Page . Jurnal Kesehatan Primer Vol. No. May, pp. P-ISSN 2549-4880. E-ISSN 2614-1310 Journal DOI: https://doi. org/10. 31965/jkp Website: http://jurnal. id/index. php/jkp The Impact of Therapeutic Communication on Patient Satisfaction in Community Health Centers Nurul Jannah1. Arif Budiwibowo2. Anas Kiki Anugrah3. Sri Yuliana4. Karim Sahidun5 1,2,3,5 Bachelor of Nursing. Yahya Bima College of Health Sciences. Bima. Indonesia Associate Degree in Nursing. Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Indonesia Email: nuruljannah140594@gmail. ARTICLE INFO Artikel Histori: Received date: January/21/2026 Revised date: March/31/2026 Accepted date: April/09/2026 Keywords: Healthcare Services. Patient Satisfaction. Service Quality. Therapeutic Communication ABSTRACT/ABSTRAK Background: Therapeutic communication is an essential component of healthcare services because it contributes to building trust between healthcare providers and patients, enhances patient understanding, and creates a higher-quality care experience. However, variations in the quality of communication across healthcare facilities can lead to decreased patient satisfaction and lower perceived service Objectives: This study aimed to analyze the relationship between therapeutic communication and patient satisfaction levels in the service area of BLUD Woha Community Health Center. Methods: The study employed a cross-sectional design and was conducted at the Woha Community Health Center. Sampling was carried out using an accidental sampling technique, resulting in 92 respondents. Data were collected through questionnaires to assess therapeutic communication and patient satisfaction. Data analysis was performed using SpearmanAos rho correlation test with a significance level of 0. Results: The results showed that therapeutic communication was most commonly categorized as moderate, with 45 respondents . 9%). Meanwhile, patient satisfaction was predominantly in the low category, with 59 respondents . 1%). The correlation test yielded a value of r = 0. 689 with p = Conclusions: Therapeutic communication has a significant relationship with patient satisfaction. Therefore, it is recommended that healthcare facilities strengthen therapeutic communication training, conduct regular supervision, and incorporate communication indicators into service performance Kata Kunci: Kepuasan Pasien. Komunikasi Terapeutik. Kualitas Pelayanan. Pelayanan Kesehatan Page . Latar Belakang: Komunikasi terapeutik merupakan salah satu unsur penting dalam pelayanan kesehatan karena berkontribusi pada terbentuknya kepercayaan antara tenaga kesehatan dan pasien, meningkatkan pemahaman pasien, serta menciptakan pengalaman pelayanan yang lebih berkualitas. Akan tetapi, perbedaan mutu komunikasi di berbagai fasilitas kesehatan dapat berdampak pada menurunnya kepuasan pasien dan penilaian terhadap kualitas layanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komunikasi terapeutik dan tingkat kepuasan pasien pada wilayah pelayanan BLUD Puskesmas Woha. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dan dilaksanakan di Puskesmas Woha. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling, sehingga diperoleh 92 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner untuk menilai komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien. Analisis data menggunakan uji korelasi SpearmanAos rho dengan batas signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik paling banyak berada pada kategori sedang, yaitu 45 responden . ,9%). Sementara itu, kepuasan pasien didominasi kategori rendah, sebanyak 59 responden . ,1%). Uji korelasi menghasilkan nilai r = 0,689 dengan p = 0,001. Kesimpulan: Komunikasi terapeutik memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan pasien. Oleh karena itu, disarankan agar fasilitas layanan kesehatan memperkuat pelatihan komunikasi terapeutik, melakukan supervisi secara berkala, serta memasukkan indikator komunikasi dalam evaluasi kinerja CopyrightA 2026 Jurnal Kesehatan Primer