Excellent Midwifery Journal Volume 8 No. April 2025 P-ISSN: 2620-8237 E-ISSN: 26209829 DETERMINAN KEHAMILAN RESIKO TINGGI: SYSTEMATIC REVIEW Hotmauli BR. Sitanggang1. Dea Tri Ananda2 Universitas Imelda Medan hotmaulisitanggang55@gmail. ABSTRACT Introduction: The number of maternal deaths in general decreased during the period 19912020 from 390 to 189 per 100,000 live births. Although there is a tendency to reduce maternal mortality rates, efforts are still needed to accelerate the reduction of AKI for the SGDs target, which is 70/100,000 live births by 2030. A high-risk pregnancy is a pregnancy that causes complications that endanger the condition of the mother and baby and can cause death before the baby is born. Objective: To find out what are the factors that cause high-risk pregnancies in mothers. Method This study uses a Systematic Review method that is in accordance with the PRISMA Guidelines. The focus of the review is determined by keywords, inclusion and exclusion criteria, article search strategies with relevant databases (PubMed. Scince Direct. Ebsco, and ProQues. , the article selection process is described in the PRISMA flowchart. Critical Appraisal using CEBM, data extraction, and presenting results. Results: 889 Articles found, duplicate removal and article selection were carried out. Finally, 32 selected articles that met the inclusion criteria, nine themes were found in this study, namely Demographic Factors. Obstetric History Factors, and Obstetric Risk Factors. Conclusion: In this review, an article related to the factors that cause high-risk pregnancies in mothers is obtained, so it is recommended that researchers continue to conduct research related to handling high-risk pregnancies based on the causative factors. This aims to solve the problem of high-risk pregnancy in mothers. Kata Kunci: Determinant. Factors, high-risk pregnancy LATAR BELAKANG Saat ini peristiwa kematian ibu adalah sebuah masalah di berbagai belahan dunia, termasuk indonesia. Di Indonesia sendiri AKI pada tahun 2021 sebesar 303/100. 000 kelahiran hidup dan menurun pada tahun 2022 menjadi 230/100. kelahiran hidup (Depkes RI, 2. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu melahirkan mencapai 189 per 100 ribu kelahiran hidup. Angka ini membuat Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di ASEAN dalam hal kematian ibu, jauh lebih tinggi daripada Malaysia. Brunei. Thailand, dan Vietnam yang sudah di bawah 100 per 100 ribu kelahiran hidup . emenkes, 2. Menurut WHO angka kematian ibu sangat tinggi Sekitar 287. 000 perempuan meninggal selama dan setelah kehamilan dan persalinan pada tahun 2020. Hampir 95% dari seluruh kematian ibu terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2020, dan sebagian besar sebenarnya dapat dicegah. Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan menyumbang sekitar 87% . dari perkiraan kematian ibu global pada tahun 2020. Afrika Sub-Sahara sendiri menyumbang sekitar 70% kematian ibu . sementara Asia Selatan menyumbang sekitar 16 kematian ibu. % . (WHO,2. Kehamilan Risiko tinggi adalah kehamilan yang menyebabkan risiko aktual dan potensial komplikasi yang lebih besar bagi ibu dan janin dalam kandungan, dan morbiditas, kecacatan, ketidaknyamanan, dan ketidakpuasan. Komplikasi kehamilan dapat dikelompokkan menjadi risiko kehamilan, 90% penyebab utama karena komplikasi kebidanan yang tak terduga selama kehamilan, saat melahirkan atau setelah melahirkan dan 15% kehamilan termasuk dengan risiko tinggi dan dapat membahayakan ibu dan janin. Oleh karena itu dalam menghadapi kehamilan atau janin yang berisiko tinggi harus mengambil sikap yang proaktif dengan upaya promotive dan preventif. (Yanti, 2. Kehamilan resiko tinggi merupakan kehamilan yang menyebabkan komplikasi yang membahayakan kondisi ibu dan bayi serta dapat menyebabkan kematian sebelum bayi dilahirkan. Kematian ibu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang merupakan penyebab langsung dan tidak Penyebab langsung kematian ibu adalah faktor yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan, dan preeklampsia/eclampsia, infeksi, abortus dan persalinan macet. Penyebab tidak langsung kematian ibu adalah faktor-faktor yang memperberat keadaan ibu hamil seperti 4T . erlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan dan terlalu dekat jarak kelahira. , tinggi badan <145 cm, (Restanty Purwaningrum, 2. Adapun risiko ibu hamil dengan usia terlalu muda dalam kehamilan <20 tahun bisa membahayakan kesehatan ibu dan janin karena alat reproduksi untuk hamil belum matang (Ratnaningtyas & Indrawati, 2. Kedua, terlalu tua risiko ini dapat menyebabkan ibu mengalami plasenta previa, pendarahan, hipertensi, dan diabetes gestasional (Utami, 2. Ketiga, terlalu banyak risiko ini menyebabkan berkurangnya elastisitas otot kehamilan lama dan perdarahan saat persalinan (Rumpun, 2. Keempat, terlalu dekat risiko ini menyebabkan BBLR, bayi lahir premature (Sari, 2. Risiko 4T yang ditemukan dalam kehamilan dapat menimbulkan perdarahan, keguguran, persalinan lama, dan anemia Nufra, 2. Kategori risiko tinggi berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2020, risiko tinggi tunggal . Terlal. mencapai 22,4% dengan rincian jarak kelahiran <24 bulan sebesar 5,2%, umur ibu 34 tahun sebesar 3,8%, dan jumlah anak yang terlalu banyak (>3 oran. sebesar 9,4% (Kementerian Kesehatan RI, 2. Pencegahan kehamilan risiko tinggi ini dapat dicegah melalui pemeriksaan kehamilan . ntenatal car. secara teratur yang bertujuan untuk menjaga ibu agar sehat selama masa kehamilan, persalinan, dan nifas serta mengusahakan bayi yang di lahirkan sehat, memantau kemungkinan optimal terhadap kehamilan risiko tinggi mortalitas ibu dan bayi. Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan janin berupa deteksi dini faktor risiko, komplikasi kehamilan (Kemenkes RI. Setiap kehamilan dapat memiliki potensi dan membawa risiko bagi ibu. WHO memperkirakan sekitar 15% dari seluruh wanita hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya dan dapat mengancam (Majella. Saveswaran. Khirshnamoorty. Sirvaranjini, & Kumar, 2. Komplikasi dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan dan persalinan, yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kelangsungan hidup keseluruhan ibu dan (Majella. Saveswaran. Khirshnamoorty. Sirvaranjini, & Kumar. Kecemasan dalam kehamilan jika tidak diatasi sesegera mungkin maka akan berdampak negatif bagi ibu dan janin. Dampak yang ditimbulkan oleh kehamilan risiko tinggi adalah terjadinya keguguran, gawat janin, kehamilan premature, dan (Susanti,2. Komplikasi ini dapat dicegah melalui identifikasi kehamilan beresiko tinggi saat diawal kehamilannya. Dari uraian fakta dan fenomena diatas maka peneliti tertarik membuat proposal Systematik Review mengenai Kehamilan Risiko Tinggi. Systematic Review ini dilakukan sesuai dengan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and MetaAnalyses (PRISMA). PRISMA menyediakan kerangka kerja yang sistematis bagi peneliti untuk melaporkan tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan dari Systematic Review mereka. Review ini meliputi beberapa langkah yaitu: Kriteria Kelayakan Untuk Systematic Review serta mengembangkan strategi pencarian digunakan framework PICO. Hal ini diuraikan pada Tabel 2. Untuk mengidentifikasi artikel yang relevan dalam Systematic Review ini, maka langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan kriteria inklusi dan eksklusi dari framework yang telah dibuat supaya data yang dicari tidak melebar dan fokus pada konteks yang dicari. Adapun kriteria inklusi dan eksklusi dalam studi ini dapat dilihat pada Tabel 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Systematic Proses Tabel 2. 1 Framework Research Question. (Population. Patient. Proble. (Intervension. Prognostics factor. Exposur. (Comparison or Intervention/if Pregnant mother High Risk Pregnancy Outcomes Factors Determinant Tabel 2. 2 Kriteria Inklusi dan Eksklusi Aspek Karakteristik Artikel Partisipan Fokus Studi Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi Original Research/Peer a. Grey literature termasuk Reviewed conference paper, conference Artikel yang diterbitkan tesis/disertasi, dalam bahasa Inggris dan buku, guidelines dan paper bahasa Indonesia Artikel yang diterbitkan sebagai grey literature dalam 10 tahun terakhir Artikel yang diterbitkan pada Semua studi design jurnal predator Reviewed Artikel Populasi : ibu hamil Artikel yang membahas tentang kejadian kehamilan resiko tinggi Artikel tentang faktor yang terjadinya kehamilan resiko tinggi Strategi Pencarian Untuk mengidentifikasi artikel yang relevan dalam review ini, langkah pertama untuk strategi pencarian akan dimulai dengan mengembangkan kata kunci yang berfokus pada AuDeterminantAy dan AuHigh Risk PregnancyAy. Daftar kata kunci yang akan digunakan sebagai dasar untuk pencarian literature yang lebih luas akan ditulis secara rinci pada (Tabel 2. Pencarian dengan menggunakan tiga database yaitu: PubMed. Scince Direct. Ebsco dan ProQuest. Operator Boolean (AND dan OR) akan digunakan untuk menggabungkan atau mengecualikan kata kunci dalam pencarian. management softwar. Zotero. Proses skrining dimulai dengan melakukan remove duplikat, dan ditemukan artikel yang terduplikat sebanyak 27 artikel. Sebanyak 99 artikel dilakukan skrining melalui judul dan abstrak. Selanjutnya 75 artikel dilakukan skrining secara full teks dan 10 tahun kebelakang. dan ditemukan 32 artikel yang tidak sesuai dengan kriteria kelayakan dan di eksklud dengan beberapa Sehingga artikel yang inklud dalam studi ini adalah sebanyak 32 artikel. Penilaian Kualitas Artikel (Critical Appraisa. Alat yang dipilih untuk menilai kualitas dalam Systematic Review ini adalah Center for Evidence-Based Management (CEBM) dan metode penelitian Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT). Tabel 2. 3 Keywords yang digunakan dalam pencarian Keywords Determinant Reason Factor Element Cause OR 1-5 High Risk Pregnancy 6 AND 8 Data Charting dan Ekstraksi Setelah dianalisis dan dievaluasi dari beberapa point diatas maka hasil pengumpulan dari ekstraksi data sesuai dengan judul Systematic Review. HASIL Hasil Systematic Review tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kehamilan resiko tinggi pada ibu didapatkan 32 Artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil Analisa dari penelitian tersebut terdapat 3 tema yaitu faktor Demografi. Faktor Riwayat Obstetri. Faktor Resiko Obstetri. Tabel 2. 