IMPLEMENTASI PROGRAM GASING (GEREJA BERSIH STUNTING) DI JEMAAT OVERA FATULULAT. AMFOANG TENGAH Arman Rifat Lette1*. Mili A. Jumetan2 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Citra Bangsa. Jln. Manafe No. Kelurahan Kayu Putih. Kota Kupang1,2 Email: lette. arman@gmail. ABSTRACT Stunting is a form of growth failure due to the accumulation of nutritional deficiencies that last for a long time from pregnancy to 24 months of age. The aim of this research is to describe or describe the implementation of the GASING (Clean Stunting Churc. The research method is qualitative research with an exploratory design and descriptive approach. The main informants are religious figures, while the supporting informants are health workers and mothers who receive GASING assistance. The number of informants selected was 7 people. Data collection was carried out by means of Focus Group Discussion (FGD), non-participant observation and in-depth interviews. The research was conducted in June-July 2024. The results showed that at the beginning of program planning due to the high number of stunting cases. Often attend meetings but there is no real follow-up. Input related to the benefits of eggs and the issue of sustainable balanced nutrition. and Feeling the church needs to take a role. The implementation of the program shows: it is implemented by distributing 7-10 eggs per week at the church on a regular basis. The target is pregnant women, breastfeeding mothers, and children under 2 years old. It has been running for 56 weeks and started with a chicken keeping group. The Monev Process shows that monitoring is carried out every week and every month. There is a KEK mother but the child is born 3. 4 kg. The child's body length and weight increase. it is hoped that there will be cooperation with the village government and Health. and can be an example for other churches. The suggestion is that this program could be a good example or model in efforts to prevent and handle stunting in society. Keywords: Gasing, stunting. Church PENDAHULUAN Stunting kegagalan pertumbuhan . rowth falterin. akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Stunting merupakan dampak dari kekurangan gizi secara kumulatif dan terus menerus . Stunting disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor langsung maupun faktor tidak Faktor langsung seperti asupan makanan bergizi yang tidak memadai serta penyakit Faktor langsung seperti pola asuh ibu, kerawanan pangan keluarga, dan pelayanan kesehatan Banyak ahli menyatakan bahwa akar masalah dari stunting meliputi akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan yang memadai, kondisi ekonomi keluarga yang buruk, serta faktor-faktor sosial budaya, ekonomi, dan politik yang mempengaruhi lingkungan sekitar. Semua faktor ini saling berinteraksi dan berkontribusi dalam menyebabkan stunting pada balita . Stunting mendapatkan perhatian khusus karena dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan status kesehatan pada anak. Dampak jangka Panjang stunting pada anak sangat besar. Studi terkini menunjukkan anak yang mengalami stunting berkaitan dengan prestasi di sekolah yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah dan pendapatan yang rendah saat dewasa. Anak yang mengalami stunting memiliki kemungkinan lebih besar tumbuh menjadi individu dewasa yang tidak sehat dan miskin . Hasil kajian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami tingkat kematian lebih tinggi sejak lahir hingga usia 2 tahun dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami gangguan pertumbuhan . asio bahaya 1,9% hingga 8,7%). Oleh karena itu, pentingnya pertumbuhan pada anak untuk mencegah dampak yang lebih besar dikemudian hari . Stunting kerentanan anak terhadap penyakit, baik penyakit menular maupun Penyakit Tidak Menular (PTM) serta peningkatan risiko Keadaan overweight dan obesitas jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit Kasus stunting pada anak dapat dijadikan prediktor rendahnya kualitas sumber daya manusia suatu negara. Keadaan produktivitas, serta meningkatnya risiko penyakit mengakibatkan kerugian jangka panjang bagi ekonomi Indonesia. Stunting berkaitan dengan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas, penurunan kapasitas fisik, gangguan perkembangan dan fungsi kondisi motorik dan mental anak . Pemerintah Indonesia angka stunting di Indonesia. Salah satunya dengan mengeluarkan Peraturan presiden 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting, yang berisi 5 pilar dengan salah satunya adalah peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan Masyarakat . Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun angka stunting turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022. Walaupn demikian angka stunting masih tergolong tinggi di Indonesia. Pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita merupakan salah satu program yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk penurunan kejadian Namun, masih terdapat kendala dalam pelaksanaan programnya misalnya sasaran program PMT yang kurang tepat. Sasaran program kurang tepat karena terdapat anggota keluarga yang ikut serta mengonsumsi makanan tambahan yang Diperlukan pengawasan untuk program ini . Intervensi prioritas pencegahan stunting dibagi dalam dua kelompok, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik adalah intervensi yang menyasar penyebab langsung stunting dan hampir seluruhnya berada pada sektor Intervensi spesifik meliputi: . Kecukupan asupan makanan dan gizi. Pemberian makan, perawatan dan pola asuh. Pengobatan infeksi/penyakit. Sasaran dalam intervensi spesifik adalah ibu hamil, ibu menyusui dan anak 0-23 bulan. Sementara itu intervensi sensitif adalah intervensi yang menyasar penyebab tidak langsung dan berada di luar sektor Intervensi gizi sensitif mencakup: Peningkatan Peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan. dan Peningkatan penyediaan air bersih dan sarana sanitasi. Intervensi dilaksanakan oleh kementerian/lembaga selain Kementerian Kesehatan . Salah satu intervensi yang perlu dilakukan adalah intervensi spesifik atau intervensi pada peyebab langsung melalui pemenuhan makanan gizi seimbang setiap Makanan atau gizi yang penting untuk pencegahan stunting adalah protein hewani. Makanan sumber protein hewani sangat kehidupan (HPK). Konsumsi makanan sumber protein hewani selama masa kritis ini terbukti meningkatkan pertumbuhan, status gizi dan fungsi kognitif anak, sehingga dapat mencegah stunting pada Salah satu makanan sumber protein yang relatif murah dan mudah dijangkau oleh Masyarakat adalah telur. Telur merupakan sumber makanan yang memiliki banyak kandungan gizi. Telur juga menyediakan nutrisi penting dan merupakan salah satu sumber protein dengan biaya terendah . Pemberian asupan nutrisi yang cukup dan seimbang akan membuat anak-anak dapat tumbuh sehat dan cerdas, salah satunya melalui telur. Pemberian dan konsumsi telur adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi masalah stunting pada anak-anak. Telur mengandung mikronutrien berbeda yang dapat membantu pertumbuhan Mengingat telur merupakan makanan yang mudah didapat di banyak negara miskin dan negara berkembang, sehingga pemberian dan konsumsi telur menjadi lebih realistis untuk pertumbuhan anak-anak di dalam keluarga . Upaya pencegahan dan penanganan stunting diperlukan kerja sama berbagai Konvergensi merupakan sebuah pendekatan intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu, dan bersama-sama kepada target sasaran wilayah geografis dan rumah tangga prioritas untuk mencegah Pencegahan stunting akan berhasil mendapatkan layanan secara simultan. Oleh karena itu, konvergensi perlu segera dilakukan untuk mempercepat upaya pencegahan stunting. Konvergensi layanan pemantauan program pemerintah secara lintas sektor untuk memastikan tersedianya setiap layanan intervensi kepada rumah tangga pada 1. 000 HPK. Proses konvergensi perilaku lintas sektor agar layanan-layanan tersebut digunakan oleh sasaran rumah 000 HPK . Peranan tokoh agama atau Lembaga keagamaan juga sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting, khususnya dalam melaksanakan intervensi spesifik dan sensitif. Peran gereja juga menjadi melaksanakan intervensi spesifik atau intervensi penyebab langsung stunting yaitu kecukupan asupan gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak 0-23 bulan. Belum banyak gereja ataupun lembaga keagamaan yang terlibat dan mengambil peran dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Nusa Tenggara Timur padahal pengaruh tokoh agama dan gereja masih sangat kuat di dalam Masyarakat dan keluarga. Saat ini ada program yang dilakukan oleh gereja Overa Fatululat. Amfoang Tengah-Nusa Tenggara timur dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di dalam jemaat. Program ini dinamakan GASING (Gereja Bersih Stuntin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengambarkan atau