Nama Penulis Aflah Consilia : Jurnal Bimbingan dan Konseling E- ISNN : 2986-0172 Vol. No. 1, 2025 http:// ejournal. id/index. php/aflah/index PERAN BIMBINGAN AKADEMIK TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR KELAS 4 STUDI KASUS DI MIS KERTIJAYAN Risalatin NadiaA. Cintami RizaningtyaA. Masykurotun AzzahA. Rahmi AnekasariA 1234 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. UIN K. Abdurrahman Wahid Pekalongan nadia@mhs. id1, cintami. rizaningtya@mhs. azzah@mhs. id3, rahmi. anekasari@uingusdur. Abstrak Kemandirian belajar merupakan kemampuan penting yang perlu dikembangkan sejak sekolah dasar, namun pada praktiknya masih banyak siswa yang bergantung pada arahan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran bimbingan akademik dalam meningkatkan kemandirian belajar siswa kelas IV di MIS Kertijayan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Data penelitian diperoleh melalui kegiatan pengamatan, wawancara, dan telaah dokumentasi dengan melibatkan wali kelas dan kepala sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bimbingan akademik yang dilakukan secara terencana melalui penjelasan ulang materi, latihan tambahan, pendampingan pengelolaan waktu belajar, serta program remedial mampu menumbuhkan inisiatif, tanggung jawab, dan keberanian siswa dalam belajar Meskipun masih ditemukan beberapa kendala, bimbingan akademik terbukti berperan strategis dalam membentuk kebiasaan belajar mandiri sejak dini. Temuan ini menegaskan bahwa pendampingan akademik yang konsisten merupakan kunci penguatan karakter kemandirian belajar Kata Kunci: Bimbingan Akademik. Kemandirian Belajar. Siswa Sekolah Dasar Abstract Learning independence is an important skill that needs to be developed from elementary school, but in practice, many students still rely on teacher guidance. This study aims to describe the role of academic guidance in improving the learning independence of fourth-grade students at MIS Kertijayan. The approach used in this study is qualitative with a case study design. The research data were obtained through observations, interviews, and document analysis involving the homeroom teacher and the school principal. The results showed that academic guidance carried out in a planned manner through re-explanation of material, additional exercises, assistance in learning time management, and remedial programs was able to foster student initiative, responsibility, and courage in independent learning. Although several obstacles were still encountered, academic guidance proved to play a strategic role in forming independent learning habits from an early age. These findings confirm that consistent academic guidance is key to strengthening students' independent learning character. Keywords: Academic guidance. Independent learning. Elementary school Student Risalatin N. Cintami R. Masykurotun A. Rahmi A PENDAHULUAN Kemandirian belajar adalah salah satu bagian kompetensi esensial yang perlu ditumbuhkan sejak jenjang sekolah dasar. Pada tahap perkembangan ini, siswa mulai belajar mengambil keputusan sederhana, bertanggung jawab terhadap tugas, dan membangun kemampuan mengelola proses belajar secara lebih mandiri. Menurut Wulandari & Suparno . , kemandirian belajar tercermin dari kemampuan siswa mengatur waktu, memahami tanggung jawab akademiknya, serta tidak bergantung sepenuhnya pada arahan guru. Kemandirian ini menjadi fondasi penting bagi keberhasilan belajar di jenjang berikutnya, terutama di era pembelajaran modern yang menuntut siswa aktif, kreatif, dan Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemandirian belajar siswa sekolah dasar masih tergolong rendah. Beberapa penelitian mencatat bahwa siswa sering kali menunjukkan ketergantungan tinggi kepada guru, kurang percaya diri dalam menyelesaikan tugas, serta mengalami kesulitan mengelola proses belajar (Putri & Hidayah, 2022. Fatimah, 2. Kondisi tersebut diperparah oleh kebiasaan pembelajaran di kelas yang dilakukan dengan berpusat pada guru, sehingga siswa belum terbiasa mengambil peran aktif dalam menentukan strategi belajar yang tepat (Sari. Dalam konteks inilah bimbingan akademik menjadi sangat strategis. Layanan bimbingan tidak hanya berfungsi memberikan bantuan ketika siswa mengalami kesulitan, tetapi juga membantu mereka mengenali kemampuan diri, merencanakan kegiatan belajar, serta mengembangkan motivasi intrinsik (Nurihsan, 2015. Yusuf, 2. Di sekolah dasar, layanan bimbingan diberikan oleh wali kelas yang berperan sebagai pendamping utama dalam perkembangan akademik, emosional, dan sosial siswa. Peran wali kelas sangat penting karena mereka berinteraksi secara intens dengan siswa dan dapat memberikan bimbingan yang lebih personal. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bimbingan akademik memberikan kontribusi signifikan terhadap kemandirian belajar siswa. Putri & Hidayah . menegaskan bahwa layanan konseling individual, bimbingan kelompok, serta bimbingan klasikal mampu meningkatkan inisiatif dan kemampuan self-regulated learning siswa. Sementara penelitian lain menyebutkan bahwa ada faktor internal yang dapat mempengaruhi seperti motivasi, konsep diri, dan disiplin pribadi, selain itu ada juga faktor eksternal seperti dukungan orang tua, lingkungan belajar, dan pola asuh guru yang juga turut memengaruhi perkembangan kemandirian belajar (Sugianto. Suryandari. , & Age. VOL. NO. 1, 2025 Risalatin N. Cintami R. Masykurotun A. Rahmi A Selain itu, teori Self-Regulated Learning (SRL) oleh Zimmerman . menjelaskan bahwa siswa dengan kemandirian belajar tinggi mampu menetapkan tujuan, menggunakan strategi belajar efektif, memonitor kemajuan, serta mengevaluasi hasil belajar secara mandiri. Oleh karena itu, keberadaan bimbingan akademik berperan sebagai sarana penting dalam membangun kompetensi tersebut sejak usia sekolah dasar. Berdasarkan fenomena dan kajian teoretis tersebut, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana bimbingan akademik diterapkan di Madrasah Ibtidaiyah Kertijayan dan bagaimana layanan tersebut berkontribusi dalam membentuk kemandirian belajar siswa. Sebagai studi kasusnya, penelitian ini dibuat dengan harapkan dapat memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai praktik bimbingan akademik di sekolah dasar Islam, sekaligus memberikan rekomendasi yang relevan bagi pengembangan layanan Bimbingan dan Konseling di tingkat madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar. METODE Penelitian ini tergolong sebagai penelitian lapangan . ield researc. , yaitu penelitian yang dilaksanakan secara langsung di tempat penelitian guna memperoleh serta mengumpulkan data yang Agar ruang lingkup penelitian lebih terfokus, digunakan desain studi kasus yang memusatkan perhatian pada satu satuan pendidikan, yaitu MIS Kertijayan. Pendekatan penelitian yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan, menelaah, serta mengelompokkan temuan data yang diperoleh di lapangan. Metode deskriptif ini melibatkan berbagai teknik, seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang merupakan tahapan penting dalam pengumpulan data untuk memperoleh informasi yang valid dan relevan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan wali kelas sekaligus guru bimbingan konseling, kepala sekolah di MI Kertijayan, diperoleh gambaran bahwa pelaksanaan bimbingan akademik telah berjalan secara terencana dan menyesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa. Wali kelas memegang peran sentral dalam layanan ini karena intensitas interaksi yang tinggi dengan siswa dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Bentuk bimbingan akademik yang paling dominan dilakukan adalah pemberian penjelasan ulang terhadap materi yang dirasa sulit oleh siswa. Materi seperti berhitung, pemahaman bacaan, serta konsep-konsep dasar dalam mata pelajaran keagamaan sering kali memerlukan penguatan tambahan. Penjelasan ulang ini dilakukan baik secara klasikal maupun individual ketika guru menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar. Praktik ini VOL. NO. 1, 2025 Risalatin N. Cintami R. Masykurotun A. Rahmi A menunjukkan bahwa bimbingan akademik tidak bersifat kaku, melainkan fleksibel mengikuti kondisi Selain itu, guru juga memberikan latihan tambahan sebagai upaya penguatan konsep. Soalsoal latihan diberikan di luar jam pelajaran reguler dengan tujuan melatih siswa agar mampu mengulang dan memahami materi secara mandiri di rumah. Pemberian latihan ini sekaligus menjadi sarana untuk membiasakan siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Temuan ini sejalan dengan pendapat Nurihsan . yang menegaskan bahwa bimbingan akademik berfungsi membantu siswa mengembangkan strategi belajar yang efektif dan berkelanjutan. Bimbingan akademik di MI Kertijayan juga mencakup pendampingan dalam pengelolaan waktu belajar. Wali kelas memberikan arahan kepada siswa mengenai cara menyusun jadwal belajar, menetapkan target harian, serta menyelesaikan tugas secara bertahap. Pendampingan ini diberikan karena masih ditemui siswa yang kesulitan menentukan prioritas antara belajar dan aktivitas lain. Melalui arahan tersebut, siswa secara perlahan mulai memahami pentingnya disiplin waktu dalam Program remedial dan evaluasi berkala menjadi bagian penting dari