PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 3 Mei 2024 Karakteristik Pengeringan Anuwun (Tacca leontopetaloides L. Menggunakan Alat Pengering Energi Matahari Dengan Metode Hibrid Characteristics of The Anuwun Drying (Tacca leontopetaloides L. using a solarenergy dryer using Andrea Julio Palendeng. Christine P. Lomo. Filan O. Mandang Program Studi Teknologi Pangan Universitas Prisma Jl. Pumorrow Tikala Baru Kec. Tikala Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Email: ndrepalendeng@gmail. ABSTRAK Usaha-usaha pengembangan pemanfaatan anuwun melalui teknologi pasca panen dalam bentuk produk olahan maupun pengawetan sangat dibutuhkan untuk memperpanjang masa simpan serta menambah nilai ekonomis dari tanaman umbi anuwun. Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi pasca panen yaitu pengolahan menjadi tepung anuwun, dimana dalam penerapan teknologi tersebut membutuhkan proses pengeringan. Alat pengering energi matahari yang digunakan dalam penelitian ini dilengkapi dengan pengumpul panas . dan cerobong untuk menambah dan mempercepat aliran udara panas yang masuk ke dalam ruang pengering, serta mencegah proses pengeringan yang lambat sehingga mengakibatkan udara pengering menjadi jenuh. Selain itu, alat ini juga dilengkapi dengan penambahan tungku pemanas, sehingga tipe ini sering disebut sebagai alat pengering energi matahari metode hibrid. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Perubahan suhu udara pengering ditentukan dengan metode deskriptif dan dianalisa menggunakan grafik. Perubahan kadar air selama pengeringan. Perubahan laju pengeringan terhadap waktu . Perubahan laju pengeringan terhadap kadar air. Perubahan suhu pada saat proses pengeringan terjadi kelembaban udara ini dipengaruhi oleh suhu udara pada saat proses pengeringan berlangsung. Kelembapan udara menurun pada saat dipanaskan proses ini biasanya dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang mempengaruhi kelembapan serta suhu. Pada proses pengeringan berlangsung dapat dilihat bahwa kadar air yang ada pada umbi anuwun akan mengalami penurunan dalam waktu pengeringan selama 7 jam. Semakin lama waktu pengeringan maka kadar air akan semakin Karakteristik pengeringan dari umbi anuwun secara keseluruhan menunjukan laju pengeringan terjadi dalam dua periode, yaitu laju pengeringan konstan dan kaju pengeringan menurun. Laju pengeringan pada bahan di rak 2 lebih besar di bandingkan rak 1. Disebabkan karena bahan yang ada di rak 2 lebih cepat mendapatkan aliran udara pengering. Kata kunci : Anuwun. Pengeringan. Kadar air , metode hybrid ABSTRACT Efforts to develop the use of anuwun through post-harvest technology in the form of processed products and preservation are needed to extend the shelf life and increase the economic value of the anuwun tuber plant. One form of utilization of post-harvest technology is processing into anuwun flour, where the application of this technology requires a drying process. The solar energy dryer used in this study is equipped with a heat collector . and a chimney to increase and speed up the flow of hot air into the drying chamber, as well as to prevent the drying process from being slow so that the drying air becomes saturated. In addition, this tool is also equipped with the addition of a heating furnace, so this type is often referred to as a hybrid solar energy dryer. This research was conducted to determine the change in drying air temperature determined by descriptive method and analyzed using graphs. Changes in water content during drying. Changes in drying rate with time. Changes in drying rate on moisture Changes in temperature during the drying process occur air humidity is influenced by the air temperature during the drying process takes place. Air humidity decreases when heated, this process is usually influenced by weather conditions that affect humidity and temperature. In the drying process, it can be seen that the water content in the anuwun tubers will decrease in the drying time for 7 hours. The longer the drying time, the lower the moisture content. The drying characteristics of anuwun tubers as a whole show that the drying rate occurs in two periods, namely the drying rate is constant and the drying rate is decreasing. The drying rate of the ingredients on rack 2 is greater than that of rack 1. This is because the ingredients on rack 2 get a faster drying airflow. Keywords : Anuwun. Drying. Moisture content. Hybrid method PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 3 Mei 2024 PENDAHULUAN Tanaman maupun pengawetan sangat dibutuhkan Anuwun Talaud untuk memperpanjang masa simpan serta Nanusa menambah nilai ekonomis dari tanaman Provinsi Sulawesi utara dimana tanaman ini berasal dari talas-talasan dan spesies pemanfaatan teknologi pasca panen yaitu Taccaleontopetaloides L. Kuntz. Anuwun Salah merupakan salah satu jenis tumbuhan berbunga yang masih termasuk kedalam keluarga talas-talasan, memiliki rasa yang pahit dan gatal ketika dikonsumsi, sehingga Pengeringan merupakan salah satu diperlukan proses pengolahan untuk dapat teknologi proses pasca panen yang umum Kabupaten dilakukan pada berbagai produk pertanian Kepulauan Talaud. Kecamatan Nanusa yang bertujuan untuk menurunkan kadar air Sulawesi umbi-umbian bahan sampai tingkat yang aman untuk Anuwun atau dikenal dengan nama lokal penyimpanan atau digunakan pada proses Anuwun Hampir seluruh pengeringan pada Utara. Proses masih sangat terbatas, bahkan tanaman ini pengeringan produk pertanian yang banyak dilakukan oleh petani adalah dengan cara . elum dibudidayaka. (Kogoya dkk. , 2. Masyarakat penjemuran yaitu dengan menghamparkan produk di lantai atau di pinggir jalan sambil Talaud. Penjemuran yaitu dengan menghamparkan produk di lantai atau di pinggir jalan sambil berumur 6 bulan keatas. Meskipun sudah dijemur dibawah sinar matahari (Makmur dapat mengolah tanaman tersebut namun , 2018 ). pemanfaatannya secara lebih luas belum Pengering hybrid tenaga surya dan dapat dirasakan secara komersil (Kogoya , 2. Keterbatasan tersebut dapat Indonesia yang memiliki potensi energi surya cukup besar dan relatif konstan penanganan pasca panen dari tanaman ini, karena masih sedikitnya hasil penelitian berdasarkan teknologi pasca panen dari tanaman tersebut. Usaha-usaha (Septiadi Penggunaan cuma-cuma. Pengering melalui teknologi bertenaga surya memiliki potensi sangat pasca panen dalam bentuk produk olahan besar terutama dalam pengeringan bersuhu PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 3 Mei 2024 rendah untuk produk pertanian. Selain itu. Alat Instrumen Timbangan Termokopel. Oven Almunium Foil. Blender. pengeringan (Vidana dkk. , 2. , karena Metode Penelitian Namun Alat pengering yang telah ditempatkan memanjang pada arah Utara ke Selatan. digunakan pada siang hari, tidak dapat Anuwun bekerja optimal pada cuaca berawan dan pengupasan dan pengirisan, dengan tebal efisiensi yang rendah. kira-kira 0,3 cm, disebar merata pada bak Proses Sensor-sensor kelemahan, seperti memanfaatkan lahan diletakkan titik-titik pengamatan yaitu di yang luas,serta dapat terjadi kontaminasi ruang plenum, di dalam ruang pengering, produk oleh debu, kotoran selain itu sangat pada bahan, serta untuk termometer air sehingga produk harus dipindah saat cuaca mengamati perubahan suhu lingkungan. hujan, (Makmur dkk. , 2. Kendala Ae Selanjutnya suhu pada alat pengering dan dicatat, lalu Perubahan kadar air pada kondisi pengeringan kondisi optimal dapat Anuwun Selain rak pengering alternatif yang baik bagi industri rumah selang waktu 60 menit sampai proses tangga maupun petani untuk mengeringkan pengeringan selesai. Proses pengeringan produk mereka, karena secara umum dapat berlangsung pada pukul 09. 