Adiguna: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat http://jurnal. id/index. php/adiguna SOSIALISASI BUDAYA POLITIK TERHADAP PEMILIH PEMULA DI MAN 1 LAMPUNG TIMUR Deri Ciciria1. Putut Wisnu Kurniawan2. Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma3. Wayan Satria Jaya4. Ketut Akeh5. Maghrilisa6 STKIP PGRI Bandar Lampung IAIN Metro Lampung cici201528@gmail. com, pututbukan@gmail. com, 3tb. alirachman99@gmail. wayansatriajaya@gmail. com, 5ketutakeh@gmail. com, 6maghrilisa@gmail. Abstrak: Pemahaman budaya politik penting dipahami oleh pemilih pemula yang dominan duduk dibangku kelas XII SMA/ sederajat karena akan membekali siswa di dalam menggunakan aspirasi politiknya pelaksanaan pemilihan umum yang demokratis di Indonesia. Pemahaman budaya politik bagi pemilih pemula merupakan juga merupakan salah satu upaya meregenerasi kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Menyadari pentingnya pemahaman budaya politik bagi pemilih pemula, maka kegiatan sosialisasi ini dilakukan. Adapun tujuannya adalah mengurangi resiko golput dan praktik money politic pada pemilih pemula, mendewasakan mendorong terselenggaranya demokrasi yang baik dan salah satu pencegahan pencegahan politisasi suku dan agama (SARA). Kegiatan pengabdian ini menggunakan metode sosialisasi yang melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi, tanya jawab, dan studi kasus. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah peningkatan pemahaman budaya politik siswa kelas XII MAN 1 Lampung Timur yang merupakan pemilih pemula dalam pemilu 2024. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan nilai uji pre-test dan post-test sebesar 23%. Kata Kunci: Sosialisasi. Budaya Politik. Pemilih Pemula Abstract: Understanding political culture is important for beginner voters who predominantly sit in class XII of high school or equivalent because it will equip students to use their political aspirations in implementing democratic general elections in Indonesia. Understanding political culture for novice voters is also an effort to regenerate democratic life in Indonesia. Realizing the importance of understanding political culture for novice voters, this outreach activity was carried out. The aim is to reduce the risk of abstention and the practice of money politics among novice voters, to encourage the implementation of good democracy and to prevent the politicization of ethnicity and religion (SARA). This service activity uses a socialization method that actively involves students in discussions, questions and answers, and case studies. The result of this service activity is an increase in the understanding of political culture of This is evidenced by the increase in the pre-test and post-test scores of 23%. Keywords: Socialization. Political Culture. New Voters PENDAHULUAN Konsep budaya politik penting dipahami oleh pemilih pemula yang dominan duduk dibangku kelas XII SMA/ membekali siswa di dalam menggunakan aspirasi politiknya sebagai pemilih pemula dalam pelaksanaan pemilihan Sosialisasi Budaya Politik Terhadap Pemilih Pemula di MAN 1 Lampung Timur umum yang berlangsung di Indonesia. Sangat penting membangun pengetahuan dan keterampilan warga negara . ivics knowledge and civics skil. dalam berpolitik sejak awal sekolah dan terus berlanjut selama masa sekolah dalam rangka pembentukan warga negara yang baik dan cerdas . ood & smart citize. (Kusmawati et al. , 2022. Shapiro & Brown, 2. Pengetahuan khususnya dalam konsep budaya politik di Indonesia agar mampu berpikir kritis dalam memahami isu-isu politik tertentu, sejarahnya, relevansinya dimasa kini. Setelah memiliki pengetahuan, pemilih pemula haruslah mempunyai sikap dalam menyalurkan aspirasi politiknya serta mempertanggungjawabkannya, dalam hal memahami fungsi-fungsi dan prosesproses seperti check and balances legislative atau peninjauan ulang hukum . udical rivie. (Lailam, 2. Dengan pemahaman tersebut membantu warga negara termasuk didalamnya adalah para pemilih pemula untuk selalu dapat menyesuaikan diri dengan peristiwaperistiwa yang sedang aktual dalam pola jangka waktu yang lebih lama (Kesuma. Pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)/ sederajat adalah jenjang yang tepat untuk menanamkan nilai nilai pendidikan politik khususnya konsep budaya politik bangsa indonesia. Hal ini dikarenakan pada jenjang SMA/ sederajat khususnya pada kelas XII mayoritas siswa telah mencapai usia 17 tahun dengan perhitungan bahwa anak masuk SD pada usia 5 tahun kemudian masuk SMP pada usia 12 tahun sehingga pada kelas XII SMA/ sederajat mereka genap berusia 17 tahun, yang berarti bahwa siswa tersebut telah menjadi pemilih pemula dalam aspirasinya (Ariyanti et al. , 2. MAN 1 Lampung Timur merupakan salah satu sekolah yang terkemuka di provinsi Lampung. Para siswanya pun tak hanya berasal dari berbagai kabupaten/ kota di provinsi Lampung, bahkan dari luar provinsi. Hal ini terbukti dengan adanya asrama bagi para siswa. Dengan beragamnya asal usul siswa-siswi MAN 1 Lampung Timur mempengaruhi partisipasi politik mereka PEMILU PEMILUKADA. PEMILU Nasional, maupun PEMILU legislatif. Hal ini dikarenakan, walaupun usia mereka telah mencapai 17 tahun namun mereka acuh tak acuh untuk mengurus kartu tanda penduduk (KTP) sebagai prasyarat untuk menjadi pemilih dalam pemilu dengan alasan jauhnya tempat tinggal untuk membuat KTP. Namun banyak juga yang berpendapat bahwa enggan untuk menyalurkan aspirasinya dikarenakan tidak mengetahui alur/tata cara/ prasyarat untuk menjadi pemilih dalam pemilu. Penelaahan terhadap politik di Indonesia harus memperhatikan paranan mempunyai refleksi pada pelembagaan politik dan bahkan pada proses politik. Dengan demikian pembangunan politik diindonesia dapat pula diukur berdasarkan keseimbangan atau harmoni yang dicapai anatara lain oleh budaya politik dengan pelembagaan politik yang ada atau yang akan ada. Konstalasi tentang budaya politik di Indonesia dapat ditelaah melalui beberapa variabel: Konfigurasi sub kultur di Indonesia. Fenomena pluralisme di Indonesia di satu pihak menjadi mozaid dan keindahan tetapi dilain pihak menjadi sumber konflik. Oleh karenanya upaya nation building melalui character building. Budaya politik di Indonesia yang bersifat parockial kaula disatu pihak dan budaya politik partisipan dipihak lain, disatu pihak massa menggunakan hak dan dalam memikul tanggung jawab politiknya yang disebabkan oleh isolasi dari Deri Ciciria. Putut Wisnu Kurniawan. Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma. Wayan Satria Jaya. Ketut Akeh. Maghrilisa Adiguna: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat. Vol. No. 239- 246 sedangkan dilain pihak kaum elitnya dan sekelompok massa lain sungguh-sungguh partisan yang aktif yang kira-kira disebabkan oleh pendidikan. Jadi jelas terlihat bahwa kebudayaan politik Indonesia merupakan Aumixed political cultureAy yang diwarnai oleh besarnya pengaruh kebudayaan parockial kaula. Sifat ikatan primordial yang masih kuat berakar yang dikenal melalui kedaerahan, kesukuan, keagamaan, perbedaan pendekatan terhadap keagamaan tertentu: puritanismedan non puritanisme. Fenomena ini masih kuat terlihat dalam gerrakan kaum elite untuk mengeksploitasi masyarakat dengan menyentuh langsung pada sub kultur tertentu dengan tujuan rekrutmen politik. Kecendrungan indonesia yang masih diwarnai dengan sikap paternalisme dan sifat patrimonial, sebagai indikatornya: bapakisme, asal bapak senang dan lain-lain. Di indonesia budaya politik tipe parochial kaula lebih mempunyai keselarasan untuk tumbuh dengan persepsi masyarakat terhadap obyek politik yang menyadarkan atau merindukan diri pada proses output dari penguasa. Dilema interaksi tentang introduksi . engan segala konsekuensiny. dengan pola-pola yang telah lama berakar sebagai tradisi dalam masyarakat. Yang menjadi persoalan adalah apakah pelembagaan dalam sistem politik indonesia sudah siap menampung proses pertukaran . kedua variabel ini (Kesuma, 2017. Berdasarkan nilai-nilai, informasi dan kecakapan politik yang dimiliki kita dapat digolongkan orientasiorientasi kehidupan politik dan pemerintahannya. Orang yang melibatkan diri dalam kegiatan politik, sekurangnya dalam pemberian suara . dan mencari informasi tentang kehidupan politik dapat dinamakan dengan budaya politik partisipan, sedangkan secara pasif patuh pada pemerintah dan undang-undang dengan tidak ikut pemilu disebut budaya politik subjek. Golongan ketiga adalah orang-orang yang sama sekali tidak menyadari adanya pemerintah dan politik disebut dengan budaya politik parokial. Berdasarkan penggolongan diatas terdapat tiga model dalam kebudayaan Pertama, masyarakat demokratik industrial dengan jumlah partisipan mencapai 40%-60% dari penduduk Dalam sistem ini cukup banyak aktivis politik untuk menjamin adanya kompetisi partai-partai politik dan kehadiran pemberian suara yang besar. Kedua, model sistem otoriter, disini jumlah industrial dan modernis sebagian kecil, meskipun terdapat organisasi politik dan partisipan politik seperti mahasiswa, kaum intelektual dengan tindakan persuasif menentang sistem yang ada, tetapi sebagian besar jumlah rakyat hanya menjadi subjek yang pasif. Yang ketiga adalah sistem demokratis pra-industrial, dalam hanya terdapat sedikit sekali partisipan dan sedikit pula keterlibatannya terhadap pemerintahan. Partisipasi dalam pemilu merupakan tujuan akhir dari konsep budaya politik, oleh akrena itu pemilih pemula perlu dibekali dengan pendidikan politik yang mumpuni agar mampu memaksimalkan partisipasi politik mereka terutama dalam PEMILU demokratisasi warga negara. Selain itu, penguasaan pendidikan politik yang mumpuni sangat berguna untuk mencegah resiko golput dan praktik money politic pada pemilih pemula (Ariyanti et al. Sosialisasi Budaya Politik Terhadap Pemilih Pemula di MAN 1 Lampung Timur terselenggaranya demokrasi yang baik (Ivalerina, 2. dan salah satu pencegahan pencegahan politisasi suku dan agama (SARA) (Priyatna. Hidayat. Eltariant, & Fernanda, 2. Menyadari pentingnya pemahaman budaya politik bagi pemilih pemula, maka kegiatan sosialisasi ini dilakukan untuk membekali siswa kelas XII sebagai pemilih pemua agar mampu berpartisipasi politik dan menyalurkan aspirasinya dengan baik, sehingga meminimalisir PEMILU. METODE Kegiatan pengabdian dengan judul Sosialisasi Budaya Politik Terhadap Pemilih Pemula Di MAN 1 Lampung Timur dilaksanakan pada hari RabuKamis 6-7 September 2023 bertempat di MAN 1 Lampung Timur. Kegiatan ini berlangsung selama @ 7,5 jam di mulai 30 hingga 17. 00 yang diikuti sebanyak 40 peserta. Metode kegiatan pengabdian ini adalah sosialisasi dengan melibatkan tim pengabdian dan siswa secara aktif dalam kegiatan diskusi, tanya jawab, brain stroming, dan studi kasus. Luaran yang ditargetkan dalam kegiatan pengabdian ini adalah adanya peningkatan kesadaran tentang budaya politik terhadap pemilih pemula di MAN 1 Lampung Timur. Disamping itu siswa diharapkan mampu mengaplikasikan nilai-nilai budaya politik dalam ruang lingkup keluarga, bermasyarakat dan Luaran tersebut dapat dilihat dari pemahaman siswa sebelum dan setelah sosialisasi dilakukan. Selain itu, luaran pengabdian ini juga berupa Persiapan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Adapun kegiatan-kegiatan yang pengabdian kepada masyarakat, yaitu: Mengirimkan sekolah untuk menjadi lokasi Diterimanya surat balasan Melakukan konfirmasi kesediaan menjadi pemateri Melakukan studi pustaka tentang materi budaya politik. Melakukan konfirmasi bahan dan alat pendukung pada panitia Melakukan gladi, untuk mengecek Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Hari pertama dilaksanakan pada tanggal 6 september 2023, kegiatan workshop dimulai dari pukul 07. 00 dengan susunan acara: Peserta menempati ruangan Pembukaan sosialisasi oleh kepala sekolah dan Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Penyampaian materi oleh tim pengabdian yaitu: Deri Ciciria. Hum. Putut Wisnu Kurniawan. Pd, dan Dr. Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma. Pd. Metode yang digunakan berupa bervariasi, diskusi, brain storming, tanya jawab, dan studi kasus. Penyuluhan diikuti 40 siswa yang berasal dari kelas XII. Akhir kegiatan ditutup dengan foto bersama pihak penyelenggara. Hari kedua dilaksanakan pada tanggal 7 september 2023, kegiatan workshop dimulai dari pukul 07. 00 dengan susunan acara: Peserta menempati ruangan Brainstorming terhadap pertemuan Kegiatan pelatihan yang di pandu oleh tim pengabdian yaitu Deri Ciciria. Hum. Putut Wisnu Kurniawan. Pd, dan Dr. Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma. Deri Ciciria. Putut Wisnu Kurniawan. Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma. Wayan Satria Jaya. Ketut Akeh. Maghrilisa Adiguna: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat. Vol. No. 239- 246 Metode yang digunakan berupa Kegiatan bersifat teoritis dan praktis dengan melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi, brain storming, tanya jawab, dan studi kasus. Penyuluhan diikuti 40 siswa yang Akhir kegiatan ditutup dengan foto bersama pihak penyelenggara. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan kegiatan pengabdian yang telah dilakukan di hari pertama dan kedua, tim pengabdian memperoleh hasil sebagai berikut: . meningkatnya pemahaman dan kesadaran budaya politik siswa kelas XII MAN 1 Lampung Timur yang merupakan Pemilih Pemula. siswa mampu mengaplikasikan nilai-nilai budaya politik dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berdasarkan hasil yang diperoleh melalui pre test dan post test kegiatan diketahui bahwa siswa mengalami perkembangan pemahaman, sikap dan perilaku budaya politik yang signifikan. Evaluasi kegiatan dapat diketahui melalui nilai pretest dan posttest sebagai berikut: Tabel 2. Hasil pre test dan post test Rata-rata Pretest Rata-rata Posttest Dengan demikian diketahui bahwa terjadi peningkatan pemahaman budaya politik siswa MAN 1 Lampung Timut yang merupakan pemilih pemula sebesar Fenomena pemahaman siswa tentang konsep budaya politik terhadap tingkat aspirasi politik pemilih pemula merupakan gambaran tentang apa yang seharusnya dapat dilakukan seorang siswa sebagai pemilih pemula dalam penguasaan materi budaya politik baik perwujudan konsep, prinsip dan nilai budaya politik dalam lingkungan perasaan dan sikap dimana sistem politik didalamnya sistem tradisi, kenangan sejarah, motif, norma perasaan, dan sistem yang digambarkan dalam orientasi kognitif, afektif dan evaluatif. Hal ditampilkan atau ditunjukan oleh sikap dan perbuatan siswa sebagai bagian dari suatu bangsa/negara yang demokratis, dimana dalam memahami konsep budaya politik tersebut seorang siswa sebagai kemampuan mendeskripsikan pengertian budaya politik, menganalisis tipe-tipe budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia, mendeskripsikan pentingnya sosialisasi pengembangan budaya politik, menampilkan peran serta budaya politik partisipan. Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat, dengan ciriciri yang lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legistimasi, pengaturan partai-partai politik, perilaku aparat Negara, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah. Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial, kehidupan pribadi dan sosial secara luas. Maka budaya politik langsung mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional yang menyangkut pola sumber-sumber Berdasarkan pengalaman selama ini, justru PKn sebagai pendidikan politik masih kurang mendapatkan porsi yang rendah dan diabaikan dalam pembelajaran di persekolahan maupun di pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan itu sendiri. Apabila dewasa ini kita telah sepakat kehidupan demokrasi sangat penting bagi masyarakat madani . ivil societ. Oleh sebab itu pendidikan politik dalam Sosialisasi Budaya Politik Terhadap Pemilih Pemula di MAN 1 Lampung Timur pembelajaran PKn sebagai pendidikan demokrasi mutlak dijalankan dan diperluas di Indonesia. Penelaahan terhadap politik di Indonesia harus memperhatikan paranan mempunyai refleksi pada pelembagaan politik dan bahkan pada proses politik. Dengan demikian pembangunan politik diindonesia dapat pula diukur berdasarkan keseimbangan atau harmoni yang dicapai antara lain oleh budaya politik dengan pelembagaan politik yang ada atau yang akan ada. Dalam demokrasi berpandangan bahwa manusia yang berbeda-beda tersebut pada hakekatnya mempunyai persamaan derajat. Politik dalam demokrasi tidak berpendirian bahwa manusia itu semunya sama, melainkan berbeda satu sama lain, tetapi disamping perbedaannya, manusia sesungguhnya sama derajatnya di depan Tuhan, sama derajat dalam nilainya dan keluhurannya sebagai manusia . ignity of man as human bein. dalam masyarakat, sama kedudukan di dalam hukum, politik dan sebagainya. Oleh sebab itu, setiap warga Negara/ generasi penerus bangsa di negara yang menganut sistem demokrasi dan berada dalam posisi lingkup persekolahan serta telah memiliki hak sebagai pemilih pemula memiliki kesadaran politik dalam hal ini mampu mendeskripsikan budaya politik yang dijalankan di negara indonesia Dengan pemahaman akan budaya politik bangsa sendiri tentu saja akan menumbuhkan aspirasi politik yang positif untuk pembangunan demokrasi berkemanusiaan, berkeadilan sosial, dan memiliki integrasi yang kokoh. Siswa yang mempunyai pemahaman budaya politik yang rendah perlu segera diantisipasi oleh guru mata pelajaran PKn mengingat bahwa materi budaya politik sangat penting bagi siswa yang sebentar lagi akan terjun sebagai warganegara yang ikut serta dalam pesta demokrasi di Indonesia. Pendidikan Politik yang Pendidikan Kewarganegaraan dalam memandang kehidupan politik dari berbagai perspektif budaya yang berbeda dengan budaya yang mereka miliki, dan bersikap positif terhadap perbedaan budaya, ras, dan etnis. Siswa yang mempunyai kesadaran politik pluralis adalah mampu menerapkan keberagaman politik tentang makna kehidupan politik dalam keberagaman, mereka mampu berdampingan dan bertolerensi karena berbeda pandangan politik. Tentu saja hal ini sebagai perwujudan dari demokratisasi Berbhineka Tunggal Ika. Persepsi dan pemahaman soal budaya politik sering memberi arti sebagai peradaban politik . olitical civilizatio. yang digandeng dengan prestasi dalam bidang peradaban dan Oleh karena itu budaya politik merupakan persepsi manusia, pola sikapnya terhadap berbagai masalah politik dan peristiwa politik terbawa pula kedalam pembentukan struktur dan proses kegiatan politik masyarakat maupun Karena itu sistem politik itu merupakan interrelasi antara manusia yang menyangkut soal kekuasaan aturan dan wewenang. Dengan kata lain, setiap negara memiliki type atau corak budaya politik yang berbeda menyesuaikan dengan peradaban bangsanya. Tindakan dan pola perilaku individu sebagai masyarakat dalam suatu negara demokrasi sangat ditentukan oleh pola orientasi umum . ommon orientation pattern. yang nampak secara jelas sebagai cerminan budaya politik. Dengan demikian cerminan budaya politik merupakan alat pembentuk konsep . onceptual too. yang sangat berharga, individu dalam lingkungan politik dengan sistem politik sebagai kesatuan. Budaya Deri Ciciria. Putut Wisnu Kurniawan. Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma. Wayan Satria Jaya. Ketut Akeh. Maghrilisa Adiguna: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat. Vol. No. 239- 246 politik di Indonesia yang bersifat parockial kaula disatu pihak dan budaya politik partisipan dipihak lain, disatu pihak massa masih ketinggalan dalam menggunakan hak dan dalam memikul disebabkan oleh isolasi dari kebudayaan luar, pengaruh penjajahan, feodalisme, bapakisme, ikatan promordial sedangkan dilain pihak kaum elitnya dan sekelompok massa lain sungguh-sungguh merupakan partisan yang aktif yang kira-kira disebabkan oleh pendidikan. Jadi jelas terlihat bahwa kebudayaan politik Indonesia merupakan Aumixed political cultureAy yang diwarnai oleh besarnya pengaruh kebudayaan parockial kaula. Budaya politik dan perilaku politik . olitical behavio. , membentuk suatu rumusan bahwa perilaku politik adalah suatu telaahan mengenai tindakan manusia dalam situasi politik, situasi politik itu sendiri sangat luas cakupannya antara lain respons emosional berupa dukungan atau tuntutan . upply of deman. maupun sikap apatis terhadap pemerintah dan kebijakan publik dan lainlain. Untuk menghindari sikap apatis dari warga negara terhadap pemerintah melalui kebijakan-kebijakan publiknya maka diperlukan suatu sosialisasi politik guna memasyarakatkan segala kebijakan publik yang dibuat pemerintah. Sosialisasi politik dapat dipandang sebagai suatu pewarisan pengetahuan, nilai-nilai, dan pandangan-pandangan politik dari orang tua, guru, dan sarana-sarana sosialisasi yang lainnya kepada warga negara baru dan mereka yang menginjak dewasa Sosialisasi politik juga bermanfaat untuk melestarikan budaya politik yang selama ini diselenggarakan negara, semakin banyak orang yang mengerti dan paham mengenai budaya politil negaranya tentu hal ini berbanding lurus dengan demokratisasi yang tengah digadanggadang selama ini. Tindakan dan pola perilaku individu sangat ditentukan oleh pola orientasi umum . ommon orientation pattern. yang nampak secara jelas sebagai cerminan budaya politik. Dengan demikian cerminan sosialisasi politik merupakan alat pembentuk konsep . onceptual too. budaya politik yang menghubungkan atau mempertemukan lingkungan politik dengan sistem politik sebagai kesatuan. SIMPULAN Kegiatan pengabdian Masyarakat ini disambut dengan baik oleh para sebagai hasil dari kegiatan ini, para siswa kelas XII yang merupakan pemilih pemula memperoleh peningkatan dibarengi dengan kecakapan sikap dan dalam kehidupan dilingkungan publik. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan nilai uji pre-test dan post-test sebesar Dengan demikian, siswa kelas XII MAN 1 Lampung Timur yang merupakan pemilih pemula mampu berpartisipasi politik dengan baik. Kemampuan siswa dalam memahami konsep budaya politik memberikan kontribusi terhadap tingkat aspirasi politik siswa sebagai pemilih Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan siswa dalam memahami konsep budaya politik akan ada kecenderungan tingkat aspirasi politik siswa SMA al-kautsar sebagai pemilih pemula yang baik. DAFTAR PUSTAKA