Portofolio: Jurnal Ekonomi. Bisnis. Manajemen dan Akuntansi Volume 22 No. 2 Bulan November Tahun 2025 ISSN: 1829-7188 E-ISSN: 2829-3398 Analisis Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil Menengah SAK EMKM Studi Kasus Pada Umkm Konveksi Athia Rahmi Noor Apni Rohimah Program Studi Akuntansi. Universitas Teknologi Digital, 40613. Indonesia rahmi10221020@digitechunivercity. Cepi Saepuloh Program Studi Akuntansi. Universitas Teknologi Digital, 40613. Indonesia rahmi10221020@digitechunivercity. Abstract Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. contribute significantly to IndonesiaAos economic development, notably by generating employment and enhancing the community's overall well-being. However, a considerable number of MSME players still encounter difficulties in organizing their financial records, particularly in terms of applying the Financial Accounting Standards for Micro. Small, and Medium Entities (SAK EMKM). This research investigates how SAK EMKM is implemented at Konveksi Athia, a local MSME located in the Bandung Regency, by reviewing its financial reporting practices and identifying challenges during the implementation phase. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through field observations, interviews, and document reviews. The study shows that the financial record-keeping system is still relatively basic and not fully aligned with the standards set by SAK EMKM. Major challenges include limited understanding of accounting principles among MSME owners and inadequate resources for generating complete and standardized financial reports. Keywords: MSMEs. SAK EMKM. Financial Reporting Abstrak Peran Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) sangat krusial dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan kontribusinya terhadap percepatan pembangunan Walaupun begitu, banyak pelaku UMKM masih menghadapi kesulitan dalam mencatat keuangan secara sistematis dan rapi. Salah satu tantangan utama berkaitan dengan penerapan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Mikro. Kecil, dan Menengah (SAK EMKM), yang dirancang untuk menyederhanakan proses penyusunan laporan keuangan bagi pelaku usaha berskala kecil. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penerapan SAK EMKM di Konveksi Athia yang berada di Kabupaten Bandung, dengan fokus pada praktik pelaporan keuangan dan berbagai kendala yang dihadapi selama proses implementasinya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencatatan keuangan di Konveksi Athia masih sederhana dan belum sepenuhnya sesuai dengan SAK-EMKM. Kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman pemilik usaha tentang standar akuntansi serta keterbatasan sumber daya dalam penyusunan laporan keuangan yang sistematis. Kata Kunci : UMKM. SAK EMKM. Laporan Keuangan Analisis Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil Menengah SAK EMKM Studi Kasus Pada UMKM Konveksi Athia PENDAHULUAN Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) punya peran penting dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Berdasarkan regulasi yang tercantum dalam UU Nomor 20 Tahun 2008. UMKM didefinisikan sebagai unit usaha yang dikelola secara mandiri oleh individu maupun kelompok, dengan batasan tertentu terkait jumlah aset dan pendapatan. Data tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah pelaku UMKM di tanah air mencapai sekitar 65,5 juta orang, atau meningkat sekitar 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi mereka bukan hanya dalam skala ekonomi, tapi juga dalam membuka peluang kerja dan mendukung kesejahteraan masyarakat luas. Bahkan. UMKM disebut menyumbang sekitar 60% lebih terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja. Meski demikian, masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi, terutama dalam hal pelaporan keuangan. Tidak sedikit pelaku UMKM yang belum menerapkan sistem pencatatan keuangan secara menyeluruh. Kondisi ini tentu menyulitkan mereka untuk mengakses pendanaan dari lembaga keuangan formal maupun menarik perhatian Maka dari itu, kehadiran laporan keuangan yang rapi dan dapat dipercaya menjadi sangat penting demi keberlanjutan usaha mereka (Feriyanto & Nuryani, 2. Penelitian yang dilakukan oleh (Putri & Kurniawan, 2. menyoroti bahwa laporan keuangan memiliki peran sentral dalam menilai kinerja perusahaan serta menjadi acuan dalam pengambilan keputusan strategis. Namun, dalam penerapannya, masih banyak pelaku UMKM yang belum sepenuhnya memahami peran dan manfaat laporan keuangan secara maksimal, serta belum menyusunnya sesuai standar yang Temuan ini menunjukkan adanya celah antara fungsi ideal laporan keuangan dan realita praktik di lapangan. Sebagai bentuk tanggapan terhadap berbagai tantangan yang kerap dialami oleh pelaku UMKM. Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) bersama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyusun pedoman akuntansi tersendiri bernama SAK EMKM, yang mulai diberlakukan sejak awal tahun 2018. Pedoman ini dirancang untuk membantu pelaku usaha kecil dalam menyusun laporan keuangan dengan format yang lebih praktis dan mudah diterapkan. Secara garis besar, laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM mencakup informasi mengenai posisi keuangan, performa usaha, serta elemen-elemen pencatatan lainnya yang relevan untuk pemahaman atas laporan Melalui penggunaan standar ini, diharapkan penyajian laporan keuangan dapat berlangsung secara lebih sistematis, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan dari pihak eksternal seperti lembaga keuangan maupun calon investor terhadap UMKM. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan SAK EMKM masih belum optimal. Penelitian Arilia . , pada perusahaan Jenang Teguh Raharjo di Ponorogo menyebutkan bahwa walaupun pemilik usaha memiliki pemahaman tentang pentingnya laporan keuangan, penerapan SAK EMKM belum sepenuhnya terlaksana karena laporan masih disusun berdasarkan intuisi pribadi. Utari . dan Portofolio: Jurnal Ekonomi. Bisnis. Manajemen dan Akuntansi Volume 22 No. 2 Bulan November Tahun 2025 ISSN: 1829-7188 E-ISSN: 2829-3398 Tarmizi . menemukan bahwa dari 98 pelaku UMKM yang diteliti, hanya 12 di antaranya yang telah menerapkan SAK EMKM, sedangkan sisanya belum, dengan alasan kurangnya waktu dan minimnya pengetahuan tentang standar tersebut. Temuan serupa disampaikan oleh (Andriani, 2. , yang meneliti UMKM Kripik Sanjai Asia dan mendapati bahwa laporan keuangan masih dibuat secara manual dan belum mengacu pada SAK EMKM, serta para pelaku usaha belum menyadari pentingnya penyusunan laporan keuangan berbasis standar (Barmuli, 2. Melihat berbagai kendala yang masih dihadapi pelaku UMKM dalam memahami dan menerapkan SAK EMKM, terutama dari sisi teknis maupun kesadaran manfaat, penulis merasa perlu melakukan eksplorasi lebih mendalam. Fokus diarahkan pada Konveksi Athia, sebuah usaha konveksi rumahan yang telah berjalan sejak 2007 dan menunjukkan perkembangan secara bertahap. Meski sudah lama berdiri, unit usaha ini belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip akuntansi standar dalam menyusun laporan keuangannya. Hal tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan dalam mengakses pembiayaan eksternal. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji secara menyeluruh implementasi SAK EMKM di usaha tersebut, sembari menelusuri hambatan apa saja yang mengemuka selama prosesnya. Temuan dari studi ini diharapkan mampu memberikan rekomendasi praktis guna mendorong pelaku UMKM agar lebih sadar akan pentingnya pelaporan keuangan yang sistematis dan sesuai standar, demi mendukung keberlangsungan usaha jangka panjang. II. TINJAUAN PUSTAKA Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan elemen penting yang digunakan untuk merepresentasikan kondisi finansial serta performa usaha dalam periode tertentu. Umumnya, laporan ini mencakup beberapa komponen utama, seperti neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, arus kas, hingga catatan tambahan yang menyertainya (PSAK No. 1, 2. Menurut Sularno . , laporan keuangan mencerminkan hasil akhir dari seluruh aktivitas pencatatan, yang berfungsi sebagai media untuk menunjukkan aktivitas bisnis dan kondisi keuangan perusahaan. Hal serupa juga disampaikan oleh Mulyadi . , bahwa dokumen tersebut terdiri atas elemen-elemen utama seperti laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, arus kas, serta laporan perubahan ekuitas. Informasi yang tercantum dalam laporan-laporan tersebut memberikan gambaran menyeluruh mengenai keadaan keuangan bisnis, dan berperan sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan oleh pihak internal maupun eksternal (Atmoko, 2. Tujuan utama dari laporan keuangan adalah menyediakan data terkait kondisi usaha dan performanya, yang nantinya bisa digunakan untuk membuat keputusan ekonomi yang tepat. Ranti Amanda dan Aceng Kurniawan . menekankan bahwa laporan ini memegang peranan vital dalam mengevaluasi kinerja serta menjadi landasan bagi proses pengambilan kebijakan manajerial. Analisis Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil Menengah SAK EMKM Studi Kasus Pada UMKM Konveksi Athia Menurut IAI . , laporan keuangan memungkinkan pengguna untuk menilai seberapa efektif kinerja manajemen dalam pengambilan keputusan ekonomi secara Selain itu. Wicaksono . , menambahkan bahwa laporan ini dirancang untuk menyediakan data yang bisa dipercaya, sekaligus membantu menilai potensi laba perusahaan ke depannya. Berdasarkan PSAK, laporan keuangan harus memenuhi beberapa karakteristik, di antaranya mudah dipahami, relevan, material, dapat diandalkan, jujur, netral, lengkap, serta dapat dibandingkan antar periode. Laporan keuangan yang baik harus menyajikan informasi yang jelas dan dapat dipercaya oleh penggunanya, relevan dengan kebutuhan pengguna, serta akurat dalam menyampaikan kondisi keuangan perusahaan (IAI, 2. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu bentuk kegiatan ekonomi yang dijalankan oleh perorangan atau kelompok dengan skala usaha Jenis usaha ini tidak termasuk dalam kategori anak perusahaan maupun cabang dari entitas yang lebih besar. Berdasarkan regulasi yang diatur dalam UndangUndang Nomor 20 Tahun 2008. UMKM didefinisikan melalui karakteristik usaha yang dilihat dari jumlah pendapatan tahunan maupun nilai aset yang dimiliki (Susilawati dkk. Kriteria pengelompokan UMKM ditentukan berdasarkan jumlah omzet dan kepemilikan aset. Usaha mikro mencakup pelaku usaha dengan total aset maksimal sebesar Rp 300 juta setiap tahunnya. Sementara itu, kategori usaha kecil mencakup pelaku usaha dengan kisaran omzet tahunan antara Rp 300 juta hingga Rp 2,5 miliar. Sedangkan usaha menengah adalah pelaku usaha yang memiliki pendapatan tahunan mulai dari Rp 2,5 miliar hingga tidak melebihi Rp 50 miliar. Ketentuan ini telah disesuaikan melalui peraturan terbaru, yakni Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021, yang menjadi acuan dalam pengklasifikasian pelaku usaha kecil dan menengah agar selaras dengan dinamika ekonomi saat ini. Menurut Hermansyah . , klasifikasi UMKM dibedakan atas tiga jenis, yaitu usaha mikro, kecil, dan menengah, berdasarkan pada total pendapatan serta aset tahunan yang dimiliki. Usaha mikro merupakan unit usaha yang memiliki aset serta penghasilan tahunan yang lebih kecil dari Rp 300 juta, sedangkan usaha kecil berada pada kisaran antara Rp 300 juta hingga Rp 500 juta. Sementara itu, usaha menengah mencakup unit yang memiliki omzet tahunan di atas Rp 500 juta. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil Menengah (SAK EMKM) SAK EMKM merupakan pedoman pelaporan keuangan yang dirancang khusus untuk entitas mikro, kecil, dan menengah yang tidak memiliki tanggung jawab akuntabilitas publik secara luas. Pedoman ini disusun dengan tujuan untuk memfasilitasi pelaku UMKM dalam menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan Portofolio: Jurnal Ekonomi. Bisnis. Manajemen dan Akuntansi Volume 22 No. 2 Bulan November Tahun 2025 ISSN: 1829-7188 E-ISSN: 2829-3398 regulasi hukum yang berlaku. Landasan yuridis dari pedoman tersebut tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 yang mengatur tentang UMKM, di mana pengesahannya dilakukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2. Penerapan standar akuntansi untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memberikan sejumlah keuntungan, terutama dalam menyusun laporan keuangan secara lebih terstruktur dan mudah dipahami. Aturan ini juga membantu meningkatkan keterbukaan informasi keuangan, memperkuat kepatuhan terhadap kebijakan fiskal, dan mendukung transparansi usaha (Wahyuni, 2. dan Yuliana . Selain itu, penerapan standar ini mendorong penyusunan laporan keuangan yang lebih efisien dan ringkas, sehingga proses administratif seperti perpajakan dapat dilakukan dengan lebih cepat. Secara umum, standar ini mencakup tiga jenis laporan utama: Laporan posisi keuangan, yang menampilkan informasi mengenai aset yang dimiliki, kewajiban yang harus dipenuhi, dan permodalan. Laporan laba rugi, berisi rangkuman pendapatan serta pengeluaran selama periode tertentu yang menjadi acuan evaluasi performa keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan (CALK), menjelaskan secara rinci kebijakan akuntansi yang diterapkan, termasuk informasi tambahan yang mendukung pemahaman atas kondisi keuangan dan performa usaha. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif berlandaskan paradigma postpositivisme. Peneliti secara aktif terlibat sebagai alat utama dalam proses pengumpulan serta pengolahan data (Sugiyono, 2. Dalam penerapannya, peneliti juga menerapkan teknik triangulasi untuk meningkatkan keandalan data yang diperoleh. Pendekatan ini dipilih guna menggali secara mendalam bagaimana proses penyusunan laporan keuangan diterapkan di UMKM Konveksi Athia. Lebih lanjut, penelitian ini juga bertujuan untuk menelaah berbagai tantangan yang muncul selama proses penerapan Pedoman Akuntansi Keuangan untuk Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). Penelitian ini dilakukan di Konveksi Athia yang berlokasi di Kecamatan Margahayu. Kabupaten Bandung. Provinsi Jawa Barat. Fokus utama kajian ini adalah pelaksanaan penyusunan informasi keuangan yang mengacu pada pedoman SAK EMKM dalam lingkup UMKM. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari dua jenis: data primer yang dihimpun melalui wawancara langsung dengan pemilik usaha, dan data sekunder yang bersumber dari dokumen tertulis, arsip, serta pustaka lain yang relevan dengan tema penelitian. Tiga pendekatan utama digunakan dalam proses pengumpulan data, yakni observasi langsung di lapangan, wawancara dengan narasumber utama, serta analisis Observasi bertujuan untuk mengidentifikasi praktik akuntansi sebagaimana diterapkan secara nyata oleh pelaku usaha. Pada saat yang sama, wawancara dilakukan untuk memperoleh perspektif mendalam mengenai kendala dan Analisis Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil Menengah SAK EMKM Studi Kasus Pada UMKM Konveksi Athia pengalaman mereka dalam penyusunan laporan keuangan. Sementara itu, dokumentasi dimanfaatkan untuk memperoleh informasi tambahan dari dokumen dan arsip yang berkaitan dengan topik penelitian. Seluruh data yang diperoleh selanjutnya diolah melalui tahapan pengorganisasian, penyajian informasi, hingga penarikan simpulan yang relevan. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penggunaan pedoman akuntansi khusus bagi entitas mikro, kecil, dan menengah (SAK EMKM) dalam kegiatan usaha UMKM Konveksi Athia menunjukkan bahwa laporan keuangan memiliki peran strategis dalam mendukung pengelolaan usaha. Konveksi Athia menyadari pentingnya pencatatan keuangan sebagai alat pemantauan kondisi usaha, penyusunan strategi, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas. Dari hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa Konveksi Athia menerapkan dua metode pencatatan keuangan, yakni pencatatan manual harian dan pencatatan bulanan menggunakan perangkat digital (Hery, 2. Pendapatan dan pengeluaran harian dicatat dalam buku tulis, sedangkan laporan bulanan disusun melalui aplikasi di laptop. Kombinasi ini mencerminkan upaya awal untuk menjaga keteraturan administrasi keuangan, meskipun belum sepenuhnya mengadopsi praktik digital yang lebih efisien (Utari et al. , 2. Transaksi kas dicatat setiap hari secara manual, yang menunjukkan kepatuhan terhadap prinsip ketepatan waktu dalam akuntansi, namun masih berpotensi menimbulkan kesalahan karena sifatnya yang rentan terhadap kelalaian. Dalam hal pencatatan piutang, pemilik usaha mengakui piutang sebagai pendapatan ketika barang diserahkan, tanpa membedakan antara transaksi tunai dan kredit. Hal ini kurang mencerminkan prinsip akrual secara utuh, di mana piutang seharusnya diakui sebagai aset hingga diterima pembayarannya (IAI, 2. Untuk persediaan, pencatatan dilakukan saat pembelian bahan baku dan dikurangi saat digunakan, sesuai dengan ketentuan SAK EMKM. Namun, pencatatan aset tetap seperti mesin dan kendaraan masih belum dilakukan secara memadai. Pemilik usaha belum memisahkan aset pribadi dan aset usaha secara jelas, serta belum menghitung penyusutan, yang seharusnya dicatat secara berkala sebagai pengurang nilai aset (Bambang, 2. Selain itu, tidak terdapat pencatatan utang usaha maupun pinjaman, karena Konveksi Athia tidak memiliki kewajiban eksternal pada periode observasi. Laporan laba rugi yang disusun telah mencatat pendapatan saat penjualan terjadi, dan beban diakui ketika kewajiban muncul, sesuai dengan prinsip akrual dalam SAK EMKM. Beban seperti gaji dan biaya operasional telah dicatat dengan cukup Namun, catatan atas laporan keuangan (CALK) belum disusun karena keterbatasan pemahaman pemilik tentang fungsi dan isi dokumen tersebut. Padahal. CALK penting untuk menjelaskan rincian transaksi serta kebijakan akuntansi yang diterapkan Dewan Standar Akuntansi & IAI . Portofolio: Jurnal Ekonomi. Bisnis. Manajemen dan Akuntansi Volume 22 No. 2 Bulan November Tahun 2025 ISSN: 1829-7188 E-ISSN: 2829-3398 Secara umum, praktik pencatatan keuangan di Konveksi Athia menunjukkan adanya kesadaran terhadap pentingnya laporan keuangan (Puspitasari, 2. Transaksi rutin seperti pemasukan, pengeluaran, dan perubahan persediaan telah dicatat secara berkala, meskipun belum seluruhnya sesuai standar (Rahmawati, 2. Sebagai bentuk kontribusi, peneliti turut mendampingi dalam penyusunan tiga jenis laporan utama mengacu pada SAK EMKM, mencakup neraca, laporan pendapatan, serta catatan atas laporan keuangan, guna memberikan gambaran komprehensif atas kondisi keuangan usaha (Suwardjono, 2. Kendala utama dalam penerapan SAK EMKM adalah rendahnya literasi akuntansi dari pemilik usaha dan keterbatasan tenaga kerja yang memiliki latar belakang di bidang tersebut (Febriyanto, 2. Seluruh staf Konveksi Athia tidak memiliki keahlian akuntansi, sehingga seluruh pencatatan dilakukan secara otodidak oleh pemilik, yang juga hanya mengenyam pendidikan dasar (Hermansyah, 2. Minimnya pemahaman tentang manfaat dan prosedur penyusunan laporan keuangan berstandar menyebabkan laporan yang dihasilkan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi usaha secara akurat. Hal ini dapat berdampak pada terbatasnya akses terhadap pembiayaan dan pengembangan usaha di masa depan. Elwi . Dengan demikian, diperlukan pendampingan serta pelatihan bagi pelaku UMKM seperti Konveksi Athia agar mampu menerapkan SAK EMKM secara lebih efektif. Penerapan standar yang baik tidak hanya mendukung kelangsungan bisnis, tetapi juga meningkatkan kredibilitas usaha di mata pihak eksternal (Schilling & Kroll, 2. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan temuan dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa implementasi pedoman akuntansi SAK EMKM untuk pelaku usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) di Konveksi Athia masih belum berjalan secara maksimal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pemahaman pelaku usaha terhadap akuntansi, serta minimnya tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan kompetensi sesuai bidangnya. Secara keseluruhan, pembuatan laporan keuangan oleh UMKM tersebut masih belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman dan prinsip yang berlaku dalam SAK EMKM. Walaupun transaksi-transaksi seperti pemasukan, pengeluaran, serta perhitungan laba dan rugi sudah dicatat, namun penyajian laporan keuangan lain seperti neraca dan laporan arus kas belum disusun secara menyeluruh dan sistematis sesuai standar. Dalam praktiknya, pencatatan transaksi dilakukan secara manual dengan mencatat transaksi harian serta menyusun laporan bulanan menggunakan program Microsoft Excel. Penggunaan dua sistem pencatatan tersebut justru menimbulkan ketidakteraturan dan berpengaruh terhadap rendahnya efisiensi dalam pengelolaan data keuangan secara menyeluruh. Analisis Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil Menengah SAK EMKM Studi Kasus Pada UMKM Konveksi Athia Saran Untuk meningkatkan pengelolaan keuangan dan penerapan SAK EMKM. Konveksi Athia disarankan untuk mengintegrasikan sistem pencatatan keuangan yang digunakan, baik manual maupun elektronik, agar lebih efisien dan terstruktur. Penggunaan perangkat lunak akuntansi yang sesuai akan membantu menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat dan sesuai dengan standar yang berlaku. Selain itu, pelatihan dasar akuntansi bagi pemilik usaha dan karyawan perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip akuntansi yang selaras dengan SAK EMKM. Penyederhanaan prosedur akuntansi serta peningkatan keterlibatan karyawan dalam pengelolaan keuangan juga penting untuk memperlancar proses pencatatan dan penyusunan laporan yang lebih komprehensif. Selain itu, pemanfaatan jasa konsultan atau akuntan publik untuk mendampingi penyusunan laporan keuangan secara berkala dapat membantu memperbaiki pengelolaan keuangan Konveksi Athia dan memastikan laporan yang disusun sesuai dengan SAK EMKM. Dengan menerapkan saran-saran tersebut, diharapkan pengelolaan keuangan akan lebih sistematis, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperbaiki kualitas dalam pengambilan keputusan bisnis. DAFTAR PUSTAKA