Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2024, pp. 028 Ae 034 PENINGKATAN PENGETAHUAN GURU DALAM MEMBERIKAN LAYANAN KESEHATAN PADA ABK Yulia Arifin1. Rizka Ausrianti2. Ilham Akerda Edyyul3. Sandriana Dwi Nandika4. Dindry Dinah Oswi5. Tika Putri Yesi6. Novi Hardiana7. Khaerunnisa Eka Putri8. Lingga Hadi Abdillah9 1,6,7Prodi S1 Kebidanan/Universitas MERCUBAKTIJAYA 2,4,5Prodi S1 Keperawatan/Universitas MERCUBAKTIJAYA 3,8,9Prodi Di Terapi Wicara/Universitas MERCUBAKTIJAYA E-mail korespondensi: arifinyulia04@gmail. Abstrak: Latar Belakang: Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata "Anak Luar Biasa (ALB)" yang menandakan adanya kelainan khusus. ABK memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dan lainnya. Maka dari itu, keberadaan pendamping bagi anak berkebutuhan khusus memiliki makna yang berarti bagi proses perlindungan dan tumbuh kembangnya. Bukan hanya orang tua saja yang berperan dalam pertumbuhan kesehatan fisik dan mental anak. Dalam hal ini guru juga berperan penting dalam pertumbuhan kesehatan fisik dan mental anak berkebutuhan khusus. Maka untuk mendukung hal tersebut diperlukan guru pengetahuan guru yang baik tentang kesehatan fisik dan jiwa agar dapat mewujudkan siswa yang tidak hanya sehat secara fisik saja tetapi juga mental dan sosial serta mempunyai produktivitas yang optimal melalui kegiatan pembelajaran di sekolah. Metode: Kegiatan ini di selenggarakan di SLB Muhamadiyah IX Pauh Padang, yang di awali sosialisasi terkait kesehatan secara fisik dan di lanjutkan sosialisasi kesehatan mental dan menkombinasikan ke dalam rencana proses pembelajaran. Kegiatan ini di ikuti oleh 25 orang siswa dan 15 orang guru. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan tanggal 1 Desember Kegiatan dimulai dari tahap penyusunan proposal, perizinan dan persiapan pada bulan November 2022. Hasil: Sebelum dilakukan sosialisasi dan latihan didapatkan bahwa sebahagian besar pengetahuan guru dan siswa terkait kesehatan fisik dan mental yaitu 75 % kurang, dan setelah dilakukan sosialisasi dan latihan terkait kesehatan fisik dan mental yaitu 50 % baik. Data menunjukan bahwa pengetahuan guru dan siswa meningkat menjadi baik. Kesimpulan : Responden diharapkan mampu mensosialisasikan dan mengaplikasikan ke seluruh warga sekolah terkait kesehatan fisik dan mental. Diharapkan dapat menghilangkan serta memperkecil permasalahan yang di keluhkan berhubungan dengan permasalahan fisik dan Kata Kunci: Kesehatan Fisik dan Mental. Pengetahuan. ABK Abstract: Background: Children with Special Needs (ABK) is another term to replace the word "Extraordinary Child (ALB)" which indicates the presence of a special disorder. ABK has different characteristics from one another. Therefore, the existence of a companion for children with special needs has a meaningful meaning for the process of protection and growth and development. It is not only parents who play a role in the growth of children's physical and mental health. In this case, teachers also play an important role in the growth of the physical and mental health of children with special needs. So to support this, teachers need good teacher knowledge about physical and mental health in order to realise students who are not only physically healthy but also mentally and socially and have optimal productivity through learning activities at school. Method: This activity was held at SLB Muhamadiyah IX Pauh Padang, which was initiated by socialization related to physical health and continued socialization of mental health and combined ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2024, pp. 028 - 034 into a learning process plan. This activity was attended by 25 students and 15 teachers. This community service activity will be held on December 1, 2022. The activity starts from the stage of preparing proposals, permits and preparations in November 2022. Result: Before socialization and training, it was found that most of the knowledge of teachers and students related to physical and mental health was 75% less, and after socialization and training related to physical and mental health, which was 50% good. Data shows that the knowledge of teachers and students has improved to be good. Conclusion: Respondents are expected to be able to socialize and apply to all school residents regarding physical and mental health. It is hoped that it can eliminate and minimize the problems complained of related to physical and mental problems Keywords: Physical and Mental Health. Knowledge. ABK Pendahuluan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata "Anak Luar Biasa (ALB)" yang menandakan adanya kelainan khusus. ABK memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dan lainnya. Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang mengalami keterbatasan atau keluarbiasaan, baik fisik, mental, sosial maupun emosional, yang berpengaruh secara signifikan dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia dengannya (Widiana, 2. Banyak masyarakat yang memandang sebelah mata anak dengan kebutuhan Dengan adanya stigma tersebut maka hak atas pendidikan bagi penyandang kelainan atau ketunaan ditetapkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32, disebutkan bahwa pendidikan khusus . endidikan luar bias. merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, metal. Ketetapan dalam Undang-Undangan No. 20 Tahun 2003 tersebut bagi anak penyandang kelainan sangat berarti karena memberi landasan yang kuat bahwa anak berkelaianan perlu memperoleh kesempatan yang sama sebagaimana yang diberikan kepada anak normal lainnya dalam hal pendidikan dan pengajaran (Infodatin, 2. Anak berkebutuhan khusus mempunyai hak yang sama dengan anak lain dan dapat hidup mandiri, berprestasi sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki. Untuk itu, orangtua, keluarga, dan masyarakat wajib bertanggungjawab memenuhi hak-hak anak dalam segala aspek kehidupan, seperti bersosialisasi di lingkungan, berekreasi, dan berkegiatan lain yang bertujuan memperkenalkan anak berkebutuhan khusus dengan kehidupan di luar rumah. Maka dari itu, keberadaan pendamping bagi anak berkebutuhan khusus memiliki makna yang berarti bagi proses perlindungan dan tumbuh kembangnya. Bukan hanya orang tua saja yang berperan dalam pengembangan bakat anak tersebut. Dalam hal ini guru penting dalam pengembangan bakat anak dengan kebutuhan khusus (Nugroho, 2. Maka untuk mengatasi hal tersebut diperlukan peningkatan pengetahuan guru dalam memberikan layanan pada ABK termasuk dalam kesehatan. Salah satu peningkatan pengetahuan guru yaitu dengan memberikan edukasi kepada guru sehingga dapat memberikan layanan yang optimal khususnya tentang kesehatan pada ABK. Pengetahuan yang di harapkan diketahui guru tidak hanya masalah kesehatan ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2024, pp. 028 - 034 secara fisik saja namun juga kesehatan mental sehingga dapat memfasilitasi siswa ABK secara keseluruhan. Berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi pengabdi dengan guru SLB Muhamadiyah Pauh IX Padang. Kendala yang banyak dialami oleh guru saat ini adalah kurangnya pengetahuan guru khususnya masalah kesehatan baik kesehatan fisik ataupun kesehatan mental dalam memberikan layanan pada ABK. Dan hal ini terlihat sikap guru dalam memperlakukan siswa sama seperti anak di sekolah umum. Strategi sekolah saat ini hanya berupa belajar secara mandiri dan diseminasi guru senior. Solusi yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan di SLB Muhamadiyah Pauh IX Padang yaitu memberikan edukasi kepada guru khususnya masalah kesehatan fisik dan kesehatan mental serta memasukan ke dalam rencana proses pembelajaran sehingga siswa dapat mengikuti secara terstrutur dalam memberikan layanan pada ABK. Selain itu, dapat meningkatkan pengetahuan guru sehingga dapat memberikan layanan yang optimal khususnya bidang Kesehatan. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan padang tanggal 1 Desember 2022 di SLB Muhamadiyah Pauh IX Padang. Kegiatan dimulai dari tahap penyusunan proposal, perizinan dan persiapan pada bulan November 2022. Tabel 1. Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat Penanggung Materi Hari/Tanggal Waktu Jawab Sosialisasi Yulia Arifin Kamis, 1 00 Ae 10. kesehatan fisik Desember 2022 WIB tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat di sekolah Sosialisasi Rizka Ausrianti Kamis, 1 45 Ae 11. Kesehatan Mental Desember 2022 WIB Pada ABK Bimbingan Teknis Ilham Arkerda Kamis, 1 00 Ae 12. Eddiyull Desember 2022 WIB kedalam rencana Kegiatan ini dilakukan pada Guru yang ada di SLB Muhamadiyah Pauh IX Padang serta siswa SLB. Metode pengabdian masyarakat ini adalah deskriptif. Sebelum kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan, tim melakukan pretest dan di akhiri dengan post Kegiatan pretest dan posttest dilakukan untk mengukur pengetahuan tim tentang kesehatan jiwa dan psikososial pada remaja. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2024, pp. 028 - 034 Hasil Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan 1 bulan yang terdiri dari tahap persiapan, pelaksanaan dan pelaporan serta evaluasi. Persiapan dilakukan dengan kegiatan pembuatan proposal, mengurus perizinan dan mempersiapkan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk pemberian sosialisasi kepada Guru dan Siswa SLB muhamadiyah Pauh IX Padang, dengan mempersiapkan berupa powerpoint, leaflet. Intrumen pembuatan rencana proses pembelajaran (RPP) serta alat- alat yang lainnya yang di butuhkan untuk kegiatan pengabdian masyarakat. Sosialisasi ini diikuti oleh 15 orang guru serta 25 Siswa. Tabel 2. Hasil Pengetahuan tentang Kesehatan Jiwa Dan Psikososial Pada Remaja Tingkat Pengetahuan Sebelum Baik 12,5 % Cukup 12,5 % Kurang Setelah Baik Cukup Kurang Diskusi Sosialisasi dan pemberian materi terkait program kesehatan fisik dan mental ke mitra sebagai upaya meningkatkan pemahaman serta pengetahuan mitra tentang kesehatan fisik dan mental pada peserta didik. Sosialisasi pembuatan atau memasukkan ke dalam rencana proses pembelajaran dan bimbingan teknis terkait dengan penggunaan RPP tersebut ke Tim pelaksana di sekolah. Peningkatan pengetahuan guru tentang Kesehatan jiwa dan psikososial remaja sebesar 12,5%. Sebelum penyuluhan pengetahuan guru tentang Kesehatan jiwa dan psikososial berada dalam kategori cukup sebesar 12,5% tetapi setelah penyuluhan pengetahuan guru meningkat menjadi baik sebesar 50%. Peningkatan pengetahuan ini terjadi karena guru mengikuti kegiatan penyuluhan ini dengan antusias. Pengetahuan Kesehatan jiwa dan psikososial ini sangat dibutuhkan guru dalam menghadapi sikap anak berkebutuhan khusus. Keberadaan pendamping bagi anak berkebutuhan khusus memiliki makna yang berarti bagi proses perlindungan dan tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, pengetahuan dan peningkatan kapasitas pendamping, yaitu orangtua, keluarga, dan masyarakat, dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus sejak dini akan memberikan dampak signifikan dalam merawat, memelihara, mendidik, dan meramu bakat atau potensi yang dimiliki setiap anak berkebutuhan khusus. Kesiapan dan kesiagaan orang tua dan keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus merupakan kunci sukses penanganan, ditambah dukungan dari masyarakat dan pemerintah dalam menyediakan lingkungan dan fasilitas yang ramah terhadap anak ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2024, pp. 028 - 034 berkebutuhan khusus. Dukungan dalam bentuk komitmen konstitusional negara bagi anak berkebutuhan khusus telah dijamin dalam perundang-undangan dan kelembagaan pemerintah dalam mendorong peningkatan perlindungan anak tanpa diskriminasi (Humaira Fajerina Rima, 2. Berkaitan dengan komitmen tersebut telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011, tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Convention On The Rigths Of Persons With Disabilitie. dan diterbitkanya Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus. Kedua peraturan perundangan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan dan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus (Nugroho, 2. Penanganan anak berkebutuhan khusus, memerlukan keberpihakan kultural dan struktural dari berbagai pihak baik orangtua, masyarakat dan pemerintah. Hal ini karena masih adanya pemahaman yang keliru dan sikap diskriminatif terhadap anak berkebutuhan khusus di lingkungan keluarga dan masyarakat, baik dalam bentuk verbal maupun non verbal. Selain itu anak berkebutuhan khusus rentan mendapatkan kekerasan dan perlakuan salah. Dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus, para pendamping memerlukan pengetahuan tentang anak-anak tersebut, keterampilan mengasuh dan melayaninya. Anak berkebutuhan khusus perlu mendapat dorongan, tuntunan, dan praktek langsung secara bertahap. Potensi yang dimiliki anak-anak berkebutuhan khusus akan tumbuh berkembang seiring dengan keberhasilan peran pendamping dalam memahami dan memupuk potensi anak-anak tersebut. Gambar 1 . Pembukaan Pengabdian Masyarakat Gambar 2. Sosialisasi Kesehatan Fisik ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2024, pp. 028 - 034 Gambar 3. Sosialisasi Kesehatan Mental Gambar 4. Bimtek Pembuatan RPP Gambar 5. Penutupan Kesimpulan dan Saran Tingkat pengetahuan guru dan siswa di SLB Muhamadiyah IX Pauh Padang sebelum dilakukan sosialisasi menunjukan sebahagian besar kurang yaitu 75 %, serta setelah dilakukan sosialisasi menunjukan peningkatan yaitu sebahagian besar baik yaitu 50 %. Guru yang telah di edukasi dan telah dilatih diharapkan mampu menyiapkan dan memasukkan ke dalam Rencana Proses Pembelajaran sehingga dapat di berikan kepada siswa secara bertahap. Selain itu siswa dapat mengerti tentang kesehatan tidak hanya sebatas kesehatan fisik saja namun harus mengetahui sampai ke kesehatan mental siswa. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/jam. Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Juni, 2024, pp. 028 - 034 Ucapan Terima Kasih