MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 Komodifikasi Kata-kata Kasar di Channel YouTube Tekotok *Muhammad Fahmi HidayahA. Primi Rohimi A Institut Agama Islam Negeri Kudus Email: Afahmihidayatullah1704@gmail. Aprimirohimi@iainkudus. DOI: https://doi. org/10. 35878/muashir. Article Info Article history: Received : 10-12-2024 Revised : 31-05-2025 Accepted : 31-05-2025 ABSTRACT The commodification of abusive language on the YouTube channel Tekotok is an intriguing phenomenon to study, given its impact on communication behavior in society, particularly among adolescents. This research aims to identify the forms of abusive language used in Tekotok's content and analyze its social and psychological effects on the audience. The research method employed is a qualitative approach with data collection techniques through observation and content analysis of video Data were collected from ten selected videos on the Tekotok channel that contain elements of abusive language. The results indicate that there is a variety of abusive language usage that serves as a tool to attract attention, create humor, and convey social criticism. However, the impacts also include the normalization of abusive language use among adolescents, which can lead to decreased empathy and increased aggressive behavior. The result of this study emphasizes the importance of awareness regarding the negative effects of using abusive language in social media and the need for education on more positive communication. Keywords: Commodification of Harsh Words. YouTube. Tekotok ABSTRAK Komodifikasi kata-kata kasar di channel YouTube Tekotok merupakan fenomena yang menarik untuk diteliti, mengingat dampaknya terhadap perilaku komunikasi masyarakat, terutama MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam. P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. Copyright A2025 TheAuthor. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 di kalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk penggunaan kata-kata kasar dalam konten Tekotok, serta menganalisis dampak sosial dan psikologisnya terhadap audiens. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan analisis konten video. Data dikumpulkan dari sepuluh video unggulan di channel Tekotok yang mengandung unsur kata-kata kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variasi penggunaan kata-kata kasar yang berfungsi sebagai alat untuk menarik perhatian, menciptakan humor, dan menyampaikan kritik sosial. Namun, dampaknya juga mencakup normalisasi penggunaan bahasa kasar di kalangan remaja, yang dapat mengarah pada penurunan empati dan peningkatan perilaku agresif. Hasil dari penelitian ini menegaskan pentingnya kesadaran akan dampak negatif dari penggunaan kata-kata kasar dalam media sosial dan perlunya edukasi tentang komunikasi yang lebih positif. Kata Kunci: Komodifikasi Kata Kasar. Youtube. Tekotok *Corresponding author : Institut Agama Islam Negeri Kudus Jl. Conge Ngembalrejo. Ngembal Rejo. Ngembalrejo. Kec. Bae. Kabupaten Kudus. Jawa Tengah Email : primirohimi@iainkudus. ac,id Pendahuluan Banyaknya penggunaan kata-kata kasar di era media saat ini, terkhusus pada konten yang bersifat hiburan, menjadikan banyak perhatian oleh berbagai pihak. YouTube merupakan merupakan sebuah platform berbagi video yang ikut andil dalam menyebarkan fenomena ini. Penggunaan YouTube yang mencapai 150 juta pengguna. (Hamdan 2. Dapat menjadi pengaruh yang kuat dalam fenomena tersebut. Salah satu contoh channel Vol. 3 No. Mei 2025 YouTube yang menggunakan kata-kata kasar dalam videonya merupakan AuTekotokAy. (Ahdiyat, 20. Penggunaan kata-kata kasar tersebut tentu memunculkan banyak pertanyaan mengenai dampak terhadap norma sosial, terutama pada generas muda yang menjadi penonton utama terhadap konten yang seperti ini. Melalui Channel YouTube-nya. Tekotok menyajikan konten animasi komedi dengan alur cerita yang ringkas. Kehidupan sehari-hari harus selaras dengan realitas dunia, namun tetap tidak melupakan. Menyampaikan kritik sosial dengan sentuhan komedi terhadap situasi yang tengah berlangsung di kehidupan sebenarnya seringkali menuai ungkapan yang kurang sopan. Tekotok, sang pencipta konten, memanfaatkan desain karakter yang unik. Berbentuk sederhana oval dengan tambahan aksen wajah, tangan, kaki, dan Hal ini memberikan hiburan visual yang kecil bagi penontonnya. (Budi dkk. , 2. Penggunaan kata kasar . ang di senso. sebagai lelucon dalam konten Tekotok dan merupakan bahasa-bahasa gaul yang sering dipakai oleh anakanak muda sekarang. Dengan adanya media sosial sangat memudahkan masyarakat dalam berkreasi, berbeda dengan sebelum adanya media sosial, masyarakat kesulitan untuk mendapatkan panggung atau sekedar berkreasi. Adapun tujuan penelitian ini adalah menganalisis fenomena tentang komodifikasi kata-kata kasar dalam konten video Tekotok. Pragmatik merupakan studi yang bertujuan untuk mengungkap makna atau arti dari ujaran yang diucapkan oleh manusia. Tekotok adalah sebuah animasi yang diciptakan oleh Bilal dan Beto, dirancang pada bulan Desember 2020. Alur cerita Tekotok sangat ringkas, namun relevan dengan kehidupan sehari-hari, serta memuat sindiran, pengetahuan, guyonan ringan, pengibaratan, keresahan, dan kritikan dari berbagai pihak, termasuk emosi pribadi animator. Peneliti melakukan riset dengan objek channel YouTube animasi Tekotok karena channel tersebut mengandung penggunaan bahasa sindiran dan kata-kata kasar yang sering diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Objek ini memiliki penerapan gaya bahasa sindiran, yang mana tujuan penelitian ini adalah untuk menambah wawasan literasi mengenai MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 teori gaya bahasa sindiran bagi masyarakat, mahasiswa, dan semua kalangan dalam penggunaan bahasa sehari-hari saat berkomunikasi. Media kanal YouTube ini berfungsi untuk menyampaikan keluh kesah manusia terkait kondisi sekitar melalui sindiran dalam bentuk video, pesan singkat, atau media lain. Komodifikasi kata-kata kasar di channel YouTube Tekotok mencerminkan fenomena yang semakin kompleks dalam masyarakat digital saat ini. Dalam era di mana media sosial dan platform berbagi video menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa kasar dalam konten hiburan telah menjadi hal yang umum. (Marthen & Poetra, 2. Channel Tekotok, yang dikenal dengan konten-kontennya yang menghibur dan sering kali provokatif, telah memanfaatkan kata-kata kasar sebagai alat untuk menarik perhatian dan meningkatkan interaksi dengan Fenomena ini tidak hanya berdampak pada cara orang berkomunikasi tetapi juga menciptakan dinamika baru dalam hubungan sosial, ekonomi, dan budaya. Salah satu alasan utama dibalik penggunaan kata-kata kasar di Tekotok adalah untuk menciptakan daya tarik yang lebih besar bagi penonton. Dalam dunia konten digital yang sangat kompetitif, pembuat konten sering kali merasa perlu untuk menggunakan elemen provokatif agar video mereka menonjol di antara ribuan konten lainnya. Penggunaan bahasa kasar dapat menciptakan momen humor atau ketegangan yang mengundang perhatian, sehingga meningkatkan jumlah tayangan dan interaksi. Konten yang mengandung unsur kontroversial cenderung mendapatkan lebih banyak respons dari audiens, baik dalam bentuk komentar maupun share, yang pada gilirannya dapat kata kasar dianggap wajar cenderung mengembangkan sikap agresif dan kurang empati terhadap orang lain. Aspek ekonomi dari fenomena ini juga tidak bisa (Banurea dkk. , 2. Komodifikasi kata-kata kasar memungkinkan pembuat konten untuk menghasilkan pendapatan melalui iklan dan sponsorship. Konten yang mengandung unsur provokatif sering kali menarik perhatian lebih banyak penonton, sehingga meningkatkan peluang untuk monetisasi. Namun, ada Vol. 3 No. Mei 2025 risiko reputasi yang harus diperhatikan oleh brand-brand yang berkolaborasi dengan pembuat konten semacam ini. Jika sebuah brand terasosiasi dengan konten berbahasa kasar, hal ini dapat merugikan citra mereka di mata publik. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk mempertimbangkan dengan cermat kolaborasi mereka dengan pembuat konten yang menggunakan bahasa kasar. Dari perspektif politik, penggunaan kata-kata kasar dalam media sosial juga menimbulkan tantangan tersendiri terkait regulasi dan kontrol atas konten online. Pemerintah sering kali merespons penyebaran ujaran kebencian dan bahasa kasar dengan mengeluarkan regulasi untuk melindungi masyarakat dari dampak negatifnya. Di Indonesia, misalnya. Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik memberikan pedoman tentang apa saja yang dianggap sebagai ujaran kebencian dan bagaimana cara Namun, implementasi regulasi ini sering kali sulit dilakukan karena kompleksitas definisi ujaran kebencian itu sendiri. Budaya media juga memainkan peran penting dalam komodifikasi kata-kata kasar di Tekotok. Dalam konteks budaya populer saat ini, penggunaan bahasa kasar sering kali dianggap sebagai bentuk ekspresi diri dan keaslian. Banyak remaja melihat kata-kata kasar sebagai cara untuk menunjukkan keberanian atau keunikan mereka. Hal ini menciptakan siklus di mana penggunaan bahasa kasar menjadi norma baru dalam komunikasi di kalangan generasi muda. Metode Penelitian Dalam penelitian analisis ini, pendekatan yang digunakan adalah Pragmatik merupakan salah satu kajian dalam ilmu bahasa yang bertujuan untuk menemukan makna suatu ujaran. Di antara teori-teori yang dibahas dalam penelitian ini adalah Gaya Bahasa sindiran yang terdapat dalam konten channel YouTube Animasi Tekotok. (Fauziyah, 2. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Riset kualitatif umumnya digunakan dalam bidang humaniora, ilmu sosial, dan MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 jenis penelitian lainnya. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan isi analisis, mengarah pada kajian yang bertujuan untuk menafsirkan nilai yang terdapat pada objek penelitian melalui penjabaran secara verbal. Riset yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. (Moleong, 2. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan jenis riset yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai lingkungan sosial serta peristiwa yang sedang diteliti. Riset kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang berfokus pada analisis tulisan atau lisan dari individu serta perilaku yang dapat diteliti. Riset ini adalah kajian pemahaman yang dialami oleh subjek penelitian secara deskriptif. (Setyangga dkk. , 2. Teknik pengumpulan data memiliki beberapa tahap, yaitu mengamati dan mengevaluasi penggunaan bahasa gaya sindiran dalam channel YouTube Animasi Tekotok. Selanjutnya, dilakukan identifikasi dan klasifikasi data penelitian yang berhubungan dengan penggunaan gaya bahasa sindiran, serta pemahaman frasa dan kata, di mana frasa dan kalimat yang dapat diformulasikan secara sindiran dikategorikan dalam berbagai bentuk penggolongan serta pengenalan data. Pengelompokan informasi dilakukan melalui pengamatan yang cermat terhadap sumber primer. (Teriwut, 2. Komodifikasi kata-kata kasar di channel YouTube Tekotok mencerminkan fenomena yang semakin kompleks dalam masyarakat digital saat ini. Dalam era di mana media sosial dan platform berbagi video menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa kasar dalam konten hiburan telah menjadi hal yang umum. (Labas & Yasmine, 2. Channel Tekotok, yang dikenal dengan konten-kontennya yang menghibur dan sering kali provokatif, telah memanfaatkan kata-kata kasar sebagai alat untuk menarik perhatian dan meningkatkan interaksi dengan Fenomena ini tidak hanya berdampak pada cara orang berkomunikasi tetapi juga menciptakan dinamika baru dalam hubungan sosial, ekonomi, dan budaya. Salah satu alasan utama di balik penggunaan Vol. 3 No. Mei 2025 kata-kata kasar di Tekotok adalah untuk menciptakan daya tarik yang lebih besar bagi unia konten digital yang sangat kompetitif, pembuat konten sering kali merasa perlu untuk menggunakan elemen provokatif agar video mereka menonjol di antara ribuan konten lainnya. Penggunaan bahasa kasar dapat menciptakan momen humor atau ketegangan yang mengundang perhatian, sehingga meningkatkan jumlah tayangan dan interaksi. (Suhara , 2. Penelitian menunjukkan bahwa konten yang mengandung unsur kontroversial cenderung mendapatkan lebih banyak respons dari audiens, baik dalam bentuk komentar maupun share, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dari iklan dan sponsor. Namun, komodifikasi kata-kata kasar tidak hanya berdampak positif bagi pembuat konten. Ada dampak negatif yang signifikan terhadap audiens, terutama anak-anak dan remaja yang menjadi target utama dari banyak konten di Tekotok. Ketika mereka terpapar pada bahasa kasar secara rutin, ada risiko bahwa mereka akan meniru perilaku tersebut dalam interaksi sehari-hari mereka. Hal ini dapat menyebabkan normalisasi penggunaan bahasa kasar dalam komunikasi sehari-hari, yang pada akhirnya dapat merusak hubungan interpersonal dan menciptakan lingkungan sosial yang kurang sehat. (Manullang, 2. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana kata-kata kasar dianggap wajar cenderung mengembangkan sikap agresif dan kurang empati terhadap orang lain. Aspek ekonomi dari fenomena ini juga tidak bisa diabaikan. Komodifikasi kata-kata kasar memungkinkan pembuat konten untuk menghasilkan pendapatan melalui iklan dan sponsorship. Konten yang mengandung unsur provokatif sering kali menarik perhatian lebih banyak penonton, sehingga meningkatkan peluang untuk monetisasi. Namun, ada risiko reputasi yang harus diperhatikan oleh brand-brand yang berkolaborasi dengan pembuat konten semacam ini. Jika sebuah brand terasosiasi dengan konten berbahasa kasar, hal ini dapat merugikan citra mereka di mata publik. Oleh karena itu, penting MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 bagi perusahaan untuk mempertimbangkan dengan cermat kolaborasi mereka dengan pembuat konten yang menggunakan bahasa kasar. Dari perspektif politik, penggunaan kata-kata kasar dalam media sosial juga menimbulkan tantangan tersendiri terkait regulasi dan kontrol atas konten (Hariyati dkk. , 2. Pemerintah sering kali merespons penyebaran ujaran kebencian dan bahasa kasar dengan mengeluarkan regulasi untuk melindungi masyarakat dari dampak negatifnya. Di Indonesia, misalnya. Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik memberikan pedoman tentang apa saja yang dianggap sebagai ujaran kebencian dan bagaimana cara Namun, implementasi regulasi ini sering kali sulit dilakukan karena kompleksitas definisi ujaran kebencian itu sendiri. Budaya media juga memainkan peran penting dalam komodifikasi kata-kata kasar di Tekotok. (Rizekuna & Siregar, 2. Dalam konteks budaya populer saat ini, penggunaan bahasa kasar sering kali dianggap sebagai bentuk ekspresi diri dan keaslian. Banyak remaja melihat kata-kata kasar sebagai cara untuk menunjukkan keberanian atau keunikan mereka. Hal ini menciptakan siklus di mana penggunaan bahasa kasar menjadi norma baru dalam komunikasi di kalangan generasi muda. Dalam kesimpulannya, komodifikasi kata-kata kasar di channel YouTube Tekotok mencerminkan perubahan besar dalam cara kita berkomunikasi di era digital. Meskipun ada beberapa keuntungan bagi pembuat konten dari penggunaan bahasa kasar, dampak negatifnya terhadap audiens dan masyarakat secara keseluruhan tidak bisa diabaikan. Penting bagi kita semua untuk menyadari konsekuensi dari penggunaan bahasa ini dan mencari cara untuk mempromosikan komunikasi yang lebih positif dan konstruktif di platform media sosial. Dalam literatur mengenai komodifikasi kata-kata kasar, terdapat beberapa penelitian penting yang dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang fenomena ini. Penggunaan bahasa kasar dapat dikategorikan sebagai ujaran kebencian Vol. 3 No. Mei 2025 ketika ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu. Pentingnya mendeteksi bahasa kasar dalam konteks digital untuk mencegah dampak negatif terhadap individu dan komunitas. Dengan menggunakan algoritma seperti Random Forest Decision Tree (RFDT) dan K-nearest Neighbours (KNN), penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi dalam mengidentifikasi konten berbahasa kasar. Selain itu, berbagai kategori bahasa kasar yang umum digunakan di media sosial Indonesia. Mereka menyebutkan bahwa kata-kata seperti "bodoh," "tolol," dan istilah merendahkan lainnya sering digunakan untuk menyerang karakter seseorang. (Adijaya dkk. , 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan istilah-istilah tersebut tidak hanya berdampak pada individu yang menjadi sasaran tetapi juga dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap norma komunikasi yang sehat. Dari sudut pandang budaya media menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja sering kali meniru perilaku berbahasa kasar dari konten media sosial seperti Tekotok. Penelitian ini menemukan bahwa paparan terhadap bahasa kasar dapat membentuk pola komunikasi anak-anak serta mempengaruhi perkembangan karakter mereka. Pentingnya peran orang tua dan pendidik dalam memberikan pemahaman mengenai dampak dari penggunaan bahasa tersebut. Komunikasi adalah aspek penting dalam kehidupan sosial manusia. Cara kita berkomunikasi dapat membentuk hubungan interpersonal serta menciptakan suasana harmonis dalam masyarakat. Penggunaan kata-kata kasar sering kali menyebabkan dampak negatif seperti kerusakan hubungan sosial, peningkatan stres dan kecemasan pada korban, serta potensi konflik fisik. Oleh karena itu, sangat penting bagi individu untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata saat berkomunikasi. (Azhar & Soponyono, 2. Hasil dan Pembahasan Majas bahasa sarkasme merupakan majas yang berkaitan dengan ujaran sindiran dengan kata kasar. Sindiranya disampaikan dengan kasar. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 bahkan dapat menyakiti perasaan seorang yang ditujunya. Majas sindiran dengan kata kasar sarkasme dikutip berdasarkan ujaran-ujaran yang disampaikan oleh pengisi suara Channel YouTube Tekotok. Hasil analisis mengenai komodifikasi kata-kata kasar di channel YouTube Tekotok menunjukkan bahwa penggunaan kata-kata kasar sering digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan kritik sosial dan sindiran terhadap berbagai isu, baik itu mengenai kehidupan sehari-hari maupun kebijakan pemerintah. Penggunaan kata-kata kasar di Tekotok juga berfungsi sebagai strategi untuk menarik perhatian audiens. Pembuat konten sering kali merasa perlu untuk menggunakan bahasa yang provokatif agar video mereka dapat bersaing dengan konten lain. Konten yang mengandung bahasa kasar cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi, baik dari segi jumlah penonton maupun komentar. Hal ini menciptakan insentif bagi pembuat konten untuk terus menggunakan elemen tersebut demi meningkatkan visibilitas dan pendapatan dari iklan. Dari segi dampak sosial, penggunaan kata-kata kasar dalam animasi Tekotok dapat mempengaruhi norma-norma komunikasi di kalangan remaja. Remaja yang terpapar pada konten ini mungkin akan menganggap penggunaan bahasa kasar sebagai hal yang wajar dan lumrah. Anak-anak dan remaja sering kali meniru apa yang mereka lihat di media sosial, sehingga ada risiko normalisasi perilaku berbahasa kasar dalam interaksi sehari-hari Ini bisa berkontribusi pada peningkatan konflik sosial dan ketidaknyamanan dalam komunikasi interpersonal. Gaya bahasa sarkasme dan ironi yang digunakan dalam Tekotok tidak hanya berfungsi untuk menghibur tetapi juga untuk menyampaikan kritik sosial yang tajam. Gaya bahasa ini dapat menciptakan perasaan tertentu pada penonton, seperti rasa empati atau ketidakpuasan terhadap situasi tertentu. Dengan demikian, meskipun kata-kata kasar mungkin tampak merugikan, mereka juga dapat berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam dan kompleks tentang realitas sosial. (Merlina & Dewi, 2. Vol. 3 No. Mei 2025 Dampak positif dari penggunaan kata-kata kasar di Tekotok seringkali berkaitan dengan kemampuan bahasa untuk mengekspresikan emosi secara lebih kuat dan autentik. Kata-kata kasar dapat menciptakan momen humor yang efektif, menarik perhatian audiens, dan meningkatkan keterlibatan. Misalnya, dalam video yang menyindir perilaku sosial atau politik, penggunaan bahasa kasar dapat memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Hal ini memungkinkan pembuat konten untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan menciptakan diskusi yang lebih hidup di kolom komentar. Kata-kata kasar dapat berfungsi sebagai alat untuk menarik perhatian dan menciptakan keterhubungan emosional antara pembuat konten dan penonton. Selain itu, penggunaan bahasa kasar dalam konteks tertentu juga dapat dianggap sebagai bentuk katarsis. Bagi beberapa individu, meluapkan emosi melalui kata-kata kasar dapat memberikan rasa lega atau kepuasan. Ini terutama berlaku dalam situasi di mana seseorang merasa tertekan atau Dengan mengekspresikan kemarahan atau ketidakpuasan melalui bahasa kasar, individu mungkin merasa lebih baik setelahnya. Namun, dampak negatif dari penggunaan kata-kata kasar tidak bisa diabaikan. Penggunaan bahasa kasar dapat menyebabkan luka emosional yang mendalam bagi orang yang menjadi sasaran. Kata-kata kasar sering kali meninggalkan bekas yang sulit dihapus, menyebabkan penerima merasa terhina, rendah diri, dan bahkan depresi. Remaja yang sedang mencari jati diri, pengalaman dikatai kasar dapat menurunkan rasa percaya diri mereka dan mengganggu perkembangan psikologis mereka. Anak-anak dan remaja yang sering terpapar pada ujaran kebencian atau kata-kata kasar cenderung mengalami masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. (Jadmiko & Damariswara, 2. Selain itu, penggunaan kata-kata kasar juga dapat merusak hubungan Dalam lingkungan sosial maupun profesional, komunikasi yang penuh dengan kata-kata kasar dapat menciptakan ketegangan dan Hubungan antara teman, keluarga, atau rekan kerja bisa terganggu akibat pernyataan-pernyataan yang menyakitkan ini. Ketika seseorang merasa diserang secara verbal, mereka mungkin menjadi defensif atau bahkan MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 membalas dengan cara yang sama, sehingga memicu siklus konflik yang sulit Dampak negatif lainnya adalah normalisasi perilaku berbahasa kasar di kalangan generasi muda. Ketika anak-anak dan remaja terpapar pada konten yang menggunakan bahasa kasar secara rutin, mereka cenderung menganggapnya sebagai hal yang biasa dan mulai meniru perilaku tersebut dalam interaksi sehari-hari mereka. Ini dapat menyebabkan penurunan kualitas komunikasi dan pengembangan karakter mereka. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana kata-kata kasar dianggap wajar mungkin akan kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat di masa depan. (Jadmiko & Damariswara, 2. Dalam konteks hukum, penggunaan kata-kata kasar juga bisa berujung pada konsekuensi legal. Dalam beberapa kasus, ujaran kebencian atau penghinaan dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum, terutama jika ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kebebasan berekspresi di media sosial, ada batasanbatasan tertentu yang harus dihormati untuk menjaga keharmonisan sosial. Dari perspektif ekonomi, industri media sosial sangat bergantung pada kemampuan konten untuk menarik perhatian dan meningkatkan keterlibatan Penggunaan kata-kata kasar di Tekotok sering kali dianggap sebagai strategi untuk meningkatkan visibilitas video. Video yang mengandung bahasa kasar cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi, baik dari segi jumlah penonton maupun komentar. Konten yang kontroversial atau provokatif dapat meningkatkan jumlah tayangan dan waktu tonton, yang pada akhirnya berdampak positif pada pendapatan dari iklan dan sponsor. Ketika pembuat konten menggunakan bahasa kasar, mereka sering kali berhasil menciptakan momen yang mengundang tawa atau reaksi emosional dari penonton. Hal ini menciptakan insentif bagi mereka untuk terus menggunakan elemen tersebut demi meraih keuntungan finansial. Terdapat risiko yang terkait dengan pendekatan ini. Brand-brand yang terafiliasi dengan konten yang mengandung bahasa kasar mungkin Vol. 3 No. Mei 2025 mengalami penurunan citra di mata publik. Oleh karena itu, manajemen merek harus berhati-hati dalam memilih konten yang akan mereka dukung untuk menghindari kerugian reputasi. Dari sudut pandang politik, penggunaan kata-kata kasar dalam media sosial juga berkaitan dengan regulasi dan kontrol atas konten online. Pemerintah sering kali mengeluarkan aturan untuk mengurangi penyebaran ujaran kebencian dan kata-kata kasar di platform digital. Misalnya. UndangUndang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik memberikan pedoman tentang apa saja yang dianggap sebagai ujaran kebencian dan bagaimana cara mengaturnya. Regulasi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan online yang lebih aman dan harmonis bagi semua Implementasi regulasi ini menimbulkan tantangan tersendiri. Ahli hukum dan linguistik sering kali berdebat tentang definisi dan interpretasi ujaran kebencian, sehingga membutuhkan analisis yang teliti untuk memastikan bahwa regulasi tersebut tepat dan proporsional. Terdapat kekhawatiran bahwa regulasi yang terlalu ketat dapat membatasi kebebasan berekspresi dan menciptakan suasana ketakutan di kalangan pengguna media sosial. (Briyan Johan dkk. , 2. Dalam konteks budaya media, penggunaan kata-kata kasar dalam konten Tekotok mencerminkan perubahan dalam cara kita berkomunikasi di era digital. Generasi muda sering kali menggunakan bahasa kasar sebagai bentuk ekspresi diri dan untuk menunjukkan status sosial mereka. Ungkapan-ungkapan seperti "Apa kau sudah gila?" atau "Lu punya otak gak sih?" menjadi bagian dari interaksi sehari-hari mereka, menciptakan norma baru dalam komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa kasar telah menjadi bagian integral dari budaya populer, terutama di kalangan Ketika anak-anak dan remaja terpapar pada konten berbahasa kasar secara rutin, mereka cenderung menganggapnya sebagai hal yang biasa. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan karakter dan perilaku mereka di masa depan. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana kata125 MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 kata kasar dianggap wajar mungkin akan kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat di masa depan. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi tentang komunikasi yang baik dan sopan agar generasi muda dapat memahami dampak dari bahasa yang mereka (Arvitra dkk. , 2. Kesimpulan Komodifikasi kata-kata kasar di channel YouTube Tekotok menunjukkan bahwa fenomena ini memiliki dampak yang kompleks dan multidimensi dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi, politik, dan budaya Penggunaan kata-kata kasar dalam konten Tekotok tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menarik perhatian audiens, tetapi juga menciptakan dinamika baru dalam komunikasi yang dapat mempengaruhi perilaku dan norma sosial. Dari segi ekonomi, komodifikasi kata-kata kasar memungkinkan pembuat konten untuk meningkatkan visibilitas dan interaksi, yang berujung pada peningkatan pendapatan melalui iklan dan Resiko reputasi yang harus diperhatikan oleh brand-brand yang berkolaborasi dengan pembuat konten semacam ini, karena asosiasi dengan konten berbahasa kasar dapat merugikan citra mereka di mata publik. Dalam konteks politik, regulasi terhadap penggunaan bahasa kasar di media sosial menjadi semakin penting. Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang dapat melindungi masyarakat dari dampak negatif ujaran kebencian tanpa membatasi kebebasan berekspresi. Implementasi regulasi ini sering kali sulit dilakukan karena kompleksitas definisi ujaran kebencian itu sendiri. Budaya media juga memainkan peran penting dalam normalisasi penggunaan katakata kasar di kalangan remaja. Paparan rutin terhadap bahasa kasar dapat mempengaruhi perkembangan karakter dan perilaku anak-anak, menciptakan siklus di mana penggunaan bahasa kasar dianggap wajar dalam komunikasi sehari-hari. Hal ini dapat mengarah pada penurunan empati dan Vol. 3 No. Mei 2025 peningkatan perilaku agresif di kalangan generasi muda. Secara keseluruhan, meskipun ada beberapa keuntungan bagi pembuat konten dari penggunaan kata-kata kasar, dampak negatifnya terhadap audiens dan masyarakat secara keseluruhan tidak bisa diabaikan. Penting bagi kita semua untuk menyadari konsekuensi dari penggunaan bahasa ini dan mencari cara untuk mempromosikan komunikasi yang lebih positif dan konstruktif di platform media sosial. Edukasi tentang komunikasi yang baik dan sopan sangat diperlukan untuk membentuk perilaku positif di kalangan pengguna media sosial, terutama generasi muda yang menjadi target utama dari konten seperti Tekotok (Marthen & Poetra, 2. Daftar Pustaka