Volume: 11 Nomor: 2 Tahun 2025 [Pp. STRATEGI ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA 5-6 TAHUN DI RAUDHATUL ATHFAL RAHMAH EL YUNUSIYYAH PADANG PANJANG Yuli Andriani1. Juliwis Kardi2. Mega Cahya Dwi Lestari3 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang Yuli. andriani1207@gmail. Juliwiskardi86@gmail. megacacdlestari@gmail. Abstrak: Sex education for children is education to introduce private and closed parts of the body that must be maintained. This research began with the problem that researchers found at RA Rahmah ElYunusiyyah Padang Panjang that many children's questions were related to sexuality. The purpose of this sex education is to understand sexual behaviors that appear according to the child's age. This sex education is also expected to minimize things that parents do not want related to the many cases of sexual violence that occur against early childhood. This study aims to describe and find out parents' strategies for sex education for 5-6 year old children in Raudhatul Athfal Rahmah El-Yunusiyyah Padang Panjang. This type of research is a qualitative and using approach and naturalistic phenomenology. The data collection method in this study uses observation, interviews, and documentation. Furthermore, to test the validity of the data, the researcher uses the triangulation technique. Then to analyze the data, the researcher divided it into three components, including: data reduction, data display . ata presentatio. and conclusion drawing . ata Based on the results of the interviews conducted by the researcher, it can be concluded that parents do not know sex education for 5-6 year old children in RA REY, therefore of the 8 . strategies written in the parental theory have not been maximized in applying to children, because parents are constrained by the lack of sex science for children so that parents often run away from questions and are not open in delivering sex education to children. Although parents know the great benefits for their children in the future so that they can keep their children away from sexual deviations in adolescence, parents have not yet provided sex education according to the child's age stages. Keywords: Parent Strategy. Sex Education Abstrak: Pendidikan seks untuk anak adalah pendidikan untuk mengenalkan bagian anggota tubuh yang bersifat pribadi dan tertutup yang harus dijaga. Penelitian ini berawal dari permasalahan yang peneliti temukan di RA Rahmah El-Yunusiyyah Padang Panjang bahwa banyaknya pertanyaan anak terkait tentang seksual. Tujuan pendidikan seks ini untuk memahami perilaku seksual yang muncul sesuai dengan usia anak. Pendidikan seks ini juga diharapkan dapat meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan oleh orangtua terkait banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi terhadap anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui strategi orangtua terhadap pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun di Raudhatul Athfal Rahmah El-Yunusiyyah Padang Panjang. Yuli Andriani: Strategi Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks untuk Anak Usia 5-6 Tahun di Raudhatul Athfal Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang | 1 Jenis penelitian ini yakni pendekatan kualitatif dan menggunakan dan fenomenologi naturalistik. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara . , dan Selanjutnya untuk pengujian keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi. Kemudian untuk menganalisis data peneliti membagi menjadi tiga komponen antara lain: reduksi data, data display . enyajian dat. dan penarikan kesimpulan . erifikasi dat. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dapat disimpulkan bahwa orangtua tidak mengetahui pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun di RA REY, oleh karena itu dari 8 . strategi yang ditulis dalam teori orangtua belum maksimal dalam menerapkan kepada anak, karena orangtua terkendala dengan kurangnya ilmu pengetahuan seks untuk anak sehingga orangtua sering lari dari pertanyaan dan tidak terbuka dalam menyampaikan pendidikan seks kepada anak. walaupun orangtua mengetahui manfaat besar untuk anak kedepannya agar bisa menjauhkan anak dari hal-hal penyimpangan seksual di usia remaja, tetapi orangtua belum juga memberikan pendidikan seks sesuai dengan tahapan usia anak Kata kunci: Pendidikan Seks. Strategi Orangtua PENDAHULUAN Masa balita adalah masa emas tumbuh kembang seorang anak, bukan hanya jasmani, tetapi juga jiwa dan kehidupan sosialnya. Salah asah, asih dan asuh akan bisa buruk akibatnya. Pola pengasuhan yang tepat bagi si kecil akan mempengaruhi kehidupannya kelak. Asah adalah stimulasi yang diberikan, asih adalah kasih sayang yang diberikan oleh orangtua, dan asuh adalah kecukupan sandang, pangan, papan, dan kesehatan termasuk pendidikan yang diperoleh oleh anak. Pendidikan anak harus dilakukan melalui tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah dan Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting. Sejak timbulnya peradaban manusia sampai sekarang, keluarga berpengaruh besar terhadap perkembangan anak manusia. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Di dalam keluarga Ayah dan Ibu memegang peran penting dalam proses perkembangan anaknya, hal ini bukan berarti orangtua cukup dengan memasukkan anak ke sekolah formal. Walau di sana anak mendapatkan ilmu pengetahuan, namun anak membutuhkan yang jauh lebih luas dari itu. Anak akan tumbuh kembang dengan baik jika ia mendapatkan pendidikan yang komprehensif atau lengkap. Pendidikan harus dilakukan sedini mungkin di rumah, peran dan tanggung jawab itu ada di pundak orangtua. Karena orangtua adalah pendidik utama dalam keluarga. Bukan semata masalah intelektual, tetapi pendidikan untuk pembentukan kepribadian yang luhur. Termasuk di dalamnya pendidikan agama, moral, psikis, sosial, dan pendidikan seksual yang disajikan dalam porsi yang tepat dan akurat sesuai dengan usia anak-anak. Berdasarkan firman Allah SWT dalam surah An-Nur ayat 58 yang berbunyi: a aAOaeaaOac aN EacaOIa a aIIaOe aEOa aI aE aI EacaOIa aIEaE a a O aIIa aE I aOEacaOIa Ea I Oa EaaOe E aEa aI Ia I aE I aEA aEaOa EA a a aOa OIA a A aI ac on aII Ca aEA ca AaOIa aOaa aEI aIIa EA a aA ea on a aEA u A O a Eac aE onIA a AAEaOa E aA a AA a a a AOa aOIa I a aA a A aNA Artinya: Auhai, orang-rang yang beriman, hendaklah budak-budak . aki-laki dan perempua. yang kalian miliki dan orang-orang yang belum baliqh . di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali . yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian . mu di tengah hari dan setelah shalat isya. Itulah tiga aurat . bagi kamu. Ay (Q. S An-Nur: . Maimunah Hasan. Pendidikan Anak Usia dini, (Jogjakarta. Diva Press, 2. Hal 18 Dewi Iriani dan Indscrips Creative, 101 Kesalahan Dalam Mendidik Anak, (Jakarta. PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2. Hal 5 Usman el-Qurtuby. Al-QurAoan Cordoba, (Bandung. Cordoba, 2. Hal, 357 2 | Raheema: Jurnal Studi Gender dan Anak. Vol. No. Dalam ayat ini maksud pendidikan seks sudah dilakukan kepada anak yang belum baliqh, dengan contoh sederhananya untuk meminta izin kepada orangtua jika masuk ke dalam Pendidikan untuk anak usia dini tidak selalu berkaitan dengan pendidikan akademik, tetapi ada juga pendidikan yang tidak jauh penting di berikan kepada anak yaitu pendidikan Pendidikan seks adalah pemberian informasi dan pembentukan sikap serta keyakinan tentang seks, identitas seksual, hubungan dan keintiman. Ini menyangkut anatomi seksual manusia, reproduksi, hubungan seksual, kesehatan reproduksi, hubungan emosional dan aspek lain dari perilaku seksual manusia. Hal ini sangat penting bagi manusia, sehingga setiap anak memiliki hak untuk dididik tentang seks. Berdasarkan hasil penelitian di AS terhadap 15. 