Volume 3 Issue 1 . Pages 1-11 Jurnal Al-Muharrik: Jurnal Pendidikan Agama Islam E-ISSN: 3047-4132 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman AlQurAoan: Studi Living QurAoan di Pesantren Hidayatul Insan Monica Putri1 Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir. UIN Palangka Raya Putrimonica2864@gmail. Abstrak Artikel ini mengkaji pemaknaan dan pengamalan QS. Al-AnAoam ayat 115 dalam tradisi khataman Al-QurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan dengan menggunakan pendekatan Living QurAoan. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis bagaimana ayat tersebut diresepsi dan difungsikan dalam praktik ritual khataman Al-QurAoan di lingkungan pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis kajian Living QurAoan melalui observasi partisipatif terbatas dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. Al-AnAoam ayat 115 dipahami sebagai simbol kesempurnaan dan kemutlakan wahyu Allah yang menegaskan finalitas pembacaan Al-QurAoan. Pembacaan ayat ini pada akhir khataman tidak hanya berfungsi sebagai penutup bacaan, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai teologis, penguatan identitas QurAoani santri, serta legitimasi sosial terhadap otoritas Al-QurAoan. Temuan ini menegaskan bahwa AlQurAoan hadir sebagai teks yang hidup dan membentuk realitas sosial-keagamaan pesantren. Kata Kunci: khataman Al-QurAoan. living QurAoan. QS. Al-AnAoam ayat 115. Abstract This article examines the meaning and practice of QurAoan Surah Al-AnAoam verse 115 within the tradition of QurAoanic khataman at Pondok Pesantren Hidayatul Insan using a Living QurAoan The main objective of this study is to analyze how the verse is received and functioned in the ritual practice of QurAoanic khataman in the pesantren context. This research employs a qualitative method through a Living QurAoan framework, utilizing limited participatory observation and library research. The findings reveal that QS. Al-AnAoam verse 115 is understood as a symbol of the perfection and absoluteness of divine revelation, affirming the finality of completing the QurAoan recitation. The recitation of this verse at the end of khataman serves not merely as a textual closure but also as a medium for internalizing theological values, strengthening the QurAoanic identity of students, and socially legitimizing the authority of the QurAoan. This study confirms that the QurAoan functions as a living text shaping the socio-religious reality of the pesantren. Keywords: Islamic boarding school. living QurAoan. QurAoanic khataman. QS. Al-AnAoam verse 115. PENDAHULUAN Al-QurAoan merupakan pedoman hidup bagi umat Islam yang tidak hanya dibaca dan dihafal, tetapi juga diinternalisasikan dan diamalkan dalam berbagai bentuk praktik Dalam kehidupan umat Islam. Al-QurAoan hadir tidak semata sebagai teks Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 3. , 2026 | 1 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan normatif yang dikaji melalui disiplin tafsir, melainkan juga sebagai sumber nilai yang membentuk tradisi, ritual, dan tindakan sosial-keagamaan. Seiring dengan perkembangan kajian Al-QurAoan kontemporer, perhatian para akademisi mulai bergeser dari kajian tekstual menuju kajian yang menyoroti bagaimana Al-QurAoan dipraktikkan, dimaknai, dan dihidupkan dalam realitas sosial umat Islam. Pendekatan ini dikenal dengan istilah Living QurAoan, yakni kajian yang berfokus pada resepsi dan aktualisasi Al-QurAoan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim. Salah satu praktik keagamaan yang merepresentasikan fenomena Living QurAoan adalah tradisi khataman Al-QurAoan. Khataman Al-QurAoan umumnya dipahami sebagai penanda selesainya pembacaan Al-QurAoan secara utuh sebanyak tiga puluh juz, baik secara individual maupun kolektif. Dalam lingkungan pesantren, tradisi khataman tidak hanya dimaknai sebagai penyelesaian bacaan, tetapi juga sebagai ritual religius yang sarat dengan nilai simbolik, spiritual, dan sosial. Khataman Al-QurAoan sering menjadi medium internalisasi nilai-nilai Al-QurAoan, penguatan identitas religius santri, serta sarana membangun solidaritas komunitas pesantren. 