e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 6. No 2. Oktober 2025 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah Rumah Tuhan sebagai Ruang Pembentukan Iman Komunitas: Pendekatan Syair Liturgis Eklesiologis terhadap Mazmur 27:1-6 Tutur Parade Tua Panjaitan1. Surya Kencana Meliala Sembiring2. Mesra Ulina Panjaitan3. Afriyanti Sihombing4 STT Misi William Carey STT Lintas Budaya Jakarta Institut Agama Kristen Renatus Correspondence: tuturptpanjaitan@gmail. Abstract: The house of God has always been a symbol of longing, protection, and encounter with God. However, in the context of today's church, the church faces a crisis of spirituality: worship becomes routine, faith relationships are weakening, and the understanding of the church as the body of Christ is becoming thinning. This study aims to analyze in depth Psalm 27:1-6 to understand how the worship space functions as a forum for community faith formation. Hermeneutically, this study uses the analysis of Hebrew poetry by paying attention to the accents structure. The results of the study show that the house of God does not simply refer to a physical place of worship, but a symbol of God's presence that shapes the spiritual life of the people through liturgical experiences. The liturgy becomes a medium of transformation of faith, from fear to faith, from the individual to the Therefore, the church today is called to present the house of God as a space for the formation of common faith, where the people experience strengthening and intimacy with God. Thus. Psalm 27:1-6 is read in ecclesiological liturgical theological paradigm that affirms the function of worship and church fellowship as a means of forming community spirituality in the midst of a world full of uncertainty. Keywords: community. house of God. Psalm 27 Abstrak: Rumah Tuhan senantiasa menjadi simbol kerinduan, perlindungan, dan perjumpaan dengan Allah. Namun, dalam konteks gereja masa kini, gereja menghadapi krisis spiritualitas: ibadah menjadi rutinitas, relasi iman melemah, dan pemahaman tentang gereja sebagai tubuh Kristus kian Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam Mazmur 27:1-6 guna memahami bagaimana ruang ibadah berfungsi sebagai wadah pembentukan iman komunitas. Secara hermeneutis, penelitian ini menggunakan analisis puisi Ibrani dengan memperhatikan struktur Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah Tuhan tidak sekadar menunjuk pada tempat ibadah fisik, melainkan simbol kehadiran Allah yang membentuk kehidupan spiritual umat melalui pengalaman liturgi. Liturgi menjadi media transformasi iman, dari rasa takut menuju keyakinan, dari individu menuju komunitas. Karena itu gereja masa kini dipanggil untuk menghadirkan rumah Tuhan sebagai ruang pembentukan iman bersama, di mana umat mengalami penguatan dan keintiman dengan Allah. Dengan demikian. Mazmur 27:1-6 dibaca dalam paradigma teologi liturgis eklesiologis yang meneguhkan fungsi ibadah dan persekutuan gereja, sebagai sarana pembentukan spiritualitas komunitas di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Kata-kata Kunci: komunitas. rumah Tuhan. Mazmur 27 PENDAHULUAN Dalam kehidupan beriman umat Allah, rumah Tuhan senantiasa menjadi simbol kerinduan, perlindungan, dan perjumpaan dengan Allah. Pemazmur dalam Mazmur 27:1-6 mengungkapkan keinginannya yang mendalam untuk Audiam di rumah Tuhan seumur hidupnya,Ay suatu ekspresi iman yang tidak hanya bersifat personal tetapi juga komunal. Di tengah ancaman, ketakutan, dan ketidakpastian, kehadiran Tuhan dalam rumah-Nya menjadi sumber kekuatan dan pengharapan. Mazmur ini menegaskan bahwa keintiman dengan Allah tidak terjadi di ruang yang abstrak, melainkan di ruang yang dihayati bersama, yaitu rumah Tuhan sebagai pusat kehidupan liturgis CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 1 umat. Namun, dalam konteks masa kini, gereja menghadapi krisis spiritualitas: ibadah menjadi rutinitas, relasi iman melemah, dan pemahaman tentang gereja sebagai tubuh Kristus kian menipis. Makna rumah Tuhan sering direduksi menjadi sekadar bangunan fisik tempat ibadah. Pemahaman seperti ini mengaburkan dimensi spiritual dan komunitas dari ibadah itu sendiri. Padahal, secara teologis, rumah Tuhan merupakan simbol kehadiran Allah yang aktif membentuk iman umat melalui pengalaman liturgis. Faktanya gereja pada masa kini dihadapkan pada dinamika perubahan sosial yang begitu cepat. Perubahan tersebut dipicu oleh kemajuan teknologi, khususnya perkembangan digitalisasi. Dwiraharjo mengatakan kehadiran teknologi digital melalui jaringan internet telah membawa dampak signifikan, sehingga hampir seluruh aspek kehidupan manusia mengalami transformasi. Karena kemajuan teknologi digital telah memicu perubahan sosial yang cepat, gereja perlu menyesuaikan diri agar tetap relevan di tengah transformasi kehidupan manusia. Kemajuan teknologi digital yang begitu pesat telah membawa perubahan signifikan dalam praktik liturgi Kristen. Hal ini terutama terlihat pada masa pandemi COVID-19, ketika gereja-gereja di berbagai belahan dunia terpaksa beralih sepenuhnya ke bentuk ibadah digital. Perubahan tersebut kemudian melahirkan model ibadah hibrida yang kini menjadi bentuk umum dalam kehidupan bergereja setelah masa 2 Kemajuan teknologi digital tidak hanya mengubah cara umat Kristen beribadah selama pandemi COVID-19, tetapi juga mendorong lahirnya model ibadah hibrida yang kini menjadi praktik umum dalam kehidupan bergereja modern. Sebagian jemaat Kristen berpendapat bahwa di masa depan, ibadah mungkin tidak lagi harus dilaksanakan di gedung gereja, ternyata hal ini sudah terbukti. Ibadah telah banyak dilakukan secara daring karena dinilai lebih mampu menjangkau banyak orang serta tidak dibatasi oleh ruang dan 3 Pengalaman beribadah secara daring membuktikan bahwa ibadah tidak harus terbatas pada gedung gereja, karena format digital mampu menjangkau lebih banyak orang tanpa batasan ruang dan waktu. Transformasi ini membuka peluang besar untuk menjangkau lebih banyak orang, namun sekaligus menghadirkan tantangan serius berupa meningkatnya individualisme digital, potensi penyimpangan teologis, dan melemahnya otoritas rohani. 4 Transformasi digital memberi peluang besar bagi perluasan pelayanan gereja, namun juga menimbulkan tantangan serius. Perubahan tersebut ternyata tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga menyentuh dimensi teologis yang Ketika bentuk ibadah hibrida mulai menjadi kebiasaan dan dianggap sebagai hal yang wajar, muncul kecenderungan terjadinya penurunan makna dan esensi dari peribadahan itu sendiri. Ibadah daring yang awalnya diselenggarakan karena tuntutan situasional kini sering dilakukan tanpa landasan maupun motivasi teologis yang kuat. 5 Bukan hanya kehadiran fisik jemaat di gedung gereja yang semakin menurun, kebiasaan ibadah hibrida yang tumbuh tanpa landasan teologis yang kuat berisiko menurunkan makna dan esensi peribadahan, karena ibadah dijalankan sementara pemahaman spiritual lemah. Ibadah bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan ruang pembentukan iman dan karakter rohani jemaat. Dalam terang Mazmur 27:1-6, rumah Tuhan dapat dipahami bukan sekadar institusi, tetapi sebagai ruang formasi iman, tempat menumbuhkan keberanian spiritual, dan tempat umat mengalami perjumpaan yang mentransformasi kehidupan. Penelitian atas Mazmur 27 bukanlah sama sekali baru. Pada tahun 2022. Sukma melakukan penelitian terhadap Mazmur 27:1-3 dengan menggunakan metode literature review untuk mengkaji makna kepercayaan diri serta hubungannya dengan hasil belajar siswa Kristen di SMA Kemala Bhayangkari II Surabaya. 6 Dalam penelitiannya. Sukma tidak secara spesifik mendalami maksud aksen puisi Ibrani, juga tidak mengaitkannya dengan pengalaman ibadah . dan doktrin Kekosongan inilah yang hendak diisi melalui artikel ini. Susanto Dwiraharjo. AuKonstruksi Teologis Gereja Digital: Sebuah Refleksi Biblis Ibadah Online Di Masa Pandemi Covid-19,Ay EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 4, no. : 1Ae17. Eleazar H. Sihombing. AuTransformasi Praktik Liturgi Kristen Pascapandemi Covid-19 Melalui Empat Hukum Media Marshall Mcluhan,Ay VOCATIO DEI: Journal of Theology 6, no. : 84Ae103. Dwiraharjo. AuKonstruksi Teologis Gereja Digital: Sebuah Refleksi Biblis Ibadah Online Di Masa Pandemi Covid-19. Ay Agustina Hutagalung and Rencan Carisma Marbun. AuTransformasi Gereja Di Era Digital: Kajian Teologis Pra Dan Pasca Internet,Ay Pengharapan : Jurnal Pendidikan Dan Pemuridan Kristen Dan Katolik 2, no. : 83Ae95. Sihombing. AuTransformasi Praktik Liturgi Kristen Pascapandemi Covid-19 Melalui Empat Hukum Media Marshall Mcluhan. Ay Setiya Ajie Sukma. AuMakna Percaya Diri Berdasarkan Mazmur 27:1-3 Terhadap Hasil Belajar Siswa Kristen Sma Kemala Bhayangkari Ii Surabaya,Ay Jurnal Excelsior Pendidikan 3, no. : 1Ae11. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 2 Penelitian dengan topik eklesiologi oleh Dwiraharjo tahun 2020 merumuskan konsep mengenai gereja digital dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis fenomenologis. Sementara itu riset yang dilakukan oleh Hutagalung dan Marbun pada tahun 2025 meneliti pergeseran makna, fungsi, serta identitas gereja dalam konteks digitalisasi, dengan menitikberatkan pada perbandingan antara periode pra-internet dan pasca-internet melalui pendekatan teologi 8 Penelitian oleh Sihombing tahun 2025 menghubungkan diskursus liturgi dengan teori media klasik Marshall McLuhan guna menawarkan sudut pandang baru terhadap praktik liturgi digital, melalui pendekatan kualitatif-deduktif. 9 Ketiga penelitian tersebut basisnya bukan eksegesis atas kitab Mazmur. Karena itu, kontribusi original penelitian ini menawarkan pendekatan baru terhadap Mazmur 27:1-6, yaitu pendekatan puisi liturgis eklesiologis untuk menyoroti keterkaitan antara praktik liturgi dan pembentukan iman komunitas. Pendekatan puisi, membantu menafsirkan teks sesuai genre aslinya dengan berbagai aksen Ibrani, sedangkan pendekatan liturgis membantu menafsirkan pengalaman ibadah sebagai medium pewahyuan dan transformasi iman, dan pendekatan eklesiologis menegaskan fungsi gereja sebagai tubuh Kristus yang menjadi representasi kehadiran Allah di dunia. Sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam Mazmur 27:1-6 untuk memahami makna ruang ibadah yang berfungsi sebagai wadah pembentukan iman komunitas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka. 10 Data primer bersumber dari teks Kitab Mazmur 27:1Ae6 yang dianalisis melalui eksegesis puisi dengan memperhatikan struktur aksentual, untuk menyingkap makna serta konteks teologisnya. 