E-ISSN: 2828-281X Journal of Nursing Invention DOI: https://doi. org/10. 33859/jni VOL. No. 2 2024 | DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAMA HARI RAWAT PASIEN BPJS KESEHATAN DI RUMAH SAKIT MARDI WALUYO KOTA METRO Catur Yuli Atmojo1. Yunina Elasari1. Surmiasih2. Tri Adi Nugroho3 1Program Studi S1 Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Aisyah Pringsewu. Bandar Lampung. Indonesia 2Program Studi S2 Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Aisyah Pringsewu. Bandar Lampung. Indonesia 3Program Studi D3 Rekam Medis. Fakultas Kesehatan. Universitas Aisyah Pringsewu. Bandar Lampung. Indonesia Info Artikel ABSTRAK Submitted: 17 Mei 2024 Revised: 03 Desember 2024 Accepted: 29 Desember 2024 Latar Belakang: Lama rawat inap (LOS) merupakan salah satu indikator keberhasilan perawatan pasien di rumah sakit. Rawat inap yang lama menyebabkan meningkatnya biaya perawatan sebaliknya rawat inap yang terlalu pendek akan meningkatkan risiko rawat berulang pasien. Mayoritas pasien rawat inap di Indonesia adalah pasien BPJS Kesehatan dengan sistem pembayaran berbasis paket klaim ina-cbgs berupaya mempersingkat waktu rawat pasien untuk menghindari kerugian ekonomi sehingga nilai LOS masih di bawah 6-9 hari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat pasien BPJS kesehatan di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro. Metode: Jenis Penelitian observational analysis dengan mengumpulkan data secara retrospektif menggunakan desain cross-sectional. Teknik total sampling digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta BPJS Kesehatan yang dirawat di RS Mardi Waluyo Kota Metro pada tahun 2022 903 pasien. Data dianalisis dengan uji Chi Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara umur . =<0,. jenis kelamin . =<0,. kelas perawatan . =0,. , jenis penyakit . =0,. dan jumlah diagnosis penyakit . =<0,. dengan lama hari rawat (LOS). Kesimpulan: Disarankan pada rumah sakit untuk melakukan analisis yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat agar pelayanan yang diberikan kepada pasien lebih efektif dan efisien serta dapat meningkatkan kepuasan pasien. *Corresponding author: Yunina Elasari Email: ayiedeh@gmail. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Kata kunci: Umur. Jenis Kelamin. Kelas Perawatan. Jenis Penyakit. Jumlah Diagnosis Penyakit. Lama Hari Rawat ABSTRACK Background: Length of hospitalization is indicator accomplishment of patient care in hospital. Long hospitalization causes increased treatment costs, whereas hospitalization that is too short will increase the risk of patient readmission. The majority of inpatients in Indonesia are Health patients of social insurance administration organization with a payment system based on the ina-cbgs claim package which seeks to shorten patient treatment time to avoid economic losses so that the Length of hospitalization value is still below 6-9 Objective: The research to determine the correlation between sociodemographic factors and length of stay for health patients of social insurance administration organization in Mardi Waluyo Hospital at Metro City. Method: This observational analysis study was designed to collect data retrospectively using a cross-sectional design. are all Health participants of social insurance administration organization who will be treated at Mardi Waluyo Hospital in Metro City 2022, with a total of 13. 