AC) menjadi komponen utama dalam menciptakan kenyamanan Pemilihan kapasitas air conditioner (AC) yang tepat sangat penting agar pendinginan berjalan efektif tanpa pemborosan energi. Menurut (Wisaksono dkk. , 2. , air conditioner (AC) dengan kapasitas yang terlalu kecil akan menyebabkan beban kerja meningkat, sementara kapasitas yang terlalu besar justru menyebabkan boros energi dan kelembaban yang tidak Dalam perhitungannya, kapasitas air conditioner (AC) sering dikonversi ke satuan PK, di mana 1 PK setara dengan 9. 000 BTU/h. Kelembaban dan sirkulasi udara juga menjadi faktor yang mempengaruhi efektivitas sistem pendingin. Ruangan dengan kelembaban tinggi akan membuat proses penguapan keringat kurang efektif, sehingga menyebabkan tubuh tetap merasa panas. Oleh karena itu, sistem AC juga harus mampu mengendalikan tingkat kelembaban agar tetap berada di kisaran optimal antara 40Ae60%. Efisiensi energi menjadi isu penting dalam pemilihan air conditioner (AC). Teknologi inverter telah terbukti mampu menghemat energi hingga 30Ae50% dibandingkan air conditioner (AC) konvensional, dengan nilai Coefficient of Performance (COP) yang lebih tinggi. Selain itu, penggunaan refrigeran yang ramah lingkungan seperti R-32 juga memberikan kontribusi dalam efisiensi energi dan pengurangan dampak lingkungan. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan pentingnya kesesuaian antara kapasitas air conditioner (AC) dengan volume ruangan. (Wulandari & Widiastuti, 2. menemukan bahwa ketidaksesuaian kapasitas air conditioner (AC) dengan luas ruangan dan jumlah pengguna menyebabkan ketidaknyamanan termal. Demikian pula, studi oleh (Chintya dkk. , 2. menyatakan bahwa banyak ruangan masih menggunakan air conditioner (AC) dengan kapasitas di bawah kebutuhan aktual, sehingga suhu optimal sulit dicapai. Dengan demikian, perhitungan kebutuhan kapasitas air conditioner (AC) yang tepat berdasarkan dimensi ruangan, jumlah pengguna, kelembaban, dan kondisi lingkungan menjadi aspek penting dalam menciptakan kenyamanan termal yang ideal serta efisiensi energi dalam METODE Desain Penelitian Desain penelitian merupakan suatu desain keseluruhan dari proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif, di mana seluruh proses perencanaan dan pelaksanaan penelitian dirancang secara sistematis untuk memperoleh data berbentuk angka yang dapat dianalisis secara statistik. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data numerik melalui pengukuran luas ruangan, suhu lingkungan, faktor iklim, serta beban internal bangunan untuk menentukan kapasitas pendingin udara yang sesuai dengan kebutuhan ruang. Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode penelitian dengan analisis statistik untuk menilai suatu gagasan merupakan bagian dari pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian ini, penulis memanfaatkan metode kuantitatif untuk menghitung kebutuhan kapasitas air conditioner (AC) di Gedung Serba Guna (GSG) 1 Politeknik Penerbangan Palembang. SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 Sumber: Penulis Tahun 2025 Gambar 1. Tahapan Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan Politeknik Penerbangan Palembang, berdasarkan pengamatan penulis khususnya di Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1, kenyamanan thermal di ruangan tersebut masih kurang dikarenakan kapasitas atau jumlah air conditioner (AC) yang dipakai tidak cukup menahan beban internal dan kapasitas ruangan yang cukup luas menjadi faktor kurangnya kenyamanan thermal di ruangan tersebut. Pada tanggal 29 Mei 2025 sampai dengan 15 Juni 2025, penelitian melaksanakan survey lapangan sebagai bagian dari proses pelaksanaan dan penelitian