SARGA : JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 17 NO 1 JANUARI 2023 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga KONSERVASI ARSITEKTUR PADA BANGUNAN MUSEUM WAYANG JAKARTA The Architecture Conservation of Wayang Museum | Received December 2nd 2022 | Accepted January 15th 2023 | Available online January 31th 2023 | | DOI 10. 56444/sarga. 415 | Page 72 - 80 | Mega Yulita Nancy Panggo1*. Astari Wulandari2 . Djudjun Rusmiatmoko3 kuliah@gmail. Universitas of 17 Agustus 1945 Semarang. Indonesia1* astari@untagsmg. Universitas of 17 Agustus 1945 Semarang. Indonesia 2 djudjun@untagsmg. Universitas of 17 Agustus 1945 Semarang. Indonesia3 ABSTRAK Bangunan Museum Wayang di Kawasan Kota Tua Jakarta ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya karena memiliki nilai penting dalam sejarah perkembangan kota dan bangsa. Maka dari itu, diperlukan upaya konservasi untuk mempertahankan keberadaannya sehingga nilai-nilai tersebut tidak hilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya konservasi yang dilakukan terhadap bangunan Museum Wayang serta keseuiannya terhadap prinsip konservasi arsitektur. Penelitian dilakukan dengan menjabarkan upaya konservasi secara deskriptif-kualitatif melalui observasi dan studi pustaka. Secara keseluruhan. Museum Wayang telah menerapkan upaya konservasi yang tepat dengan mempertahankan signifikansi budaya dan tidak melakukan intervensi besar pada kondisi asli Bentuk adaptive reuse pada Museum Wayang yang melibatkan kegiatan restorasi atau rehabilitasi menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mempertahankan bagunan bernilai sejarah ditengah Ae tengah pesatnya perkembangan lingkungan perkotaan yang dinamis. Kata kunci: Museum Wayang, konservasi arsitektur, bangunan cagar budaya ABSTRACT The Wayang Museum building in the Old City Area of Jakarta is designated as a cultural heritage building because it has an important value in the history of the development of the city and nation. Therefore, conservation efforts are needed to maintain its existence so that these values are not This study aims to examine the conservation efforts carried out on the Wayang Museum building and its compliance with the principles of architectural conservation. The research was conducted by describing conservation efforts in a descriptive-qualitative manner through observation and literature Overall, the Puppet Museum has implemented appropriate conservation efforts by maintaining cultural significance and not making major interventions in the original condition of the The adaptive reuse of the Wayang Museum which involves restoration or rehabilitation activities shows the commitment of local governments in maintaining buildings of historical value in the midst of the rapid development of a dynamic urban environment. Keywords: Wayang Museum. Architecture Conservation. Heritage Building SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARY 2023 Mega Yulita Nancy Panggo. Astari Wulandari. Djudjun Rusmiatmoko PENDAHULUAN Dinamika perkembangan suatu bangsa sangat erat kaitannya dengan sejarah yang dialami, maka dari itu tiap objek yang memiliki kandungan nilai sejarah perlu dijaga kelestariannya, salah satunya adalah objek berbentuk bangunan. Pelestarian bangunan dalam disiplin ilmu arsitektur disebut konservasi arsitektur. Konservasi arsitektur adalah cara dalam menyelamatkan objek atau bangunan arsitek dan perancangan kota di masa lalu yang diwariskan oleh pendiri kota/masyarakat lokal dalam mengapresiasikan sebuah kisah perjalanan suatu kejadian masa lalu yang digambarkan sebagai sebuah sejarah (Rukayah & Malik, 2. Di Indonesia, salah satu objek yang memiliki signifikansi nilai sejarah adalah bangunan kolonial peninggalan Belanda, yaitu bangunan yang didirikan pada periode kolonialisasi Belanda dan diperuntukan bagi orang Belanda di Indonesia, yang banyak ditemukan di kota- kota besar, salah satunya Jakarta. Salah satu bangunan yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah DKI Jakarta adalah Museum Wayang. Berlokasi di Jalan Pintu Air Utara No. Pinangsia. Jakarta Barat, bangunan ini memiliki catatan sejarah yang cukup panjang. Dimulai dari pendirian sebuah gereja oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1640 dan dikenal dengan nama de Oude Holandsche Kerk atau gereja lama Belanda di atas timbunan bekas belokan sungai Ciliwung, kemudian sempat berganti nama serta fungsinya beberapa kali, hingga akhirnya ditetapkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta. Ali Sadikin, sebagai Museum Wayang pada 13 Agustus 1975. Fasad dan bentuk Museum Wayang yang dikenal saat ini oleh masyarakat terdiri atas dua bangunan berbeda, dikenal sebagai Museum Wayang lama yang bangunannya didirikan tahun 1912 dan Museum Wayang baru yang merupakan perluasan dari Museum Wayang lama atas hibah tanah dari Bapak Probosutedjo pada tahun 2003. Namun, yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya hanyalah Museum Wayang lama. Sebagai bangunan cagar budaya. Museum Wayang Lama perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui berbagai upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan (UU RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Buday. agar eksistensinya tidak hilang seiring berjalannya waktu. Merujuk pada latar belakang tersebut, penulis merumuskan pertanyaan, bagaimanakah upaya konservasi bangunan Museum Wayang yang telah dilakukan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk konservasi arsitektur pada Museum Wayang dan diharapkan melalui penelitian ini dapat memberi pemahaman kepada mahasiswa arsitektur dan khalayak umum mengenai kaidah konservasi arsitektur bagi bangunan cagar budaya. KONSERVASI ARSITEKTUR Konservasi berasal dari kata conservation yang terdiri atas kata con . dan servare . eep/sav. berarti upaya memelihara apa yang kita punya secara bijaksana (Brinkley & Holland, 2. Konservasi arsitektur adalah salah satu cara untuk menyelamatkan objek atau bangunan arsitek dan perancangan kota di masa lalu yang diwariskan oleh pendiri kota/masyarakat lokal dalam mengapresiasikan sebuah kisah perjalanan suatu kejadian masa lalu yang digambarkan sebagai sebuah sejarah (Rukayah & Malik, 2. SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARI 2023 Konservasi Arsitektur pada Bangunan Museum Wayang Jakarta Prinsip Konservasi Arsitektur Menurut piagam Burra Charter . mempertahankan signifikansi budaya merupakan tujuan akhir konservasi pada sebuah tempat melalui suatu tindakan pengamanan, pemeliharaan dan kelangsungannya di masa depan. Konservasi didasari atas apresiasi terhadap kondisi fisik awal dengan intervensi sesedikit mungkin melalui pelibatan semua diplin ilmu yang akan berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan berupaya dalam penyelamatan suatu tempat. Dengan demikian, upaya tersebut memerlukan pertimbangan pada seluruh aspek signifikansi budaya secara merata. Upaya konservasi memerlukan penyelidikan mendalam dan uraian tentang signifikansi budaya sebagai syarat penting dalam menetapkan kebijakan konservasi. Dimana kebijakan tersebut akan menentukan pemanfaatan / penggunaan yang sesuai. Lebih lanjut, konservasi mencakup mempertahankan setting visual seperti skala, warna, bentuk, material, dan tekstur pada suatu bangunan maupun sebuah karya arsitekural. Sebaiknya keberadaan suatu objek konservasi dari lokasi asalnya yang bersejarah dapat dihindari. Mengingat objek / material tersebut merupakan bagian yang menentukan nilai signifikansi. Jenis Konservasi Arsitektur Konservasi arsitektur bukan semata-mata menjaga fasad bangunan, tetapi ada kaidahkaidah penanganan yang perlu diperhatikan (Burra Charter, 1. , sebagai berikut: A Konservasi yaitu kegiatan pemeliharaan sehingga dapat mempertahankan nilai kulturalnya, yang berarti semua proses menjaga suatu tempat untuk mempertahankan signifikansi historis dan / atau arsitektur dan / atau estetika dan / atau budaya dan termasuk pemeliharaan A Preservasi adalah cara mempertahankan material maupun wadah bangunan dalam kondisi yang sama untuk memperlambat pelapukan. A Restorasi atau Rehabilitasi Biasanya dilakukan untuk memperpanjang umur bangunan dan/atau kelangsungan hidup ekonominya, melibatkan lebih banyak adaptasi daripada konservasi, tetapi masih akan melestarikan sebagian besar fitur asli bangunan dengan melakukan perbaikan, beberapa modifikasi, dan renovasi. A Rekonstruksi adalah pengembalian bangunan kepada kondisi semula yang dilakukan dengan penggunaan material lama maupun baru. Bahan baru dapat mencakup bahan daur ulang yang diselamatkan dari tempat lain. Ini seharusnya tidak merugikan tempat mana pun yang memiliki signifikansi budaya. A Adaptasi berarti mengubah tempat agar sesuai dengan penggunaan yang ada atau penggunaan yang diusulkan A Revitalisasi yaitu segala cara untuk mengubah bangunan agar dapat digunakan dengan fungsi baru yang sesuai. A Demolisi yaitu penghancuran atau perombakan sebuah bangunan yang kondisinya sudah rusak atau dapat membahayakan lingkungan sekitarnya. METODE Rancangan penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk menjabarkan penerapan upaya konservasi arsitektur pada objek studi Data diperoleh dengan observasi melalui wawancara kepada pihak pengelola objek SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARY 2023 Mega Yulita Nancy Panggo. Astari Wulandari. Djudjun Rusmiatmoko studi kasus, melihat informasi yang disediakan pada lokasi objek studi kasus, dan studi pustaka melalui sumber buku terkait. Museum Wayang Lama yang merupakan bangunan cagar budaya, sementara bangunan Museum Wayang Baru tidaklah menjadi objek penelitian studi kasus. Kota Tua yang dimaksudkan penulis dalam penelitian ini terbatas pada Wisata Kota Tua Taman Fatahillah. PEMBAHASAN Kota Tua Jakarta sebagai Kawasan Cagar Budaya Kota Tua Batavia tidaklah terlalu besar, yang saat ini disebut sebagai "Kota" dulunya adalah wilayah yang dikelilingi oleh dinding dan parit. Membentang dari sekitar Museum Bahari di Pasar Ikan hampir sampai Jl. Asemka - Jl. Jembatan Batu hari ini. Pusat Batavia adalah Balai Kota, sekarang Museum Fatahila (Heukens, 2. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 34 Tahun 2005 menetapkan kawasan cagar budaya seluas 846 Ha yang berada di Kotamadya Jakarta Utara dan Kota Madya Jakarta Barat, sedangkan ditengah-tengah Kawasan Cagar Budaya Kota Tua ini terdapat zona inti yaitu area yang memiliki nilai sejarah yang lebih bernilai. Termasuk di dalam zona inti yaitu: kawasan Sunda Kelapa, kawasan Taman Fatahillah, kawasan Pecinan, kawasan Pekojan, dan kawasan Peremajaan (Guideline Kota Tua, 2. Penentuan bangunan cagar budaya ditetapkan berdasarkan kriteria . nilai sejarah, . umur, . keaslian, . kelangkaan, . tengeran/landmark, . Melalui kesesuaiannya dengan tolak ukur kriteria tersebut, digolongkanlah menjadi tiga golongan. II, dan i. Lingkungan cagar budaya golongan I yaitu lingkungan yang memenuhi seluruh kriteria, termasuk yang mengalami sedikit perubahan tetapi masih memiliki tingkat keaslian yang utuh. Lingkungan cagar budaya golongan II yaitu lingkungan yang hanya memenuhi tiga kriteria, yang telah mengalami perubahan namun masih memiliki beberapa unsur Lingkungan cagar budaya golongan i yaitu hanya memenuhi tiga kriteria, yang telah mengalami banyak perubahan dan kurang mempunyai keaslian. Kawasan Fatahillah hingga Jalan Cengkeh dulunya bernama Prinset Straat, merupakan representasi dari kekuasaan politik kolonial, sesuai dengan pengkategorian dalam Perda DKI Jakarta No. Tahun 1999 merupakan Lingkungan Cagar Budaya Golongan I. Di dalamnya terdapat bangunan dengan nilai sejarah tinggi, yaitu bangunan Museum Fatahillah, bangunan Museum Senirupa dan Keramik, serta bangunan Museum Wayang. Sejarah Museum Wayang Bangunan Museum Wayang memiliki sejarah panjang. Mulai dari beberapa kali pergantian bentuk gedung hingga perubahan fungsinya. Pada tahun 1632 Gubernur-Jendral Hindia Belanda saat itu. Specx, memancang tiang pertama untuk gereja di atas tanah urugan sungai Ciliwung (Heukens, 2. Selanjutnya, oleh pengganti Specx, van Diemen, peletakan batu pertama untuk gereja dilakukan pada 1640 (Heukens, 2. Gereja ini dikenal dengan nama Gereja Salib atau Gereja Belanda Lama . e Oude Hollandsche Ker. (Heukens, 2. Dasar gereja ini berbentuk salib dengan keempat tangannya sama panjang dan dibangun menggunakan batu kali (Heukens, 2. Gereja ini tidak memiliki orgel, sehingga pada SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARI 2023 Konservasi Arsitektur pada Bangunan Museum Wayang Jakarta 1732 sebuah orgel dikirim dari Belanda dengan maksud mengiringi ibadah gereja, tetapi orgel tersebut tidak dapat masuk karena gereja terlalu sempit. Oleh karena itu gereja ini dibongkar (Heukens, 2. Kemudian pada 1736 dibangunlah gereja baru yang disebut sebagai de Nieuw Hollandsche Kerk atau Gereja Belanda Baru (Jakarta, 2. Gambar 1. Maket (A). Tampak Depan (B), dan Denah (C) Gereja Belanda Lama Sumber: Heukens, 2003 Tahun 1937, bangunan gudang ini dibeli oleh Bataviaasch Genootschap kemudian diserahkan kepada Stichting Oud Batavia (Lembaga Batavia Lam. selanjutnya menjadi de Oude Bataviasche Museum (Museum Batavia Lam. (Jakarta, 2. Tahun 1938 dilakukan penggalian oleh Dinas Purbakala (Oudheidkundige Diens. untuk menemukan kembali makam J. P Coen (Heukens, 2. & dipugar pada seluruh bagian dalam untuk menyesuaikan gaya rumah-rumah Belanda (Jakarta, 2. Museum Batavia Lama dibuka oleh Meester Aldius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborg Stachouwer pada tahun 1939 (Primadia, 2. Gambar 2. Denah Gereja Lama. Baru, dan Museum Wayang Sumber: Heukens, 2003 Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia pada 1954 dan namanya berganti menjadi Museum Jakarta lama kemudian diganti menjadi Museum Jakarta (Jakarta, 2. Selanjutnya pada 1962Museum Jakarta diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun 1986, oleh Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta. Pada 1970 digunakan sebagai kantor Walikota Jakarta Barat. 1975 barulah peresmian Museum Wayang dilakukan oleh gubernur DKI Jakarta saat itu. Bapak Ali Sadikin, atas sumbangsih Yayasan Nawangi, yayasan yang berfokus untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Hingga yang terbaru pada tahun 2003 SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARY 2023 Mega Yulita Nancy Panggo. Astari Wulandari. Djudjun Rusmiatmoko Museum Wayang diperluas melalui pembangunan gedung di sampingnya atas hibah tanah dari Bapak H. Probosutejo dengan gaya bangunan baru menyesuaikan bangunan lama. Konservasi Arsitektur pada Bangunan Museum Wayang Bangunan Cagar Budaya Museum Wayang menerapkan adaptive reuse dalam upaya konservasinya, yaitu penggunaan kembali bangunan lama dengan fungsi barunya. Penetapan bangunan ini sebagai salah satu bangunan cagar budaya terlihat pada tampak depan bangunan, pada prasasti batu marmer yang menjelaskan penetapanya sebagai bangunan cagar budaya yang diresmikan oleh mantan gubernur DKI Jakarta. Ali Sadikin. Museum Wayang dibangun dalam gaya Neo-Renaissance pada tahun 1912 masih mempertahankan tampak bangunannya (Heuken, 2. Perawatan yang dilakukan adalah pengecetan ulang dinding dan kusen-kusen kayu agar tetap menarik dan tidak terjadi kelapukan, bagian kaca pada jendela depan telah diganti oleh kaca yang baru karena kaca yang lama telah pecah. Memasuki ruang pertama di lantai satu, terdapat maja registrasi dan susunan rapih lorong instalasi display yang memamerkan berbagai koleksi wayang, dan lantai vinyl yang memberi kenyamanan gerak bagi pengunjung. Sekalipun memperlihatkan penataan yang cukup modern, tetapi material asli bangunan tidak dihilangkan. Di bagian belakang instalasi display yang terbuat dari gabungan partisi kayu dan kaca, berdiri dinding bangunan asli yang masih kokoh dan di bawah lapisan lantai vinyl terdapat lantai tegel berwarna merah yang sudah kusam. Penataan display dan pelapisan lantai menggunakan vinyl dilakukan sebagai visual setting museum agar lebih nyaman bagi pengunjung, selain itu lantai tegel sering kali menghasilkan debu halus yang membuat koleksi kotor. Gambar 3. Taman JP Coen (A) dan Batu nisan pada taman JP Coen (B) Sumber: Dokumentasi, 2021 Ruangan selanjutnya yang ditemui setelah dari lorong pertama adalah Taman J. P Coen. Taman ini menjadi penghubung antara lorong display dan Ruang Sumatra. Dinamai demikian karena pada lokasi itu dulunya adalah bekas pemakaman para gubernur jendral dan petinggi Hindia-Belanda, salah satunya J. Coen. Tata letak dan material-material yang ada di taman ini masih asli sejak 1912, begitu pula sembilan batu nisan berbahasa Belanda yang berada di dinding sebelah kiri, tetapi sisa-sisaan tulang-belulang yang ditemui sebagian sudah dipindahkan ke pemakaman Kristen di Tanah Abang pada 1930 dan ada juga yang dibawa kembali ke Belanda, hal ini dapat dilihat dari penjelasan pada batu alam sisi kanan taman. Perubahan dilakukan pada bagian taman di sebelah kanan yang dulunya SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARI 2023 Konservasi Arsitektur pada Bangunan Museum Wayang Jakarta adalah sebuah kolam. Intervensi minim juga dilakukan pada batu nisan dengan memberi penebalan tinta pada ukiran tulisan nisan yang sudah pudar. Gambar 4. Ekspose lantai asli (A). Plat lantai dan balok asli (B). Tangga yang telah mengalami penggantian material pada beberapa bagian (C) Sumber: Dokumentasi, 2021 Di ujung Ruang Sumatera, terdapat tangga untuk menuju ke lantai dua. Tangga yang dipakai adalah tangga asli dari existing bangunan, terbuat dari kayu jati, tetapi terdapat satu buah anak tangga setelah bordes yang pernah rusak sehingga demi keselamatan pengunjung, digantilah anak tangga tersebut menggunakan kayu baru dengan bahan berbeda karena kesulitan mencari kayu jati dengan kualitas yang sama. Konstruksi untuk menahan lantai 2 menggunakan plat dan balok yang terbuat dari kayu, tidak dilakukan penambahan struktur baru. Berdasarkan informasi yang didapat dari Irfan, tour guide museum, saat pembangunan gedung baru terdapat kesulitan untuk menemukan dokumen pembangunan gedung lama, namun dipastikan tidak ada penambahan struktur bawah . eperti pondas. pada bangunan ini. Pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan oleh penanggung jawab museum adalah pengecetan, pengecekan, dan pembersihan secara Kendati demikian, ketika musim hujan beberapa kali terjadi rembesan air, hal ini dapat dimaklumi mengingat umur bangunan yang sudah tua. Bentuk Konservasi Museum Wayang Gereja Belanda lama telah mengalami perjalanan panjang beberapa abad lamanya, kini bertransformasi menjadi Museum Wayang. Gambar 5. Transformasi Gereja Belanda menjadi Museum Wayang Sumber: Analisa dari berbagai sumber, 2021 SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARY 2023 Mega Yulita Nancy Panggo. Astari Wulandari. Djudjun Rusmiatmoko Secara umum, sejak bangunan tersebut berubah fungsi menjadi museum, bentuk konservasi Museum Wayang adalah rehabilitasi. Upaya tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperpanjang usia bangunan serta meningkatkan viabilitas ekonomi. Beberapa langkah telah ditempuh untuk mengkonservasi Museum Wayang meliputi, upgrading berupa penambahan ruang, beberapa modifikasi dan remodeling di beberapa elemen bangunan serta perbaikan Ae perbaikan. Meskipun adaptive reuse diterapkan pada Museum Wayang, terdapat beberapa fitur asli bangunan yang masih dipertahankan. LINGKUNGAN Adaptive Ae reuse, restorasi Kondisi lingkungan mikro Kawasan Kota Tua relative konstan. Sedangkan lingkungan makro dalam konteks urban bersifat dinamis BANGUNAN MUSEUM WAYANG pada beberapa bagian yang hilang, penambahan material di beberapa elemen bangunan yang telah mengalami kerusakan, serta perbaikan Gambar 6. Bentuk Intervensi pada Bangunan Museum Wayang Sumber: Analisa dari berbagai sumber, 2021 KESIMPULAN Konservasi bangunan cagar budaya Museum Wayang telah dilakukan dengan baik. Adaptive reuse yang diterapkan pada bangunan Museum Wayang sesuai dengan tujuan dan prinsip konservasi, sekalipun digunakan dengan fungsi baru tetapi tidak menghilangkan signifikansi budayanya dengan tidak melakukan intervensi besar pada existing bangunan dan terus melakukan pemeliharaan untuk mencegah pelapukan bangunan. Bentuk adaptive reuse pada Museum Wayang yang melibatkan kegiatan restorasi atau rehabilitasi menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mempertahankan bagunan bernilai sejarah ditengah Ae tengah pesatnya perkembangan lingkungan perkotaan yang dinamis. DAFTAR PUSTAKA Brinkley. , & Holland. Wilderness warrior. Grand Haven. MI: Brilliance Audio. Burra Charter, . : Pedoman dan Prinsip-prinsip Preservasi dan Konserrvasi Bangunan dan Lingkungan Bersejarah Ae Burra Charter. World Harritage Council UNESCO Publisher. Paris. Burra Charter. The Burra Charter : the Australia ICOMOS charter for places of cultural significance 1999 : with associated guidelines and code on the ethics of co- existence / Australia ICOMOS. Burwood. Vic: Australia ICOMOS. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta. Guidelines Kota Tua . Jakarta. Heuken. Historical sites of Jakarta . th ed. Jakarta: Cipta Loka Caraka. Heuken. Gereja-gereja tua di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. Indonesia. Undang-undang RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya Pasal 1. Jakarta. Peraturan Daerah DKI Jakarta tahun 1999 Pasal 7. Jakarta. Museum Wayang. Wisata Sejarah. Retrieved 22 December 2021, from https://sejarahlengkap. com/bangunan/sejarah-museum-wayang-jakarta SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARI 2023 Konservasi Arsitektur pada Bangunan Museum Wayang Jakarta Jakarta. Peraturan Daerah DKI Jakarta tahun 1999 Pasal 9. Okba. , & Embaby. Sustainability and heritage buildings. Int. Eng. Res. Technol, 2, 1682-1690. Primadia. Sejarah Museum Wayang Jakarta Beserta Koleksinya. Retrieved 22 December 2021, wayang-jakarta https://sejarahlengkap. com/bangunan/sejarah-museum- Rukayah. Bharoto, & Malik. Between Colonial. Moslem, and Post- Independence Era. Which Layer of Urban Patterns should be Conserved?. Procedia - Social And Behavioral Sciences, 68, 775-789. doi: 10. 1016/j. UCAPAN TERIMA KASIH