E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Hubungan Peran Orang Tua Dengan Kesiapan Toilet Training Pada Anak Toddler Di Desa Cibokor Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur The Relationship Between Parental Role And Toilet Training Readiness In Toddler Children In Cibokor Village. Cibeber. Cianjur Ersa Nurasri1. Depi Lukitasari2* Mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan STIKes Dharma Husada Bandung Dosen Program Studi Sarjana Keperawatan STIKes Dharma Husada Bandung E-mail Korespondensi: depilukitasari@stikesdhb. (Submit: 3-2-2025. Revisi: 28-3-2025. Diterima: 29-3-2025. Terbit: 30-3-2. ABSTRAK Toilet training merupakan proses penting dalam perkembangan anak usia toddler, di mana keterlibatan aktif orang tua sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran orang tua dengan kesiapan toilet training pada anak usia toddler di Desa Cibokor. Kecamatan Cibeber. Kabupaten Cianjur. Studi ini bersifat kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 110 orang tua, dengan sampel sebanyak 52 orang yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30 orang tua . ,7%) memiliki peran yang baik dalam mendukung toilet training, sementara 32 anak . ,5%) telah menunjukkan kesiapan dalam melakukan toilet training. Uji statistik Chi-Square menghasilkan p-value sebesar 0,013, yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara peran orang tua dan kesiapan toilet training pada anak usia Oleh karena itu, diharapkan orang tua dapat terus membimbing anak dengan lebih optimal agar kesiapan mereka dalam menjalani toilet training semakin meningkat. Kata kunci: Kesiapan. Peran orang tua. Toddler. Toilet training ABSTRACT Toilet training is an important process in the development of toddler-age children, where active involvement of parents is needed. This study aims to determine the relationship between the role of parents and toilet training readiness in toddler-age children in Cibokor Village. Cibeber District. Cianjur Regency. This study is quantitative in nature with a cross-sectional design. The study population consisted of 110 parents, with a sample of 52 people selected using purposive sampling method. The results showed that 30 parents . 7%) had a good role in supporting toilet training, while 32 children . 5%) had shown readiness in toilet training. Chi-Square statistical test resulted in a p-value of 0. 013, indicating a significant relationship between parental role and toilet training readiness in toddler-aged children. Therefore, it is expected that parents can continue to guide their children more optimally so that their readiness to undergo toilet training will increase. Keywords: Readiness. Parental role. Toddler. Toilet training E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Adiguna Nursing Journal PENDAHULUAN Menurut riset di Amerika serikat pada 25 juta anak umur 24 bulan terdapat banyak 26% bayi hadapi kasus dalam mengompol, pada umur 30 bulan terdapat banyak 88% dan 98% pada 36 bulan( Utami et al. , 2. Di Indonesia diperkirakan jumlah anak umur bayi menggapai 30% dari 250 juta jiwa penduduk indonesia, serta bagi survey kesehatan rumah tangga( SKRT) nasional diperkirakan jumlah bayi yang sulit mengendalikan BAB serta BAK( mengompo. di umur bayi hingga umur prasekolah. Fenomena ini karena semenjak dini anak tidak dilatih konsep toilet training secara mandiri oleh orang tua( Kusumawati et al. Toilet training pada anak ialah salah satu usaha buat melatih pengelolaan buang air kecil serta buang air besar yang benar serta tertib (Andresni et al. , 2. Toilet training dapat mulai diajarkan kepada anak berusia 18Ae36 bulan . sia toddle. , karena pada tahap ini sistem tubuh, termasuk saluran kemih, sudah cukup berkembang dan mampu mengenali tanda-tanda ingin buang air kecil maupun buang air besar (BAB). Pada usia toddler, anak mulai memiliki kemampuan untuk mengontrol keinginan buang air, namun diperlukan kesiapan fisik, fisiologis, dan intelektual agar mereka dapat mengelola buang air kecil dan buang air besar secara mandiri (Miftahul R. , 