studi, berikut tabel jadwal kegiatan studi: Uraian Tabel 1. Jadwal Kegiatan Studi 29 Mei Ae 3 4 Juni Ae 10 11 Juni Ae 13 Juni 2025 Juni 2025 Juni 2025 14 Juni Ae 15 Juni 2025 Perancangan Penelitian Observasi Lapangan Penemuan Permasalahan Merumuskan Permasalahan Mengumpulkan Data Kuesioner dan Dokumentasi Sumber : Penulis Tahun 2024 SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 Teknik Pengumpulan Data Observasi Pada pengumpulan data dilakukan teknik observasi, dokumentasi, dan survey. Secara umum, observasi merupakan cara atau metode menghimpun keterangan atau data yang dilakukan dengan mengadakan suatu pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan (Mania, 2. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh data dan meninjau langsung kondisi di lapangan. Tujuan utama observasi ini ialah mengidentifikasi jumlah air conditioner (AC) yang digunakan saat ini, faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan thermal ruangan serta kebutuhan kapasitas air conditioner (AC) yang dibutuhkan sebenarnya. Observasi dilakukan secara langsung pada lokasi atau lapangan dengan pendekatan deskritif. Berikut beberapa aspek yang diamati dalam tahap observasi ini: Dimensi Ruangan Dalam sebuah studi kenyamanan termal, dimensi ruangan menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan. Ukuran ruang, baik dari sisi panjang, lebar, maupun tinggi, akan berpengaruh terhadap volume udara di dalamnya, serta berkontribusi terhadap kebutuhan pendingin atau kapasitas air conditioner (AC) yang dibutuhkan (Widyakusuma & Zainoeddin, 2. Menurut prinsip dasar dalam tata udara dan pengendalian iklim ruang, semakin besar dimensi suatu ruangan, maka beban pendinginan yang diperlukan juga akan semakin besar. Hal ini dikarenakan ruang dengan volume udara yang besar membutuhkan energi lebih untuk mencapai suhu dan kelembaban yang diinginkan (S dkk. Pengumpulan Data Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembapan udara merupakan dua variabel penting dalam kajian kenyamanan termal di dalam ruangan. Suhu berpengaruh langsung terhadap persepsi kenyamanan penghuni ruang, sementara kelembapan berperan dalam menjaga kualitas udara dan mencegah kerusakan pada peralatan atau komponen di dalam ruangan. Suhu merupakan hal yang paling sensitif terhadap tubuh dan suatu ruangan terhadap kelancaran dan kualitas suatu jaringan dalam ruang server, sedangkan ruangan yang terlalu lembab dapat merusak komponen, kelembapan suatu air conditioner (AC) sebaiknya 40% RH Ae 60% RH (Awaj , 2. Identifikasi Pendingin Ruangan Sistem pendingin udara merupakan komponen utama dalam menciptakan kenyamanan termal di dalam bangunan. Efektivitas pendinginan dipengaruhi oleh jenis dan kapasitas pendingin ruangan yang digunakan, serta distribusinya terhadap luas ruang yang dilayani. Salah satu parameter yang digunakan untuk menilai kapasitas pendingin adalah satuan daya pendingin atau dikenal dengan sebutan PK (Paard Krach. , yang menunjukkan kemampuan alat dalam menurunkan suhu ruangan. kualitas suhu di dalam suatu ruang sangat dipengaruhi oleh performa sistem pendingin, baik dari segi jumlah unit, daya pendingin, maupun kecocokannya terhadap kondisi ruangan. Oleh karena itu, identifikasi terhadap jenis dan kapasitas pendingin udara yang terpasang menjadi langkah awal yang penting dalam mengevaluasi kesesuaian beban pendinginan terhadap kebutuhan aktual bangunan (Krisrenanto dkk. , 2. SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 Kuesioner Kuesioner merupakan alat pengumpulan data primer dengan metode survei untuk memperoleh opini responden. Kuesioner sebagai salah satu instrumen penelitian ilmiah banyak dipakai pada penelitian sosial, misalnya