Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021, 22-32 available: http://journal. com/index. php/jpe Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Melalui Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Buzz Group Elly Dwiana Hendrawati SMP N 24 Surakarta ellydwiana@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar Matematika melalui penerapan model Cooperative Learning Tipe Buzz Group pada siswa kelas IX H semester 2 di SMP N 24 Surakarta tahun pelajaran 2017/ 2018. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP N 24 Surakarta pada semester 2 tahun pelajaran 2017/ 2018 selama 3 bulan. Subyek penelitian adalah 29 siswa kelas IX H SMP N 24 Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus melalui 4 tahapan yaitu . perencanaan, . pelaksanaan, . pengamatan, . Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan lembar observasi dan tes hasil Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa penerapan model Cooperative Learning Tipe Buzz Group dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar Matematika pada siswa kelas IX H semester 2 di SMP N 24 Surakarta tahun pelajaran 2017/ 2018. Kata-kata Kunci: Keaktifan belajar. Hasil belajar. Model cooperative learning tipe buzz group. Increasing Activeness and Science Learning Outcomes Through Team Game Tournament Strategy Abstract This study aims to improve the activeness and learning outcomes of Mathematics through the application of the Buzz Group Type Cooperative Learning model in class IX H semester 2 students at SMP N 24 Surakarta in the 2017/2018 academic year. This classroom action research was conducted at SMP N 24 Surakarta in semester 2 of the year. 2017/2018 lessons for 3 months. The research subjects were 29 students of class IX H of SMP N 24 Surakarta. The method used in this research is a classroom action research method which is carried out in 3 cycles through 4 stages, namely . planning, . implementation, . observation, . In the implementation of classroom action research using observation sheets and learning outcomes Data analysis used comparative descriptive analysis technique. The results of this classroom action research show that the application of the Buzz Group Type Cooperative Learning model can increase the activeness and learning outcomes of Mathematics in class IX H semester 2 students at SMP N 24 Surakarta in the 2017/2018 academic year. Keywords: Learning activity. Learning outcomes. Buzz group type cooperative learning model. -------------------------------Pendahuluan Matematika merupakan gagasan berstruktur yang hubungannya diatur secara logis, bersifat abstrak, penalarannya deduktif dan dapat memasuki wilayah cabang ilmu lainnya (Hudojo, 2. Selama ini sebagian siswa menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran yang sulit, membosankan, bahkan menakutkan. Anggapan yang sedemikian tidak lepas dari persepsi yang berkembang dalam masyarakat tentang matematika sebagai mata pelajaran yang sulit. Persepsi negatif itu ikut dibentuk oleh anggapan bahwa matematika merupakan ilmu yang kering, abstrak, teoritis, penuh dengan lambanglambang dan rumus-rumus yang sulit dan membingungkan, yang muncul atas Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 pengalaman kurang menyenangkan ketika belajar matematika, akibatnya pelajaran matematika tidak dipandang secara obyektif lagi. Padahal dalam pembelajaran matematika yang terjadi di kelas guru diharapkan dapat mengajarkan pembelajaran tersebut dengan mudah dan menyenangkan. Salah satu kesulitan siswa dalam mempelajari matematika disebabkan karena objek kajian matematika yang bersifat abstrak (Suyanto, 2. Objek kajian matematika yang abstrak ini tidak ditunjang dengan suatu pendekatan pembelajaran matematika yang tepat. Masalah klasik yang sering muncul dalam pembelajaran matematika di Indonesia adalah masih banyak guru yang melakukan proses pembelajaran matematika di sekolah dengan