Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 1. April 2023, 199 - 206 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. ANALISIS KARAKTERISTIK DAN AKTIVITAS BELAJAR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (TUNARUNGU) DI SEKOLAH SLB- B YPAC BANDA ACEH Arnida1*. Hijriati2. Cut Puja Maulina3. Anna Fitria4. Nadia Fadila5 Abstrak Anak tunarungu menunjukan kesulitan mendengar dari katagori ringan sampai berat, di golongkan kedalam kurang dengar dan tuli. Tunarungu memerlukan media pembelajaran dengan menunjukan foto-foto dan video untuk memperkaya kosa kata bahasa isyarat dalam aktivitas pembelajaran. Karakteristik anak tunarungu dari segi fisik tidak memiliki karakteristik yang khas, karena secara fisik anak tunarungu tidak mengalami gangguan yang terlihat. aktivitas belajar anak tunarungu dapat sangat bervariasi tergantung pada tingkat pendengarannya dan kemampuan belajar anak, serta lingkungan mereka. karakteristik pada anak berkebutuhan khusus seperti tunarungu ialah memiliki kesulitan dalam komunikasi tetapi seringkali memiliki kemampuan komunikasi visual yang kuat, seperti Bahasa isyarat, dalam pembelajaran mereka juga memerlukan bantuan dalam belajar. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif yang menggunakan metode observasi dan wawancara yang dilakukan di sekolah, penulis mengambil 9 populasi dan 5 sampel yang bersekolah di salah satu SLB yang ada di Banda Aceh yang mengidap tunarugu. subjek yang di amati ada 5 orang anak yang mengalami kelaianan tunarungu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana karakteristik anak tunarungu dalam proses pembelajaran di sekolah SLB-B YPAC Banda Aceh. Kata Kunci: aktivitas. Tunarungu Abstract Deaf children show difficulty hearing from mild to severe categories, classified into hard of hearing and deafness. Deaf people need learning media by showing photos and videos to enrich sign language vocabulary in learning From a physical perspective, deaf children do not have distinctive characteristics, because physically deaf children do not experience visible Deaf children's learning activities can vary greatly depending on the child's hearing level and learning abilities, as well as their environment. The characteristic of children with special needs, such as the deaf, is that they have difficulty in communicating but often have strong visual communication skills, such as sign language. In their learning they also need help in learning. This research arnida2003@gmail. Hijriati@gmail. Cutpuja383@gmail. Com Annafitria256@gmail. Nadiafadila623@gmail. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 1. April 2023, 199 - 206 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. also includes descriptive research using observation and interview methods conducted at schools. The author took 9 populations and 5 samples who attended one of the special schools in Banda Aceh who were deaf. The subjects observed were 5 children who were deaf. The aim of this research is to find out the characteristics of deaf children in the learning process at the SLB-B YPAC school in Banda Aceh. Keywords : Activity. Characteristic. Deaf PENDAHULUAN Anak tunarungu memiliki hambatan dalam pendengaran akibatnya individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut Cara berkomunikasi seseorang yang menyandang tunarungu dengan individu lain yaitu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap Intelegensi anak tunarungu tidak berbeda dengan anak normal yaitu tinggi, rata-rata dan rendah. Pada umumnya anak tunarungu memiliki entelegensi normal dan rata-rata. Prestasi anak tunarungu seringkali lebih rendah daripada prestasi anak normal karena dipengaruhi oleh kemampuan anak tunarungu dalam mengerti pelajaran yang diverbalkan. Namun untuk pelajaran yang tidak diverbalkan, anak tunarungu memiliki perkembangan yang sama cepatnya dengan anak normal. Anak tunarungu mempunyai kesulitan pendengaran ringan sampai berat dan digolongkan menjadi pendengaran dan tuli. Penyandang tunarungu adalah orang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga mengalami kesulitan dalam memproses informasi linguistik melalui pendengaran, baik ia menggunakan alat bantu dengar atau tidak, jika batas pendengarannya cukup untuk berhasil memproses informasi linguistik melalui pendengaran. Karakteristik anak tunarungu dari segi fisik tidak memiliki karakteristik yang khas, karena secara fisik anak tunarungu tidak mengalami gangguan yang terlihat. Sebagai dampak ketunarunguannya, anak tunarungu memiliki karakteristik yang khas dari segi yang berbeda. Somad dan Hernawati, mendeskripsikan karakteristik ketunarunguan dilihat dari segi intelegensi, bahasa dan bicara, emosi, dan sosial. Berbagai ahli mengemukakan pendapatnya tentang pengertian tunarungu. Lewis, mengemukakan bahwa "deaf children will be better at coding visual info rmation than verbal information". Ungkapan Lewis tersebut dapat diartikan bahwa anak tunarungu memiliki kemampuan lebih baik dalam memaknai informasi visual dari pada verbal. Anak tunarungu sangat mengandalkan indera lain yang masih berfungsi dengan baik terutama indera penglihatannya dalam menerima informasi atau pesan. Dengan demikian, anak tunarungu sering disebut insan pemata . Menurut Dvid Smith, tunarungu adalah suatu gangguan pendengaran . earing impairmen. yang sangat berat, sehingga si anak tidak bisa melakukan proses informasi bahasa melalui pendengaran, dengan ataupun tanpa alat pengeras suara, yang dengan jelas mempengaruhi prestasi pembelajaran Menurut Rachmayana, dikemukakan bahwa "anak dengan gangguan pendengaran/tuna rungu adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan pendengaran yang disebabkan tidak berfungsinya sebagian atau keseluruhan alat pendengarannya sehingga mengalami hambatan perkembangan Anak-anak yang memiliki kelainan tuna rungu memerlukan pendekatan belajar yang berbeda-beda. Aktivitas belajar yang dimiliki anak tuna rungu Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 1. April 2023, 199 - 206 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. biasanya melibatkan penggunaan metode yang lebih visual, taktis, dan sensorik. Misalnya, menggunakan gambar, model, dan benda nyata untuk membantu mereka memahami konsep. Teknologi juga dapat menjadi alat yang berguna. Selain itu, penting untuk memberikan dukungan dan pengakuan atas prestasi mereka dalam proses belajar yang telah mereka kerjakan. Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus (Tunarung. memiliki kelainan dengan anak normal lainnya begitu pula dengan karakteristiknya. Anak tunarungu memiliki masalah terhadap pendengaran dan verbalnya, anak ini memiliki juga memerlukan pendekatan belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan sensorik dan komunikasi mereka. Dengan bantuan metode belajar yang sesuai, dukungan yang memadai, dan pengakuan atas prestasi mereka, anak tunarungu dapat mencapai potensi penuh mereka dalam pembelajaran dan pengembangan pribadi. KAJIAN TEORI Menurut Moores, ketunarunguan adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar pada taraf 70 Db atau lebih. Karakteristik tunarungu dari segi emosi adalah memiliki egosentrisme melebihi orang normal, mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas, ketergantungan terhadap orang lain, perhatian yang sukar dialihkan, memiliki sifat yang polos dan sederhana, lebih mudah marah dan tersinggung. Secara pedagogis, ketunarunguan berarti kekurangan atau kehilangan pendengaran yang mengakibatkan hambatan dalam perkembangan sehingga memerlukan bimbingan dan Pendidikan khusus. Tunarungu berasal dari kata AutunaAy dan AurunguAy, tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Orang dikatakan tunarungu apabila ia tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar suara. Gangguan pendengaran didefinisikan sebagai tingkat kehilangan, jenis kehilangan dan usia ketika kehilangan pendengaran terjadi. Undang-undang pendidikan individu sebagai penyandang cacat mendefinisikan ketulian sebagai gangguan yang cukup parah sehingga anak tidak dapat memproses informasi bahasa melalui pendengaran, walaupun ketika menggunakan