penelitian di bidang sumber daya manusia, pemasaran serta penelitian tentang keperilakuan . ehavioral researc. yang menyangkut masalah dibidang akuntansi . ehavioral accountin. serta keuangan . ehavioral financ. Tabel 2. Indikator Kuesioner Indikator Pertanyaan Nomor Soal Daya Pendinginan Apakah AC di GSG Lantai mendinginkan ruangan dengan cepat setelah Distribusi udara Apakah udara dingin dari AC tersebar merata ke seluruh ruangan? Jumlah dan Apakah jumlah dan kapasitas AC terpasang sesuai dengan ukuran ruangan? Fungsi AC saat Apakah AC tetap bekerja beban penuh optimal saat ruangan . anyak oran. ? Intesitas Apakah penggunaan AC kegiatan di GSG lantai 1 Kenyamanan Suhu Ruangan Apakah suhu ruangan Thermal (Y) terasa nyaman selama kegiatan berlangsung? Tingkat kelembaban Apakah udara di dalam ruangan sejuk dan tidak lembab? Sirkulasi udara Apakah sirkulasi udara di dalam ruangan dalam GSG terasa lancar dan tidak pengap? Pengaruh suhu Apakah suhu ruangan kenyamanan anda dalam mengikuti kegiatan? Kepuasan terhadap Secara kondisi thermal apakah anda merasa puas dengan kondisi suhu dan kenyamanan termal di GSG Lantai 1? Sumber : PR 21 Tahun 2023. PM 83 Tahun 2017. ICAO Doc 9157 Part 4 Variabel Kapasitas AC (X) Dokumentasi Secara Dokumentasi merupakan proses pencatatan dan pengumpulan data yang disimpan sebagai arsip dan tanda bukti bahwa sesuatu atau kejadian telah dilakukan (Siagian , 2. SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 Instrumentasi Penelitian Intrumen yang digunakan pada penelitian ini ialah kuesioner, penyebaran kuesioner dilakukan di Kampus Politeknik Penerbangan Palembang. Penulis menggunakan sistem pengukuran Skala Guttman. Menurut penelitian (Yulianto dkk. , 2. Skala Guttman mempunyai kelebihan dengan hanya melihat satu respons serta memprediksi respons terhadap seluruh pernyataan pada skala serta membuat kuesioner yang singkat. Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu Auya-tidakAy . Aupernah-tidak pernahAy . Aupositif-negatifAy dan lain- lain (Sugiyono, 2. Tabel 3. Pengukuran Skala Guttman Pertanyaan Jawaban Apakah suhu ruangan terasa nyaman selama kegiatan Tidak Poin Sumber : (Sugiyono, 2. Merujuk Tabel 3, jawaban responden terhadap kuesioner dapat diwakilkan oleh skala guttman di tabel atas. Skala guttman digunakan pada masing-masing pernyataan dalam kuesioner yang disebar oleh penulis. Perhitungan Kebutuhan AC ycEycayceycaycaycu ycyyceycuyccycnycuyciycnycu = yaya = yaAycNycO ycOyyayyayyayya Ea Dimana: W = Panjang ruang . m = 3,2808 f. H = Tinggi ruang . L = Lebar ruang . I = 10 Ae jika ruang berinsulasi / tidak berhubungan dengan ruang luar / berhimpit dengan ruangan lain/ di lantai bawah = 18 Ae jika ruang tidak berinsulasi / di lantai paling atas E = 16 Ae jika dinding terpanjang/dinding luar menghadap Selatan = 17 Ae jika dinding terpanjang menghadap Timur = 18 Ae jika dinding terpanjang menghadap Utara = 20 Ae jika dinding terpanjang menghadap Barat 1 PK = 9000 BTU/h Sumber : (Aulia Geraldine & Putra Raharjo, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Observasi lapangan Observasi lapangan dilakukan secara langsung di Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang sebagai lokasi utama penelitian. Dilakukannya observasi bertujuan untuk mengidentifikasi besar dimensi ruangan, keadaan suhu serta kelembaban, dan seberapa banyak jumlah kapasitas air conditioner (AC) yang digunakan. Dari hasil pengamatan, diperoleh gambaran menyeluruh terkait tata ruang, dimensi ruangan, jumlah unit terpasang, serta penyebaran alat pendingin di setiap sudut ruangan. Selain itu, dilakukan pula SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 pengukuran terhadap suhu dan