2. Anak umur toddler ialah masa emas ataupun golden age pada masa ini anak telah bisa mengeksplorasiakan area serta mencoba seluruh metode buat belajar tentang dunia. Anak umur toddler berkembang serta tumbuh sangat cepat, dan ini pula menggambarkan masa kritis untuk pertumbuhan serta pengaruh kemandirian anak( Utami et al. , 2. Bila orang tua tidak menunjang pertumbuhan kemandirian semenjak kecil, anak rentan jadi bingung, penakut, pemalu serta menarik diri, sehingga lingkungan luar sangat pengaruhi pertumbuhan anak( Padila et al. , 2. Tumbuh kembang anak usia toddler yang paling jelas terlihat adalah perkembangan keterampilan motorik, salah satunya adalah kemampuan untuk menggunakan toilet dengan Namun, anak-anak pada usia toddler sering kali mengalami kesulitan dalam melakukan buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) karena mereka belum sepenuhnya siap untuk menjalani pelatihan toilet. Salah satu penyebab utama dari masalah ini adalah kurangnya peran orang tua dalam mempersiapkan anak untuk toilet training sejak dini (Wong, 2. Orang tua dapat melakukan berbagai upaya untuk meminimalkan kemungkinan kegagalan dalam proses toilet training. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah melatih kesiapan anak sedini mungkin dalam menjalani toilet training, serta menumbuhkan motivasi orang tua dalam memberikan pelatihan kepada anak dengan metode yang tepat. Motivasi orang tua dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intrinsik yang terdiri dari pengetahuan, sikap, kondisi mental, serta tingkat kematangan usia yang merupakan elemen dari dalam diri individu. Selain itu, terdapat pula faktor ekstrinsik, seperti keberadaan sarana atau prasarana yang memadai, serta lingkungan yang mendukung (Ananda Putri et al. , 2. Peran aktif orang tua dalam perkembangan anak sangatlah penting, terutama pada masa kanak-kanak. Keberhasilan atau kegagalan proses toilet training sangat bergantung pada kesiapan anak dan dukungan dari orang tua (Hendrik Ome dan Saparwati, 2. Salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapan anak dalam melaksanakan toilet training adalah peran orang tua, mengingat orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan dan melatih anak dalam proses tersebut (Nur Laila, 2. Selain itu, aspek komunikasi antara orang tua dan anak juga memegang peranan krusial. Tingkat kelemahan atau kekerasan dalam komunikasi orang tua dapat berdampak pada perilaku anak selama menjalani toilet training (Hendrik Ome dan Saparwati, 2. Saat orang tua mengajarkan toilet training kepada orang tua harus paham akan teknik yang benar atau teknik yang mudah dipahami oleh anak. Ada dua teknik untuk mengajarkan toilet E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Adiguna Nursing Journal training pada anak diantaranya ada teknik lisan dan teknik modeling. Contoh teknik lisan orang tua selalu berbicara kepada anak ketika merasa mau buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Teknik modeling dilakukan dengan cara orang tua memberikan contoh kepada anak ketika ingin buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Orang tua dapat melakukan kedua teknik tersebut untuk melatih toilet training pada anak, selain itu orang tua membutuhkan kesabaran dalam melatih anak saat melakukan toilet training . idiawati, 2. Tanda-tanda keberhasilan pelatihan toilet pada anak usia toddler mencakup kesiapan fisik, mental, dan psikologis. Kesiapan fisik ditunjukkan melalui kemampuan motorik kasar, seperti kemampuan untuk duduk dan berjongkok, serta motorik halus, yaitu kemampuan untuk melepas pakaian. Sementara itu, kesiapan mental melibatkan kemampuan anak untuk mengikuti perintah orang tua dan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Kesiapan psikologis dapat dikenali melalui rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan sekitar, termasuk kebiasaan penggunaan toilet oleh orang dewasa, serta kemampuan untuk duduk di Ketiga aspek tersebut sangat bergantung pada peran aktif orang tua dalam melatih kesiapan pelatihan toilet. Apabila orang tua mengambil