2 Dalam praktik khataman Al-QurAoan, pembacaan ayat-ayat tertentu pada bagian penutup menjadi tradisi yang mengandung makna teologis mendalam. Salah satu ayat yang kerap dibacakan adalah QS. Al-AnAoAm Ayat ini dipahami sebagai penegasan atas kesempurnaan, kebenaran, dan keadilan firman Allah serta ketidakmungkinan adanya perubahan terhadap wahyu-Nya. Oleh karena itu, ayat ini memiliki posisi simbolik yang kuat sebagai penutup khataman Al-QurAoan. e AaOa acIA )115 :6/A eUE aUE aI a a aE aE aEEaI a nN aoON aaO E aacI eO a eE a aE eO aI ( UEIIA a AA eCU acOA a aA aE aE aIa a aEA AuTelah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-QurAoa. kebenaran dan keadilan. Tidak ada . eorang pu. yang dapat mengubah kalimatkalimat-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ay (Al-An'am/6:. Sejumlah penelitian terdahulu telah membahas tradisi khataman Al-QurAoan dalam perspektif Living QurAoan. Akbar dan Al-Bustomi meneliti khataman Al-QurAoan di Indonesia sebagai praktik keagamaan yang merepresentasikan interaksi antara teks AlQurAoan dan tradisi sosial masyarakat Muslim. Penelitian ini menekankan fungsi khataman sebagai ritual religius yang memperkuat spiritualitas dan kohesi sosial, namun tidak Didi Junaedi. AuLiving QurAoan: Sebuah Pendekatan Baru dalam Kajian Al-QurAoan,Ay Journal QurAoan Hadith Studies . , https://doi. org/10. 15408/quhas. Yeniati Ulfah dan Edi Kurniawan Farid. AuLiving QurAoan Pesantren: The Process and the Background of Khataman Al-QurAoan Tradition,Ay Santri 4, no. https://doi. org/10. 35878/santri. QurAoan Kemenag 2019 2 | Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 1. , 2023 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan mengkaji secara spesifik ayat-ayat Al-QurAoan yang dibaca dalam ritual tersebut. Penelitian lain oleh Ulfah dan Farid mengkaji tradisi khataman Al-QurAoan di pesantren sebagai bentuk Living QurAoan yang terinstitusionalisasi. Studi ini menyoroti latar belakang, proses, dan makna sosial khataman Al-QurAoan dalam lingkungan pesantren, tetapi belum memberikan perhatian khusus pada pemaknaan satu ayat tertentu sebagai bagian dari ritual khataman. Sementara itu, kajian terhadap QS. Al-AnAoam ayat 115 umumnya dilakukan dalam kerangka tafsir normatif, baik klasik maupun kontemporer. Tafsir-tafsir tersebut menekankan aspek linguistik dan teologis ayat, khususnya terkait konsep kesempurnaan wahyu, keadilan ilahi, dan kemutlakan firman Allah. 6 Namun, kajian tafsir tersebut belum menelusuri bagaimana ayat ini diresepsi, dimaknai, dan diamalkan secara konkret dalam tradisi keagamaan masyarakat, khususnya dalam ritual khataman Al-QurAoan di pesantren. Berdasarkan telaah terhadap penelitian-penelitian terdahulu tersebut, dapat diidentifikasi adanya celah penelitian . esearch ga. Penelitian tentang khataman AlQurAoan dalam perspektif Living QurAoan umumnya bersifat deskriptif terhadap praktik ritual tanpa fokus pada satu ayat tertentu, sementara kajian QS. Al-AnAoAm ayat 115 lebih banyak berhenti pada analisis tafsir tekstual tanpa mengaitkannya dengan praktik keagamaan yang hidup di masyarakat. Dengan demikian, belum terdapat kajian yang secara khusus mengintegrasikan analisis QS. Al-AnAoam ayat 115 dengan pemaknaan dan pengamalannya dalam tradisi khataman Al-QurAoan di lingkungan pesantren. Bertolak dari celah penelitian tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji pemaknaan dan pengamalan QS. Al-AnAoam ayat 115 dalam tradisi khataman Al-QurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan dengan menggunakan pendekatan Living QurAoan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dalam pengembangan studi Living QurAoan, khususnya dalam memahami hubungan antara teks Al-QurAoan, praktik ritual, dan budaya pesantren, serta memperkaya kajian Al-QurAoan berbasis realitas sosial-keagamaan umat Islam. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Living QurAoan. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pemaknaan dan pengamalan QS. Al-AnAoam ayat 115 dalam tradisi khataman Al-QurAoan yang hidup dan dipraktikkan dalam lingkungan pesantren. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti Muchammad F. Akbar dan Ahmad G. Albustomi. AuExploring IndonesiaAos Khataman Al-QurAoan,Ay Hanifiya 8, no. , https://doi. org/10. 15575/hanifiya. Yeniati Ulfah dan Edi Kurniawan Farid, ibid. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir al-Munir (Damaskus: Dar al-Fikr, 2. , jil. Noor Ainah. Social Dynamics And Continuity In The Batamat Tradition On Banjar Society. Https://Jurnal. Uin-Antasari. Ac. Id/Index. Php/AlBanjari/Article/Download/12812/4106. Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 1. , 2. 3 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan memahami fenomena keagamaan secara kontekstual dengan menekankan pada makna, simbol, dan praktik ritual yang berkembang di tengah komunitas pesantren. Penelitian dilaksanakan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan yang dipilih secara purposif karena secara konsisten melaksanakan tradisi khataman Al-QurAoan dengan pembacaan QS. AlAnAoam ayat 115 sebagai bagian penutup. Sasaran penelitian difokuskan pada praktik khataman Al-QurAoan sebagai fenomena keagamaan, sehingga unit analisis penelitian ini adalah tradisi dan praktik ritual, bukan individu secara personal. Peneliti berperan sebagai instrumen utama dengan kehadiran langsung di lokasi penelitian untuk melakukan observasi terhadap pelaksanaan tradisi khataman Al-QurAoan. Observasi dilakukan secara partisipatif terbatas, yaitu mengamati jalannya ritual tanpa melakukan intervensi terhadap aktivitas keagamaan yang berlangsung. Selain itu, penelitian ini didukung oleh studi kepustakaan . ibrary researc. melalui penelusuran kitab tafsir, buku, dan artikel ilmiah yang relevan dengan QS. Al-AnAoam ayat 115 dan kajian Living QurAoan. Instrumen penelitian berupa pedoman observasi yang disusun secara sistematis untuk mencatat urutan pelaksanaan khataman, posisi pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115, serta konteks ritual yang menyertainya. Instrumen tersebut disesuaikan dengan fokus penelitian dan tujuan kajian. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis kualitatif deskriptif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Analisis dilakukan dengan mengaitkan temuan observasi dengan kerangka Living QurAoan dan kajian tafsir yang relevan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi antara hasil observasi dan sumber kepustakaan yang digunakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna QS. Al-AnAoAm Ayat 115 sebagai Landasan Normatif Khataman Al-QurAoan QS. Al-AnAoAm ayat 115 berbunyi: e AaOa acIA )115 :6/A U eUE aUE aIa a aE aE aEEaI a nN aoON aaO E aacI eO a eEa aE eO aI ( UEIIA a AA eCU acOA a aA aE aE aIa aaEA AuTelah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-QurAoa. kebenaran dan Tidak ada . eorang pu. yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ay (Al-An'am/6:. Ayat ini menegaskan bahwa Al-QurAoan telah mencapai kesempurnaan dalam aspek kebenaran dan keadilan, baik sebagai sumber akidah, hukum, maupun pedoman Menurut Ibn Kathir, ungkapan Autammat kalimatu rabbikAy menunjukkan bahwa seluruh kandungan Al-QurAoan bersifat final dan sempurna, sehingga tidak dapat ditambah, dikurangi, maupun diubah oleh siapa pun. Kesempurnaan tersebut mencakup QurAoan Kemenag 2019 4 | Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 1. , 2023 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan kebenaran informasi yang dikandung Al-QurAoan serta keadilan hukum-hukum yang Penafsiran senada dikemukakan oleh M. Quraish Shihab yang menyatakan bahwa ayat ini merupakan penegasan otoritas wahyu Allah yang absolut. Kebenaran dan keadilan Al-QurAoan menjadikannya rujukan utama dalam kehidupan umat Islam, tidak hanya dalam aspek normatif-teologis, tetapi juga dalam praktik keberagamaan seharihari. Oleh karena itu, ayat ini sering dipahami sebagai simbol penyempurnaan komitmen manusia terhadap ajaran Al-QurAoan secara menyeluruh. Dalam konteks