All rights reserved Corresponding Author: Nurul Jannah Bachelor of Nursing. Yahya Bima College of Health Sciences. Bima. Indonesia Email: nuruljannah140594@gmail. Page . PENDAHULUAN Pelayanan kesehatan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada diagnosis dan tindakan medis semata, melainkan juga pada kualitas pengalaman yang dirasakan oleh pasien. Pengalaman tersebut sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang terjalin antara pasien dan tenaga kesehatan. Di tengah tantangan global untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, salah satu aspek yang sering terabaikan adalah kualitas komunikasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan, khususnya perawat di layanan kesehatan primer. Komunikasi terapeutik, yang bertujuan mendukung pemulihan fisik dan emosional pasien, memiliki peran penting dalam meningkatkan kepuasan pasien serta keterlibatan mereka dalam proses perawatan. Tanpa komunikasi yang efektif, bahkan pelayanan medis yang paling canggih sekalipun dapat kehilangan Berbagai penelitian di negara maju maupun berkembang menunjukkan bahwa pasien yang merasa didengar, dihargai, dan memperoleh penjelasan yang jelas mengenai kondisi kesehatannya cenderung memiliki pengalaman pelayanan kesehatan yang lebih positif . nstensson et al. , 2025. Dixon et al. , 2. Dalam konteks ini, komunikasi terapeutik tidak hanya meningkatkan kepuasan pasien, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap perbaikan luaran kesehatan jangka panjang. Puskesmas merupakan garda terdepan layanan kesehatan primer di Indonesia dan sering menjadi kontak pertama pasien. Karena itu, kualitas komunikasi tenaga kesehatanAepasien sangat menentukan. Tingginya kunjungan, waktu konsultasi yang terbatas, serta perbedaan literasi berlangsung singkat dan kurang empatik. Kondisi ini dapat menurunkan kepuasan pasien, mengurangi kepatuhan berobat, dan berdampak pada hasil pelayanan. Oleh sebab itu, komunikasi terapeutik yang efektif penting untuk meningkatkan kepuasan pasien dan mendukung luaran kesehatan jangka panjang. Sejalan dengan hal tersebut (Fitzgerald & Johnston, 2. , menunjukkan bahwa komunikasi yang kurang efektif berkaitan dengan rendahnya kepuasan pasien dan meningkatnya kecemasan terkait Secara global, kepuasan pasien telah menjadi indikator penting dalam upaya peningkatan sistem pelayanan kesehatan. Survei di Inggris melaporkan bahwa hanya 21% masyarakat yang menyatakan puas terhadap layanan National Health Service (NHS), sementara lebih dari 59% menyatakan ketidakpuasan (Wellings et al. , 2. Temuan ini menunjukkan bahwa masalah kepuasan pasien masih menjadi tantangan, bahkan di sistem pelayanan kesehatan yang telah mapan. kawasan Asia, khususnya di Arab Saudi, penelitian mengenai kepuasan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan primer menunjukkan bahwa meskipun tingkat kepuasan mencapai 78,2%, masih terdapat pasien yang merasa pelayanan yang diterima belum sepenuhnya memenuhi harapan mereka (Mohamed et al. Data tersebut mengindikasikan bahwa kepuasan pasien merupakan isu yang kompleks dan dinamis, sehingga strategi peningkatan mutu interpersonal, selain aspek struktural dan Di Indonesia, data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menunjukkan tingkat kepuasan agregat yang relatif tinggi, yaitu sebesar 92,1%. Namun demikian, pengalaman pasien di tingkat pelayanan kesehatan primer, khususnya di Puskesmas, sering kali menunjukkan kondisi yang Ketidakpuasan pasien, meskipun tidak selalu tercermin secara kuantitatif, dapat dilihat dari berbagai keluhan seperti lamanya waktu tunggu, kurangnya penjelasan yang memadai, serta persepsi kurangnya empati dari tenaga Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sistem JKN telah berhasil memperluas akses pelayanan kesehatan, kualitas komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien masih menjadi faktor krusial yang memengaruhi kepuasan pasien (Nugraha, 2. Penelitian Agarwal et al. Page . , juga menegaskan bahwa meskipun akses dan ketersediaan