Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN TRAINER KIT INSTALASI MOTOR LISTRIK Frida Hasana*1. Novriyanti 2. Aqil Aqthobirrobbany3. Dewi Triantini 4 Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Jayabaya. Indonesia1,2,3 Jurusan Pendidikan Teknik Elektro,Fakultas Teknik. Universitas Negeri Makassar. Indonesia4 email: fridahasana@jayabaya. id, novriyanti@jayabaya. id, aqilaqthobirrobbany@jayabaya. triantini@unm. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa antara yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah berbantuan trainer kit dengan yang tidak menggunakanya. Hasil belajar tersebut dilihat dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui seberapa efektifnya penggunaan trainer kit ditinjau dari aspek kognitif. Penelitian ini berjenis kuasi eksperimen dengan desain penelitian Non-Equivalent Control Group Design. Hasil belajar dari kelas eksperimen dan kelas kontrol kemudian dianalisis menggunakan Uji T dan Uji Gain dengan nilai signifikansinya sebesar 0,05. Setelah dilakukan analisis. Uji T menunjukan bahwa nilai signifikansi aspek kognitif . ,002 < 0,. , nilai signifikansi aspek afektif . ,004 < 0,. , dan signifikansi aspek psikomotor . ,00 < 0,. Sedangkan hasil rata-rata Uji Gain menunjukan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol . ,566 > 0,. Data tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis masalah berbantuan trainer kit lebih efektif meningkatkan hasil belajar Kata kunci: Quasi Experiment. Problem-Based Learning. Trainer Kit ABSTRACT This research aim to determine differences in student learning outcomes between those who use a problem-based learning model assisted by trainer kit with those who do not use it. The learning outcomes are seen from the cognitive, affective, and psychomotor aspects of students. Beside that, this research also to find out how effective the use of the trainer kit in terms of cognitive aspects. This study was a quasi-type experiment with research design Non-Equivalent Control Group Design. Learning outcomes from the experimental class and the control class were then analyzed using the T test and Gain test with a significance value of 0. After analysed, the T test shows that the cognitive aspects of the significance value . 002 < 0. , significance value of affective aspects . 004 < 0. , and significance of psychomotor aspects . 00 < 0. While the average Gain test results show that the experimental class learning outcomes are higher than the control class . 566> 0. The data concludes that the use of a problem-based learning model assisted by trainer kits is more effective in improving student learning outcomes. Keywords: Quasi Experiment. Problem-Based Learning. Trainer Kit PENDAHULUAN Pembelajaran pembelajaran yang dapat menghidupkan suasana kelas dan dapat menciptakan komunikasi dua arah yang efektif antara guru dengan siswa. Sehingga diharapkan tidak hanya guru saja yang aktif di dalam kelas. Selain merencanakan pembelajaran hingga melatih keterampilan siswa (Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008a Tentang Gur. (Kemendikbud. Untuk mempermudah tugas-tugas pokok tersebut, guru mendapatkan hak untuk dapat menggunakan sarana dan prasarana berupa media pembelajaran atau trainer kit (Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008b Pasal . (Kemendikbud, 2. Trainer kit merupakan suatu set peralatan berbentuk tiga dimensi yang digunakan di laboratorium atau (Rahmadiyah & Sondang, 2. Sedangkan merupakan segala sesuatu yang dapat berfungsi untuk menyampaikan informasi selama proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sehingga dapat menstimulasi minat dan perhatian siswa (Arsyad, 2. Media pembelajaran seperti trainer kit dapat dikatakan sebagai alat bantu siswa untuk memahami dan mengerti materi pelajaran sehingga dapat diingat lebih lama (Rusman, 2. Pemilihan jenis media pembelajaran juga harus diperhatikan oleh guru. Ketepatan jenis media dengan tujuan pembelajaran haruslah disesuaikan di awal perencanaan KBM. Kepraktisan media dan keterampilan guru dalam menggunakan media pembelajaran juga harus sudah terukur sebelumnya, sehingga media pembelajaran tersebut dapat digunakan secara maksimal (Sudjana & Rivai, 2. Langkah selanjutnya yang tidak kalah penting yaitu pemilihan model ajar sebagai metode penyampaian materi pembelajaran. https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 404 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Model pembelajaran jenis Problem Based Learning (PBL) kini mulai banyak diterapkan pada KBM, hal ini dikarenakan model pembelajaran ini lebih berorientasi pada kinerja siswa secara kelompok atau mandiri untuk melakukan pemecahan masalah secara inkuiri (Nurdyansyah & Fahyuni, 2. Model pembelajaran jenis PBL ini memiliki beberapa tahapan yang perlu dilakukan guru dalam membantu proses KBM siswa, di antaranya . mengorientasikan siswa kepada . mengorgasasikan siswa untuk . membimbing penyelidikan. mengembangkan dan menyajikan hasil. mengevaluasi proses pemecahan masalah (Muis, 2. Model pembelajaran jenis problem-based learning ini memiliki ciri-ciri, yaitu permasalahan yang diajukan bersifat autentik, dapat ditinjau dengan multidisiplin ilmu, serta hasil akhir yang didapatkan harus dapat dibuat laporan atau dipresentasikan oleh siswa (Nurdyansyah & Amalia, 2. Dengan dilakukannya pelaporan hasil akhir tersebut, secara tidak langsung akan meningkatkan kreativitas dan kemampuan siswa dalam berpikir (Batubara, 2. Sehingga, pada model pembelajaran jenis ini penilaian akhir yang diambil oleh seorang guru tidak cukup hanya berasal dari pengetahuan prosedural dari sebuah tes tulis. Guru tersebut juga dapat dilakukan siswa (Saputra, 2. Apabila telah ditentukan kombinasi yang tepat antara jenis media pembelajaran dan model ajarnya, maka diharapkan tujuan pembelajaran akan dapat dicapai dengan mudah. Namun kenyataan dilapangan, masih terdapat trainer kit di SMK N 1 Pundong Yogyakarta yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Di SMK N 1 Pundong terdapat satu unit trainer kit Instalasi Motor Listrik yang kondisinya masih layak pakai. Selain itu kecenderungan guru mengajar dengan cara teacher center learning, yaitu ceramah dan diskusi serta belum tampak penerapan model pembelajaran seperti model mengakibatkan siswa menjadi pasif dan belum tercapainya target kompetensi instalasi motor Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar antara model pembelajaran berbasis masalah berbantuan trainer kit instalasi motor listrik dengan yang tidak menggunakannya dilihat dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu juga untuk mengetahui seberapa besar efektivitas trainer kit jika dilihat dari aspek kognitif. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 METODE Jenis Penelitian Model yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuasi eksperimen dengan model PretestAePosttest Non-Equivalent Control Group Design. Model ini menggunakan dua kelas yaitu, satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas lagi menjadi kelas eksperimen yang diberikan perlakuan/treatment. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMK N 1 Pundong Bantul pada kelas sebelas (XI) tahun 2018/2019. Pengambilan dilakukan pada saat mata pelajaran Praktik Instalasi Motor Listrik berlangsung dan berlangsung dari bulan Februari sampai Maret. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI dengan program keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK N 1 Pundong Bantul. Kelas XI tersebut terbagi menjadi dua kelas yaitu kelas TITL A yang terdiri dari 31 siswa dan kelas TITL B terdiri dari 31 siswa. Kelas A sebagai kelas kontrol dan kelas B sebagai kelas eksperimen. Teknik Pengumpulan Data Penelitian kelompok responden yang mendapatkan perlakuan yang berbeda. Responden pertama adalah kelas XI A TITL sebagai kelas kontrol yang diberikan perlakuan model pembelajaran secara teacher center learning, yaitu ceramah dan diskusi. Responden kedua adalah kelas XI TITL pembelajaran berbasis masalah berbantuan trainer kit. Kedua kelas tersebut kemudian mengetahui peningkatan hasil belajar dari aspek kognitif. Sedangkan data aspek afektif dan psikomotor didapatkan dari pengisian Proses pelaksanaan penelitian dan pengambilan data dapat dilihat pada Gambar 1. https://ejournal. id/index. php/mp | 405 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Instrumen Aspek Psikomotor Aspek ini menggunakan angket dengan Skala Likert dalam mengumpulkan datanya. Indikator-indikator pada angket ini dibuat dan dikembangkan peneliti dengan berbagai sumber yang relevan. Angket ini diisi oleh observer selama siswa melakukan uji Instrumen dinilai siap diujikan pada subjek apabila sudah teruji oleh beberapa tes pengujian instrumen. Berikut beberapa pengujian instrumen yang dilakukan: Validitas Instrumen Dilakukan dua kali uji validitas pada instrumen aspek kognitif di penelitian ini, yaitu validitas konstruk oleh expert judgement dan validitas isi menggunakan rumus Korelasi Point Biseral pada tiap butir instrumen (Arikunto, 2018: . ycycyEaycn = Gambar 1. Diagram alir proses penelitian Hasil data yang didapatkan setelah melakukan alur penelitian tersebut, kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan Uji Normalitas. Uji Homogenitas. Uji T, dan Uji Gain. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini memiliki dua jenis, yaitu test dan non test. Berikut penjelasan lebih lengkap menurut ketiga aspeknya: Instrumen Aspek Kognitif Instrumen ini terdiri dari dari 20 soal pilihan ganda dan disusun sendiri oleh peneliti. Dalam pembuatannya, peniliti terlebih dahulu membuat kisi-kisi dan mengacu pada Kompetesi Dasar yang terdapat pada mata pelajaran Instalasi Motor Listrik. Butir-butir soal test yang telah dibuat, kemudian diuji validitasnya melalui expert judgement dan kemudian dapat diujikan kepada siswa sebanyak dua kali . retest- posttes. Instrumen Aspek Afektif Aspek ini menggunakan angket yang butir-butir dikembangkan oleh peneliti dari berbagai sumber yang relevan. Angket ini diisi langsung oleh siswa dan bertujuan untuk mengukur sikap/pendapat siswa terhadap fenomena Angket ini menggunakan Skala Likert. ycAycy Oe ycAyc p ycIyc Simbol . mewakili proporsi subjek yang menjawab benar dan salah secara Dengan simpangan baku total (S. dan selisih dari rerata nilai benar (M. dengan rerata total (M. , maka akan didapatkan nilai dari korelasi point biseral . cycyEaycn ). Tabel 1. Kategori Indeks Validitas Instrumen Kategori Korelasi point biseral . cycyEaycn ) 0,00 Ae 0,20 Sangat Rendah 0,21 Ae 0,40 Rendah 0,41 Ae 0,60 Sedang 0,61 Ae 0,80 Tinggi 0,81 Ae 1,00 Sangat Tinggi Hasil dari perhitungan . kemudian dicocokan dengan Tabel 1 untuk mengetahui . Reliabilitas Instrumen Instrumen dikatakan reliabel apabila dapat menghasilkan konsistensi jawaban meskipun dilakukan secara berulang. Uji reliabilitas pada instrumen penelitian ini menggunakan persamaan . atau yang lebih umum disebut K-R. 20 (Arikunto, 2018: . ycIyaA2 Oe Oc ycyyc yc11 = ( ycu Oe 1 ycIyaA2 Uji reliabilitas instrumen dipengaruhi oleh jumlah pertanyaan . dan simpangan baku (SB. Tabel 2. Kategori Indeks Reliabilitas Instrumen Nilai . c11 ) 0,00 Ae 0,20 0,21 Ae 0,40 0,41 Ae 0,60 0,61 Ae 0,80 0,81 Ae 1,00 Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi https://ejournal. id/index. php/mp | 406 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Hasil reliabilitas yang didapat . kemudian dikategorikan berdasarkan Tabel 2 mulai dari Sangat Rendah. Rendah, hingga yang paling baik adalah Sangat Tinggi. Indeks kesukaran Butir instrumen yang diberikan ke subjek penelitian dapat dikategorikan ke tingkat soal yang Mudah. Sedang, dan Sukar. Instrumen dapat dikatakan memiliki indeks kesukaran yang baik apabila saat dilakukan perhitungan menggunakan persamaan . dan dicocokan Tabel 3 akan berada pada range 0,310,70 atau dalam kategori Sedang (Arikunto, 2018: . yaA ycE= . yayc Tabel 3. Kategori Indeks Kesukaran Soal Indeks kesukaran soal . cE ) Kategori 0,00 Ae 0,30 Sukar 0,31 Ae 0,70 Sedang 0,71 Ae 1,00 Mudah Nilai indeks kesukaran soal (P) didapatkan dengan menghitung jumlah subjek yang menjawab benar (B) dengan total keseluruhan subjek yang instrumen tersebut (J. Daya Beda Tujuan dilakukannya uji daya beda pada instrumen penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa baik butir instrumen tersebut dalam membedakan subjek yang sudah paham dengan yang belum paham mengenai materi yang diberikan (Arikunto, 2018: . yaAya yaAyaA = ycEya Oe ycEyaA yaya yayaA Tahapan awal dalam uji daya beda ini adalah menentukan kelompok atas (JA) dan bawah (JB) dari seluruh subjek yang terlibat mengerjakan instrumen. Kedua nilai tersebut kemudian akan menjadi pembagi dari kedua komponen hitung berikut, yaitu jumlah peserta kelompok atas yang menjawab benar (BA) dan jumlah peserta kelompok bawah yang menjawab benar (BB). Hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan . tersebut kemudian dapat golongkan berdasarkan kategori pada Tabel 4. ya= Tabel 4. Kategori Indeks Daya Beda Soal Kategori Daya Beda . a ) 0,00 Ae 0,20 Buruk 0,21 Ae 0,40 Cukup 0,41 Ae 0,70 Baik 0,71 Ae 1,00 Sangat Baik E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Teknik Analisis Data Sebelum menentukan jenis uji statistik yang akan digunakan, maka perlu dilakukan Uji Normalitas dan Uji Homogenitas. Uji Normalitas berfungsi untuk mengetahui apakah data memiliki sebaran data yang normal atau Uji ini menggunakan teknik analisis Kolmogrov-Smirnov pada SPSS statistic 23 dan data dikatakan normal apabila nilai signifikansi hitung lebih dari 0,05. Sedangkan Uji Homogenitas berfungsi untuk mengetahui apakah data memiliki nilai varian yang sama atau tidak. Data ini dikatakan homogen apabila nilai signifikansi hitung pada Levene Test SPSS statistic 23 lebih dari 0,05 Hipotesis pada penelitian ini dianalisis menggunakan uji Independent Sample T pada SPSS statistic 23. Hipotesis diterima apabila nilai signifikansi hitung pada SPSS lebih kecil dari 0,05. Uji T ini berfungsi untuk mengetahui perbedaan signifikan antara kelas kontrol dengan kelas kontrol. Selain itu, penelitian ini Uji Gain penggunaan trainer kit dalam pembelajaran. Nilai Uji Gain didapatkan dari perhitungan selisih uji pretest dengan posttest. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Setiap kelas diberikan tes untuk mengetahui hasil belajar siswa dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Data aspek kognitif didapat dari tes soal pilihan ganda yang diberikan dua kali . retest dan posttes. Data aspek afektif didapat dari angket yang diisi oleh siswa langsung. Angket tersebut berjenis angket Skala Likert yang yang bertujuan untuk mengukur sikap/pendapat subjek mengenai metode pembelajaran. Angket ini diisi oleh siswa sebanyak dua kali. Data aspek psikomotor didapat dari uji keterampilan oleh Seorang observer dan peneliti menilai hasil praktikum siswa dengan memberi nilai pada instrumen Skala Likert aspek psikomotor. Ketiga instrumen penilaian aspek tersebut terlebih dahulu di uji validitas dan Instrument dikatakan valid apabila dapat menilai apa yang ingin dinilai dengan tepat. Sedangkan instrumen dikatakan reliabel apabila memiliki konsistensi ketika diujikan secara berulang (Jaedun, 2. Setelah dilakukan pretest dan posttest pada kedua kelas yang diberi perlakuan/treatment yang berbeda, dihasilkan data mengenai hasil belajar kedua kelas dalam aspek kognitif seperti pada Tabel 5. https://ejournal. id/index. php/mp | 407 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Hasil Belajar Pretest Kontrol Eksperimen Posttest Kontrol Eksperimen Posttest Kelas Kontrol Kelas Eksperimen E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Tabel 5. Hasil Belajar Aspek Kognitif Mean Nilai Min. Nilai Max. Standar Deviasi Tabel 6. Hasil Uji T pada Posttest Aspek Kognitif Mean Sig. -taile. Berdasarkan Tabel 5, baik kelas kontrol maupun eksperimen sama-sama mengalami Namun pada kelas eksperimen memiliki rata-rata nilai yang lebih tinggi dari kelas kontrol. Data hasil belajar posttest dari kedua kelas tersebut kemudian di uji hipotesis dengan uji Independent Sample T berbantuan SPSS statistic 23. Hasil uji posttest aspek kognitif ditunjukan pada Tabel 6. Keterangan | thitung | Ou ttabel Sig. hitung< 0. Ho akan diterima dan Ha ditolak apabila nilai Ae ttabel O thitung O ttabel dalam sig. 0,05. Sebaliknya. Ho akan ditolak dan Ha akan diterima apabila iCthitungiCOu ttabel dalam penelitian = 0,05. Tabel 6. bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini dikarenakan thitungiCOu ttabel dan nilai sig. lebih kecil dari 0,05. Tabel 7. Hasil Belajar Aspek Afektif Hasil Belajar Uji Pertama Kontrol Eksperimen Uji Kedua Kontrol Eksperimen Mean Nilai Min. Nilai Max. Standar Deviasi Tabel 8. Hasil Uji T Aspek Afektif Uji Kedua Mean Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Sig. -taile. Keterangan | thitung | Ou ttabel Sig. hitung< 0. Siswa juga diberikan angket untuk mengukur sikap atau perilaku selama metode pembelajaran dilaksanakan. Angket ini menjadi tolak ukur nilai aspek afektif siswa. Tabel 7 dan Tabel 8 menunjukan hasil belajar siswa dan hasil Uji T pada aspek afektif secara berurutan. Data uji kedua aspek afektif pada Tabel 7 tersebut kemudian diuji menggunakan Independent Sample T untuk mengetahui hasil akhir dari hipotesis. Berdasarkan pada Tabel 8, dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis awal (H. pada penelitian ini ditolak dan hipotesis akhir (H. Hal ini dikarenakan iC3,02iClebih besar dari 2,00 dan nilai sig. 0,004 lebih kecil dari 0,05. Penilaian mengenai keterampilan siswa didapatkan dari instrumen aspek psikomotor yang dilaksanakan oleh observer sebanyak satu kali diakhir pembelajaran. Siswa pada kelas kontrol akan melakukan praktek merangkai rangkaian instalasi motor listrik di panel, sedangkan siswa kelas eksperimen akan merangkai di trainer kit. Bobot soal dan indikator penilaian tetap sama dan sesuai dengan instrumen yang sudah melalui validasi oleh expert judgement. Hasil belajar dan hasil Uji T siswa pada aspek psikomotor ditunjukan pada Tabel 9 dan Tabel 10 secara berurutan. Hasil Belajar Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Tabel 9. Hasil Belajar Aspek Psikomotor Mean Nilai Min. Nilai Max. Hasil Uji Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Tabel 10. Hasil Uji T Aspek Psikomotor Mean Sig. -taile. Kelas Kontrol Eksperimen Tabel 11. Rata-Rata Uji Gain Mean Pretest Mean Posttest Standar Deviasi Keterangan | thitung | Ou ttabel Sig. hitung< 0. Mean Gain https://ejournal. id/index. php/mp | 408 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Tabel 10 menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini dikarenakan iC5,205iClebih besar dari 2,00 dan nilai sig. = 0,00 lebih kecil dari 0,05. Efektivitas trainer kit dapat diketahui dengan menggunakan Uji Gain. Uji Gain didapat dari perhitungan selisih skor pretest dengan posttest pada aspek kognitif. Besarnya nilai Gain tersebut kemudian dikategorikan kedalam tiga kelompok yaitu: . interval G > 0,7 termasuk tinggi. interval 0,3 O G O 0,7 termasuk sedang. interval G < 0,3 termasuk rendah. Tabel 11 menunjukan bahwa nilai Gain pada kelas eksperimen lebih besar daripada nilai Gain pada kelas kontrol . ,566 > 0,. Hal pembelajaran pada kelas eksperimen lebih efektif daripada model pembelajaran pada kelas kontrol. Kedua nilai Gain pada kelas kontrol dan eksperimen termasuk pada kategori sedang, dikarenakan berada pada interval 0,3 O g O 0,7. Pembahasan Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut, ketiga aspek yang dinilai pada penelitian ini mengalami kenaikan nilai yang Ketiga aspek tersebut diantaranya . aspek kognitif, yaitu aspek yang menilai daya pikir dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan. aspek afektif, yaitu aspek yang mengukur sikap atau pendapat siswa dalam merespon materi ajar. aspek psikomotor, yaitu aspek yang menilai keterampilan siswa dalam praktik Instalasi Tenaga Listrik. Dalam pengambilan data pada penelitian ini, terlebih dahulu subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas kontrol merupakan kelas dengan model pembelajaran konvensional . eacher center learnin. Sedangkan kelas eksperimen merupakan kelas yang diberi perlakuan/treatment khusus, yaitu model pembelajaran berbasis Problem Based Learning dan berbantuan media pembelajaran berupa trainer kit. Setelah kedua kelompok dilakukan proses pembelajaran sesuai modelnya masingmasing, kemudian dilakukan pretest-posttest mengenai aspek kognitif dan afektif melalui angket yang telah diuji validitas dan Berdasarkan temuan dari hasil penelitian aspek kognitif tersebut, nilai rata-rata pretest pada kedua kelas sama-sama di bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu Namun terjadi kenaikan nilai rerata pada hasil posttest untuk kedua kelas, yaitu 67 dan 82 untuk kelas kontrol dan kelas E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 eksperimen secara berurutan. Nilai standar deviasi posttest untuk kelas eksperimen pun lebih rendah dibanding kelas kontrol, yaitu 9,4 < 12,1. Hal ini menandakan bahwa sebaran nilai siswa pada kelas eksperimen dominan mendekati dengan nilai rerata kelas, yaitu kurang lebih 82. Temuan ini membuktikan bahwa terjadi pemerataan daya paham dari kelas eksperimen. Sedangkan pada kelas kontrol, meskipun terdapat siswa yang mendapatkan nilai posttest sebesar 84,6, namun dominan nilai siswa yang lain tidak akan jauh dari nilai rerata kelas. Hal ini dibuktikan dengan nilai standar deviasinya yang tinggi. Mengenai penilaian sikap atau pendapat siswa mengenai materi Instalasi Motor Listrik ini didapatkan dengan memberikan instrumen aspek afektif kepada kedua kelas. Instrumen ini berupa angket dengan Skala Likert yang harus diisi oleh siswa sebanyak dua kali uji. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dari ke dua kelas sama-sama memiliki nilai rerata yang sudah tinggi, baik pada uji pertama ataupun Rerata nilai aspek afektif dari ke dua kelas tersebut adalah lebih dari 92 dan nilai standar deviasi yang cenderung rendah, yaitu di bawah 7. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kelas kontrol dan kelas eksperimen sama-sama tertarik dan antusias mengenai materi praktik Instalasi Motor Listrik. Meskipun begitu, nilai aspek afektif dari kelas eksperimen masih lebih unggul dibandingkan kelas kontrol. Penilaian mengenai keterampilan siswa dalam praktik Instalasi Motor Listrik didapatkan dengan observasi secara langsung ketika siswa sedang melaksanakan praktik di panel dan tainer kit. Observer menilai menggunakan instrumen aspek psikomotor selama praktikum Berdasarkan temuan dari hasil penelitian aspek psikomotor, kelas eksperimen dengan metode problem based learning berbantuan trainer kit mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol pembelajaran konvensional dan praktik dengan Dari hasil Uji T juga didapatkan hasil yang mendukung bahwa kelas eksperimen akan memiliki ketrampilan dan daya paham yang lebih baik bagi siswa ketika praktikum. Hal ini ditunjukan dari nilaiiC thitung iCyang lebih tinggi dibanding ttabel, yaitu 5,205 > 2,00. https://ejournal. id/index. php/mp | 409 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Gambar 2. Praktik psikomotor . kelas kontrol pada panel . kelas eksperimen pada trainer Berdasarkan penggunaan trainer kit pada Gambar 2 dan rerata nilai pada Tabel 5, maka Uji Gain dapat dihitung dan telah dipaparkan pada Tabel 11. Dari hasil perhitungan rerata Uji Gain tersebut, kelas eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol, yaitu 0,566 > 0,280. Hal ini dapat menunjukan bahwa penggunaan trainer kit sebagai alat bantu praktikum dinilai cukup efektif apabila dibandingkan dengan panel listrik pada Temuan hasil Uji Gain ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh (Pangumbahas dkk. , 2. yang menyatakan bahwa hasil nilai Uji Gain . yag berada pada range 0,3 C g C 0,7 maka dikategorikan cukup efektif. Berdasarkan penjabaran hasil penelitian yang dinilai dari ketiga aspek serta diperkuat dengan hasil Uji Gain, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model problem based learning berbantuan trainer kit akan meningkatkan pemahaman siswa dalam mempelajari Instalasi Motor Listrik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil data yang sudah dianalisis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas XI yang signifikan pada aspek kognitif antara yang menggunakan model PBL berbantuan trainer kit dengan yang tidak Hal ini dibuktikan dengan Uji T yang menunjukan nilai signifikansi hitung E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 lebih kecil dari batas signifikansi yang digunakan, yaitu 0,002 < 0,05. Perbedaan hasil belajar yang signifikan juga tampak pada aspek afektif dan psikomotor. Setelah dilakukan Uji T pada hasil belajar aspek afektif dan psikomotor terbukti bahwa nilai signifikansi aspek afektif lebih kecil dari batas nilai signifikansi yang digunakan . ,004 < 0,. Untuk nilai signifikansi psikomotor juga lebih kecil dari batas nilai signifikansi yang digunakan . ,00 < 0,. Selain itu, hasil rata-rata Uji Gain pada kelas eksperimen menunjukan nilai sebesar 0,566 dan pada kelas kontrol sebesar 0,280. Hal ini dapat diartikan bahwa penggunaan trainer kit dalam pembelajaran lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Teknologi Industri Universitas Jayabaya karena telah mendanai karya ilmiah ini sehingga dapat terlaksana dengan lancar. DAFTAR PUSTAKA