Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Volume A Nomor A Bulan A Tahun AHalamanA Tersedia Online di https://ojs. id/index. php/Socius/index ISSN Online : DOI: Socius Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Penanggulangan Bencana Banjir dalam Perspektif Antropologi Paulus Seftian Sitorus 1 Program Studi Pendidikan Antropologi. Universitas Negeri Medan Corresponding Author : paulusseftiansitorus@gmail. Abstract Bencana banjir sudah seperti tradisi yang sering terjadi dikota medan apalagi kala musim hujan melanda tahun menurut kamus antropologi tradisi merupakan kebiasaan kebiasaan dari kehidupan suatu penduduk. pendekatan yang pernah dikaji dan menjadi kajian antropologi kebencanaan ialah Ausubkebudayaan bencanaAy (Disaster subcultur. konsep ini tercipta dari perilaku masyarakat, yang melihat nilai , norma-norma , kepercayaan dan sistem pengetahuan dan teknologi serta organisasi sosial dalam melakukan pencegahan bencana, ketika terjadi bencana alam bagian bagian dari sub kebudayan harus belajar dari kejadian sebelum nya. Menurut Prof irwan Abdullah Auselalu saja sebuah bencana dianggap sebagai pengalaman baru, sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sehingga belum menjadi pengetahuan atau pengalaman keseluruhan masayarakatAy. Sehingga sumbangsi antropologis sangat diperlukan melalui catatan catatn etnografi sebelum nya dengan teknik pengamatan. Dalam melakukan proses penanggulangan bencana dapat dilakukan dari pra bencana. Bencana. Pasca Bencana. Saran yang ditulis dari penulis ditujukan kepada pemerintah dan masayarakat umum agar melakukan penanggulang bencana banjir di kecamatan medan labuhan harus melihat dari pengalaman dan catatan catatan etnografis dari bencana serupa sebelumnya sehingga melakukan perbaikan termasuk kedalam nilai-nilai, norma-norma , kepercayaan dan sistem pengetahuan dan teknologi serta organisasi sosial yang ada. Sehingga terciptanya kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Keywords: Antropologi. Bencana. Banjir. Medan Pendahuluan Bencana banjir merupakan bencana yang disebabkan oleh alam dan dapat dipengaruhi oleh ulah manusia itu sendiri. Kota medan telah bertumbuh menjadi kota terbesar tahun ketahun. Hal ini dibuktikan kota medan sebagai kota terbesar diindonesaia yaitu ketiga setelah kota DKI Jogjakarta dan Surabaya. Kota medan terbagi lagi atas 21 kecamatan, termasuk salah satunya adalah kecamatan medan labuhan. Selain itu kota ini sangat dikenal sebagai multicultural. Hal ini dikarenakan tidak adanya etnis budaya yang mendominasi. Sebuah kota harus dilengkapi oleh sarana dan prasarana , agar penduduknya dapat hidup layak dan nyaman. Prasarana kota berfungsi sebagai mendistribusikan sumber daya perkotaan dan merupakan pelayanan yang mendasar untuk masyarakat kota. Selain itu , dalam kualitasnya sarana dan prasarana ini menjadi kestabilan dalam kesejahteraan masayarakat dalai menjaga kesehatan, kelangsungan perekonomian dan menentukan mutu hidup masayarakat kota. Kota medan terbagi lagi atas 21 kecamatan, termasuk salah satunya adalah kecamatan medan labuhan. Dari beberapa hal diatas sangat bertolak belakang dengan realita yang ada dikota medan saat ini ,karena dari sekian luas nya tanah disekitaran kota lebih didominasi oleh bangunan bangunan formal seperti . edung,rumah,apartemen dl. sehingga daerah resapan air sangat minim. Kurangnya daerah resapan air dapat menimbulkan bencana dikalangan masyarakat atau yang sering disebut dengan banjir. Bencana banjir ini pada dasarnya jauh dari kata nyaman, tentaram, aman, bersih sehat. Dimana biasanya kota dapat dikenal sebagai tempat masyarakat menemukan rasa aman, nyaman , tentram, bersih , sehat dan sejahtera untuk layak dihuni. Bencana banjir sudah seperti tradisi yang sering terjadi dikota medan apalagi kala musim hujan melanda tahun ketahun. menurut kamus antropologi tradisi merupakan kebiasaan kebiasaan dari kehidupan suatu penduduk. Bencana banjir membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Beberapa lokasi kerap tergenang oleh air saat hujan tiba, salah satu wilayah yang menjadi langganan banjir adalah kecamatan medan labuhan. Hal ini dibuktikan dari banyak nya wilayah dan lokasi yang sering terkenang banjir, hujan turun sebentar sudah langsung terlihat terkenang dari beberapa titik daerah kecamatan medan labuhan. Seperti kasus tahun 2020 sebagian masayarakat marasakan dampak banjir sehingga mengungsi, warga yang terdampak banjir sebanyak 1. 469 rumah, 1. KK, 3. 500 jiwa . edan, detikNews. Jika dilihat dampaknya bencana banjir ini dapat memicu masalah -masalah sosial seperti kriminalitas, pencurian,penyakit menular dari virus dan bakteri. Coleman. W dan Cressey . gejala yang dapat dikatakan masalah sosial pertama. ketika sesuatu yang dilakukan seseorang itu telah melanggar atau tidak sesuai dengan nilai-norma yang berlaku dimasyarakat. Kedua, sesuatu yang dilakukan individu atau kelompok itu telah melakukan disintegrasi kehidupan dalam Ketiga sesuatu yang dilakukan individu atau kelompok yang memunculkan Melalui dampak ini mendapatkan reaksi dari berbagai kalangan sperti pemerintah dan masyarakat untuk melakukan pencegahan bencana . Selain dampak yang disebabkan oleh bencana banjir seharusnya pemerintah dan masayarakat kota medan bersama sama dalam menyelesaikan penanggulangan bencana banjir. Hal ini lah yang menjadi focus kajian dari peneliti yang memandang masalah dari sudut pandang antropologi. Pembahasan Pendekatan yang pernah dikaji dan menjadi kajian antropologi kebencanaan ialah Ausubkebudayaan bencanaAy (Disaster subcultur. Teori ini pertama kali diajukan Harry Moore. Didalam bukunya and the wind blew . , moore memperkenalkan bagian-bagian kebudayaan bencana sebagai Au pola-pola penyesuaian, potensial, sosial, psikologis, fisik, yang dilakukan suatu penduduk wilayah dalam menghadapi bencana yang menimpaAy . oore 1964 . konsep ini tercipta dari perilaku masyarakat, yang melihat nilai ,norma-norma, kepercayaan dan sistem pengetahuan dan teknologi serta organisasi sosial dalam melakukan pencegahan bencana, ketika terjadi bencana alam bagian bagian dari sub kebudayan harus belajar dari kejadian sebelum nya ( wenger dan weller ) ketika terjadi bencana , anggota komunitas- komunitas harus bertindak dan mengorganisasi sesuai dengan krisis yang ditimbulkan nya. Sesuatu komuniti jika tidak tanggap dalam mengupayakan bentuk bentuk bencana akan mendapatkan bencana sesungguhnya, artinya adanya persiapan diantara bagian bagian mayarakat dalam membentuk bencana banjir. Kurangnya tanggapan dari respon masayarakat dapat dilihat akibat dari belum pernahnya wilayah tersebut terkena bencana banjir. Bisa juga karena pola pola tindakan masayrakat yang tidak sesuai dengan pengalaman bencana sebelumnya sehingga tidak diatur dengan baik dengan kebudayan masayarakat secara umum sehingga tidak bisa menjadi patokan perilaku saat bencana banjir. Intinya dampak dan bentuk bentuk tanggapan sangat bergantung kepada pengalaman msayarakat yang sudah pernah terkena bencana. Menurut Prof irwan Abdullah Auselalu saja sebuah bencana dianggap sebagai pengalaman baru, sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sehingga belum menjadi pengetahuan atau pengalaman keseluruhan masayarakatAy. Sehingga sumbangsi antropologis sangat diperlukan melalui catatan catatn etnografi sebelum nya dengan teknik Pra bencana Banjir Melakukan gotong royong didaerah kecamatan medan labuhan sesuai dengan nilai nilai kebudayan Hal ini bisa dilakukan koloborasi antara pemerintah dan masyarakat. Mensosialisasikan dan melakukan pemetaan bencana banjir disetiap sudut titik bencana yang sering rawan banjir agar mengantisipasi sedini mungkin sperti menyelamatkan barang barang mengeksiskan budaya membuang sampah pada tempatnya agar setiap generasi sadar akan Membuat peringatan dini dari BMKG akan terjadinya perubahan iklim dari pemerintah daerah kepemerintah kecamatan . Bencana Banjir Menyediakan tempat posko pengungsian, menyalurkan bantuan sosial bagi masayrakat terdampak. Menyelamatkan korban korban yang terjebak dirumah, memadamkan semua aliran listrik disemua titik lokasi. meliburkan aktivitas masyarakat . Pasca Bencana Banjir Membersihkan bekas bekas lumpur disekitar lingkungan, melakukan perawatan medis agar tidak terkena virus dan bakteri selama banjir, penataan ulang drainase, waduk dan tempat penampungan air agar dapat mempelajari dari bahaya bencana sebelumnya. Kesimpulan Bencana banjir sudah seperti tradisi yang sering terjadi dikota medan apalagi kala musim hujan melanda tahun ketahun. menurut kamus antropologi tradisi merupakan kebiasaan kebiasaan dari kehidupan suatu penduduk. pendekatan yang pernah dikaji dan menjadi kajian antropologi kebencanaan ialah Ausubkebudayaan bencanaAy (Disaster subcultur. konsep ini tercipta dari perilaku masyarakat, yang melihat nilai , norma-norma , kepercayaan dan sistem pengetahuan dan teknologi serta organisasi sosial dalam melakukan pencegahan bencana, ketika terjadi bencana alam bagian bagian dari sub kebudayan harus belajar dari kejadian sebelum nya. Menurut Prof irwan Abdullah Auselalu saja sebuah bencana dianggap sebagai pengalaman baru, sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sehingga belum menjadi pengetahuan atau pengalaman keseluruhan masayarakatAy. Sehingga sumbangsi antropologis sangat diperlukan melalui catatan catatn etnografi sebelum nya dengan teknik pengamatan. Dalam melakukan proses penanggulangan bencana dapat dilakukan dari pra bencana. Bencana. Pasca Bencana Adapun saran yang ditulis dari penulis ditujukan kepada pemerintah dan masayarakat umum agar melakukan penanggulang bencana banjir di kecamatan medan labuhan harus melihat dari pengalaman dan catatan catatan etnografis dari bencana serupa sebelumnya sehingga melakukan perbaikan termasuk kedalam nilai-nilai, norma-norma , kepercayaan dan sistem pengetahuan dan teknologi serta organisasi sosial yang ada. Sehingga terciptanya kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat Referensi