Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH (Allium ascanolicum L. ) DI DESA SERUBEBA KECAMATAN ROTE TIMUR KABUPATEN ROTE NDAO (Shallot Income Farm at Desa Serubeba. Kecamatan Rote Timur. Kabupaten Rote Nda. Oleh: Fitra Y. Huan. I Wayan Nampa. Siska Elvani Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Nusa Cendana Alamat Email Korespondensi: fitrahuan@gmail. Diterima: 20 September 2024 Disetujui: 30 September 2024 ABSTRACT This research was conducted over 1 month from March to April 2024 in Serubeba Village. Rote Timur District. Rote Ndao Regency. The objectives of this research are . To determine the income of shallot farming in Serubeba Village. Rote Timur District. Rote Ndao Regency. To determine the feasibility level of shallot farming in Serubeba Village. Rote Timur District. Rote Ndao Regency. The sampling method used in this research is purposive sampling. The sample for this research was taken from 30 farmers who are engaged in shallot farming. The data used are secondary and primary data. The analysis in this research includes income and feasibility analysis using the R/C Ratio analysis method. The results showed that the average production was 1,844. 8 kg and the average revenue for shallot farming was IDR 39,146,656/MT. The average total cost incurred was IDR 12,941,520. Thus, it provided an income of IDR 26,846,001/MT. The R/C Ratio of shallot farming for one planting season was 3. 18, indicating that shallot farming is feasible . and increases farming income. keywords: income, farm, shallot. ABSTRAK Penelitianini di lakukan selama 1 bulan terhitung mulai dari bulan Maret - bulan April 2024 berlokasi di Desa Serubeba. Kecamatan Rote Timur. Kabupaten Rote Ndao. Tujuan dari penelitian ini adalah . Mengetahui pendapatan usahatani bawang merah Desa Serubeba. Kecamatan Rote Timur. Kabupaten Rote Ndao. Mengetahui Tingkat kelayakan usahatani bawang merah di Desa Serubeba. Kecamatan Rote Timur. Kabupaten Rote Ndao. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah secara sengaja (Purposive Sampel dari penelitian ini, diambil dari petani yang berusahatani bawang merah sebanyak 50 Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Analisis dalam penelitian ini meliputi analisis pendapatan dan kelayakan dengan menggunakan metode analisis R/C Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi 1. 844,8 kg dan rata-rata penerimaan pada usahatani bawang merah sebesar Rp. 656/MT. Dan rata-rata total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. Sehingga memberikan pendapatan sebesar Rp. 001/MT. R/C Ratio usahatani selama satu musim tanam untuk bawang merah rata-rata sebesar 3. 18 Sehingga usahatani tanaman bawang merah layak diusahakan . dan meningkatkan pendapatan usahatani. kata kunci: pendapatan, usahatani bawang merah PENDAHULUAN Bawang merah (Alliumascalonicum L), merupakan salah satu komunitas hortikultura yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia,terutama sebagai salah satu bumbu dapur untuk menambah cita rasa dan kenikmatan pada masakan serta sebagai obat tradisional untuk memperlancar aliran darah dan menyembuhkan penyakit diantaranya masuk Huan, et all. Pendapatan Usahatani Bawang Meraha. a Page 132 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 angin, batuk dan diare (Dewi,2. Bawang merah merupakan tanaman semusim yang mempunyai akar serabut dengan daun yang berbentuk silinder berongga dan umbi yang Bawang merah dapat tumbuh di daerah tropis, dapat tumbuh dengan baik pula di dataran rendah maupun dataran tinggi . -9000 Mdp. dengan curah hujan 300-2500 mm/tahun. Kebutuhan masyarakat terhadap bawang merah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan daya beli masyarakat yang cenderung naik (Maemunah, 2. Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi yang mayoritas penduduknya hidup dari sektor pertanian dengan daerah beriklim kering dengan curah hujan yang relative rendah namun mendapat sinar matahari yang cukup, sehingga daerah ini sangat cocok untuk Salah komoditas yang dikembangkan di NTT yaitu komoditi bawang merah (BPS NTT, 2. Penghasil bawang merah, pada tahun 2019 254 ton, pada 2020 total produksi 424 ton, pada tahun 2021 meningkat menjadi 11. 430 ton, sedangkan pada tahun 2022 mengalami penurunan menjadi 7. (Data BPS, 2. Kabupaten Rote Ndao secara klimatologis mahalnya dengan iklim didaerah lainnya di NTT yaitu iklim kering di pengaruhi angin musim. Musim hujan yakni dari bulan Desember sampai bulan April dengan temperatur rata-rata 27A C curah hujan 114,1 mm, serta menghendaki tekstur tanah yang gembur dan subur. Salah satu komoditas unggulan Kabupaten Rote Ndao adalah bawang merah. Dengan luas areal pertanian di Rote Ndao terdiri dari lahan basah 515 Ha, dan baru di manfaatkan 613 Ha, sedangkan luas areal lahan 157,90 Ha, dan baru dimanfaatkan untuk budidaya komoditas agribisnis sebesar 795 Ha. Dengan jumlah produksi bawang merah pada tahun 2019sebesar 3. 425,7 ton, pada tahun 2020 mengalami penurunan 2. 775,3, pada tahun 2021 mengalami peningkatan menjadi 595ton dan pada pada tahun 2022 mengalami penurunan menjadi 2. 211 ton (BPS NTT, 2. Hasil produksi bawang merah di Kabupaten Rote Ndao sudah dapat di pasarkan keluar daerah bahkan sudah mendominasi pasar di Kota Kupang dan Belu. Untuk itu perlu dikembangkan lagi, baik dalam budidaya maupun pemasaran bawang merah. Sehingga dapat mencapai pasar p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 nasional dengan harga yang kompetitif, dikembangkan mengingat masih banyak potensi lahan yang belum dimanfaatkan, tersedianya tenaga kerja dan peluang pasar yang masih terbuka baik lokal, regional dan nasional. Kecamatan Rote Timur merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah tertinggi di Kabupaten Rote Ndao dengan produksi bawang pada tahun 2020 sebesar 104 ton, dan pada tahun 2021 mencapai 175ton. Petani di Kecamatan Rote Timur mengusahakan beragam cabang usahatani, seperti menanam bawang merah, semangka, cabai, jagung, padi dan juga menyadap lontar. Bawang merah sebagai komoditas sayuran sangat dibutuhkan dan banyak dikonsumsi dan telah lama diusahakan oleh petani di Kecamatan Rote Timur. Cabang usahatani tersebut bersifat komersial yang dicirikan oleh sebagian besarhasil produksi dijual atau ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar serta sebagian dikonsumsi oleh keluarga petani Budidaya bawang merah dimusim kemarau dapat memberikan keuntungan yang memadai, bagi petani sehingga komoditi ini sudah menjadi salah satu sumber pendapatan. Perdangangan bawang merah terus mengalami peningkatan sejalan dengan semakin besar permintaan (Suki. Desa Serubeba merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao dengan potensi pertanian yang sangat luasyaitu 157,56 Km2. Kondisi tanah dan iklim di desa tersebut sangat mendukung tanaman bawang merah mampu tumbuh dengan baik. Meskipun kondisi tanah dan iklim mendukung dalam proses pelaksanaan petani tentu mengalami kendala. Kendala yang sering dihadapi oleh petani dalam melakukan usahataninya antara lain : Penguasaan lahan yang sempit tentu petani akan mendapat pengahasilan terbatas rata-rata petani di Desa Serubeba hanya memiliki luas lahan 0,5 Ha. Belum lagi masalah kondisi tanah yang kualitasnya tidak optimal karena penggunaan pupuk kimia. Lahan pertanian merupakan salah satu sumber daya utama pada usaha pertanian untuk dijadikan lahan usahatani dalam memproduksi tanaman bawang merah. Pemilihan benih bawang merah, petani kesulitan dalam mendapatkan benih bawang merah yang berkualitas karena keterbatasan akses yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan kurangnya pasokan benih yang memadai didaerah. Kendala yang dihadapi petani yaitu: biaya produksi pertanian seperti biaya Huan, et all. Pendapatan Usahatani Bawang Meraha. a Page 133 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 sewa lahan, benih, pupuk, pestisida dan alat pertanian dapat menjadi kendala bagi petani yang ada dipedesaan dengan modal terbatas. Dalam usahatani di pedesaan sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, istri dan anak-anak petani. Kurangnya pengetahuan petani bawang dalam mengakses informasi tentang teknologi dan perkembangan pasar dapat menghambat kemampuan untuk meningkatkan produksi dan efisiensi usaha pertanian mereka, kesulitan dalam merencanakan dan mengelola usaha dan tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang manajemen keuangan perencanaan bisnis dan pengelolaan resiko. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini telah dilakukan di Desa Serubeba. Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao, yang berlangsung dari bulan Februari sampai bulan Maret 2024. Penentuan Populasi dan Metode Pengambilan Sampel Sugiyono keseluruhan jumlah objek yang mempunyai karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan untuk penelitian. Penentuan sampel dalam penelitian ini adalah secara sengaja (Purposive samplin. , yaitu memilih Desa Serubeba dengan pertimbangan Desa tersebut merupakan daerah yang memiliki petani bawang merah terbanyak. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani di Desa Serubeba sebanyak 250 petani. Sampel dalam pada penelitian ini adalah 50 petani bawang merah di Desa Serubeba dengan pertimbangan yang digunakan adalah petani yang memiliki pengalaman bertani lebih dari 5 tahun, dan mempunyai tanggungan keluarga lebih dari 2 orang serta luas lahan yang dikelolah sebesar 0,1 Ae 1 ha. Petani dengan pengalaman lebih dari 5 tahun biasanya memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang lebih baik dalam berusahatani menjadikan mereka berpikir rasional. Lamanya berusahatani menyebabkan timbul rasa akan tanggung jawab sendiri atas semua yang Soehardjo dan Patong . Tanggungan keluarga dalam usahatani bawang merah merujuk pada anggota keluarga yang terlibat dalam p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 kegiatan usahatani, seperti suami, isteri dan anak-anak. Di Desa Serubeba Sebagian besar memiliki petani dengan luas lahan antara 0,1 Ae 1 Metode Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari tempat penelitian. Untuk memperoleh data dan informasi yang akurat, pengumpulan data langsung dengan responden serta menggunakan instrument yang berupa kuesioner yang diisi langsung oleh responden. Sedangkan data sekunder adalah sumber data yang diperolehdari internet, perpustakaan dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan. Metode Analisis Data Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriftif kualitatif ini berupa kegiatan observasi, wawancara dan dokumentasi yang bertujuan untuk menggambarkan karakteristik petani bawang merah dan kendala yang dihadapi oleh petani dalam melakukan usahatani bawang merah, sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis pendapatan bersih atau keuntungan petani bawang merah dan kelayakan usahatani bawang merah. Pendapatan bersih adalah selisih antara biaya penerimaan dengan biaya pengeluaran usahatani. Kelayakan adalah perbandingan antara jumlah pendapatan dengan total biaya produksi. Untuk mengetahui total penerimaan (Total Revenu. TR dapat dengan menggunakan rumus sebagai berikut: TR = Q x P Dimana: TR=Total Penerimaan (Rp/kg/ ha/musim Q = Total Produksi . g/ ha/musim tana. P= Harga Produksi (Rp/kg/musim tana. Pendapatan bersih bawang merah dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = TR Ae TC TC = FC VC Dimana: = pendapatan bersih (Rp/ ha/musim tana. TR =Total Penerimaan (Rp/ ha/musim tana. TC =Total Biaya (Rp/ ha/musim tana. FC = Biaya tetap (Fixed Cos. VC = Biaya variabel (Variable Cos. Huan, et all. Pendapatan Usahatani Bawang Meraha. a Page 134 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Untuk mengetahui Layak atau tidak usaha untuk dijalankan maka dapat diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut: R/C Ratio R/C Ratio merupakan kriteria uji kelayakan dengan membandingkan besar penerimaan . dengan besar biaya yang dikeluarkan . Penerimaan(Revenu. R/C Ratio = Biaya (Cos. Kriteria : Jika R/C > 1 . : maka usaha layak untuk Jika R/C = 1 . : maka usaha tersebut berada pada titik impas. Jika R/C < 1 . : maka usaha tersebut tidak layak untuk diusahakan. Konsep pengamatan dan Pengukuran Pada penelitian ini ada hal-hal yang menjadi konsep pengamatan dan pengukuran adalah sebagai berikut: Identitas responden Luas lahan . Produksi . on/ar. Harga output/bawang (Rp/K. Biaya tetap . ixed cos. Biaya variable . ariable cos. seperti bibit, pupuk, pestisida dan biaya peralatan. Biaya produksi meliputi biaya tetap dan biaya variable dalam menghasilkan bawang merah (R. Penerimaan usahatani bawang merah (Rp/musim tana. Pendapatan usahatani bawang merah adalah dihitung dengan mengurangi output total . dengan biaya tetap (Rp/musim R/C Ratio merupakan kriteria uji kelayakan dengan membandingkan besar penerimaan . dengan besar biaya yang dikeluarkan . HASIL DAN PEMBAHASAN Kabupaten Rote Ndao merupakan Kabupaten yang paling selatan di Indonesia. Secara administratif kabupaten rote ndao terbagi menjadi 11 kecamatan salah satunya adalah Kecamatan Rote Timur yang Ibu kota Kecamatannya terletak di Eahun. Penduduk merupakan salah satu unsur utama pembentukan suatu wilayah. Krakteristik penduduk merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan atau pembangunan suatu wilayah dengan mempertimbangkan pertumbuhan penduduk, komposisi struktur kepedudukan serta adat p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 istiadat dan kebiasaan penduduk. Kecamatan Rote Timur merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah tertinggi di Kabupaten Rote Ndao dengan produksi bawang pada tahun 2020 sebesar 104 ton, dan pada tahun 2021 mencapai 175 ton. Petani di Kecamatan Rote Timur mengusahakan beragam cabang usahatani, seperti menanam bawang merah, semangka, cabai, jagung, padi dan juga menyadap lontar. Bawang merah sebagai komoditas sayuran sangat dibutuhkan dan banyak dikonsumsi dan telah lama diusahakan oleh petani di Kecamatan Rote Timur. Penelitian ini dilakukan di Desa Serubebayang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Rote Timur dan merupakan salah satu Desa Penghasil bawang merah di Kecamatan Rote Timur. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Pada tahun 2024 jumlah penduduk Desa Serubeba sebanyak 520 (KK), yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 510 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 548 jiwa dengan jumlah keseluruhan banyaknya penduduk yang Mata Pencarian Pokok Mata pencaharian penduduk di Desa Serubeba sebagian besar adalah petani bawang merah, dan ada juga beberapa mata pencarian pokok seperti: Pedagang. PNS. Wirausaha dan Nelayan. Tingkat Pendidikaan Tingkat pendidikan terbanyak yaitu SMA 304 dengan jumlah jiwa dan tingkat pendidikan sarjana dengan jumlah paling sedikit yakni 115 Jiwa. Pengalaman Usahatani Bawang Merah Dilihat bahwa 11 orang . %) petani memiliki pengalaman bertani berkisar 5-10 tahun, 16 orang . %) petani memiliki pengalaman bertani berkisar 11-20 tahun, 18 orang . %) petani memiliki pengalaman bertani berkisar 27-30 tahun, 4 orang . %) petani memiliki pengalaman bertani berkisar 31-40 tahun, dan 1 orang . %) petani memiliki pengalaman bertani lebih dari 40 tahun. Umur Responden di Desa Serubeba Jumlah responden yang paling sedikit berada pada kelompok umur 65 Tahun dengan jumlah 2 responden atau 4% dan yang paling banyak berada pada kelompok umur 41-50 responden atau 42% dan 31 Ae 40 tahun dengan jumlah 15 responden atau 30%. Huan, et all. Pendapatan Usahatani Bawang Meraha. a Page 135 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 Tingkat Pendidikan Responden Di Desa Serubeba Responden pendidikan terbanyak adalah pendidikan SD dengan jumlah 28 responden atau 56% sedangkan 4 orang . %) di tingkat SMP, 10 orang . %) di tingkat SMA dan 4 orang . %) orang di tingkat S1. p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Luas Lahan Responden Di Desa Serubeba Luas Lahan Responden Di Desa Serubebasebagian besar petani memiliki luas lahan tanaman bawang merah tertinggi adalah 0,5 dan presentase 74% dengan jumlah responden 17 orang dan yang paling terendah adalah 0,6 dan presentse 26% dengan jumlah responden 2 orang. Hal ini menunjukan bahwa penguasaan lahan usahatani bawang merah Jumlah Tanggungan Keluarga Responden Di Desa Serubeba Jumlah tanggungan dalam keluarga responden sampel penelitian ini menunjukan bahwa maksimum tanggungan dalam satu keluarga adalah 8 orang yaitu berjumlah 2 orang yaitu 4%, sedangkan jumlah tanggungan minimum 3 orang dengan jumlah 15 orang yaitu 30%. Artinya Sebagian besar responden di Desa Serubeba mempunyai tingkat pengeluaran yang cukup tinggi. Tabel 4. 1 Rincian Biaya Variabel Unit biaya Variabel Bibit Pupuk Urea Pupuk NPK Insektisida (Roundu. Insektisida (Lindom. Herbisida (Sidametr. Herbisida (Greentoni. Tenaga kerja Volume Total Biaya Rata-Rata Biaya 550,000 Total Biaya Sumber : Data Primer Diolah, 2024 Berdasarkan pada tabel 4. 1 dapat diketahui petani di Desa serubeba yang memiliki luas lahan yang paling banyak yaitu 0,1-0,5/Ha dengan jumlah bibit yang dibutuhkan sebesar 600 kg dengan harga 25. 000/kg dan yang terendah yaitu 0,6-1/Ha dengan jumlah bibit yang di butuhkan sebesar 100 kg dengan harga bibit 25. 000/kg. Total pupuk yang diperoleh dari jumlah semua responden petani yang menggunakan pupuk Urea sebanyak 85 karung dalam 1 karung 50 kg dengan harga/karung Rp. 00 dan NPK sebanyak 133 karung dalam 1 karung 50 kg dengan harga/karung Rp. 000 sehingga total biaya pupuk sebesar Rp. 000 dengan ratarata biaya pupuk Rp. Herbisida digunakan untuk yang diperoleh menggunakan Roundup sebanyak 194 botol Sewa Handtraktor (K. (Karung (Karung (Boto. (Boto. (Boto. (Boto. (Ho. Respond Harga Huan, et all. Pendapatan Usahatani Bawang Meraha. a Page 136 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 dengan harga/botol Rp. 000 dan Lindomin sebanyak 143 botol dengan harga/botol Rp. 000 sehingga total biaya Roundup dan Lindomin sebesar 16. 000 dengan rata-rata biaya Roundup dan Lindomi sebesar Rp. Total Insektisida yang diperoleh dari sejumlah petani responden yang menggunakan Sidametri sebanyak 144 botol dengan harga/botol Rp. 000 dan Greentonik sebanyak 232 botol dengan harga/botol Rp. 000, sehingga total biaya Sidametri dan Greentonik sebesar 000 dengan rata-rata biaya dan sebesar p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Rp. Total biaya tenaga kerja yang diperoleh dari sejumlah petani responden yang terdiri dari total biaya tenaga kerja luar keluarga Rp. 000 dan rata-rata Rp. Petani di Desa Serubeba menggunakan handtraktor dengan cara menyewah handtraktor dari petani lain dengan harga sewa Rp. dengan rata-rata biaya sewa 100. Untuk proses pengolahan lahan. Jika pada masa pemupukan tidak terjadi hujan, pemupukan susulan kedua perlu di iringi dengan penyiraman. Tabel 4. 2 Rincian Biaya Tetap Peralatan Total Biaya Umur Ekonomis Harga Peroleha Cangkul Alat Total Biaya Biaya/ Tahun Biaya (Rp/H. Nilai Sisa Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Berdasarkan pada tabel 4. 2 dapat diketahui bahwa total biaya tetap Rp. Biaya tetap adalah biaya yang relatif jumlahnya tetap dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit yang termasuk biaya tetap yaitu cangkul dan alat semprot Cangkul yang digunakan oleh petani bawang merah 50 cangkul dan total biaya cangkul sebesar Rp. 000 dengan rata-rata harga cangkul sebesar Rp. 000/cangkul dan biaya penyusutan cangkul sebesar Rp. 000 jadi total rata-rata biaya penyusutan keseluruhan Rp Alat semprot yang di gunakan oleh petani 50 alat semprot dan total keseluruhan biaya alat semprot Rp. 000 dengan rata-rata harga alat semprot sebesar Rp. 000/alat semprot dan biaya penyusutan alat semprot sebesar Rp. 000 dengan rata-rata biaya penyusutan sebesar Rp. Tabel 4. 3 Penerimaan Usahatani Bawang Merah Produksi (K. Keseluruhan Responden (K. Produksi . Harga (R. Penerimaan (R. Sumber : Data Primer Diolah, 2024 Berdasarkantabel 4. 3 dapat diketahui bahwa total produksi yang didapatkan oleh petani di Desa Serubeba adalah 92. 240 kg/Musim Tanam dengan rata-rata produksi yang dihasilkan setiap petani adalah sebesar 1. 844,8/Ha/kg/musim tanam, dengan harga jual Rata-Rata Produksi (Kg/Responde. Produksi/Ha rata-rata sebesar Rp. 220/Kg sehingga mendapatkan total penerimaan sebesar Rp 000dengan rata-rata penerimaan oleh masing-masing petani adalah sebesar Rp. 656/Musim tanam. Huan, et all. Pendapatan Usahatani Bawang Meraha. a Page 137 Buletin Ilmiah IMPAS Volume 25 No. 3 Edisi November 2024 p-ISSN: 0853-7771 e-ISSN: 2714-8459 Tabel 4. 4 Pendapatan Usahatani Bawang Merah Item Biaya Rata-Rata (Rp/Musim Tana. Produksi . Harga (Rp/k. Total Penerimaan (Rp/H. Biaya Variabel Biaya Tetap Pendapatan (R. Sumber : Data Primer Diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4. 4 Analisis pendapatan dihitung berdasarkan jumlah penerimaan Berdasarkan hal tersebut diatas maka besarnya pendapatan yang diperoleh petani dalam satu kali panen di Desa Serubeba Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao mendapatkan total Rp. 064/MT dengan rata-rata yang diterima oleh masingmasing petani adalah sebesar Rp. 001/MT. Tabel 4. 5 Kelayakan R/C Ratio Uraian Musim Tanam/Rp Total penerimaan Biaya Produksi Pendapatan Kelayakaan (R/C Rati. Sumber : Data Primer Diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4. Dapat diketahui hasil perhitungan analisis kelayakan usahatani bawang merah di Desa Serubeba Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao Berdasarkan hasil perhitungan usahatani bawang merah, diperoleh nilai R/C ratio sebesar 3. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan Hasil penelitian mengenai Pendapatan Usahatani Bawang Merah (Allium ascanolicum L) Di Desa Serubeba Kecamatan Biaya RataRata/ Musim Tanam Rata-Rata Produksi/ Ha Rote Timur Kabupaten Rote Ndao maka disimpulkan bahwa: Pendapatan usahatani bawang merah di Desa Serubeba 00/petani/MT, diperoleh dari selisih antara hasil penerimaan dengan biaya produksi. Rata-rata penerimaan tiap-tiap petani dalam 1 musim tanam sebesar Rp. 656/MT. Total biaya dikeluarkan yang tiap-tiap petani dalam 1 musim tanam sebesar Rp. Usahatani Desa Serubebalayak untuk diusahakan. Dengan nilai R/C Ratio yang didapatkan adalah 3,18, sehingga setiap 1 Rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani akan menjadi 3,18 Rupiah. Saran