40 pagi sampai mengatasi berbagai kendala yang telah 26 sore, namun ketika belum disampaikan sebelumnya. dilanjutkan sampai proses pengeringan BAHAN DAN METODE Bahan Penelitian Bahan Metode Analisa Penentuan Kadar Air Awal dan Kadar penelitian ini yaitu Umbi anuwun yang Air Akhir sudah berusia 6 bulan sebanyak 5 kg,Air metode oven (Hii dkk. , 2009 dalam bersih yang mengalir. Malingkas, 2. Kadar air awal serta kadar air akhir Peralatan Penelitian dihitung berdasarkan persamaan : Alat yang digunakan yaitu, 1 unit alat Mi = pengering energi matahari metode hibrid, 1 unit kompor gas. Tabung LPG 3kg. Pisau, ycOycnOeycOyce ycOycn ycu100% . PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 3 Mei 2024 Penentuan Penurunan Kadar Air Bahan selama Pengeringan Mi = ycOycnOeycOyce ycOycn ycu100% . Penentuan Laju Pengeringan dihitung berdasarkan persamaan dari Thahir dalam Malingkas . Oe. OeMi LPi = t . Oe. Oeti HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Gambar Grafik suhu udara dan suhu bahan (Tacca Berdasarkan leontopetaloides L. menggunakan alat pengering energi matahari dengan metode hybrid adalah sebagai berikut: cukup tinggi. Besarnya akumulasi uap air udara pengering saat melewati bahan di Perubahan kelembapan dan suhu udara rak,dimana melewati bahan mulai dari rak 1 sampai rak Kelembapan udara menurun pada saat 2 menghantar uap air hasil penguapan dipanaskan proses ini biasanya dipengaruhi menuju rak yang ada di bagian atas. Uap oleh kondisi cuaca yang mempengaruhi air yang di bawah oleh udara cukup banyak kelembapan serta suhu. Semakin lama setelah melalui rak sebelumnya sehingga waktu maka suhu akan semakin tinggi. Hal menyebabkan penurunan kapasitas udara ini bisa dilihat dalam grafik berikut. untuk menguapkan air pada bahan. Hal ini menjadi penyebab pada laju pengeringan dimana laju pengeringan rak atas lebih cepat dibandingkan dengan rak bawah, bagian rak tengah lebih mendapatkan aliran udara. Perubahan kadar air terhadap waktu Dalam pengeringan ini dilakukan dari jam 9. 40 wita Gambar 1. Grafik perkembangan RH 26 wita sampai kadar air yang lingkungan. RH Alat. Suhu lingkungan Anuwun 66. Kurva penurunan kadar air dilakukan selama penelitian pada Gambar 3. dapat dilihat PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 3 Mei 2024 Perubahan laju pengeringan terhadap waktu dan kadar air Suhu udara pengering selama proses . Nelwan (Malingkas, menuliskan, semakin tinggi suhu udara pengering maka semakin tinggi energi Gambar 3. Kurva penurunan kadar air antara tekanan uap pada bahan dengan terhadap waktu Kedua menentukan besarnya jumlah penguapan air pada waktu tertentu. Sehingga pada suhu yang lebih tinggi dan kelembaban udara yang lebih rendah, waktu yang untuk mencapai kadar air mendekati nol lebih singkat. Gambar Kurva terhadap waktu Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tiap rak membutuhkan waktu yang Proses yang dilakukan selama 7 jam menunjukan Gambar 5. Kurva laju pengeringan terhadap kadar air penurunan kadar air relative cepat pada saat 2 jam pertama. Tapi setelah itu Dari gambar-gambar tersebut (Gambar penurunan kadar air di rak 2 lebih cepat 4 dan . secara keseluruhan menunjukkan dibandingkan dengan rak 1. Massa air yang tersedia dalam jumlah dengan laju pengeringan konstan dan laju besar di permukaan bahan menyebabkan penurunan kadar air yang cepat. Kemudian pengeringan, laju pengeringan berlangsung dengan cepat karena proses penguapan air Saat keseimbagan proses penurunan kadar air semakin lambat karena massa air yang Selanjutnya air yang ada pada terdapat di permukaan telah habis. PRISMA FOODTECH Volume 1 Nomor 3 Mei 2024 DAFTAR PUSTAKA