4 String Pencarian pada Database Keywords Determinan String Pencarian (((((Determinan. OR (Reaso. OR (Facto. OR (Elemen. OR (Caus. High Risk Pregnancy (High Risk Pregnanc. Menggabungkan (((((Determinan. OR Keyword (Reaso. OR (Facto. Menggunakan OR (Elemen. OR Boolean AND, (Caus. AND (High Rentang Waktu dan Risk Pregnanc. Abstrak Tema 1: Faktor Demografi Faktor Usia Ibu Terdapat Artikel menyatakan bahwa faktor usia ibu menjadi salah satu penyebab terjadinya kehamilan resiko tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh (Prasoona et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Usia ibu di bawah 25 tahun (B 25 tahu. menunjukkan peran predisposisi untuk kelompok dengan Seleksi Artikel Ditemukan 889 artikel. Seluruh hasil pencarian dari ketiga database tersebut disimpan dan disaring di dalam . eference malformasi kongenital dan Usia ibu 30 tahun atau lebih menjadi faktor risiko terjadinya kehamilan resiko tinggi. Berdasarkan penelitian (Kachikis et al. Usia ibu di atas 35 tahun memiliki odds ratio yang disesuaikan . OR) sebesar 88 dengan interval kepercayaan 95% (CI . untuk hasil kelahiran dengan congenital syphilis (CS) dan Ibu dengan usia 20-34 tahun memiliki odds ratio 22 (CI 1. dibandingkan dengan ibu yang berusia di bawah 20 tahun, yang dijadikan sebagai referensi. Penelitian (Singh et al. , 2. menyatakan bahwa Usia 25Ae29 tahun sebesar 8,29,530 . 53%) adalah faktor usia kehamilan resiko tinggi . Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Ni et al. , 2. rata-rata responden adalah 30. 9 tahun dengan deviasi standar 5. 9 tahun, dan usia responden berkisar antara 19 hingga 48 tahun Menurut (Li et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan Pada kelompok wanita hamil yang berusia di atas 35 tahun, rata-rata usia adalah 39,3 tahun . entang 35Ae53 tahun. (Sunitha et al. , 2. usia ibu yang lebih dari 25 tahun (O 25 tahu. berkontribusi terhadap kelainan kongenital (CA. pada wanita hamil berisiko tinggi (HRP) Hal ini ditunjukkan dengan odds ratio (OR) sebesar 2. 46Ae3. 79, p < 0. untuk usia ibu O 25 tahun. (Zhang et al. , 2. Pada kelompok usia 30-34 tahun, prevalensi kelainan tersebut adalah 81% . , dan pada kelompok usia 35-39 tahun, prevalensinya meningkat 67% . Selain itu, pada kelompok usia 40-44 tahun, prevalensinya mencapai 20% . (Sanseverino et al. Berdasarkan hal tersebut. Maka dapat diketahui bahwa faktor Usia ibu menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko terjadinya kehamilan resiko tinggi. Hasil ini disampaikan oleh (Manjunathachar et , 2. , yang menekankan bahwa wanita di daerah pedesaan lebih mungkin mengalami kehamilan berisiko tinggi karena wanita hamil yang berasal dari kelompok sosial-ekonomi rendah atau yang tinggal di daerah pedesaan/tribal lebih rentan terhadap berbagai infeksi, termasuk infeksi TORCH. Hal ini disebabkan oleh paparan mereka terhadap kondisi lingkungan yang buruk, yang dapat meningkatkan risiko infeksi selama Berdasarkan hal tersebut. Maka dapat diketahui bahwa faktor tinggal diperdesaan menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Faktor Ekonomi Dan Pendidikan 1 Artikel Menyampaikan bahwa Ekonomi dan Pendidikan menjadi faktor Hal ini disampaikan oleh, (Aabidha et al. , 2. , yang menyatakan bahwa dari 1900 wanita yang discreening, 93 wanita terdeteksi mengalami preeklampsia. 1% berasal dari kelas sosial ekonomi 4, penelitian juga menunjukkan bahwa wanita dengan tingkat pendidikan rendah lebih mungkin mengalami preeklampsia. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Ekonomi dan Pendidikan menyebabkan terjadi nya preeklamsia. Tema 2: Faktor Riwayat Obstetri Faktor Riwayat Komplikasi Jantung Selama Kehamilan Terdapat 1 Artikel menyatakan Komplikasi jantung selama kehamilan menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Hal ini dilihat dari kutipan (Martins et al. , 2. Komplikasi jantung pada kehamilan merupakan masalah serius yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Dalam penelitian komplikasi kardiovaskular pada wanita hamil dengan penyakit jantung mencapai 22,72%. Komplikasi yang paling umum Faktor Domisili 1 Artikel Menyatakan tinggal diperdesaan juga menjadi faktor termasuk gagal jantung . ,36%) dan aritmia . ,82%). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Komplikasi jantung selama kehamilan menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. meningkatkan risiko GDM pada wanita Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Riwayat Keluarga Diabetes Melitus menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. Faktor Riwayat kehamilan sebelumnya dengan GDM (Gestational Diabetes Mellitus/Diabetes Gestasiona. Terdapat 1 Artikel menyatakan Riwayat kehamilan sebelumnya dengan Gestational Diabetes Mellitus menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Mahha et al. , 2. menunjukkan bahwa wanita yang memiliki riwayat Gestational Diabetes Mellitus pada kemungkinan lebih besar untuk mengalami Gestational Diabetes Mellitus pada kehamilan berikutnya. Hal ini terkait dengan faktor-faktor genetik dan gaya hidup yang dapat diwariskan, serta perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan yang dapat mempengaruhi metabolisme glukosa. Penelitian ini mencatat bahwa riwayat Gestational Diabetes Mellitus sebelumnya merupakan salah satu faktor