khataman Al-QurAoan. QS. Al-AnAoam ayat 115 dimaknai sebagai ayat penutup yang menegaskan finalitas pembacaan Al-QurAoan. Pembacaan ayat ini bukan sekadar pengakhiran bacaan secara tekstual, melainkan pernyataan simbolik bahwa Al-QurAoan telah dibaca secara utuh dan diakui sebagai pedoman hidup yang sempurna dan tidak tergantikan. Makna inilah yang kemudian melandasi pengamalan ayat tersebut dalam tradisi khataman Al-QurAoan di lingkungan pesantren sebelum beralih pada praktik ritual dan nilai sosial-keagamaannya. Pelaksanaan Pembacaan QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman AlQurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan Pondok Pesantren Hidayatul Insan Fii TaAolimiddin merupakan lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri sejak awal 1990-an dan berkembang sebagai pusat pendidikan Al-QurAoan yang memadukan penguatan keagamaan dan pendidikan umum sesuai visi pesantren modern. Berdasarkan kajian pendidikan di pondok tersebut, program tahfizh Al-QurAoan menjadi salah satu fokus utama yang dibina secara sistematis, di mana santri tidak hanya membaca tetapi juga menghafal Al-QurAoan hingga 30 juz dalam jangka waktu tertentu sekaligus mengikuti kegiatan pembelajaran formal di tingkat madrasah . adrasah tsanawiyah atau aliya. Pondok pesantren ini dikenal sebagai salah satu pesantren yang menempatkan pendidikan tahfizh sebagai pilar utama dalam membentuk generasi santri yang menguasai Al-QurAoan secara hafalan dan praktik keagamaan. Keberadaan program tahfizh tersebut menandai orientasi pendidikan pesantren yang tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat Muslim masa kini dalam menguatkan kompetensi QurAoani sekaligus keterampilan akademik modern. Pondok Pesantren Hidayatul Insan merupakan lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren yang menempatkan penguatan tradisi QurAoani sebagai bagian penting dari Ismail bin Umar Ibn Kathir. Tafsir al-QurAoan al-AoAzhim (Riyadh: Dar Thayyibah, 1. , 3, 292. Shihab M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan. Kesan, dan Keserasian al-QurAoan (Jakarta: Lentera Hati, 2. , jil. 4, 520Ae522. Profil pondok pesantren berdasarkan dokumen sejarah awal pendirian yang mencatat orientasi operasional pesantren pada pendidikan keagamaan . hususnya Al-QurAoan dan Al-Hadi. , https://hidayatulinsan. rsip profil ponpe. Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 1. , 2. 5 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan pembinaan spiritual santri. Dalam kehidupan keseharian pesantren, berbagai aktivitas yang berorientasi pada Al-QurAoan, seperti tadarus, pengajian, dan khataman Al-QurAoan, dilaksanakan secara kolektif. Tradisi khataman Al-QurAoan menjadi salah satu praktik keagamaan yang hidup dan terus dipertahankan sebagai sarana internalisasi nilai-nilai AlQurAoan di lingkungan pesantren. Pelaksanaan khataman Al-QurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan umumnya dilakukan secara berjamaah. Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembacaan Al-QurAoan hingga tiga puluh juz dan diakhiri dengan pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115. Penempatan ayat ini pada bagian penutup khataman dipahami sebagai simbol penyempurnaan bacaan Al-QurAoan sekaligus pengakuan terhadap kesempurnaan wahyu Allah yang telah dibaca secara utuh. Pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 tidak diperlakukan sebagai bacaan tambahan semata, melainkan sebagai bagian integral dari struktur ritual khataman. Ayat tersebut dibaca dengan khidmat dan dilanjutkan dengan doa penutup sebagai penanda berakhirnya rangkaian khataman. Praktik ini menunjukkan bahwa ayat Al-QurAoan tidak hanya dihadirkan sebagai teks yang dibaca, tetapi juga difungsikan secara simbolik dalam ritual keagamaan pesantren. Pemaknaan terhadap pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 juga tercermin dari pengalaman subjektif santri yang mengikuti tradisi khataman tersebut. Rangkaian khataman Al-QurAoan yang diakhiri dengan ayat ini menghadirkan perasaan bahagia dan kepuasan spiritual