pelayanan kesehatan di tingkat primer mengalami peningkatan, ketidakpuasan terhadap kualitas komunikasi masih menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, komunikasi terapeutik perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya peningkatan mutu pelayanan di Puskesmas. Penelitian ynstensson mengungkapkan bahwa pasien tidak hanya mengharapkan perawat yang kompeten secara klinis, tetapi juga mampu menjalin komunikasi yang jelas, empatik, dan responsif terhadap keluhan serta kebutuhan emosional pasien. Sejalan dengan itu. Dixon et al. , . menemukan bahwa hubungan yang baik antara pasien dan tenaga kesehatan, yang dibangun melalui komunikasi yang efektif, secara signifikan meningkatkan pengalaman pasien secara Temuan-temuan ini menegaskan bahwa selain aspek teknis pelayanan, interaksi manusiawi melalui komunikasi yang baik memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap persepsi pasien mengenai kualitas pelayanan kesehatan. Meski komunikasi terapeutik diakui penting, penelitian yang secara khusus menguji hubungan komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien di Puskesmas masih terbatas. Banyak studi membahas komunikasi secara umum dan cenderung kualitatif/deskriptif, sehingga bukti kuantitatif tentang kekuatan hubungannya belum Karena itu, penelitian ini bertujuan komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien di Puskesmas, sebagai dasar pengembangan ilmu dan perbaikan mutu layanan kesehatan di Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan desain crosectional dengan pendekatan observasional analitik untuk menilai hubungan antara komunikasi terapeutik dan tingkat kepuasan pasien di wilayah kerja BLUD Puskesmas Woha (Notoatmodjo, 2. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2025. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien yang memperoleh layanan kesehatan di BLUD Puskesmas Woha, dengan total sampel 92 responden. Pemilihan accidental sampling, yaitu pasien yang ditemui saat pengumpulan data dan memenuhi kriteria Kriteria inklusi meliputi: . berusia Ou 18 tahun. telah menerima pelayanan di BLUD Puskesmas Woha. mampu berkomunikasi dengan baik serta memahami Bahasa Indonesia. bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi meliputi: . pasien dengan gangguan kognitif, kondisi kritis, atau keadaan yang tidak memungkinkan untuk diwawancarai. pasien yang menolak berpartisipasi dalam Pengambilan Instrumen terapeutik terdari 23 pertanyaan dengan 4 domain yaitu fase interaksi, orientasi, kerja dan Domain tersebut mengacu pada keperawatan yang menekankan hubungan interpersonal perawatAepasien secara sistematis dan berkesinambungan (Stuart, 2. Setiap item diukur menggunakan menggunakan skala likert terdiri dari selalu . , sering . , kadangkadang . dan tidak pernah . Instrumen kepuasan pasien terdiri dari 21 butir pertanyaan yang mencakup empat domain, yaitu keandalan . , jaminan . , . , tanggap/tanggung . Domain tersebut disusun berdasarkan konsep dikembangkan dalam model SERVQUAL, yang telah banyak digunakan untuk mengukur kepuasan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan (Tjiptono. , & Chandra, 2. Instrumen ini juga menggunakan skala Likert empat poin dengan kategori yang sama, yaitu selalu . , sering . , kadang-kadang . , dan tidak pernah . Page . Analisis data menggunakan uji korelasi Sperman rho dengan bantuan software SPSS 24. Penelitian ini sudah mendapatkan uji kelayakan . thical No. 324/EC/KEPK/STIKES- YB/VII/2025. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Karakteristik Responden Karakteristik responden penelitian ini disajikan dalam tabel. Responden berjumlah 92 orang, dengan variasi karakteristik berdasarkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan Tabel 1. Karakteristik Frekuensi Berdasarkan Usia Responden di Wilayah Kerja BLUD Puskesmas Woha . Usia Frekuensi . Presentase (%) 18 Ae 28 tahun 29 Ae 38 tahun 39 Ae 48 tahun 49 Ae 58 tahun 59 Ae 68 tahun Total Dari table 1 menunjukan bahwa kelompok umur sebagian besar pada umur 36-45 tahun sebanyak 29 . 5%) orang, sedangkan sebagian kecil pada kelompok umur 56-62 tahun sebanyak 10 . 9%). Tabel 2. Karakteristik Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Responden di Wilayah Kerja BLUD Puskesmas Woha . Jenis kelamin Frekuensi . Presentase (%) Laki-laki Perempuan Total Dari tabel 2 menunjukan bahwa sebagian besar responden yaitu perempuan sebanyak 50 . 3%) orang, sedangkan sebagian kecil laki-laki sebanyak 42 . 7%) orang. Tabel 3. Karakteristik Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Responden di Wilayah Kerja BLUD Puskesmas Woha . Pendidikan Frekuensi . Presentase (%) SMP SMA Total Dari tabel 3 menunjukan bahwa tingkat pendidikan sebagian besar S1 sebanyak 45 . 5%), sedangkan sebagian kecil SD sebanyak 1 . 1%) orang. Tabel 4. Karakteristik Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Responden di Wilayah Kerja BLUD Puskesmas Woha . Pekerjaan Frekuensi . Presentase (%) Petani IRT Wiraswasta Guru Mahasiswa Pelajar Total Dari tabel 4 menunjukan bahwa sebagian besar kategori IRT sebanyak 26 . 6%), sedangkan sebagian kecil kategori pelajar sebanyak 5 . 5%) orang. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Komunikasi Terapeutik di Wilayah Kerja BLUD Puskesmas Woha . Komunikasi Frekuensi . Presentase (%) Baik Sedang Kurang Total Dari tabel 5 menunjukan bahwa komunikasi terapeutik responden sebagian besar sedang sebanyak 45 . 9%), sedangkan sebagian kecil baik sebesar 15 . 3%). Page . Tabel 6. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Kepuasan Pasien di Wilayah Kerja BLUD Puskesmas Woha . Kepuasan Frekuensi . Presentasi (%) Baik Sedang Kurang Total Dari tabel 6 menunjukan bahwa kepuasan pasien sebagian besar kurang sebanyak 59 . 1%), sedangkan sebagian kecil baik sebesar 15 . 3%). Tabel 7. Hasil Uji Korelasi Sperman Rho Hubungan Komunikasi Terapeutik Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Di Wilayah Kerja BLUD Puskesmas Woha . Kualitas Dukungan Hidup Keluarga Komunikasi Correlation Terapeutik Coefficient Sig. Kepuasaan Correlation Pasien Coefficient Sig. Hasil uji Koefisien korelasi Spearman rho menunjukkan nilai Correlation Coefficient 0,689 dengan p-value 0,001, menujukkan adanya hubungan positif yang kuat antara komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien, artinya semakin baik komunikasi terapeutik perawat, maka semakin baik tingkat kepuasan pasien. PEMBAHASAN Komunikasi Terapeutik Perawat Permasalahan komunikasi terapeutik di pusat layanan kesehatan masyarakat umumnya muncul karena interaksi klinis belum sepenuhnya berorientasi pada pasien sebagai subjek aktif. Praktik komunikasi masih cenderung berfokus pada penyelesaian tugas dan efisiensi layanan, menyampaikan keluhan secara menyeluruh, memperoleh respons empatik, serta dilibatkan dalam pengambilan keputusan sering kali Kondisi ini berpotensi menurunkan persepsi pasien terhadap rasa dihargai dan dipahami, yang merupakan inti dari pelayanan berpusat pada pasien . nstensson et al. , 2025. Dixon et al. , 2. Literatur juga menegaskan determinan utama pengalaman pasien dan penilaian mutu layanan kesehatan (Bai et al. Al Nuairi et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 92 responden, sebagian besar menilai komunikasi terapeutik berada pada kategori sedang . ,9%), sedangkan kategori baik hanya 16,3%. Distribusi ini mengindikasikan bahwa komunikasi terapeutik telah diterapkan, namun belum konsisten pada tingkat optimal. Dominannya kategori sedang mencerminkan komunikasi yang cukup, tetapi masih memiliki kelemahan pada aspek kunci seperti eksplorasi keluhan, validasi emosi, penggunaan pertanyaan terbuka, serta konfirmasi pemahaman pasien. Temuan ini sejalan dengan studi yang menunjukkan bahwa pengalaman komunikasi yang tidak optimal berkontribusi pada kepuasan pasien yang moderat, khususnya di fasilitas kesehatan publik (Tollera et al. , 2. Kategori AusedangAy dari perspektif pasien menunjukkan bahwa komunikasi sudah bersifat informatif, tetapi belum sepenuhnya suportif. Pasien mungkin menerima penjelasan dasar, namun masih terbatas dalam menyampaikan keluhan secara utuh, memperoleh respons empatik, dan memastikan tenaga kesehatan Penelitian oleh Pierce et al. menekankan pengambilan keputusan medis untuk mengatasi komunikasi satu arah. Sementara itu. Pomey et . menegaskan bahwa komunikasi yang Page . efektif tidak hanya informatif, tetapi juga perlu disertai empati dan perhatian terhadap kebutuhan pasien agar kualitas pelayanan dan keputusan klinis lebih responsif. Implikasi praktis dari sisi pasien adalah perlunya layanan merancang komunikasi sebagai bagian inti dari pengalaman pelayanan, bukan sekadar pelengkap tindakan klinis. Pada level praktik, tenaga kesehatan perlu menguatkan keterampilan micro-communication yang paling AuterlihatAy oleh pasien: pembukaan yang ramah dan memperkenalkan diri, mendengarkan aktif, validasi emosi singkat namun tulus, penjelasan yang jelas dan tidak tergesa-gesa, serta teachback untuk mengonfirmasi pemahaman. Penguatan ini relevan karena pendekatan personcentered care menempatkan komunikasi sebagai sarana utama membangun kemitraan dan kepercayaan antara pasien dan tenaga kesehatan (Thompson et al. , 2. , dan kualitas hubungan pasienAeklinisi dipengaruhi langsung oleh empati, keterbukaan, serta kejelasan informasi (Bai et al. Song et al. , 2. Interpretasi dominannya kategori sedang dapat dijelaskan melalui tiga aspek, yaitu kompetensi interpersonal, proses layanan, dan tata kelola mutu. Pada aspek kompetensi, tenaga kesehatan umumnya telah menyampaikan informasi dasar, namun belum konsisten menerapkan komunikasi empatik dan active listening yang dirasakan pasien. Studi mengenai compassionate healthcare menegaskan bahwa empati tercermin dari perilaku komunikasi yang konkret dan dapat diamati pasien (Chatburn et , 2. Pada aspek proses layanan, keterbatasan waktu dan beban kerja sering menjadikan komunikasi bersifat transaksional (Dixon et al. , 2. Sementara itu, dari sisi tata kelola mutu, integrasi indikator komunikasi terapeutik dalam pemantauan pengalaman pasien diperlukan agar perbaikan komunikasi dapat dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan (Black et al. , 2021. Al Nuairi et al. Tingkat Kepuasan Pasien Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pasien pada layanan yang diteliti masih didominasi oleh kategori kurang. Secara deskriptif, sebanyak 59 responden . ,1%) menyatakan kepuasan kurang, sementara 15 responden . ,3%) berada pada kategori baik, dan hanya 2 responden . ,2%) yang menilai Distribusi menggambarkan adanya kesenjangan yang cukup nyata antara harapan pasien dan pengalaman pelayanan yang mereka terima. Kepuasan pasien tidak hanya ditentukan oleh hasil klinis, tetapi merupakan penilaian menyeluruh terhadap pengalaman pelayanan, terutama pada aspek proses pelayanan . rocess of car. , seperti cara tenaga kesehatan berinteraksi, memberikan informasi, dan merespons kebutuhan pasien. Dominannya kepuasan rendah dapat dijelaskan melalui konsep patient experience drivers, yang menekankan bahwa pengalaman pasien dipengaruhi oleh kombinasi faktor relasional dan sistem pelayanan. Persepsi pasien sangat bergantung pada kualitas interaksi, koordinasi pelayanan, serta responsivitas petugas kesehatan (Al Nuairi et al. , 2. Oleh karena itu, tingginya proporsi kepuasan AukurangAy dapat diinterpretasikan sebagai adanya hambatan dalam kualitas pengalaman pelayanan, baik yang bersumber dari komunikasi petugas maupun keterbatasan operasional yang membatasi terbangunnya interaksi terapeutik yang optimal. Dari sisi responden, kepuasan yang rendah komunikasi yang dirasakan AucukupAy secara informatif, namun belum konsisten memenuhi kebutuhan emosional dan partisipatif pasien. Pasien cenderung menilai layanan positif ketika mereka merasa diberi ruang menyampaikan keluhan secara utuh, didengarkan tanpa tergesagesa, memperoleh penjelasan yang jelas, serta dilibatkan dalam percakapan dua arah. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pasien menilai pengalaman pelayanan dari sejauh mana mereka merasa didengar, dipahami, dan memperoleh Page . penjelasan yang jelas serta relevan . nstensson et , 2. Ketika unsur ini tidak terpenuhi, pasien dapat memandang pelayanan sebagai kurang komunikatif atau kurang peduli, sehingga menurunkan kepuasan. Dalam konteks penelitian ini, komunikasi terapeutik menjadi faktor kunci karena berperan sebagai sarana utama pembentukan hubungan perawatAepasien. Komunikasi terapeutik yang efektif menuntut dialog dua arah, penghargaan terhadap pengalaman subjektif pasien, serta mendengarkan aktif dan respons yang Temuan kepuasan rendah kemungkinan belum diterapkan secara konsisten. Kualitas komunikasi juga berkaitan erat dengan pelayanan berpusat pada pasien . atientcentered car. , di mana hubungan terapeutik dan praktik komunikasi yang menghargai preferensi pasien berpengaruh kuat terhadap pengalaman pelayanan yang positif (Thompson et al, 2. Dengan demikian, rendahnya optimalnya keterlibatan pasien dalam proses asuhan, penghargaan terhadap nilai dan kebutuhan pasien, serta peran advokatif tenaga Selain itu, kepuasan pasien sangat dipengaruhi dimensi kemanusiaan dalam Pasien tidak hanya menilai tindakan klinis, tetapi juga pengalaman merasa dihargai, diperlakukan dengan empati, dan diperhatikan secara emosional (Chatburn et al. , 2. Jika aspek welas asih dan humanized care tidak dirasakan secara konsisten, pasien dapat menilai pelayanan sebagai tidak memuaskan meskipun prosedur klinis telah sesuai standar (Meneses-LaRiva et al. , 2. Komunikasi yang terlalu singkat, tidak memberi ruang bertanya, atau tidak menyesuaikan tingkat pemahaman pasien juga dapat menimbulkan ketidakpastian dan rasa tidak dilibatkan, yang berpotensi menurunkan penilaian pasien terhadap kualitas pelayanan (Lu et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan studi yang menunjukkan bahwa komunikasi merupakan isu umum dalam layanan kesehatan primer. Perspektif pasien dan tenaga kesehatan samasama menempatkan komunikasi sebagai aspek penting yang memengaruhi pengalaman perhatian, rasa hormat, dan keterlibatan dalam perawatan (Dixon et al. , 2. Hubungan pasienAetenaga kesehatan juga berperan sebagai penghubung antara komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien, karena hubungan yang dibangun atas dasar komunikasi yang baik, rasa saling percaya, dan penghargaan profesional berkontribusi pada persepsi kualitas pelayanan (Bai et al. , 2. Secara metodologis, dominannya kepuasan kategori kurang perlu dipahami sebagai fenomena multidimensi karena kepuasan dipengaruhi faktor interpersonal, organisasi, dan harapan pasien (Black et al. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan perlunya penguatan komunikasi terapeutik dan budaya pelayanan berpusat pada pasien. Upaya perbaikan dapat diarahkan pada standardisasi komunikasi dialogis, penguatan empati dan humanized care, serta perbaikan sistem pelayanan agar tenaga kesehatan memiliki waktu dan dukungan memadai untuk membangun interaksi terapeutik secara optimal. Hubungan Komunikasi Terapeutik Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Hasil uji korelasi Spearman rho menunjukkan nilai correlation coefficient sebesar 0,689 dengan p-value 0,001, yang bermakna secara statistik dan menandakan adanya hubungan positif yang kuat antara komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik kualitas komunikasi terapeutik yang dilakukan tenaga kesehatan, khususnya perawat yang paling sering berinteraksi dengan pasien, semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diterima. Kekuatan korelasi ini menegaskan bahwa komunikasi terapeutik merupakan Page . pengalaman pasien, karena penilaian mutu layanan tidak hanya didasarkan pada tindakan klinis, tetapi juga pada cara pasien diperlakukan, didengarkan, dan diberikan informasi secara jelas (Black et al. , 2. Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui pendekatan person-centered care dan humanized care yang menempatkan relasi terapeutik sebagai inti pelayanan keperawatan. Komunikasi yang empatik, responsif, dan menghargai martabat pasien mendorong terbentuknya rasa aman, kepercayaan, dan keterlibatan pasien dalam proses perawatan. Peran perawat sebagai advokat perawatan berpusat pada pasien memperkuat pandangan bahwa komunikasi merupakan media utama untuk menghadirkan pengalaman layanan yang bermakna, baik melalui klarifikasi kebutuhan pasien maupun dukungan emosional (Thompson et al. , 2025. Meneses-La-Riva et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa pasien menilai kualitas layanan dari kejelasan informasi, kesempatan bertanya, dan rasa dihargai dalam interaksi klinis. Komunikasi yang dialogis dan responsif cenderung meningkatkan pengalaman positif dan kepuasan pasien, sedangkan hambatan komunikasi akibat keterbatasan waktu atau beban kerja dapat menurunkan penilaian pasien terhadap layanan . nstensson et al. , 2025. Dixon et al. , 2. Selain itu, kajian mengenai pendorong pengalaman pasien menegaskan bahwa faktor relasional, khususnya komunikasi, berperan sebagai pengungkit penting dalam membentuk persepsi mutu layanan, bahkan di tengah keterbatasan sistem (Al Nuairi et al. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memperkuat kesimpulan bahwa komunikasi terapeutik berhubungan kuat dan positif dengan kepuasan pasien. Oleh karena itu, upaya peningkatan mutu layanan kesehatan perlu terapeutik melalui peningkatan kompetensi interpersonal perawat serta dukungan sistem pelayanan yang memungkinkan interaksi terapeutik berlangsung secara efektif dan konsisten (Black et al. , 2021. Dixon et al. , 2. nstensson et al. , 2. Implikasi Praktis Keperawatan Berdasarkan dominannya kepuasan pasien pada kategori kurang, temuan penelitian ini memiliki implikasi praktis yang menegaskan perlunya perbaikan mutu layanan yang berfokus pada komunikasi terapeutik. Upaya tersebut komunikasi klinis, seperti pembukaan konsultasi yang memvalidasi keluhan pasien, penyampaian edukasi secara jelas, serta penerapan teknik teach-back untuk memastikan pemahaman dan keterlibatan pasien, sejalan dengan prinsip komunikasi dialogis (Lu et al. , 2. Selain itu, penguatan budaya patientcentered care dan compassionate care perlu diintegrasikan sebagai nilai layanan melalui pelatihan, supervisi, dan keteladanan praktik, dipengaruhi oleh rasa dihargai dan dimanusiakan dalam interaksi pelayanan (Thompson et al. Chatburn et al. , 2024. Meneses-La-Riva et , 2. Untuk menjamin keberlanjutan perbaikan, fasilitas kesehatan juga perlu melakukan audit pengalaman pasien berbasis instrumen yang valid agar sumber ketidakpuasan dapat dipetakan secara spesifik pada dimensi interpersonal, sehingga intervensi peningkatan mutu dapat dirancang secara lebih tepat dan efektif (Black et al. , 2. Keterbatasan Penelitian Penelitian Pertama, pengukuran komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien berdasarkan persepsi subjektif, sehingga dipengaruhi oleh pengalaman dan harapan masing-masing Kedua, penelitian hanya menilai hubungan kedua variabel tersebut, padahal kepuasan pasien dipengaruhi banyak faktor lain. Ketiga, hasil korelasi yang kuat tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat, hanya P a g e | 10 Keempat, penelitian dilakukan di pusat layanan kesehatan masyarakat, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di semua fasilitas Kelima, penelitian lebih menyoroti perspektif pasien dan belum mengkaji faktor dari tenaga kesehatan maupun sistem pelayanan secara mendalam. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 36 responden diruang bedah RSUD Kota Bima, dapat disimpulkan bahwa: Komunikasi terapeutik perawat sebagian besar sedang sebanyak 45 . 9%). Tingkat kepuasan pasien sebagian besar kurang sebanyak 59 . 1%). Hasil uji korelasi Spearman rho menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,689 dengan nilai p-value = 0,001, menujukkan adanya hubungan positif yang kuat antara komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien, artinya semakin baik komunikasi terapeutik, maka semakin baik tingkat kepuasan pasien. REFERENCES