PROGRAM PELATIHAN SATUAN PENDIDIKAN AMAN BENCANA (SPAB) Ega Putri Handayani1. Martin Kustati2. Rezki Amelia3. Gusmirawati4 Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang1,2,3,4 putryega2201@gmail. com , martinkustati@uinib. id2, rezkiamelia1987@gmail. com3, gusmirawati27@gmail. ABSTRACT This dedication aims to describe the implementation of the disaster safe education unit (SPAB) training program and describe the collaboration skills of students and zakat institutions in disaster training at the SMA Pembangunan Laboraturium UNP. The method used in this service is the service learning (SL) method. The material was provided using visual power point media, simulations with presentation of the results of each groupAos discussion. The rumah zakat volunteer team trains participants on indoor rescue and emergency first aid. This simulation involves students and teachers because the implementation is made as if a real disaster is occurring, so evacuation routes and gathering points have been determined. The result of service showed that the SPAB program at SMA Pembangunan Laboraturium UNP was implementend face to face with participants consisting of students, teacher and school princinpals. With this simulation, it is hoped that school resident will more easily understand and be prepared to face the threat od disaster. By holding this training activity, it is hoped that the school community can be resilient to disasters through the education sector and carry out the program with more sustainable planning. The program also highlighted the importance of collaborative skills among students and external partners like rumah zakat, fostering a culture of preparedness and resilience within the school environment. The face to face interaction and hands on simulations enable participants to gain practical experience, enhancing their ability to respon effectively to disaster scenarios. This activity underscores the role of educational institutions in disaster risk reduction and aligns with global effort to promot safe educational environments as outlined in the sendai framework for disaster risk reduction. Keywords: Training. Disaster Safe Education Unit. School. Students. Disaster ABSTRAK Pengabdian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) serta mendeskripsikan keterampilan kolaborasi siswa dan lembaga zakat dalam pelatihan kebencanaan di SMA Pembangunan Laboratorium UNP. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah metode service learning (SL). Materi disampaikan menggunakan media visual berupa power point, simulasi dengan penyajian hasil diskusi setiap kelompok. Tim relawan Rumah Zakat melatih peserta tentang penyelamatan di dalam ruangan dan pertolongan pertama darurat. Simulasi ini melibatkan siswa dan guru karena pelaksanaannya dibuat seolah-olah sedang terjadi bencana nyata, sehingga jalur evakuasi dan titik kumpul telah ditentukan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa program SPAB di SMA Pembangunan Laboratorium UNP dilaksanakan secara tatap muka dengan peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan kepala Dengan simulasi ini, diharapkan warga sekolah lebih mudah memahami dan siap menghadapi ancaman bencana. Melalui kegiatan pelatihan ini, diharapkan komunitas sekolah dapat tangguh menghadapi bencana melalui sektor pendidikan dan menjalankan program dengan perencanaan yang lebih berkelanjutan. Program ini juga menyoroti pentingnya keterampilan kolaborasi di antara siswa dan mitra eksternal seperti Rumah Zakat, guna membangun budaya kesiapsiagaan dan ketangguhan di lingkungan sekolah. Interaksi tatap muka dan simulasi langsung memungkinkan peserta memperoleh pengalaman praktis, sehingga meningkatkan kemampuan mereka dalam merespons skenario bencana dengan efektif. Kegiatan ini menegaskan peran institusi pendidikan dalam pengurangan risiko bencana dan sejalan dengan upaya global untuk mempromosikan lingkungan pendidikan yang aman sebagaimana diuraikan dalam Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana. Kata Kunci: Pelatihan. Satuan Pendidikan Aman Bencana. Sekolah. Siswa. Bencana INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 PENDAHULUAN Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2019 tentang pelaksanaan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) menyatakan bahwa SPAB merupakan upaya untuk mencegah dan mengatasi dampak bencana (Noviani dkk. , 2. Bencana adalah peristiwa yang dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja (Ferdy & Wahyuddin, 2024. Umeidini dkk. , 2019. Yuliastanti & Nurhidayati, 2. Bencana alam dapat tiba-tiba melanda suatu wilayah kapan saja. Hal ini sejalan dengan definisi bencana menurut Triana ( 2. , yaitu peristiwa luar biasa yang dapat datang sewaktu-waktu. Indonesia terletak di wilayah ring of fire dan berbatasan dengan tiga lempeng besar dunia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik, yang memiliki potensi memicu bencana alam besar. Indonesia juga memiliki 128 gunung berapi aktif serta sungai besar dan kecil, di mana sekitar 30% di antaranya melintasi kawasan padat penduduk. Pemerintah, lembaga nasional dan internasional, serta LSM berkontribusi dalam edukasi sosial agar masyarakat lebih sadar akan bencana. Kota Padang terletak di Provinsi Sumatera Barat dengan kondisi alam berupa perbukitan dan dataran rendah yang langsung menghadap Samudra Hindia. Kondisi ini membuat Kota Padang rentan terhadap bencana yang paling sering terjadi seperti banjir dan cuaca ekstrem, serta gelombang ekstrem dan abrasi, gempa bumi dan tsunami, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, longsor, kegagalan teknologi, serta rentan terhadap bencana geologi lainnya (Renstra BPBD Kota Padang 2019-2024 | PDF, t. Anak-anak adalah kelompok yang rentan terhadap bencana karena kurangnya pemahaman tentang risiko yang terjadi di sekitar mereka. Anak-anak jauh lebih rentan dibandingkan orang Melalui pembelajaran kebencanaan, kita dapat mempersiapkan anak-anak untuk memainkan peran penting dalam melindungi masyarakat dan menyelamatkan nyawa, sehingga perlu diajarkan sejak dini (Pramesti dkk. , 2023. Qurrotaini dkk. , 2. Mempertimbangkan hal ini, pendidikan kebencanaan merupakan salah satu prioritas penting dalam upaya pengurangan risiko bencana, terutama dalam mitigasi bencana ((Indriasari & Kusuma, 2020. Oktradiksa dkk. , 2023. Rasadi dkk. , 2. Pendidikan kebencanaan di Indonesia menjadi salah satu prioritas arahan Presiden untuk pengurangan risiko bencana pada tahun 2019. Meskipun telah terjadi kemajuan yang signifikan dalam pencegahan bencana pada skala nasional dan internasional, bencana tetap menghancurkan sekolah-sekolah dan memengaruhi komunitas di sekitarnya (Amri dkk. , 2022. Harijoko dkk. , 2. Dalam hal pengalokasian sumber daya untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi bencana, termasuk sekolah, hal ini sangat penting. Berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada tahun 2005 dalam Hyogo Framework for Action tahun 2005, prioritas pengurangan risiko bencana harus diimplementasikan di sektor pendidikan. Jika ini tidak dilakukan secara konsisten, akan sulit untuk menciptakan generasi dan sekolah yang tangguh terhadap bencana jika anak-anak tidak dipersiapkan untuk menghadapi bencana (Ansyari, 2022. Danhas, t. Pahleviannur, 2. Peran masyarakat dalam pengelolaan bencana adalah hak dan kewajiban untuk mendapatkan perlindungan serta kehidupan sosial yang aman dan harmonis melalui pendidikan, pelatihan, keterampilan, informasi, serta pengambilan keputusan untuk diri sendiri dan komunitasnya. Sekolah sebagai bagian dari komunitas juga berperan dalam mendukung penguatan manajemen bencana dan kegiatan pendukung lainnya secara efisien, efektif, dan akuntabel (Badri, 2018. Badruli & Nur. Haksama dkk. , 2. Berdasarkan tabel indeks risiko bencana kabupaten/kota tahun 2022 yang dibuat oleh BNPB dalam buku indeks risiko bencana Indonesia. Kota Padang memiliki indeks risiko bencana yang tinggi dengan skor 179,03. Sektor pendidikan merupakan salah satu tujuan pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana. Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dibentuk sebagai program alternatif. Program SPAB bertujuan menanamkan budaya aman dan kesiapsiagaan bencana di sekolah. Hal ini didasarkan pada banyaknya sekolah atau madrasah yang berada di daerah rawan bencana. INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 Pendidikan mitigasi bencana tidak hanya relevan pada tingkat lokal, tetapi juga menjadi prioritas dalam agenda global seperti yang diamanatkan oleh Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030, yang menekankan peran pendidikan dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana. Gempa bumi tahun 2009 yang menghancurkan banyak infrastruktur di Padang, termasuk sekolah, menjadi pengingat pentingnya membangun ketahanan komunitas sekolah di daerah rawan bencana seperti Padang. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi non-pemerintah seperti Rumah Zakat, dan institusi pendidikan memegang peranan penting dalam memastikan keberhasilan program SPAB, baik dalam hal penyediaan sumber daya maupun panduan teknis. Selain meningkatkan kesiapsiagaan, program SPAB juga bertujuan membangun kapasitas mental dan emosional siswa untuk menghadapi bencana, menciptakan generasi yang lebih responsif terhadap risiko bencana di masa depan. Keberlanjutan program SPAB sangat penting untuk memastikan pelatihan dan pendidikan kebencanaan dapat terus dilaksanakan, terutama melalui integrasi ke dalam kurikulum nasional dan penyediaan pelatihan rutin bagi siswa dan guru. SMA Pembangunan Laboratorium UNP adalah sekolah atau madrasah yang terletak di Kota Padang, tepatnya di kawasan kampus UNP di Jl. Air Tawar. Padang Utara. Lokasinya sangat dekat dengan pantai dan termasuk dalam zona merah yang rawan gempa bumi dan tsunami. SMA Pembangunan Laboratorium UNP berpotensi mengalami bencana gempa bumi. Tercatat pada April 2023, gempa bumi melanda madrasah dan penduduk sekitarnya, menyebabkan kepanikan di kalangan warga sekolah, yang sebelumnya juga terguncang oleh gempa besar tahun 2009 yang menghancurkan bangunan dan menyebabkan banyak korban jiwa. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat sangat dibutuhkan dalam menghadapi bencana, di antaranya dapat dilakukan dengan meningkatkan kapasitas warga sekolah. Untuk mengurangi potensi risiko bencana di masa depan, langkah strategis perlu diambil, dimulai dari penilaian risiko Pengetahuan tentang kemungkinan bencana dan integrasi manajemen bencana menjadi lebih efektif. Pelatihan program SPAB di SMA Pembangunan Laboratorium UNP diadakan selama dua hari, mulai 7-8 Agustus 2023. Tujuan dari kegiatan fasilitasi SPAB ini adalah untuk membangun budaya kewaspadaan, budaya keselamatan, dan budaya pengurangan risiko bencana di sekolah, serta membangun ketahanan menghadapi bencana oleh warga sekolah secara terencana, terintegrasi, dan terkoordinasi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Program ini bertujuan memberikan perlindungan kepada siswa, guru, dan komunitas sekolah dari ancaman dan dampak bencana, menyebarluaskan dan mengembangkan pengetahuan tentang bencana ke komunitas yang lebih luas melalui jalur pendidikan sekolah, memberikan rekomendasi kepada pihak terkait mengenai kondisi struktur bangunan sekolah, dan mengembangkan program SPAB. Manfaat kegiatan fasilitasi SPAB ini antara lain mengurangi gangguan terhadap aktivitas pendidikan, sehingga memberikan kesehatan, keselamatan, kelayakan termasuk bagi anak berkebutuhan khusus, kenyamanan, dan keamanan di sekolah dan madrasah setiap saat. Tempat belajar yang lebih aman memungkinkan identifikasi dan dukungan untuk bantuan kemanusiaan lainnya bagi anak-anak dalam situasi darurat hingga pemulihan pascabencana, dapat digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, dan merupakan fasilitas sosial yang sangat penting dalam memerangi kemiskinan, buta huruf, dan gangguan kesehatan. Sekolah juga dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam mengoordinasikan respons dan pemulihan pascabencana, serta sebagai rumah darurat untuk melindungi tidak hanya populasi sekolah tetapi juga komunitas tempat sekolah Pelatihan dan pendidikan kebencanaan perlu dijadikan sistem dan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan kebencanaan yang terstruktur, konsisten, dan berkelanjutan. Selain itu, penting juga melibatkan masyarakat dalam pendidikan kebencanaan, khususnya dalam membantu sekolah mengimplementasikan program SPAB (Dwarawati dkk. , 2023. Savitri dkk. , 2021. Tahmidaten & Krismanto, 2. Dalam melaksanakan program pelatihan SPAB, dibutuhkan pengelolaan yang kompeten dengan harapan program dapat diimplementasikan secara optimal INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 sesuai target dan tujuan awal yang telah ditetapkan (Dimaputri & Mujahidin, 2023. Wicaksono & Sibuea, 2. Oleh karena itu, pelatihan terkait program SPAB perlu dilakukan karena masih banyak lembaga pendidikan, terutama sekolah, yang berada di wilayah dengan potensi ancaman bencana yang tinggi dan sangat sedikit pelatihan terkait SPAB yang telah dilakukan. METODE PENELITIAN Pengabdian ini menggunakan metode service learning (SL), di mana pelatihan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMA Pembangunan Laboratorium UNP dilaksanakan dengan tahapan: dimulai dengan pengenalan dan pembukaan, penyampaian materi teoritis, simulasi, dan rencana tindak lanjut. Berikut adalah jadwal kegiatannya: Waktu Kegiatan Pemateri Pembukaan Panitia Tilawah QurAoan Panitia Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Tangguh BNPB Panitia Sambutan Rumah Zakat Disaster Risk Reduction Manager Rumah Zakat Sambutan Kepala Sekolah Sekaligus Membuka Acara Kepala Sekolah SMA Pembangunan Laboraturium UNP DoAoa Panitia Coffe Break Panitia Sesi Perkenalan Fasilitator 20- 09,35 Penyepakatan Rules of The Game Fasilitator Pengantar SPAB Fasilitator Pengantar Penanggulangan dan Pengurangan Risiko Bencana Fasilitator ISHOMA Panitia Kajian Risiko Bencana Partisipatif Fasilitator Pembuatan Peta Risiko Bencana Partisipatif Fasilitator Pembuatan Tim Siaga Bencana Sekolah Fasilitator Penyusunan Perencanaan Tugas TSBS Fasilitator INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 Penyusunan Prosedur Tetap Kedaruratan Sekolah Fasilitator Home Sweet Home All Ice Breaking Panitia Review Materi Hari Pertama Peserta Penyusunan Rencana Aksi Sekolah Fasilitator Rencana Tindak Lanjut (RTL) Fasilitator Coffe Break Panitia Pengantar Pertolongan Pertama Fasilitator ISHOMA Panitia Ice Breaking Panitia Perencanaan Simulasi Fasilitator Simulasi Fasilitator Home Sweet Home All Gambar 1. Pengenalan dan pembukaan. Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk memperkenalkan peserta pada tujuan kegiatan pelatihan serta harapan yang ingin dicapai dari pelatihan tersebut. Kegiatan ini terdiri dari sesi penyambutan oleh panitia atau penyelenggara pelatihan, perkenalan narasumber dan peserta melalui sesi pengenalan singkat, penjelasan singkat mengenai pengelolaan dan pengurangan risiko bencana, serta penyampaian materi teoretis yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan guru dan kepala sekolah SMA Pembangunan Laboratorium UNP dalam pengelolaan bencana di sekolah. Setiap sesi penyampaian materi berlangsung selama satu jam dengan alokasi waktu 30 menit untuk presentasi materi dan 30 menit untuk diskusi. Gambaran kegiatan pelatihan dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3 di bawah ini. INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 Gambar 2. Peserta mendengarkan materi dari narasumber Gambar 3. Peserta mendengarkan dan. mengikuti arahan dari narasumber Tahap kedua adalah simulasi. Simulasi partisipasi peserta dalam pengelolaan bencana dilakukan oleh SMA Pembangunan Laboratorium UNP secara berkelompok. Permainan simulasi ini dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan peran peserta dalam pengelolaan bencana di Setiap kelompok diminta untuk memetakan apa saja yang perlu dilakukan dalam kegiatan pra-bencana, tanggap darurat, dan pasca-bencana. Kegiatan ini dilaksanakan selama 120 menit sekaligus, dengan tahap presentasi hasil diskusi dari setiap kelompok. Gambaran kegiatan simulasi dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5 di bawah ini. Gambar 4. Simulasi Kelompok Gambar 5. Penyajian Hasil Diskusi INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 Gambar 6. Penutupan HASIL DAN PEMBAHASAN Pelatihan program SPAB di SMA Pembangunan Laboratorium UNP dilakukan secara tatap muka di SMA Pembangunan Laboratorium UNP, dengan peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan kepala sekolah. Materi disampaikan menggunakan media presentasi PowerPoint, simulasi, dan presentasi hasil diskusi setiap kelompok. Tim relawan Rumah Zakat melatih peserta mengenai penyelamatan di dalam ruangan dan pertolongan pertama pada kecelakaan. Simulasi ini melibatkan siswa dan guru karena pelaksanaannya dibuat seolah-olah terjadi bencana nyata, sehingga jalur evakuasi dan titik kumpul telah ditentukan. Dengan simulasi ini, diharapkan warga sekolah dapat lebih mudah memahami dan siap menghadapi ancaman bencana. Dengan diadakannya kegiatan pelatihan ini, diharapkan warga sekolah dapat lebih tangguh terhadap bencana melalui sektor pendidikan dan melaksanakan program ini dengan perencanaan yang lebih berkelanjutan. Desain program pelatihan SPAB ini mencakup semua proses yang dibutuhkan dalam perencanaan dan pelaksanaan. Desain pelatihan yang dilaksanakan berupa pemaparan materi potensi bencana di lingkungan sekolah. Hal ini jelas menggambarkan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencapai tujuan dari program pelatihan SPAB ini, yaitu perizinan, penentuan waktu, persiapan, dan pelaksanaan. Saat memberikan izin kepada sekolah, tim relawan Rumah Zakat terlebih dahulu membuat proposal izin yang dimaksudkan sebagai titik awal untuk meminta izin pelaksanaan pelatihan program SPAB. Beberapa sekolah telah mengajukan proposal ini dan SMA Pembangunan Laboratorium UNP adalah yang menerima dan dijadikan tempat pelaksanaan SPAB. Sebelumnya, tim relawan Rumah Zakat telah membahas tujuan dan sasaran dalam proposal ini hingga akhirnya memperoleh persetujuan. Kemudian, menentukan waktu yang tepat untuk melaksanakan pelatihan program SPAB, keputusan ini dapat dibuat setelah berdiskusi dengan pihak sekolah baik langsung maupun melalui media, dan ditetapkan pada tanggal 7-8 Agustus 2023. Setelah itu, tim Rumah Zakat mulai mempersiapkan semua kebutuhan yang diperlukan agar kegiatan pelatihan program SPAB dapat berjalan lancar. Selanjutnya, pelaksanaan dimulai dengan pembukaan acara SPAB yang diawali dengan pembacaan ayat-ayat al-QurAoan dan doa. Setelah itu, narasumber menyampaikan materi mengenai pengenalan singkat tentang SPAB. Kemudian, dilakukan penyusunan dokumen SPAB secara berkelompok yang dipandu oleh narasumber, penyusunan prosedur tetap (PROTAP) untuk SMA Pembangunan Laboratorium UNP dan materi PPGd untuk SMA Pembangunan Laboratorium UNP TSBS. Terakhir, dilakukan presentasi hasil diskusi mengenai penyusunan dokumen SPAB oleh setiap kelompok. Dapat dilihat tingkat keberhasilan kegiatan pelatihan bagi siswa, yaitu tercapainya tujuan pertama untuk memberikan pendidikan mengenai peran siswa dalam manajemen bencana di sekolah untuk mendukung program satuan pendidikan aman bencana (SPAB). Tujuan kedua adalah untuk mendemonstrasikan peran siswa dalam manajemen bencana di sekolah untuk mendukung program satuan pendidikan aman bencana (SPAB). Dengan memberikan materi berupa pemahaman tentang bencana, dampak yang ditimbulkan akibat bencana, dan upaya mitigasi bencana. Anak-anak INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 sendiri memiliki kerentanannya yang lebih tinggi terhadap bencana dibandingkan orang dewasa, oleh karena itu anak-anak masih belum dapat mengendalikan dan mempersiapkan diri saat bencana Dengan demikian, siswa membutuhkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih dalam mengenai kesiapsiagaan bencana, sehingga cara yang tepat adalah dengan mensosialisasikan kesadaran bencana (Qurrotaini dkk. , 2. Pelaksanaan pelatihan program satuan pendidikan aman bencana (SPAB) yang dilaksanakan di lingkungan SMA Pembangunan Laboratorium UNP dalam manajemen bencana, memungkinkan siswa untuk memperoleh pengetahuan yang kompleks atau luas dalam penanganan saat terjadi bencana. Deskripsi Pekerjaan Tim Kesiapsiagaan Bencana Sekolah (TSBS) SMA Pembangunan Laboratorium UNP. Orang yang bertanggung jawab sebelum bencana terjadi mengkoordinasikan dengan ketua tim mengenai kemungkinan yang akan terjadi dan mencari solusi alternatif untuk mengatasi masalah yang muncul. Ketika bencana terjadi, menyediakan tempat dan sarana transportasi, mencari sumber berita yang terpercaya, berkoordinasi dengan ketua tim, dan memastikan semua upaya penyelamatan berjalan lancar. Setelah bencana terjadi, berkoordinasi dengan tim untuk memastikan semua korban mendapat layanan yang baik. Kepala TSBS, sebelum bencana terjadi, mencatat setiap data siswa dan guru, memeriksa atau mengoordinasikan setiap persiapan lapangan, mengamankan dokumen sekolah, mempersiapkan warga sekolah untuk tetap waspada dan siaga, serta memberikan ketenangan kepada warga sekolah. Ketika bencana terjadi, menenangkan warga sekolah, mempersiapkan warga sekolah untuk menuju titik kumpul, bersama warga sekolah menuju titik kumpul, memeriksa ruang kelas atau ruangan sekolah dan memastikan semuanya aman dan tertutup. Setelah bencana terjadi, memeriksa kondisi warga sekolah, mencatat berapa banyak anak yang sudah bertemu dengan orang tua, mendampingi anak-anak yang belum bertemu dengan orang tua, berkoordinasi dengan semua bidang mengenai kebutuhan yang ada dan kebutuhan darurat, berkoordinasi dengan aparat desa atau pemerintah, mengondisikan pendidikan anak-anak di tempat pengungsian atau yang tidak mengungsi . ekolah darura. , mempersiapkan guru untuk menghilangkan trauma anak, dan menciptakan suasana yang kondusif untuk anak-anak melanjutkan pembelajaran. Sebelum bencana terjadi, sekretaris mencatat data anak-anak dan menuliskannya dalam buku khusus, bersama ketua merencanakan rencana kontinjensi sekolah, mempersiapkan dokumen yang akan disimpan jika terjadi bencana. Ketika bencana terjadi, mencatat siswa saat berada di titik kumpul, membuat laporan ketika siswa berada di tempat pengungsian. Setelah bencana terjadi, membuat laporan atau melaporkan kondisi sekolah dan data lainnya kepada ketua dan pihak terkait. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari pelaksanaan pelatihan program satuan pendidikan aman bencana (SPAB) di SMA Pembangunan Laboratorium UNP adalah meningkatnya pemahaman dan Pelatihan ini berhasil mendidik siswa dan guru tentang pentingnya kesiapsiagaan Materi yang diberikan mencakup pengertian bencana, dampaknya, dan langkah-langkah Melalui simulasi yang menyerupai skenario bencana nyata, peserta lebih memahami peran mereka dan prosedur evakuasi. Pelaksanaan yang Sistematis dan Lancar Pelatihan dilaksanakan secara sistematis, mulai dari perizinan, penjadwalan, persiapan, hingga pelaksanaan. Tidak ada hambatan yang signifikan, karena semua aspek telah dipersiapkan dengan baik. Partisipasi aktif peserta, baik siswa maupun guru, menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan. Siswa aktif terlibat dalam penyampaian materi, diskusi kelompok, dan simulasi bencana. Efektivitas Relawan dan Pelatihan Tim relawan Rumah Zakat secara efektif melaksanakan pelatihan dengan pendekatan interaktif, termasuk simulasi dan pertolongan pertama dalam situasi darurat (PPGD). Ini meningkatkan pemahaman peserta tentang upaya penyelamatan dan langkah mitigasi bencana. Pembentukan Tim Kesiapsiagaan Bencana Sekolah (TSBS) pelatihan ini juga melibatkan pembentukan dan penjabaran peran Tim Kesiapsiagaan Bencana Sekolah (TSBS), yang memastikan kesiapan di semua tahap bencana: sebelum, saat, dan setelah bencana. Setiap fungsi tim, seperti evakuasi, kesehatan, logistik, dan dokumentasi, dijelaskan dengan jelas untuk INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 mendukung kesiapsiagaan yang berkelanjutan. Membangun Komunitas Sekolah yang Tangguh Bencana. Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan komunitas sekolah yang lebih tangguh terhadap bencana melalui pendidikan, pelatihan berkelanjutan, dan penerapan prosedur operasi standar (SOP) yang jelas. Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan pelatihan program satuan pendidikan aman bencana (SPAB) di SMA Pembangunan Laboratorium UNP, termasuk bahwa program SPAB sangat diperlukan di SMA Pembangunan Laboratorium UNP mengingat sekolah ini sering mengalami bencana gempa bumi akibat lokasinya yang berada di ketinggian. Berdasarkan penilaian partisipatif. SMA Pembangunan Laboratorium UNP memiliki ancaman bencana gempa bumi dengan indeks ancaman tertinggi, yaitu gempa bumi dengan total angka ancaman 8. Berdasarkan penilaian kerentanannya, ada beberapa bangunan yang sudah tua, sehingga rentan terhadap retakan atau keruntuhan, beberapa pintu kelas terbuka ke dalam, dan sekolah kurang siap secara finansial menghadapi bencana. Berdasarkan penilaian kapasitas. SMA Pembangunan Laboratorium UNP telah menerima pelatihan mengenai ancaman bencana dan metode evakuasi. Selain itu, sekolah ini memiliki halaman luas sebagai titik kumpul sementara. Secara keseluruhan, pelatihan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran di kalangan seluruh anggota sekolah mengenai manajemen bencana. Pelatihan ini menunjukkan bahwa program SPAB dapat menjadi model berkelanjutan di sektor pendidikan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan responsif terhadap bencana. Selain itu, program SPAB di SMA Pembangunan Laboratorium UNP diharapkan memiliki dampak jangka panjang, tidak hanya dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana tetapi juga dalam membentuk budaya kesiapsiagaan di kalangan siswa dan guru. Dengan pendidikan yang berkelanjutan dan pelatihan rutin, sekolah ini siap menjadi model bagi institusi pendidikan lain dalam menghadapi potensi bencana. Melalui integrasi topik terkait bencana dalam kurikulum, generasi mendatang akan lebih siap menghadapi tantangan bencana. Keberhasilan program SPAB sangat bergantung pada kolaborasi antara sekolah, pemerintah, organisasi seperti Rumah Zakat, dan komunitas lokal. Kemitraan ini memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana dan memastikan bahwa program ini dapat menjangkau lebih banyak sekolah di daerah rawan bencana. Ke depannya, penting untuk memperluas kolaborasi ini untuk melibatkan lebih banyak pihak, seperti lembaga donor dan sektor swasta. Evaluasi rutin harus dilakukan setelah setiap pelatihan dan simulasi bencana untuk memastikan program tetap efektif dan relevan. Evaluasi ini harus meninjau prosedur evakuasi, memperbaiki infrastruktur sekolah yang usang, dan memperkuat kapasitas kesiapsiagaan siswa dan guru. Program ini harus beradaptasi dengan perkembangan terbaru dalam mitigasi bencana dan kondisi geologi yang berubah di daerah tersebut. Penggunaan teknologi juga sangat dianjurkan untuk meningkatkan pelatihan kesiapsiagaan bencana. Alat digital seperti sistem peringatan dini, pemetaan risiko bencana, dan simulasi bencana virtual dapat membantu meningkatkan waktu respons dan memperluas peluang pelatihan. Keberlanjutan program SPAB juga bergantung pada dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah daerah dan nasional. Sangat penting bagi pemerintah untuk mengalokasikan dana khusus untuk pelaksanaan program ini, seperti renovasi bangunan sekolah dan peralatan Kebijakan yang mengintegrasikan mitigasi bencana dalam pengembangan pendidikan akan berkontribusi untuk menciptakan sekolah yang lebih aman dan tangguh. SMA Pembangunan Laboratorium UNP memiliki potensi untuk menjadi model bagi sekolah lain, memberikan wawasan berharga dari pelatihan dan simulasi yang dapat diadaptasi oleh sekolah lain di daerah rawan Dengan melibatkan komunitas lokal dalam pelatihan bencana, sekolah dapat menjadi pusat koordinasi, membantu membangun komunitas yang lebih siap dan tangguh. Bendahara, sebelum bencana terjadi, mencatat kebutuhan yang diperlukan. Ketika bencana terjadi, mencatat pengeluaran dana untuk kebutuhan keuangan. Setelah bencana terjadi, membuat laporan. Tim data dan informasi, sebelum bencana terjadi, mencari data siswa dan guru serta informasi bencana. Ketika bencana terjadi, mencatat semua siswa dan guru, membunyikan lonceng, memberikan INOVASI Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 petunjuk menuju titik kumpul. Setelah bencana, mencatat semua siswa dan guru . ang sakit, terluk. , mencatat kerusakan bangunan . uangan, ruang kelas, kantor, perpustakaan, toile. Sebelum bencana terjadi, tim evakuasi dan penyelamatan menyimpan dokumen di tempat yang mudah dijangkau dan dibawa, mempersiapkan peralatan evakuasi. Ketika bencana terjadi, membawa dan mengamankan dokumen, menyelamatkan warga sekolah. Setelah bencana terjadi, memeriksa dan mengembalikan dokumen ke sekolah, membantu membersihkan sekolah setelah Sebelum bencana terjadi, tim pelatihan memberikan pelatihan kepada seluruh anggota sekolah, melakukan sosialisasi kepada orang tua siswa, meningkatkan kapasitas dan pengetahuan tentang bencana. Ketika bencana terjadi, membantu tim evakuasi, menyelamatkan dokumen Setelah bencana terjadi, membantu dalam kegiatan pembelajaran, pemulihan trauma, dan menciptakan sekolah darurat. Sebelum bencana terjadi, tim kesehatan melaksanakan pelatihan PPGD dan menyiapkan peralatan pertolongan pertama. Ketika bencana terjadi, membantu dan merawat korban, mencatat korban, merujuk korban yang tidak dapat ditangani ke pos kesehatan atau fasilitas kesehatan terdekat. Setelah bencana terjadi, memantau kondisi korban setelah bencana. Sebelum bencana terjadi, tim logistik mempersiapkan makanan dan minuman, menyiapkan peralatan konsumsi . ompor gas, piring, sendok, panci, dl. Ketika bencana terjadi, memberikan makanan dan minuman kepada korban bencana, menyiapkan logistik untuk pengungsi. Setelah bencana terjadi, membuat laporan, membersihkan peralatan dan perlengkapan logistik. Hasilnya adalah berupa presentasi pelatihan materi dan simulasi kepada siswa mengenai mitigasi bencana. Targetnya adalah siswa kelas 11 SMA Pembangunan Laboratorium UNP bersama beberapa guru pendamping. Pada dasarnya, kegiatan pelatihan ini berjalan lancar dan sesuai Tidak ada hambatan yang serius mengingat kegiatan dilaksanakan dengan persiapan yang matang mulai dari perizinan, penentuan waktu, persiapan, hingga pelaksanaan. Peserta pelatihan sangat antusias mengikuti kegiatan, siswa aktif memperhatikan penyampaian materi dan bertanya saat ada yang kurang dipahami. Setelah pelatihan, dilakukan presentasi materi dan simulasi. REFERENSI