Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Workshop Seni Berbasis Ekologi dan Budaya Lokal dalam Meningkatkan Kreativitas dan Kesadaran Lingkungan Anak Pesisir di Desa Sungai Kupah. Kalimantan Barat Mukhlis1. Agus Yuliono2. Reiki Nauli Harahap3. Amira Fazilah4 1,4 Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik. Universitas Tanjungpura. Indonesia 2Antropologi. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik. Universitas Tanjungpura. Indonesia 3Pembangunan Sosial. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik. Universitas Tanjungpura. Indonesia *e-mail: amirafazilah@untan. Abstrak Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Sungai Kupah, sebuah desa pesisir di Kabupaten Kubu Raya. Kalimantan Barat, yang kaya akan budaya dan memiliki ekosistem mangrove yang luar biasa. Meskipun begitu, desa ini masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal keterbatasan akses pendidikan seni dan rendahnya kesadaran lingkungan di kalangan anak-anak. Untuk mengatasi hal ini, kegiatan kami bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan kesadaran lingkungan anak-anak melalui workshop seni yang menggabungkan ekologi dengan budaya lokal. Program ini dilaksanakan dalam tiga tahapan: pertama, persiapan yang melibatkan koordinasi dengan masyarakat setempat. pelaksanaan workshop seni yang meliputi eksplorasi mangrove, pembuatan karya seni dari daun nipah, dan edukasi tentang budaya lokal. dan ketiga, evaluasi menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perkembangan peserta. Hasil yang kami capai sangat menggembirakan, terlihat dari peningkatan nilai ratarata peserta yang naik dari 55 pada pre-test menjadi 80 pada post-test. Selain itu, kreativitas anak-anak juga meningkat, terlihat dari beragam karya seni berbasis lingkungan yang mereka buat. Lebih dari itu, program ini juga berhasil memperkuat keterlibatan komunitas lokal, yang mendukung keberlanjutan kegiatan ini ke depan. Melalui kolaborasi ini, kami tidak hanya berhasil memberdayakan anak-anak pesisir, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya lokal dan ekosistem mangrove yang sangat vital bagi kehidupan mereka. Kata kunci: Kreativitas Anak. Seni Berbasis Lingkungan. Mangrove. Pemberdayaan Masyarakat Abstract This community service program was carried out in Sungai Kupah Village, a coastal village in Kubu Raya Regency. West Kalimantan, which is rich in culture and has an exceptional mangrove ecosystem. However, the village still faces significant challenges, particularly in terms of limited access to arts education and low environmental awareness among children. To address this, our program aims to enhance children's creativity and environmental awareness through an art workshop that integrates ecology with local culture. The program was implemented in three stages: first, preparation, which involved coordination with the local second, the execution of the art workshop, which included mangrove exploration, creating art from nipah leaves, and education about local culture. and third, evaluation using pre-test and post-test to measure the participants' progress. The results were very encouraging, as shown by the increase in the participants' average score from 55 in the pre-test to 80 in the post-test. Additionally, the children's creativity also increased, evident from the diverse environmentally-themed artworks they created. Moreover, this program also succeeded in strengthening local community involvement, ensuring the sustainability of the activities moving forward. Through this collaboration, we not only empowered coastal children but also contributed to the preservation of local culture and the vital mangrove ecosystem, which is essential for their Keywords: Children's Creativity. Environment-Based Art. Mangroves. Community Empowerment PENDAHULUAN Desa Sungai Kupah, yang berada di Kecamatan Sungai Kakap. Kabupaten Kubu Raya. Kalimantan Barat, merupakan sebuah desa pesisir dengan potensi ekologis dan budaya yang Ekosistem mangrove di desa ini memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. kelestarian lingkungan, melindungi pantai dari erosi, serta menyediakan tempat tinggal bagi berbagai spesies laut yang mendukung kehidupan di pesisir (Andhika, 2. Keberagaman budaya lokal, seperti tradisi lisan dan kerajinan masyarakat, menjadi kekuatan sosial yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kegiatan pemberdayaan yang berbasis pada kearifan lokal dan ekosistem yang ada. Lebih jauh, keterbatasan akses terhadap pendidikan seni dan lingkungan ini berpotensi memutus mata rantai transfer pengetahuan budaya lokal dari generasi tua ke generasi muda (Fauzi & Sari, 2. Dalam konteks yang sama, rendahnya kesadaran lingkungan dapat mempercepat laju degradasi ekosistem mangrove yang justru menjadi penopang utama kehidupan ekonomi dan ekologi masyarakat pesisir (Sumiyati & Pamungkas, 2. Oleh karena itu, program workshop ini tidak hanya dirancang sebagai intervensi edukatif, tetapi juga sebagai upaya strategis untuk melestarikan warisan ekologi dan budaya yang sangat berharga, sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs (Pratama & Susilowati, 2. Namun, anak-anak di Desa Sungai Kupah menghadapi keterbatasan dalam mengakses pendidikan seni dan pemahaman lingkungan yang berkualitas. Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Kubu Raya . , fasilitas pendidikan seni di desa ini sangat terbatas, dengan sebagian besar anak-anak hanya menerima pendidikan formal yang minim mencakup aspek Ardoin. Bowers, dan Gaillard . menyatakan bahwa pendidikan lingkungan memiliki dampak positif terhadap kesadaran konservasi, yang sejalan dengan tujuan workshop ini untuk meningkatkan kesadaran ekologis anak-anak. Selain itu, ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam pengelolaan karbon, seperti yang dijelaskan oleh Alongi . , yang menyatakan bahwa hutan mangrove dapat menyerap karbon dalam jumlah besar, berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim, meskipun mereka hidup berdampingan dengan ekosistem mangrove, kesadaran tentang pentingnya pelestarian lingkungan masih rendah. Sebuah penelitian oleh Nugraheni dan Pamungkas . menunjukkan bahwa pendidikan berbasis lingkungan sejak usia dini sangat penting untuk membentuk perilaku yang peduli terhadap kelestarian alam, selanjutnya menurut Anggraeni dan Pamungkas . mengungkapkan bahwa sarana dan prasarana lembaga pendidikan memainkan peran penting dalam menciptakan potensi seni pada anak-anak usia dini. Situasi ini menimbulkan ketimpangan antara potensi lokal yang dimiliki, baik dalam aspek budaya maupun ekologi, dengan penerapannya dalam aktivitas pendidikan yang bermanfaat bagi anak-anak. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan kreatif yang menggabungkan seni, budaya, dan ekologi dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari anak-anak di desa. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah workshop seni berbasis ekologi dan budaya lokal. Program workshop seni berbasis ekologi dan budaya ini hadir sebagai respons terhadap tantangan tersebut sekaligus upaya konkret untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya poin 4 (Pendidikan Berkualita. dan 14 (Ekosistem Lauta. (Pratama & Susilowati, 2. Menurut Barbier et al. , ekosistem pesisir, termasuk mangrove, memberikan berbagai jasa ekosistem yang penting, seperti perlindungan terhadap pantai dan habitat bagi biota laut. Melalui workshop ini, anak-anak tidak hanya akan belajar mengekspresikan kreativitas mereka, tetapi juga akan mengalami secara langsung nilai-nilai lingkungan dan budaya mereka melalui kegiatan yang menyenangkan dan kontekstual. Dengan menggabungkan seni visual dan eksplorasi mangrove, anak-anak diajak untuk menciptakan karya seni yang mencerminkan pemahaman mereka tentang pelestarian lingkungan dan budaya Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove di sekitar mereka. Melalui pengalaman belajar yang interaktif dan bermakna, program ini diharapkan dapat merangsang kreativitas anak-anak di Desa Sungai Kupah, sekaligus menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan. Dengan melibatkan kegiatan seni yang mengangkat nilai-nilai ekologi dan budaya, anak-anak diharapkan dapat mengembangkan kreativitas mereka, sambil semakin memahami pentingnya melestarikan mangrove dan budaya lokal sebagai bagian dari identitas mereka. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. METODE Program ini akan dilaksanakan di Desa Sungai Kupah. Kecamatan Sungai Kakap. Kabupaten Kubu Raya, pada periode Juni hingga Agustus 2025, dengan melibatkan sekitar 50 anak usia sekolah dasar dari komunitas pesisir sebagai peserta. Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan partisipatif yang tidak hanya melibatkan masyarakat setempat, pemerintah desa, dan komunitas seni, tetapi juga pemuda Kampung Nelayan dan komunitas Imagi Rupa, sehingga menciptakan proses pembelajaran kolaboratif yang sangat relevan dengan konteks lokal. Instrumen evaluasi yang digunakan berupa kuesioner komprehensif yang terdiri dari 10 pertanyaan pilihan ganda untuk mengukur pemahaman ekologis, serta 5 pertanyaan skala Likert untuk mengukur sikap lingkungan peserta. Selain itu, aspek kreativitas dinilai secara sistematis menggunakan rubrik adaptasi dari Runco & Jaeger . yang mempertimbangkan tiga dimensi utama: orisinalitas, keluwesan, dan elaborasi karya seni. Proses pembuatan karya seni dari daun nipah tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga menekankan nilai-nilai budaya dan filosofi di balik penggunaan bahan alam tersebut, yang dipandu langsung oleh pengrajin lokal untuk memastikan autentisitas dan preservasi kearifan lokal. Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga tahap terstruktur: tahap persiapan meliputi survei lokasi mendalam, koordinasi intensif dengan mitra lokal, dan penyusunan materi workshop yang disesuaikan dengan kondisi ekologis dan budaya setempat. Tahap pelaksanaan utama terdiri dari workshop seni berbasis lingkungan yang integratif, mencakup eksplorasi mangrove secara langsung yang tidak hanya berupa pengamatan pasif tetapi juga melibatkan praktik identifikasi jenis-jenis mangrove dan fungsinya di lapangan, pembuatan karya seni dari daun nipah dengan bimbingan pengrajin lokal, serta edukasi mendalam mengenai budaya lokal. Tahap evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test yang menunjukkan hasil signifikan dengan peningkatan rata-rata nilai dari 55 menjadi 80 . %), mengukur perkembangan pemahaman ekologis dan kreativitas peserta. Indikator keberhasilan program mencakup peningkatan pemahaman lingkungan yang terukur, kuantitas dan kualitas karya seni yang dihasilkan, serta tingkat partisipasi aktif anakanak selama kegiatan. Keberhasilan ini tercermin dari beragam karya seni yang dihasilkan termasuk kerajinan daun nipah, mural lingkungan, dan storytelling budaya, yang tidak hanya menunjukkan peningkatan kreativitas tetapi juga pemahaman mendalam tentang ekosistem mangrove dan nilai-nilai budaya lokal. Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan ini menciptakan model pemberdayaan berkelanjutan yang dapat diadaptasi oleh desa-desa pesisir lainnya di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan workshop seni yang menggabungkan ekologi dan budaya lokal di Desa Sungai Kupah memberikan dampak positif yang nyata dan multidimensional terhadap kreativitas dan kesadaran lingkungan anak-anak. Berdasarkan evaluasi kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan melalui pre-test dan post-test, terlihat adanya peningkatan yang signifikan pada kedua aspek tersebut. Secara kuantitatif, rata-rata nilai peserta mengalami lompatan yang impressive dari 55 pada pre-test menjadi 80 pada post-test, yang merepresentasikan kenaikan sekitar 45% dalam pemahaman ekologis dan apresiasi budaya lokal. Peningkatan ini tidak hanya terbatas pada aspek kognitif tetapi juga mencakup perubahan sikap dan perilaku, yang diukur melalui skala Likert yang menunjukkan tren positif dalam kepedulian lingkungan. Secara kualitatif, dampak program terlihat dari karya-karya seni yang dihasilkan peserta, yang tidak hanya menunjukkan teknik artistik tetapi juga pemahaman mendalam tentang ekosistem mangrove dan nilai-nilai budaya masyarakat pesisir. Proses kreatif ini berlangsung dalam atmosfer kolaboratif dengan melibatkan pengrajin lokal, komunitas seni Imagi Rapa, dan pemuda Kampung Nelayan, menciptakan dinamika pembelajaran lintas generasi yang memperkaya pengalaman peserta. Temuan ini konsisten dengan penelitian Pebrianty dan Pamungkas . yang menyatakan bahwa pendekatan integratif antara seni, ekologi, dan budaya efektif dalam menstimulasi kreativitas sekaligus membangun kesadaran ekologis. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Tabel evaluasi yang disusun secara komprehensif tidak hanya memperlihatkan perubahan nilai rata-rata, tetapi juga mendokumentasikan perkembangan individual setiap peserta, tingkat partisipasi, dan kualitas karya seni yang dihasilkan, memberikan gambaran holistik tentang keberhasilan program. Keberhasilan ini merupakan bukti efektivitas model pendidikan yang kontekstual dan berbasis pada potensi lokal, yang tidak hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan dan budaya yang Tabel 1. Hasil Evaluasi Pre-Test dan Post-Test Kategori Pre-Test Post-Test Peningkatan (%) Kreativitas Anak Pemahaman Lingkungan Sebelum mengikuti workshop, banyak anak-anak yang belum sepenuhnya memahami peran ekologis mangrove. Namun, setelah kegiatan berlangsung, hampir semua peserta kini dapat dengan jelas menjelaskan fungsi mangrove, seperti perannya dalam melindungi pantai dari abrasi dan menyediakan habitat bagi berbagai biota laut. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan berbasis praktik, yang mengintegrasikan seni dan ekologi, lebih efektif dalam membangun pemahaman ekologis dibandingkan dengan pendekatan teoritis semata. Temuan ini konsisten dengan penelitian Pebrianty dan Pamungkas . , yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan dan budaya mampu meningkatkan kesadaran ekologis serta kreativitas anak secara signifikan. Peningkatan signifikan dalam nilai post-test membuktikan efektivitas model pembelajaran terpadu yang menerapkan prinsip experiential learning (Kolb, 2. Hal ini sejalan dengan temuan Kamil et al. yang menyatakan bahwa project-based learning berbasis lingkungan secara signifikan meningkatkan pemahaman konseptual siswa. Lebih dari angka, antusiasme peserta menunjukkan terciptanya engaged learning. Keterlibatan pemuda dan komunitas seni lokal (Imagi Rup. berperan sebagai cultural broker yang menjembatani pengetahuan akademik dengan kearifan lokal. Model kolaborasi ini merupakan contoh nyata dari community-based participatory research yang mendorong keberlanjutan karena masyarakat merasa memiliki program ini (Yulianto & Hidayat, 2. Ay Kreativitas anak-anak juga mengalami peningkatan yang nyata, terlihat dari beragam karya seni yang mereka hasilkan. Anak-anak membuat kerajinan dari daun nipah, mural bertema pelestarian lingkungan, serta melakukan storytelling yang menggambarkan budaya lokal mereka. Peningkatan nilai sebesar 45% menunjukkan efektivitas yang sangat tinggi dari model pembelajaran terpadu ini. Hal ini konsisten dengan temuan Kamil et al. yang menyatakan bahwa project-based learning berbasis lingkungan secara signifikan meningkatkan pemahaman konseptual siswa. Lebih dari sekadar angka, antusiasme dan keaktifan peserta selama kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan ini berhasil menciptakan engaged learning. Gambar 1 menunjukkan proses pembuatan kreasi dari daun nipah yang menjadi simbol dari pemahaman mereka tentang budaya dan ekosistem lokal. Gambar 1 menunjukkan anak-anak yang sedang mengolah daun nipah untuk membuat karya seni yang menggambarkan ekosistem mangrove. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan kreativitas mereka, tetapi juga memperkenalkan mereka pada bahan alami yang ada di sekitar Keterlibatan pemuda dan komunitas seni lokal (Imagi Rup. terbukti menjadi faktor kunci keberhasilan. Mereka berperan sebagai cultural broker yang menjembatani pengetahuan akademik dengan kearifan lokal. Model kolaborasi ini merupakan contoh nyata dari prinsip community-based participatory research yang mendorong keberlanjutan program karena masyarakat merasa memiliki (Yulianto & Hidayat, 2. Keberhasilan kegiatan ini juga tidak terlepas dari keterlibatan pemuda dan komunitas seni sebagai fasilitator. Keterlibatan mereka dalam kegiatan ini memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan antar-generasi, di mana P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. pemuda lokal berperan sebagai mentor bagi anak-anak dalam mengelola dan menciptakan karya Gambar 2 memperlihatkan salah satu sesi workshop yang melibatkan pemuda Kampung Nelayan dan komunitas seni lokal dalam pelaksanaan kegiatan. Gambar 1. Proses Pembuatan Kreasi Dari Daun Nipah Gambar 2: Pelaksanaan Program dengan bermitra Imagi Rupa dan Pemuda Kampung Nelayan Gambar tersebut menunjukkan para pemuda dan anggota komunitas seni yang bekerja bersama anak-anak dalam menciptakan karya seni berbasis ekologi, memperlihatkan pentingnya kolaborasi antar-generasi dalam memajukan kreativitas dan kesadaran lingkungan. Secara keseluruhan, program ini tidak hanya berhasil meningkatkan kreativitas dan kesadaran lingkungan anak-anak, tetapi juga memperkuat kapasitas komunitas dalam mengelola kegiatan berbasis seni dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Keterlibatan komunitas lokal dalam pengelolaan program ini mencakup penguatan organisasi komunitas, koordinasi antar pemangku kepentingan, serta kemampuan merancang program yang sesuai dengan konteks budaya dan ekologi lokal. Oleh karena itu, program ini berkontribusi pada pembangunan sosial dan struktural yang mendukung keberlanjutan jangka panjang, sejalan dengan prinsip pembangunan berbasis komunitas dan teori pendidikan Analisis terhadap peran pemuda dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa mereka bukan hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang aktif. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Mereka berhasil memperkenalkan konsep pelestarian lingkungan kepada anak-anak dengan cara yang menarik dan relevan, sambil menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial di kalangan generasi muda. Sebagai evaluasi akhir, program ini berhasil mencapai tujuannya dalam meningkatkan kreativitas dan kesadaran lingkungan anak-anak, yang terlihat jelas dari peningkatan nilai pretest dan post-test. Namun, untuk memastikan keberlanjutan program, dukungan lebih lanjut dari pihak-pihak terkait, seperti pemerintah daerah dan organisasi non-pemerintah, sangat Hal ini penting agar ruang seni ini dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak anak-anak dari desa pesisir lainnya. Dengan demikian, program ini dapat menjadi model yang dapat diadaptasi oleh desa-desa pesisir lain di Indonesia untuk mengembangkan potensi seni dan pelestarian lingkungan mereka. KESIMPULAN Workshop seni yang menggabungkan ekologi dan budaya lokal di Desa Sungai Kupah berhasil memberikan dampak positif yang jelas pada anak-anak pesisir. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya belajar seni, tetapi juga mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya menjaga lingkungan mereka, khususnya ekosistem mangrove. Keberhasilan program ini tercermin dalam peningkatan signifikan kreativitas dan kesadaran lingkungan anakanak, yang diukur melalui evaluasi pre-test dan post-test dengan rata-rata peningkatan sebesar Anak-anak kini lebih memahami bagaimana mangrove berfungsi untuk melindungi pantai dan menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup. Selain itu, mereka menunjukkan kreativitas yang luar biasa melalui karya seni, seperti kerajinan dari daun nipah dan mural yang menggambarkan tema lingkungan serta budaya lokal. Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan mereka, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap alam. Program ini juga memperkuat peran komunitas dalam memastikan kelangsungan Orang tua, tokoh adat, dan masyarakat setempat turut berperan aktif dalam mendukung program ini. Kolaborasi antar berbagai pihak ini menciptakan ruang yang tidak hanya untuk belajar dan berkarya, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Melalui pendekatan yang menggabungkan seni, budaya, dan ekologi, program ini memberikan model pemberdayaan yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir. Dampaknya tidak hanya terasa pada anak-anak yang lebih kreatif dan peduli terhadap lingkungan, tetapi juga pada komunitas yang lebih sadar akan pentingnya pelestarian Program ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan pendidikan lingkungan, yang mengedepankan pengalaman belajar yang kontekstual, partisipasi aktif, dan penguatan kapasitas lokal untuk masa depan yang lebih baik, untuk memastikan keberlanjutan, perlu dibentuk sebuah task force yang terdiri dari perwakilan pemuda, sekolah, dan pemerintah desa untuk merancang agenda kegiatan serupa secara berkala. Dukungan pendanaan dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang beroperasi di pesisir juga dapat DAFTAR PUSTAKA