peran aktif dalam proses ini, maka anak akan lebih siap untuk menjalani pelatihan toilet (Wong, 2. Orang tua yang saat ini kurang aktif dan tidak memahami kemauan anaknya, karena sebagian orang tua sibuk dengan pekerjaannya atau malas mengantar anaknya ke toilet, menyebabkan orang tua tidak mau repot mengurus anaknya. Orang tua cenderung memilih penggunaan popok sekali pakai yang memberikan kenyamanan, sehingga mereka tidak menghadapi kesulitan ketika anak hendak buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK). Orang tua yang sibuk juga tidak memperhatikan lingkungan rumah yang tampak kotor terutama dibagian toilet, sehingga mengakibatkan anak tidak betah dan tidak mau BAB dan BAK di toilet (Nursalam, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Anansa P et al. mengungkapkan adanya hubungan antara dukungan orang tua dan kesiapan toilet training pada anak usia toddler antara 12 hingga 36 bulan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Hartutik et al. menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji Chi-Square terdapat hubungan yang signifikan antara peran dan pengalaman ibu dengan kesiapan toilet training pada anak usia 3 tahun di Kecamatan Grogol, di mana nilai Chi-Square yang diperoleh adalah 9,868 . -value = 0,. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengalaman ibu memiliki hubungan yang signifikan terhadap kesiapan toilet training anak usia toddler 3 tahun. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Cibokor peneliti menumukan permasalahan, dimana masih banyak anak usia toddler yang masih mengompol. Jumlah anak usia toddler yang ada di Desa Cibokor sebanyak 110 anak. Peneliti melakukan wawancara kepada 6 orang ibu yang memiliki anak usia todler, dimana 4 anak sudah siap melakukan toilet training dengan cara memberi tahu orang tua dengan kalimat AupipisAy atau AupupAy, orang tua juga berperan aktif mengantarkan anak ke kamar mandi saat anaknya ingin BAK atau BAB. Adapun 2 anak tidak dapat melakukan tolet training di karenakan masih menggunakan popok, orang tua anak kurang berperan dalam melakukan toilet training dengan alasan bekerja hingga tidak sempat untuk mengajarkan anak toilet training. Dalam studi pendahuluan yang telah dilakukan, peneliti menemukan bahwa terdapat anakanak yang seharusnya sudah diajarkan untuk melakukan buang air kecil dan besar di toilet, namun masih sering mengenakan popok sekali pakai. Hal ini menyebabkan anak lebih merasa nyaman untuk buang air besar dan kecil di popoknya dibandingkan dengan di toilet. Selain itu, terdapat juga anak-anak yang kurang mendapatkan pengawasan dari orang tua, disebabkan oleh kesibukan orang tua yang bekerja. Akibatnya, anak-anak tersebut tidak dapat melakukan toilet training secara mandiri karena tidak mendapatkan bimbingan yang memadai dari orang Peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian ini di Desa Cibokor karena masih banyak anak-anak usia toddler yang belum mampu menjalani toilet training, hal ini disebabkan E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Adiguna Nursing Journal oleh kurangnya pemahaman orang tua mengenai pentingnya pelatihan toilet training sejak Dapat di gambarkan bahwa orang tua masih kurang pemahaman tentang pentingnya menerapan toilet training dengan baik dan mengajarkan anak untuk latihan toilet training sejak dini, lingkungan rumah tempat anak tinggal berpengaruh dalam proses latihan toilet training. Apabila tempat anak tinggal itu kotor terutama di bagian toilet minat anak akan berkurang dalam proses latihan toilet training. Maka dari itu banyak hal baik yang orang tua ajarkan kepada anak mengenai latihan buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) maka semakin paham anak tentang pentingnya latihan toilet training (P. mendur, 2. Melihat pemaparan dan fenomena yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai AuHubungan peran orang tua dengan Kesiapan Toilet Training pada anak usia toddler . -36 bula. di Desa Cibokor Kecamatan Cibeber Kabupaten CianjurAy. METODE Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia toddler 18-36 bulan yang berjumlah 110 anak di desa Cibokor. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kuesioner. Hasil Analisis Univariat HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini peneliti menyajikan hasil penelitian yang sudah dilakukan peneitian dengan menggunakan data yang diambil. Peneliti akan menjelaskan dalam bentuk tabel peran orang tua dengan Kesiapan Toilet Training pada anak usia toddler . -36 bula. di Desa Cibokor Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Tabel 1. Distribusi Frekuensi Peran Orang Tua Di DesaCibokor Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Peran Orang Tua Baik Kurang Baik Total Frekuensi . Presentasi (%) Berdasarkan tabel 1 Menunjukan bahwa dari 52 responden sebanyak 30 orang tua . ,7 %) memiliki peran baik dan sebanyak 22 orang . ,3%) memiliki peran kurang baik Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kesiapan Toilet Training Di Desa Cibokor Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Kesiapan Toilet Training Siap Kurang Siap Total Frekuensi . Presentasi (%) E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Adiguna Nursing Journal Berdasarkan tabel 2 Menunjukan bahwa dari 52 responden kesiapan toilet training pada anak usia toddler 32 anak siap . ,5 %). Adapula anak yang kurang siap melakukan toilet training sebanyak 20 anak . 1%). Hasil Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk mencari tahu hubungann dua atau lebih variable . ugiyono, 2. Dalam penelitian ini analisis bivariatnya yaitu hubungan peran orang tua dan kesiapan toilet training anak usia toddler di Desa Cibokor Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Tabel 3. Hubungan Peran Orang Tua dengan Kesiapan toilet training pada Anak Usia Toddler Peran Orang Tua Kesiapan toilet Siap Jumlah P- Kurang Siap Baik 22 42,3 8 15,3 30 Kurang 10 19,2 12 23 Baik Total 32 61,5 20 28,3 52 Value 0,013 Berdasarkan Tabel 3. Analisis mengenai peran orang tua dalam kesiapan toilet training pada anak usia toddler di Desa Cibokor. Kecamatan Cibeber. Kabupaten Cianjur menunjukkan bahwa dari 52 responden, sebanyak 22 orang . ,3%) dengan peran orang tua yang baik juga memiliki kesiapan toilet training yang baik. Selain itu, terdapat 8 orang . ,3%) yang meskipun memiliki peran orang tua yang baik, namun kesiapan toilet training anak masih kurang. Sementara itu, 10 orang . ,2%) memiliki peran orang tua yang kurang baik tetapi anak mereka menunjukkan kesiapan toilet training yang baik, sedangkan 12 orang . %) memiliki peran orang tua yang kurang baik dengan kesiapan toilet training yang juga kurang. Hasil uji statistik menggunakan metode Chi-Square menghasilkan P-Value sebesar 0,013, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran orang tua dan kesiapan toilet training pada anak usia toddler. Berdasarkan Tabel 1, hasil penelitian yang dilakukan terhadap 52 responden menunjukkan bahwa peran orang tua dalam toilet training di Desa Cibokor. Kecamatan Cibeber. Kabupaten Cianjur adalah sebanyak 30 orang, yang mewakili 57,7%. Peran orang tua merupakan salah satu faktor yang signifikan dalam mempengaruhi kesiapan anak untuk mengikuti pelatihan toilet. Berdasarkan teori yang diungkapkan oleh Soetjingsih . , peran orang tua meliputi tiga aspek, yaitu asah, asih, dan asuh. Oleh karena itu, pola pengasuhan yang perlu diterapkan oleh orang tua harus mencakup pemenuhan kebutuhan emosional anak, di mana kesiapan anak sebaiknya selalu didasarkan pada perkembangan yang dimiliki oleh setiap anak. Menuntut anak untuk siap melampaui kemampuannya dapat menyebabkan tekanan psikologis. Dalam konteks ini, anak masih memerlukan dukungan agar dapat belajar mandiri (Soetjingsih, 2. Hasil analisis univariat dalam penelitian ini menunjukkan bahwa subvariabel peran orang tua yang terendah atau kurang baik tercatat pada sebanyak 22 orang . ,3%) orang tua, yang menunjukkan kurang baiknya peran mereka dalam mendukung anak, khususnya dalam hal E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Adiguna Nursing Journal menjadi fasilitator. Dalam konteks ini, orang tua masih terkadang meluangkan waktu untuk mengajarkan anak mengenai kebiasaan buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) ke Sebaliknya, peran orang tua yang baik atau tinggi tercatat pada sebanyak 30 orang . ,7%) orang tua, yang berhasil memberikan dukungan yang baik dengan cara menjadikan diri mereka sebagai motivator, fasilitator, dan edukator. Orang tua sering memberikan pujian kepada anak ketika anak berhasil melakukan toilet training dengan baik, serta mengajarkan anak cara membuka celana sendiri. Kualitas peran orang tua dalam mendukung anak dalam toilet training dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain tersedianya waktu yang dapat dialokasikan untuk anak, latar belakang pendidikan orang tua, serta jenis pekerjaan yang mereka jalani. Peran aktif orang tua dalam perkembangan anak sangatlah penting, terutama pada masa balita, yaitu apabila anak berada di bawah usia lima tahun. Keluarga, khususnya orang tua, merupakan tokoh sentral dalam tahap perkembangan seorang anak. Sebagai pendidik pertama dan utama, orang tua diharapkan menyadari pentingnya pengasuhan yang baik dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Peran orang tua dalam proses perkembangan sangat signifikan, mengingat bahwa dengan keterampilan pengasuhan yang memadai, pemantauan dan pembinaan anak dapat dilakukan secara efektif. Orang tua adalah sosok pertama yang memperkenalkan anak kepada komunikasi, memfasilitasi anak untuk memahami cara berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, lingkungan keluarga juga merupakan salah satu faktor penentu dalam tumbuh kembang anak. oleh karena itu, menciptakan lingkungan keluarga yang baik sangat penting untuk mendukung perkembangan positif anak (Hidayat. Kurangnya peran orang tua dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak tentu dapat memberikan dampak yang negatif terhadap perkembangan anak tersebut. Jika peran orang tua tidak dilaksanakan dengan baik, anak berpotensi mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak dapat mengakibatkan kesulitan dalam melaksanakan aktivitas yang seharusnya sudah dapat dilakukan pada usia tertentu. Sebaliknya, apabila peran orang tua berhasil, anak akan mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap usianya (Hidayat, 2. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rachman, 2. yang menyatakan peran orang tua berhubungan dengan keberhasilan toilet training . Menunjukan bahwa sebagaian besar peran orang tua baik 17 orang . ,6%). Orang tua memberikan peran yang baik kepada anak apabila anak ingin ke toilet dan orang tua sering melatih anak untuk melakukan toilet training. Menurut (Friedman, 2. peran orang tua yang harus dimiliki orang tua pada saat akan melatih anak dalam melakukan toilet training yaitu orang tua harus menjadi motivator,edukator dan fasilitator pada penelitian ini sebagian banyak orang tua kurang dalam melakukan fasilitator dimana orang tua kurang dalam memenuhi kebutuhan anak seperti mengantar anak ke toile. Pada masa ini, orang tua seharusnya mulai melatih kesiapan anak untuk buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) di toilet. Orang tua perlu bersikap sabar serta memahami kesiapan anak sebelum memulai proses pengajaran penggunaan toilet. Selain itu, orang tua juga diharapkan memiliki dukungan positif. salah satu contohnya adalah dengan bersedia menemani anak saat melakukan buang air besar dan buang air kecil di toilet (Hendrik Ome dan Saparwati, 2. Peran orang tua terhadap anak adalah untuk memenuhi berbagai kebutuhan anak, terutama yang berkaitan dengan aspek psikologis. Di antara kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan perkembangan intelektual yang dapat dipenuhi melalui pendidikan, serta kebutuhan akan rasa kasih, pengertian, dan rasa aman yang dapat diwujudkan melalui ucapan dan perlakuan yang baik (Munawaroh, 2. Pelatihan penggunaan toilet merupakan suatu proses pengajaran yang bertujuan untuk mengelola buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) secara benar dan teratur (Andresni et al. , 2. Proses ini dapat diajarkan kepada anak-anak berusia antara 18 hingga 36 bulan. E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Adiguna Nursing Journal mengingat pada usia tersebut, sistem tubuh, termasuk sistem saluran kemih, sudah cukup berkembang dan mampu mengenali tanda-tanda yang menunjukkan kebutuhan untuk buang air kecil (Miftahul Reski Putra Nasjum, 2. Berdasarkan analisis hasil lembar observasi, terdapat 32 anak . ,5%) yang telah siap untuk mengikuti proses pelatihan penggunaan toilet. Beberapa aspek yang dapat digunakan untuk menilai kesiapan anak dalam melakukan pelatihan ini meliputi aspek kesiapan fisik, mental, dan psikologis. Di antaranya, anak sudah dapat berjalan, mampu berjongkok, dan dapat membuka celana sendiri. Selain itu, anak juga sudah dapat menyampaikan keinginannya untuk buang air besar atau buang air kecil, serta menunjukkan keinginan untuk mengganti celana jika sudah basah. Sementara itu, sebanyak 20 anak . ,5%) dinyatakan kurang siap dalam melaksanakan pelatihan penggunaan toilet, sebagaimana terlihat dari hasil analisis lembar observasi. Beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya kesiapan tersebut antara lain adalah anak belum mampu berjongkok selama 5 hingga 10 menit, kesulitan dalam membuka celana sendiri, serta masih mengalami kebocoran urine di malam hari. Pada tahap usia toddler, anak mulai mengembangkan kemandiriannya dengan meningkatkan keterampilan yang telah diperoleh sejak masa bayi. Keseimbangan tubuh juga mulai berkembang, terutama dalam aspek berjalan, yang sangat penting untuk memperkuat rasa otonomi serta kemampuan anak untuk mengendalikan kemauannya sendiri. Perkembangan yang paling signifikan pada fase ini adalah kemampuan anak untuk mengeksplorasi dan memanipulasi lingkungan sekitar tanpa ketergantungan pada orang lain. Terlihat adanya hubungan timbal balik antara perkembangan dan pertumbuhan fisik dengan aspek psikososial. Pada tahap ini, anak juga mulai belajar untuk mengendalikan buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) menjelang usia tiga tahun. Sangat krusial bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan motorik guna mendukung proses toilet training yang benar (Andriyani et al. , n. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ananda Putri . , yang menunjukkan bahwa berdasarkan observasi terdapat 18 . ,8%) anak usia toddler yang telah siap untuk menjalani toilet training. Kesiapan ini disebabkan oleh bertambahnya usia anak yang berpengaruh pada perkembangan kemampuan fisiknya. Suksesnya toilet training sangat bergantung pada kesiapan anak serta peran orang tua dalam berkomunikasi dengan anak. Komunikasi yang dilakukan orang tua, baik yang terlalu lemah maupun yang terlalu keras, dapat memengaruhi tingkat keberhasilan dalam proses toilet training (Megaswara, 2. Hubungan Peran Orang Tua Dengan Kesiapan Toilet Training Pada Anak Usia Toddler Di Desa Cibokor Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Berdasarkan Tabel 3, hasil penelitian yang dilakukan di Desa Cibokor oleh peneliti mengenai hubungan antara peran orang tua dengan kesiapan toilet training menunjukkan bahwa terdapat 52 orang tua yang memiliki anak berusia toddler. Di antara mereka, terdapat 20 orang . ,5%) yang memiliki peran orang tua yang baik dengan kesiapan toilet training yang siap. Sebaliknya, terdapat 10 orang . ,2%) yang memiliki peran orang tua yang baik tetapi kesiapan toilet training mereka tidak siap. Selain itu, terdapat 7 orang . ,5%) dengan peran orang tua yang kurang baik yang kesiapan toilet training-nya siap, sementara 15 orang . ,8%) dengan peran orang tua yang kurang baik menunjukkan kesiapan toilet training yang tidak siap. Berdasarkan hasil output uji statistik Chi Square diperoleh value sebesar 0,013. Hal ini menunjukan bahwa value sebesar 0,013 < nilai . Dengan nilai expected count sebesar 0,0% , maka dapat di simpulkan bahwa Ho di tolak dan H1 di terima dengan demikian dapat di artikan bahwa terdapat hubungan peran orang tua dengan kesiapan toilet training pada anak usia toddler di Desa Cibokor Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Penelitian ini sejalan dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Andriyani . , yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesiapan toilet training dengan E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Adiguna Nursing Journal peran orang tua, mengingat orang tua merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan toilet training. Oleh karena itu, dapat disimpulkan berdasarkan data di atas bahwa peran orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap kesiapan toilet training pada anak. Anak-anak usia toddler dapat melakukan buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) dengan lancar atau tidak, tergantung pada kesiapan fisik anak serta peran orang tua. Apabila anak tidak didukung oleh kemampuan fisik yang memadai serta peran aktif dari orang tua, ada kemungkinan anak akan merasa tidak nyaman dalam menjalani proses toilet training. Menurut Hidayat . , kesiapan fisik yang diperlukan oleh anak sebelum memulai latihan toilet training adalah ketika anak telah mencapai usia 18 bulan sampai 2 tahun, di mana anak telah mampu berjalan, melompat, jongkok, atau duduk dengan baik. Selain itu, peran orang tua yang berkontribusi terhadap proses ini dapat diwujudkan melalui beberapa bentuk, antara lain memberikan perhatian, bantuan instrumental, informasi, dan nilai-nilai yang relevan kepada anak dalam menjalani toilet training (Yanti, 2. Selain kesiapan fisik dan peran orang tua, kesiapan psikologis anak juga berpengaruh signifikan terhadap proses toilet Hal ini sejalan dengan pendapat Hidayat . , yang menyatakan bahwa kesiapan psikologis anak pada usia todler akan mendukung keberhasilan toilet training, mengingat anak pada usia tersebut memerlukan suasana yang nyaman untuk dapat mengontrol dan berkonsentrasi dalam merasakan rangsangan buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK). Tanda-tanda kesiapan psikologis dalam toilet training mencakup: anak tidak rewel saat akan melakukan BAB dan BAK. ekspresi wajah anak menunjukkan kegembiraan dan keinginan untuk melakukannya secara mandiri. adanya keinginan anak untuk meniru kebiasaan toilet training yang dilakukan oleh orang dewasa atau saudaranya. serta keinginan untuk menyenangkan orang tua. Pada saat melaksanakan pelatihan toilet, anak mungkin mengalami kegagalan. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri anak, sehingga anak merasa mampu untuk melakukannya. Orang tua hendaklah mampu memotivasi dan mendukung anak agar proses latihan tidak terhenti. Ketika anak mengalami kegagalan, orang tua sebaiknya tidak menyalahkan atau memarahinya, karena hal tersebut dapat menimbulkan rasa ragu pada anak. Sebaliknya, orang tua perlu memberikan penjelasan dengan kalimat yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak. Apabila anak berhasil melaksanakan pelatihan toilet, maka anak perlu mendapatkan pujian atas usaha tersebut. Secara psikologis, pujian ini akan membuat anak merasa puas dan senang atas usahanya, yang pada gilirannya akan memunculkan keinginan dalam diri anak untuk terus melanjutkan pelatihan toilet. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan Aumengenai hubungan peran orang tua dengan kesiapan toilet training pada anak usia toddler di Desa Cibokor Kecamtan Cibeber Kabupaten CianjurAy dengan menggunakan uji statistik Chi- Square maka dapat disimpulkan bahwa : Orang tua pada penelitian ini memberikan peran yang baik yaitu sebanyak 30 orang . ,7%). Kesiapan pelatihan toilet pada anak usia toddler di Desa Cibokor. Kecamatan Cibeber. Kabupaten Cianjur. Dalam penelitian ini, terdapat sebanyak 32 anak yang sudah menunjukkan kesiapan untuk menjalani pelatihan toilet, yang mencakup 61,5% dari total sampel. Terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dan kesiapan toilet training pada anak usia toddler di Desa Cibokor. Kecamatan Cibeber. Kabupaten Cianjur. Nilai P Value yang diperoleh adalah 0,013, yang menunjukkan bahwa hubungan tersebut adalah signifikan. E-ISSN: x-x Vol. 1 No. 1 Maret 2025 Adiguna Nursing Journal DAFTAR PUSTAKA