pelaksanaan bimbingan Siswa yang belum mencapai standar ketuntasan mendapatkan layanan remedial berupa penjelasan ulang, tugas tambahan, dan bimbingan individual. Evaluasi dilakukan secara rutin untuk memantau perkembangan belajar siswa. Praktik ini menunjukkan bahwa bimbingan akademik tidak selalu berorientasi pada hasil akhir, akan tetapi juga pada proses pembelajaran yang dialami siswa. Pelaksanaan bimbingan akademik tersebut berdampak pada perkembangan kemandirian belajar siswa. Hasil pengamatan dan wawancara menunjukkan adanya peningkatan pada beberapa indikator kemandirian belajar. Siswa mulai menunjukkan inisiatif dalam mengerjakan tugas tanpa harus menunggu perintah dari guru. Selain itu, siswa tampak lebih berani membaca ulang materi dan mencoba memahami pelajaran secara mandiri sebelum meminta bantuan. Kesadaran untuk menyampaikan kesulitan belajar kepada guru juga mulai berkembang, terutama pada siswa yang sebelumnya cenderung pasif. Perkembangan ini menunjukkan bahwa bimbingan akademik mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap proses belajarnya. Temuan tersebut sesuai dengan teori SelfRegulated Learning yang dinyatakan oleh Zimmerman . , yang menuliskan bahwa kemandirian belajar ditandai oleh kemampuan siswa dalam merencanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan Melalui bimbingan akademik yang berkelanjutan, siswa MI Kertijayan mulai menunjukkan tahapan awal dari regulasi diri tersebut. Meskipun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah hambatan dalam VOL. NO. 1, 2025 Risalatin N. Cintami R. Masykurotun A. Rahmi A pengembangan kemandirian belajar siswa. Seperti yang dialami oleh beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi yang bersifat abstrak, terutama siswa dengan kemampuan membaca dan berhitung yang masih dalam kondisi relatif rendah. Kondisi ini menuntut pendampingan yang lebih intensif dari guru. Selain itu, kurangnya disiplin waktu belajar masih menjadi kendala bagi sebagian siswa, terutama mereka yang tidak mendapatkan pengawasan belajar secara optimal di rumah. Lingkungan belajar yang kurang kondusif juga menjadi faktor penghambat. Berdasarkan wawancara, beberapa siswa mengaku tidak memiliki ruang belajar khusus sehingga sulit Motivasi belajar yang belum stabil turut memengaruhi tingkat kemandirian belajar Beberapa siswa mudah merasa bosan dan memerlukan pendekatan berulang dari guru untuk menjaga semangat belajar mereka. Temuan ini sejalan dengan pendapat Djaali ( dalam Sugianto. Suryandari. , & Age, 2. yang menyatakan bahwa kemandirian belajar dipengaruhi oleh faktor internal, seperti motivasi dan konsep diri, serta faktor eksternal, seperti lingkungan keluarga dan dukungan guru. Hasil penelitian ini memperkuat temuan penelitian sebelumnya oleh Putri dan Hidayah . yang menyebutkan bahwa bimbingan akademik, baik secara individual maupun kelompok, berkontribusi terhadap peningkatan inisiatif belajar dan kemampuan mengatur waktu siswa. Dengan demikian, bimbingan akademik di MI Kertijayan terbukti memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan belajar mandiri, meskipun pelaksanaannya masih perlu dioptimalkan untuk menjangkau seluruh siswa secara merata. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa bimbingan akademik memiliki peran yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kemandirian belajar bagi siswa di sekolah dasar. Pendampingan yang konsisten, berbasis kebutuhan siswa, serta melibatkan peran orang tua di rumah menjadi faktor kunci dalam membangun keterampilan regulasi diri siswa. Oleh karena itu, sekolah perlu terus memperkuat program bimbingan akademik, mengoptimalkan peran wali kelas, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya inisiatif dan tanggung jawab belajar siswa. SIMPULAN Bimbingan akademik terbukti berfungsi sebagai penggerak penting dalam penguatan kemandirian belajar siswa sekolah dasar, terutama dalam membangun kesadaran belajar dan tanggung jawab akademik. Pendampingan yang berkelanjutan membantu siswa mengembangkan kebiasaan belajar yang lebih terarah tanpa ketergantungan penuh pada guru. Temuan ini memiliki arti VOL. NO. 1, 2025 Risalatin N. Cintami R. Masykurotun A. Rahmi A penting bagi praktik pendidikan dasar karena menegaskan bahwa kemandirian belajar dapat dikembangkan melalui layanan bimbingan akademik yang terintegrasi dalam pembelajaran. Namun, penelitian ini belum sepenuhnya menjelaskan strategi bimbingan yang paling efektif untuk siswa dengan latar belakang kemampuan dan dukungan keluarga yang beragam, sehingga diperlukan kajian lanjutan yang lebih mendalam dan kontekstual. DAFTAR PUSTAKA