pendekatan konvensional, yakni guru secara aktif mengajarkan matematika, kemudian memberi contoh dan latihan. Di sisi lain, siswa mendengarkan, mencatat dan mengerjakan latihan yang diberikan guru, sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna dan membuat siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada hari Jumat, tanggal 12 Januari 2018 di kelas IX H SMP N 24 Surakarta, diperoleh data mengenai keaktifan belajar matematika di kelas IX H tersebut masih cenderung rendah. Siswa yang kurang aktif sebesar 55,2% . siswa dari 29 sisw. , hanya 11 siswa . ,9%) yang aktif, dan 2 siswa . ,9%) yang sangat aktif. Berdasarkan indikator keaktifan belajar, kondisi awal keaktifan belajar matematika siswa di kelas IX H dapat dilihat bahwa: . visual activities . egiatan visua. rata-rata 1,14. oral activities . egiatan lisa. rata-rata 1,14. listening activities . egiatan mendengarka. rata-rata 1,17. writing activities . egiatan menuli. rata-rata 1,10. drawing activities . egiatan menggamba. rata-rata 1,10. motor activities . egiatan motori. rata-rata 1,21. mental activities . egiatan menta. ratarata 1,10. emotional activities . egiatan emosiona. rata-rata 1,14. Dari data tersebut keaktifan belajar siswa masih rendah. Selain keaktifan belajar siswa juga kesulitan-kesulitan yang dialami siswa tersebut mengakibatkan hasil belajar matematika siswa juga rendah. Dilihat dari siswa yang nilainya di bawah ketuntasan belajar matematika dengan KKM yaitu 78 pada kondisi awal yang belum tercapai masih banyak. Nilai minimum sebesar 50, nilai maksimum adalah 85 dan masih rendahnya nilai rata-rata tes sebesar 70,69 hal ini masih di bawah KKM sebesar 78. Dari sebanyak 29 siswa, yang sudah tuntas ada 12 siswa mencapai 41,38%, sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 17 siswa mencapai 58,62%. Pada kondisi awal peneliti belum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Buzz Group. Model pembelajaran yang telah berlangsung selama ini ternyata belum memiliki kontribusi yang baik untuk peningkatan hasil belajar matematika dengan model pembelajaran yang kurang kooperatif terhadap siswa, maka keaktifan belajar dan hasil belajar matematika pada siswa masih rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan dalam penerapan model pembelajaran untuk menumbuhkan keaktifan dan meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan diperlukannya model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu cara untuk membuat siswa akan lebih aktif, baik secara individu maupun kelompok (Syaodih, 2. Menurut Johnson dan Johnson . alam Suyanto, 2. menyatakan, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif akan mendorong siswa lebih aktif dalam belajar, merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk belajar, mencapai hasil yang tinggi dalam pelajaran, memiliki kemampuan yang baik untuk berpikir secara kritis, memiliki sikap positif terhadap objek studi, menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam aktivitas kerja sama, dan mampu menerima perbedaan yang ada diantara teman satu kelompok. Lie . menyebutkan terdapat 14 model pembelajaran yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Buzz Group. Pembelajaran cooperative learning tipe buzz group merupakan suatu jenis diskusi kelompok kecil yang beranggotakan 3-4 orang yang bertemu secara bersama-sama membicarakan suatu topik yang sebelumnya telah dibicarakan secara klasikal. Keaktifan dan hasil belajar matematika pada standar kompetensi Memahami Barisan dan Deret Bilangan Serta Penggunaannya dalam Pemecahan Masalah ini perlu ditingkatkan karena keaktifan belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena itu keaktifan dan hasil belajar matematika siwa dapat ditingkatkan melalui model cooperative learning tipe buzz group. Dalam pembelajaran cooperative learning tipe buzz group siswa dapat menjadi aktif, melatih keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat, dan dapat membuat siswa tidak cepat menyerah dalam memahami dan mengerjakan soal-soal. Hal ini diduga memungkinkan timbulnya semangat belajar yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran Model Cooperative Learning tipe Buzz Group ini sangat tepat digunakan apabila siswa dalam suatu kelompok terlalu banyak sehingga setiap orang tidak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi. Alasan lain untuk menggunakan teknik ini ialah pertama, apabila masalah itu mengandung beberapa aspek atau bagian yang perlu dibahas secara khusus. Kedua, apabila waktu yang tersedia untuk membahas masalah itu terbatas. Ketiga, apabila terdapat siswa yang lamban dan kurang minat untuk berpartisipasi . Untuk meningkatkan motivasi dan suasana kegembiraan dalam belajar, teknik ini akan efektif digunakan (Sudjana, 2. Peneliti menganalisa bahwa antara kenyataan dan harapan yang terjadi di lapangan pada proses belajar mengajar terdapat kesenjangan yang terjadi pada peserta didik yaitu hasil belajarnya rendah serta keaktifan belajar masih kurang. Oleh karena itu, peneliti berasumsi bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Buzz Group dapat meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar matematika. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti mengadakan penelitian tentang penerapan model Cooperative Learning tipe Buzz Group untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika bagi siswa kelas IX H SMP N 24 Surakarta Semester 2 Tahun Ajaran 2017/2018. Kajian Pustaka Keaktifan Belajar Keaktifan belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi . uru dan sisw. dalam rangka mencapai tujuan belajar (Hamalik, 2. Menurut Sardiman . aktivitas belajar itu adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental dan emosional. Keaktifan siswa dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus dipahami, disadari dan dikembangkan oleh setiap guru dalam proses Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosi dan fisik. Siswa merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin Daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat berkembang ke arah yang positif saat lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk perkembangan keaktifan itu (Aunurrahman, 2. Diedrich . alam Sardiman, 2. menyatakan indikator keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar adalah: . Visual activities seperti membaca, memperhatikan gambar, demontrasi, mengamati percobaan, . Oral activities seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan interupsi, . Listening activities seperti mendengarkan uraian, mendengarkan percakapan, mendengar diskusi, dan mendengarkan pidato, . Writing Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 activities seperti membuat laporan, menulis, mengisi angket dan menyalin, . Drawing activities seperti menggambar, membuat grafik, membuat peta dan diagram, . Motor activities seperti melakukan percobaan, membuat kontruksi model, melakukan demonstrasi, . Mental activities seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan dan mengambil keputusan, dan . Emotional activities seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira bersemangat, bergairah, berani, tegang, dan gugup. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2010: . Sehubungan dengan pendapat itu, maka Wahidmurni, dkk. 0: . menjelaskan bahwa seseorang dapat dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukkan adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan-perubahan tersebut di antaranya dari segi kemampuan berpikirnya, keterampilannya, atau sikapnya terhadap suatu objek. Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Maka ranah-ranah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: . Ranah kognitif, adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir, seperti kemampuan mengingat dan kemampuan memecahkan masalah. Domain kognitif menurut Bloom terdiri dari enam tingkatan yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi, . Ranah afektif, berkenaan dengan sikap, nilai-nilai, dan apresiasi. Ada lima tingkatan dalam ranah afektif ini yaitu penerimaan, merespons, menghargai, organisasi, dan pola hidup, dan . Ranah psikomotor, meliputi semua tingkah laku yang menggunakan syaraf dan otot badan. Ada lima tingkatan dalam ranah ini, yaitu imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi (Sanjaya, 2. Model Cooperative Learning Tipe Buzz Group Buzz group adalah satu kelompok besar yang dibagi menjadi 2 . sampai 8 . kelompok yang lebih kecil jika diperlukan kelompok kecil ini diminta melaporkan apa hasil diskusi itu pada kelompok besar (Roestiyah, 2. Menurut Alma . buzz group adalah suatu kelompok besar dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, terdiri dari 3-4 orang. Tempat duduk diatur sedemikian rupa agar murid dapat bertukar pikiran dan berhadapan muka dengan mudah. Diskusi diadakan ditengah-tengah pelajaran dengan maksud mengatur waktu untuk kerangka bahan pelajaran, memperjelas bahan pelajaran atau menjawab pertanyaan. Trianto . menyatakan dalam buzz group . elompok akti. , guru meminta peserta didik membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari 3-6 peserta didik untuk mendiskusikan tentang ide peserta didik pada materi pelajaran. Setiap kelompok menetapkan seorang anggota untuk mendaftar semua gagasan yang muncul dalam kelompok, selanjutnya guru meminta setiap kelompok aktif menyampaikan hasil diskusi kelompok pada kelas. Surjadi . mengungkapkan dalam pelaksanaan model kelompok buzz (Buzz Group. mempunyai langkah-langkah yang harus diperhatikan. Sebelum memulai proses pembelajaran, guru telah terlebih dahulu membentuk kelas menjadi 4 kelompok besar dan memperkenalkan kepada siswa tentang metode ini. Berikut adalah langkah-langkah dalam model kelompok buzz adalah: presentasi guru, tahap diskusi kelompok kecil, tahap diskusi kelompok besar, dan tahap diskusi kelas. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 24 Surakarta pada semester 2 tahun pelajaran 2017/2018 selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Januari 2018 s. bulan Maret 2018. Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah 29 siswa kelas IX H SMP N 24 Surakarta. Objek penelitian ini ada tiga . variabel yaitu: dua . variabel yang diteliti dan satu . variabel tindakan. Variabel yang diteliti meliputi: . keaktifan belajar matematika pada siswa kelas IX H SMP N 24 Surakarta semester 2 tahun pelajaran 2017/2018. hasil belajar matematika pada siswa kelas IX H SMP N 24 Surakarta semester 2 tahun pelajaran 2017/2018. Sedangkan variabel tindakannya adalah penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes untuk mengetahui hasil belajar matematika dan non tes berupa checklist melalui observasi untuk mengetahui keaktifan belajar siswa. Analisis data dengan menggunakan diskriptif Ae komparatif yang dilanjutkan refleksi. Indikator kinerja untuk keaktifan belajar Matematika yaitu keaktifan belajar Matematika kondisi awal lebih dari 15 siswa . ,72%) atau sebagian besar siswa memiliki keaktifan belajar Matematika rendah, target yang dicapai pada siklus II adalah lebih dari 23 siswa . ,31%) atau sebagian besar siswa mempunyai keaktifan belajar Matematika tinggi. Sedangkan indikator kinerja untuk hasil belajar Matematika yaitu hasil belajar Matematika kondisi awal 15 siswa . ,72%) tuntas atau memenuhi KKM yaitu 78, target yang dicapai pada siklus II hasil belajar Matematika minimal 21 orang . ,41%) siswa tuntas atau memenuhi KKM yaitu 78. Hasil Penelitian Di kelas IX H SMP N 24 Surakarta keaktifan belajar Matematika masih rendah. Dari hasil kajian terhadap dokumentasi catatan siswa diperoleh dari 29 siswa di kelas IX H sebagian besar siswa tidak tepat waktu dalam menyelesaikan tugas, keaktifan di kelas kurang, serta kemampuan kerja sama dengan teman dan guru juga rendah. Pada saat guru menyampaikan materi, siswa cenderung ramai dan berbicara dengan teman. Bahkan ada siswa yang tertidur pada saat pembelajaran berlangsung. Pada saat guru menyampaikan materi, siswa cenderung ramai dan berbicara dengan Bahkan ada siswa yang tertidur pada saat pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil observasi sebelum tindakan, keaktifan belajar siswa rendah dapat dilihat pada tabel Tabel 1. Keaktifan Belajar Matematika Siswa pada Kondisi Awal No. Keaktifan belajar Kurang aktif Aktif Sangat aktif Jumlah (Presentas. 16 siswa . ,2%) 11 siswa . ,9%) 2 siswa . ,9%) Pada kondisi awal, berdasarkan hasil ulangan pertama dari 29 siswa kelas IX H SMP N 24 Surakarta, tercatat hanya 12 siswa yang tuntas dalam belajar, yang artinya baru 41,38% siswa yang tuntas. Hasil tersebut dapat dituangkan dalam tabel 2 berikut. Tabel 2. Hasil Belajar Matematika Siswa pada Kondisi Awal No. Uraian Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rerata Rentang Nilai Tuntas Belum Tuntas Prestasi 70,69 12 siswa . ,38%) 17 siswa . ,62%) Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Ada beberapa permasalahan yang muncul pada saat proses pembelajaran, khususnya pada keaktifan mengemukakan pendapat, bekerjasama dalam kelompok, keaktifan siswa dalam memberikan gagasan yang cemerlang, berdiskusi atau bertanya antar peserta didik maupun guru dan penugasan yang diberikan kepada siswa kurang maksimal. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dapat disimpulkan bahwa akar permasalahan rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA adalah: . pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam pelajaran IPA menggunakan pembelajaran konvensional, sehingga siswa merasa jenuh dan kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran, . interaksi antara guru dengan siswa masih rendah, dan . Penguasaan siswa tentang materi yang disampaikan oleh guru belum optimal. Siklus I Hasil pengamatan terhadap keaktifan belajar Matematika di SMP N 24 Surakarta pada siklus I dari hasil observasi yang peneliti lakukan adalah bahwa, dari 29 siswa kelas IX H SMP N 24 Surakarta, 3 siswa . ,3%) sudah sangat aktif, 16 siswa . ,2%) aktif, sedangkan sisanya 10 siswa . ,5%) kurang aktif. Hasil pengamatan memperlihatkan kerja sama dalam kelompok dan minat mengerjakan tugas sudah terjalin, meskipun masih ada siswa yang belum menunjukkan keaktifan belajar Matematika. Hal ini terjadi karena siswa bekerja dalam kelompok besar sehingga kerja sama, ketepatan mengerjakan tugas, dan keaktifan dalam belajar belum tercipta secara optimal. Hasil observasi terhadap keaktifan belajar matematika dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 3. Keaktifan Belajar Matematika Siswa pada Siklus I No. Keaktifan Belajar Kurang aktif Aktif Sangat aktif Jumlah (Presentas. 10 siswa . ,5%) 16 siswa . ,2%) 3 siswa . ,3%) Hasil belajar siswa kelas IX H setelah menggunakan model cooperative learning tipe Buzz Group, berdasarkan hasil ulangan siklus pertama . ari Jumat, tanggal 2 Februari 2. , dari 29 siswa yang tuntas adalah 20 siswa atau 68,97%, sisanya 9 siswa atau 31,03% belum tuntas. Hasil tes siklus I tersebut dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 4. Hasil Belajar Matematika pada Siklus I No. Uraian Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rerata Rentang Nilai Tuntas Belum Tuntas Prestasi 76,90 20 orang . ,97%) 9 orang . ,03%) Data pada tabel 4. berdasarkan KKM yang ditetapkan pada pembelajaran matematika yaitu 75 maka ketuntasan belajar yang dicapai peserta didik baru 68,97%. Hal ini belum mencapai indikator keberhasilan yang diharapkan secara klasikal. Refleksi tindakan dilakukan untuk penyempurnaan kekurangan-kekurangan dari pelaksanaan tindakan yang disusun dalam siklus I. Refleksi dilakukan secara kolaboratif antara penulis dan pengamat yang mengamati peserta didik saat pembelajaran Hasil refleksi pada siklus I yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Tabel 5. Refleksi Keaktifan Belajar Matematika Siswa pada Siklus I Kondisi Awal Siklus I Refleksi Keaktifan Keaktifan belajar belajar siswa siswa yang yang kurang kurang aktif aktif sebanyak sebanyak 10 16 siswa siswa . ,48%) . ,17%) Deskriptif komparatif: data keaktifan belajar meningkat dari kondisi awal siswa yang kurang aktif sebanyak 16 siswa menjadi 10 siswa. Simpulan: melalui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dapat meningkatkan keaktifan belajar Matematika dari kondisi awal ke siklus I meningkat yaitu 20,69%. Hasil refleksi pada siklus I yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel Tabel 6. Refleksi Hasil Belajar Matematika Siswa pada Siklus I Hasil belajar Matematika Kondisi Awal Prestasi terendah: 50 Prestasi tertinggi: 85 Prestasi rerata : 70,69 Tuntas: 12 . ,38%) Belum Tuntas : 17 . ,62%) Hasil belajar Matematika Refleksi Hasil Belajar pada Siklus I Matematika Prestasi terendah: 60 Deskriptif komparatif: rerata Prestasi tertinggi: 95 meningkat sebesar 6,21% dari Prestasi rerata : 76,90 70,69 menjadi 76,90. Simpulan: Tuntas: 20 . ,97%) melalui penerapan model Belum Tuntas : 9 . ,03%) cooperative learning tipe Buzz Group dapat meningkatkan hasil belajar matematika dari kondisi awal siswa yang tuntas 41,38% ke siklus I siswa yang tuntas 68,97% meningkat sebesar 27,59%. Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus 1, diketahui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dari kondisi awal ke siklus 1 meningkat yaitu 68,97% dari jumlah siswa menunjukkan keaktifan belajar Matematika tinggi. Penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dari kondisi awal ke siklus 1 siswa yang tuntas meningkat sebesar 27,59% . Kendalanya, beberapa siswa masih berusaha menyesuaikan dengan metode dan media pembelajaran yang digunakan guru. Siswa ini memerlukan kesempatan kedua untuk dapat meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar Matematika. Sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan pada siklus I belum sesuai dengan harapan, karena ketuntasan klasikal peserta didik baru mencapai 68,97%, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus I belum berhasil. Dari tes yang dilakukan masih ada peserta didik yang mendapat nilai di bawah KKM, maka tindakan dilanjutkan pada siklus II Siklus II Hasil pengamatan terhadap keaktifan belajar Matematika di SMP N 24 Surakarta pada siklus 1 dari hasil observasi yang peneliti lakukan adalah bahwa, dari 29 siswa kelas IX H SMP N 24 Surakarta, 8 siswa . ,6%) sudah sangat aktif, 17 siswa . ,6%) aktif, sedangkan sisanya 4 siswa . ,8%) kurang aktif. Hasil observasi memperlihatkan minat siswa nampak pada keaktifan di kelas. Hampir seluruh siswa menunjukkan jari ketika guru memberi kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan. Wajah siswa juga tampak senang dan berminat dalam belajar Matematika. Hasil observasi terhadap keaktifan belajar Matematika tersebut dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 7. Keaktifan Belajar Matematika Siswa pada Siklus II No. Keaktifan belajar Kurang aktif Aktif Sangat aktif Jumlah (Presentas. 4 siswa . ,8%) 17 siswa . ,6%) 8 siswa . ,6%) Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Hasil belajar siswa IX H setelah menggunakan model cooperative learning tipe Buzz Group, berdasarkan hasil ulangan siklus kedua dari 29 siswa yang tuntas adalah 26 siswa atau 89,66%, sisanya 3 siswa atau 10,34% belum tuntas. Hasil tes siklus 2 tersebut dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 8. Hasil Belajar Matematika pada Siklus II No. Uraian Nilai terendah Nilai tertinggi Nilai rerata Rentang Nilai Tuntas Belum Tuntas Prestasi 81,90 26 siswa . ,66%) 3 siswa . ,34%) Hasil refleksi keaktifan belajar matematika siswa pada siklus II yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 9. Refleksi Keaktifan Belajar Matematika Siswa Pada Siklus II Siklus I Keaktifan belajar siswa yang kurang aktif