mendeskripsikan pelaksanaan program GASING. Survei awal dilakukan dengan cara : Observasi non-partisipan di lapangan dan wawancara dengan ibu, mengenai program GASING ini. Informan utama dalam penelitian ini adalah Tokoh agama, sedangkan informan pendukung adalah ibu hamil atau ibu dengan anak bayi/balita, dan petugas kesehatan. Jumlah informan utama sebanyak 1 orang dan jumlah informan pendukung sebanyak 6 orang. Informan pendukung dipilih sebagai pelengkap informasi dan untuk menjamin keabsahan data melalui triangulasi sumber. Penelitian dilakukan di Gereja Overa Fatululat Amfoang Tengah. Nusa Tenggara Timur pada bulan Juni-Juli 2024. Adapun rincian informan dan kriteria inklusinya adalah sebagai berikut: . Tokoh agama dengan kriteria inklusi: . Menjabat sebagai ketua Majelis di Jemaat Overa Fatululat. Amfoang . Pelaksana program GASING di jemaat dan bersedia menjadi subjek . Ibu dipilih berdasarkan kriteria inklusi: . Jemaat di Overa Fatululat. Amfoang tengah. Ibu hamil atau ibu yang memiliki anak bayi/balita. Penerima bantuan program GASING dan bersedia menjadi subjek penelitian. Petugas Kesehatan dengan kriteria inklusi: Petugas Kesehatan yang membantu pelaksanaan program GASING. Merupakan jemaat di Overa Fatululat. Amfoang tengah . bersedia menjadi subjek penelitian. Cara pengambilan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Focus Group Discussion (FGD). Observasi Non partisipan, dan wawancara Instrumen penelitian yang digunakan adalah panduan FGD dan METODE Metode penelitian yang digunakan rancangan eksplorasi dan pendekatan Metode penelitian adalah penelitian yang menggunakan cara, langkah, dan prosedur yang lebih melibatkan data dan informasi yang diperoleh melalui informan sebagai subjek yang dapat mencurahkan jawaban dan perasaannya sendiri untuk mendapatkan gambaran umum yang holistik mengenai suatu hal yang diteliti . Pemilihan metode penelitian kualitatif dipilih karena peneliti ingin mendeskripsikan tentang program GASING (Gereja Bersih Stuntin. yang telah dijalankan di jemaat Overa. Fatululat Amfoang Tengah kurang lebih selama 1 panduan wawancara mendalam. Panduan FGD dan wawancara mendalam berisi pertanyaan terkait pandangan atau penilaian informan terhadap program GASING, pengetahuan terhadap Stunting, pengalaman sebagai penerima bantuan GASING. Proses pelaksanaan Program GASING, serta proses Monitoring dan evaluasi program GASING. Panduan FGD dan wawancara mendalam dibuat sendiri oleh peneliti disesuaikan dengan tema penelitian. Peneliti memasukan surat ijin ke pihak Gereja dan meminta ijin terlebih dahulu ke tokoh agama untuk mewawancarai atau melakukan FGD kepada ibu-ibu penerima program GASING. Peneliti menyampaikan maksud dan tujuan penelitian dan mengajak informan mengikuti penelitian secara sukarela. Wawancara dilakukan setelah informan menyetujui dan menandatangani informed consent. Analisis data dilakukan menggunakan analisis kualitatif dengan model Miles dan Huberman. Langkah-langkah dalam analisis data model Miles dan Huberman, adalah sebagai berikut: . Membuat transkip . Melakukan coding data. Melakukan kategorisasi informasi, yaitu: mengelompokkan informasi yang sama dari hasil koding ke dalam suatu matriks dan setiap kategori dianalisis berdasarkan tema penelitian . ategori fina. Melakukan interpretasi terhadap informasi, penyajian data dan menarik kesimpulan dalam bentuk laporan penelitian. Variabel yang digali adalah berkaitan dengan implementas GASING. Keabsahan dilakukan dengan cara triangulasi metode dan triangulasi sumber. Jumlah informan yang diwawancarai dan dilakukan Focus Group discussion adalah 7 Satu merupakan informan inti, yaitu tokoh agama yang menginisiasi program GASING di dalam gereja dan 6 adalah Kesehatan dan ibu penerima bantuan program GASING. Umur informan berkisar dari 20-40 tahun. Pendidikan informan dari SMP sampai magister (S. Karakteristik informan dapat dilihat pada tabel 1. HASIL PENELITIAN Informan Tabel 1. Karakteristik Informan Inisial Umur Pendidikan Informan 1 40 tahun Informan 2 Informan 3 Pekerjaan Keterangan Magister (S. Pendeta/Tokoh Agama Informan Utama 36 Tahun Sarjana (S. Petugas Informan Pendukung 20 Tahun SMA Ibu Rumah Tangga Informan Pendukung Informan 4 26 Tahun SMA Ibu Rumah Tangga Informan Pendukung Informan 5 32 tahun SMP Ibu Rumah Tangga Informan Pendukung Informan 6 21 tahun SMP Ibu Rumah Tangga Informan Pendukung Informan 7 28 tahun Sarjana (S. Guru Informan Pendukung Tema Awal Perencanaan Tabel 2 hasil