yang diakui dalam meningkatkan risiko Gestational Diabetes Mellitus pada kehamilan saat ini. Berdasarkan hal tersebut. Maka dapat diketahui bahwa Riwayat kehamilan sebelumnya dengan Gestational Diabetes Melitus sebelumnya menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Faktor Riwayat Preeklamsia Pada Kehamilan Sebelumnya Terdapat 3 Artikel Menyatakan Riwayat Preeklamsia Sebelumnya menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Menurut Penelitian dari (Murtoniemi et al. Riwayat kehamilan sebelumnya merupakan faktor risiko yang paling penting terkait dengan preeklamsia pada kehamilan berikutnya. Hal ini didukung oleh data yang menunjukkan bahwa faktor ini memiliki odds ratio (OR) yang signifikan, yaitu 2. untuk subtipe preeklamsia non-severe dan 32 untuk subtipe severe. (Monteiro et al. riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya berperan signifikan dalam kasus yang disajikan, di mana pasien berusia 36 tahun memiliki riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya. Riwayat ini menjadi salah satu alasan untuk melakukan konsultasi obstetri dan investigasi lebih lanjut terkait hipertensi kronis yang dialaminya saat kehamilan saat ini. Dalam Penelitian ini (Villa et al. menyatakan bahwa terdapat peningkatan tujuh kali lipat dalam insiden preeklamsia pada wanita yang memiliki riwayat preeklamsia dibandingkan dengan wanita tanpa riwayat tersebut. Berdasarkan hal tersebut. Maka dapat diketahui bahwa Riwayat Hipertensi pada kehamilan sebelumnya menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Faktor Riwayat Keluarga Diabetes Melitus Terdapat Artikel menyatakan bahwa Riwayat keluarga diabetes melitus menjadi salah satu faktor kehamilan resiko tinggi. Dalam penelitian (Mahha et al. , 2. terdapat asosiasi signifikan antara riwayat keluarga diabetes melitus dan kejadian GDM . estational diabetes mellitu. dengan p-value sebesar Ini menunjukkan bahwa riwayat keluarga diabetes, terutama pada kerabat Tema 3: Faktor Resiko Obstetri Faktor Kehamilan Ganda 3 Artikel menyatakan kehamilan ganda juga mempengaruhi terjadi nya kehamilan resiko tinggi. Hal ini disampaikan (Jiang et al. , 2. Dalam analisis multivariable, kehamilan ganda memiliki odds ratio (OR) sebesar 10. dengan nilai p 0. 03, menunjukkan bahwa kehamilan ganda secara signifikan meningkatkan risiko untuk hasil kehamilan yang merugikan. Menurut penelitian (Sanseverino et al. , 2. kehamilan ganda pada seorang pasien remaja yang juga menderita cystic fibrosis dan lupus eritematosus sistemik (SLE) menunjukkan bahwa kehamilan ganda dan kondisi meningkatkan risiko komplikasi selama Selain itu, kehamilan pada remaja sendiri sudah dianggap berisiko tinggi, dan ketika digabungkan dengan kehamilan ganda, risiko tersebut semakin (Zhang et al. , 2. Kehamilan ganda (Ou. memiliki odds ratio (OR) 2. % CI: 1. untuk 2 kehamilan dan OR 2. % CI: 1. untuk Ou3 kehamilan, dengan p-value masing-masing 006 dan 0. 009, menunjukkan bahwa lebih dari satu kehamilan meningkatkan risiko infeksi HR-HPV. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Kehamilan kehamilan resiko tinggi. dan preeklampsia . OR 1. 64, 95% CI: 1. 19Ae2. ini menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor risiko signifikan dalam kehamilan yang berisiko tinggi. Menurut hasil penelitian (Singh et al. menyatakan bahwa Obesitas prakehamilan dianggap sebagai penyebab mendasar dari mortalitas maternal, meningkatkan risiko kematian maternal baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk spontan abortus, perdarahan, dan ruptur uterus. Obesitas pra-kehamilan juga dapat meningkatkan risiko stillbirth, fetal macrosomia, preterm birth, beberapa cacat lahir, dan infant Data ini menunjukkan bahwa obesitas pada kehamilan merupakan faktor risiko yang signifikan bagi kesehatan ibu dan bayi. (Mahha et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa obesitas, dengan indeks massa tubuh (BMI) lebih dari 25 kg/mA, diakui sebagai faktor risiko utama untuk pengembangan diabetes gestasional (GDM). Selain itu, penelitian juga mencatat bahwa faktor risiko lain untuk GDM termasuk gaya hidup sedentari, riwayat keluarga diabetes, riwayat kehamilan sebelumnya dengan GDM, dan hasil abnormal dari tes toleransi glukosa oral (OGTT), sehingga obesitas menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. (Jeon et al. , 2. menunjukkan Terdapat perbedaan signifikan dalam BMI prakehamilan antara kelompok yang berbeda, dengan nilai p = 0. 006, menunjukkan bahwa BMI dapat menjadi faktor risiko. (Gerona et al. , 2. BMI menjadi faktor kehamilan risiko tinggi karena berkaitan dengan berat badan bayi yang lahir. Ratarata berat badan bayi bervariasi berdasarkan kategori BMI ibu saat melahirkan, yang menunjukkan bahwa BMI dapat mempengaruhi hasil kehamilan. Meskipun perbandingan berat badan bayi berdasarkan kategori BMI tidak signifikan . = 0. , variasi dalam berat badan bayi dapat menunjukkan potensi risiko yang terkait dengan BMI yang ekstrem, baik rendah maupun tinggi, dalam konteks Berdasarkan hal tersebut. Maka Faktor Obesitas Dan BMI 7 Artikel menyatakan bahwa Obesitas menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Hasil penelitian dari (Orys et al. , 2. mencatat Obesitas sebagai salah satu faktor risiko dalam kasus seorang wanita hamil yang memiliki preeklampsia pada kehamilan sebelumnya. (Villa et al. , 2. berdasarkan hasil data yang tersedia, obesitas (BMI > 30 kg/mA) memiliki hubungan signifikan dengan risiko preeklampsia. Dalam penelitian, kombinasi obesitas dengan diabetes tipe 1 dan faktor risiko lain seperti hipertensi kronis meningkatkan risiko preeklampsia. Misalnya, hipertensi kronis dan BMI > 30, risiko preeklampsia tercatat sebesar 5. Hasil penelitian (Orys et al. , 2. menunjukkan Obesitas dan kelebihan berat badan terkait dengan komplikasi bagi ibu dan bayi, termasuk peningkatan risiko cesarean section . OR 1. 