11 Sementara itu, data sekunder diperoleh dari literatur teologis, jurnal akademik, dan hasil penelitian yang relevan dengan persoalan eklesiologis. Proses analisis dilakukan dengan menelaah puisi pemazmur yang mengekspresikan kemenangan iman di rumah Tuhan, membandingkannya dengan fenomena 12 ibadah di luar gereja yang masih marak terjadi, serta menegaskan urgensi ibadah dalam komunitas Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan merumuskan implikasi teologis dan praktis bagi pengembangan doktrin eklesiologi, sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai mazmur tersebut ke dalam kehidupan liturgis gereja. PEMBAHASAN Kitab Mazmur adalah elemen penting dalam tradisi ibadah dan teologi Perjanjian Lama, yang menggambarkan beragam pengalaman emosional manusia dalam hubungannya dengan Allah. 13 Kitab Mazmur memegang peranan sentral dalam tradisi ibadah dan teologi Perjanjian Lama karena berfungsi sebagai media ekspresi spiritual dan emosional umat Allah. Mazmur tidak hanya mencerminkan pemikiran teologis, tetapi juga menangkap spektrum pengalaman manusia, mulai dari sukacita, syukur, ketakutan, kesedihan, hingga pergumulan hidup, yang semuanya diarahkan dalam relasi dengan Allah. Kitab Mazmur memungkinkan umat beriman untuk mengkomunikasikan perasaan terdalam mereka kepada Tuhan, sekaligus membimbing mereka dalam menafsirkan pengalaman hidup melalui perspektif iman. Kitab Mazmur bukan sekadar teks ritual, tetapi juga alat pedagogis dan teologis yang membentuk kehidupan rohani dan emosional umat, memperkuat kedekatan mereka dengan Allah secara autentik dan menyeluruh. Mazmur 27 termasuk dalam genre mazmur ratapan/pujian dengan ciri khas mazmur Dwiraharjo. AuKonstruksi Teologis Gereja Digital: Sebuah Refleksi Biblis Ibadah Online Di Masa Pandemi Covid-19. Ay Hutagalung and Marbun. AuTransformasi Gereja Di Era Digital: Kajian Teologis Pra Dan Pasca Internet. Ay Sihombing. AuTransformasi Praktik Liturgi Kristen Pascapandemi Covid-19 Melalui Empat Hukum Media Marshall Mcluhan. Ay Umrati and Hengki Wijaya. Analisis Data Kualitatif: Teori Konsep Dalam Penelitian Pendidikan (Jakarta: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2. , 12. Grant R. Osborne. Spiral Hermeneutika: Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab (Surabaya: Momentum, 2. , 255. John W. Creswell. Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif. Kuantitatif. Dan Campuran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 24. Isak Petrus Puling. Abraham BT, and Malik Bambangan. AuMazmur Sebagai Doa Dan Pujian: Tafsir Teologis Terhadap Dinamika Emosi Dalam Kitab Mazmur 146-150,Ay Jurnal Riset Rumpun Agama Dan Filsafat 4, 2 . : 132Ae45. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 3 kepercayaan dan perlindungan. Esensi mazmur pujian terletak pada pemazmur yang memulai setiap pasal dengan ajakan untuk menyembah dan memuji Tuhan. Ajakannya umumnya ditujukan kepada para penyembah lainnya, namun terkadang mazmur pujian juga berfungsi sebagai seruan bagi pemazmur sendiri untuk melaksanakan penyembahan kepada Allah. 14 Mazmur pujian menekankan peran aktif pemazmur dalam mengarahkan perhatian umat kepada Allah melalui ajakan untuk menyembah dan memuji-Nya sejak awal pasal. Fungsi ajakan ini bersifat komunal, ketika ditujukan kepada para penyembah lain, sekaligus personal, ketika menjadi seruan bagi pemazmur sendiri untuk menyadari dan mengaktualisasikan penyembahannya. Mazmur pujian tidak hanya berperan sebagai sarana ekspresi pujian, tetapi juga sebagai pedoman bagi umat untuk memulai interaksi spiritual dengan Allah, baik secara kolektif maupun individual, sehingga membentuk kesadaran rohani yang konsisten dan terarah. Mazmur 27 merupakan mazmur yang mengekspresikan kepercayaan sekaligus ratapan pribadi Daud, yang di dalamnya tersirat nada kemenangan dan keyakinan akan pertolongan Allah. 15 Kata A( u e ieAAlodAwi. yang mengawali pasal 27 tidak hanya menunjukkan identitas penulis, tetapi juga menegaskan hubungan pribadi antara Daud dan isi mazmur yang Penggunaan preposisi . yang dapat bermakna kepemilikan maupun sumber memperlihatkan bahwa mazmur ini bukan sekadar milik Daud, 16 tetapi juga lahir dari pengalaman spiritualnya bersama Allah. Sementara itu, keberadaan aksen azla dan legarmeh memperkuat aspek retoris dan musikal dalam pembacaan teks, menunjukkan bahwa setiap kata disusun dengan maksud untuk menyampaikan penekanan makna secara emosional dan teologis. Pengakuan Iman: Tuhan adalah Terang. Keselamatan, dan Perlindungan Mazmur 27:1 adalah pengakuan iman yang sangat kuat. Aksen disjuntive athnach di kata a c A( a oAyrA aku harus taku. sebagai disjunctive utama di tengah ayat berfungsi penting dalam struktur retoris, karena membagi pernyataan teologis utama menjadi dua bagian: pengakuan iman dan refleksi keberanian. Pertama, keyakinan bahwa Tuhan menyelamatkan: AuTuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?Ay Kedua, keyakinan bahwa Tuhan melindungi: AuTuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?Ay Kata A( oii iAAYoHWAH) sebagai nama diri Allah 17 menegaskan pusat teologis dari seluruh pernyataan pemazmur bahwa sumber terang, keselamatan, dan kekuatan hidupnya hanyalah Tuhan sendiri. Nama Tuhan mencerminkan kemuliaan, keagungan, dan keilahian-Nya. Karena itu, kita dipanggil untuk menghormati dan menyembah nama-Nya sebagaimana kita menghormati dan menyembah Allah sendiri. Mengabaikan hal ini berarti menyalah-gunakan nama-Nya secara tidak hormat atau sia-sia. Kombinasi aksen mehuppach dan legarmeh memiliki peran penting dalam menonjolkan kedalaman makna ini. Aksen mehuppach menunjukkan bahwa nama Tuhan tidak berdiri sendiri, melainkan erat terikat dengan pernyataan berikutnya tentang siapa Dia bagi hal ini memperlihatkan kesinambungan antara pengakuan iman dan pengalaman Sementara itu, aksen legarmeh memberi jeda kecil untuk menandai transisi makna, membantu pendengar merenungkan keagungan nama Tuhan sebelum melanjutkan pada uraian sifat-sifat-Nya. Kata AaUoA AIA menegaskan hubungan pribadi pemazmur dengan Allah sebagai sumber terang yang memberi petunjuk dan kehidupan. Penggunaan sufiks -y . Darto Sachius. AuKarakteristik Mazmur Pujian,Ay Predica Verbum: Jurnal Teologi Dan Misi 1, no. : 155Ae64. Sukma. AuMakna Percaya Diri Berdasarkan Mazmur 27:1-3 Terhadap Hasil Belajar Siswa Kristen Sma Kemala Bhayangkari Ii Surabaya. Ay Charles F. Pfeiffer and Everett F. Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2 Perjanjian Lama: Ayub - Maleakhi (Malang: Gandum Mas, 2. , 109. Reinhard Achenbach. Kamus Ibrani-Indonesia: Perjanjian Lama (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2. , 129. Andreas Danang Rusmiyanto. AuMakna Istilah Sebutan Untuk Tuhan AuYHWHAu Sesembahan Umat Beriman Di Kitab Perjanjian Lama,Ay ICHTUS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 3, no. : 44Ae51. Achenbach. Kamus Ibrani-Indonesia: Perjanjian Lama, 22. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 4 menunjukkan relasi yang intim dan pengalaman iman yang bersifat eksistensial, bukan sekadar pengakuan teoretis, melainkan kesadaran akan terang Allah yang nyata dalam Aksen munach yang bersifat conjunctive menandakan keterikatan erat antara kata ini dengan frasa berikutnya, sehingga secara musikal dan teologis menggambarkan kesinambungan antara pengakuan AuTuhan adalah terangkuAy dengan tindakan penyelamatan. Kata A( io oAwo-yi. memperluas pengakuan iman pemazmur bahwa YoHWAH bukan hanya terang yang menuntun, tetapi juga yang menyelamatkan20 dan melindungi dari bahaya. Bentuk koordinatif ini menegaskan kesatuan makna antara terang dan keselamatan sebagai dua aspek yang tidak terpisahkan dari karya Allah dalam hidup pemazmur. Aksen tipcha yang berfungsi sebagai disjunctive ringan memberikan jeda sejenak dalam pembacaan, memungkinkan pendengar merenungkan makna keselamatan sebelum melanjutkan pada frasa berikutnya. Secara retoris, jeda ini memperkuat penekanan pada keselamatan sebagai karya aktif Allah, sementara secara teologis menegaskan bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan pemberian ilahi yang dialami secara pribadi. Tempat perlindungan dan sumber keselamatan menunjukkan keandalan-Nya. Ungkapan ini menegaskan bahwa pemazmur sedang menyatakan keyakinannya akan keselamatan yang berasal dari Tuhan, yang selalu hadir untuk menolong umat-Nya yang percaya dan berserah penuh kepada-Nya, terutama saat menghadapi ancaman atau bahaya. Allah dapat diandalkan dalam segala situasi, khususnya saat umat berada dalam kesesakan atau ancaman. Pemazmur tidak hanya menggambarkan karakter Allah sebagai pelindung, tetapi juga menegaskan keyakinannya yang mendalam bahwa keselamatan sejati hanya berasal dari Tuhan. Ini mencerminkan relasi iman yang erat antara manusia dan Allah, di mana kepercayaan penuh dan penyerahan diri menjadi kunci untuk mengalami pertolongan Karena itu, ungkapan ini tidak sekadar menjadi bentuk pujian, melainkan juga kesaksian hidup tentang kesetiaan Tuhan yang selalu hadir dan bertindak dalam situasi krisis bagi mereka yang berserah dan percaya kepada-Nya. Kata A( IoAmimm. menandai bentuk pertanyaan retoris yang digunakan pemazmur untuk menegaskan keyakinannya, bukan untuk mencari jawaban. Dengan menggunakan preposisi yang melekat pada pronomina interogatif, pemazmur menekankan bahwa tidak ada satu pun yang layak ditakuti ketika Tuhan adalah sumber terang dan keselamatan. Aksen munach sebagai aksen conjunctive memperkuat makna ini dengan membuat pembacaan mengalir tanpa jeda, menunjukkan kesinambungan antara pengakuan iman sebelumnya dan pertanyaan retoris ini. Secara teologis, struktur ini menegaskan bahwa iman yang teguh kepada Allah mengalir secara alami menjadi keberanian menghadapi segala ancaman, tidak ada ruang bagi rasa takut ketika keyakinan kepada Tuhan menjadi dasar kehidupan. Kata a c A( a oAyrA) menyatakan sikap pribadi pemazmur terhadap kenyataan hidup di hadapan Allah, yakni penolakan terhadap rasa takut karena keyakinan pada perlindungan ilahi. Bentuk verba qal imperfektum 1 singular menunjukkan tindakan yang bersifat berkelanjutan atau potensial, menandakan keputusan iman yang terus-menerus untuk tidak takut. Iman yang kuat menolong orang percaya mengatasi rasa takut. Ketika kita percaya bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu, ketakutan dapat berubah menjadi dorongan untuk bertindak. Melalui iman, kita memperoleh keberanian untuk menghadapi risiko, bahkan jika itu berarti menghadapi kematian. Kesetiaan kepada Tuhan dalam situasi penuh ancaman menunjukkan keteguhan iman yang tetap kokoh di tengah krisis. 