analisis tematik Kategori Kata kunci Jumlah kasus stunting yang Kita melihat situasi Nusa Tenggara Timur kan nomor satu di Indonesia dan Kabupaten Kupang juga masih tinggi kasus stuntingnya. Sering ikut pertemuan tapi tidak ada tindak lanjut Selama ini kita terus diundang untuk ikut seminar dan konsolidasi terkait tentang stunting. Kami diundang sebagai tokoh agama untuk ikut di dalam rapat-rapat tapi tidak ada tindak lanjut. Input terkait manfaat telur dan Masalah keberlanjutan gizi seimbang Saya pernah berkonsultasi dengan salah satu professor di bidang kedokteran hewan yang meneliti tentang manfaat telur, kandungan di dalam telur dan juga tepung ikan untuk perkembangan otak. Sebenarnya salah satu masalah terkait dengan stunting itu adalah keberlanjutan gizi Seimbang. Anak-anak itu yang ke depannya akan menjadi pemimpin-pemimpin. Mereka adalah generasi gereja juga. Jadi kalau mereka dengan perkembangan tidak sempurna seperti itu akan sangat sulit bagi kita juga untuk mengharapkan kemajuan gereja. Merasa gereja perlu mengambil peran Pelaksanaan Membagikan telur 7-10 butir per minggu di gereja secara rutin Secara continue 7-10 butir telur diberikan kepada sasaran di setiap minggu. Telur kita bungkus dan kita baginya di gereja Sasarannya ibu hamil, ibu menyusui, maupun anak di bawah 2 tahun. Total sasaran 30 orang Sasarannya ibu hamil, ibu menyusui, maupun anak di bawah 2 tahun. Sampai saat ini ada 30 Sudah berjalan selama 56 Dimulai dengan kelompok pelihara ayam Proses monitoring dan Evaluasi serta dampak dari Monitoring dilakukan setiap minggu dan setiap Program ini sudah berjalan selama 1 tahun 1 Sudah 56 minggu dilaksanakan. Waktu itu kami memulai dengan kelompok untuk pelihara ayam. Ayam KUB. Lalu Saya coba konsultasi dengan tutor apakah ini bisa dibuat petelur? Dia bilang bisa. Saya seleksi yang besar-besar sampai usia 5 bulan. Kami pelihara 5 bulan kemudian akhirnya ayam mulai bertelur dan sampai sekarang akhirnya kami bisa menjalankan program ini. Kalau untuk balita setiap bulan saat Kalau untuk ibu hamil biasa setiap minggu pasti saya ukur lingkar lengan dan berat badan Ada ibu hamil mengalami KEK tapi anak lahir 3,4 kg Ada ibu yang mengalami Kekurangan energi kronis (KEK) parah tapi anaknya lahir 3,4 kg. Jadi saya melihat ada yang berhasil ketika mereka mengonsumsi telur yang diberikan secara rutin itu. Ada dampak nyatanya. Ada kemajuan setiap kali kita evaluasi. Kemajuan di Panjang badan dan berat badan Ada anak yang berat badannya naik sampai 1 kg lebih. Sebelum diberikan telur secara rutin itu biasa berat badannya naik hanya Tidak pernah kilo. Tapi setelah diberikan telur ada perbedaan di berat badan naik terus dan Panjang badan juga naik. Panjang badan dan berat badan anak` bertambah harapnnya kita dapat bekerja sama antar pemerintah desa, dengan puskesmas. Untuk penanganan stunting kerja sama lintas sektor itu harus terbangun dan tindakan nyata harus jalan. Diharapkan ada kerja sama dengan pemerintah desa dan Kesehatan Gereja sudah jalan duluan dengan program ini semoga dari lintas sektor yang lain juga dapat bahu-membahu bisa tekan angka stunting Harapanya program ini bisa jadi contoh untuk gereja yang lain juga. Saya punya target adalah gereja kita menjadi pilot project untuk bagaimana gereja itu bisa berperan aktif dalam penanganan stunting. Harapan besar bisa di copy oleh gereja-gereja yang lain jadi bagaimana gereja juga bisa berperan aktif. Dapat menjadi contoh untuk gereja yang lain Hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa program GASING dimulai karena kondisi di Nusa Tenggara Timur dan kabupaten kupang yang tinggi kasus Selain itu, informan sering diundang untuk mengikuti pertemuan sebagai tokoh agama tapi tidak ada tindaklanajut yang nyata di dalam peduli soal komposisi gizi dalam makananAy . AuAnak-anak itu yang ke depannya akan menjadi pemimpin-pemimpin. Mereka adalah generasi gereja juga. Jadi kalau mereka dengan perkembangan tidak sempurna seperti itu akan sangat sulit bagi kita untuk mengharapkan kemajuan Kalau anak-anak stunting artinya kualitas sumber daya manusianya pasti rendah dan itu akan mempengaruhi sumber daya manusia di gereja maupun di mana-mana jugaAy. Hasil menunjukkan bahwa kegiatan program GASING ini adalah Membagikan telur 710 butir per minggu di gereja secara rutin. AuProsedurnya kita bagi telur Secara continue, 7-10 butir telur diberikan kepada sasaran di setiap minggu. Telur kita bungkus dan kita bagi di gereja. Memang sengaja di gereja supaya jemaat tahu bahwa gereja punya tujuan besar juga untuk bagaimana tidak saja omong soal firman Tuhan saja tetapi juga memberikan perhatian bagi kualitas hidup Masyarakat dan mempersipakan generasi yang baik juga di gerejaAy (Informan . AuKita melihat situasi Nusa Tenggara Timur kan nomor satu di Indonesia dan Kabupaten Kupang juga masih tinggi kasus stuntingnyaAy . AuSelama ini kita terus diundang untuk ikut seminar dan konsolidasi terkait tentang Kami diundang sebagai tokoh agama untuk ikut di dalam rapat-rapat tapi tidak ada tindak lanjutAy . Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa informan pernah berkonsultasi dengan seorang professor dan memberikan perkembangan otak dan informasi tentang pentingnya ketersediaan gizi seimbang di dalam Masyarakat atau keluarga. Selain itu, informan merasa bahwa Gereja perlu mengambil peran dalam pencegahan AuSaya pernah berkonsultasi dengan salah satu professor di bidang kedokteran hewan yang meneliti tentang manfaat telur, kandungan di dalam telur dan juga tepung ikan untuk perkembangan otak. Saya beberapa kali konsultasi dengan beliau, sebenarnya salah satu masalah terkait dengan stunting itu adalah kebelanjutan gizi Seimbang atau ketersediaan gizi berimbang setiap hari. Jadi mereka punya protein yang cukup setiap hari. Kalau kita di kampung sini kebanyakan karbohidrat Makan yang penting kenyang. Tidak AuKami dapat telur dulu 10 sekarang 7 Dapat setiap minggu di gereja setelah kebaktianAy . Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sasaran dari program ini adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah 2 tahun. Total sasaran ada 30 orang. Program ini sudah berjalan selama 56 minggu AuSasarannya ibu hamil, ibu menyusui, maupun anak di bawah 2 tahun. Sampai saat ini ada 30 sasaran. Program ini sudah berjalan selama 1 tahun 1 bulan. Sudah 56 minggu dilaksanakanAy (Informan . juga, guru sekolah minggu juga. Jadi kami libatkan di dalam ini program. Jadi dia monitoring, dia bantu lihatAy (Informan . AuKita dapat sejak hamil dan sampai Sekarang masih dapat untuk anakAy (Informan . Hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa program GASING dimulai dengan kelompok pelihara ayam dalam jemaat. Ayam yang dipelihara merupakan ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangta. yang dipelihara sebagai ayam petelur untuk menunjangan program GASING. Waktu itu kami memulai dengan kelompok untuk pelihara ayam. Ayam KUB. Lalu Saya coba konsultasi dengan tutor apakah ini bisa dibuat petelur? Dia bilang bisa. Saya seleksi yang besar-besar sampai usia 5 bulan. Kami pelihara 5 bulan kemudian akhirnya ayam mulai bertelur dan sampai sekarang akhirnya kami bisa menjalankan program ini (Informan . Selain membagikan telur ada proses monitoring dan evaluasi (Mone. yang Monev dilakukan oleh tokoh agama (Indforman . dibantu oleh petugas Kesehatan . yang merupakan jemaat di gereja Overa Fatululat. Informan menyatakan bahwa monitoring dan evaluasi dilakukan setiap bulan pada saat penimbangan dan setiap minggu pada saat pembagian telur. AuKalau untuk balita setiap bulan saat penimbangan di posyandu. Kalau untuk ibu hamil biasa setiap minggu pasti saya ukur lingkar lengan dan berat badanAy (Informan . AuMonitoring dan evaluasi dilakukan dengan cara turun langsung ke rumah, lewat gereja setiap minggu maupun lewat tenaga Kesehatan yang ada. jadi tenaga Kesehatan ini kami punya pengurus gereja AuYa. biasa bapak pendeta turun cek juga untuk memantau perkembangan anak-anak kamiAy (Informan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa program GASING ini memberikan dampak positif di dalam Masyarakat, khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui dan anak di bawah 2 tahun. Ada ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan setelah mendapatkan bantuan telur dan rutin mengonsumsi telur anaknya dapat lahir dengan berat 3,4 kg AuJadi ada ibu yang mengalami KEK parah tapi anaknya lahir 3,4 kg. Umumnya ibu dengan KEK pasti anak di bawah 2,9 kg apalagi yang KEK kronis, jadi itu betulbetul saya lihat nyata. Memang tidak Ada yang kelihatan ada yang tidak kelihatan perubahannya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi salah satunya ketika saya turun lapangan saya melihat itu ternyata di musim-musim ketika mereka susah untuk mendapatkan sayuran dan ada telur, satu-satunya lauk mereka adalah telur bagi ibu hamil ya lebih baik untuk diberikan kepada anak yang balita. Jadi saya melihat ada yang berhasil ketika mereka mengonsumsi telur yang diberikan secara rutin itu. Ada dampak nyatanyaAy (Informan . AuIbu hamil KEK juga ada perubahan. Itu kita evaluasi per minggu, lingkar lengan dan berat badan ibu naik juga. Memang ada PMT juga tapi kan PMT baru jalan 2 minggu ini. PMT dari puskesmas ditambah lagi dengan telur itu, setiap kali evaluasi ada perubahan. Lalu ada beberapa ibu hamil KEK yang kita bikin perbandingan Ada satu ibu hamil yang lilanya sangat kecil, dari 17 cm naik ke 19 cm, sampai dia melahirkan pun begitu. Karena kita rutin kasi telur untuk dikonsumsi lilanya mulai naik dan ketika dia melahirkan itu bayinya 3,4 kg. Kan biasa kita tahu kalau ibu dengan KEK pasti anak itu lahir di bawah 2,5 kg. Jadi ada perbedaan di situAy (Informan . Perubahan juga dialami anak yang mengonsumsi rutin setiap hari. Panjang badan dan berat badan anak dapat Ibu penerima bantuan program GASING juga merasa sangat terbantu dengan program ini AuAda kemajuan setiap kali kita evaluasi. Kemajuan di Panjang badan dan berat badan anak. Ada anak yang berat badannya naik sampai 1 kg lebih. Sebelum diberikan telur secara rutin itu biasa berat badannya naik hanya ons. Tidak pernah Tapi setelah diberikan telur ada perbedaan di berat badan naik dan Panjang badan juga naik Ay (Informan . dan bidang Kesehatan . inas Kesehatan dan puskesma. Harapannya dana desa bisa dikelola bersama gereja untuk penyediaan Telur secara berkelanjutan selama 1000 HPK. AuJadi bagi saya itu harapnnya kita dapat bekerja sama antar pemerintah desa, dengan puskesmas. Misalkan Dana desa itu bisa kami gereja yang Kelola untuk penyediaan telur secara continue selama 1000 HPK begitu. Artinya pemerintah desa tidak pusing karena PMT kita harus masak setiap hari. Bahan untuk PMT kadangkadang wortel, ikan susah. Misalkan ikan. Kita cari ikan di mana? kalau di dekat kupang gampang kita dapat ikan kembung karena punya nilai gizi yang tinggi, tapi kalau kita di desa susah. Mau dapat kermana? Wortel tidak selalu sepanjang tahun ada. Jadi kita akan kesulitan. Makanya lebih baik bagi telur. Mereka makan 1 hari 1 kali cukupAy (Informan . Informan juga mengharapkan bisa bekerja sama dengan pihak Kesehatan khususnya puskesmas agar program GASING bisa maksimal dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah stunting. AuProgram yang dijalankan gereja ini baik karena meningkatkan Kesehatan bagi ibu dan anak. Khususnya gizi bagi anak kami. Kami sangat merasa terbantu dengan program iniAy (Informan . AuPuskesmas tugasnya misalkan 1 bulan sekali pas posyandu itu bikin penyadaran Kesehatan tentang stunting atau tentang bagaimana pentingnya asupan gizi berimbang setiap hari. Bagaimana yang ada di sekeliling itu bisa dimanfaatkan. Gizi berimbang setiap hari itu begini ada sayur, ada kacang sedikit, ada nasi, ada Bagi saya itu sangat memudahkan. Jadi bisa ada kerja sama yang baik juga. Untuk penanganan stunting kerja sama lintas sektor itu harus terbangun dan tindakan nyata harus jalanAy (Informan . AuFaktor utama karena gizi jadi program dari gereja ini sangat baik untuk meningkatkan gizi anak-anak kami. Kalau program ini tidak jalan lagi pastinya gizi bayi akan menurunAy (Informan . Hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa ada harapan besar agar program GASING `mendapatkan dukungan dan bisa bekerja sama dengan pemerintah desa AuGereja sudah jalan duluan dengan program ini semoga dari lintas sektor yang lain juga dapat bahu-membahu bisa tekan angka stuntingAy (Informan . Selain itu, ada harapan besar bahwa program GASING dapat menjadi contoh untuk gereja yang lain, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Ibu-ibu juga berharap agar program ini bisa berjalan dengan baik dan dilanjutkan. AuHarapannya ini kita bisa jadikan desa atau dusun kita ini sebagai percontohan. Program ini bisa jadi contoh untuk gereja yang lain juga. Saya punya target adalah gereja kita menjadi pilot project untuk bagaimana gereja itu bisa berperan aktif dalam penanganan stunting. Harapan besar bisa dicopy oleh gereja-gereja yang lain jadi bagaimana gereja juga bisa berperan aktifAy (Informan . AuKami merasa senang dan harapnnya program ini bisa berjalan terus untuk membantu kami jemaat. Kalau tidak mungkin anak-anak kami akan kurang gizi Kalau bisa juga menjadi contoh bagi yang lainAy (Informan . PEMBAHASAN Peran dan pengaruh tokoh agama atau Lembaga agama cukup besar di dalam Masyarakat, terkhususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting. Salah satu peran strategis tokoh agama dalam pencegahan stunting adalah menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada ibu hamil atau melakukan komunikasi dengan pendekatan budaya agar dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam upaya penurunan stunting . Tokoh agama atau Lembaga keagamaan juga dapat melakukan praktik baik di dalam Masyarakat berdasarkan sumber daya yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal perencanaan program GASING didasari pada Jumlah kasus stunting yang tinggi di Nusa Tenggara timur, khususnya di Kabupaten Kupang. Selan itu, informan sering mengikuti pertemuan terkait stunting tapi tidak ada tindak lanjut nyata. Informan juga pernah informasi terkait manfaat telur dan Masalah keberlanjutan gizi seimbang. Halhal tersebut membuat informan Merasa gereja perlu mengambil peran. Hasil penelitian terdahulu yaitu tentang Program SETEL (Sehat dengan Telu. muncul juga sebagai tanggapan konkret terhadap tantangan stunting dengan menjadikan telur sebagai pilar Program SETEL adalah sebuah inisiatif kesehatan dan gizi yang dirancang untuk mengatasi masalah stunting pada anak-anak melalui pendekatan nutrisi yang melibatkan konsumsi telur. Program ini bertujuan untuk memberikan dukungan gizi yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang berisiko mengalami stunting melalui pendekatan edukasi gizi dan penyediaan telur sebagai bagian dari pola makan . Pada GASING menunjukkan bahwa program ini dilaksanakan dengan cara membagikan telur 7-10 butir per minggu di gereja secara Sasarannya ibu hamil, ibu menyusui, maupun anak di bawah 2 tahun. Progam GASING Sudah berjalan selama 56 minggu dan dimulai dengan kelompok pelihara ayam. Program ini difokuskan pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Saat anak di dalam kandungan sampai berusia 2 tahun. 1000 HPK merupakan masa yang sangat penting dalam tumbuh mendapatkan perhatian. 1000 HPK menjadi penentu dalam kehidupan masa depan seorang anak dan juga bagi masyarakat luas di bidang Kesehatan maupun ekonomi. Stunting, sebuah penanda kekurangan gizi kronis, tidak hanya menghambat kesehatan fisik anak tetapi juga menghambat kapasitas anak mempengaruhi pendapatan/ekonomi di masa depan. Oleh karena itu intervensi langsung pada 1000 HPK menjadi sangat penting untuk dilakukan . Salah satu, gizi yang dibutuhkan selama 1000 HPK adalah protein hewani yang didapatkan di dalam telur. Telur sebagai bahan pangan memiliki banyak kelebihan seperti, kandungan gizi telur yang tinggi dan harga telur yang relatif murah dibandingkan dengan bahan sumber protein lainnya . Telur merupakan sumber protein mengandung zat gizi cukup lengkap seperti protein . ,8%) dan lemak . ,8%). gram telur mengandung vitamin A sebesar 0 SI dan mineral sebesar 256. 0 mg. Telur mengandung asam amino esensial yang lengkap dan memiliki nilai biologi yaitu 100 %. Tiga komponen utama pada telur yaitu cangkang telur . dengan selaput, putih telur dan kuning Penurunan angka stunting di Indonesia pemberian telur bagi anak balita. Suplementasi telur bermanfaat untuk meningkatkan pertumbuhan tetapi tidak pada hemoglobin pada anak stunting dan kurus . Pada proses monitoring dan evalusi program GASING diketahui bahwa Monitoring dilakukan setiap minggu saat pembagian telur dan setiap bulan pada saat penimbangan di posyandu. Hasil monev diketahui bahwa Ada ibu hamil yang mengalami KEK tapi anak lahir 3,4 kg. Selain itu. Panjang badan dan berat badan pada anak yang mendapatkan bantuan telur Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kelompok anak di bawah 5 tahun yang kurang mendapatkan asupan protein berpeluang mengalami stunting 1,87 kali lebih tinggi dibandingkan pada kelompok anak yang mendapatkan protein yang Eratnya hubungan protein hewani seorang anak yang kurang asupan proteinnya akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat daripada anak dengan jumlah asupan protein yang cukup. Protein hewani memiliki peranan penting dalam mencegah atau meminimalisir terjadinya kejadian stunting pada anak balita. Hal tersebut dikarenakan protein hewani mengandung asam amino esensia yang dapat mensintesis hormon pertumbuhan pertumbuhan balita dan menghindarkan balita agar tidak mengalami kejadian Bahan pangan yang bersumber dari protein hewani dapat mempercepat laju pertumbuhan dan mencegah terjadinya . Hasil kajian juga menunjukkan bahwa pemberian makanan tambahan berupa telur utuh dalam jangka waktu yang panjang adalah intervensi yang layak, berbiaya rendah, dan efektif untuk signifikan dan memperbaiki ketahahan tubuh pada anak tanpa efek buruk pada kadar kolesterol darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada harapan untuk terjalin kerja sama dengan pemerintah desa dan bidang kesehatan dalam pelaksanaan program GASING ini. Informan juga berharap program gasing ini dapat menjadi contoh untuk gereja yang lain. Selama ini, program GASING dijalankan di dalam gereja dan belum ada kerja sama dengan pemerintah desa maupun puskesmas. Hal ini menjadi penting untuk menjamin keberlanjutan program GASING di dalam Peran pemerintah menjadi sangat penting, baik pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah. Beberapa hambatan negara-negara berkembang adalah tingginya biaya pakan, ketidaktersediaan telur, keterjangkauan, keyakinan budaya, dan norma sosial. Hambatan ini bervariasi di beberapa negara dan masyarakat yang pada akhirnya membatasi konsumsi telur pada wanita dan anak-anak. Mengingat pentingnya manfaat kesehatan dari telur, keharusan bagi pemerintah untuk menetapkan dan atau menerapkan kebijakan, sebagai berikut : terjangkau di negara-negara berkembang. memberikan dukungan lingkungan yang meningkatkan produksi unggas dan ketersediaan telur. serta meningkatkan pemahaman tentang pentingnya nutrisi telur dalam pola makan. Selain itu, kampanye perubahan perilaku perlu dilakukan untuk mendobrak hambatan budaya, norma, atau tradisi tabu yang membatasi konsumsi telur pada ibu dan anak-anak . Peran bidang kesehatan juga penting untuk memberikan Pendidikan Kesehatan kepada Masyarakat seimbang serta berkaitan dengan pola asuh Pola asuh merupakan salah satu faktor dominan yang menyebabkan stunting secara tidak langsung. Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman ibu dalam mengatur kesehatan dan gizi dalam keluarganya. Pola asuh makan yang diterapkan oleh ibu akan berpengaruh terhadap pertumbuhandan perkembangan balita karena kekurangan gizi pada masa balita akan bersifat irreversible . idak dapat puli. , sehingga pada masa ini balita membutuhkan asupan makan yang berkualitas semakin baik pola asuh makannya maka semakin baik pula status gizinya . Intervensi penanganan stunting perlu difokuskan pada pendekatan multi-sektoral agar secara efektif dapat mengatasi stunting di negaranegara dengan prevalensi tinggi . Kelibatan tokoh agama juga berdampak positif pada pencegahan dan penanganan Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan tentang keluarga berencana, dengan melibatkan tokoh agama dapat meningkat masyarakat yang pada akhirnya dapat mencegah stunting pada anak . Keterlibatan tokoh agama menjadi sangat penting di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Tokoh agama maupun tokoh Masyarakat juga dapat memperkuat meningkatkan partisipasi ibu dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga. Program pencegahan stunting juga harus dirancang untuk mendorong perempuan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, terutama yang berkaitan dengan perawatan kesehatan dan gizi, yang dapat membantu mereka membuat keputusan yang bermanfaat bagi keluarga mereka. Pemberdayaan perempuan sangat penting untuk memastikan nutrisi yang baik bagi anak-anak mereka . Program GASING Masyarakat. Harapannya upaya-upaya peningkatan pengetahuan dan pemberdayaan keluarga juga dapat dilakukan untuk memperkuat program ini. Pemanfaatan pangan lokal khususnya sayuran, ubi dan kacangkacangan juga menjadi penting untuk pemenuhan gizi seimbang di dalam keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa hanya mengandalkan intervensi dari konsumsi telur setiap hari mungkin tidak cukup untuk mengatasi masalah pertumbuhan, perkembangan dan status gizi pada bayi dan anak pada masyarakat sosial ekonomi rendah. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan dan dipertimbangkan untuk melengkapi atau meningkatkan efeknya konsumsi telur, seperti memasukkan pola makan, sumber makan lainnya lainnya, meningkatkan keragaman pangan atau penerapannya strategi untuk meningkatkan penyerapan nutrisi pada anak . Sarannya bagi pemeirntah dan bidang Kesehatan agar program ini bisa menjadi contoh atau model yang baik dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di dalam Masyarakat. Masyarakat atau keluarga juga harus diberdayakan dengan baik agar dapat memanfaatkan pangan lokal yang ada dan menyediakan makanan protein hewani, khususnya telur secara mandiri di rumah. DAFTAR PUSTAKA