903 patients. The sampling technique used total sampling. Data were analyzed used the Chi Square test Result: The results of the analysis show that there is a significant correlation between ( age p= <0. ( gender p=<0. ( treatment class p= 0. ( type of disease p= 0. and ( number of disease diagnoses p=<0. with length of stay. Conclusion: It is recommended that research sites conduct a more in-depth analysis of factors related to length of hospitalization so that the services provided to patients are more effective and efficient and can increase patient Keywords: Age. Gender. Treatment Class. Type of Disease. Number of Disease Diagnoses. Length of Stay Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni PENDAHULUAN Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia terus melakukan upaya dalam mencapai sejumlah tujuan, termasuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas manajemen rumah sakit. Lama rawat inap merupakan salah satu parameter penilaian efisiensi rumah sakit. Lama rawat inap mengukur seberapa efektif suatu rumah sakit dijalankan dan seberapa baik pelayanan yang diberikan oleh stafnya (Dewi et , 2. Pada tahun 2018, 36,4 juta orang dirawat di rumah sakit di Amerika Serikat dengan rata-rata lama rawat inap (LOS) 5,5 hari. Data tahun 2020, lama rawat pasien di Eropa memiliki rerata 6,5 hari. Portugal. Italia,dan Luksemburg mencatat rata-rata hampir sepuluh hari. Sebaliknya, pada tahun 2020, lama rawat inap di rumah sakit di Turki adalahrata-rata 4,5 hari. Data tahun 2020, lama rawat inap di rumah sakit Korea untuk perawatan. enyakit aku. memiliki rerata 7,8 hari (Michas, 2. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis dataterkait waktu rata-rata hari yang dihabiskan pasien di rumah sakit adalah 5,26 hari pada tahun 2018, menurun menjadi 4,71 hari di tahun 2020 dan 4,67 hari pada 2 tahun berikutnya yaitu 2022. Nilai rerata tersebut masih di bawah angka ideal. Pasalnya, di rumah sakit di Indonesia mayoritas pasien yang rawat inap adalah pasien BPJS Kesehatan, dimana 72,33 persen pasien rawat inap pada tahun 2022menggunakan asuransi kesehatan BPJS Kesehatan. Sebagaimana diketahui, sistem pembayaran BPJS Kesehatan berbasis paket klaim ina cbgs, dengan demikian rumah sakit akan berupaya mempersingkat waktu rawat pasien dengan catatan bahwa mereka telah sembuh atau telah dirujuk langsung ke rumah sakit untuk menghindari kerugian sisi ekonomirumah sakit (BPS, 2. Nilai LOS ideal adalah enam hingga sembilan hari (Heryant, 2. Tidak banyak penelitian yang dilakukan tentang lama rawat inap (LOS). Namun Tedja . melakukan penelitian yang menemukanbahwa usia, kelas perawatan pasien, jumlahdiagnosis, jenis kelamin, jenis penyakit dan tingkat keparahan penyakit merupakan faktor sosiodemografi yang mempengaruhi LOS. Penilitian lainnya menemukan adanya keterkaitan antara usia . dengan lama pengobatan pasien pasca tindakan operasi ususbuntu (Maharani et al. , 2. Hasil survei pendahuluan Analisis Pemanfaatan BPJS Kesehatan CabangMetro Tahun 2022 yang dilakukan pada Juni 2023, jumlah kasus rawat inap di RS di wilayah kerja Cabang Metro sebanyak 848 kasus dengan rata-rata lama rawat inap 3,3 hari. Dari 29 RS dan 4 klinik utama yang bermitra dengan BPJS Kesehatan Cabang Metro. RS Mardi Waluyo memiliki jumlah kasus rawat inap tertinggi 903 kasus dengan rata- rata hari rawat inap 3,68 hari. Laki-lakimemiliki rata-rata jumlah hari perawatan lebih tinggi yaitu 3,61 hari, sedangkan perempuan mempunyai rata-rata jumlah hari perawatan lebih rendah yaitu 3,25 hari. Selain itu, rata-rata lama perawatan di kelas 1 adalah 3,47 hari, di kelas 2 rata-rata 3,38 hari perawatan, dan di kelas 3 rata-rata 3,44 hari perawatan . id, 2. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan lama rawat pasien BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro. METODE Jenis penelitian observational analysis ini dirancang untuk mengumpulkan data secara retrospektif menggunakan desain cross- sectional. Jumlah populasi sebanyak 13. 903 pasien dengan pengambilan sampel menggunakan total sampel yaitu seluruh peserta BPJS Kesehatan yang dirawat di RS Mardi Waruyo Kota Metropada tahun 2022 sebanyak 13. 903 pasien. Penelitian ini dilakukan pada 1-15Desember 2023 dengan menggunakan data sekunder lama hari rawat, umur, jenis kelamin, kelas perawatan, jenis penyakit, dan jumah penyakit. Uji analisisstatistik yang digunakan adalah uji chisquare. HASIL Pada tabel 1 menginformasikan bahwa responden terbesar adalah pada kelompok umurdewasa yang memiliki lama hari rawat pendek (<6 har. 689 responden . ,5%). Sementara kelompok umur responden yang memiliki hari rawat pendek paling sedikit adalah kelompok umur bayi yaitu sebanyak 351 responden . ,5%). Kelompok umur yang memiliki hari rawat ideal . -9 har. terbanyak adalah lansia yaitusebanyak 549 responden . ,9%) sedangkan yang paling sedikit adalah remaja yaitu 77 responden . ,6%). Pada hari rawat panjang (>9 har. , kelompok umur lansia memiliki jumlah responden terbanyak yaitu 67 responden . ,5%) dan kelompok umur remaja memiliki jumlah paling sedikit yaitu 4 responden. Hasil uji statistik didapatkan p-value <0,001 yangdapat diartikan terdapat Catur Yuli Atmojo1. Yunina Elasari1. Surmiasih1. Tri Adi Nugroho1 Email: ayiedeh@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni hubungan yang signifikan antara umur dengan lama hari rawat. Tabel 1 Hubungan Umur dengan Lama Hari Rawat Pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro Lama Hari Rawat Total Pendek Ideal Panjang Bayi . - < 1 tahu. 2,5% 112 0,8% 34 0,2% 497 3,6% Anak . -< 10 tahu. 1097 7,9% 143 1,0% 0,1% 1248 9,0% Remaja . -< 19 tahu. 6,4% 0,6% 4 0,0% 7,0% Dewasa . -44 tahu. 3689 26,5% 261 1,9% 25 0,2% 3975 28,6% Pra Lansia . -59 3120 22,4% 380 2,7% 48 0,3% 3548 25,5% Lansia (Ou 60 tahu. 3048 21,9% 549 3,9% 67 0,5% 3664 26,4% Total 12195 87,7% 1522 10,9% 186 1,3% 13903 100,0% Umur P-Value <0,001 Pada tabel 2 didapatkan informasi bahwa jenis kelamin perempuan memilikijumlah responden terbanyak pada hari rawat pendek yaitu 6. 747 responden . ,5%) sementara responden paling sedikit adalah padajenis kelamin perempuan yang memiliki hari rawat panjang yaitu 90 responden . ,6%). Pada hari rawat ideal jumlah responden terbanyak adalah pada jenis kelamin laki-laki yaitu 779 responden . ,6%). Hasil uji korerasi chi squaredidapatkan hasil p-value sebesar <0,001 yang dapat diartikan terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan lama hari rawat. Tabel 2 Hubungan Jenis Kelamin dengan Lama Hari Rawat Pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Lama Hari Rawat Total Pendek Ideal Panjang 5448 39,2% 779 5,6% 96 0,7% 6323 45,5% 6747 48,5% 743 5,3% 90 0,6% 7580 54,5% 12195 87,7% 1522 10,9% 186 1,3% 13903 100,0% PValue <0,001 Tabel 3 memberikan informasi hasil tabulasi silang antara kelas perawatan dan lama hari rawat. Jumlah responden terbanyak adalah responden yang dirawat di kelas 3 dengan lama hari rawat pendek yaitu sebanyak 7. 564 responden . dan responden paling sedikit adalah kelas 2 dengan lama hari rawat panjang yaitu 19 responden . ,1%). Pada hari rawat ideal, jumlah responden terbanyak adalah kelas 3 yaitu 993 responden . ,1%). Hasil uji chi square didapatkan hasil p-value 0,001 sehingga dapat diartikan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kelas perawatan dengan lama hari rawat. Tabel 3 Hubungan Kelas Perawatan dengan Lama Hari Rawat Pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro Kelas Perawatan Pendek Lama Hari Rawat Ideal Total Panjang 2,2% 40 0,3% 1,6% 19 0,1% 7,1% 127 0,9% Value Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 2448 17,6% 2183 15,7% 7564 54,4% 20,1% 17,4% 62,5% Total 12195 87,7% 1522 10,9% 186 1,3% 13903 100,0% Catur Yuli Atmojo1. Yunina Elasari1. Surmiasih1. Tri Adi Nugroho1 Email: ayiedeh@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 0,001 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Pada Tabel 4 memberikan informasi bahwa jenis penyakit akut dengan lama hari rawat pendek memiliki jumlah responden terbanyak yaitu 8. 627 responden . ,1%),sedangkan responden paling sedikit adalah pada jenis penyakit kronis yang memiliki lama hari rawat panjang yaitu 68 responden . ,5%). Hasil uji chi square didapatkan hasil p-value sebesar 0,001 dimana nilai ini <0,05 sehingga dapat diartikan terdapat hubungan yangsignifikan antara kelas perawatan dengan lama hari rawat. Tabel 4 Hubungan Jenis Penyakit dengan Lama Hari Rawat Pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro Jenis Penyakit Akut Kronis Total Pendek Lama Hari Rawat Ideal 8627 62,1% 1020 7,3% 3568 25,7% 502 3,6% 12195 87,7% 1522 10,9% Total Panjang 118 0,8% 9765 68 0,5% 4138 186 1,3% 13903 70,2% 29,8% 100,0% Value 0,001 Pada Tabel 5 menginformasikan bahwa jumlah responden terbanyak adalah pada responden dengan 1 diagnosis yang memiliki hari rawat pendek yaitu 8. ,7%). Sedangkan jumlah responden paling sedikit adalah pada jumlah 1 diagnosis yang memiliki hari rawat panjang yaitu 54 responden . ,4%). Pada lama hari rawat ideal jumlah terbanyak adalah responden dengan 1 diagnosis yaitu 833 . ,0%). Setelah dilakukan uji chi square didapatkan hasil p-value sebesar <0,001 sehingga dapat diartikan terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah diagnosis penyakit dengan lama hari rawat. Tabel 5 Hubungan Jumlah Diagnosis dengan Lama Hari Rawat Pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Metro Jumlah Diagnosis 1 Diagnosis >1 Diagnosis Total Lama Hari Rawat Pendek Ideal Total Panjang 8992 64,7% 833 6,0% 54 0,4% 9879 3203 23,0% 689 5,0% 132 0,9% 4024 12195 87,7% 1522 10,9% 186 1,3% 13903 Value 71,1% 28,9% 100,0% <0,001 PEMBAHASAN Hubungan Umur dengan Lama Hari Rawat Hasil uji statistik didapatkan p-value <0,001 yang dapat diartikan terdapat hubunganyang signifikan antara umur dengan lama hari rawat. Lansia memiliki lama hari rawat lebih panjang dan dewasa memiliki hari lama rawat paling pendek. Maharani et al. , . melakukan penelitian tambahan yang menemukan bahwa ada korelasi yang signifikan antara usia pasien dan lama hari rawat mereka, terutama yang berkaitan dengan appendiktomi. Salah satu faktor yang memengaruhi seberapa cepat luka sembuh adalah usia. Pengaruh usia dapat dijelaskan dalam perubahan pembuluh darah pada area luka, penurunan fungsi hati yang menghambat faktor pembekuan, respon inflamasi yang lebih lambat, penurunan produksi limfosit dan antibodi, jaringan kolagen yang lebih lunak, dan jaringan parut yang kurang elastis. Hasilnya adalah rawat inap yang lebih lama di rumah sakit. Menurut Larasati . semakin bertambahnya usia, maka tingkat metabolisme semakin Hal ini dikarenakan hilangnya sebagian jaringan otot serta perubahan hormonal dan neurologis, akibatnyakecepatan tubuh dalam membakar kalori pun berkurang. Dijelaskan melalui teori tersebut bahwa semakin bertambahnya umur maka tingkat fungsi jaringan otot akan semakin Catur Yuli Atmojo1. Yunina Elasari1. Surmiasih1. Tri Adi Nugroho1 Email: ayiedeh@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pasien lansia memiliki lama hari rawat lebih panjang karena terjadi perubahan fisiologis termasuk hormonal dan penurunan metabolisme. Selain itu rentang usia paling banyak memiliki hari rawat adalah jumlah pasien terbanyak yang dirawat inap dan juga pasien terbanyak yang memiliki hari rawat panjang. Hubungan Jenis Kelamin dengan Lama Hari Rawat Hasil uji korerasi chi square didapatkan hasil p-value sebesar <0,001 yang dapat diartikan terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan lama hari rawat. Perempuan menjadi responden terbanyak yang dirawat inap. Namun, laki2 lebih panjang lama hari rawatnya dibanding Hasil ini sesuai dengan penelitian Sasmita . , yang menemukan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dan lama hari rawat pasien yang menjalani pembedahan. Pasien pria merupakan faktor resiko signifikan yang berhubungan dengan lama rawat inap pasien terkonfirmasi COVID-19 di RSUI Depok (Fahmia dkk, 2. Penelitian Tedja . adalah penelitian lain yang berbeda dengan temuan penulis. Studi ini menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan serta lama hari perawatan. Selain itu, status gizi laki-laki dan perempuan ternyata berbeda, dimana perempuan cenderung memiliki status gizi yang lebih buruk. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara jenis kelamin, penerimaan pasien, status gizi, dan lama rawat inap. Tubuh perempuan dan pria memiliki karakter yang berbeda. Alhasil, akan adaperbedaan bagaimana tubuh merasakan sakit, sistem imunitas, kondisi pencernaan, resiko serangan jantung dan reaksi tubuh terhadap obat. Dalam merasakan sakit, pria lebih mampu menahan rasa sakit lebih lama dibandingkan perempuan, sebelum mereka memberikan reaksi terhadap rasa sakit tersebut. Sedangkan dalam sistem imunitas, hormon oestrogen pada perempuan memainkan peran aktif tersebut dibandingkan hormon testoterone pada pria. Hal ini yang kemudian membuat perempuan memiliki sistem imum yang lebih kuat. Perbedaan respon tubuh terhadap obat terjadi karena besarnya organ, berat badan, kadar lemak, dan pola aliran darah sampai pada jumlah enzim yang memecah obat di dalam ginjal dimana ginjal dalam tubuh perempuan akan bekerja lebih lambat dibandingkan pada pria, sehingga obat tertentu harus diberikan dalam dosis lebih rendah pada Hubungan Kelas Perawatan dengan Lama Hari Rawat Hasil uji chi square didapatkan hasil p-value 0,001 sehingga dapat diartikan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kelas perawatan dengan lama hari rawat. Responden yang dirawat di kelas 3 lebih banyak serta memiliki lama rawat yang lebih panjang. Sebagaimana tercantum dalam Perpres Nomor 82 Tahun 2018, segmen peserta PBI memilihi hak rawat inap kelas 3. Didukung juga data dalam company profile Rumah Sakit Mardi Waluyo yang mana jumlah tempat tidur pasien terbanyak adalah kelas 3. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Aikenet al. yang menemukan bahwa kelas perawatan yang lebih tinggi di rumah sakit umumnya terkait dengan lama hari rawat inap yang lebih singkat. Selanjutnya. Garcia-Gigorro et al. , . menjelaskan bahwa kelas perawatan dikaitkan dengan jumlah waktu yang dihabiskan pasien di rumah sakit. Penjelasan ini adalah bahwa perawatan di unit perawatan intensif atau kelas perawatan yang lebih tinggi biasanya dikaitkan dengan intervensi medis yang lebih intensif, yang dapat mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan pasien di rumah sakit dibandingkan dengan perawatan di unit perawatan umum. BPJS Kesehatan menerapkan kelas perawatan yang berbeda-beda kepadapesertanya. Sesuai Permenkes Nomor 28 Tahun2014. Jumlah tempat tidur bebeda-beda pada setiap kelasnya. Untuk kelas berjumlah 1 sampai 2 tempat tidur. Kelas 2 berjumlah 2 sampai 4 tempat tidur dan kelas 3 berjumlah 4 sampai 6 tempat tidur. Meskipun jumlah tempattidur setiap kelasnya berbeda, tetapi tidak ada perbedan dalam standar dan kualitas pelayananyang diberikan kepada peserta. Catur Yuli Atmojo1. Yunina Elasari1. Surmiasih1. Tri Adi Nugroho1 Email: ayiedeh@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Hubungan Jenis Penyakit dengan Lama Hari Rawat Hasil uji chi square didapatkan hasil p-value sebesar 0,001 dimana nilai ini <0,05 sehingga dapat diartikan terdapat hubungan yang signifikan antara kelas perawatan denganlama hari rawat. Responden yang dirawat lebih banyak dengan jenis penyakit akut dibandingkan kronis dan memiliki lama hari rawat yang panjang. Meski demikian, jumlah responden dengan penyakit akut yang memiliki lama hari rawat panjang dan jumlah responden dengan penyakit kronis yang memiliki lama hari rawat panjang hanya berbeda 0,3%. Studi Wartawan . menemukan hal yang sama: jenis penyakit . kut atau kroni. terkait dengan jumlah waktu yang dihabiskan di rumah Penyakit kronis memerlukan waktu rawat inap yang lebih lama daripada penyakit akut. Penyakit kronis adalah penyebab dari kesakitan dan kematian yang membutuhkan jangka waktu lama dan respon yang kompleks, jarang sembuh total, serta berkoordinasi dengan berbagai disiplin ilmukesehatan untuk keperluan pengobatan dan peralatan (Busse, et al. , 2. Studi Tedja . juga menemukan hubungan antara jenis penyakit dan lama rawat inap. Ada hubungan antara penyakit akut dan kronis dan lamanya rawat inap. Penyakit akut adalah penyakit yang terdiagnosis segera dan segera sembuh, sedangkan penyakit kronis memerlukan waktu yang lama untuk diobati dan akan menderita penyakit ini sampai meninggal. Selain itu, penelitian Nguyen . menunjukkan bahwa jenis penyakit memengaruhi lama perawatan di rumah sakit. Penyakit tertentu seperti pada kelompok penyakit sitem saraf, sistem peredaran darah, sistem muskuloskeletal, memerlukan waktu yang lebih panjang untuk perawatan masalah kesehatan yang sering ditemui di negara beriklim tropis seperti Indonesia (Rusdi& Farindra, 2. Wartawan . dalam penelitiannya menyebutkan ada korelasi yang signifikan antara jumlah diagnosis dan lama rawat inap. Penelitian ini dilakukan di bangsal bedah RSUP Sanglah Denpasar, di mana sebagian pasien memerlukan perawatan oleh lebih dari satu dokter, yang menyebabkan jumlah hari rawat inap yang lebih lama. Kemudian dalam penelitian yang dilakukan oleh Syam dan Khair. , pasien DBD dengan penyakit penyerta mengalami hari rawat yang lebih lama dibandingkan dengan pasien dengan diagnosa DBD tunggal. Ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara penyakit penyerta dan lama hari rawat. Penyakit akut cenderung memiliki masa perawatan yang lebih pendek dan pemulihan yang lebih singkat. Sementara penyakit kronis memerlukan penanganan yang lebih kompleks sehingga akan berdampak pada hari rawat yang Hubungan Jumlah Diagnosis Penyakit dengan Lama Hari Rawat Hasil uji chi square didapatkan hasil p- value sebesar <0,001 sehingga dapat diartikan terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah diagnosis penyakit dengan lama hari rawat. Responden dengan >1 diagnosis memiliki lama hari rawat yang lebih panjang daripada responden dnegan 1 diagnosis. Hal ini juga sesuai dengan penelitianTedja . Studi ini menemukan bahwa ada korelasi signifikan antara jumlah diagnosis dan lama hari perawatan. Waktu tambahan yang diperlukan untuk merawat pasien dengan diagnosis tambahan dapat menjelaskan korelasi ini. Berbagai penemuan teknologi, perpindahan manusia, gaya hidup, dan perubahan yang terjadi pada alam beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyebaran penyakit di suatu tempat. Penyakit tropis adalah salah satu bentuk masalah kesehatan yang sering ditemui di negara beriklim tropis seperti Indonesia (Rusdi & Farindra, 2. Wartawan . dalam penelitiannya menyebutkan ada korelasi yang signifikan antara jumlah diagnosis dan lama rawat inap. Penelitian ini dilakukan di bangsal bedah RSUP Sanglah Denpasar, di mana sebagian pasien memerlukan perawatan oleh lebih dari satu dokter, yang menyebabkan jumlah hari rawat inap yang lebih lama. Kemudian dalam penelitian yang dilakukan oleh Syam dan Khair. , pasien DBD dengan penyakit penyerta mengalami hari rawat yang lebih lama dibandingkan dengan pasien dengan diagnosa DBD tunggal. Ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara penyakit penyerta dan lama hari rawat. Penegakan diagnosis, penanganan medis yang diberikan, serta prognosis dari suatu penyakit atau kondisi medis pasien. Dewasa ini ekspektasi pasien terhadap medis atau dokter semakin Terkesan akhirnya, bahwa pasien berharap bila sudah mendapat penanganan medis kondisinya harus membaik,harus sembuh, dan tidak boleh terjadi kematian. Pada kenyataannya semua usaha medis, tidak terlepas dari kondisi pasien sendiri. Satu kondisi benar-benar tidak dapat Catur Yuli Atmojo1. Yunina Elasari1. Surmiasih1. Tri Adi Nugroho1 Email: ayiedeh@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni disamakan bila terjadi pada pasien yang berbeda. Bahkan bila terjadi pada pasien yang sama namun pada waktu yang berbeda punkondisinya sudah tidak sama (Sobana & Marwan, 2. Banyaknya jumlah diagnosis penyakit berhubungan dengan kompleksitas perawatan pasien dan upaya tambahan yang harus dilakukan rumah sakit dalam menangani penyakit pasien. Ditambah juga ekspektasi dari pasien yang berbeda-beda terhadap kesembuhan penyakit. Hal ini yang kemudian akan berdampak pada hari rawat pasien yang semakin memanjang. KESIMPULAN Faktor-Faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat pasien JKN BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kotametro yaitu sebagai berikut: Ada hubungan antara umur dengan lama hari rawat pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Ada hubungan antara jenis kelamin denganlama hari rawat pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota metro. Ada hubungan antara kelas perawatan dengan lama hari rawat pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota metro. Ada hubungan antara jenis penyakit denganlama hari rawat pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota metro. Ada hubungan antara jumlah diagnosis penyakit dengan lama hari rawat pasien di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota metro. Disarankan kepada BPJS Kesehatan CabangMetro bekerja sama dengan manajemen rumahsakit untuk berkoordinasi melaksanakan kegiatan analisis mendalam terhadap lama hari rawat (LOS) di rumah sakit. Jika ada kesepakatan pemahaman antara BPJSKesehatan dan fasilitas kesehatan, layanan akanlebih baik dan peserta akan lebih puas. DAFTAR PUSTAKA