22 Iman yang teguh memberi kekuatan untuk mengatasi rasa takut dan menghadapi risiko, bahkan dalam situasi krisis, karena keyakinan akan kedaulatan Allah melahirkan keberanian dan kesetiaan yang tak Klausa AUn oA u A( o ii ui AYoHWAH masz-uayya. menegaskan dimensi teologis yang lebih dalam dari pengakuan iman pemazmur: Tuhan bukan hanya terang dan keselamatan. Achenbach, 143. Desti Samarenna. AuTinjuan Teologi AoAllah Kota BentengAo Dalam Mazmur 46:1-12,Ay PASCA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 15, no. : 15Ae21. Drisandri Bidrawati Mooy and Yeffry Hendra Lesmana. AuEsther: Pembentukan Karakter Melalui Keberanian Dan Iman Dalam Perspektif Teologi Dan Konteks Kontemporer,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 9, no. : 45Ae54. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 5 tetapi juga benteng 23 yang menjadi sumber kekuatan dan perlindungan hidupnya. Struktur aksentual pada klausa ini menunjukkan keseimbangan antara kesinambungan makna dan penekanan emosional dalam pembacaan. Aksen merecha pada kata YoHWAH menandakan keterhubungan erat antara subjek dan predikat, menggambarkan relasi yang tidak terpisahkan antara Allah dan kehidupan pemazmur. Aksen meteg24 pada masz memberi tekanan fonetis yang menonjolkan makna AubentengAy sebagai pusat klausa, menegaskan stabilitas dan keamanan yang bersumber dari Tuhan. Selanjutnya, aksen geresh memberikan jeda reflektif yang membantu pendengar merenungkan perlindungan ilahi, sementara aksen rebia pada uayyay menutup klausa dengan nuansa keteguhan dan ketenangan. Secara teologis, keseluruhan struktur ini memperlihatkan bahwa kehadiran YoHWAH bukan sekadar pelindung eksternal, melainkan kekuatan yang menopang seluruh keberadaan pemazmur, menghadirkan ketenteraman di tengah ancaman hidup. Kata A( a eEAephA. mengungkapkan sikap batin pemazmur yang menolak ketakutan, menegaskan keyakinannya bahwa tidak ada alasan untuk gemetar di hadapan ancaman apa pun karena Tuhan adalah benteng hidupnya. Bentuk verba qal imperfektum 1 singular menandakan tindakan yang bersifat pribadi dan berkelanjutan, yaitu keputusan iman untuk tetap teguh dan tidak gentar dalam setiap situasi. Aksen silluq sebagai disjunctive terkuat dalam sistem tata aksen Ibrani, yang selalu berpasangan dengan soph pasuq, berfungsi menutup seluruh pernyataan dengan tekanan penuh dan nada final. Kombinasi ini tidak hanya menandai akhir ayat secara gramatikal, tetapi juga menegaskan puncak makna teologis: keyakinan pemazmur mencapai klimaksnya dalam deklarasi iman yang tak Secara retoris, jeda akhir ini memberi ruang hening bagi pendengar untuk merenungkan kuasa Allah yang meniadakan rasa takut. sedangkan secara teologis, ia menegaskan bahwa keberanian sejati lahir dari iman yang berakar pada perlindungan dan kehadiran Allah sendiri. Kemenangan atas Musuh: Kehadiran Tuhan Meniadakan Rasa Takut Mazmur 27:2-3 menggambarkan kemenangan telak pemazmur atas musuh-musuhnya. Aksen disjuntive athnach di kata cA( uoAly -k. membagi ayat 2 menjadi dua bagian. Pertama, kedatangan musuh: Auketika orang-orang jahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yaitu para lawanku dan musuhku. Ay Kedua, kekalahan musuh: Aumereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Ay Kata A( cAbi-qorsN) berfungsi sebagai konstituen adverbial yang menunjukkan situasi atau kondisi ketika suatu tindakan terjadi, yakni Auketika musuh Ay Bentuk infinitif konstruktif memperlihatkan hubungan waktu yang erat antara tindakan musuh dan respons iman pemazmur. Aksen mehuppach yang bersifat conjunctive memperkuat keterikatan ini dengan menghubungkan kata tersebut secara erat dengan frasa berikutnya, baik secara sintaksis maupun semantis. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan Aumendekatnya musuhAy tidak berdiri sendiri, tetapi langsung berkaitan dengan bagaimana Allah bertindak atau bagaimana pemazmur merespons dengan iman. Secara retoris, aliran pembacaan yang lancar tanpa jeda menggambarkan dinamika ancaman yang nyata namun segera dihadapi dengan keyakinan kepada Tuhan. Secara teologis, struktur ini menegaskan bahwa bahkan ketika bahaya tampak mendekat, pemazmur tetap melihatnya dalam bingkai kedaulatan Allah, tidak sebagai ancaman yang menakutkan, tetapi sebagai kesempatan untuk menyaksikan perlindungan Tuhan yang nyata. Kata A( uoAala. menunjukkan arah tindakan yang ditujukan Aukepadaku,Ay menggambarkan posisi pemazmur sebagai sasaran serangan atau ancaman dari musuh. Fungsi preposisional-lokatif mempertegas realitas konkret yang dihadapi pemazmur, bahwa ancaman tersebut bersifat langsung dan pribadi. Aksen azla yang bersifat conjunctive memberi tekanan ringan dengan nada naik dan gerak cepat, menciptakan nuansa ketegangan yang meningkat dalam pembacaan. Secara retoris, aksen ini mengekspresikan intensitas situasi bahaya yang mendekat, seolah menggambarkan gerak musuh yang menyerbu. Namun, secara teologis, dinamika ini justru memperkuat kontras antara ancaman dan Achenbach. Kamus Ibrani-Indonesia: Perjanjian Lama, 188. Page H Kelley. Pengantar Tata Bahasa Ibrani Biblikal (Surabaya: Penerbit Momentum, 2. , 20. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 6 keyakinan: walau bahaya datang Aukepadaku,Ay pemazmur tetap berdiri teguh karena kehadiran Tuhan sebagai bentengnya. Kata cA( AoyAmorey. berfungsi sebagai subjek pelaku yang menggambarkan keberadaan musuh atau orang-orang jahat yang menjadi ancaman nyata bagi pemazmur. Penempatan kata ini di awal klausa menegaskan kontras antara kekuatan manusia yang jahat dan perlindungan ilahi yang akan segera dinyatakan. Aksen zarka sebagai disjunctive ringan memberikan jeda kecil yang berfungsi memisahkan unsur keterangan ini dari ide utama, membantu pembaca atau pendengar untuk mengenali latar situasi sebelum menuju inti pernyataan iman pemazmur. Secara retoris, jeda yang dihasilkan oleh aksen ini menimbulkan efek dramatis, membangun ketegangan yang akan segera dijawab dengan penegasan keyakinan akan kuasa Tuhan. Secara teologis, struktur ini memperlihatkan bahwa kehadiran Auorang jahatAy hanyalah pendahuluan dari karya keselamatan Allah. mereka diakui keberadaannya, tetapi tidak memiliki kuasa terakhir atas kehidupan pemazmur. Kata A( ua uuAleekho. merupakan infinitif konstruktif yang menyatakan tujuan tindakan, yaitu niat jahat musuh untuk AumemakanAy atau membinasakan pemazmur. Istilah ini menggambarkan intensitas permusuhan yang tidak sekadar menyerang, tetapi berupaya menghancurkan sepenuhnya. Aksen galgal sebagai conjunctive ringan berfungsi memberi jeda kecil dalam pembacaan, yang membantu menjaga ritme kalimat tanpa memutus alur Secara retoris, jeda ini menegaskan keseriusan ancaman musuh, namun tetap mengalir menuju kontras utama, yaitu penyelamatan Allah. Secara teologis, struktur ini memperlihatkan bahwa niat jahat manusia tetap berada di bawah kendali Tuhan. ketika musuh berencana untuk membinasakan, rencana tersebut hanya menjadi latar bagi penyingkapan kuasa dan perlindungan Allah atas umat-Nya. Kata A uoA A( aAet-bosAr. berfungsi sebagai objek langsung, menandakan bahwa serangan musuh ditujukan secara pribadi dan fisik kepada pemazmur. AuDagingkuAy menggambarkan tubuh, kehidupan, dan keberadaan dirinya secara utuh. Penggunaan istilah ini memperlihatkan kedalaman penderitaan yang dialami, namun juga memperkuat makna teologis bahwa bahkan aspek paling rapuh dari manusia berada di bawah perlindungan Allah. Aksen mil-el, yang menekankan suku kata sebelum akhir, 25 memberikan kekuatan ekspresif dalam pembacaan, seolah menyoroti intensitas ancaman terhadap diri pemazmur. Sementara itu, aksen merecha sebagai conjunctive menghubungkan kata ini dengan frasa berikutnya, menjaga kesinambungan makna dan alur narasi. Secara retoris, kombinasi aksentual ini menciptakan ketegangan emosional yang mengalir tanpa putus, menggambarkan realitas ancaman yang dekat namun segera diimbangi oleh keyakinan pada perlindungan Tuhan. Secara teologis, struktur ini menegaskan bahwa meskipun musuh menyerang sampai ke inti keberadaan manusia, kuasa Allah tetap melingkupi dan mempertahankan hidup pemazmur sepenuhnya. Frasa A( oIc i ao IcoAaray wo-syoNa. memperjelas identitas subjek yang dimaksud, yaitu Aupenderitaanku dan musuhku. Ay Dengan menempatkan kedua istilah ini secara berurutan, pemazmur menampilkan cakupan ancaman yang lengkap, baik dari tekanan batin . ray AupenderitaankuA. maupun dari lawan eksternal . yoNay AumusuhkuA. Kehadiran dua aksen munach yang bersifat conjunctive menandakan kesinambungan makna dan ritme pembacaan yang mengalir tanpa jeda, seolah-olah menunjukkan bahwa kedua bentuk ancaman ini tidak Secara retoris, kelancaran bacaan ini menciptakan intensitas naratif yang menggambarkan datangnya bahaya secara beruntun dan terus-menerus. Namun, secara teologis, struktur ini menegaskan iman pemazmur bahwa baik penderitaan batin maupun tekanan dari musuh tidak mampu memutus keyakinannya kepada Tuhan. Aksen yang mengalir tanpa henti ini sekaligus mencerminkan kontinuitas kebergantungan pemazmur kepada Allah di tengah tekanan hidup yang bertubi-tubi. Kata cA( uoAl. mengakhiri bagian pertama, dan kata berikutnya menjadi awal bagian baru. Kata ly dengan sufiks -ku berfungsi sebagai subjek eksplisit yang menegaskan keterlibatan pribadi pemazmur dalam pengalaman iman yang sedang diungkapkannya. Bentuk ini menyoroti relasi yang intim antara pemazmur dan Allah, bahwa semua pernyataannya bukan Agustinus Setiawidi and Elias P Pohan. Bahasa Ibrani Untuk Pemula (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 31. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 7 teori umum, melainkan kesaksian pribadi tentang perlindungan Tuhan yang dialaminya secara langsung. Aksen athnach sebagai disjunctive utama di pertengahan ayat memiliki peran penting dalam struktur sintaksis dan teologis. Secara gramatikal, ia memisahkan ayat menjadi dua bagian besar, memungkinkan pembaca berhenti sejenak untuk merenungkan klausa pertama sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya. Secara retoris, jeda ini berfungsi sebagai penegasan makna, memberikan ruang reflektif terhadap pengakuan iman pribadi pemazmur bahwa Tuhan adalah pelindungnya. Sementara secara teologis, posisi ly di akhir bagian pertama menandakan penekanan pada pengalaman iman yang bersifat pribadi dan eksistensial, bahwa keselamatan dan pertolongan Tuhan bukan konsep abstrak, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh pemazmur. Kata A( iA iAhemmA. berfungsi sebagai subjek eksplisit yang menegaskan kontras antara pihak pemazmur dan musuh-musuhnya. Dengan menyebut AumerekaAy secara eksplisit, pemazmur menyoroti keberadaan lawan yang nyata dan teridentifikasi, sekaligus mempersiapkan pendengar untuk melihat tindakan Allah terhadap mereka. Aksen tipcha yang bersifat disjunctive ringan atau sedang memberi jeda singkat dalam pembacaan, menciptakan keseimbangan antara kesinambungan narasi dan penekanan makna. Secara retoris, jeda ini memungkinkan pendengar untuk berhenti sejenak dan merenungkan siapa yang dimaksud dengan Aumereka,Ay sebelum beralih ke bagian ayat berikutnya yang menampilkan konsekuensi tindakan ilahi. Secara teologis, struktur ini menegaskan perbedaan tajam antara dua pihak: AuakuAy yang berlindung pada Tuhan dan AumerekaAy yang Jeda yang dihasilkan oleh aksen tipcha memperkuat pesan bahwa kuasa manusia, betapa pun besarnya, tidak dapat menandingi perlindungan Allah atas orang yang percaya kepada-Nya. Frasa AuI A i uAEA A( uAkAely wo-nAphAl. yang berarti Aumereka tergelincir dan jatuhAy menggunakan bentuk verba qal perfektum, menandakan aksi yang telah selesai atau sudah terjadi sepenuhnya. Hal ini menggambarkan bahwa kekalahan musuh bukan sekadar kemungkinan di masa depan, melainkan kenyataan yang sudah tergenapi dalam rencana Allah. Aksen munach sebagai conjunctive menunjukkan kesinambungan antara kedua verba tersebut, mereka tergelincir dan jatuh, menegaskan bahwa peristiwa itu berlangsung cepat dan tak terhindarkan, tanpa jeda atau peluang untuk bangkit kembali. Selanjutnya, aksen silluq pada kata terakhir, yang selalu berpasangan dengan soph pasuq, berfungsi mengakhiri seluruh ayat dengan penekanan penuh. Secara retoris, struktur ini memberikan kesan klimaks: kalimat ditutup dengan kepastian kemenangan yang total. Secara teologis, susunan ini menegaskan bahwa kuasa Allah bekerja secara tuntas melawan musuh-musuh orang apa yang dimulai dengan ancaman besar berakhir dengan kekalahan mereka di bawah kedaulatan Tuhan. Dengan demikian, ritme aksentual dan bentuk gramatikalnya bersama-sama menyampaikan pesan iman yang kuat, bahwa kemenangan umat Allah bersumber dari tindakan Allah sendiri, bukan dari kekuatan manusia. Aksen disjuntive athnach di kata A( u iAmiluAmAh peran. membagi ayat 3 menjadi dua bagian. Pertama, ketiadaan rasa takut: AuSekalipun tentara berkemah mengepung aku, hatiku tidak akan takut, sekalipun peperangan bangkit melawan aku. Ay Kedua, kepercayaan pada TUHAN: Audalam hal ini aku tetap percaya. Ay Kata A( ayAi. berfungsi sebagai konjungsi pengandaian, membuka kalimat dengan nuansa hipotetis yang menunjukkan situasi ekstrem Auseandainya pasukan berkemah mengepung aku. Ay Struktur ini memperlihatkan keyakinan iman pemazmur bahwa bahkan dalam skenario terburuk sekalipun, kepercayaannya kepada Tuhan tidak akan goyah. Kata A( O iAtauEneh: berkema. bentuk verba imperfektum, mengandung makna aksi potensi, yakni sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Bentuk ini menegaskan sikap realistis pemazmur: ia tidak menutup kemungkinan adanya ancaman, namun tetap menanggapinya dengan keyakinan yang mantap. Kata A( uoAAla. menandakan arah serangan. Aumengepung aku,Ay dan berfungsi sebagai objek preposisional-lokatif yang memperjelas posisi pemazmur di tengah ancaman. Aksen azla yang bersifat conjunctive memberi tekanan ringan dan nada naik, menciptakan kesan gerak maju yang cepat, seolah menggambarkan dinamika musuh yang mendekat dengan segera. Secara retoris, hal ini membangun ketegangan yang kontras dengan ketenangan iman pemazmur dalam bagian CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 8 berikutnya. Kata cA( iAmauEne. berarti pasukan, berfungsi sebagai subjek yang menunjukkan kekuatan lawan yang besar dan terorganisir. Aksen zarka, yang merupakan disjunctive ringan, memberikan jeda kecil dalam klausa, memisahkan unsur keterangan ini dari ide utama. Jeda ini secara retoris memungkinkan pembaca berhenti sejenak sebelum mendengar pernyataan iman yang penuh keyakinan. Secara teologis, seluruh struktur ini memperlihatkan bahwa sekalipun ancaman bersifat masif dan nyata, iman kepada Tuhan membuat pemazmur tetap tenang, karena kuasa Allah jauh melebihi kekuatan pasukan mana pun yang mengepungnya. Klausa cuAa uoA c A( uao oAls yyrA libby: hatiku tidak taku. merupakan klausa utama yang menyatakan pusat iman pemazmur, yakni keberanian yang bersumber dari keyakinan kepada Tuhan. Bentuk negatif ls menegaskan penolakan total terhadap rasa takut, sementara libby . memperlihatkan aspek batiniah yang terdalam dari manusia Ibrani, tempat kehendak, emosi, dan iman berpadu. Pernyataan ini bukan sekadar sikap mental, melainkan ekspresi iman yang kokoh dan eksistensial. Aksen meteg pada kata ls berfungsi memberi tekanan vokal panjang, menegaskan penolakan kuat terhadap rasa takut. Tekanan ini secara retoris memperkuat nada keyakinan dan penegasan dalam pembacaan liturgis, seolah pemazmur berkata dengan tekad penuh: Tidak, hatiku tidak akan gentar. Aksen galgal, sebagai conjunctive, memberikan jeda kecil dalam klausa membantu mengatur ritme pembacaan agar tetap mengalir namun tegas. Jeda kecil ini membentuk keseimbangan antara penolakan rasa takut dan penegasan iman yang segera menyusul. Sementara itu, aksen milel memberi irama naik dalam pelafalan, menciptakan kesan emosional yang intens, menunjukkan bahwa ketenangan pemazmur bukan pasif, melainkan lahir dari keyakinan aktif kepada Tuhan. Aksen conjunctive merecha berfungsi menghubungkan klausa ini dengan bagian berikutnya, menandakan bahwa pernyataan iman ini bukan penutup, tetapi dasar bagi pernyataan selanjutnya. Secara teologis, susunan aksen dan tekanan ini memperlihatkan bahwa keberanian pemazmur bukan berasal dari kekuatan diri, melainkan dari hubungan yang terus-menerus dan tak terputus dengan Tuhan yang menjadi sumber Frasa A( ayO IAyAim-tAqy. jika bangkit, menunjukkan bahwa pemazmur mempertimbangkan kemungkinan situasi yang lebih berat dibandingkan klausa syarat pertama (Aujika pasukan berkemah melawan akuA. Secara sintaksis, partikel im berfungsi memperkenalkan anak kalimat kondisional yang menggambarkan potensi ancaman baru. Aksen conjunctive munach berfungsi mengantar pembaca menuju aksen utama tanpa memberi jeda, memperlihatkan kesinambungan antara anak kalimat syarat dan kalimat Secara retoris, hal ini mempertegas bahwa pemazmur tidak berhenti pada kemungkinan ancaman, tetapi segera mengarahkan pikirannya pada respons iman. Kata A( u iAmiluAmA. yang berarti Auperang,Ay berfungsi sebagai subjek, menandai fokus ayat pada konflik atau perjuangan yang dihadapi subjek, baik secara fisik maupun simbolis/rohani. Sebagai subjek utama, kata ini menekankan intensitas dan urgensi situasi yang sedang dibicarakan. Kehadiran aksen disjunctive athnach tidak hanya mempermudah pembacaan dan pemahaman, tetapi juga memberikan waktu bagi pembaca atau pendengar untuk merenungkan makna kata AuperangAy dalam konteks ayat, menegaskan peranannya sebagai elemen pusat dalam struktur semantik dan ritmis puisi Ibrani. Frasa AUoEA A A( un a aIoAbo-zs Eny bsea. menjadi klimaks teologis dari Mazmur 27:3, menandakan iman yang tidak tergoyahkan. Aksen disjuntive geresh berfungsi memisahkan frase kecil di dalam klausa, sehingga ada jeda ringan dalam pembacaan. Ini memberi jeda ringan yang memungkinkan penekanan pada keyakinan pribadi Eny bseau. Aksen selanjutnya disjuntive rebia berfungsi membagi klausa terakhir menjadi bagian kecil sebelum penutupan total, menandai jeda reflektif dalam pembacaan yang memberi ruang bagi makna iman yang tenang dan teguh. Aksen conjuntive munach berfungsi mengantar pembaca menuju aksen utama, tidak memberi jeda, pembacaan harus mengalir terus ke kata Ini menunjukkan kesinambungan makna antara kondisi Audalam hal ituAy dan respons iman Auaku percayaAy. Pada kata terakhir ada aksen disjuntive silluq muncul berpasangan dengan soph pasuq berfungsi mengakhiri seluruh kalimat atau ayat. Fungsi ini bukan hanya gramatikal, tetapi juga teologis, menegaskan bahwa pernyataan iman CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 9 pemazmur merupakan penutup definitif atas segala bentuk ketakutan atau ancaman. Pemazmur menyatakan bahwa Allah adalah sumber terang, keselamatan, dan kekuatan Oleh sebab itu, ia tidak memiliki alasan untuk takut atau gelisah. Rasa aman yang dimilikinya tidak bergantung pada keadaan lahiriah, melainkan bersifat mutlak dan tanpa 26 Pemazmur menegaskan bahwa karena Allah adalah sumber terang, keselamatan, dan kekuatan hidupnya, maka tidak ada alasan untuk takut. Keyakinan ini melahirkan rasa aman yang tidak bergantung pada keadaan luar, sebab perlindungan Allah bersifat mutlak dan tidak bersyarat. Umat Tuhan kerap menghadapi ancaman yang nyata. Daud pernah menghadapi serangan bertubi-tubi dari banyak pihak (Mzm. , termasuk anaknya sendiri. Absalom. Bahkan Ahitofel, penasihat yang dipercaya, berpihak pada Absalom. Selain itu, saat Daud harus melarikan diri dari Yerusalem, ia juga mendapat kabar tentang pengkhianatan Mefiboset, anak sahabatnya Yonatan, yang kemudian terbukti sebagai fitnah dari Ziba. Semua pengalaman menyakitkan ini tidak membuat Daud kecewa kepada TUHAN, sebaliknya hal itu justru mempererat kedekatannya dengan-Nya. 27 Daniel dan temantemannya terancam nyawa di Babel. Namun, alih-alih merasa takut, mereka justru menunjukkan keberanian dengan secara terbuka dan tegas bersaksi akan kesetiaan mereka kepada Allah. 28 Ancaman dan pengkhianatan bukanlah hal yang asing bagi umat Tuhan, baik pada masa Daud maupun Daniel. Meskipun menghadapi situasi yang sangat menyakitkan, seperti pengkhianatan orang dekat, fitnah, atau ancaman nyawa, kedua tokoh tersebut menunjukkan keteguhan iman. Daud tetap mempercayai Tuhan meski dikhianati oleh keluarga dan sahabat, sedangkan Daniel dan teman-temannya menegaskan kesetiaan mereka kepada Allah di tengah tekanan ekstrem. Dengan demikian, pengalaman mereka membuktikan bahwa iman yang kokoh mendorong keberanian, kesetiaan, dan kedekatan yang lebih dalam dengan Tuhan, meski dihadapkan pada bahaya nyata. Dimensi Liturgis: Rumah Tuhan sebagai Ruang Perjumpaan dan Transformasi Aksen disjuntive athnach di kata cA( oAuayyay: hidupk. membagi ayat 4 menjadi dua Pertama, kerinduan utama: AuSatu hal telah kuminta dari Tuhan, itulah yang kucari: supaya aku boleh tinggal di rumah Tuhan seumur hidupku. Ay Kedua, kelanjutan kerinduan: Aumenyaksikan keindahan Tuhan, dan merenung di bait-Nya. Ay Kata A( a oaua. , merupakan objek nominal utama yang menegaskan fokus tunggal dari kerinduan pemazmur. Kata ini memiliki makna semantis yang menonjol karena menandakan intensitas dan keutuhan tujuan rohani: hanya Ausatu halAy yang menjadi pusat permohonan dan perhatian hidupnya, yakni kehadiran Allah. Secara retoris, bentuk tunggal ini mengekspresikan konsentrasi spiritual dan prioritas iman yang tidak terpecah oleh kebutuhan duniawi. Aksen disjunctive legarmeh berfungsi menandai pemutusan makna kecil dalam satu ayat, sehingga kata auat berdiri kuat sebagai ide utama yang akan dijelaskan oleh frasa berikutnya Auyang kuminta kepada TuhanAy. Dengan fungsi ini, legarmeh menegaskan kedudukan kata tersebut sebagai inti semantik yang menjadi dasar bagi klausa Sementara itu, aksen conjunctive mehuppach menghubungkan kata ini secara erat dengan frasa sesudahnya, baik secara sintaksis maupun makna. Hubungan ini memperlihatkan bahwa keinginan pemazmur tidak berhenti pada kata Ausatu hal,Ay tetapi segera diteruskan dalam permohonan aktif kepada Tuhan. Dari sisi teologis, kesinambungan ini mencerminkan dinamika iman yang hidup, bukan sekadar pengakuan pasif, melainkan hasrat yang diwujudkan dalam relasi pribadi dengan Allah. Penggunaan verba perfektum dalam A( Iau Ooalt. menunjukkan bahwa tindakan memohon atau meminta telah tuntas dan memiliki dampak tertentu, sehingga memberi penekanan pada realitas dan intensitas pengalaman subjek. Dengan demikian, verba ini tidak Pfeiffer and Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2 Perjanjian Lama: Ayub - Maleakhi, 147. Eko Mulya Tua. AuRespon Daud Dalam Menghadapi Pergumulan: Studi Terhadap Kitab Mazmur 3:1-9,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat 1, no. : 75Ae84. Tutur Parade Tua Panjaitan and Ferdinand Iskandar. AuMenjadi Saksi Di Tengah Diskriminasi: Tafsiran Daniel 1-6 Dalam Bingkai Moderasi Beragama Di Indonesia,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 8, no. : 1Ae18. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 10 sekadar menandai tindakan masa lalu, tetapi juga menekankan kedekatan emosional dan kesungguhan yang mendalam dari pemohon. Aksen conjunctive munach yang mengiringi kata ini memperkuat kontinuitas naratif. ia memandu pembaca atau pendengar untuk menghubungkan tindakan memohon ini secara lancar dengan aksen utama berikutnya, sehingga pembacaan tidak terputus dan ritme puisi Ibrani tetap kohesif. Dengan cara ini, struktur aksen dan pilihan verba saling mendukung untuk menekankan pengalaman spiritual yang intens dan kesinambungan makna dalam ayat. Frasa cA( A aA o iAmyet- YoHWAH) menunjukkan bahwa sumber dari permintaan atau doa berasal langsung dari Tuhan, menekankan ketergantungan dan hubungan pribadi antara pemohon dengan Tuhan. Penggunaan preposisi myet memperjelas arah atau asal tindakan, sehingga menandai bahwa permintaan bukan sekadar umum, tetapi secara spesifik ditujukan kepada dan berasal dari Tuhan. Kehadiran aksen disjunctive zarka pada frasa ini berfungsi secara strategis: dengan memberi jeda kecil sebelum ide utama ayat, aksen ini menekankan pentingnya sumber permintaan dan memberi pembaca waktu untuk mencerna hubungan antara subjek dan objek spiritual sebelum melanjutkan ke klausa utama. Dengan demikian, perpaduan antara struktur gramatikal dan pola aksen ini meningkatkan makna teologis, menunjukkan bahwa tindakan memohon subjek tidak terlepas dari sumber ilahi yang memberikan otoritas dan legitimasi permintaan itu. Frasa AaU a c A uNA Ah ENaqq. yang berarti Auhal itu akan kucari,Ay menunjukkan intensitas permohonan melalui paralelisme, sehingga memperkuat tekad subjek dalam mengejar atau memohon hal yang dimaksud. Struktur paralel ini bukan hanya retoris, tetapi juga menegaskan kesinambungan tindakan pemohon, sehingga maknanya lebih hidup dan terasa personal. Aksen conjunctive galgal, dengan memberikan jeda kecil, membantu pembaca untuk mencerna frase ini tanpa memutus aliran klausa, yang menekankan keteraturan ritmis puisi Ibrani. Kehadiran aksen mil-el memberikan penekanan tambahan, menandai pentingnya kata atau frasa ini dalam pembacaan lisan, sehingga pendengar merasakan urgensi permohonan. Sementara itu, aksen conjuntive merecha menghubungkan frase ini secara lancar dengan aksen utama berikutnya, menjaga kelancaran narasi dan kontinuitas makna, sehingga setiap elemen permohonan saling terkait secara sintaksis dan Kata A( c IOoAiNt. yang merupakan infinitif konstruktif, menunjukkan tujuan dari tindakan pemohon, yakni Ausupaya aku diamAy atau Ausupaya aku tinggal. Ay Bentuk infinitif konstruktif ini menekankan arah niat atau maksud yang disengaja, sehingga menegaskan kesadaran subjek akan tindakan yang diinginkan dan menambah dimensi intensional pada doa atau permohonan. Kehadiran aksen conjuntive munach mengarahkan pembaca untuk melanjutkan ke aksen utama tanpa jeda, sehingga aliran pembacaan tetap kohesif dan ritmis, mendukung kesinambungan narasi. Dengan demikian, struktur gramatikal dan pola aksen bersama-sama menekankan tujuan spiritual subjek sekaligus menjaga integritas musikal dan semantik puisi Ibrani. Frasa AoiA A Aby-YoHWAH menunjuk lokatif, menekankan tempat di mana subjek ingin berada atau 11ocus permohonannya, yaitu ruang ibadah, tempat kediaman Tuhan yang menjadi pusat kehadiran dan perlindungan ilahi. Penekanan tempat ini tidak sekadar geografis, tetapi bersifat teologis, menandakan keinginan untuk berada dalam hadirat ilahi dan mengalami perlindungan maupun bimbingan Tuhan secara langsung. Kerinduan ini menandakan hubungan intim antara penyembah dan Allah yang berdiam di tengah umatNya. Rumah Tuhan bukan sekadar tempat persembahan korban, tetapi locus spiritual di mana manusia mengalami transformasi batin dan penguatan iman. Kehadiran aksen disjunctive tipcha memberi jeda ringan atau sedang, sehingga pembaca memiliki waktu untuk mencerna pentingnya tempat ini dalam konteks klausa. Dengan demikian, kombinasi lokatif dan pola aksen menekankan makna spiritual dan ritmis, sekaligus memandu pembaca atau pendengar untuk memahami hubungan antara subjek dan konteks ibadahnya dengan lebih mendalam. Frasa cA( u o A Io oAkol-yomy uayya. yang berarti Ausepanjang umurku,Ay berfungsi sebagai adverbial waktu, menekankan durasi berkelanjutan dari tindakan atau permohonan subjek sepanjang hidupnya. Hal ini menunjukkan komitmen dan konsistensi spiritual, menegaskan CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 11 bahwa hubungan atau aspirasi subjek terhadap Tuhan bersifat permanen dan Kehadiran aksen conjuntive munach mengarahkan pembaca untuk melanjutkan ke aksen utama tanpa jeda, menjaga aliran narasi dan ritme puisi tetap kohesif. Sementara itu, aksen disjunctive athnach berfungsi sebagai tanda berhenti utama di pertengahan ayat yang membagi ayat menjadi dua bagian besar. Pembagian ini tidak hanya memudahkan pemahaman, tetapi juga menekankan struktur semantik dan ritmis, sehingga pendengar dapat merenungkan makna komitmen waktu subjek sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya dari ayat. Kata A( unu UAlauEz. yang berarti Auuntuk memandang,Ay merupakan infinitif yang menandai tujuan spiritual dari tindakan subjek, yaitu keinginan untuk melihat atau mengalami kehadiran Tuhan. Bentuk infinitif ini menekankan niat dan fokus subjek, bukan sekadar tindakan fisik, sehingga menyoroti dimensi religius dan intensional dari permohonan atau ibadah yang diungkapkan. Kehadiran aksen conjuntive merecha berfungsi menghubungkan kata atau frasa ini secara lancar ke aksen utama berikutnya, memastikan kelanjutan aliran pembacaan tanpa gangguan, sekaligus menjaga keterkaitan semantik dan ritme puisi. Dengan demikian, perpaduan antara infinitif tujuan dan pola aksen menegaskan fokus spiritual subjek sekaligus mendukung kesinambungan naratif dan musikal dari ayat. Frasa Ayoi iiA y A( Abo-nsam- YoHWAH) yang berarti Aukeindahan YoHWAH,Ay berfungsi sebagai objek tujuan, menekankan bahwa fokus dari permohonan atau tindakan subjek adalah mengalami atau menikmati sifat indah dan menyenangkan dari Tuhan. Hal ini menandai dimensi spiritual yang bersifat relasional, di mana subjek berupaya mendekat secara sadar kepada keindahan ilahi, bukan sekadar secara fisik atau ritual. Kehadiran aksen meteg memberi kepastian tekanan pada vokal panjang saat pelafalan, sehingga memperkuat penekanan makna dan ritme saat dibacakan. Aksen disjunctive geresh memberikan jeda ringan, memisahkan frase kecil dalam klausa agar pendengar dapat mencerna makna setiap bagian secara bertahap, sedangkan aksen disjunctive rebia membagi klausa terakhir menjadi unit-unit lebih kecil sebelum penutupan total, menjaga kejelasan sintaksis dan kohesi Kombinasi struktur gramatikal dan pola aksen ini menegaskan tujuan spiritual subjek sekaligus meningkatkan estetika pembacaan puisi Ibrani. Frasa A( Au c A uN iA o uu UEAy-loNaqqer bo-hyAAl. yang berarti Audan mencari . elajar, menyelidik. di bait-Nya,Ay menekankan tujuan rohani tambahan dari tindakan subjek, yakni keinginan untuk mendalami pengetahuan, hikmat, dan kehadiran Tuhan secara aktif dalam konteks ibadah. Bentuk ini menunjukkan usaha yang sadar dan berkesinambungan untuk memahami atau mengeksplorasi aspek ilahi, sehingga melampaui sekadar kehadiran fisik. Kehadiran aksen conjuntive merecha menghubungkan frase ini dengan aksen utama berikutnya, menjaga kelancaran narasi dan kesinambungan makna. Pada kata terakhir, aksen disjunctive silluq muncul berpasangan dengan soph pasuq, menandai penutupan penuh ayat, sehingga memberikan titik klimaks dan penegasan pada maksud spiritual keseluruhan dari Kombinasi struktur gramatikal dan pola aksen ini menegaskan intensitas tujuan rohani subjek sekaligus memperkuat ritme dan kohesi puisi Ibrani. Aksen disjuntive athnach di kata A( a iuUAoholy: kemah-Ny. membagi ayat 5 menjadi dua bagian. Pertama, perlindungan dalam kemah Tuhan: AuSebab Ia akan menyembunyikan aku dalam pondok-Nya pada hari malapetaka. Ia akan melindungi aku dalam persembunyian kemah-Nya. Ay Kedua, kemenangan dari Tuhan: Audi atas gunung batu Ia akan meninggikan Ay Kata A( oAk. menandai hubungan kausal antara klausa sebelumnya dan yang berikutnya, menegaskan alasan atau dasar dari tindakan atau pernyataan subjek. Kehadiran aksen conjuntive mehuppach menunjukkan keterkaitan yang erat secara sintaksis dan semantik dengan kata berikutnya, sehingga pembaca diarahkan untuk memahami sebab-akibat tanpa jeda, menjaga kelancaran narasi dan kohesi makna. Verba A( o EAoAAyiponen. AuIa akan menyembunyikan akuAy menekankan tindakan Tuhan yang aktif dalam melindungi subjek. Aksen conjuntive azla memberi tekanan ringan pada suku kata, sehingga pembacaan terdengar dinamis, seakan bergerak maju dengan nada naik, menekankan keberlangsungan Aksen disjunctive legarmeh menandai pemutusan makna kecil dalam klausa, memisahkan frase tanpa memutus aliran utama, sehingga pendengar dapat mencerna CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 12 tindakan perlindungan secara bertahap. Frasa cA( iAbosukk. Audalam pondok-NyaAy . menekankan tempat perlindungan yang konkret sekaligus simbolik, menegaskan kehadiran Tuhan sebagai tempat aman. Aksen disjunctive zarka memberi jeda kecil untuk memisahkan unsur keterangan dari ide utama, sehingga pembaca dapat fokus pada konsep tempat perlindungan sebelum melanjutkan klausa berikutnya. Keterangan waktu A( o Uy uiAboyym rAA. Aupada hari malapetakaAy menekankan konteks kritis saat perlindungan Tuhan menjadi relevan. Aksen conjuntive galgal memberi jeda kecil, mirip fungsi zarqa atau pashta, sehingga pembaca dapat mencerna urgensi waktu. Aksen mil-el menegaskan kata atau suku kata tertentu, sedangkan aksen conjuntive merecha menghubungkan frase ke aksen utama berikutnya, menjaga kesinambungan ritme dan Kata A( o O AoAyastyren. AuIa akan melindungi akuAy menekankan tindakan kausatif Tuhan yang secara aktif melindungi subjek. Kehadiran aksen disjunctive tipcha memberi jeda ringan atau sedang dalam klausa, sehingga pembaca atau pendengar dapat mencerna makna tindakan perlindungan sebelum melanjutkan ke ide utama berikutnya. Frasa Aa iuUA A( A I Aboseter ohol. Audalam persembunyian kemah-NyaAy lokatif, menekankan tempat tersembunyi sebagai simbol keamanan ilahi, menegaskan relasi kepercayaan dan ketergantungan subjek kepada Tuhan. Aksen conjuntive munach menjaga kelancaran pembacaan menuju aksen utama berikutnya tanpa jeda. Sementara itu, aksen disjunctive athnach berfungsi sebagai titik berhenti utama di pertengahan ayat, membagi klausa menjadi dua bagian besar, memperjelas struktur semantik, dan menekankan keseimbangan antara perlindungan ilahi dan konteks naratif ayat. Frasa A( y AAboy. Aupada gunung batuAy lokatif, menekankan tempat perlindungan yang kuat dan kokoh, simbol stabilitas dan keamanan ilahi. Kehadiran aksen disjunctive geresh memberikan jeda ringan, memisahkan frase kecil dalam klausa sehingga pendengar dapat mencerna makna lokasi perlindungan sebelum melanjutkan ke ide utama. Aksen disjunctive rebia kemudian membagi klausa terakhir menjadi bagian-bagian lebih kecil sebelum penutupan total, memperjelas struktur sintaksis dan ritme, serta menekankan pentingnya Augunung batuAy sebagai tempat aman dalam konteks spiritual. Verba AU A oEA A( oAyoromomen. AuIa akan meninggikan akuAy menekankan tindakan aktif Tuhan dalam mengangkat dan memuliakan subjek, menegaskan perlindungan yang tidak hanya pasif tetapi bersifat Kehadiran aksen disjunctive silluq berpasangan dengan soph pasuq menandai akhir total kalimat atau ayat, memberikan titik klimaks naratif dan ritmis, sekaligus menegaskan keseluruhan pesan ayat tentang keamanan, perlindungan, dan penguatan ilahi. Pemazmur merindukan kehadiran Tuhan, yang ia wujudkan melalui keinginan untuk tinggal di rumah Allah, memandang kemuliaan-Nya, dan merenungkan bait-Nya. Pengalaman akan kehadiran ilahi itu menumbuhkan rasa aman di tengah situasi sulit. Kerinduan pemazmur akan kehadiran Tuhan menunjukkan bahwa sumber ketenangan sejati bukan terletak pada keadaan luar, melainkan pada relasi yang intim dengan Allah. Dengan tinggal di rumah Tuhan, memandang kemuliaan-Nya, dan merenungkan bait-Nya, pemazmur mengalami persekutuan yang mendalam dengan Sang Ilahi. Kehadiran Allah yang nyata itu menjadi dasar spiritual yang menumbuhkan rasa aman dan keteguhan hati, bahkan di tengah kesesakan dan ancaman hidup. Liturgi merupakan bentuk perayaan bersama dalam ibadah yang mempersatukan dan menghubungkan umat Kristen pada momen tertentu, yang di dalamnya melibatkan dimensi subjektif umat sebagai respons terhadap panggilan Allah, dan mencapai puncaknya melalui pelaksanaan sakramen. 30 Dalam Mazmur 27, ibadah tidak hanya dipahami sebagai ritual, melainkan sebagai pengalaman eksistensial yang memperbarui iman. Liturgi di rumah Tuhan memberi struktur dan makna bagi kehidupan iman umat. Melalui liturgi, umat mengingat karya keselamatan Allah, mempersembahkan diri dalam pujian, dan mengalami kehadiran Allah secara nyata. Proses ini menjadi sarana formasi iman: dari ketakutan menuju keyakinan, dari keputusasaan menuju pengharapan. Pfeiffer and Harrison. The Wycliffe Bible Commentary Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2 Perjanjian Lama: Ayub - Maleakhi, 148. Sihombing. AuTransformasi Praktik Liturgi Kristen Pascapandemi Covid-19 Melalui Empat Hukum Media Marshall Mcluhan. Ay CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 13 Media digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampai konten liturgi, tetapi juga berperan aktif dalam mentransformasi makna, struktur, serta ritus liturgi di dalam gereja. Oleh karena itu, dalam konteks kekinian, gereja perlu merumuskan kebijakan dan praktik yang mencerminkan kesadaran akan dinamika tersebut, antara lain: mengakui perluasan dengan menyediakan akses yang inklusif lintas batas ruang dan waktu, khususnya bagi lanjut usia dan penyandang disabilitas. mengelola keusangan dengan tetap mempertahankan nilai simbolik media tradisional dalam bentuk digital serta mencegah terjadinya eksklusi akibat perkembangan teknologi. dan menghindari pembalikan dengan menetapkan batas adaptasi teknologi agar ibadah tidak tereduksi menjadi sekadar pertunjukan estetis. 31 Dengan pendekatan ini, gereja dapat memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa mengorbankan kedalaman spiritual liturgi. Dimensi Eklesiologis: Gereja sebagai Rumah Tuhan Masa Kini Aksen disjuntive athnach di kata A( AciAteryA: sorak-sora. membagi ayat 6 menjadi dua Pertama, korban sorak-sorai: AuDan sekarang kepalaku ditinggikan melebihi musuh-musuhku di sekelilingku, aku akan mempersembahkan korban-korban sorak-sorai di dalam kemah-Nya. Ay Kedua, bernyanyi dan bermazmur: Auaku akan bernyanyi dan bermazmur bagi Tuhan. Ay Frasa A( i oOiAwAOattA. "dan sekarang" adverbia waktu, menekankan urgensi dan relevansi saat ini, menunjukkan bahwa subjek menghadapi situasi secara sadar dan aktif pada momen tertentu. Kehadiran aksen conjuntive azla memberi tekanan ringan pada suku kata, sehingga pembacaan terdengar bergerak maju dengan nada naik, menciptakan ritme dinamis yang menekankan momentum dan fokus temporal dari klausa. Dengan demikian, kombinasi makna temporal dan pola aksen menekankan kesinambungan naratif sekaligus memperkuat ekspresi urgensi dan intensitas doa atau tindakan subjek. Kata A( o AyAyAry. Auakan ditinggikanAy menekankan tindakan Tuhan yang aktif mengangkat subjek, menunjukkan peningkatan atau kehormatan yang diberikan secara ilahi. Bentuk pasif/impersonal ini menyoroti bahwa tindakan tersebut berasal dari Tuhan, bukan dari subjek, sehingga menekankan ketergantungan dan perlindungan ilahi. Kehadiran aksen conjuntive galgal memberikan jeda kecil dalam klausa, yang memungkinkan pembaca atau pendengar mencerna makna kata secara bertahap tanpa memutus aliran narasi. Kombinasi bentuk verba dan pola aksen ini memperkuat fokus pada tindakan ilahi dan menjaga ritme serta kesinambungan puisi Ibrani. Kata AaoA A( Ary. AukepalakuAy subjek penderita, menekankan fokus langsung dari tindakan atau perlindungan ilahi terhadap bagian paling vital dari subjek, yakni kepalanya, yang sering melambangkan identitas, kehormatan, dan pusat kehidupan. Kehadiran aksen disjunctive pazer memberikan penekanan besar pada kata kunci Aukepala,Ay sekaligus menandai jeda sedang hingga panjang dalam kalimat. Hal ini tidak hanya memperkuat makna penting dari objek penderita, tetapi juga memberi ruang bagi pendengar untuk merenungkan signifikansi simbolisnya, sehingga memperkaya dimensi semantis dan ritmis dari pembacaan puisi Ibrani. Frasa A( u a o coAal oyoba. Auatas musuh-musuhkuAy menekankan arah atau sasaran tindakan Tuhan, yaitu musuh-musuh subjek, sehingga memperjelas konteks perlindungan atau penguatan Bentuk preposisional ini menunjukkan hubungan subjek dengan pihak lain secara jelas, menekankan interaksi antara tindakan ilahi dan ancaman eksternal. Kehadiran aksen conjuntive mehuppach menegaskan keterkaitan erat frasa ini dengan kata atau klausa berikutnya, sehingga pembacaan tetap mengalir tanpa kehilangan makna sintaksis dan tematik. Sementara itu, aksen meteg memperkuat penekanan semantis dan ritmis pada kata Aumusuh-musuhku,Ay sehingga pendengar merasakan urgensi dan fokus dari sasaran tindakan Tuhan. Frasa AocUoA A( IcAsobibyta. AusekelilingkuAy keterangan tempat, menekankan konteks ruang di mana perlindungan atau tindakan Tuhan berlaku, menunjukkan keseluruhan lingkungan subjek yang berada di bawah pengawasan ilahi. Kehadiran aksen disjunctive rebia membagi klausa terakhir menjadi bagian-bagian kecil sebelum penutupan total, sehingga pendengar atau pembaca dapat mencerna makna setiap elemen secara bertahap. Kombinasi keterangan tempat dan pola aksen ini memperkuat kesan perlindungan yang menyeluruh dan ritmis, sekaligus menegaskan keteraturan struktur semantik dan musikalitas puisi Ibrani. Frasa A( ia n iAwoezbouA. Auaku akan mempersembahkan korbanAy menekankan niat dan tekad subjek untuk melakukan tindakan ibadah secara aktif, menunjukkan partisipasi pribadi dalam penyembahan dan pengakuan atas kehadiran Tuhan. Bentuk cohortative menyoroti aspek intensional dan sukarela dari tindakan tersebut, bukan sekadar formalitas. Kehadiran aksen conjuntive munach mengarahkan pembaca untuk melanjutkan ke aksen utama berikutnya tanpa jeda, sehingga aliran pembacaan tetap lancar dan ritmis, mendukung kesinambungan makna dan menekankan keterkaitan Sihombing. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 14 tindakan ibadah dengan konteks ayat secara keseluruhan. Frasa A( aiuUAboohol. Audi dalam kemah-NyaAy lokatif, menekankan tempat tindakan ibadah atau persembahan yang sakral, yaitu kedekatan subjek dengan kehadiran Tuhan di ruang kudus. Hal ini menunjukkan konteks spiritual dan simbolis dari kegiatan ibadah yang dilakukan. Kehadiran aksen disjunctive tipcha menandai jeda ringan atau sedang dalam satu klausa sebelum aksen disjungtif yang lebih kuat seperti athnach atau silluq, sehingga pembaca dapat mencerna makna frasa ini secara bertahap. Kombinasi makna lokatif dan pola aksen ini memperkuat ritme, kohesi semantik, dan kesan khidmat dalam pembacaan puisi Ibrani. Frasa A( nc o AciAzibuy teryA) Aukorban-korban sorak-soraiAy menekankan jenis dan sifat persembahan yang diberikan subjek, menunjukkan partisipasi aktif dengan sukacita dalam ibadah. Persembahan ini bukan sekadar tindakan ritual formal, tetapi ekspresi relasional dan emosional dari pengabdian subjek kepada Tuhan. Kehadiran aksen conjuntive munach mengarahkan pembaca untuk melanjutkan ke aksen utama tanpa jeda, menjaga kelancaran dan kesinambungan narasi. Sementara itu, aksen disjunctive athnach berfungsi sebagai tanda berhenti utama di pertengahan ayat, membagi klausa menjadi dua bagian besar, sehingga memperjelas struktur sintaksis, menekankan ritme pembacaan, dan memberikan penekanan teologis pada makna persembahan yang disyukuri. Frasa A( a uoiAAyrA. Auaku akan bernyanyiAy menekankan niat dan tekad pemazmur untuk mengekspresikan pujian secara aktif, menunjukkan tindakan sukarela dan personal dalam ibadah. Bentuk cohortative menyoroti aspek kesungguhan dan intensional dari tindakan bernyanyi, bukan sekadar formalitas ritual. Kehadiran aksen conjuntive merecha menghubungkan kata atau frasa ini ke aksen utama berikutnya, sehingga pembacaan tetap mengalir lancar, menjaga kontinuitas ritme dan makna, serta menekankan hubungan erat antara ekspresi pujian subjek dengan keseluruhan narasi Frasa A( y i a n iAwaEzammorA. Audan aku akan bermazmurAy menekankan inisiatif aktif subjek dalam menyatakan pujian melalui mazmur, menunjukkan tindakan ibadah yang sengaja dan penuh Bentuk piel cohortative menyoroti ekspresi emosional dan intensitas subjek dalam menyampaikan pujian, bukan sekadar tindakan formal. Kehadiran aksen disjunctive geresh memberi jeda ringan untuk memisahkan frase kecil dalam klausa, memudahkan pendengar mencerna makna setiap unit secara bertahap. Selanjutnya, aksen disjunctive rebia membagi klausa terakhir menjadi bagian-bagian kecil sebelum penutupan total, sehingga pembacaan tetap ritmis, terstruktur, dan memperjelas kesinambungan naratif serta makna teologis dari tindakan bermazmur. Frasa A( uo iEAlaAeYHWAH) Aubagi TuhanAy menunjukkan bahwa seluruh tindakan pemazmur, baik bernyanyi maupun bermazmur, diperuntukkan bagi Tuhan. Hal ini menegaskan orientasi spiritual subjek, yaitu pengabdian dan pengakuan atas kehadiran ilahi sebagai fokus utama. Kehadiran aksen disjunctive silluq, yang muncul berpasangan dengan soph pasuq, menandai akhir total kalimat atau ayat, memberikan titik klimaks naratif sekaligus ritmis. Dengan demikian, kombinasi fungsi dativ dan pola aksen ini menegaskan makna teologis ayat sekaligus menjaga struktur ritme dan kohesi pembacaan puisi Ibrani. Makna Aurumah TuhanAy dalam konteks Mazmur ini bersifat ganda: simbolis dan eksistensial. Secara simbolis, ia menunjuk pada Bait Allah di Yerusalem. secara eksistensial, ia merepresentasikan kehadiran Allah yang melindungi, membimbing, dan meneguhkan umat. Dengan demikian, rumah Tuhan menjadi ruang sakral tempat iman dipulihkan dan diteguhkan melalui pengalaman liturgis dan persekutuan dengan Allah. Pendekatan liturgis menegaskan bahwa rumah Tuhan berfungsi sebagai ruang formasi spiritual. Di dalamnya umat belajar memercayakan hidupnya kepada Allah dan mengalami pembaruan terus-menerus melalui ibadah. Liturgi yang sejati bukanlah rutinitas, melainkan perjumpaan yang memulihkan, suatu praksis iman yang menanamkan kebergantungan kepada Allah. Pada masa kini, media sosial memiliki dampak yang bersifat ambivalen: di satu pihak mampu memperluas jangkauan pelayanan misi serta meningkatkan partisipasi jemaat, namun di pihak lain menimbulkan tantangan serius seperti penyebaran ajaran yang menyimpang, krisis otoritas rohani, dan munculnya kecenderungan individualisme digital. Oleh karena itu, gereja perlu merespons bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga secara teologis, dengan melakukan penafsiran ulang terhadap ekklesiologi yang kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman. 32 Dengan menafsirkan ulang eklesiologi secara kontekstual, gereja dapat tetap relevan dengan perkembangan zaman sekaligus menjaga integritas iman dan kohesi komunitas jemaat. Meskipun terdapat sinyal positif dalam hubungan antara liturgi dan pemanfaatan media digital, penerapannya tetap menimbulkan kekhawatiran dan kritik. Salah satu risikonya adalah munculnya Hutagalung and Marbun. AuTransformasi Gereja Di Era Digital: Kajian Teologis Pra Dan Pasca Internet. Ay CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 15 pola iman yang bersifat individualistis akibat minimnya keterlibatan fisik dalam perayaan sakramen. Dalam tradisi Kristen, relasi yang akrab dengan Tuhan selalu bersifat komunal, meskipun bersifat pribadi dan intim, relasi itu tetap terwujud di tengah persekutuan. Keakraban yang terlepas dari komunitas, tanpa kehadiran roti, gereja, umat, dan sakramen, berpotensi menimbulkan bentuk spiritualitas yang menyimpang, yakni keakraban yang bersifat gnostik, hubungan yang tertutup pada diri sendiri dan terpisah dari umat Allah. 33 Oleh karena itu, pemanfaatan media digital dalam liturgi harus tetap menjaga dimensi komunal agar iman tidak terfragmentasi dan tetap berakar pada pengalaman bersama umat Allah. Dalam terang Perjanjian Baru, gereja disebut sebagai Aubait AllahAy . Kor. 3:16. Ef. 2:21-. Artinya, gereja adalah kelanjutan teologis dari rumah Tuhan dalam Mazmur 27. Eklesiologi memandang gereja bukan hanya sebagai lembaga, melainkan komunitas yang dipanggil untuk menjadi tempat kehadiran Allah di dunia. Ketika gereja beribadah, komunitas itu sedang diundang untuk mengalami dan memancarkan kasih Allah kepada dunia. Secara teologis, konsep Aurumah TuhanAy bertransformasi menjadi pemahaman gereja sebagai tempat tinggal Allah di tengah umatNya (Ef. 2:21Ae. Gereja adalah komunitas yang dihidupi oleh relasi antara Allah dan umat. Dalam terang Mazmur 27, gereja bukan semata bangunan, melainkan ruang iman, tempat umat belajar mengenal Allah melalui ibadah, firman, dan persekutuan kasih. Gereja sebagai rumah Tuhan masa kini berarti bahwa ibadah gereja seharusnya menjadi ruang pembentukan iman jemaat, tempat umat belajar mengenal Allah, memperdalam relasi spiritual, dan menghayati kehidupan bersama sebagai tubuh Kristus. Dalam konteks pastoral, hal ini menantang gereja untuk tidak memisahkan liturgi dari kehidupan nyata. Ibadah yang sejati harus menghasilkan buah iman: kasih, kesetiaan, dan solidaritas dalam komunitas. Dalam Mazmur 27:1-6, metafora AuterangAy. AukeselamatanAy, dan AubentengAy bukan sekadar simbol perlindungan, tetapi relasi dinamis antara Allah dan penyembah-Nya, menunjukkan bahwa kehadiran Allah sendiri adalah sumber keberanian dan stabilitas spiritual. Ini menggeser penekanan dari AuAllah yang memberi perlindunganAy menjadi AuAllah yang menjadi perlindungan. Ay Makna Audiam di rumah TuhanAy bukan hanya kerinduan individual untuk beribadah, tetapi sebagai dasar teologi kehadiran umat Allah di tengah bahaya dunia modern, menjadikan ibadah dan komunitas gereja sebagai ruang aman spiritual di tengah tekanan sosial dan mental umat. Implikasi Teologis dan Pastoral Pendekatan liturgis eklesiologis terhadap Mazmur 27:1-6 menegaskan bahwa rumah Tuhan adalah ruang dinamis pembentukan iman, bukan sekadar tempat kegiatan religius. Gereja masa kini dipanggil untuk menjadikan ibadah sebagai ruang hidup yang memulihkan relasi dengan Allah dan Pembentukan iman tidak terjadi melalui pengajaran semata, tetapi melalui pengalaman liturgis yang mengubah hati dan tindakan. Dengan demikian, teologi rumah Tuhan mengandung relevansi kontekstual bagi gereja masa kini: pertama, liturgi harus menumbuhkan keintiman dengan Allah. kedua, persekutuan harus membangun solidaritas komunitas. ketiga, ibadah harus menghasilkan kesaksian iman di tengah dunia. Bagi bangsa Israel, mazmur-mazmur ini sangat cocok digunakan sebagai ungkapan pujian atas pemeliharaan dan perhatian Allah terhadap umat pilihan-Nya. Saat ini, mazmur-mazmur tersebut juga relevan bagi orang Kristen sebagai sarana untuk menyampaikan doa dan pujian, sekaligus menjadi sumber yang berharga untuk memperkaya kehidupan rohani mereka. 34 Mazmur-mazmur memiliki nilai universal dalam konteks ibadah dan kehidupan rohani, karena bagi bangsa Israel, mazmur berfungsi sebagai media ekspresi pujian atas pemeliharaan dan perhatian Allah terhadap umat pilihan-Nya. Fungsi ini tidak terbatas pada konteks sejarah Israel, tetapi tetap relevan bagi orang Kristen masa kini, yang dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk menyampaikan doa dan Selain itu, mazmur juga menjadi sumber yang memperkaya kerohanian, membantu umat menginternalisasi pengalaman rohani dan membangun kedekatan dengan Allah melalui pengakuan, syukur, dan penyembahan yang autentik. Dengan demikian, mazmur berperan sebagai jembatan spiritual lintas zaman, menghubungkan umat dengan Allah melalui ungkapan iman yang konsisten dan hidup. Kitab Mazmur tetap relevan bagi kehidupan umat beriman karena dapat mendorong mereka untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan bertanggung jawab di dunia ini. Kehidupan yang dimaksud harus dijalani secara benar dan bijaksana, dengan pertimbangan akal sehat, sekaligus teguh Sihombing. AuTransformasi Praktik Liturgi Kristen Pascapandemi Covid-19 Melalui Empat Hukum Media Marshall Mcluhan. Ay Sion Saputra and Sofia Margareta. AuPendidikan Bagi Jemaat Awam: Menemukan Makna Puisi Kitab Mazmur,Ay Jurnal Teologi Injili 3, no. : 14Ae24. CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 16 dalam mematuhi tuntunan dan mendapatkan pencerahan dari Taurat Tuhan. 35 Kitab Mazmur tetap relevan bagi umat beriman karena tidak hanya memberikan panduan spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai sumber motivasi praktis untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara bermakna dan bertanggung jawab. Dengan menekankan hidup yang benar dan bijaksana. Mazmur menuntun umat untuk memadukan pertimbangan akal-budi dengan nilai-nilai rohani, sehingga keputusan hidup tidak semata-mata emosional atau reaktif. Selain itu, penekanan pada teguh dalam mematuhi tuntunan dan memperoleh pencerahan dari Taurat Tuhan menegaskan bahwa kehidupan bermakna hanya dapat dicapai melalui keteraturan rohani dan ketaatan kepada firman Allah, sehingga umat beriman dapat mengalami kehidupan yang seimbang antara dimensi manusiawi dan spiritual. Dengan demikian. Mazmur berfungsi sebagai pedoman holistik, membentuk karakter, kebijaksanaan, dan pengambilan keputusan yang selaras dengan kehendak Tuhan. Mazmur pujian, mazmur ratapan, dan mazmur ucapan syukur memberikan bimbingan bagi umat Allah dalam berbagai situasi hidup. Dalam siklus pengalaman hidup dari orientasi, disorientasi, hingga orientasi baru, mazmur-mazmur ini dapat digunakan sebagai sarana untuk mengalami kehadiran Allah secara nyata. 36 Setiap genre mazmur memiliki kekayaan tersendiri yang penting untuk digali dan diterapkan dalam kehidupan umat percaya saat ini, sehingga mereka dapat mengalami Allah dengan cara yang alkitabiah . esuai firman Tuha. , sehat secara manusiawi, dan aktual, menghadirkan pengalaman baru yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap genre mazmur menyajikan kekayaan teologis dan praktis yang unik: mazmur pujian menekankan pengakuan dan pengagungan Allah, mazmur ratapan menyalurkan pergumulan dan kesedihan, sedangkan mazmur ucapan syukur menegaskan rasa syukur dan pemulihan. Dengan mengintegrasikan mazmur-mazmur ini dalam kehidupan sehari-hari, umat Allah dapat mengalami Allah secara alkitabiah . engacu pada firman Tuha. , sehat secara manusiawi . enangani emosi dan psikologi dengan tepa. , dan aktual . engalami realitas hidup secara releva. , sehingga setiap pengalaman hidup menjadi kesempatan untuk pertumbuhan iman dan relasi yang lebih mendalam dengan Allah. Mazmur 27 ini memadukan unsur ratapan . isalnya dalam ayat-ayat yang menyatakan ketakutan terhadap musuh atau ancaman: AuSiapakah yang harus aku takuti?A. dengan unsur pujian dan pengharapan . isalnya keyakinan kepada Tuhan sebagai terang, keselamatan, dan benteng: AuTuhan adalah terangku dan keselamatankuA. Genre ini sering disebut mazmur kepercayaan (Psalm of Trust/Confidence Psal. karena menekankan keyakinan penuh kepada Tuhan meski menghadapi ancaman atau kesulitan. Jadi. Mazmur 27 bukan hanya ratapan atau pujian murni, tetapi kombinasi ratapan, pengakuan, dan pengharapan, fokus pada persekutuan dengan Tuhan dalam menghadapi Mazmur 27 menampilkan rasa syukur pemazmur atas pertolongan dan kemurahan Allah. Allah pantas menerima seluruh ungkapan syukur dari umat-Nya, terutama melalui pujian, sebagai tanggapan atas segala kebaikan-Nya. 37 Mazmur 27 menekankan pentingnya rasa syukur dalam kehidupan rohani umat Allah, karena pemazmur menampilkan pengakuan dan penghargaan atas pertolongan serta kebaikan Allah dalam kehidupannya. Ungkapan syukur ini tidak hanya bersifat internal atau emosional, tetapi diwujudkan secara aktif melalui pujian, yang menjadi bentuk tanggapan yang layak terhadap kebaikan Allah. Dengan demikian. Mazmur 27 mengajarkan bahwa syukur dan pujian merupakan respons yang tepat terhadap kasih dan perlindungan ilahi, sekaligus membentuk sikap hidup yang sadar akan kehadiran dan anugerah Allah dalam setiap aspek Terkait masa depan, muncul pertanyaan apakah pola kebaktian digital akan tetap dipertahankan setelah pandemi berakhir. Hal ini sulit dipastikan. Di satu sisi, model kebaktian digital memperluas jangkauan pelayanan gereja, tetapi di sisi lain dapat mengurangi kedekatan relasi personal Namun, apabila diterapkan sebagai bentuk pelayanan alternatif yang berjalan berdampingan dengan ibadah tatap muka di gereja, model ini memiliki nilai positif. Situasi tersebut mendorong para pendeta dan jemaat untuk menguasai teknologi, sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan, tetapi kini menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Selain itu, durasi kebaktian pun menjadi lebih singkat dibandingkan ibadah konvensional. 38 Kebaktian digital Priyantori Widodo. AuKitab Mazmur: Inspirasinya Bagi Kehidupan Manusia Menyejarah,Ay KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta 3, no. : 172Ae83. Sia Kok Sin. AuMengalami Allah Melalui Kitab Mazmur,Ay Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika Dan Praktika 4, no. : 96Ae131. I Nyoman Mandriasa. AuKitab Mazmur Dan Kehidupan Orang Percaya,Ay Jurnal Teologi Penggerak 5, 1 . : 1Ae25. Dwiraharjo. AuKonstruksi Teologis Gereja Digital: Sebuah Refleksi Biblis Ibadah Online Di Masa Pandemi Covid-19. Ay CopyrightA2025. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 17 sebaiknya dipandang sebagai inovasi pelengkap, bukan pengganti ibadah konvensional, agar gereja tetap dapat menjangkau jemaat luas tanpa kehilangan kualitas relasi komunitas. Era digital tidak menandai berakhirnya spiritualitas Kristen, melainkan menghadirkan ruang baru bagi pewartaan Injil, di mana karya Allah tetap nyata melalui algoritma, jaringan nirkabel, dan media sosial. Gereja yang mampu bersikap reflektif, kreatif, serta berlandaskan pemikiran teologis akan tetap relevan dan efektif dalam merespons tantangan zaman, sambil tetap berpegang teguh pada inti imannya. Yesus Kristus sebagai pusat dari segala sesuatu. 39 Gereja dituntut untuk memiliki kecakapan dalam berbagai bidang serta mampu bersikap fleksibel dalam menjalankan tugas-tugas Fleksibilitas di sini berarti kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai situasi dan konteks tempat gereja berada. Selain itu, gereja perlu memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, bahkan mereka yang berada di luar lingkungan komunitasnya sendiri, serta tidak terpaku pada pola atau cara lama yang sudah tidak relevan. Dalam menghadapi dunia yang terus berubah, gereja harus menyesuaikan bentuk pelayanannya dengan perkembangan yang terjadi, tanpa menggeser tujuan utama dari pelayanannya. 40 Dengan kemampuan beradaptasi ini, gereja mampu menjalankan pelayanan yang efektif sesuai perkembangan zaman tanpa mengorbankan tujuan utama Praktik ibadah dalam bentuk gereja digital tidak bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Di satu pihak, gereja sebagai tubuh Kristus memiliki hakikat yang tidak dibatasi oleh ruang dan Di pihak lain, sepanjang sejarahnya gereja selalu berhadapan dengan dinamika perubahan Oleh karena itu, gereja perlu mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan konteks tanpa kehilangan jati dirinya sebagai tubuh Kristus. 41 Dengan demikian, gereja dapat memanfaatkan inovasi digital untuk pelayanan dan ibadah, asalkan tetap mempertahankan jati diri dan identitasnya sebagai tubuh Kristus. KESIMPULAN Penelitian ini menafsirkan teks bukan sekadar sebagai ekspresi kepercayaan pribadi Daud, tetapi sebagai dasar teologi relasional dan liturgis tentang kehadiran Allah yang menumbuhkan keberanian umat di tengah krisis, mengembangkan makna metafora Auterang, keselamatan, dan bentengAy sebagai simbol transformasi relasi iman yang mengatasi rasa takut manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rumah Tuhan dalam Mazmur 27:1-6 bukan sekadar tempat ibadah fisik, melainkan simbol kehadiran Allah yang membentuk iman umat melalui pengalaman liturgi. Liturgi berperan sebagai media transformasi spiritual, mengubah rasa takut menjadi keyakinan dan menguatkan relasi dari individu menuju komunitas. Oleh karena itu, gereja masa kini dipanggil untuk menjadikan rumah Tuhan sebagai ruang pembentukan iman bersama, memperkuat keintiman umat dengan Allah, serta meneguhkan fungsi ibadah dan persekutuan sebagai sarana pengembangan spiritualitas komunitas di tengah tantangan dunia modern. REFERENSI