49, 95% CI: 1. 37Ae dapat diketahui bahwa Obesitas dan BMI (Body Mass Inde. atau IMT (Indexs Masa Tubu. menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. rimi gravid. berperan sebagai faktor predisposisi. Sementara itu, untuk kelompok wanita hamil berisiko tinggi dengan riwayat obstetrik buruk (Kelompok . , paritas yang lebih tinggi (Ou 3 gravid. menjadi faktor risiko yang berkontribusi. (Sunitha et al. , 2. paritas adalah usia maternal di bawah 25 tahun dan usia paternal di bawah 30 tahun. Kedua faktor ini menunjukkan odds ratio (OR) yang signifikan, yaitu OR = 2. 46Ae3. 79, p < . untuk usia maternal dan OR = 2. 41Ae3. 74, p < 0. untuk usia paternal. Menurut (Murtoniemi et al. , 2. Paritas menjadi faktor risiko tinggi dalam kehamilan karena wanita yang mengalami kehamilan pertama . memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan pre-eclampsia, terutama pada subtipe preeclampsia awal. Dalam penelitian ini, primiparity memiliki odds ratio (OR) 34, yang menunjukkan bahwa wanita yang hamil untuk pertama kali memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kondisi ini dibandingkan dengan wanita yang telah melahirkan ( Marie Gilbert Majella, et ,2. Faktor paritas menunjukkan bahwa wanita nulliparous memiliki risiko 41 kali lebih tinggi untuk mengalami kehamilan berisiko tinggi dibandingkan dengan wanita multiparous, dan ini dianggap signifikan secara statistik (P = Berdasarkan hal tersebut. Maka dapat diketahui Paritas menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. Faktor Usia Gestasi 2 Artikel menyatakan bahwa Usia Gestasi menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. (Deena Elkafrawi 1,2,5, et al. ,2. Dalam analisis multivariat, usia gestasi yang lebih rendah tetap signifikan terkait dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas neonatal . < Menurut (Jeon et al. , 2. usia gestasi ditemukan sebagai faktor risiko signifikan untuk kolonisasi bakteri Gramnegatif selama kehamilan. Hal ini menunjukkan bahwa ada pola yang berbeda antara faktor risiko untuk kolonisasi bakteri aerobik dan vaginosis Meskipun usia maternal tidak dilaporkan sebelumnya sebagai faktor risiko untuk vaginosis bakteri, dalam studi ini, usia maternal terbukti menjadi faktor risiko signifikan untuk kolonisasi bakteri Gram-negatif. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Usia gestasi menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. Faktor Gravida Terdapat 1 Artikel menyatakan bahwa Gravida menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. (Zhang et al. , 2. menunjukkan bahwa kelompok keseluruhan, wanita dengan jumlah kehamilan Ou3 memiliki odds ratio (OR) 2. dan p-value <0. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa usia kehamilan (Gravid. menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. Faktor Oligohidramnions Terdapat 1 Artikel menyatakan bahwa Oligohidramnions juga menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. (Ozgen et al. , 2. Data ini menunjukkan bahwa oligohidramnios merupakan faktor risiko yang signifikan dalam kehamilan, terutama terkait dengan hasil perinatal yang buruk. Menurut (Dahman. Dalam oligohidramnion menunjukkan p-value 005 dan odds ratio (OR) 2. 44, yang menunjukkan adanya hubungan yang Faktor Paritas Terdapat 4 Artikel menyatakan bahwa Paritas menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Menurut penelitian (Prasoona et al. , 2. menunjukkan bahwa untuk kelompok wanita hamil berisiko tinggi dengan malformasi kongenital pada kehamilan saat ini (Kelompok . , paritas yang lebih signifikan antara kondisi ini dan risiko Sehingga oligohidramnion menjadi salah satu faktor kehamilan resiko tinggi. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Oligohidramnions kehamilan resiko tinggi. Faktor Diabetes 3 Artikel menyatakan bahwa Diabetes menjadi faktor kondisi medis ibu saat ini yang dapat menyebabkan terjadinya kehamilan resiko tinggi. Berdasarkan penelitian (Monteiro et al. diabetes gestasional dicatat sebagai salah satu faktor risiko signifikan dalam kehamilan, terutama pada wanita yang memiliki riwayat medis tertentu seperti kehamilan sebelumnya, namun tidak ada data lebih lanjut yang spesifik tentang diabetes selain dari konteks tersebut. Menurut (Villa et al. , 2. menyatakan bahwa Faktor diabetes, khususnya diabetes tipe 1, merupakan faktor risiko yang kuat preeklampsia prematur dalam kohort yang Diabetes tipe 1 tanpa faktor risiko lain meningkatkan risiko preeklampsia prematur, tetapi tidak untuk preeklampsia Kombinasi diabetes tipe 1 dengan faktor risiko lain, seperti hipertensi kronis dan obesitas, lebih lanjut meningkatkan risiko preeklampsia. Selain itu, diabetes mellitus tipe 1 juga menunjukkan risiko preeklampsia yang lebih tinggi, dengan 8 . 1, 22. Hasil dari penelitian (Mahha et al. , 2. Diabetes gestasional (GDM) diakui sebagai faktor risiko tinggi dalam kehamilan. Wanita yang mengalami GDM memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi obstetrik, seperti makrosomia . ayi dengan berat lahir lebih besar dari norma. dan masalah kesehatan lainnya selama kehamilan. Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan satu nilai abnormal pada tes toleransi glukosa memiliki risiko yang lebih tinggi untuk dengan wanita yang memiliki GDM yang Terdapat asosiasi signifikan antara gestasional diabetes militus dan riwayat keluarga diabetes . =0,0. Berdasarkan hal tersebut. Maka dapat diketahui bahwa Diabetes menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Faktor Polihidramnions 1 Artikel menyatakan bahwa Polihidramnions menjadi salah satu faktor terjadi kehamilan resiko tinggi. (Dahman, 2. Dalam analisis, polihidramnion menunjukkan p-value 0. 011 dan odds ratio (OR) 4. 23, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kondisi ini dan risiko kelahiran prematur, sehingga polihidramnion menjadi salah satu faktor kehamilan resiko tinggi. Faktor Makrosomia 2 Artikel menyatakan bahwa Makrosomia menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Menurut penelitian (Mahha et al. , 2. menunjukkan bahwa wanita dengan satu hasil glukosa abnormal memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami dibandingkan dengan wanita yang memiliki gestational diabetes mellitus (GDM) yang diobati. Selain itu, makrosomia juga berhubungan dengan faktor-faktor risiko lain seperti obesitas, riwayat kehamilan sebelumnya dengan bayi besar, dan hasil abnormal dari tes toleransi glukosa oral (OGTT). Oleh karena itu, makrosomia dianggap sebagai indikator penting dalam penilaian risiko (Korb et al. , 2. Dalam analisis, makrosomia untuk salah satu kembar memiliki rasio risiko relatif yang disesuaikan . RR) sebesar 1. % CI 3Ae2. sebagai faktor risiko untuk morbiditas maternal akut yang parah. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Makrosomia menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. Faktor Infeksi Torch Terdapat 1 Artikel menyatakan bahwa Infeksi Torch menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi. Hasil penelitian (Manjunathachar et al. menunjukkan bahwa tingkat positif IgM untuk infeksi TORCH pada wanita hamil berisiko tinggi adalah 61,1% . Infeksi Rubella adalah yang paling prevalen dengan tingkat positif IgM sebesar 46,5%, diikuti oleh HSV 1 dan 2 . %). CMV . ,7%), dan toksoplasmosis . ,3%). Selain itu, tingkat seropositivitas IgG tertinggi tercatat pada CMV . ,6%), diikuti oleh Rubella . ,8%). HSV 1 dan 2 . ,4%), dan toksoplasmosis . ,2%). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Infeksi Torch menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. PEMBAHASAN Tema 1: Faktor Demografi Faktor Usia Ibu Berdasarkan hasil ditemukan 8 artikel yang menyatakan faktor usia ibu menjadi salah satu penyebab terjadinya kehamilan resiko tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian (Seifu et al. , 2. ibu yang berusia lebih dari 34 tahun pada saat melahirkan, yang merupakan salah satu kondisi yang berkontribusi terhadap perilaku kesuburan berisiko tinggi (HRFB). Selain itu, dalam deskripsi karakteristik peserta, sekitar 42. wanita berada dalam kelompok usia 35Ae49 Dalam penelitian (Dahiya et al. mayoritas responden wanita hamil berada dalam kelompok usia 21-30 tahun, yaitu sebanyak 84. Sebanyak 8. responden berada dalam kelompok usia 30-34 tahun, dan 2. 18% berusia 35 tahun atau lebih. (Kshatri et al. , 2. 6%) ibu berada dalam kelompok usia 20 hingga 29 tahun. Selain itu, terdapat 34 . 1%) yang hamil untuk pertama kali dengan usia di bawah 19 tahun. Berdasarkan hasil penelitian (Jemila et al. faktor usia ibu menunjukkan bahwa dari 314 ibu hamil, 47 . 0%) berusia < 19 tahun, 261 . 12%) berusia 20-34 tahun, dan 6 . 9%) berusia Ou 35 tahun. Menurut penelitian (Lengkong et , 2. menunjukkan bahwa ibu hamil yang berusia O20 tahun dan Ou35 tahun memiliki risiko tinggi. (Schuurmans et al. menunjukkan bahwa wanita yang berusia lebih dari 35 tahun lebih mungkin mengalami kematian janin, dengan odds ratio (OR) 1. % CI 1. 12Ae1. , di mana wanita berusia di bawah 20 tahun memiliki odds ratio (OR) 1. % CI 02Ae1. Hasil penelitian (Sari & Mulyani, 2. menunjukkan bahwa ibu hamil yang berusia di atas 35 tahun prevalensi mencapai 22,7%. (Arimina, 2. Mayoritas ibu hamil yang Plasenta Previa 1 Artikel menyatakan bahwa Plasenta previa menjadi salah satu faktor terjadinya faktor kehamilan resiko tinggi. Menurut penelitian (Korb et al. Plasenta praevia merupakan faktor risiko signifikan untuk morbiditas maternal akut pada kehamilan, dengan adjusted relative risk . RR) sebesar 3. % CI 3Ae5. Ini menunjukkan bahwa wanita dengan plasenta praevia memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami morbiditas maternal akut dibandingkan dengan wanita tanpa kondisi tersebut. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa plasenta praevia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam manajemen kehamilan, terutama pada wanita dengan mengantisipasi kemungkinan terjadinya komplikasi serius. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Plasenta Previa menjadi faktor kehamilan resiko tinggi. mengalami kehamilan risiko tinggi berada pada usia Ou35 tahun, dengan jumlah 39 orang . ,86%). dengan jumlah prediktor yang ada: 0 prediktor memiliki risiko 5%, 1 prediktor 27%, dan lebih dari 1 prediktor 75%. Faktor Tinggal Diperdesaan Pada hasil ditemukan 1 artikel yang menyatakan bahwa tinggal diperdesaan menjadi faktor terjadinya kehamilan resiko Namun, pada penelitian yang dilakukan (Seifu et al. , 2. hasil dari penelitian menunjukkan Faktor tinggal di daerah pedesaan memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk mengalami perilaku kesuburan berisiko tinggi (HRFB) dibandingkan dengan wanita yang tinggal di daerah perkotaan. Sekitar 62. 66% dari total responden dalam penelitian ini tinggal di daerah pedesaan. Faktor Riwayat kehamilan sebelumnya dengan GDM (Gestational Diabetes Mellitus/Diabetes Gestasiona. Berdasarkan dilakukan (Alharbi et al. , 2. wanita dengan riwayat GDM sebelumnya memiliki odds 4. 37 kali lebih mungkin GDM dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat GDM sebelumnya. Riwayat Keluarga Diabetes Melitus Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Tessema et al. , 2. Riwayat keluarga diabetes mellitus memiliki nilai signifikan dengan odds ratio (AOR) sebesar 2. CI 1. 09 Ae 5. yang menunjukkan bahwa wanita hamil dengan riwayat keluarga diabetes mellitus memiliki kemungkinan sekitar dua kali lebih tinggi untuk mengembangkan Kehamilan resiko tinggi . (Alharbi et al. , 2. sebagai faktor risiko signifikan untuk GDM, dengan odds ratio (OR) sebesar 1. % CI: 1. dan P value kurang dari 0. Selain itu, lebih dari setengah . 8%) dari peserta penelitian memiliki riwayat keluarga Faktor Kelas Ekonomi Rendah dan Faktor Pendidikan Rendah Berdasarkan (Arimina. Hasil penelitian menyatakan bahwa Ibu hamil yang berasal dari kelas ekonomi rendah cenderung memiliki akses yang terbatas terhadap informasi dan layanan kesehatan yang memadai, yang dapat meningkatkan risiko kehamilan mereka dan Ibu hamil dengan pendidikan rendah (SD - SMP) mengalami kehamilan risiko tinggi sebanyak 40 orang . ,97%). Pendidikan yang lebih tinggi berhubungan dengan pengetahuan yang lebih baik tentang kehamilan dan risiko yang terkait, sehingga ibu dengan pendidikan rendah cenderung kurang memahami cara mencegah kehamilan risiko tinggi dan (ROBERTAS BUNEVICIUS, et, al 2. pendidikan renda Odds Ratio (OR) 3. 70, pValue 0. Faktor Riwayat Preeklamsia Pada Kehamilan Sebelumnya Berdasarkan dilakukan , (Riani Widia Parantika1,et al riwayat preeklampsia pada bahwa ada hubungan yang signifikan secara statistik antara riwayat preeklampsia sebelumnya dengan kejadian preeklampsia pada kehamilan berikutnya . =0,. Ibu yang memiliki riwayat preeklampsia sebelumnya lebih mungkin mengalami preeklampsia dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki riwayat tersebut. Sebanyak 79,8% responden adalah multigravida, yang menunjukkan tingginya kasus preeklampsia pada mereka yang Tema 2: Faktor Riwayat Obstetri Faktor Riwayat Komplikasi Jantung Selama Kehamilan Hal ini disetujui oleh penelitian (Purwoko, dengan risiko yang meningkat seiring pernah (Firda Amalia Hardianti,et al 2. ibu hamil yang memiliki riwayat mengalami preeklampsia berat pada kehamilan berikutnya. Sebanyak 94% dari ibu hamil yang memiliki riwayat preeklampsia mengalami preeklampsia berat, dan pada kehamilan kedua dan ketiga . , risiko mengalami preeklampsia adalah sebesar 1,7% dan 1,8%. ,9%) underweight, 28 . ,0%) normal, 3 . ,4%) overweight, dan 1 . ,8%) obesitas. (Gustri et al. , 2. Hampir setengahnya yaitu 53,5% ibu hamil mengalami obesitas. Faktor Usia Gestasi Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Inge M Evers, et al 2. menunjukkan bahwa angka kelahiran prematur . ebelum 37 mingg. adalah 2%, yang merupakan peningkatan risiko lebih dari empat kali lipat dibandingkan populasi nasional. (Sandy & Sulistyorini, 2. Dari 29 responden yang berusia 20 Ae 35 tahun, 12 orang . ,4%) memiliki kehamilan risiko tinggi, sedangkan dari 33 responden yang berusia O 20 tahun dan Ou 35 tahun, 22 orang . ,7%) memiliki kehamilan risiko tinggi. Hasil uji statistik chi-square menunjukkan nilai p=0,046, yang berarti ada hubungan signifikan antara usia dan kehamilan risiko tinggi. Berdasarkan (Gustri et al. , 2. Usia gestasi sebanyak 77,6% ibu memiliki usia gestasi Ou37 minggu. Hanya 2,4% diantaranya ibu dengan janin Faktor Gravida Berdasarkan dilakukan (Kshatri et al. , 2. menunjukkan bahwa dari 147 wanita hamil yang diteliti, 52 . 4%) adalah primigravida, 47 . 9%) adalah 2nd gravida, 24 . 3%) adalah 3rd gravida, 19 . 9%) adalah 4th gravida, dan 5 . adalah grand multigravida. Tema 3: Faktor Resiko Obstetri Faktor Kehamilan Ganda Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dian putri mayasari, et al 2. 324 responden, 163 . ,3%) didiagnosa kehamilan ganda. (Noviyanti, 2. ibu dengan kehamilan ganda dengan risiko tinggi sebanyak 33 orang, yang terdiagnosa sebanyak 16 orang dan yang tidak terdiagnosa sebanyak 17 orang. Sedangkan kehamilan ganda dengan risiko rendah sebanyak 28 orang, dan yang terdiagnosa sebanyak 6 orang, dan yang tidak terdiagnosa sebanyak 22 orang. Faktor Obesitas Dan BMI Pada hasil ditemukan 7 Artikel yang sesuai bahwa Obesitas dan BMI menjadi faktor penyebab terjadinya kehamilan resiko tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian (Kshatri et al. , 2. obesitas dan BMI dalam penelitian ini menunjukkan bahwa 7 . 