bagi para santri. Salah seorang santri. Nurul Hatimah, mengungkapkan bahwa meskipun perasaan bahagia muncul setelah menyelesaikan khataman, pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 menimbulkan rasa kagum yang lebih mendalam terhadap kandungan makna ayat tersebut. Menurutnya, ayat ini menegaskan bahwa kalimat Allah, yaitu Al-QurAoan, telah sempurna dan tidak ada seorang pun yang mampu mengubah isi serta kebenarannya. Dengan demikian, pelaksanaan pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 dalam tradisi khataman Al-QurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan tidak hanya merepresentasikan praktik ritual semata, tetapi juga menunjukkan bagaimana ayat Al-QurAoan dimaknai, dihayati, dan diinternalisasikan dalam kehidupan keagamaan santri. Tradisi ini menjadi bentuk konkret resepsi Al-QurAoan yang hidup . iving QurAoa. dalam ruang sosial Nilai Living QurAoan dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan: Analisis Sosiologis Tradisi pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 dalam rangkaian khataman Al-QurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan merepresentasikan praktik Living QurAoan, yakni proses menghidupkan Al-QurAoan dalam realitas sosial-keagamaan santri. Dalam konteks ini. Al-QurAoan tidak hanya dipahami sebagai teks suci yang dibaca dan dihafal, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dimaknai, diinternalisasi, dan diwujudkan dalam bentuk ritual Wawancara non-formal dengan Nurul Hatimah, santri Pondok Pesantren Hidayatul Insan. 6 | Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 1. , 2023 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan kolektif pesantren. Pembacaan ayat tersebut pada penutup khataman berfungsi sebagai simbol religius yang menegaskan kesempurnaan wahyu Allah dan otoritas Al-QurAoan sebagai pedoman hidup santri. Pengalaman religius santri terhadap pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 menunjukkan adanya dimensi afektif dan kognitif sekaligus. Salah satu santri. Nurul Hatimah, mengungkapkan bahwa khataman Al-QurAoan menghadirkan rasa bahagia, sementara pemaknaan terhadap ayat tersebut melahirkan kekaguman mendalam terhadap kesempurnaan kalam Allah, yang diyakini tidak dapat diubah oleh siapa pun. Ungkapan ini mencerminkan bahwa ayat Al-QurAoan tidak diposisikan sekadar sebagai bacaan ritual, melainkan sebagai sumber legitimasi teologis yang menguatkan keyakinan santri terhadap kemutlakan dan kesempurnaan Al-QurAoan dalam kehidupan mereka. Fenomena ini sejalan dengan kajian Living QurAoan yang menekankan bahwa interaksi masyarakat Muslim dengan Al-QurAoan tidak hanya berlangsung dalam ranah tafsir tekstual, tetapi juga dalam praktik sosial yang hidup dan diwariskan secara kolektif. Penelitian Siti Maimunah menunjukkan bahwa pembacaan ayat atau surah tertentu dalam ritual keagamaan berfungsi sebagai medium pembentukan makna bersama dan penguatan identitas religius komunitas Muslim. 13 Dalam konteks Pondok Pesantren Hidayatul Insan, pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 pada khataman Al-QurAoan berperan sebagai simbol penutup yang sakral, sekaligus sebagai pengakuan kolektif atas kesempurnaan wahyu Allah. Untuk memahami proses terbentuknya makna tersebut, teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dapat digunakan sebagai kerangka analisis. Menurut teori ini, realitas sosial terbentuk melalui tiga tahap, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Tradisi khataman Al-QurAoan merupakan bentuk eksternalisasi nilai-nilai QurAoani yang dipraktikkan secara berulang dalam kehidupan Ketika praktik tersebut dilembagakan dan diterima bersama, ia mengalami proses objektivasi sebagai tradisi pesantren yang sah dan bermakna. Selanjutnya, melalui partisipasi aktif santri dalam ritual khataman, nilai kesempurnaan Al-QurAoan yang terkandung dalam QS. Al-AnAoam ayat 115 terinternalisasi dalam kesadaran religius mereka sebagai keyakinan yang mapan. Proses internalisasi ini diperkuat oleh lingkungan pesantren yang menekankan pendidikan Al-QurAoan, termasuk program tahfidz yang menjadi salah satu ciri Pondok Pesantren Hidayatul Insan. Penelitian Wardatur Rochmah Masykuroh dan Raudlatul Jannah menunjukkan bahwa interaksi intensif santri dengan Al-QurAoan dalam lingkungan pesantren berkontribusi pada pembentukan konstruksi sosial nilai religius yang kuat. Siti Maimunah. AuLiving QurAoan: Tradisi Pembacaan Yasin di Kampung Rawa Saban,Ay Musala: Jurnal Studi Keislaman, vol. 4, no. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1. Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 1. , 2. 7 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan terutama melalui ritual dan pembiasaan yang berulang. 15 Dengan demikian, pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 dalam khataman tidak hanya berfungsi sebagai penutup bacaan Al-QurAoan, tetapi juga sebagai sarana transmisi nilai teologis dan pembentukan identitas QurAoani santri. Selain itu, ritual keagamaan yang dilakukan secara kolektif memiliki fungsi legitimasi sosial terhadap makna ayat Al-QurAoan. Intan Syah Fitri menjelaskan bahwa ritual religius berperan penting dalam memperkuat sakralitas teks dan praktik keagamaan, sehingga makna yang terkandung di dalamnya diterima sebagai realitas sosial yang sah oleh komunitas. 16 Dalam konteks ini. QS. Al-AnAoam ayat 115 tidak hanya dipahami secara individual, tetapi dilegitimasi secara sosial melalui tradisi khataman Al-QurAoan yang berlangsung secara turun-temurun di pesantren. Dengan demikian, nilai Living QurAoan yang tampak dalam tradisi khataman AlQurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan mencakup internalisasi keyakinan teologis, penguatan identitas religius santri, serta legitimasi sosial terhadap kesempurnaan AlQurAoan. Praktik ini menunjukkan bahwa Al-QurAoan hadir sebagai realitas hidup yang membentuk cara pandang, sikap, dan praktik keagamaan santri, bukan semata sebagai teks normatif yang dibaca dan dihafal. Implikasi Tradisi Khataman terhadap Penguatan Budaya QurAoani Pesantren Tradisi pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 dalam khataman Al-QurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan memiliki implikasi signifikan terhadap penguatan budaya QurAoani di lingkungan pesantren. Praktik ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda selesainya pembacaan Al-QurAoan secara keseluruhan, tetapi juga sebagai sarana peneguhan keyakinan teologis tentang kesempurnaan dan kemutlakan wahyu Allah. Melalui ritual yang dilakukan secara kolektif dan berulang, nilai-nilai Al-QurAoan terinternalisasi dalam kesadaran religius santri dan membentuk pola keberagamaan yang berorientasi pada Al-QurAoan sebagai pedoman hidup. Implikasi lain dari praktik ini tampak pada terbentuknya relasi emosional dan spiritual santri dengan Al-QurAoan. Pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 di akhir khataman berfungsi sebagai simbol religius yang menegaskan bahwa seluruh proses membaca dan menghafal Al-QurAoan bermuara pada pengakuan terhadap kesempurnaan kalam Allah. Hal ini sejalan dengan pandangan Sahiron Syamsuddin yang menegaskan bahwa praktik Living QurAoan berperan penting dalam menjembatani teks Al-QurAoan dengan pengalaman religius umat Islam dalam konteks sosialnya. Wardatur Rochmah Masykuroh dan Raudlatul Jannah. AuTahfizh Al-QurAoan dan Konstruksi Sosial Santri,Ay ENTITAS: Jurnal Sosiologi, vol. 2, no. Intan Syah Fitri. AuRitual Keagamaan dan Sakralisasi Teks Suci,Ay Jurnal Sosiologi Agama, vol. 12, no. Sahiron Syamsuddin. Pendekatan Living QurAoan dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2. 8 | Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 1. , 2023 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan Dari perspektif Living QurAoan, tradisi ini menunjukkan bahwa pesantren merupakan ruang sosial yang aktif dalam memproduksi dan mereproduksi makna AlQurAoan. Ahmad Rafiq menyebutkan bahwa praktik-praktik ritual berbasis Al-QurAoan berfungsi menjaga keberlanjutan nilai QurAoani melalui proses pewarisan makna secara 18 Dalam konteks Pondok Pesantren Hidayatul Insan, pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 telah menjadi bagian dari struktur ritual pesantren yang dilegitimasi secara sosial dan diterima sebagai praktik keagamaan yang bermakna. Implikasi sosial-budaya dari tradisi ini juga terlihat pada pembentukan identitas pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan aspek hafalan Al-QurAoan, tetapi juga pemaknaan dan pengamalannya. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian M. Mansur yang menunjukkan bahwa budaya QurAoani di pesantren dibentuk melalui integrasi antara pendidikan formal, ritual keagamaan, dan tradisi lokal yang berakar pada Al-QurAoan. 19 Dengan demikian, tradisi khataman Al-QurAoan tidak hanya berfungsi sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai sarana pembentukan identitas kolektif pesantren. Secara akademik, temuan penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif dalam studi Al-QurAoan, yaitu dengan menghubungkan analisis teks dengan praktik sosial-keagamaan. Penelitian ini memperkuat argumen bahwa Al-QurAoan tidak hanya hadir sebagai teks normatif, tetapi juga sebagai realitas sosial yang hidup dan berinteraksi dengan budaya pesantren. Oleh karena itu, kajian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah studi Living QurAoan serta menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya yang mengkaji resepsi dan aktualisasi ayat-ayat Al-QurAoan dalam konteks pesantren dan masyarakat Muslim. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa QS. Al-AnAoam ayat 115 memiliki posisi yang signifikan dalam tradisi khataman Al-QurAoan di Pondok Pesantren Hidayatul Insan, baik secara normatif maupun praktis. Ayat tersebut tidak hanya dipahami sebagai penegasan teologis tentang kesempurnaan dan kemutlakan wahyu Allah, tetapi juga difungsikan sebagai simbol religius yang menutup rangkaian pembacaan Al-QurAoan secara utuh. Dengan demikian, pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 dalam khataman berperan sebagai pengakuan kolektif atas otoritas Al-QurAoan sebagai pedoman hidup santri. Dalam perspektif Living QurAoan, praktik ini memperlihatkan bahwa Al-QurAoan hadir sebagai teks yang hidup dan bermakna dalam realitas sosial pesantren. Tradisi khataman AlQurAoan dengan pembacaan QS. Al-AnAoam ayat 115 menjadi medium internalisasi nilai18 Ahmad Rafiq. AuLiving QurAoan: Tradisi. Praktik, dan Resepsi Al-QurAoan dalam Masyarakat,Ay dalam Studi Al-QurAoan Kontemporer, ed. Sahiron Syamsuddin (Yogyakarta: Elsaq Press, 2. Mansur. AuBudaya QurAoani di Pesantren: Antara Teks dan Tradisi,Ay Jurnal Studi AlQurAoan, vol. 6, no. Jurnal Al-Muharrik : Jurnal Pendidikan Agama Islam 1. , 2. 9 QS. Al-AnAoam Ayat 115 dalam Tradisi Khataman Al-QurAoan nilai QurAoani yang membentuk kesadaran religius, pengalaman spiritual, serta identitas QurAoani santri. Makna ayat tidak berhenti pada pemahaman tekstual, melainkan terinternalisasi melalui ritual kolektif yang dilembagakan dalam kehidupan pesantren. Analisis sosiologis menunjukkan bahwa pemaknaan dan pengamalan QS. AlAnAoam ayat 115 berlangsung melalui proses konstruksi sosial yang melibatkan eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi nilai-nilai QurAoani. Pesantren berperan sebagai ruang sosial yang melegitimasi praktik ritual tersebut sehingga diterima sebagai tradisi keagamaan yang sah dan bermakna. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa kajian Al-QurAoan berbasis Living QurAoan mampu memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai relasi antara teks Al-QurAoan, praktik ritual, dan budaya pesantren. Secara akademik, temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan integratif dalam studi Al-QurAoan dengan menghubungkan analisis ayat dengan praktik sosial-keagamaan yang hidup di masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah studi Living QurAoan serta menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya yang mengkaji resepsi dan aktualisasi ayat-ayat Al-QurAoan dalam konteks pesantren maupun komunitas Muslim yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA