Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 PERAN PENGAWAS MADRASAH DALAM MELAKSANAKAN PENDAMPINGAN MANAJERIAL KEPALA RAUDHATUL ATHFAL TERKAIT PERENCANAAN PROGRAM BERBASIS DATA Dwi Ning Wahyuni Budi* *Pengawas RA Kementerian Agama Kota Jakarta Timur. Indonesia *E-mail: dwiningwahyunibudi@gmail. Abstract This article describes a best practice implemented by a Raudhatul Athfal (RA) madrasah supervisor in providing managerial mentoring to RA principals, particularly in strengthening data-driven program planning through the Continuous Learning Survey System (Sistem Survei Lingkungan Belajar/Sulingja. The ability of RA principals to develop data-based planning is a critical factor in creating a well-organized, productive, and innovative madrasah working environment. This mentoring activity involved 25 RA-level madrasahs located across three sub-districts in East Jakarta under the authorAos supervision. The study employed a mixed-methods survey design. Data were collected through document analysis, observations, in-depth interviews, and reflections on the mentoring outcomes. The data were analyzed using descriptive, qualitative, and quantitative techniques. The analysis results served as the basis for grouping the supervised madrasahs into four mentoring categories. Each group received managerial mentoring using the Coaching. Facilitating, and Consulting (CFC) approach, tailored to the level of readiness and commitment to change demonstrated by the RA principals. The findings indicate that 95. 7% of RA principals gained a greater understanding of the importance of datadriven program planning. Follow-up mentoring focused on the preparation of the Commitment to Change (KOM), the Annual Work Plan (RKT), and the Madrasah Work and Budget Plan (RKAM). This best practice demonstrates that systematic, data-driven managerial mentoring strengthens RA principals' managerial competencies. Keywords: data-driven planning. managerial competence. managerial mentoring Abstrak Artikel ini mendeskripsikan praktik baik . est practic. yang dilakukan oleh pengawas madrasah jenjang Raudhatul Athfal (RA) dalam melaksanakan pendampingan manajerial kepada kepala RA, khususnya dalam penguatan perencanaan program berbasis data melalui Sulingjar. Kemampuan kepala RA dalam menyusun perencanaan berbasis data merupakan faktor penting dalam mewujudkan lingkungan kerja madrasah yang tertata, produktif, dan Kegiatan pendampingan ini melibatkan 25 madrasah jenjang RA yang tersebar di tiga kecamatan wilayah Jakarta Timur di bawah binaan penulis. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan desain survei. Data dikumpulkan melalui studi dokumen, observasi, wawancara mendalam, serta refleksi hasil pendampingan, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis data menjadi dasar pengelompokan madrasah binaan ke dalam empat kelompok pendampingan. Setiap kelompok memperoleh pendampingan manajerial menggunakan pendekatan Coaching. Facilitating, dan Consulting (CFC) yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan dan komitmen perubahan kepala RA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95,7% kepala RA mengalami peningkatan pemahaman terhadap pentingnya perencanaan program berbasis data. Tindak lanjut pendampingan difokuskan pada penyusunan Komitmen Perubahan (KOM). Rencana Kerja Tahunan (RKT), dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM). Praktik baik ini menunjukkan bahwa pendampingan manajerial yang sistematis dan berbasis data berkontribusi positif terhadap penguatan kompetensi manajerial kepala RA. Kata Kunci: perencanaan berbasis data. kompetensi manajerial. pendampingan manajerial Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 PENDAHULUAN Pengawas madrasah memiliki peran strategis dalam menjamin mutu penyelenggaraan pendidikan melalui pengawasan yang berkelanjutan. Pada jenjang Raudhatul Athfal (RA), peran pengawas menjadi semakin penting pendidikan anak usia dini yang memerlukan pengelolaan manajerial yang adaptif, responsif, dan berbasis kebutuhan riil satuan pendidikan. Dengan jumlah madrasah binaan yang cukup banyak dan tersebar di beberapa wilayah, pengawas dituntut untuk menyusun perencanaan pendampingan yang sistematis agar target peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai secara Pendampingan manajerial bagi kepala Raudhatul Athfal merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan kapasitas kepala satuan pendidikan dalam mengelola lembaga secara efektif. Salah satu kompetensi manajerial yang perlu dikuasai kepala RA adalah kemampuan berbasis data. Perencanaan yang disusun berdasarkan data empiris memungkinkan satuan pendidikan menetapkan skala prioritas program secara lebih tepat, terarah, dan sesuai dengan kebutuhan aktual lembaga. Salah satu sumber data yang dapat program adalah hasil Sulingjar (Survei Lingkungan Belaja. Data Sulingjar kepemimpinan, serta iklim satuan pendidikan yang dapat dijadikan dasar Pemanfaatan memungkinkan pengawas melakukan tindak lanjut pendampingan yang lebih kontekstual sesuai dengan hasil analisis masing-masing pendidikan RA. Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji pemanfaatan data rapor Penelitian Murtadlo et al. menunjukkan bahwa pemahaman kepala satuan pendidikan terhadap pemanfaatan rapor pendidikan sebagai sumber data masih beragam meskipun telah dilakukan pendampingan. Sementara itu. Sakdiah . menyimpulkan meningkatkan kemampuan kepala madrasah dalam menyusun rencana kerja madrasah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut belum secara spesifik mengkaji praktik pengawas madrasah jenjang Raudhatul Athfal yang terintegrasi dengan pemanfaatan data Sulingjar sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Tahunan (RKT) dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM). Berdasarkan tersebut, artikel ini bertujuan untuk dilakukan oleh pengawas madrasah dalam mendukung kepala Raudhatul Athfal menyusun perencanaan program berbasis data. Kebaruan artikel ini Sulingjar, analisis SWOT satuan pendidikan, serta pendekatan Coaching. Facilitating, dan Consulting (CFC) dalam proses pendampingan. Praktik baik ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengawas madrasah dalam pendampingan manajerial yang lebih sistematis, kontekstual, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan RA. pengalaman subjek penelitian (Creswell & Plano Clark, 2. Subjek penelitian terdiri atas 25 satuan pendidikan Raudhatul Athfal (RA) yang berada di tiga kecamatan di wilayah Jakarta Timur dan berada di pengawas madrasah. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan keterlibatan aktif kesiapan satuan pendidikan dalam menerapkan perencanaan program berbasis data. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu studi Studi meliputi hasil Sulingjar. Rencana Kerja Tahunan (RKT). Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM), serta Komitmen Perubahan (KOM). Observasi dilakukan untuk mengamati partisipasi dan respons Wawancara mendalam digunakan untuk menggali pemahaman, kendala, dan pengalaman kepala RA dalam berbasis data. Selain itu, refleksi hasil menilai perubahan dan capaian yang METODE Penelitian pendekatan mixed methods dengan desain survei, yang mengombinasikan data kuantitatif dan kualitatif untuk pendampingan manajerial berbasis data Pendekatan mixed methods dipilih karena memungkinkan peneliti menganalisis fenomena secara lebih utuh melalui penguatan data numerik Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Pendampingan dilaksanakan dengan mengacu pada pembimbing, fasilitator, dan mitra madrasah (Glickman et al. , 2. Pendekatan digunakan adalah Coaching. Facilitating, dan Consulting (CFC), yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan dan komitmen perubahan kepala RA. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pendampingan kolaborasi, refleksi, dan pemberdayaan kepala satuan pendidikan dalam pengambilan keputusan berbasis data (Sergiovanni, 2. Tahapan manajerial oleh pengawas meliputi analisis data Sulingjar, pemetaan kebutuhan dan permasalahan satuan pendampingan berbasis kelompok sesuai kategori madrasah binaan, serta tindak lanjut penyusunan dokumen perencanaan program. Alur tahapan secara ringkas pada Gambar 1. Gambar 1 skema tahapan pendampingan pengawas Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan memadukan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif dianalisis untuk melihat pemahaman kepala RA terhadap perencanaan program berbasis data, sedangkan data kualitatif dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis data selanjutnya digunakan madrasah binaan ke dalam empat kategori pendampingan sesuai dengan tingkat kesiapan dan komitmen perubahan kepala RA. Group Discussion (FGD) pada periode April hingga Juni. Adapun kegiatan lanjutan berupa coaching, facilitating, dan consulting (CFC) dilaksanakan pada periode Juli hingga November sebagai bentuk tindak lanjut dari hasil pemetaan dan analisis data awal. Perencanaan disusun oleh kepala Raudhatul Athfal dalam pendampingan ini menekankan prinsip perencanaan berbasis data. Perencanaan berbasis data merupakan pendidikan sebagai dasar penetapan kebijakan dan intervensi satuan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu secara berkelanjutan (Murtadlo et , 2. Oleh karena itu, kemampuan perencanaan program berbasis data diperkuat melalui pendampingan yang HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian hasil dan pembahasan ini menguraikan temuan-temuan utama dilakukan oleh pengawas madrasah terhadap kepala Raudhatul Athfal (RA). Data diperoleh melalui serangkaian dokumen, observasi, diskusi, serta refleksi bersama kepala RA, baik melalui visitasi langsung maupun pemanfaatan media daring sebagai pelengkap pengumpulan data. Pendampingan secara bertahap dan berkelanjutan. Tahap awal difokuskan pada pemetaan kebutuhan dan komitmen perubahan kepala RA yang dilaksanakan pada periode Januari hingga Maret. Tahap pendampingan kelompok melalui Focus Pemetaan Komitmen Perubahan Kepala Raudhatul Athfal Pemetaan komitmen perubahan kepala Raudhatul Athfal merupakan tahap awal yang strategis dalam pendampingan manajerial berbasis Pemetaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kesiapan, kesadaran, serta komitmen kepala RA perencanaan program yang didasarkan pada data empiris satuan pendidikan. Kegiatan dengan pelaksanaan Focus Group Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Discussion (FGD) yang dilakukan secara Proses pemetaan disusun