8%) dari peserta penelitian adalah obesitas. Selain itu, 70 . 6%) wanita hamil memiliki BMI normal, 17 . 6%) adalah underweight, 25 . 0%) overweight, dan 28 . (Yusri Dwi Lestari, et al 2. menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kenaikan berat badan ibu selama kehamilan dengan berat badan lahir bayi, dengan nilai signifikan sebesar 0,026 ( <0. yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima. Selain itu. IMT menunjukkan bahwa dari 56 responden, 24 Faktor Paritas Beberapa penelitian menyetujui bahwa Paritas menjadi salah satu faktor terjadinya kehamilan resiko tinggi, dimana (Holila et al. , 2. menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dan kehamilan risiko tinggi, dengan nilai p-value sebesar 0,001 ( < 0,. Selain itu, analisis menunjukkan bahwa dari 86 responden, 63,4% ibu dengan paritas tinggi mengalami kehamilan risiko tinggi, dengan p-value sebesar 0,018. Hasil penelitian (Susi Febriani Yusuf, et al 2. menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara paritas dengan kehamilan resiko tinggi, dengan nilai p = 0,001 (P < 0,. Responden yang paritas beresiko menunjukkan 10,5% kehamilan resiko tinggi baik dan 45,6% kurang, sedangkan responden yang paritas tidak beresiko menunjukkan 26,3% kehamilan resiko tinggi baik dan 17,6% kurang. Menurut Penelitian (Dien, 2. menunjukkan bahwa paritas memiliki kehamilan risiko tinggi dengan p=0,001. Sebagian besar responden . ,4%) hamil dengan kategori paritas berisiko, dan paritas > 3 berhubungan dengan risiko tinggi akibat fungsi uterus yang berkurang seiring bertambahnya usia organ-organ pada ibu bersalin. persalinan, serta 8 - 18% dengan kelainan Selain ditemukan pada 5,2% subjek penelitian yang disebabkan karena produksi cairan amnion yang berlebih atau adanya gangguan pengeluaran cairan amnion. Faktor Makrosomia Berdasarkan dilakukan oleh (Fajariyana, 2. makrosomia dengan p= <0,001 dan OR = 11,9. Penelitian di Rumah Sakit Umum Dewi Sartika Tahun 2022 menemukan bahwa paritas berisiko 4,407 kali lebih mungkin mengalami makrosomia, dengan nilai p = 0,017 yang menunjukkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, serta nilai OR 95% CI: 1,260-15,414. Selain itu, penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa ibu yang memiliki riwayat melahirkan bayi makrosomia sebelumnya berisiko 5-10 kali lebih tinggi untuk kembali melahirkan bayi makrosomia dibandingkan wanita yang belum pernah melahirkan bayi makrosomia. Penelitian ini dihasil kan oleh (Kumalasari, et al 2. Hasil penelitian (Inge M Evers, et al 2. Terdapat 146 kasus makrosomia . ebih dari persentil ke-. dengan 1% pada wanita dengan diabetes tipe 1, dibandingkan dengan 10% pada populasi nasional. Faktor Oligohidramnions Berdasarkan dilakukan oleh (Leytes et al. , 2. oligohidramnion sebelumnya memiliki tingkat oligohidramnion yang secara signifikan lebih tinggi pada kelahiran kedua, dengan aOR 3. % CI 1. 89Ae . , serta neonatus kecil untuk usia gestasi dengan aOR 1. % CI 1. 16Ae . , dan gangguan terkait plasenta secara keseluruhan dengan aOR 2. % CI 35Ae3. Hasil dari penelitian (Taneja et oligohidramnion selama trimester kedua tidak meningkatkan hasil perinatal yang merugikan secara signifikan, tetapi meningkatkan tingkat persalinan dengan Oleh karena itu, oligohidramnion seharusnya tidak menjadi indikasi untuk terminasi kehamilan. Faktor Diabetes Berdasarkan dilakukan oleh (Diaz-Santana et al. , 2. menunjukkan bahwa sejarah GDM (Gestational Diabetes Mellitu. secara signifikan memprediksi risiko diabetes tipe Terdapat hazard ratio (HR) sebesar 2. % CI 2. 15 Ae 2. untuk asosiasi antara riwayat GDM dan diagnosis diabetes tipe 2 di kemudian hari. Risiko ini menurun seiring waktu, dengan HR yang berkurang 24% setiap dekade setelah diagnosis GDM, tetapi tetap tinggi bahkan lebih dari 35 tahun setelah diagnosis terakhir GDM. Faktor Polihidramnions Berdasarkan dilakukan oleh (Azhari et al. , 2. menunjukkan bahwa angka kejadian polihidramnion di dunia berkisar 1,1 2,8% dari seluruh kehamilan disebabkan oleh komplikasi pada kehamilan dan Faktor Infeksi Torch Berdasarkan dilakukan oleh (Nirmal et al. , 2. menunjukkan bahwa seroprevalensi infeksi TORCH di antara wanita hamil berisiko Rincian masing-masing infeksi adalah sebagai berikut: T. 2%, rubella 9. CMV 53. 8%, dan 7% positif untuk infeksi gabungan HSV-1 dan 2. Selain itu, 15. 4% wanita Hasil penelitian (Josheghani et , 2. menunjukkan bahwa 30 kasus . 5%) positif untuk antibodi IgG terhadap Toxoplasma, 74 kasus . positif untuk virus Rubella, 79 kasus . 8%) positif untuk CMV, dan 73 kasus . 3%) positif untuk infeksi HSV Type I dan II. Untuk antibodi IgM, 3. 8% positif untuk Toxoplasma, 5% positif untuk CMV, dan 7. 5% positif untuk infeksi HSV. mengurangi kematian maternal terkait kehamilan resiko tinggi. Selain itu, pentingnya akses yang lebih baik terhadap ANC dan intervensi medis yang tepat waktu juga ditekankan untuk menurunkan angka kematian maternal akibat kehamilan resiko tinggi. DAFTAR PUSTAKA\