000 remaja menunjukkan bahwa jika peranan keluarga dalam pendidikan anak berkurang/terabaikan atau tidak dilakukan, maka dampak yang paling signifikan adalah peningkatan jumlah anak putri belasan tahun hamil tanpa menikah, peningkatan kriminalitas yang dilakukan oleh anak-anak, dan patologi psikososial. Oleh karena itu. US Departemen Of Justice pada tahun 1988 menyatakan bahwa tidak adanya peranan keluarga dalam pendidikan anak menjadi penentu yang paling signifikan bagi tindak kriminal dan kekerasan pada anak. Banyak orangtua yang merasa bingung bagaimana memulai memberikan pendidikan seks kepada anak. Kapan waktu yang tepat, bagaimana caranya dan siapa yang berkewajiban Kuncinya adalah menjalin komunikasi yang baik dan kedekatan dengan anak sejak dia dilahirkan. Pendidikan seks tidak tiba-tiba diajarkan ketika anak mulai beranjak Tetapi mengenalkan secara bertahap sesuai perkembangan dan pemahaman anak. Karena figure yang paling berpengaruh terhadap keoptimalan perkembangan peran seksual anak adalah orangtua, maka tidak dapat dipungkiri orangtua memiliki banyak keterbatasan dalam memberikan pendidikan seksual bagi anak dalam keluarga. Di Indonesia 80% ibu tidak sanggup memberikan pendidikan seks di rumah alasannya mereka tidak tahu apa yang harus dan layak disampaikan. Sedangkan pada tahun 2006, 60% ibu beranggapan sesuatu yang berkaitan dengan seks itu adalah porno dan tabu, saat orangtua ditanya anak tentang seks umumnya tidak dapat berbicara, menjawab, dengan marah dan menganggap anak tidak sopan. Hanya 25% ibu yang memberikan pendidikan seks dini dengan dibicarakan, melihat gambargambar sambil diterangkan dari buku-buku dongeng, nyanyian anak dan lain-lain. Pada baru-baru ini terjadi sebuah pelecehan seksual pada anak di bawah umur sesuai dalam berita Harian Singgalang yang dipublikasikan Syamsoedarman, pada hari JumAoat tanggal 15 Januari 2021 pukul 16:12 WIB, menyebutkan bahwa. Jajaran Satreskrim Polres Padang Panjang menangkap lelaki paruh baya berinisial AoSFAo 42 tahun yang diduga melecehkan gadis kecil. LH, 10 tahun. Antara SF dan LH masih ada hubungan kekeluargaan. Berawal ketika suatu sore LH bersama teman-temannya bermain di halaman rumah SF memanggil LH dan mengajaknya masuk ke dalam rumah serta diiming-imingi uang Rp2. 000 serta dipinjamkan handphone. Gadis kecil yang masih lugu itu menuruti saja kemauan SF ketika diajak masuk ke kamar. Di dalam kamar itula terjadi pelecehan tersebut. Tanpa sepengetahuan pelaku, perbuatan bejad itu sempat diintip sejumlah bocah teman bermain LH. Salah seorang teman LH kemudian melaporkan kepada neneknya bahwa SF dan LH main Nurul Chomaria. Pendidikan Seks Untuk Anak, (Gonilan Kartasura Solo. Aqwan jembatan Ilmu,2. Hal 14 Maimunah Hasan. Op. Hal 21. Boyke Dian Nugraha Dan Sonia Wibisono. Adik Bayi datang Dari Mana, (Jakarta Selatan,. PT Mizan Publika, 2. Hal 2 Susanti. Persepsi Dan Cara Pemberian Pendidikan Seksual Pada Anak TK, (Jawa Barat. Adab, 2. Hal 5 Yuli Andriani: Strategi Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks untuk Anak Usia 5-6 Tahun di Raudhatul Athfal Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang | 3 Auduyung-duyunganAy dalam kamar. SF yang peduduk Nagari Penyalaian. Kecamatan X. Kabupaten Tanah Datar itu ditangkap tanpa perlawanan Kamis sore . di rumah kediamannya di Nagari Penyalaian. Peristiwa pelecehan itu terjadi 7 Desember 2020. Mungkin karena malu, pihak keluarga baru melaporkan kasus tersebut beberapa pekan kemudian. Kepada penyidik SF mengakui segala perbuatannya. AuSaya khilaf pak. Kebiasaan saya sering nonton film porno lewat telepon seluler. Ay katanya. Dampak dari sebuah gadget memang mempengaruhi sekali dalam kehidupan masa sekarang, tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga orang dewasa yang sudah melakukan penyalahgunaan pada gedget. Semua hal yang di inginkan akan mudah diakses menggunakan Oleh karena itu perlu pengawasan juga terhadap anak yang sering menggunakan gadget Takut nya anak mudah mengakses hal-hal yang belum patut di lihat olehnya. Berikut hasil wawancara bersama guru yang mengajar anak usia 5-6 tahun di RA Rahmah El-Yunusiyyah Padang Panjang. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang mengajar di RA Rahmah El-Yunusiyyah pada tanggal 9 Agustus 2021 yaitu ibu Yulisda mengatakan bahwa ada anak-anak yang paham dengan malu ketika membuka hijabnya di depan teman-teman, ada anak yang berpelukan antara laki-laki dan perempuan, ada anak yang membuka celana di depan teman-temannya lalu berlari ke kamar mandi, dan ada anak yang berkata tidak muhrim bersentuhan dengan lawan jenis, dan ada juga anak yang menyebut nama kelamin itu dengan sebutan burung, lalu ada juga kejadian anak laki-laki yang BAK di kamar mandi melihatkan penisnya kepada sesama teman laki-lakinya. Artinya dengan berkataan dan sikap anak-anak kepada teman-temannya seperti di atas menunjukan bahwa banyak hal dari perilaku anak yang perlu diberikan edukasi seks agar anak paham cara menanggapi semua itu. Dan wawancara kedua dilakukan pada guru lain yang mengajar di RA Rahmah ElYunusiyyah Padang Panjang pada tanggal 10 Agustus 2021 yaitu ibu Atnes Novianti mengatakan bahwa ada anak yang mengelus pipi teman laki-lakinya lalu berkata Auabang ganteng abang gantengAy dan setelah itu ada anak yang saling gendong-gendong, peluk-pelukan dengan teman perempuannya. Dan ibu Atnes mengatakan penyampaian ini dilakukan ketika menyanyikan lagu sentuhan boleh kepada anak waktu kegiatan circle time, lalu ibu Atnes bertanya tentang jenis sentuhan kepada anak-anak, dan mereka sudah dapat mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain tanpa sebab apapun. Karena adanya data dan fakta yang menjelaskan, bahwa anak-anak disekolah ada yang sudah mengetahui bagian dari pendidikan seks secara tidak langsung, dan peneliti ingin mengetahui seperti apa strategi orangtua menjelaskan kepada anak tentang pendidikan seks ketika dirumah. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini yakni pendekatan kualitatif dan menggunakan dan fenomenologi Penelitian ini ddilakukan di RA REY Padang Panjang dengan waktu penelitian adalah selama satu bulan yaitu dibulan November 2021. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara . , dan dokumentasi. Selanjutnya untuk pengujian keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi. Kemudian untuk Hasil Wawancara. Bersama Ibu Yulisda Guru Yang Mengajar Kelompok B Di RA Rahmah ElYunusiyah Padang Panjang. Tanggal 10 Agustus 2021. Jam 19:07 Hasil Wawancara. Bersama Ibu Atnes Novianti. Guru Yang Mengajar Anak TK B Di RA Rahmah ElYunusiyyah Padang Panjang. Tanggal 10 Agustus 2021. Jam 20:32 4 | Raheema: Jurnal Studi Gender dan Anak. Vol. No. menganalisis data peneliti membagi menjadi tiga komponen antara lain: reduksi data, data display . enyajian dat. dan penarikan kesimpulan . erifikasi dat. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengetahuan Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks Anak Usia 5-6 Tahun di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang Dalam usia 5-6 tahun pendidikan seks untuk anak di sebut dengan fase phallic dimana kehidupan anak berpusat pada genetalia dan area tubuh yang sensitif. Rasa ingin tahu anak sangat tinggi terhadap bagian tubuhnya. Anak cenderung tertarik dengan respon yang berlebihan, karena akan membuat anak semakin penasaran untuk bereksplorasi dengan alat kelamin dan perilakunya. Anak mulai suka pada lain jenis, anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin. Anak juga memahami identitas gender . nak sering meniru ibu atau bapak dalam berpakaia. Oleh karena itu peneliti melakukan beberapa wawancara bersama guru dan orangtua anak usia 5-6 tahun di RA REY dengan penutaran yang di ungkapkan oleh Ibu Yulisda kepada 10 Berikut kutipan wawancara: Aupendidikan seks anak itu dimulai dari pengenalan jenis kelamin perempuan dan laki-laki, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh dilihat serta disentuh orang lain. Kalau anak usia 5-6 tahun ini biasanya lebih banyak ditunjukkan dari perilaku dan sikap anak seperti mulai berkata suka dengan teman, pegang penis di toilet dan mendekatkan ke dinding. Jadi untuk mengenalkannya tidak melalui pembelajaran tapi ketika terlihat dari perilaku anak yang mengarah ke sana seperti memegang penis dan melihatkan kepada teman, baru disampaikan kepada anak batas-batas aurat yang harus dijaga dan tidak dilihatkan ke orang Ay Hal ini berbeda dengan hasil wawancara bersama orangtua anak usia 5-6 tahun di RA REY yang di ungkapkan kepada peneliti, seperti yang ungkapkan oleh ibu Dwi Reflina. Berikut kutipan wawancara: Aukalau yang saya tau pendidikan seks yang paling utama untuk anak itu dia mengenali diri sebagai laki-laki atau perempuan sesuai perannya dan mengetahui perbedaan jenis kelamin. Menurut saya lingkup pemberian pendidikan seks untuk anak masih terbilang cukup sederhana, karna seiringnya perkembangan akan bisa juga dijelaskan kepada Ay Dan ditambahkan oleh ibu Erwita Dewiyani terkait pendidikan seks untuk anak yang di ungkapkan kepada peneliti. 12 Berikut kutipan wawancara: AuMenurut umi pendidikan seks itu mengenalkan pendidikan kepada anak tentang dia sebagai perempuan, mengetahui mahram dan auratnya. batasan aurat yang harus ditutup. Dari sana juga umi kenalkan farj dan payudara adalah area sensitif yang tidak boleh di sentuh orang lain. jadi umi menyampaikannya dari yang dasar-dasar dulu. Ay Berdasarkan hasil wawancara bersama guru yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa guru disekolah telah mengetahui pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun terjadi Wawancara Dengan Ibu Yulisda H. Pasaribu di Kelas RA Pada Tanggal 16 November 2021. Pukul 29 WIB Wawancara Dengan Ibu Dwi Reflina di Kelas MI Pada Tanggal 19 November 2021. Pukul 10. 31WIB Wawancara Dengan Ibu Erwita Dewiyani di Depan Kelas PAUD Pada Tanggal 19 November 2021. Pukul 17. 35 WIB Yuli Andriani: Strategi Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks untuk Anak Usia 5-6 Tahun di Raudhatul Athfal Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang | 5 melalui sikap dan perilaku yang muncul di sekolah. Dan guru memberikan pendidikan seks ini bukan melalui pembelajaran tetapi melalui persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Hal ini sejalan dengan teori yang sudah di paparkan bahwa pendidikan seks anak usia 5-6 tahun itu muncul dari sikap dan perilaku ketertarikannya pada alat kelamin dan mengeksplore sesuai dengan yang mereka inginkan. Berbeda dengan hasil wawancara bersama orangtua yang memiliki pengetahuan terhadap pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun masih dalam pengenalan yang sederhana seperti menjelaskan jenis kelamin, batasan aurat, mana bagian tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh orang lain. oleh karena itu peneliti dapat menyimpulkan bahwa orangtua tidak mengetahui apa itu pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun. Strategi Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks Anak untuk Usia 5-6 Tahun Dalam memberikan pendidikan seks kepada anak memiliki delapan strategi yang bisa diterapkan oleh orangtua seperti memperkuat pendidikan agama, dimulai sejak dini, sesuai umur dan kebutuhan, bertahap dan terus menerus, terbuka, tidak menunggu anak bertanya, tidak lari dari pertanyaan anak dan menjadi teladan yang baik bagi anak. Dan beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seks adalah cara penyampaian yang wajar dan sederhana, isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerapkan yang tidak pasti, seolaholah bertujuan agar anak tidak bertanya lagi. Mamfaat dan Kendala Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks Kepada Anak Manfaat yang diperoleh orangtua yaitu mengetahui bahwa pendidikan seks untuk anak sangat penting karena orangtua ingin mempersiapkan mental anak kedepannya, dan membuat orangtua merasa lega melepaskan anak di usia remaja jika anak telah diberikan bekal dari awal, apalagi dengan perkembangan zaman dan akses internet yang mudah didapatkan oleh anak. Dengan adanya pendidikan seks dari sejak dini menjadi bekal bagi anak agar bisa menjaga diri dari bahaya pelecehan seksual. Dan pendidikan seks dari usia dini bermanfaat untuk anak, dimana anak mengetahui masalah perubahan yang pada tubuhnya, pergaulan yang dapat dijaga, menjaga dirinya dari orang-orang yang berlaku tidak baik kepadanya, meminimalisasi rasa ingin tahu anak dan menghindari anak mencari informasi dari luar. Oleh karena itu pendidikan seks sangat bagus diberikan kepada semenjak usia dini. Kendala yang dirasakan orangtua yaitu cara penyampainya yang belum sesuai usia, takut salah sampaikan informasi kepada anak, orangtua yang merasa tabu dengan pertanyaan anak terkait seksual, dan bahasa apa yang bisa dipahami oleh anak. karena keraguan orangtua tersebut membuat orangtua sering mengabaikan ketika anak ingin tau dengan dirinya dan ingin bertanya persoalan seks kepada orangtua. Oleh karena itu dalam memberikan pendidikan seks kepada anak perlunya ilmu pengetahuan terlebih dahulu yang harus dimiliki oleh orangtua, karena sedikitnya pengetahuan membuat orangtua kebingungan dalam memberikan pendidikan seks kepada anak. orangtua lebih mengabaikan pendidikan seks untuk anak usia dini. Dalam hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan melalui hasil wawancara bersama guru yang dilakukan peneliti tentang pengetahuan orangtua terhadap pendidikan seks untuk anak. Sesuai dengan pengetahuan guru disekolah pendidikan seks untuk 6 | Raheema: Jurnal Studi Gender dan Anak. Vol. No. anak usia 5-6 tahun itu terjadi melalui sikap dan perilaku yang muncul. Dan guru memberikan pendidikan seks ini bukan melalui pembelajaran tetapi melalui persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Hal ini sejalan dengan teori yang sudah di paparkan bahwa pendidikan seks anak usia 5-6 tahun itu muncul dari sikap dan perilaku ketertarikannya pada alat kelamin dan mengeksplore sesuai dengan yang mereka inginkan. Dan guru disekolah memberikan pendidikan seks hanya ketika perilaku muncul saja karena disekolah sendiri belum menjadikan pendidikan seks sebagai pembelajaran inti. Akan tetapi mengenalkan melalui tema tubuh yang dijelaskan dalam bentuk yang sederhana. Sedangkan hasil wawancara bersama orangtua mengenai pengetahuan terhadap pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun masih dalam pengenalan yang sederhana seperti menjelaskan jenis kelamin, batasan aurat, mana bagian tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh orang lain. oleh karena itu peneliti dapat menyimpulkan bahwa orangtua tidak mengetahui apa itu pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun. Dan Strategi orangtua terhadap pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun di RA Rahmah El Yunusiyyah dapat disimpulkan bahwa strategi dalam pendidikan seks belum dilakukan secara sempurna. Orangtua belum memberikan pendidikan seks secara dini dan terus menerus atau berkelanjutan. Kebanyakan orangtua hanya menunggu anak bertanya dan menjawab sesuai kemampuannya saja dan bukan berdasarkan ilmu pengetahuan tentang pendidikan seks itu sendiri. Dan ada juga orangtua yang lari dari pertanyaan anak dan tidak dilakukan secara terbuka sehingga dengan keterbatasan orangtua dalam pendidikan seks membuat orangtua ragu dalam memberikan pendidikan seks kepada anak. Orangtua sebenarnya telah mengetahui bahwa pendidikan seks untuk anak sangat penting dan memiliki manfaat jangka panjang, karena orangtua ingin mempersiapkan mental anak kedepannya. Dengan adanya pendidikan seks dari sejak dini menjadi bekal bagi anak agar bisa menjaga diri dari bahaya pelecehan seksual. Dalam memberikan ilmu terhadap anak terkait pendidikan seks orangtua memiliki kendala yaitu cara penyampainya yang belum sesuai usia, takut salah sampaikan informasi kepada anak, orangtua yang merasa tabu dengan pertanyaan anak terkait seksual, dan tidak mengetahui bahasa apa yang bisa dipahami oleh anak. keraguan orangtua tersebut membuat orangtua sering mengabaikan ketika anak ingin tau dengan dirinya dan ingin bertanya persoalan seks kepada orangtua. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa orangtua belum mengetahui pendidikan seks untuk anak usia 5-6 tahun. Karena pendidikan seks yang diberikan orangtua masih pada tahap awal yaitu pengenalan anatomi tubuh, bagian aurat laki-laki dan perempuan, dan pengenalan bagian tubuh yang boleh atau tidak boleh disentuh oleh orang yang tidak dikenal. Yuli Andriani: Strategi Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks untuk Anak Usia 5-6 Tahun di Raudhatul Athfal Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang | 7 Sehingga mempengaruhi strategi orangtua terhadap pendidikan seks untuk anak usia 56 tahun di RA REY yang tidak dilakukan secara sempurna. Dari 8 . poin strategi pendidikan seks yang dicantumkan oleh peneliti hasilnya dalam wawancara belum ada orangtua yang menerapkan kepada anak sesuai dengan tahapan yang ada. semua orangtua belum memberikan pendidikan seks secara dini dan terus menerus atau berkelanjutan. Kebanyakan orangtua hanya menunggu anak bertanya dan menjawab sesuai kemampuannya saja dan bukan berdasarkan ilmu pengetahuan tentang pendidikan seks secara benar. Dan ada juga orangtua yang lari dari pertanyaan anak dan tidak dilakukan secara terbuka. Dalam hal ini orangtua mengetahui manfaat dari memberikan pendidikan seks kepada anak sejak usia dini yaitu mempersiapkan mental anak dan membuat orangtua merasa lega melepaskan anak masuk usia remaja. Dengan adanya pendidikan seks dari sejak dini menjadi bekal bagi anak agar bisa menjaga diri dari bahaya pelecehan seksual. Akan tetapi ini menjadi kendala orangtua dengan keterbatasan ilmu tentang pendidikan seks yang membuat orangtua ragu dalam memberikan pendidikan seks kepada anak. Sebagaimana orangtua terkendala dalam menyampaikan pendidikan seks secara terbuka dan pemilihan bahasa yang tepat untuk anak. Sehingga orangtua memilih diam terhadap pemberian pendidikan seks kepada anak sesuai dengan usianya. DAFTAR PUSTAKA