alat bantu pendengaran (IDEA, 2. Penyebab kompleksitas proses pembelajaran pada anak tunarungu yakni proses komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa anak tunarungU menghadapi banyak permasalahan dalam memahami kosakata, sehingga guru membutuhkan dukungan tambahan dalam menerapkan teknologi dan pengajaran (Alqraini. Anak tunarungu memiliki kondisi fisik sama layaknya dengan anak yang tidak mengalami gangguan pendengaran. Anak tunarungu di tuntut untuk dapat memahami keadaan lingkungan seperti anak yang tidak mengalami gangguan Namun dalam kenyataannya anak tunarungu memiliki hambatan untuk dapat mengerti dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak mengalami gangguan mendengar (Tri & Putri, 2. Herawati mendefinisikan tunarungu sebagai suatu keadaan di mana individu memiliki gangguan ataupun kerusakan pada indra pendengaran (Haliza. Kuntarto, & Kusmana, 2. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini penulis mengambil 9 populasi dan 5 sampel yang bersekolah di salah satu SLB yang ada di Banda Aceh yang mengidap tunarugu. Penelitian ini di laksanakan pada tanggal 20 februari 2024. Subjek terdiri dari lakilaki dan perempuan dari berbagai usia. Jenis penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif yaitu gambaran tentang bagaimana penyesuaian pembelajaran yang di miliki oleh anak Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 1. April 2023, 199 - 206 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik anak tunarungu dan proses pembelajaran yang di laksanakan di sekolah SLB. HASIL DAN PEMBAHASAN Anak tunarungu merupakan anak yang mempunyai gangguan pada pendengarannya sehingga tidak dapat mendengar bunyi dengan sempurna atau bahkan tidak dapat mendengar sama sekali, tetapi dipercayai bahwa tidak ada satupun manusia yang tidak bisa mendengar sama sekali. Walaupun sangat sedikit, masih ada sisa-sisa pendengaran yang masih bisa dioptimalkan pada anak tunarungu tersebut. Berkenaan dengan tunarungu, terutama tentang pengertian tunarungu terdapat beberapa pengertian sesuai dengan pandangan masingmasing. Menurut Andreas Dwidjosumarto mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Anak tunarungu juga mengalami gangguan dalam fungsi pendengaran yang menyebabkan tidak dapat menerima informasi dari luar dan menyampaikan informasi yang sesuai, sehingga anak tunarungu sering mengalami salah persepsi dalam berkomunikasi. Kemampuan membaca tidak hanya terbatas pada kemampuan menyebutkan kata-kata secara verbal, tetapi juga kemampuan menyimpan informasi kata dan artinya ke dalam proses kognitif. Kebutuhan anak tunarungu membutuhkan empati dan kesadaran yang tinggi dari para pendidik. Pendidik dituntut untuk mampu menjawab kebutuhan peserta didik tunarungu agar mendapat pendidikan seperti peserta didik reguler. Salah satunya yaitu menggunakan media yang sesuai. Keterbatasan yang dimiliki oleh peserta didik tunarungu yaitu hilangnya kemampuan pendengaran. Akibatnya, peserta didik tunarungu memiliki keterbatasan bahasa yang kemudian berpengaruh terhadap pemahamanya. Keterbatasan yang dimilikinya dapat diselesaikan dengan media yang sesuai dengan tumbuh kembangnya. Tunarungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka memiliki karakteristik yang khas, berbeda dari anak normal pada umumnya. Beberapa karakteristik anak tunarungu diantaranya adalah: Segi Fisik . Cara berjalannya kaku dan agak membungkuk akibat terjadinya permasalahan pada organ keseimbangan di telinga. Itulah sebabnya anakanak tunarungu mengalami kekurangan keseimbangan dalam aktivitas . Pernapasannya pendek dan tidak teratur. Anak-anak tunarungu tidak pernah mendengarkan suara-suara dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana bersuara atau mengucapkan kata-kata dengan intonasi yang baik, sehingga mereka juga tidak terbiasa mengatur pernapasannya dengan baik, khususnya dalam berbicara. Cara melihatnya agak beringas. Penglihatan merupakan salah satu indra yang paling dominan bagi anak-anak penyandang tunarungu karena sebagian besar pengalamannya diperoleh