RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 E-ISSN: 2775-2267 Email: ristansi@asia. https://jurnal. id/index. php/ristansi MAKNA UPACARA NYELAMAK DILAOK SEBAGAI ASET BUDAYA (STUDI FENOMENOLOGI) Intan Dwi Lestari Universitas Mataram intandw0204@gmail. DOI: 10. 32815/ristansi. Informasi Artikel Tanggal Masuk Tanggal Revisi Tanggal diterima Keywods: Assets. Accounting. Culture. Tradition. Nyelamak DIlaok Kata Kunci: Aset. Akuntansi. Budaya. Tradisi. Nyelamak Dilaok 04 Juni. Desember. Desember. Abstract: This study aims to understand the meaning of assets in the Nyelamak Dilaok Ceremony from an accounting perspective using a qualitative approach with phenomenological This approach enables an in-depth exploration of experiences and cultural meanings associated with the ceremony. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and field notes, and analyzed using phenomenological methods to identify patterns in participants' perceptions of the ceremony. The findings reveal that the Nyelamak Dilaok Ceremony is a cultural asset with value in cultural, spiritual, and community sustainability contexts. These insights provide a deeper understanding of the significance of the ceremony as part of cultural heritage and its relevance to accounting. The study highlights the role of culture in community life and the importance of appreciating the cultural values of traditional The findings are expected to serve as a foundation for managing and preserving significant cultural heritage for the communities involved. Abstrak: Penelitian ini bertujuan memahami makna aset dalam Upacara Nyelamak Dilaok dari sudut pandang akuntansi menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodologi Pendekatan ini memungkinkan eksplorasi mendalam tentang pengalaman dan makna budaya yang terkait dengan upacara tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan pencatatan lapangan, kemudian dianalisis menggunakan metode fenomenologis untuk mengidentifikasi pola makna yang dihayati oleh partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Upacara Nyelamak Dilaok merupakan aset budaya yang bernilai dalam konteks budaya, spiritual, dan keberlanjutan komunitas. Temuan ini memberikan RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 wawasan mendalam tentang pentingnya upacara sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus relevansinya dalam Penelitian ini menyoroti peran budaya dalam kehidupan masyarakat dan pentingnya menghargai nilainilai budaya dari praktik tradisional. Temuan ini diharapkan menjadi dasar dalam pengelolaan dan pelestarian warisan budaya yang signifikan bagi masyarakat yang PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan keberagaman budayanya. Setiap daerah memiliki tradisi dan upacara adat yang khas yang mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat (Nurjanah et al. , 2. Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, pelestarian tradisi dan budaya lokal menjadi semakin penting agar nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur tetap terjaga. Salah satu tradisi yang memiliki nilai budaya tinggi adalah Nyelamak Dilaok, yang berasal dari desa Tanjung Luar di Kabupaten Lombok Timur. Nusa Tenggara Barat (Syahdan, 2021. Nyelamak Dilaok adalah salah satu tradisi adat yang dipegang teguh oleh masyarakat desa Tanjung Luar (Syahdan, 2021. Upacara ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang melambangkan penghormatan kepada leluhur, penyucian diri, serta simbol dari siklus kehidupan. Meskipun berada di tengah tekanan modernisasi, masyarakat desa Tanjung Luar tetap melestarikan tradisi ini sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan secara turun temurun. Nyelamak Dilaok berasal dari bahasa sasak, yang merupakan bahasa asli masyarakat Lombok. AuNyelamakAy yang berarti mandi atau membersihkan diri, sementara AuDilaokAy berarti laut (Syahdan, 2021. Secara harafiah Nyelamak Dilaok dapat diartikan sebagai upacara mandi di laut. Tradisi ini memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat pesisir Tanjung Luar, yang sehari-harinya sangat bergantung pada laut sebagai sumber Sejarah Nyelamak DIlaok tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir yang memiliki hubungan erat dengan alam. Upacara ini siyakini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, sebagai bentuk syukur dan permohonan restu kepada dewa laut atau roh leluhur agar diberikan keselamatan dan keberkahan dalam mencari nafkah di laut. Nyelamak Dilaook juga dilakukan sebagai ritual tolak bala, yaitu untuk RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 menolak segala macam bencana dan penyakit yang bisa mengganggu kehidupan Upacara Nyelamak Dilaok biasanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral, seperti saat musim melaut tiba atau ketika ada kejadian luar biasa yang membutuhkan penyucian. Proses pelaksanaan upacara ini melibatkan seluruh anggota komunitas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Hal ini mencerminkan semangat gotong-royong dan kebersamaan yang masih kuat di masyarakat Tanjung Luar. Sebelum upacara dimulai, dilakukan persiapan yang matang, termasuk penyediaan sesajen yang terdiri dari berbagai makanan dan bahan alami seperti kelapa, beras, ayam, dan berbagai jenis bunga. Sesajen ini diletakkan di atas perahu kecil yang akan dihanyutkan ke laut sebagai simbol persembahan kepada roh leluhur dan dewa laut (Syahdan, 2021. Pada hari pelaksanaan, masyarakat berkumpul di tepi dengan mengenakan pakaian tradisional, prosesi dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat atau pemuka agama setempat. Doa ini berisi permohonan restu dan perlindungan dari segala Setelah doa, perahu yang berisi sesajen dihanyutkan ke laut diiringi dengan nyanyian dan tabuhan gendang yang menambah khidmat suasana. Selanjutnya, seluruh peserta upacara melakukan prosesi mandi di laut. Mandi ini bukan sekedar aktivitas membersihkan diri secara fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual sebagai penyucian diri dari segala dosa dan hal negatif. Prosesi mandi ini dilakukan dengan penuh khidmat dan dipimpin oleh tetuah adaht. Air di laut dianggap memiliki kekuatan magis yang mampu membersihkan diri dan memberikan kesegaran batin bagi yang melakukannya. Nyelamak Dilaok dari sisi akuntansi merupakan suatu aset tidak berwujud yang dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat setempat. Aset tidak berwujud ini dapat berupa kekayaan budaya, tradisi, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan turun Dalam konteks akuntansi perlakuan terhadap aset tidak berwujud melibatkan pengakuan, pengukuran, dan pelaporan yang sesuai dengan standar akuntansi yang Pengakuan aset tidak berwujud seperti Tradisi Nyelamak Dilaok harus didasarkan pada kriteria tertentu, seperti kemampuan untuk menghasilkan manfaat ekonomi masa depan bagi masyarakat atau entitas yang mengelolanya (Dharma et al. , 2. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 Pengukuran nilai aset ini bisa jadi kompleks, karena sering kali tidak ada harga pasar yang jelas untuk tradisi budaya dan pengetahuan lokal. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan bisa berupaya biaya historis, nilai kini dari manfaat ekonomi yang diharapkan, atau metode penilaian yang sesuai (Sundari, 2. Pelaporan aset tidak berwujud dalam laporan keuangan juga harus mencerminkan nilai serta upaya pelestariannya. Hal ini penting untuk menunjukkan komitmen masyarakat atau entitas dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya mereka . Selain itu perlakuan akuntansi yang tepat membantu budaya mereka. Selain itu, perlakuan akuntansi yang tepat membantu dalam memperoleh dukungan finansial atau hibah dari pemerintah dan lembaga lainnya yang mendukung pelestarian budaya (Pora et al. , 2. Dari pemaparan di atas, peneliti ingin melakukan penelitian terkait makna tradisi Nyelamak Dilaok sebagai aset budaya, berdasarkan judul tersebut penelitian ini diharapkan dapat mengungkap makna aset yang berbeda dari makna aset dalam akuntansi modern yang ada dalam tradisi Nyelamak Dilaok yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Tanjung Luar. Kabupaten Lombok Timur. Tinjauan Pustaka Tradisi Nyelamak Dilaok Tradisi Nyelamak Dilaok merupakan budaya yang memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal, identitas komunitas, dan keterkaitan kuat antar anggota masyarakat yang sudah ada sejak 400 tahun silam yang dibawa oleh pelaut asal Sulawesi. Tradisi ini diadakan di desa Tanjung Luar. Kecamatan Keruak. Kabupaten Lombok Timur setiap bulan rajab dalam kalender Pelaksanaan tradisi ini melibatkan upacara melarung kepala kerbau ke laut, tepatnya di atas gugusan batu karang di perairan Tanjung Luar (Syahdan, 2021. Nyelamak dalam bahasa Sasak juga dikenal sebagai nyelamet, yang dalam bahasa Indonesia berarti selamatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, selamatan berasal dari kata AuselamatAy yang memiliki beberapa makna: . bebas dari bahaya, malapetaka, atau bencana dan terhindar dari gangguan, tanpa kekurangan apapun. berhasil RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 mencapai tujuan atau tidak mengalami kegagalan. doa atau pernyataan yang berisi harapan untuk kesejahteraan atau keberuntungan. pemberian salam harapan agar seseorang berada dalam kondisi baik atau upacara yang dilakukan untuk memohon keselamatan (Sirulhaq et al. , 2. Sementara itu, dalam bahasa Tanjung Luar, dilaok berarti laut. Nyelamak Dilaok adalah tradisi melarung kepala kerbau (Niba Tikolo. ke batu karang di pesisir laut Tanjung Luar. Selamatan laut ini biasanya dilakukan ketika hasil tangkapan nelayan menurun dan mereka sering mengalami musibah, seperti kapal karan atau tenggelam di tengah laut. Masyarakat setempat meyakini bahwa dengan mengadakan ritual nyelamak dilaok, hasil laut akan kembali melimpah dan para nelayan akan terhindar dari bencana saat berada di laut. Aset Budaya Aset budaya adalah kekayaan tak berwujud yang terdiri dari tradisi, kebiasaan, nilainilai, pengetahuan, dan bentuk-bentuk ekspresi seni dan budaya lainnya yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu komunitas, aset budaya meliputi elemen seperti bahasa, musik, tari, upacara adat, kuliner, kerajinan tangan, dan praktik-praktik sosial yang mencerminkan identitas dan sejarah sutau kelompok masyarakat (Asri, 2. Dalam perspektif akuntansi, aset budaya adalah sumber daya non-fisik yang memiliki nilai ekonomis bagi suatu entitas atau komunitas dan diharapkan memberikan manfaat di masa depan (Shaleh et al. , 2. Aset budaya, meskipun tidak berwujud, diakui dalam akuntansi sebagai aset tidak berwujud yang harus diidentifikasi, diukur, dan dilaporkan dengan tepat sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Berikut adalah beberapa karakteristik dan perlakuan akuntansi untuk aset budaya: Pengakuan Aset budaya diakui dalam laporan keuangan jika memenuhi kriteria pengakuan aset, yaitu entitas memiliki kendali atas aset tersebut sebagai akibat dari peristiwa masa lalu, dan manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan akan diperoleh oleh entitas dari aset tersebut dapat diukur dengan andal. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 . Pengukuran Pengukuran aset budaya bisa dilakukan dengan berbagai metode, seperti biaya historis, biaya perolehan, atau nilai wajar. Biaya historis mencakup biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau mengembangkan aset tersebut. Nilai wajar mungkin sulit untuk ditentukan karena aset budaya sering kali tidak memiliki pasar Oleh karena itu, penilaian mungkin memerlukan teknik penilaian khusus atau estimasi dari para ahli. Amortisasi dan Penurunan Nilai Aset budaya biasanya memiliki umur manfaat yang tidak terbatas atau sangat panjang, sehingga amortisasi mungkin tidak diterapkan. Namun, jika ada indikasi bahwa aset tersebut tidak lagi memberikan manfaat ekonomi di masa depan, maka penurunan nilai perlu diakui. Pelaporan Aset budaya harus dilaporkan dalam laporan keuangan dengan penjelasan yang memadai tentang sifat, umur manfaat, dan metode penilaian yang digunakan. Informasi tambahan mengenai upaya pelestarian dan pemeliharaan juga dapat disertakan dalam catatan atas laporan keuangan. Penyajian Dalam laporan keuangan, aset budaya biasanya disajikan sebagai bagian dari aset tidak berwujud, bersama dengan aset tidak berwujud lainnya seperti hak cipta, merek dagang, dan goodwill. Pengertian Aset dalam akuntansi Pengertian aset secara etimologis berasalah dari bahasa inggris AuAssetAy yang memiliki makna Ausifat bernilaiAy. Sedangkan pengertian aset menurut terminologi adalah suatu hak yang bernilai dan memberikan manfaat di kemudian hari. Dalam akuntansi aset selalu dikaitkan dengan aktiva yang menunjukkan kepemilikan yang bernilai atau sumber daya yang memiliki manfaat umumnya dinilai dengan uang (Budiyanto et al. Aset dapat dikelompokkan menjadi aset lancar, aset tidak lancar, aset fisik, aset tidak berwujud, aset operasional, atau aset tidak beroperasi (Mardivta & Herdiansyah. Seiring berjalannya waktu aset tidak hanya diartikan sebagai sesuatu barang yang RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 memiliki nilai ekonomi, nilai komersial ataupun nilai tukar yang dimiliki individu maupun instansi (Sihombing et al. , 2. Melihat realitasnya, pemaknaan aset jauh berbeda dengan konsep akuntansi di atas. Perbedaan pemaknaan tersebut terjadi ketika setiap individu memiliki cara pandang masing-masing (Khairul Mujahidi et al. , 2. Melihat realitasnya, pemaknaan aset jauh berbeda dengan konsep akuntansi di atas. Perbedaan pemaknaan tersebut terjadi ketika setiap individu memiliki cara pandang masing-masing. Dalam konteks sehari-hari, aset dapat dipahami secara lebih luas dan subjektif (Ardiansyah, 2. Misalnya, bagi seseorang, aset bisa berupa hubungan sosial yang kuat, reputasi yang baik, atau keahlian tertentu yang memberikan keuntungan non-material dalam kehidupan. Dalam masyarakat tradisional, aset sering kali mencakup elemen-elemen budaya dan sosial yang tidak dapat diukur dengan mudah dalam istilah ekonomi. Tradisi, kearifan lokal, dan nilai-nilai komunitas sering dianggap sebagai aset yang berharga karena mereka memelihara identitas dan keberlanjutan komunitas tersebut (Prasetya, 2. Sebagai contoh, tradisi Nyelamak Dilaok yang telah berlangsung selama 400 tahun di Tanjung Luar merupakan aset budaya yang penting bagi masyarakat setempat, meskipun sulit untuk memberikan nilai ekonomis yang tepat. Di dunia bisnis, pandangan tentang aset juga telah berkembang. Aset tidak hanya terbatas pada hal-hal yang dapat dicatat di neraca keuangan, tetapi juga mencakup elemen-elemen seperti brand equity, loyalitas pelanggan, dan inovasi (Safarida & Siregar. Ini menunjukkan bahwa nilai aset sering kali bergantung pada konteks dan tujuan Seiring perkembangan zaman, definisi aset terus berkembang dan mencakup berbagai aspek kehidupan yang lebih luas. Dalam era digital dan informasi ini, data dan informasi juga telah menjadi aset yang sangat berharga (Mulyani et al. , 2. Perusahaan-perusahaan teknologi, misalnya, menganggap data pengguna sebagai salah satu aset terpenting yang dapat diolah untuk menciptakan nilai tambah. Dengan demikian, pemahaman tentang aset menjadi lebih dinamis dan multifaset, mencakup berbagai bentuk nilai yang dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan Perspektif ini menekankan pentingnya melihat aset tidak hanya dari sudut RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 pandang akuntansi tradisional, tetapi juga dari sudut pandang yang lebih holistik dan inklusif, yang mencerminkan nilai-nilai dan tujuan yang beragam dari individu dan METODE PENELITIAN Penelitian Menurut Bodgan dan Taylor, seperti yang disebutkan oleh (Di et al. , 2. penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menghasilkan data dalam bentuk deskripsi tertulis atau lisan dari kata-kata yang diucapkan oleh individu serta perilaku yang diamati. Penelitian ini merupakan sebuah upaya eksploratif yang memperdalam pemahaman kita tentang fenomena sosial dan budaya yang terkandung dalam upacara Nyelamak Dilaok. Sebagai kualitatif, pendekatannya mendasarkan pada pengungkapan makna subjektif yang terkait dengan pengalaman langsung partisipan dalam upacara tersebut. Fenomenologi mengajukan pertanyaan mendasar tentang bagaimana individu mengalami dan memaknai dunia mereka (Kamayanti, 2. , dan dalam konteks penelitian ini, fokusnya tertuju pada makna budaya yang ditemukan dalam upacara Nyelamak Dilaok. Melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan pencatatan lapangan, para peneliti akan menggali pengalaman partisipan secara holistik. Mereka akan mengeksplorasi bagaimana upacara ini dipahami, dihayati, dan diinterpretasikan oleh anggota komunitas yang terlibat. Pendekatan ini memungkinkan para peneliti untuk merespons keberagaman pengalaman dan perspektif yang muncul, tanpa memaksakan struktur atau teori tertentu pada data. Analisis fenomenologis akan menyoroti pola-pola umum dalam cara partisipan memaknai upacara Nyelamak Dilaok sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Ini tidak hanya melibatkan pengidentifikasian tema-tema utama yang muncul dari narasi partisipan, tetapi juga memperhatikan nuansa dan subtleties dalam pengalaman yang Hasilnya adalah deskripsi yang mendalam dan nuansa tentang makna budaya yang terkandung dalam upacara tersebut. Penelitian ini juga akan memperhatikan pentingnya validasi dan triangulasi dalam mengonfirmasi temuan. Interaksi yang berkelanjutan dengan partisipan dan masyarakat RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 lokal akan memastikan bahwa interpretasi peneliti tetap relevan dan akurat sesuai dengan konteks budaya yang lebih luas. Hasil penelitian kemudian akan dipresentasikan melalui narasi yang kaya, memperjelas kompleksitas dan kedalaman makna budaya yang diungkapkan dalam upacara Nyelamak Dilaok. Dengan pendekatan fenomenologi ini, penelitian ini diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman kita tentang bagaimana budaya hidup dan bertahan dalam praktik-praktik tradisional seperti upacara Nyelamak Dilaok. HASIL PENELITIAN Nyelamak Dilaok bukan hanya sekedar tradisi yang diwariskan secara turun temurun, tetapi juga syarat dengan makna nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi masyarakat Tanjung Luar. Salah satu nilai utama yang terkandung dalam tradisi ini adalah rasa syukur kepada Tuhan dan Penghormatan kepada leluhur. Melalui upacara ini masyarakat menyadari bahwa kehidupan mereka sangat bergantung pada alam dan kekuatan yang lebih besar, sehingga mereka selalu berusaha menjaga bubungan harmonis dengan alam. Selain itu. Nyelamak Dilaok juga mencerminkan nilai gotong royong dan Pelaksanaan upacara yang melibatkan seluruh anggota komunitas menunjukkan bahwa masyarakat Tanjung Luar memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Mereka bekerja sama dalam mempersiapkan segala kebutuhan upacara dan saling mendukung selama prosesi berlangsung. Hal ini menjadi salah satu kekuatan yang mampu mempererat hubungan antarwarga dan menjaga keharmonisan sosial. Tradisi Nyelamak Dilaok juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dan spiritual. Dalam kehidupan sehari-hari yang sibuk dengan aktivitas mencari nafkah, upacara ini menjadi momen refleksi dan penyucian diri. Masyarakat diajak untuk tidak hanya fokus pada urusan duniawi, tetapi juga memberikan perhatian pada aspek-aspek spiritual dan moral. Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa upacara Nyelamak Dilaok memiliki makna yang dalam dan kompleks sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat yang Melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan, kami berhasil mengungkap beragam pengalaman dan perspektif terkait dengan upacara ini. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 Pertama-tama, upacara Nyelamak Dilaok dianggap sebagai sebuah ritual yang menyatukan komunitas. Partisipan menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjalani prosesi ini, di mana setiap langkah dan simboliknya menjadi pengikat yang menghubungkan individu dengan komunitas mereka secara lebih dalam. Dalam konteks ini, upacara tersebut tidak hanya menjadi sebuah peristiwa keagamaan atau budaya, tetapi juga sebuah kesempatan untuk memperkuat hubungan sosial dan identitas Selain itu, upacara Nyelamak Dilaok juga dianggap sebagai sebuah bentuk penghormatan terhadap leluhur dan tradisi. Para partisipan menekankan pentingnya menjaga dan meneruskan praktik ini sebagai bagian dari pewarisan budaya mereka. Dalam setiap aspek upacara, terdapat penghargaan yang dalam terhadap pengetahuan yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya, serta kesadaran akan tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap relevan dan hidup dalam konteks zaman yang terus Tidak hanya sebagai sebuah perayaan budaya, upacara Nyelamak Dilaok juga dianggap sebagai sebuah titik penting dalam perjalanan spiritual individu. Partisipan mengungkapkan pengalaman transformatif yang mereka alami selama prosesi ini, di mana mereka merasa lebih terhubung dengan alam, leluhur, dan spiritualitas mereka Dalam momen-momen seperti itu, makna budaya tidak hanya menjadi sesuatu yang dipahami secara intelektual, tetapi juga dirasakan secara mendalam melalui pengalaman spiritual yang mendalam. Penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam tentang signifikansi budaya dari upacara Nyelamak Dilaok dalam konteks masyarakat yang melaksanakannya. Temuan kami menyoroti bagaimana upacara ini bukan sekadar serangkaian tindakan ritual, tetapi sebuah peristiwa yang kaya akan makna, yang memainkan peran penting dalam membangun dan memelihara identitas budaya dan spiritualitas masyarakat PEMBAHASAN Dalam upacara Nyelamak Dilaok, pendekatan akuntansi memberikan sudut pandang yang unik dalam memahami makna aset budaya yang terkandung dalam praktik ini. RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 Dalam penelitian ini, kami meneliti bagaimana upacara tersebut dapat dipahami melalui lensa akuntansi, dengan fokus pada pengakuan, pengukuran, pengungkapan, dan pengelolaan aset budaya tersebut. Pengakuan Aset Budaya Dalam perspektif akuntansi, pengakuan aset budaya terkait dengan pengidentifikasian dan pengenalan nilai yang terkandung dalam upacara Nyelamak Dilaok. Upacara ini dianggap sebagai sebuah aset budaya yang memiliki nilai ekonomis, sosial, dan spiritual yang penting bagi masyarakat yang melaksanakannya. Pengakuan ini melibatkan pemahaman mendalam tentang nilai intrinsik dan ekstrinsik dari upacara tersebut, serta penempatannya dalam konteks budaya dan sejarah yang lebih luas. Pengukuran Nilai Aset Budaya Pengukuran nilai aset budaya dalam upacara Nyelamak Dilaok melibatkan penilaian terhadap kontribusinya terhadap keberlangsungan dan keberlanjutan masyarakat yang melaksanakannya. Dalam konteks ini, nilai aset budaya tidak hanya diukur secara finansial, tetapi juga secara kualitatif dalam hal dampaknya terhadap identitas budaya, kesejahteraan sosial, dan hubungan antargenerasi. Pengukuran ini memungkinkan masyarakat untuk menghargai kontribusi upacara tersebut terhadap kekayaan budaya mereka. Pengungkapan Aset Budaya Pengungkapan aset budaya dalam upacara Nyelamak Dilaok mengacu pada upaya untuk menyampaikan informasi yang relevan dan transparan tentang nilai, tujuan, dan praktik yang terkandung dalam upacara tersebut. Melalui pengungkapan yang tepat, masyarakat dapat memahami dengan lebih baik makna dan signifikansi budaya dari upacara tersebut, serta menghargai warisan budaya yang diwariskan oleh leluhur mereka. Pengungkapan juga memainkan peran penting dalam mempromosikan pemahaman dan apresiasi yang lebih besar terhadap keberagaman Pengelolaan Aset Budaya Pengelolaan aset budaya dalam upacara Nyelamak Dilaok mencakup upaya untuk melindungi, memelihara, dan mengembangkan praktik tersebut agar tetap RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 relevan dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Dalam konteks akuntansi, pengelolaan ini melibatkan alokasi sumber daya yang tepat, pengembangan kebijakan yang mendukung, dan integrasi upacara tersebut ke dalam perencanaan strategis dan pembangunan komunitas. Pengelolaan yang efektif memastikan bahwa nilai budaya dari upacara tersebut tetap terjaga dan dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya. Dari perspektif akuntansi, upacara Nyelamak Dilaok dapat dipahami sebagai sebuah aset budaya yang memiliki nilai yang signifikan bagi masyarakat yang Dalam penelitian ini, kami menunjukkan bagaimana konsepkonsep akuntansi seperti pengakuan, pengukuran, pengungkapan, dan pengelolaan aset (Sari, 2. dapat diterapkan untuk memahami dan menghargai warisan budaya ini secara lebih baik. Melalui pendekatan ini, masyarakat dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk memelihara dan mewariskan upacara Nyelamak Dilaok kepada generasi mendatang, sehingga memastikan kelangsungan dan keberlanjutan nilai budaya yang terkandung dalam praktik KESIMPULAN Penelitian ini membuka wawasan tentang nilai budaya dalam Upacara Nyelamak Dilaok dari perspektif akuntansi, dengan menyoroti bahwa nilai aset upacara ini tidak hanya terletak pada aspek fisik seperti perlengkapan prosesi, tetapi juga pada nilai tak berwujud seperti budaya dan spiritualitas. Nilai-nilai ini, meski tidak dapat diukur secara moneter, memiliki dampak mendalam pada komunitas yang melaksanakannya. Penelitian ini juga menekankan bahwa upacara ini adalah investasi jangka panjang bagi komunitas, memerlukan komitmen sumber daya untuk keberlanjutan budaya, identitas, dan keterhubungan masa lalu, kini, dan masa depan. Selain itu, penelitian ini menunjukkan keterbatasan akuntansi konvensional dalam mengukur nilai budaya dan spiritual, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih inklusif untuk memasukkan dimensi nilai warisan budaya. Kesimpulannya, pengakuan terhadap nilai budaya dalam upacara ini penting untuk pelestarian dan pengembangan warisan budaya bagi generasi RISTANSI: Riset Akuntansi. Volume 5. Nomor 2. Desember 2024. Hal 141 - 155 Penelitian ini memberikan wawasan berharga, namun memiliki beberapa batasan. Temuan yang diperoleh mungkin terbatas pada konteks masyarakat yang diteliti dan belum tentu berlaku untuk budaya lain. Pendekatan kualitatif yang digunakan juga menyulitkan generalisasi untuk populasi yang lebih luas. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan cakupan lebih luas dan metodologi berbeda diperlukan untuk memperkuat hasil ini. Meski begitu, penelitian ini tetap berkontribusi pada pemahaman tentang peran budaya dalam kehidupan masyarakat. Upacara Nyelamak Dilaok dipahami tidak hanya sebagai praktik tradisional, tetapi juga sebagai aset budaya yang penting dalam membangun identitas dan spiritualitas masyarakat yang melaksanakannya. REFERENSI