Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 1 April 2025. Hal. BPPMSTAKTerpaduPesat Mengembangkan Bahan Ajar Sekolah Minggu Kontekstual: Pelatihan Guru Sekolah Minggu Sinode GKJTU Santosa 1*. Ahmad Tabrani 2 Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu PESAT Salatiga . santosa@stak-pesat. Article History Submitted: 21 September 2024 Accepted: 28 November 2024 Published: April 2025 Keywords: Teaching Materials. Training. Sunday School Teachers Kata-kata kunci: Bahan Ajar. Pelatihan. Guru Sekolah Minggu Abstract The church plays an important role in educating its congregation from an early Sunday School serves as one of the educational platforms for the congregation, making its quality a crucial aspect to consider. The quality of Sunday School services is closely related to the quality of its teachers. The Synod of the Central Northern Java Christian Church (GKJTU) recognizes the importance of improving teacher quality and, therefore, organized training on developing contextual teaching materials. This training was conducted in collaboration with lecturers from the AuSTAK Terpadu Pesat SalatigaAy as part of a Community Service Program (PKM). The training employed various methods, including brainstorming, lectures, demonstrations, question-and-answer sessions, group work, mentoring, presentations, and evaluations. Overall, the program successfully enhanced participants' knowledge and skills in developing teaching materials. Further mentoring is necessary to assist training participants in implementing the preparation of teaching materials according to the contextual needs of their respective churches. Abstrak Gereja memiliki peran penting mendidik jemaat sejak usia dini. Sekolah Minggu merupakan salah satu wadah pendidikan bagi jemaat, sehingga sangat penting perhatikan Kualitas layanan Sekolah Minggu tidak lepas dari kualitas Guru Sekolah Minggunya. Sinode Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) menyadari pentingnya peningkatan kualitas guru, maka diselenggarakan pelatihan dengan topik mengembangkan bahan ajar kontekstual. Pelatihan bekerjasama dengan Dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Terpadu Pesat Salatiga dalam bentuk PKM. Pelaksanaan PKM menggunakan beberapa metode antara lain: brainstorming, ceramah, demonstrasi, tanya jawab, kelompok kerja, pendampingan, presentasi, dan evaluasi. Pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta menyusun bahan ajar. Diperlukan pendampingan pada peserta pelatihan sebagai langkah tindak lanjut di dalam mengimplementasikan penyusunan bahan ajar sesuai kebutuhan konteks gereja masing-masing. Copyright: @2025. Authors. 44 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga PENDAHULUAN Gereja . memiliki tugas pemuridan, penginjilan, pengajaran dan pembaptisan yang dikenal sebagai Amanat Agung, tertuang dalam Kitab Matius 28:19-20. Mengacu pada amanat tersebut, maka dijumpai amanat secara eksternal yaitu melakukan penginjilan dan pelayanan kasih kepada umat manusia yang belum percaya kepada Yesus Kristus. Sedangkan amanat atau panggilan gereja secara internal merupakan berbagai bentuk layanan kepada umat Kristiani, berupa pengajaran, pemuridan, persekutuan . dan pelayanan . Meninjau Matius 28: 19-20, ada empat kata kerja penting yaitu: pergilah . IEAC / poreuthente. , muridkanlah (EAsEEA / matheteusat. , baptislah (AEEAC / baptizonte. , dan ajarlah (EEAC / didaskonte. Secara khusus kata EEAC . dari kata EO menurut The New International Version (NIV) diterjemahkan