melalui penglihatan. Oleh karena itu anak-anak tunarungu juga dikenal sebagai anak visual sehingga cara melihatnya selalu menunjukkan keingintahuan yang besar dan terlihat Segi Bahasa . Kosa kata yang dimiliki tidak banyak. Sulit mengartikan kata-kata yang mengandung ungkapan atau idiomatik. Tata bahasanya kurang teratur Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 1. April 2023, 199 - 206 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. Intelektual . Kemampuan intelektualnya normal. Pada dasarnya anak-anak tunarungu tidak mengalami permasalahan dalam segi intelektual. Namun akibat keterbatasan dalam berkomunikasi dan berbahasa, perkembangan intelektualnya menjadi lamban . Perkembangan akademiknya lamban akibat keterbatasan bahasa. Seringterjadinya keterlambanan dalam perkembangan intelektualnya akibat adanya hambatan dalam berkomunikasi, dalam segi akademik anak tunarungu juga mengalami keterlambatan Sosial-Emosional . Sering merasa curiga dan berprasangka. Sikap seperti ini terjadi akibat adanya kelainan fungsi pendengarannya. Mereka tidak dapat memahami apa yang dibicarakan orang lain sehingga anak-anak tunarungu menjadi mudah merasa curiga. Sering bersikap agresif. Anak-anak tunarungu bersikap agresif karena mereka merasa tidak bisa mengartikan apa yang dikatakan orang lain. Anak tunarungu juga mengalami kelainan dalam fungsi pendengarannya sehingga menimbulkan hambatan dalam berkomunikasi dengan orang yang bisa mendengar. Hal ini tentu saja bisa menghambat pengembangan potensi yang dimilikinya. Berdasarkan permasalahan tersebut dapat kita simpulkan bahwa pada dasarnya anak tunarungu tidak mengalami hambatan pada perkembangan intelegensi dan aspek-aspek lain, selain yang berkaitan dengan pendengaran dan Oleh karena itu, dalam segi pelayanan pendidikan anak tunarungu memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan anakanak pada umumnya. Namun daripada itu, guru memerlukan metode khusus dalam menyampaikan materi pelajarakepada anak tunarungu. Guru harus mampu berbicara dengan mimimulut yang jelas, sehinggameskipun tanpa mendengar anak tunarungu dapat mencerna informasi yang disampaikan. Lebih daripada itu, guru juga harus mampu menggunakan bahasa isyarat atau bahasa tubuh untuk membantu proses penyampaian informasi. Metode pembelajaran seperti ini dapat disebut dengan pendekatan Komtal (Komunikasi Tota. Dari hasil wawancara dan observasi dengan ibu guru yang mengajar di kelas TK SLB, kami melihat 5 anak yang mengalami tunarungu di kelas tersebut. Diantaranya 2 laki- laki dan 3 perempuan, penyebab tunarungu yang terjadi pada anak tersebut belum diketahui pasti, tetapi ada salah satu anak yang menjadi penyebab tunarungu karena terkena virus saat di dalam kandungan, dan ada juga penyebab lain seperti demam atau step diwaktu bayi. Anak tunarungu memiliki berbagai karakter yang berbeda- beda, seperti anak yang aktif didalam lingkungan kelas pada umumnya, dan disaat dia bersosial mereka berinteraksi memakai bahasa isyarat tersendiri yang hanya bisa dipahami oleh mereka. Guru dikelas tersebut telah mengajarkan bahasa isyarat yang umum, namun ada sebagian anak yang cepat tangkap dan lambat tangkap dengan Bahasa yang diajarkan guru. Bahasa isyarat pada anak tunarungu ini sangat berperan penting, sebab bahasa isyarat jauh lebih baik dari pada ucapan-ucapan sehingga mudah dimengerti oleh anak tunarungu. Pembelajaran Bahasa isyarat juga menggunakan gambar, tentu akan mempermudah proses belajar untuk anak tunarungu, dengan melihat isyarat jari atau tangan yang dilakukan guru, maka anak tunarungu mudah memahami kode-kode Bahasa isyarat yang disampaikan guru. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 1. April 2023, 199 - 206 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. Gambar 1. Simbol huruf Bahasa isyarat Proses pembelajaran anak tunarungu terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Didalam proses pembelajaran tersebut materi yang diajarkan itu menyesuaikan dengan kemampuan anak tuna rungu. Tidak ada tuntutan khusus yang ditetapkan oleh sekolah maupun wali kelas pada pemahaman materi pelajaran. Anak tuna rungu hanya dibimbing untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki serta kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial. Pada tahap proses pembelajaran tentunya hasil akhir yang diharapkan adalah penilaian. Dengan adanya penilaian maka dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan yang diperoleh anak tuna rungu. Anak-anak tunarungu di sekolah tersebut cenderung lebih mudah memahami suatu hal dengan menggunakan objek yang telah diberi nama terlebih dahulu. Pada anak tunarungu akan sulit mengerti sesuatu hal yang baru yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Hal ini menyebabkan tingkat kepandaian intelektualnya sama saja dengan anak pada umumnya. Hanya yang membedakan pada anak tunarungu proses dia belajar lebih menggunakan media objek, gambar, vidio, dan tulisan, dari pada menggunakan kata-kata atau metode ceramah. Pembelajaran yang dilakukan di sekolah SLB juga menggunakan modul ajar, yang dilakukan 1 modul untuk 4 kali pembelajaran. Dalam pembelajaran guru memperkenalkan terlebih dahulu tema yang akan diajarkan melalui gambar lalu mempraktekkannya, contonya memperkenalkan hewan laut seperti ikan. Dan guru menyuruh anak untuk mengulang kembali apa yang telah dipraktekkan oleh guru. Dalam pembelajaran anak hanya mampu berkonsentrasi minimal 30 menit. Tantangan yang dialami oleh guru dalam pembelajaran yaitu sulit untuk berkomunikasi, karena ada Sebagian anak yang belum mengerti bahasa isyarat. Dalam pembelajaran terdapat pembukaan, kegiatan inti, dan belajar mandiri . yang dilakukan di kelas. KESIMPULAN Kreativitas dan aktivitas belajar anak tunarungu dapat sangat bervariasi tergantung pada tingkat pendengarannya, pengalaman belajar sebelumnya, dan lingkungan mereka. Meskipun mungkin ada hambatan dalam komunikasi verbal Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 1. April 2023, 199 - 206 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI: 10. 59342/jgt. atau berbahasa, anak-anak tunarungu sering menunjukkan kreativitas yang luar biasa melalui bahasa isyarat, seni visual, dan cara-cara non-verbal lainnya. Aktivitas belajar yang efektif untuk mereka sering melibatkan penggunaan beragam metode dan alat pembelajaran, seperti gambar, bermain, dan multimedia, serta dukungan yang kuat dari guru dan lingkungan belajar. SARAN Untuk mengembangkan kreativitas anak tunarungu penulis sebaiknya guru mengajak orang tua untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran anak tunarungu dapat membantu mendukung kontinuitas pembelajaran di rumah dan di Saran ini mencakup penyediaan pelatihan bagi orang tua tentang cara mendukung pembelajaran anak tunarungu di rumah. DAFTAR PUSTAKA Aprianti Lidya Dwi. Fatma Sari Diyah,dkk. Multi Media Interaktif Kesehatan Gigi Anak Tunarungu Dengan Bahasa Isyarat Berbasis Android. NEM. Hasmayati Etty. Model Komunikasi Orang Tua Tunarungu Yang Memiliki Anak Mendengar, . Khairun Nisa. Karakteristik dan Kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus. Vol 2 no 1 Nafisah Durrotun Aisyah, dkk. Inklusi Dalam PAUD. Teori dan Praktik. Cipta Media Nusantara (CMN). Surabaya. Purwowibowo. Hendrijanto Kris, dkk. Mengenal Pembelajaran Komunikasi Total Bagi Anak Tunarungu. Pandifa Buku. Yogyakarta. Putri Syah Shara, dkk. Dukungan Sosial Orangtua Anak Tunarungu Usia 11 Tahun Di SDN Perwira Kota Bogor. Jurnal Pendidikan Indonesia, 03. Restian Arina. Pembelajaran Seni Tari di Indonesia. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang. Sabrina Azzahra. Dea Mustika, proses Pembelajaran Pada Anak Berkebutuhan Khusus TunaRunu di SD IPYLPI Pekan Baru. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, . 202-2010 Suparno. Intervensi pedagogis Kelainan Berbahasa Pada Anak TunaRungu. Jurnal Pendidikan Khusus, 01. Susetyo budi. Homdijah oom siti,dkk. Standarisasi Instrumen Tes Hasil Belajar IPA Untuk mengukur kognitif siswa tunarungu. Uwais Ispirasi Indonesia. Jawa Timur. Saptadi Suswanto Tri Norbertus, dkk. Pendidikan Inklusif. PT SADA KURNIA PUSTAKA.