tingkat kelembapan menggunakan alat ukur termometer dan hygrometer untuk memperoleh data yang akurat sesuai kondisi nyata di lapangan. Obsrvasi ini menjadi data utama atau acuan dalam penelitian terkait sejauh mana sistem AC yang ada mampu menunjang kenyamanan termal ruangan. Data yang diperoleh di lapangan nantinya akan menjadi pembanding dengan perhitungan yang dilakukan untuk mengukur kapasitas jumlah air conditioner (AC) yang sebenarnya. Data yang didapatkan melalui observasi juga dikombinasikan dengan hasil kuesioner dan analisis perhitungan untuk memberikan kesimpulan yang komprehensif terhadap permasalahan penelitian. Dimensi Ruangan Sumber: Penulis Tahun 2025 Gambar 2. Denah Lokasi Ruangan Gambar diatas merupakan denah lokasi Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan, struktur ruangan terbagi menjadi beberapa bagian yang kemudian dikelompokan menjadi 2 segmen perhitungan. Segmen pertama mencakup ruang 1 hingga ruang 5, sedangkan segmen kedua mencakup ruang 6 sampai ruang 8. Seluruh dimensi yang ditampilkan pada gambar di atas dinyatakan dalam satuan meter . Nilai ukuran menunjukkan panjang dan lebar masingmasing bagian ruangan berdasarkan hasil pengukuran aktual di lapangan serta disesuaikan dengan skala gambar teknis yang berlaku. A Perhitungan luas bangunan untuk ruangan 1-5 ya = 45,35yco y 3yco = 136,5yco2 A Perhitungan luas bangunan untuk ruangan 6-8 ya = . ,2yco 3,5yco 14,6yc. y 4,75yco = 110,6yco2 SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 Jadi total luas bangunan Gedung Serba Guna Lantai 1 Politeknik penerbangan Palembang ialah 246,65 m2. Tinggi yang digukana Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang pada saat pengukuran di lapangan adalah 4 m. Data Suhu dan Kelembaban Berdasarkan pengukuran suhu dan kelembapan di Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan palembang dengan menggunakan alat ukur suhu dan kelembapan yaitu hygrometer didapatkan suhu ruangan ialah 33AC dan kelembapan 82 %. Suhu 33AC sudah tergolong panas, melebihi batas suhu ideal kenyamanan ruangan yang umumnya berada pada rentang 22Ae27AC. Kelembapan 82% termasuk dalam kategori sangat tinggi, di mana batas kelembapan ideal untuk kenyamanan manusia biasanya antara 4060%. Kombinasi suhu dan kelembapan tinggi ini dapat mengganggu kenyamanan termal, karena tubuh akan kesulitan melepaskan panas melalui proses penguapan keringat. Dengan adanya data suhu dan kelembapan pada GSG (Gedung Serba Gun. Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang mengambarkan bahwa ruangan tersebut harus membutuhkan pendingin ruangan yang cukup agar ruangannya tidak berasa gerah dan panas. Sumber : Penulis Tahun 2025 Gambar 3. Nilai Suhu dan Kelembaban Identifikasi Unit AC Terpasang Berdasarkan penelitian yang dilakukan di lapangan didapatkan bahwa Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang menggunakan 18 unit air conditioner (AC) diantaranya ialah: Jenis AC AC Split AC Split AC Split Tabel 4. Kapasitas Jumlah AC Type AC Besar PK Jumlah Unit Wall-Mounted 1 PK 3 Buah Wall-Mounted 2 PK 10 Buah Standing 5 PK 5 Buah Total 18 Buah Sumber : Penulis Tahun 2025 Total PK 3 PK 20 PK 25 PK 48 PK Hasil Kuesioner Responden Untuk memperoleh data pendukung mengenai kenyamanan termal yang dirasakan pengguna ruangan, peneliti menyebarkan kuisioner kepada 30 responden yang pernah menggunakan atau berada di dalam Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang. Setiap responden diberikan 10 pernyataan tertutup yang berkaitan dengan efektivitas pendinginan ruangan oleh air conditioner (AC), dengan pilihan jawaban SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 AuYaAy dan AuTidakAy berdasarkan pengalaman masing-masing. Berdasarkan hasil rekapitulasi jawaban dari seluruh responden, diperoleh total 300 tanggapan . orang y 10 pertanyaa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 34% tanggapan menyatakan bahwa air conditioner (AC) memberikan pengaruh positif terhadap kenyamanan ruangan, sedangkan 66% menyatakan tidak merasakan kenyamanan termal yang memadai meskipun air conditioner (AC) telah Hasil ini ditampilkan pada diagram lingkaran berikut: Sumber : Penulis Tahun 2025 Gambar 4. Akumulasi Keseluruhan Responden Dominasi jawaban AuTidakAy menunjukkan bahwa mayoritas pengguna merasa bahwa sistem pendingin yang ada belum bekerja secara optimal dalam menciptakan kenyamanan termal di dalam ruangan. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi penilaian ini antara lain adalah distribusi udara yang tidak merata, kapasitas air conditioner (AC) yang tidak sebanding dengan ukuran ruangan, serta kondisi lingkungan saat ruangan digunakan penuh. Perhitungan Ideal Kapasitas AC Untuk menentukan kebutuhan aktual AC, digunakan rumus perhitungan sederhana kapasitas AC berdasarkan dimensi ruangan dan faktor lingkungan, yaitu: yaAycNycO ycO y ya y ya y ya y ya Ea Konversi ke PK: 1 PK = 9000 BTU/h = Lebar ruangan dalam feet = Tinggi ruangan dalam feet = 4 meter y 3,28 = 13,12 feet = Panjang ruangan dalam feet = Pengarus ruangan . ika dilantai bawah/terhimpit 1=10. jika tidak 1=. = Dinding terpanjang yang terkena cahaya matahari . arat = 20. timur = 17. selatan = 18. utara = . Konversi meter ke feet dikalikan 3,28 A Ruangan I L = 5,3y3,28 = 17,384 feet W = 3y3,28 = 9,84 feet H = 13,12 feet I = 10 E = 16 . enghadap utar. 17,382y9,84y13,12y10y16 AC = = 5984,8 . BTU = 1 PK SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast A Ruangan II L = 5,05y3,28 = 16,564 feet W = 5y3,28=16,4 feet H = 13,12 feet I = 10 E = 16 . enghadap utar. AC = A 16,564y16,4 y13,12y10y16 = 9504,1 . BTU = 1,5 PK Ruangan i L = 35,05y3,28 = 114,964 W = 5,05y3,28 = 16,564 feet H = 13,12 feet I = 10 E = 16 . enghadap utar. AC = A Vol. No. Desember 2025 114,964y16,564 y13,12y10y16 = 66623,8 . BTU = 7,5 PK Ruangan IV L = 17y3,28 = 55,76 feet W = 5,2y3,28 = 17,056 feet H = 13,12 feet I = 10 E = 17 . enghadap timu. AC = 55,76y17,056 y13,12y10y17 = 35353,4221 . BTU = 4 PK Ruangan V L = 40,15y3,28 = 131,692 W = 14,95y3,28=49,036 H = 13,12 feet I = 10 E = 20 . enghadap bara. 131,692y49,036 y13,12y10y20 AC = = 282414,5 . BTU = 32 PK Ruangan VI L = 5,2y3,28=17,056 feet W = 4,75y3,28=15,58 feet H = 13,12 feet I = 10 E = 18 . enghadap selata. AC = A 17,056y15,58 y13,12y10y18 = 10459,2 . BTU = 1,5 PK Ruangan VII L = 4,75y3,28=15,58 feet W = 3,5y3,28=11,48 feet H = 13,12 feet SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 I = 10 E = 18 . enghadap selata. AC = A 15,58 y11,48y13,12y10y18 = 704 . BTU = 1 PK Ruangan Vi L = 14,6y3,28=47,888 feet W = 4,75y3,28=15,58 feet H = 13,12 feet I = 10 E = 18 . enghadap selata. AC = 47,888 y15,58 y13,12y10y18 = 29366 . BTU = 3,5 PK ycycyeiyeayeiyeCyes = 1 1,5 7,5 4 32 1,5 1 3,5 = yeya ycyc Pembahasan Berdasarkan hasil analisis teknis terhadap kebutuhan kapasitas pendingin udara air conditioner (AC) di Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang, diketahui bahwa total kebutuhan ideal pendingin adalah sebesar 52 PK. Sementara itu, kapasitas air conditioner (AC) yang saat ini terpasang hanya mencapai 48 PK, terdiri dari 18 unit air conditioner (AC) jenis split wall-mounted dan standing. Selisih sebesar 4 PK ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kapasitas pendingin yang tersedia dengan kebutuhan aktual ruangan, terutama saat digunakan dalam kondisi maksimal, seperti saat acara berlangsung dengan jumlah peserta yang banyak. Ketidaksesuaian kapasitas ini diyakini sebagai faktor utama penyebab tidak tercapainya kenyamanan termal secara optimal di dalam Untuk memperkuat temuan teknis tersebut, dilakukan penyebaran kuesioner kepada 30 responden yang pernah menggunakan atau berada di ruangan tersebut. Instrumen kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan tertutup yang dibangun berdasarkan dua variabel utama, yaitu kapasitas AC sebagai variabel X dan kenyamanan termal sebagai variabel Y, dengan skala jawaban Guttman biner "Ya" atau "Tidak". Dari total 300 tanggapan yang dihimpun, sebanyak 66% responden menjawab "Tidak", yang menunjukkan bahwa mereka merasa sistem pendingin saat ini belum mampu memberikan kenyamanan termal yang memadai. Hanya 34% responden yang menyatakan merasa nyaman selama berada di dalam ruangan. Tingginya persentase ketidaknyamanan ini selaras dengan hasil perhitungan kapasitas air conditioner (AC) sebelumnya, dan turut mengindikasikan adanya permasalahan tambahan seperti distribusi udara dingin yang tidak merata, penempatan unit air conditioner (AC) yang kurang strategis, hingga performa unit yang menurun akibat kurangnya perawatan. (Zhao dkk. dalam International Journal of Air-Conditioning and Refrigeration menjelaskan bahwa parameter struktural dan sistem kontrol ACAiseperti kecepatan udara, set-temperature, serta distribusi aliran udaraAiberpengaruh langsung terhadap tingkat kenyamanan termal berdasarkan indeks Predicted Mean Vote (PMV). Perubahan kecil pada variabel kontrol tersebut dapat menghasilkan perbedaan signifikan terhadap persepsi kenyamanan pengguna. Oleh karena itu, integrasi antara data perhitungan teknis dan tanggapan pengguna memperlihatkan adanya urgensi untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendingin udara yang digunakan. Evaluasi ini mencakup penyesuaian kapasitas air conditioner SKY EAST: Education of Aviation Science and Technology https://jurnalpoltekbangjayapura. id/index. php/skyeast Vol. No. Desember 2025 (AC), penambahan jumlah unit, serta penataan ulang posisi unit agar kenyamanan termal dapat dicapai sesuai kebutuhan ruang dan harapan pengguna. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan (Situmeang dkk. , 2. yang menyatakan bahwa kenyamanan termal di wilayah tropis seperti Indonesia dapat tercapai pada suhu udara berkisar antara 24Ae27AC dengan kelembapan relatif 50Ae60%. Ketika sistem pendingin tidak mampu menjaga suhu dalam rentang tersebut, pengguna akan mengalami ketidaknyamanan termal, terutama di ruangan dengan kapasitas besar dan tingkat hunian tinggi. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kapasitas air conditioner (AC) yang terpasang di Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 1 Politeknik Penerbangan Palembang, yaitu sebesar 48 PK, belum mencukupi untuk menciptakan kenyamanan termal secara optimal. Berdasarkan perhitungan teknis terhadap dimensi ruangan, suhu, kelembaban, dan orientasi bangunan, kebutuhan aktual pendingin udara mencapai 52 PK. Defisit kapasitas sebesar 4 PK ini berdampak pada tidak meratanya distribusi udara dingin dan suhu ruangan yang masih terasa panas, sebagaimana tercermin dari hasil kuesioner yang menunjukkan 66% responden merasa belum nyaman dengan kondisi termal yang ada. Oleh karena itu, diperlukan penambahan kapasitas air conditioner (AC) sebesar 4 PK untuk menyesuaikan dengan beban panas aktual dan menciptakan kondisi ruangan yang lebih nyaman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan dan perencanaan sistem pendingin udara di gedung-gedung serupa dalam lingkungan kampus, guna mendukung kenyamanan aktivitas dalam ruangan secara menyeluruh. DAFTAR PUSTAKA