sebagai: teaching, sedangkan di dalam Alkitab Terjamahan Lama (TL) diterjemahkan AumengajarAy. Hasan Sutanto mengartikannya sebagai: AumengajarkanAy. AumengajarAy (Sutanto, 2. iEEAC berbentuk kata kerja participle (Verb Present Participle Active - Nominative Masculine Plura. , bentuk waktu bersifat present. Sebagai bentuk participle. AumengajarAy mengandung makna bahwa mengajar hendaknya terus menerus dilakukan dalam proses pendewasaan rohani gereja. Yesus menghendaki para Rasul dan gereja masa kini menanamkan ketetapan Allah melalui pengajaran (Darmawan, 2. Purwanto, dkk menyatakan perintah mengajar memiliki peran penting agar murid memperoleh pengetahuan keimanan dalam Kristus dan melakukan perintah-Nya (Purwoto, 2. Mengajar bertujuan mendewasakan kehidupan umat Kristiani di berbagai tingkatan usia. Pendewasaan iman, spiritual dan karakter merupakan bentuk layanan internal gereja yang sangat penting dilakukan. Setiap individu tidak cukup hanya memiliki kepercayaan dan keyakinan keselamatan dalam Yesus Kristus, tetapi hendaknya memiliki kedewasaan Rohani. Pendidikan Kristen adalah wadah mendewasakan iman dan spiritualitas umat di berbagai tingkatan usia. Pendidikan Kristen menurut Werner C. Graendorf adalah proses belajar mengajar yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan mengandalkan Roh Kudus sebagai sumber Memperlengkapi dan melibatkan murid dalam pelayanan efektif, mengacu pada sikap hidup meneladani Yesus Kristus, sehingga menghasilkan murid dewasa (Pazmino, 2012, pp. 118Ae Sedangkan Robert W. Pazmino mendefinisikan pendidikan Kristen berdasarkan konsepkonsep yang dikemukakan oleh Lawrence Cremin bahwa pendidikan Kristen adalah suatu usaha manusia dan Ilahi, memiliki tujuan, disusun secara sistematis, membagikan pengetahuan, nilai, sikap, keterampilan, kepekaan dan tingkah laku yang konsisten berlandaskan iman Kristen (Pazmino, 2012, p. Menilik kedua definisi di atas, maka Pendidikan Kristen memiliki peran krusial mendewasakan spiritualitas umat Kristiani. Pendidikan Kristen konteks gereja dapat dilakukan misalnya dalam bentuk: Ibadah raya. Sekolah Minggu, persekutuan kaum remaja. Persekutuan kaum muda. Persekutuan kaum ibu-ibu. Persekutuan kaum Bapak-Bapak, dan pembinaan-pembinaan Rohani lain yang dikembangkan oleh gereja masing-masing. Sekolah Minggu sebagai wadah pendidikan Kristen memiliki peran penting bagi pertumbuhan gereja. Penelitian Hadi Siswoyo menyatakan bahwa pendidikan Kristen di Sekolah 45 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Minggu membentuk karakter dan iman anak (Siswoyo, 2. Apalagi jika pembelajaran Firman Tuhan dilakukan secara kreatif dan berpusat pada anak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan rohani, demikian hasil penelitian Mikha Augus W dan Nostry (Widiyanto & Nostry. Kemudian menilik pandangan Karnawati dan Mardiharto bahwa Sekolah Minggu tidak hanya bertujuan mendewasakan Rohani, tetapi agar anak mampu menyaksikan imannya kepada orang lain (Karnawati & Mardiharto, 2. Meninjau hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa Sekolah Minggu memiliki peran efektif mendewasakan iman, spiritualitas, kedisiplinan rohani dan karakter anak. Maka oleh sebab itu, setuju dengan pandangan Santosa bahwa Sekolah Minggu sebagai pusat pendidikan anak gerejawi, hendaknya dikemas secara kreatif dan inovatif, apa lagi ada di dalam era digital saat ini (Santosa, 2. Mengembangkan Sekolah Minggu efektif, kreatif, inovatif, kontekstual, berpusat pada anak tidak lepas dari kualitas pendidik atau Mengembangkan kualitas pendidik atau guru Sekolah Minggu menjadi keniscayaan bagi gereja sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan Sekolah Minggu. Pemimpin gereja memiliki peran utama mengembangkan pelatihan Guru-guru Sekolah Minggu. Segenap Pimpinan Sinode Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU), khususnya komisi Sekolah Minggu bekerjasama dengan Dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Terpadu Pesat melaksanakan pengabdian masyarakat dalam bentuk kegiatan pembekalan bagi Guru-guru Sekolah Minggu. Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertujuan memperlengkapi Guru-guru Sekolah Minggu dalam hal: . Meningkatkan pemahaman dan kemampuan teknik bercerita Alkitab pada Anak. Meningkatkan pemahaman pentingnya penggunaan alat peraga dalam pengajaran Sekolah Minggu. Meningkatkan kemampuan Menyusun bahan ajar Sekolah Minggu. Melalui PKM ini diharapkan peserta dapat menjadi Guru Sekolah Minggu kreatif, berpusat pada anak dalam mengajar dan mengembangkan bahan ajar. METODE Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan bersama Sinode di Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) dalam bentuk pelatihan. Ada tiga tahap pelaksanaan PKM, yaitu: pertama, tahap persiapan. Tahap ini, komisi bidang pelayanan Sekolah Minggu, panitia dan perwakilan Dosen STAK Terpadu Pesat melakukan pemetaan peserta dan perencanaan pelaksanaan pelatihan. Kedua, tahap pelaksanaan. Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 24-26 Oktober 2024 di gedung Sabda Mulia. Salatiga. Ketiga, tahap refleksi berupa evaluasi pelaksanaan kegiatan dan rencana tindak lanjut peserta pelatihan. Guna mengetahui peningkatan pengetahuan dan keterampilan, evaluasi dilakukan menggunakan penilaian presentasi kelompok dan melalui instrumen yang dikemas dalam google form. Metode yang digunakan selama pelaksanaan PKM antara lain: Metode brainstorming, dipilih dan digunakan untuk menciptakan suasana menjadi cair dan aktif antara peserta pelatihan. Pemilihan dan penggunaan metode brainstorming diharapkan dapat menginspirasi peserta agar dapat diadopsi dalam mengajar anak-anak Sekolah Minggu di tempat pelayanan masing-masing. 46 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Metode ceramah, digunakan ketika menyampaikan materi, dibantu menggunakan media LCD dalam bentuk powerpoint. Metode demonstrasi, digunakan ketika pemateri menyampaikan teknik bercerita, menggunakan alat peraga kontemporer dan menunjukkan bahan ajar Sekolah Sekolah Minggu kontekstual yang telah disusun. Metode tanya jawab. Metode tanya jawab mengakomodir bagi peserta yang masih belum memiliki pemahaman atau masih kesulitan terhadap materi diterimanya. Metode tanya jawab juga memberikan ruang bagi peserta menanyakan topik-topik lain yang masih ada hubungannya dengan topik pelatihan. Metode kelompok kerja, metode ini digunakan sebagai penkdalaman materi yang telah disampaikan pemateri. Peserta dibagi menjadi lima kelompok, tiap kelompok beranggotakan lima sampai enam peserta. Tiap kelompok diberi tugas menyusun kurikulum mengacu pada materi yang telah dipelajari dalam pelatihan. Metode pendampingan, metode ini digunakan pada saat peserta mempraktekkan penyusunan bahan ajar di kelompok masing-masing. Metode presentasi, metode ini bertujuan memberikan kesempatan setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja dalam kelompok, yang berupa bahan ajar anak Sekolah Minggu. Pada kesempatan ini, narasumber memberikan evaluasi bersifat konstruktif terhadap hasil karya setiap peserta. Metode evaluasi, bertujuan mengevaluasi tingkat keterampilan dan pemahaman peserta terhadap materi pelatihan. Evaluasi bertujuan mengetahui peningkatan peserta dan evaluasi terhadap kegiatan PKM sebagai bahan perbaikan. Tiga tahap pelaksanaan PKM meliputi: persiapan, pelaksanaan dan refleksi . terlaksana dengan baik tanpa kendala yang berarti. Tahap pelaksanaan, khususnya penerapan metode kerja kelompok dan presentasi menjadi momen penting peserta dalam praktek menyusun kurikulum Sekolah Minggu. Peserta memperoleh pengalaman secara langsung menghasilkan produk kurikulum. HASIL Pelaksanaan PKM Sekolah Minggu merupakan pendidikan Kristen konteks gerejawi, memiliki peran penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan gereja. Oleh sebab itu, maka layanan Sekolah Minggu baik itu sumber daya pengajarnya, manajemen layanan, penyediaan dan pengembangan sarana prasarana hendaknya mendapatkan perhatian dari gereja. Memandang pentingnya kualitas guru Sekolah Minggu, maka Komisi anak Sinode GKJTU melaksanakan pembekalan bagi Guru-guru Sekolah Minggu bekerjasama dengan Dosen di Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Terpadu Pesat dilaksanakan dalam bentuk pengabdian masyarakat. PKM dihadiri perwakilan gereja-gereja Sinode GKJTU antara lain: GKJTU Jemaat Bojonegoro. GKJTU Siloam Tunjung Harjo. GKJTU EFATA Kendal Samirono. GKJTU Jemaat Puyang. GKJTU jemaat Immanuel Semarang. GKJTU Butuh Lor. GKJTU Salatiga. GKJTU Kopeng. GKJTU Blora. GKJTU Tempurung Purwodadi. 47 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Pelaksanaan PKM bagi guru-guru Sekolah Minggu Sinode GKJTU lebih spesifik dalam peningkatan kualitas guru menyusun kurikulum dan mengembangkan suasana belajar menarik, menyenangkan berpusat pada anak. Materi pertama pelaksanaan PKM yaitu: Metode dan Teknik Bercerita pada Anak Sekolah Minggu. Materi disampaikan menggunakan metode ceramah. Metode ini digunakan dalam menyampaikan materi. Selanjutnya pemateri menggunakan metode Mendemonstrasikan teknik bercerita pada anak Sekolah Minggu, yang meliputi: teknik suara, intonasi, mimik atau raut muka, gerak tubuh, dan teknik menciptakan rasa ingin tahu. Peserta diberi kesempatan bergantian menirukan teknik yang dicontohkan oleh pemateri. Kemudian peserta diberikan waktu tanya jawab terhadap materi yang belum dipahami atau ingin Gambar 1 dan 2: Peserta Mendemonstrasikan Teknik Sulap Dan Pendampingan Menyusun Bahan Ajar. Materi kedua pelaksanaan PKM yaitu: penggunaan alat peraga dalam pengajaran Sekolah Minggu. Pemaparan materi menggunakan metode, ceramah, demonstrasi dan unjuk kerja. Pemateri menyampaikan materi menggunakan metode ceramah, selanjutnya menggunakan metode demonstrasi. Pemateri mendemonstrasikan jenis-jenis dan cara menggunakan alat peraga Secara bergantian, peserta PKM diberi kesempatan mencoba menggunakan alat peraga yang telah disiapkan dan dicontohkan oleh pemateri. Melalui pemanfaatan alat peraga diharapkan Firman Tuhan lebih mudah dipahami oleh pendengar atau anak Sekolah Minggu. Sesi \ketiga peserta belajar penyusunan bahan ajar Sekolah Minggu. Pemateri menggunakan metode ceramah di dalam menyampaikan konsep-konsep penyusunan bahan ajar. Metode tanyajawab digunakan untuk memberi kesempatan peserta mendalami atau menanyakan bagian materi belum Sesi keempat dan kelima pemateri melakukan pendampingan penyusunan bahan ajar. Peserta dibagi menjadi lima kelompok, setiap kelompok diberi kesempatan Menyusun satu bahan Kemudian pada sesi keenam dan ketujuh, masing-masing kelompok diberi kesempatan 48 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga mempresentasikan hasil karyanya. Pemateri memberikan evaluasi terhadap hasil presentasi masing-masing kelompok. Gambar 3 Dan 4: Presentasi Kelompok dan Evaluasi Perkembangan Peserta PKM Teknik Penyampaian Cerita Oral Alkitab Ditinjau dari hasil evaluasi, diperoleh Gambaran sebesar 67% menyatakan bahwa materi sangat sesuai, dan 33% menyatakan sesuai dengan dengan kebutuhan peserta PKM dalam mengembangkan pelayanan Sekolah Minggu kreatif. Dikarenakan peserta pelatihan merupakan guru-guru dan bukan calon guru Sekolah Minggu, maka lebih mudah memahami inti materi dan menerapkannya secara pribadi maupun ditularkan pada guru lain di tempat pelayanan. Pentingnya Alat Peraga Kontemporer Berdasarkan hasil evaluasi, peserta PKM menyatakan materi pengembangan alat peraga sangat penting, sangat sesuai kebutuhan dan dapat diterapkan sebesar 83%, dan sisanya 17% menyatakan cukup sesuai kebutuhan. Pemanfaatan dan pengembangan alat peraga memang tidak Dibutuhkan kreatifitas, daya inovasi dan kerja keras dari masing-masing guru. Melalui materi ini peserta memperoleh dorongan dan contoh menjadi guru kreatif, dalam mengembangkan pelayanan Sekolah Minggu kreatif. Teknik penyampaian cerita oral Alkitab Sangat Sesuai Sesuai Cukup Kurang Sesuai Alat Peraga Kontemporer 17%0% Sangat sesuai Sesuai Cukup Kurang Sangat Kurang Sesuai Sangat Kurang Gambar 5: Teknik Penyampaian Cerita Oral Alkitab Gambar 6: Alat Peraga Kontemporer 49 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Termotivasi mengembangkan alat peraga secara mandiri dalam melayani anak Sekolah Minggu. Materi mengembangkan alat peraga, sangat berdampak terhadap motivasi peserta mengembangkan alat peraga secara mandiri sebesar 83% dan sisanya 17% berdampak terhadap motivasi peserta. Melalui materi ini, peserta memperoleh wawasan bahwa penyediaan alat peraga tidak harus mahal, tetapi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan barang-barang bekas yang ada disekitar. Materi alat peraga kontemporer menambah peningkatan keterampilan mengajar anak Sekolah Minggu Berdasarkan hasil evaluasi, sebesar 67% peserta PKM menyatakan bahwa materi pengembanbangan alat peraga kontemporer sangat sesuai menambah peningkatan keterampilan dalam mengajar Sekolah Minggu. Kemudian sebesar 17% menyatakan sesuai, dan 16% menyatakan cukup sesuai kebutuhan menambah keterampilan mengajar. Termotivasi Mengembangkan Alat Peraga 17%0% Sangat sesuai Sesuai Cukup Kurang Sangat Kurang Gambar 7: Mengembangkan Alat Peraga Materi alat peraga kontemporer menambah peningkatan keterampilan Sangat sesuai Sesuai Cukup Kurang Sangat Kurang Gambar 8: Alat Peraga Menambah Keterampilan Mengajar Materi metode penulisan bahan ajar Sekolah Minggu. Ditinjau dari hasil evaluasi, materi metode penulisan bahan ajar Sekolah Minggu sebesar 83% peserta menyatakan sangat memperoleh manfaat atau sangat sesuai kebutuhan, dan 17% menyatakan sangat sesuai kebutuhan. Peserta PKM membutuhkan teknik penulisan bahan ajar secara praktis dan kontekstual yang selama ini dibutuhkan oleh guru-guru Sekolah Minggu di Sinode GKJTU. Materi metode penulisan bahan ajar Sekolah Minggu menginspirasi peserta mengembangkan bahan ajar Sekolah Minggu. Materi metode penulisan bahan ajar sebesar 67% sangat menginspirasi, 17% menginspirasi dan 16% menginspirasi peserta pelatihan mengembangkan bahan ajar Sekolah Minggu. Materi metode penulisan bahan ajar memberikan peningkatan pengetahuan dan inspirasi peserta PKM khususnya konsep dan pengembangan strategi pembelajaran menggunakan 4 dinamika, yaitu: dinamika instruksional, dinamika relational, dinamika pengalaman dan dinamika spiritual. 50 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Metode Penulisan Bahan Ajar Sekolah Minggu 17%0% Materi Metode Penulisan Bahan Ajar Menginspirasi Peserta Sangat sesuai Sesuai 17%0% Cukup Sangat sesuai Sesuai Cukup Kurang Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Gambar 9: Penulisan Bahan Ajar Gambar 10: Penulisan Bahan Ajar Menginspirasi Materi penulisan bahan ajar meningkatkan keterampilan mengembangkan bahan ajar Sekolah Minggu Berdasarkan hasil evaluasi sebesar 33% materi penulisan bahan ajar meningkatkan keterampilan dan sebesar 67% peserta menyatakan sangat bermanfaat meningkatkan keterampilan penyusunan bahan ajar di Sekolah Minggu. Melalui pembelajaran kerja kelompok, pembimbingan langsung dari pemateri dan presentasi hasil karya, peserta lebih mudah mengaplikasikan materi penulisan bahan ajar yang diterimanya. Penulisan Bahan Ajar Meningkatkan Keterampilan Sangat Sesuai Sesuai Cukup Kurang Sesuai Sangat Kurang Sesuai Gambar 11: Penulisan Bahan Ajar Meningkatkan Keterampilan Menyusun Bahan Ajar Secara keseluruhan hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan mengembangkan bahan ajar sangat sesuai kebutuhan peserta. Materi dan metode pelatihan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. Peserta pelatihan yang juga berperan sebagai Guru Sekolah Minggu berkomitmen mengembangkan bahan ajar sesuai dengan konteks atau kebutuhan anak Sekolah Minggu gereja masing-masing. PEMBAHASAN Pelayanan Sekolah Minggu memiliki peran penting membangun kualitas iman dan spiritualitas gereja. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa di era disrupsi teknologi digital pelayanan Sekolah Minggu menghadapi berbagai bentuk tantangan. Salah satu tantangan bahwa teknologi digital melahirkan digital native . ribumi digita. Digital native merupakan sebuah istilah bagi kelompok usia yang dilahirkan di tengah-tengah era teknologi digital. Generasi tersebut 51 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga memiliki ciri sudah terbiasa dengan teknologi digital sejak usia dini, lebih cerdas menggunakan berbagai bentuk platform digital baik sebagai sarana belajar, memenuhi kebutuhan hidup, atau sebagai sarana hiburan dibandingkan generasi sebelumnya. Menilik ciri digital native tersebut, maka pelayanan Sekolah Minggu hendaknya dikembangkan secara kreatif, inovatif sesuai dengan konteks generasi yang dilayani. Maka sebab itu penting gereja mengembangkan kurikulum berpusat pada anak. Lois E. Lebar menekankan agar nilai-nilai Kristiani sebagai isi pokok kurikulum dan penekanan pengalaman tidak boleh dihilangkan atau dikurangi dalam penyusunan kurikulum (Lebar, 2006, p. Senada pandangan tersebut. Robert Pazmino berpandangan pentingnya menggabungkan konten Kristen maupun pengalaman dalam kurikulum, yaitu agar pikiran atau kehidupan peserta didik dipengaruhi dan diubahkan oleh kebenaran Allah (Pazmino, 2012, p. Dari kedua pandangan teolog tersebut, maka penting memperhatikan konteks pengalaman tidak hanya konten nilai-nilai Kristiani ketika menyusun kurikulum. Bahan ajar kontekstual berpusat pada anak akan efektif jika implementator mampu menerjemahkan dan menerapkan melalui proses pembelajaran yang menarik, kreatif, berpusat pada anak sesuai konteks kehidupan anak. Meninjau hasil evaluasi pelaksanaan PKM, maka penting mengembangkan kurikulum kontekstual sesuai dengan kebutuhan gereja GKJTU masing-masing peserta. Kurikulum kontekstual artinya bahwa kurikulum tersebut disusun berdasarkan kebutuhan, suasana atau keadaan gereja lokal. Gereja GKJTU dapat mengembangkan kurikulum Sekolah Minggu kontekstual didasarkan pada tujuan kurikulum yang tentunya linier dengan visi dan misi gereja. Bahan ajar disusun tidak hanya pada pengembangan konsep keimanan Kristiani tetapi juga pada penerapan pembelajaran kontekstual. Tujuan pembelajaran kontekstual yakni mengintegrasikan antara isi materi dengan fakta kehidupan, sehingga pembelajaran tertanam (Sulistiyaningrum & Fathurrahman, 2. dan mengakar kuat pada anak Sekolah Minggu. Penerapan strategi dan metode pembelajaran dilakukan dengan cara kreatif, inovatif, mengedepankan keaktifan anak Sekolah Minggu. Kemudian pemanfaatan teknologi, alat peraga dan media pembelajaran sesuai konteks gereja masing-masing. Mengembangkan kurikulum, bahan ajar dan penerapannya tidak lepas dari kualitas Guru Sekolah Minggu. Yohanes Siagian dan Andreas Eko. N melalui hasil penelitiannya menyimpulkan pentingnya gereja memiliki standar proses rekrutmen dan menentukan kualifikasi calon Guru Sekolah Minggu (Siagian & Nugroho, 2. Pandangan tersebut efektif jika diterapkan pada gereja kota, atau gereja dengan jumlah jemaat tinggi. Akan tetapi akan menimbulkan persoalan jika diberlakukan pada gereja dengan tingkat jumlah jemaat rendah atau kecil. Gereja dengan jumlah jemaat kecil cenderung mengalami persoalan keterlibatan jemaat dalam melayani baik pelayanan kaum dewasa maupun di Sekolah Minggu. Oleh sebab itu maka peran pemimpin menjadi sangat penting. Marista. S, menyatakan untuk memajukan pelayanan anak, maka pemimpin gereja berhak dan berkewajiban mengorganisir jemaat turut aktif terlibat pelayanan anak (Simaremare, 2. Setuju pandangan tersebut, maka kesimpulannya sangat jelas bahwa pemimpin gereja baik tingkat lokal maupun tingkat sinode memiliki peran penting meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayan di Sekolah Minggu. Peran penting tersebut dapat diwujudkan 52 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga penyusunan program terencana dan terstruktur berupa pemberdayaan bagi guru-guru Sekolah Minggu. Pemberdayaan dapat berupa: pemberian seminar, pelatihan, penyediaan pendampingan, penyediaan sarana prasarana pengembangan diri, menyediakan media pembelajaran, menyediakan sarana prasarana menyusun kurikulum dan bahan ajar. Berikutnya pemimpin gereja dapat menjalin kerjasama dengan pengiat pelayanan anak kristen. Sekolah Tinggi Teologi. Yayasan Kristiani atau kerjasama antar gereja dalam rangka meningkatkan kualitas guru Sekolah Minggu. KESIMPULAN Sekolah Minggu sebagai wadah pendidikan jemaat penting mendapatkan perhatian khusus sebagai upaya meningkatkan kualitas iman, spiritualitas dan karakter jemaat. Sinode Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) menyadari pentingnya meningkatkan kualitas layanan Sekolah Minggu. Melalui penyelenggaraan pelatihan komisi anak Sinode GKJTU mengharapkan terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun bahan ajar. Secara keseluruhan pelatihan menyusun bahan ajar kontekstual mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. Sebagai langkah tindak lanjut hasil PKM maka perlu adanya pendampingan berkelanjutan bagi peserta pelatihan dalam menyusun bahan ajar Sekolah Minggu sesuai dengan kebutuhan konteks gereja masing-masing. UCAPAN TERIMA KASIH