sebanyak 10 siswa ,48%) Siklus II Keaktifan belajar siswa yang kurang aktif sebanyak 4 siswa ,79%) Refleksi Kemandirian belajar Deskriptif komparatif: data keaktifan belajar meningkat dari siklus 1 siswa yang kurang aktif sebanyak 10 siswa menjadi 4 siswa. Simpulan: Melalui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dapat meningkatkan keaktifan belajar Matematika dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat yaitu 20,69%. Hasil refleksi hasil belajar matematika siswa pada siklus II yang telah dilaksanakan dapat dituangkan dalam tabel berikut. Tabel 10. Refleksi Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II Hasil belajar Matematika Hasil belajar Matematika Refleksi Hasil Belajar Matematika pada Siklus I pada Siklus II Prestasi terendah: 60 Prestasi terendah: 70 Deskriptif komparatif: rerata Prestasi tertinggi: 95 Prestasi tertinggi: 100 meningkat sebesar 5% dari 76,90 Prestasi rerata : 76,90 Prestasi rerata : 81,90 menjadi 81,90. Tuntas: 20 . ,97%) Tuntas: 26 . ,66%) Simpulan: Melalui penerapan model Belum Tuntas : 9 . ,03%) Belum Tuntas : 3 . ,34%) cooperative learning tipe Buzz Group dapat meningkatkan hasil belajar matematika dari siklus 1 siswa yang tuntas 68,97% ke siklus 2 siswa yang tuntas 89,66% meningkat sebesar 20,69%. Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus 2, diketahui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dari kondisi awal ke siklus 2 meningkat dari sebagian besar rendah ke sebagian besar siswa menunjukkan keaktifan belajar Matematika tinggi. Penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dari siklus 1 ke siklus 2 siswa yang tuntas meningkat sebesar 20,69% . Dapat dikatakan bahwa tujuan pembelajaran pada siklus II dikatakan sudah berhasil dan sesuai dengan harapan, keaktifan dan hasil belajar peserta didik sudah mengalami peningkatan. Sehingga pembelajaran tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. Pembahasan Siklus I dilaksanakan mulai hari Jumat tanggal 26 Januari 2018. Siklus I berlangsung selama 2 kali tatap muka, dimana setiap pertemuan berlangsung selama 40 menit. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Pertemuan ke 2 dilaksanakan hari Jumat, 2 Februari 2018 digunakan untuk melakukan evaluasi hasil pembelajaran dengan model cooperative learning tipe Buzz Group. Pelaksanaan tindakan siklus I, diketahui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dari kondisi awal ke siklus I meningkat yaitu 65,52% dari jumlah siswa menunjukkan keaktifan belajar Matematika tinggi. Penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dari kondisi awal ke siklus I siswa yang tuntas meningkat sebesar 27,59% . Kendalanya, beberapa siswa masih berusaha menyesuaikan dengan model pembelajaran yang digunakan guru. Siswa ini memerlukan kesempatan kedua untuk dapat meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar Matematika. Siklus II dilaksanakan mulai hari Jumat tanggal 9 Februari 2018. Siklus II berlangsung selama 2 kali tatap muka, dimana setiap pertemuan berlangsung selama 40 Pertemuan ke 2 pada hari Jumat, 23 Februari 2018 digunakan untuk melakukan evaluasi hasil pembelajaran dengan model cooperative learning tipe Buzz Group. Pelaksanaan tindakan siklus II, diketahui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dari kondisi awal ke siklus II meningkat yaitu 86,21% dari jumlah siswa siswa menunjukkan keaktifan belajar Matematika tinggi. Penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dari kondisi awal ke siklus II siswa yang tuntas meningkat sebesar 48,28% . Berdasarkan hasil tindakan kelas di atas, terjadi peningkatan keaktifan belajar matematika pada siswa tiap siklusnya. Peningkatan keaktifan belajar tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11. Peningkatan Keaktifan Belajar Matematika Siswa Kondisi Awal Keaktifan siswa yang kurang aktif ,17%) Siklus I Siklus II Refleksi Keaktifan Belajar Keaktifan belajar siswa yang kurang aktif sebanyak 10 siswa ,48%) Keaktifan belajar siswa yang kurang aktif sebanyak 4 siswa ,79%) Deskriptif komparatif: data keaktifan belajar meningkat dari kondisi awal siswa yang kurang aktif sebanyak 16 siswa menjadi 4 siswa. Simpulan: melalui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dapat meningkatkan keaktifan belajar Matematika dari kondisi awal ke siklus II meningkat yaitu 41,38%. Peningkatan juga terjadi pada hasil belajar matematika siswa pada tiap siklusnya. Peningkatan hasil belajar tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 12. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Hasil belajar Hasil belajar Hasil belajar Refleksi Hasil Belajar Matematika Matematika pada Matematika pada Matematika Kondisi Awal Siklus I Siklus II Prestasi terendah: 50 Prestasi terendah: 60 Prestasi terendah: 70 Deskriptif komparatif: rerata Prestasi tertinggi: 85 Prestasi tertinggi: 95 Prestasi tertinggi: 100 meningkat sebesar 6,21% dari Prestasi rerata : 70,69 Prestasi rerata : 76,90 Prestasi rerata : 81,90 70,69 menjadi 76,90. Tuntas: 12 . ,38%) Tuntas: 20 . ,97%) Tuntas: 26 . ,66%) Simpulan: Belum Tuntas : 17 Belum Tuntas : 9 Belum Tuntas : 3 Melalui penerapan model ,62%) ,03%) ,34%) cooperative learning tipe Buzz Group dapat meningkatkan hasil belajar matematika dari kondisi awal siswa yang tuntas 41,38% ke siklus I siswa yang tuntas 68,97% meningkat sebesar 27,59%. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Peningkatan keaktifan belajar dan hasil belajar matematika di atas dapat dituangkan dalam gambar 1. Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Keaktifan Belajar Hasil Belajar Sebelum Siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar 1. Grafik Keaktifan Belajar dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX H Semester 2 di SMP N 24 Surakarta Tahun Pelajaran 2017/2018 Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: melalui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dapat meningkatkan keaktifan belajar Matematika bagi siswa kelas IX H semester 2 di SMP N 24 Surakarta tahun pelajaran 2017/2018. Melalui penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group dapat meningkatkan hasil belajar Matematika bagi siswa kelas IX H semester 2 di SMP N 24 Surakarta tahun pelajaran 2017/2018. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah disimpulkan di atas dan dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dikemukakan saran sebagai berikut: . Sekolah, madrasah, atau satuan pendidikan lainya, hendaknya model cooperative learning tipe Buzz Group dapat dijadikan solusi bagi pembelajaran membaca atau pembelajaran lainnya. Penerapan model cooperative learning tipe Buzz Group telah terbukti meningkatkan pembelajaran membaca, khususnya pembelajaran membaca cepat untuk menemukan informasi secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, bagi satuan pendidikan, sekolah atau madrasah yang bersangkutan persoalan dalam penelitian ini dapat menjadi solusi penyelesaian dalam meningkatkan keterampilan membaca cepat untuk menemukan informasi dengan cepat dan tepat. Siswa hendaknya senang membaca, rajin belajar, banyak berlatih, dan mempraktikkan model cooperative learning tipe Buzz Group untuk menemukan informasi dalam pembelajaran membaca cepat atau kegiatan membaca lainnya supaya lebih senang, nyaman, tidak bosan, kreatif, dan kreativitas lebih meningkat. Selain itu, siswa hendaknya lebih aktif, mandiri, serius, antusias, dan berani mengemukakan pendapatnya dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran seperti itu akan meningkatkan hasil pembelajaran dan mengubah perilaku peserta didik ke arah lebih baik. Kepada peneliti selanjutnya, mengingat hasil penelitian ini belum optimal dan masih banyak keterbatasan maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang serupa pada mata pelajaran lain. Journal of Profession Education,Volume 1 No. 1, 2021 Daftar Pustaka