berdasarkan hasil visitasi, wawancara, serta pengisian instrumen refleksi melalui Google Form yang diisi oleh kepala Raudhatul Athfal. Instrumen refleksi tersebut dirancang untuk menggali pemahaman awal kepala RA tentang perencanaan berbasis data, tingkat komitmen perubahan, serta menindaklanjuti hasil analisis data. Selain instrumen refleksi, kepala Raudhatul Athfal juga diminta untuk Strengths. Weaknesses. Opportunities, dan Threats (SWOT) masing-masing Analisis SWOT digunakan sebagai data gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi internal dan eksternal satuan pendidikan. Data ini tidak hanya lembaga, tetapi juga mencerminkan tingkat reflektivitas kepala RA terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi. Sebaran jumlah responden kepala Raudhatul Athfal yang terlibat dalam disajikan pada Gambar 2. Diagram responden dari tiga kecamatan binaan, yaitu Ciracas. Cipayung, dan Pasar Rebo. Gambar 2 Diagram partisipasi Aktif Kepala Raudhatul Athfal Dalam Mengisi Lembar Refleksi Komitmen Perubahan Berdasarkan Gambar 2, terlihat bahwa jumlah responden terbanyak berasal dari Kecamatan Ciracas dengan 17 kepala RA, disusul Kecamatan Cipayung dengan 6 kepala RA, dan Kecamatan Pasar Rebo dengan 2 kepala RA. Perbedaan jumlah responden ini madrasah binaan di masing-masing kecamatan serta menjadi pertimbangan Sebaran responden berdasarkan wilayah ini penting untuk dipahami karena memengaruhi intensitas dan pola pendampingan yang dilakukan. Kecamatan dengan jumlah madrasah binaan lebih banyak memerlukan pengelolaan pendampingan yang lebih sistematis dan terstruktur, baik melalui pendampingan kelompok maupun pendampingan individual, agar seluruh layanan pembinaan yang proporsional. Hasil perubahan kepala Raudhatul Athfal selanjutnya digunakan sebagai dasar Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Secara visual, pembagian berdasarkan komitmen perubahan kepala RA disajikan dalam bentuk grafik pada Gambar 3. Pembagian Kelompok Madrasah Binaan Perubahan Berkelanjutan - Prioritas Akhir Perubahan Berangsur - Prioritas Menengah Perubahan Segera - Prioritas Menengah Penyemai Perubahan - Prioritas Utama Gambar 3. Hasil Olah Data Terkait Komitmen Perubahan kepala raudhatul athfal Berdasarkan Gambar 3, tampak bahwa sebagian besar madrasah binaan berada pada kategori Perubahan Berangsur . rioritas menenga. Kondisi ini menunjukkan bahwa mayoritas kepala Raudhatul Athfal telah memiliki kesadaran awal terhadap pentingnya perubahan, namun masih memerlukan pendampingan yang terarah dan berkelanjutan agar perubahan tersebut perencanaan program berbasis data. Kategori Penyemai Perubahan . rioritas utam. dan Perubahan Segera . rioritas menenga. menunjukkan jumlah yang lebih sedikit, sehingga memerlukan pendampingan yang lebih intensif dan bersifat direktif. Sementara itu, kategori Perubahan Berkelanjutan . rioritas akhi. memiliki jumlah paling sedikit, yang mengindikasikan bahwa hanya sebagian kecil kepala RA yang telah berada pada tahap pengelolaan perubahan yang relatif stabil dan Integrasi kecamatan, hasil pemetaan komitmen perubahan, serta analisis SWOT memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi dan kesiapan kepala Raudhatul Athfal dalam melakukan Hasil Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 selanjutnya menjadi dasar dalam pengelompokan madrasah binaan serta facilitating, dan consulting (CFC) yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan dan komitmen perubahan masingmasing kepala Raudhatul Athfal. Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 4831/B/HK. 01/2023 tentang Peran Pengawas Sekolah dalam Implementasi Kebijakan Merdeka Belajar pada Satuan Pendidikan (Kementerian Pendidikan. Strategi dan Metode Pendampingan Strategi dilakukan oleh pengawas disusun berdasarkan hasil pemetaan komitmen perubahan kepala Raudhatul Athfal. Pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk, pendekatan, serta masing-masing Pendekatan ini sejalan dengan prinsip menekankan diferensiasi layanan sesuai dengan tingkat kesiapan dan kebutuhan satuan pendidikan (Glickman et al. Berdasarkan komitmen perubahan yang disajikan pada Gambar 2, sebanyak 25 madrasah binaan dikelompokkan ke dalam empat kategori besar, yaitu Penyemai Perubahan . rioritas utam. Perubahan Segera . rioritas Perubahan Berangsur . rioritas menenga. , dan Perubahan Berkelanjutan . rioritas akhi. Pengelompokan ini merujuk pada ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Gambar 4. Kelompok 1 Penyemai Perubahan (Prioritas Utam. Kelompok Penyemai Perubahan . rioritas utam. merupakan kelompok dengan tingkat kesiapan perubahan yang masih rendah. Sasaran utama pendampingan pada kelompok ini adalah terjadinya perubahan awal pada praktik pembelajaran dan pengelolaan satuan pendidikan. Oleh karena itu, diterapkan bersifat direktif, satu arah, dan dilakukan dengan frekuensi yang lebih intensif. Pada kelompok ini, pengawas berperan lebih dominan dalam memberikan arahan, contoh praktik, serta pendampingan teknis secara langsung. Gambar 5. Kelompok 2 Perubahan Segera (Prioritas Menenga. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Adapun kelompok Perubahan Berkelanjutan . rioritas merupakan kelompok dengan tingkat kesiapan perubahan yang relatif tinggi. Sasaran pendampingan pada kelompok ini tidak hanya pada perbaikan praktik pembelajaran dan pengelolaan satuan Strategi pendampingan yang diterapkan bersifat non-direktif, dialogis, dan reflektif, dengan frekuensi pendampingan yang lebih fleksibel. Pada kelompok ini, pengawas berperan sebagai mitra diskusi yang mendorong keputusan mandiri oleh kepala RA (Kementerian Pendidikan, 2. Dalam implementasinya, strategi coaching, facilitating, dan consulting (CFC). Pendekatan coaching bertujuan untuk memberdayakan individu kepala RA dalam menggali potensi diri dan meningkatkan kinerja melalui refleksi dan dialog. Pendekatan facilitating diarahkan untuk memberdayakan kelompok atau organisasi agar mampu Sementara itu, pendekatan memberikan rekomendasi strategis berdasarkan hasil analisis data guna mendukung pengembangan satuan pendidikan (Kementerian Pendidikan. Pelaksanaan melalui pendekatan CFC dilakukan Gambar 6. Kelompok 3 Perubahan Berangsur (Prioritas Menenga. Kelompok Perubahan Segera dan Perubahan Berangsur berada pada kategori prioritas menengah. Sasaran pendampingan pada kedua kelompok ini tidak hanya mencakup perubahan praktik pembelajaran, tetapi juga pendidikan secara bertahap. Strategi bersifat kombinatif, yaitu memadukan pendekatan direktif dan non-direktif, dengan pola komunikasi dua arah dan frekuensi pendampingan semi-intensif. Pendampingan pada kelompok ini diarahkan untuk mendorong kepala RA dan pendidik mulai memanfaatkan data hasil Sulingjar dalam menyusun Gambar 7. Kelompok 4 Perubahan Berkelanjutan (Prioritas Akhi. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 secara bertahap dan berkelanjutan. Kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) sebagai forum berbagi pemahaman dan penyamaan persepsi, pendampingan intensif pada satuan pendidikan terpilih sebagai sampel di setiap kelompok. Dalam pendampingan lanjutan, pengawas memfokuskan kegiatan pada analisis hasil Sulingjar, penyusunan Komitmen Perubahan, serta penyelarasan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM) berbasis Strategi disusun berdasarkan hasil pemetaan memungkinkan pengawas memberikan kontekstual dan tepat sasaran. Dengan demikian, pendampingan manajerial tidak hanya bersifat administratif, tetapi berkelanjutan yang mendorong kepala Raudhatul Athfal untuk secara mandiri memanfaatkan data sebagai dasar pendidikan (Sergiovanni, 2. asesmen, kepemimpinan, serta iklim dimanfaatkan sebagai dasar dalam menyusun perencanaan program yang lebih kontekstual dan berorientasi pada kebutuhan riil madrasah. Berdasarkan hasil pengumpulan data, dari 25 madrasah binaan terdapat 20 madrasah yang berpartisipasi aktif dalam pengisian Sulingjar. Kondisi ini Sulingjar telah menjadi salah satu perencanaan berbasis data, masih terdapat satuan pendidikan yang belum sepenuhnya memanfaatkannya secara Temuan ini menjadi perhatian keberlanjutan perencanaan berbasis konsistensi pengisian dan pemanfaatan hasil Sulingjar. Sebaran hasil analisis Sulingjar berdasarkan dimensi rekomendasi prioritas disajikan pada Gambar 8. Diagram tersebut menunjukkan jumlah satuan pendidikan Raudhatul Athfal masing-masing dimensi, yaitu D1. D2. D3. D4. E4, dan E5. Hasil Analisis Sulingjar Analisis hasil Sulingjar (Survei Lingkungan Belaja. merupakan bagian dilakukan oleh pengawas madrasah. Sulingjar menyediakan data empiris Jumlah RA Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 menunjukkan jumlah rekomendasi yang relatif lebih rendah, masingmasing pada 10 RA dan 8 RA. Pola ini mengindikasikan bahwa permasalahan utama madrasah binaan lebih dominan pada aspek pembelajaran dan asesmen Untuk memperoleh pemahaman dilanjutkan hingga tingkat akar masalah pada dimensi yang memiliki rekomendasi tertinggi, yaitu D2 dan D3. Sebaran akar masalah pada dimensi D2 disajikan pada Gambar 9. Sebaran Identifikasi Rekomendasi Prioritas Dimensi Keterangan Dimensi: D1: Perencanaan untuk proses pembelajaran yang efektif D2: Proses pembelajaran yang sesuai dengan acuan standar D3: Pembelajaran yang membangun kemampuan fondasi D4: Asesmen yang meningkatkan kualitas pembelajaran E4: Refleksi dan perbaikan pembelajaran E5: Kepemimpinan yang mendukung perbaikan layanan secara berkelanjutan Gambar 8. Sebaran Hasil Analisis Sulingjar Berdasarkan Gambar 8, dimensi D2 (Proses Pembelajaran yang Sesuai dengan Acuan Standa. dan D3 (Pembelajaran Membangun Kemampuan Fondas. menempati posisi tertinggi dengan masing-masing 20 RA. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar madrasah binaan masih menghadapi tantangan pada aspek pembelajaran anak usia dini, baik dari sisi kesesuaian proses pembelajaran dengan karakteristik anak maupun dari sisi penguatan kemampuan fondasi peserta didik. Dimensi D4 (Asesmen yang Meningkatkan Kualitas Pembelajara. juga menunjukkan jumlah rekomendasi yang cukup tinggi, yaitu pada 17 RA, disusul dimensi D1 (Perencanaan untuk Proses Pembelajaran yang Efekti. pada 16 RA. Sementara itu, dimensi E4 (Refleksi dan Perbaikan Pembelajara. dan E5 (Kepemimpinan Mendukung Perbaikan Layanan Secara Berkelanjuta. Keterangan gambar Level 1 1 = proses belajar anak usia dini 2 = refleksi dan perbaikan pembelajaran 3 = asesmen yang meningkatkan kualitas Pembelajaran Level 2 1 = penerapan disiplin positif 2 = berfikir aktif 3 = belajar dari dan Bersama orang lain 4 = umpan balik yang konstruktif 5 = ekspektasi pendidik 6 = keteraturan suasana kelas 7 = panduan pendidik 8 = pembelajaran terdiferensiasi 9 = penerapan asesmen dalam pembelajaran Gambar 9. Sebaran Akar Masalah dari Indikator D2 Berdasarkan Gambar 9, pada Level 1 terlihat bahwa indikator Proses Belajar Anak Usia Dini menjadi sumber Hal pembelajaran di sebagian besar satuan pendidikan masih belum sepenuhnya Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 1 = literasi dasar 2 = identitas diri 3 = umpan balik yang konstruktif 4 = kualitas perencanaan 5 = pemahaman mengenai komponen perencanaan sesuai dengan prinsip pembelajaran anak usia dini yang berorientasi pada Indikator lain yang turut muncul adalah Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran serta Asesmen yang Meningkatkan Kualitas Pembelajaran, frekuensi yang lebih rendah. Pada Level 2, akar masalah yang dominan berkaitan dengan penerapan disiplin positif, pengelolaan suasana kelas, kemampuan mendorong anak untuk berpikir aktif, serta pemberian umpan balik yang konstruktif. Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama pada dimensi D2 lebih terletak pada implementasi pembelajaran di kelas, bukan semata-mata pada Pembelajaran anak usia dini menuntut pendidik untuk mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, dan partisipatif eksplorasi (Ningsi et al. , 2. Analisis akar masalah pada (Pembelajaran Membangun Kemampuan Fondas. disajikan pada Gambar 10. Gambar 10. Sebaran Akar Masalah dari Indikator D3 Berdasarkan Gambar 10, pada Level 1 indikator Pembelajaran yang Membangun Kemampuan Fondasi muncul sebagai sumber permasalahan utama. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian merancang pembelajaran yang secara sistematis mampu mengembangkan kemampuan fondasi anak usia dini. Selain itu, indikator Asesmen yang Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Perencanaan untuk Proses Pembelajaran yang Efektif juga muncul sebagai faktor pendukung munculnya permasalahan pada dimensi ini. Pada Level 2, akar masalah yang paling dominan berkaitan dengan penguatan literasi dasar, kualitas komponen perencanaan pembelajaran. Literasi dasar sebagai kemampuan fondasional perlu dikembangkan sejak usia dini melalui pembelajaran yang kontekstual dan bermakna, salah satunya melalui kegiatan bercerita dan penyediaan lingkungan belajar yang kaya teks (Kuswandi et al. , 2. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas perencanaan pembelajaran memiliki keterkaitan erat dengan Keterangan gambar Level 1 1 = pembelajaran yang membangun kemampuan fondasi 2 = asesmen yang mningkatkan kualitas pembelajaran 3 = perencanaan untuk proses pembelajaran yang efektif Level 2 Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 capaian kemampuan fondasi peserta Selain dimensi pembelajaran, analisis Sulingjar juga menunjukkan temuan penting pada dimensi D4 (Asesmen yang Meningkatkan Kualitas Pembelajara. dan E4 (Refleksi dan Perbaikan Pembelajara. Pada dimensi D4, permasalahan utama berkaitan dengan keterbatasan pendidik dalam memanfaatkan asesmen sebagai dasar perbaikan pembelajaran dan pemberian umpan balik yang bermakna. Padahal, asesmen yang dilakukan secara tepat mengidentifikasi kebutuhan belajar anak serta merancang intervensi yang lebih sesuai (Suyadi, 2. Sementara itu, pada dimensi E4, temuan menunjukkan bahwa praktik refleksi pembelajaran belum menjadi berkelanjutan di sebagian satuan Refleksi pembelajaran sering kali belum dilakukan secara pembelajaran masih bersifat insidental. Kondisi ini memperkuat pentingnya pendidik, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG), sebagai wadah refleksi dan pembelajaran bersama. Secara keseluruhan, hasil analisis Sulingjar permasalahan utama madrasah binaan terletak pada dimensi pembelajaran, asesmen, dan refleksi pembelajaran, sementara dimensi kepemimpinan relatif menunjukkan kondisi yang lebih Temuan ini menjadi dasar bagi pendampingan manajerial yang lebih terarah, dengan fokus pada penguatan kompetensi pendidik dan kepala Raudhatul Athfal dalam merancang pembelajaran, memanfaatkan asesmen, serta melakukan refleksi berbasis data. Hasil Sulingjar selanjutnya diintegrasikan dengan Strengths. Weaknesses. Opportunities, dan Threats (SWOT) masing-masing satuan pendidikan sebagai dasar penyusunan Komitmen Perubahan. Rencana Kerja Tahunan (RKT), dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM) berbasis data, sehingga perencanaan yang disusun benar-benar mencerminkan pengembangan madrasah. Integrasi analisis SWOT dan Sulingjar Sebagai Sumber Data Hasil integrasi analisis Strengths. Weaknesses. Opportunities, dan Threats (SWOT) dengan temuan Sulingjar (Survei Lingkungan Belaja. pada masing-masing satuan pendidikan digunakan sebagai dasar dalam Integrasi ini dilakukan dengan menyandingkan rekomendasi prioritas hasil Sulingjar dengan kondisi internal dan eksternal madrasah sebagaimana tercermin dalam analisis SWOT. Penyajian hasil integrasi tersebut dalam bentuk tabel bertujuan untuk memberikan gambaran konkret mengenai hubungan antara temuan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 data, potensi satuan pendidikan, serta arah program yang dirumuskan secara berbasis data. Komponen Tabel 1. Integrasi Analisa Swot dan Sulingjar Kelompok Prioritas Pertama Sampel 1 Komponen Uraian Akar A D. Proses belajar yang sesuai Masalah dengan anak usia dini A D. Asesmen yang meningkatkan kualitas A D. 3 Pembelajaran yang membangun kemampuan fondasi A E. Kepemimpinan yang mendukung perbaikan layanan secara berkelanjutan dan Potensi Pengoptimalisasian keberadaan KKG di tingkat kecamatan yang sudah mulai dibentuk Jumlah peserta didik yang lumayan banyak Sarana gedung yang mendukung Harapan 1. Semua potensi yang ada dapat Hasil refleksi Sulingjar dapat dimanfaatkan dengan baik Penyusunan RKAM berbasis data Sulingjar Ide Kepala satdik dan pendidik Program belajar bersama agar lebih memahami cara memanfaatkan hasil asesmen untuk meningkatkan kualitas Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar lebih memahami cara memberikan umpan balik yang konstruktif untuk kemampuan literasi dan Penguatan kapasitas satuan RA dalam membangun kemitraan dengan orang tua Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan teknik asesmen yang sesuai bagi anak usia dini Satuan RA bersama KKG mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan sebagai wadah Uraian untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara Sampel 2 Komponen Uraian Akar Tidak aktif mengisi Sulingjar 2024 Masalah sehingga target untuk RA Mutiara melihat Sulingjar 2023 Potensi Ruang belajar yang sudah ada Jumlah peserta didik yang lumayan . Usia pendidik yang sangat Harapan Pembenahan dalam hal Optimalisasi kinerja pendidik Penyusunan RKAM berbasis data Sulingjar Ide Pendampingan lebih lanjut Program pengawas terkait perapihan Monitoring terkait hasil refleksi perubahan komitmen Kepala Monitoring penyusunan RKAM berbasis Sulingjar Sampel 3 Komponen Uraian Akar Tidak aktif mengisi Sulingjar. Masalah sehingga target untuk RA Mustika adalah merapikan dokumen RA sebagai bentuk persiapan akreditasi tahun 2026 (RA Mustika belum terakreditas. Potensi Ruang belajar yang sudah ada dan cukup representatif untuk Jumlah peserta didik yang lumayan . Harapan 1. Pembenahan dalam hal Optimalisasi kinerja pendidik Tahun 2026 dapat lulus Ide Pendampingan lebih lanjut Program oleh pengawas terkait perapihan administrasi Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Komponen Uraian Monitoring terkait hasil refleksi perubahan komitmen Kepala Komponen Tabel 2. Integrasi Analisa Swot dan Sulingjar Kelompok Prioritas Menengah Sampel 1 Komponen Uraian Akar Tidak mengisi Sulingjar secara Masalah online, tetapi secara manual. Didapati: A D. Proses belajar yang sesuai bagi anak usia dini A D. Pembelajaran yang membangun kemampuan A D. Asesmen yang meningkatkan kualitas A E. Kepemimpinan yang mendukung perbaikan layanan secara berkelanjutan dan Potensi Lokasi RA strategis Semua pendidik dan kepala RA berstatus ASN Jumlah peserta didik yang lumayan . Harapan 1. Semua potensi yang ada dapat Hasil refleksi Sulingjar dapat dimanfaatkan dengan baik Penyusunan RKAM berbasis data Sulingjar Ide Kepala satdik dan pendidik Program belajar bersama agar dapat menerapkan teknik asesmen yang sesuai bagi anak usia dini Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan (KKG) sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara Satuan RA memfasilitasi kebutuhan belajar pendidik melalui pelatihan, berkunjung ke satuan PAUD lain, atau mengundang narasumber Satuan RA membangun kemitraan dengan orang tua Uraian melalui pelaporan hasil belajar secara konstruktif Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menyusun laporan hasil belajar yang informatif serta merekomendasikan kegiatan yang dapat dilakukan orang tua/wali murid di rumah Satuan RA menyediakan buku bacaan anak sebagai bagian dari penyediaan lingkungan yang kaya teks Sampel 2 Komponen Akar Masalah A A Potensi Harapan Ide Program Uraian Perencanaan untuk Proses Pembelajaran yang Efektif Keteraturan suasana kelas Pembelajaran yang membangun kemampuan A D. Asesmen yang meningkatkan kualitas A E. Refleksi dan perbaikan pembelajaran oleh pendidik Lokasi RA strategis . ekat dengan masji. Optimalisasi peran pendidik Optimalisasi hasil refleksi komitmen perubahan Kepala Penyusunan RKAM berbasis data Sulingjar Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menghadirkan lingkungan belajar yang memfasilitasi anak belajar secara aman dan Satuan RA memfasilitasi kebutuhan belajar pendidik melalui pelatihan, berkunjung ke satuan PAUD lain, atau mengundang narasumber Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan (KKG) sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Komponen Uraian Satuan PAUD merancang kurikulum satu tahun ke depan yang lebih melibatkan orang tua/wali murid dalam kegiatan pembelajaran Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menyusun laporan hasil belajar yang informatif beserta rekomendasi kegiatan yang dapat dilakukan orang tua/wali murid di rumah Komponen Sampel 3 Komponen Uraian Akar Proses belajar yang sesuai Masalah bagi anak usia dini Penerapan disiplin Belajar dari dan bersama orang lain Pembelajaran yang membangun kemampuan Perencanaan untuk Proses Pembelajaran yang Efektif Kemitraan dengan Orang Tua/Wali Kepemimpinan yang mendukung perbaikan layanan secara berkelanjutan dan partisipatif Potensi Lokasi RA strategis . ekat Jumlah peserta didik yang lumayan . Pendidik yang semuanya usia produktif dengan jumlah sangat cukup . Harapan 1. Semua potensi yang sudah ada dapat dioptimalisasikan Hasil refleksi Sulingjar dapat dimanfaatkan dengan baik Penyusunan RKAM berbasis data Sulingjar Ide Kepala satdik dan pendidik Program belajar bersama agar dapat menyusun perencanaan pembelajaran di tingkat satuan dan di kelas Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar Uraian menguatkan kualitas perencanaan dengan cara memodifikasi contoh KOSP (KOM) dan modul ajar Satuan RA merancang kurikulum satu tahun ke depan yang lebih melibatkan orang tua/wali murid dalam kegiatan pembelajaran Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menghadirkan lingkungan belajar yang memfasilitasi anak belajar secara aman dan Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan (KKG) sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara Satuan RA memfasilitasi kebutuhan belajar Tabel 3 Integrasi Analisa Swot dan Sulingjar Kelompok Prioritas Akhir Sampel 1 Komponen Uraian Akar Tidak mengisi Sulingjar secara Masalah online, tetapi diisi secara manual. Didapat: Proses belajar yang sesuai bagi anak usia dini Refleksi dan perbaikan pembelajaran oleh pendidik Pembelajaran Kemitraan dengan Orang Tua/Wali Kualitas perencanaan proses pembelajaran yang Potensi Sarana prasarana yang sudah Jumlah pendidik yang cukup dengan kualifikasi yang cukup representatif . ASN dan impassing. Tendik sudah mendapat dana hiba. Jumlah peserta didik yang lumayan . Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Komponen Harapan Ide Program Uraian Ada kelas jauh . urleb 90 Optimalisasi sumber daya yang ada Perencanaan kegiatan berbasis data Sulingjar Perapihan data dan administrasi kelas jauh Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat lebih memahami cara membangun pembelajaran yang bermakna pada anak usia Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara berkelanjutan Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan pembelajaran Satuan RA merancang kegiatan satu tahun untuk kemudian dibagikan kepada orang tua/wali murid Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menyusun laporan hasil belajar yang informatif beserta rekomendasi kegiatan yang dapat dilakukan orang tua/wali murid di rumah Komponen Harapan Ide Program Uraian Tenaga pendidik yang masih usia produktif Optimalisasi sumber daya yang ada Membuat perencanaan kegiatan berbasis data Sulingjar Ekspansi perluasan RKB agar kegiatan pembelajaran lebih Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan disiplin positif pada anak usia dini Satuan RA mengaktivasi komunitas belajar di tingkat satuan (KKG) sebagai wadah untuk melakukan refleksi dan belajar bersama secara Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan teknik asesmen yang sesuai bagi anak usia dini Kepala satdik dan pendidik belajar bersama agar dapat menerapkan pembelajaran Satuan RA merancang kurikulum satu tahun ke depan yang lebih melibatkan orang tua/wali murid dalam kegiatan pembelajaran Berdasarkan hasil integrasi analisis SWOT dan Sulingjar yang disajikan pada tabel-tabel di atas, terlihat bahwa permasalahan utama madrasah binaan cenderung terkonsentrasi pada aspek pembelajaran, asesmen, dan refleksi Temuan ini selaras dengan hasil analisis Sulingjar yang menunjukkan dominasi rekomendasi pada dimensi pembelajaran dan Di sisi lain, setiap satuan pendidikan memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda, sehingga Sampel 2 Komponen Uraian Akar Proses belajar yang sesuai Masalah bagi anak usia dini Penerapan disiplin Penerapan asesmen dalam pembelajaran Pembelajaran yang membangun kemampuan Pembelajaran Kemitraan dengan Orang Tua/Wali Potensi Jumlah peserta didik yang lumayan . Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 pendampingan yang kontekstual dan Hasil integrasi ini menjadi dasar bagi pengawas dalam merancang strategi pendampingan manajerial yang adaptif melalui pendekatan coaching, facilitating, dan consulting (CFC). Selain itu, temuan dari tabel-tabel tersebut dimanfaatkan oleh kepala Raudhatul Athfal penyusunan Komitmen Perubahan. Rencana Kerja Tahunan (RKT), dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM) berbasis data, sehingga perencanaan program yang dihasilkan lebih tepat sasaran dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Gambar 11. Pengetahuan kepala RA tentang sumber data Hasil survei awal yang disajikan pada Gambar 11 menggambarkan kondisi pemahaman kepala Raudhatul Athfal sebelum adanya intervensi Pada pemahaman terhadap fungsi Sulingjar, sebanyak 69,6% responden menyatakan belum mengetahui fungsi Sulingjar, 30,4% menyatakan telah mengetahui. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas pimpinan satuan pendidikan belum memahami peran strategis Sulingjar sebagai instrumen pengumpulan dan analisis data mutu pendidikan sebelum pendampingan dilaksanakan. Kondisi tersebut sejalan dengan temuan bahwa perencanaan program di satuan pendidikan sering kali masih bersifat administratif dan belum berbasis pada pemanfaatan data secara optimal (Murtadlo et al. , 2. Pada mengenai sumber data yang digunakan dalam perencanaan program satuan Refleksi Kepala Madrasah Terhadap Hasil Pendampingan Refleksi kepala Raudhatul Athfal pelaksanaan pendampingan manajerial oleh pengawas. Survei refleksi ini perubahan pemahaman, sikap, dan komitmen kepala madrasah dalam memanfaatkan data sebagai dasar Refleksi berbasis survei pendekatan untuk menilai efektivitas kepemimpinan di satuan pendidikan (Glickman et al. , 2. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 pendidikan, hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 52,2% responden menyatakan tidak mengetahui sumber data yang digunakan, sementara 47,8% responden menyatakan mengetahui. Data ini mengindikasikan bahwa lebih dari separuh kepala Raudhatul Athfal belum menjadikan data sebagai pendampingan dilakukan. Temuan ini kepemimpinan satuan pendidikan reflektif dan analitis agar perencanaan program benar-benar berangkat dari kebutuhan nyata satuan pendidikan (Sergiovanni, 2. signifikan dalam mengubah cara pandang kepala Raudhatul Athfal terhadap perencanaan program satuan pendidikan, sebagaimana ditekankan dalam kebijakan penguatan peran pengawas melalui pendekatan coaching, facilitating, dan consulting (CFC) ((Kementerian Pendidikan, 2. Gambar 13. Tingkat Komitmen Kepala RA Untuk Membuat RKT/RKAM Sesuai Data Selain peningkatan pemahaman, hasil survei refleksi juga menunjukkan adanya penguatan komitmen kepala perencanaan berbasis data. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 13 yang menggambarkan komitmen kepala Raudhatul Athfal dalam menyusun Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM) Seluruh . %) RKT/RKAM berbasis data. Temuan ini menunjukkan bahwa pendampingan peningkatan pengetahuan, tetapi juga berhasil menumbuhkan kesadaran dan komitmen perubahan yang merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan peningkatan mutu layanan pendidikan (Glickman et al. , 2. Gambar 12. Pemahaman kepala RA terkait fungsi Sulingjar Perubahan pemahaman kepala pendampingan pengawas ditunjukkan pada Gambar 12. Berdasarkan hasil survei terhadap 23 responden, sebesar 95,7% responden menyatakan telah memahami pentingnya perencanaan berbasis data, sementara hanya 4,3% responden yang menyatakan belum Peningkatan pemahaman ini menunjukkan bahwa pendampingan dilakukan telah berkontribusi secara Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 Secara keseluruhan, refleksi kepala Raudhatul Athfal terhadap hasil pendampingan menunjukkan adanya pergeseran yang signifikan dari kondisi keterbatasan pemahaman terhadap fungsi Sulingjar dan sumber data perencanaan, menuju peningkatan pemahaman dan komitmen yang kuat terhadap perencanaan berbasis data Pergeseran terbentuknya kepemimpinan reflektif yang memandang data sebagai dasar (Sergiovanni, 2. kebutuhan nyata satuan pendidikan. Ketika perencanaan program disusun berdasarkan data empiris, mutu Hasil menunjukkan bahwa sebelum kegiatan dilaksanakan, sebagian besar kepala Raudhatul Athfal belum memahami konsep perencanaan berbasis data. Sebanyak 60,9% kepala RA menyatakan belum pernah mendengar tentang perencanaan berbasis data, 52,2% tidak mengetahui sumber data yang dapat program, dan 69,6% belum memahami fungsi Sulingjar. Oleh karena itu, kepala khususnya dalam membaca hasil Sulingjar dan mengintegrasikan hasil analisis tersebut ke dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, beberapa rekomendasi yang dapat diajukan adalah sebagai Bagi Pengawas Madrasah Pengawas madrasah perlu terus pendampingan manajerial yang adaptif dan berbasis data dengan memanfaatkan hasil Sulingjar serta instrumen refleksi lainnya. Penguatan KESIMPULAN Peran pengawas madrasah sebagai agen perubahan memiliki posisi transformasi pengelolaan pendidikan. Melalui pendampingan manajerial yang Coaching. Facilitating, dan Consulting (CFC), pengawas tidak hanya berperan sebagai pengawas administratif, tetapi juga sebagai mitra profesional yang memberdayakan kepala madrasah Pendampingan madrasah binaan melalui pembiasaan penyusunan perencanaan berbasis data menjadi langkah penting agar kebijakan dan program yang dirumuskan lebih tepat sasaran dan sesuai dengan Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025: 220-241 pengawas juga perlu didorong sebagai sarana berbagi praktik baik, pengembangan instrumen pengawas secara berkelanjutan. Bagi Pemangku Kebijakan Sistem diarahkan tidak hanya pada administratif, tetapi juga pada dampak nyata pendampingan kompetensi kepala madrasah dan mutu satuan pendidikan. Dukungan manajerial berbasis data secara berkelanjutan menjadi hal yang penting untuk diperkuat. Bagi Pengelola Sistem Sulingjar Untuk menjaga objektivitas dan pengisian Sulingjar perlu ditata kembali agar meminimalkan peluang pengisian secara offline. Konsistensi pengisian secara daring akan memastikan bahwa data yang dihasilkan benarbenar mencerminkan kondisi riil satuan pendidikan, sehingga rekomendasi perbaikan yang dihasilkan lebih akurat dan Bagi Kepala Raudhatul Athfal Kepala RA diharapkan dapat menjadikan data hasil Sulingjar dan refleksi satuan pendidikan sebagai dasar utama dalam pengambilan keputusan dan Pembiasaan perencanaan berbasis data secara terciptanya budaya reflektif dan peningkatan mutu madrasah yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA