Risma Nur Arsyah Kompetensi Universitas Balikpapan PENGARUH PROGRAM SEKOLAH ADIWIYATA TERHADAP KECERDASAN SOSIAL EMOSIONAL SISWA KELAS V SD DI KELURAHAN SRENGSENG SAWAH JAKARTA SELATAN Risma Nur Arsyah Universitas Negeri Jakarta pos-el: rismanurarsyah_1107621031@mhs. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana program sekolah adiwiyata berpengaruh terhadap kecerdasan sosial emosional siswa di Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan kerangka teori CASEL (Collaborative for Academic. Social, and Emotional Learnin. sebagai landasan dalam mengukur sosial emosional siswa. Sampel penelitian berjumlah 95 siswa kelas V dari dua SD di Kelurahan Srengseng Sawah. Jakarta Selatan, yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif ex post facto. Teknik pengumpulan data terdiri dari penyebaran kuesioner yang telah diuji kevalidanannya dan reliabel. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan program sekolah adiwiyata dan kecerdasan sosial emosional berpengaruh secara signifikan. Persamaan regresi Y = 22,400 0,892X dengan nilai koefisien determinasi (R. sebesar 41,8% menunjukkan bahwa sebesar 41,8% variasi kecerdasan sosial emosional dipengaruhi oleh program sekolah adiwiyata, sementara 58,2% sisanya dipengaruhi oleh faktor eksternal lainnya yang tidak diukur dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penerapan program ini perlu didukung secara konsisten dan inovatif oleh seluruh warga sekolah dan orang tua. Program ini juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembinaan karakter berbasis lingkungan di sekolah dasar. Kata Kunci: Kecerdasan Sosial Emosional. Program Adiwiyata. Pendidikan Lingkungan ABSTRACT The purpose of this research is to determine how the Adiwiyata school program affects the socialemotional intelligence of elementary school students. This study used the CASEL (Collaborative for Academic. Social, and Emotional Learnin. theoretical framework as a basis for measuring students' social and emotional intelligence. The sample consisted of 95 fifth-grade students from two elementary schools in Srengseng Sawah Village. South Jakarta, selected through simple random sampling technique. This research was conducted using an ex post facto quantitative The data collection technique consists of distributing questionnaires that have been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using simple linear regression. The research results show that the implementation of the Adiwiyata school program and emotional social intelligence has a significant impact. The regression equation Y = 22,400 892X with a coefficient of determination (R. value of 41. 8% indicates that 41. 8% of the variation in social-emotional intelligence is influenced by the Adiwiyata school program, while the remaining 58. 2% is influenced by other external factors not measured in this study. Therefore, the implementation of this program needs to be consistently and innovatively supported by all school members and parents. This program can also be developed as part of character education based on the environment in elementary schools. Keywords: Social Emotional Intelligence. Adiwiyata Program. Environmental Education Vol. No. Desember 2025 Risma Nur Arsyah PENDAHULUAN Era digital dan tantangan global saat ini menuntut generasi muda memiliki kecerdasan yang tidak hanya terbatas pada aspek kognitif, tetapi juga kemampuan sosial emosional yang Fenomena ini menjadi semakin krusial ketika melihat realitas bahwa 80% kesuksesan hidup seseorang ditentukan oleh faktor kecerdasan lain seperti emosional, sosial, spiritual, sementara kecerdasan intelektual hanya berkontribusi 20% (Goleman 2020:. Namun, tradisional yang masih dominan berorientasi pada pencapaian akademik emosional yang justru menjadi prediktor utama kesuksesan jangka panjang. Kondisi ini menciptakan kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dan pengembangan sosial emosional melalui pendekatan inovatif yang holistik dan berkelanjutan. Pendidikan karakter yang menanamkan nilai cinta damai, empati, dan toleransi berperan penting dalam mencegah perilaku negatif seperti bullying serta membentuk kesadaran sosial siswa sekolah dasar sebagai bagian dari kompetensi sosial-emosional anak. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi pendidikan yang menekankan nilai-nilai sosial dapat membantu perkembangan keterampilan emosional dan relasional siswa SD (Apriliani, et al. , 2. Perkembangan sosial emosional anak Indonesia menghadapi tantangan serius yang tercermin dalam data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2024 mencatat 057 kasus pelanggaran hak anak, dengan 679 kasus kategori Perlindungan Khusus Anak (PKA). Di DKI Jakarta pada tahun 2023, distribusi kasus menunjukkan Jakarta Selatan tertinggi . ,5%), perkembangan sosial emosional anak. Vol. No. Desember 2025 Kompetensi Universitas Balikpapan Tantangan ini diperparah oleh dampak negatif teknologi digital, dimana studi Helma dkk. 2:4. membuktikan menyebabkan kesulitan memahami ekspresi emosional, kurangnya empati, dan peningkatan perilaku agresif. Berdasarkan hasil observasi di salah satu SD Negeri di Kelurahan Srengseng Sawah. Jakarta Selatan, ditemukan bahwa siswa kelas V masih mengalami kesulitan dalam mengelola emosi saat bekerja dalam kelompok, kurang menunjukkan tanggung jawab terhadap tugas piket dan perawatan tanaman, serta belum konsisten Hasil wawancara dengan lima siswa juga mengungkap bahwa kegiatan dalam program terkadang terasa membosankan, dan kebiasaan peduli lingkungan belum terbawa ke kehidupan di Hal ini mengindikasikan perlunya langkah lanjutan dari pihak sekolah berupa mendorong keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan lingkungan yang tidak kontekstual, tetapi juga berperan dalam pengembangan kemampuan sosial dan emosional mereka. Kecerdasan sosial dan emosional merupakan dua dimensi yang saling terjalin dalam perkembangan pribadi dan sosial individu, khususnya pada masa kanak-kanak. Kecerdasan merupakan hasil interaksi dinamis dari proses pembelajaran, perilaku, pola hidup manusia, serta hubungan dengan alam atau lingkungan sekitar (Gardner 2013:. Goleman . mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan individu dalam mengelola diri sendiri dan menjalin hubungan sosial yang sehat. Menurut Hurlock . perkembangan sosial adalah proses di mana individu belajar untuk bertindak sesuai dengan tuntutan sosial. Perspektif ini sejalan Risma Nur Arsyah dengan konsep kecerdasan interpersonal Gardner . yang dideskripsikan sebagai kemampuan untuk memahami dan merespons perasaan, motivasi, dan niat orang lain dengan tepat, serta membangun hubungan sosial yang Penelitian Cut Fadhilah dkk. kecerdasan emosional berkontribusi dua kali lebih besar dibanding kecerdasan Hal menegaskan bahwa keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial menjadi kunci bagi individu untuk menjadi unggul secara akademis dan kehidupan dengan lebih baik. Proses ini selaras dengan tahap perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar yang ada pada tahap Industry vs. Inferiority menurut Erikson . 3:232Ae. di mana anak mulai membangun identitas melalui keterampilan dan pekerjaan yang mereka lakukan. Anak juga mulai mengenal struktur sosial dan peran dalam masyarakat, termasuk perbedaan status sosial dan sistem kerja. Kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan menjalin hubungan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab ialah lima kompetensi inti pembelajaran sosial emosional yang diidentifikasi oleh CASEL (Collaborative for Academic. Social, and Emotional Learnin. (CASEL 2. Kompetensi ini menjadi landasan penting dalam membentuk karakter adaptif dan empati siswa di era Kerangka CASEL memberikan mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional dalam konteks pendidikan formal, yang menjadi acuan utama dalam penelitian ini untuk mengukur pengaruh program Sekolah Adiwiyata terhadap pengembangan kecerdasan sosial emosional siswa. Vol. No. Desember 2025 Kompetensi Universitas Balikpapan Dalam hal ini, perkembangan sosial emosional anak dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci, terutama lingkungan keluarga dan sekolah. Pola asuh yang hangat dan suportif mendorong anak untuk lebih aktif dalam merasakan, memahami, dan mengelola Sebaliknya, pola asuh yang otoriter atau mengabaikan kebutuhan emosional anak dapat menghambat emosionalnya (Gao et al. Sekolah juga berperan penting dalam mengembangkan kecerdasan sosial emosional anak melalui konseling. Dengan lingkungan yang mendukung kesempatan anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya, sekolah turut membentuk perkembangan sosial emosional siswa. Program Sekolah Adiwiyata, sebagai kolaborasi Kemendikbudristek dengan Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan, pendekatan holistik dalam pendidikan Berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 53/MENLHK/SETJEN/KUM. 1/9/201 Sekolah Adiwiyata didefinisikan sebagai sekolah yang dianggap berhasil melakukan gerakan lingkungan hidup yang peduli dan berbudaya. Program ini tidak hanya berfokus pelestarian kemampuan sosial emosional melalui kegiatan kolaboratif dan pengambilan keputusan bertanggung jawab. Secara Istilah Adiwiyata berasal dari dua kata dalam bahasa Sanskerta, yakni AuAdiAy dan AuWiyataAy, yang berarti besar, agung, baik, ideal, dan sempurna. Sementara itu. Wiyata berarti tempat atau wadah di mana seseorang memperoleh ilmu pengetahuan, norma, dan moral untuk kehidupan sosial (Widodo and Nurhayati 2022:. Prinsip partisipatif dan berkelanjutan adalah dasar dari program Risma Nur Arsyah adiwiyata (Nasional 2012:. Kedua prinsip ini menjadi dasar untuk pelaksanaan Program Adiwiyata, yang melibatkan seluruh warga sekolah dan dilaksanakan secara terus-menerus. Saat ini. Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) merupakan tindakan kolektif yang dilakukan oleh sekolah untuk menerapkan perilaku yang ramah lingkungan hidup secara sadar, sukarela, berjejaring, dan berkelanjutan. Sebagai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Adiwiyata memiliki tujuan masyarakat, khususnya warga sekolah, tentang pentingnya menjaga lingkungan Melalui berbagai aktivitas berbasis lingkungan, program ini tidak hanya bertujuan untuk menciptakan kebiasaan positif dalam menjaga kelestarian alam, tetapi juga membangun pola pikir dan perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2019 Pasal 7 ayat . , terdapat tiga komponen utama yang menjadi bagian integral dalam mewujudkan sekolah Adiwiyata. Ketiga komponen ini mencakup: . Perencanaan Gerakan PBLHS, . Pelaksanaan PBLHS, . Pemantauan dan Evaluasi Gerakan PBLHS. Dalam penelitian ini, ketiga komponen tersebut akan menjadi fokus untuk menganalisis penerapan Program Sekolah Adiwiyata yang melibatkan partisipasi aktif siswa. Penelitian terdahulu menunjukkan lingkungan dan perkembangan siswa. Tiantian Gao et al. menemukan berkorelasi kuat dengan kecerdasan Rida Farida dkk. Adiwiyata meningkatkan kesadaran lingkungan siswa kelas V secara signifikan dalam Vol. No. Desember 2025 Kompetensi Universitas Balikpapan Muhammad Yusran Rahmat . lebih lanjut mengungkapkan dampak positif 47,9% terhadap sikap peduli lingkungan. Syofnidah Ifrianti dan Ayu Reza . menunjukkan pendidikan karakter yang peduli pengembangan kecerdasan emosional memerlukan kerja sama anatar guru, siswa, dan orang tua. Penelitian Khai The Nguyen hubungan positif antara kecerdasan emosional dan lingkungan belajar terhadap prestasi siswa, dengan faktor kunci meliputi keterampilan sosial, ketekunan usaha, dan kecocokan lingkungan pribadi. Meskipun berbagai penelitian telah mengeksplorasi hubungan antara program lingkungan dan perkembangan siswa, tapi mayoritas studi terdahulu berfokus pada aspek kecerdasan ekologis dan karakter peduli lingkungan siswa tanpa menggali secara mendalam pengaruh program adiwiyata terhadap non-ekologis. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih menekankan pada bagaimana program ini membentuk kesadaran siswa terhadap pelestarian lingkungan dan mendorong perilaku yang mencerminkan kepedulian terhadap alam, namun belum secara spesifik mengkaji bagaimana kegiatankegiatan dalam program adiwiyata dapat menjadi wadah pengembangan lima kompetensi CASEL. Berdasarkan permasalahan dan penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh program Sekolah Adiwiyata terhadap kecerdasan sosial emosional siswa Sekolah Dasar, khususnya pada lima kompetensi CASEL. Hipotesis penelitian ini yaitu: H0 : Tidak terdapat pengaruh yang Sekolah Adiwiyata Risma Nur Arsyah emosional siswa kelas V. Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan program Sekolah Adiwiyata terhadap kecerdasan sosial emosional siswa kelas V. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kuantitatif ex post facto karena berfokus pada penelusuran faktor-faktor terhadap suatu peristiwa yang telah berlangsung (Hikmawati 2020:. Dalam konteks penelitian ini, peneliti menganalisis dampak dari program Adiwiyata yang telah diimplementasikan terhadap kecerdasan sosial emosional siswa, di mana program tersebut telah berjalan secara alami tanpa manipulasi khusus untuk kepentingan penelitian. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD di Kelurahan Srengseng Sawah. Jakarta Selatan yang telah menerapkan program sekolah adiwiyata, dengan populasi siswa kelas V di SDN Srengseng Sawah 11 dan SDN Srengseng Sawah 17 sebanyak 124 Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling melalui pendekatan simple random Besaran sampel ditentukan menggunakan formula Slovin dengan margin error 5%, menghasilkan 95 responden sebagai subjek penelitian. Penelitian ini mengkaji dua variable utama: Variabel independent : Program sekolah adiwiyata diukur melalui komponen/indikator perencanaan, pelaksanaan, dan pemantuan evaluasi gerakan peduli dan berbudaya lingkungan di Pengukuran menggunakan kuesioner persepsi siswa terhadap Variabel dependen : Kecerdasan social emosional diukur berdasarkan lima dimensi framework CASEL: Vol. No. Desember 2025 Kompetensi Universitas Balikpapan kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan bertanggung jawab. Pengukuran menggunakan kuesioner persepsi siswa terhadap respons emosional program Adiwiyata. Teknik pengumpulan data dalam pendekatan, yakni data primer melalui instrumen kuesioner dan data sekunder yang dikumpulkan dengan dokumentasi. Data mengenai skor variabel independen . rogram sekolah Adiwiyat. dan variabel dependen . ecerdasan sosial emosiona. menggunakan kuesioner yang disusun berdasarkan indikatorindikator penelitian dengan skala Likert. Skala ini digunakan untuk mengukukur pandangan, sikap, dan persepsi individu atau kelompok tentang peristiwa dan fenomena sosial (Sugiyono 2023:. Dalam pengumpulan data, peneliti menerapkan kuesioner skala Likert dengan kriteria respon sebagai berikut: Tabel 1. Daftar Skor Instrumen Bobot skor Pilihan Jawaban ( ) (-) Selalu (SL) Sering (SR) Kadang-kadang (KD) Tidak Pernah (TP) Instrumen kuesioner terdiri dengan dua bagian: kuesioner program sekolah Adiwiyata dengan 30 butir pernyataan dan kuesioner kecerdasan sosial emosional dengan 35 butir pernyataan. Kedua instrumen ini diujicobakan kepada 32 siswa kelas V SD yang dipilih secara acak dari satu kelas di SDN Tanjung Barat 09 Pagi Jakarta Selatan. Untuk instrument, dilakukan uji validitas menggunakan teknik korelasi product Risma Nur Arsyah Kompetensi Universitas Balikpapan moment dengan kriteria nilai rhitung > rtabel pada taraf signifikansi 5%. Selanjutnya, uji reliabilitas dilakukan menggunakan koefisien Cronbach's Alpha dengan standar nilai Ou 0,60 untuk menunjukkan konsistensi internal instrumen yang baik. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan dengan bantuan Microsoft Excel dan aplikasi IBM SPSS Statistics versi 30 dengan signifikansi = 0,05 . %). Analisis deskriptif, menggambarkan data sesuai dengan kondisi sebenarnya tanpa membuat generalisasi (Widodo et al. Distribusi normal data dengan kriteria sig. > 0,05 ditentukan melalui uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. Uji linearitas, model dianggap linear apabila nilai sig. untuk linearitas < 0,05 dan nilai signifikansi untuk penyimpangan dari linearitas > 0,05. Uji hipotesis menggunakan analisis regresi linear sederhana, uji t, dan koefisien determinasi (RA) untuk menentukan seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. HASIL DAN PEMBAHASAN Data penelitian diperoleh dari siswa kelas V yang bersekolah di wilayah Kelurahan Srengseng Sawah. Jakarta Selatan yaitu SDN Srengseng Sawah 11 dan SDN Srengseng Sawah Proses pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran instrumen berupa kuesioner ke 95 siswa kelas V secara Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif yang mencakup jumlah responden, skor minimum . , skor maksimum . , ukuran nilai pusat seperti rata-rata . , nilai tengah . , dan nilai yang paling sering muncul . Selain itu, data juga dianalisis berdasarkan ukuran penyebaran seperti jangkauan, varians, dan standar deviasi. Hasil analisis deskriptif dapat dilihat pada table berikut: Tabel 2. Hasil Analisis Deskriptif Program Sekolah Kecerdasan Sosial Adiwiyata Emosional Rata-rata 78,72 92,61 Median Modus Standar Deviasi 7,37 10,17 Varians Sampel 54,33 103,37 Rentang Minimum Maksimum Jumlah Program Sekolah Adiwiyata Hasil analisis deskriptif data program sekolah adiwiyata dengan bantuan perhitungan aplikasi Microsoft Excel didapati skor program sekolah adiwiyata dengan nilai rata-rata . sebesar 78,72, nilai tengah . adalah 78, nilai yang paling sering muncul . adalah 77, standar deviasi adalah 7,37, varians adalah 54,33, rentang adalah 32, skor minimum Vol. No. Desember 2025 adalah 64, skor maksimum adalah 96, dan total skor sebanyak 7467 dengan jumlah responden 95. Distribusi skor program sekolah adiwiyata dapat dilihat pada tabel distribusi frekuensi yang dibagi menjadi 7 kelas dengan panjang kelas yaitu 4. Tabel distribusi frekuensi penerapan program sekolah adiwiyata disajikan sebagai berikut: Risma Nur Arsyah Kompetensi Universitas Balikpapan Tabel 3. Distribusi Frekuensi Program Sekolah Adiwiyata No. Kelas Interval 64 Ae 68 69 Ae 73 74 Ae 78 79 Ae 83 84 Ae 88 89 Ae 93 94 Ae 98 Total Frekuensi Absolut Batas Bawah Hasil penelitian menunjukkan skor rata-rata . program sekolah adiwiyata yang diperoleh berada di kelas ketiga dengan rentang 74 Ae 78 sebanyak 24 siswa dengan frekuensi relatif sebesar Skor yang berada dibawah ratarata kelas satu dengan rentang 64 Ae 68 sebanyak 6 siswa, kelas kedua dengan rentang 69 Ae 73 sebanyak 19 siswa dengan total frekuensi relatif sebesar Grafik distribusi frekuensi program sekolah adiwiyata ditunjukkan di bawah ini: Program Sekolah Adiwiyata Gambar 1. Grafik Distribusi Program Sekolah Adiwiyata Berdasarkan grafik di atas, sebaran data menunjukkan bahwa 25 siswa kelas V memiliki skor di bawah rata-rata: 24 siswa memiliki skor rata-rata dan 46 Vol. No. Desember 2025 Batas Atas Titik Tengah Frekuensi Relatif siswa memiliki skor di atas rata-rata. Data dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Pada pengklasifikasian variable kecerdasan sosial emosional digunakan mean dan standar deviasi (SD) berikut: Tabel 4. Klasifikasi Data Program Sekolah Adiwiyata Kriteria Kategori Frekuensi Persentase A < 71,35 Rendah Sedang 71,35 O A < 86,09 Tinggi A Ou 86,09 Jumlah Berdasarkan deskriptif terhadap data variabel Program Sekolah Adiwiyata, diperoleh nilai rata-rata sebesar 78,72 dan standar 7,37. Dengan menggunakan klasifikasi berdasarkan Mean A 1 SD, responden dikategorikan menjadi tiga kelompok: rendah (< 71,. , sedang . ,35 Ae < 86,. , dan tinggi (Ou 86,. Hal ini menyatakan bahwa sebagian besar siswa kelas V di dua SD tersebut, menilai penerapan Program Adiwiyata berada dalam kategori sedang. Kecerdasan Sosial Emosional Risma Nur Arsyah Hasil analisis deskriptif data kecerdasan sosial emosional yang terlihat pada table 2 didapati skor kecerdasan sosial emosional dengan mean sebesar 92,61, median 92, modus adalah 95, standar deviasi adalah 10,17, varians adalah 103,37, rentang adalah 46, skor minimum adalah 70, skor maksimum adalah 116, dan total skor No. Kompetensi Universitas Balikpapan Distribusi skor kecerdasan sosial emosional dapat dilihat pada tabel distribusi frekuensi kecerdasan sosial emosional yang dibagi menjadi 7 kelas dengan panjang kelas yaitu 6. Tabel distribusi frekuensi kecerdasan sosial emosional ditunjukkan dalam tabel 5 Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kecerdasan Sosial Emosional Frekuensi Batas Titik Kelas Interval Batas Atas Absolut Bawah Tengah 70 - 77 78 - 85 86 - 93 94 - 101 102 - 109 110 - 117 Total Hasil penelitian menunjukkan skor rata-rata . kecerdasan sosial emosional yang diperoleh berada di kelas ketiga dengan rentang 86 Ae 93 sebanyak 23 siswa dengan frekuensi relatif sebesar 24%. Skor yang berada dibawah rata-rata kelas satu dengan rentang 70 Ae 77 sebanyak 7 siswa, kelas kedua dengan rentang 78 Ae 85 sebanyak 18 siswa dengan total frekuensi relatif sebesar 26%. Grafik distribusi frekuensi kecerdasan sosial emosional dapat dilihat di bawah ini: Kecerdasan Sosial Emosional Gambar 2. Grafik Distribusi Kecerdasan Sosial Emosional Sebaran data menunjukkan bahwa 25 siswa kelas V memiliki skor di bawah rata-rata: 23 siswa memiliki skor ratarata dan 47 siswa memiliki skor di atas rata-rata. Data dapat dibagi menjadi tiga Vol. No. Desember 2025 Frekuensi Relatif kategori yaitu rendah, sedang, dan Pada pengklasifikasian variable kecerdasan sosial emosional digunakan mean dan standar deviasi (SD) berikut: Tabel 6. Klasifikasi Data Kecerdasan Sosial Emosional Kriteria Kategori Frekuensi Persentase A < 82,44 Rendah Sedang 82,44 O A < 102,78 A Ou 102,78 Tinggi Jumlah Berdasarkan deskriptif terhadap data kecerdasan sosial emosional siswa kelas V, diperoleh Hasil klasifikasi menunjukkan bahwa 18 siswa . %) berada dalam kategori rendah, 59 siswa . %) berada dalam kategori sedang, dan 18 siswa . %) masuk dalam kategori tinggi. Dengan demikian, mayoritas siswa SD di Kelurahan Srengseng Sawah Jakarta Selatan memiliki tingkat kecerdasan sosial emosional yang tergolong sedang. Berdasarkan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur Risma Nur Arsyah kecerdasan sosial emosional siswa, diperoleh data yang menunjukkan tingkat kecerdasan sosial emosional siswa dalam lima aspek utama. Data ini diolah untuk mendapatkan persentase dari masing-masing aspek yang diukur dalam penelitian, distribusi ini dapat dilihat pada grafik berikut: Gambar 2. Grafik Distribusi Kecerdasan Sosial Emosional Berdasarkan analisis data yang aspek-aspek kecerdasan sosial emosional siswa memiliki persentase yang bervariasi. Aspek keterampilan menjalin hubungan memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar 24,2%, diikuti oleh aspek bertanggung jawab sebesar 23,7%, dan aspek manajemen diri sebesar 23,4%. Sementara itu, aspek kesadaran diri dan kesadaran sosial memiliki persentase yang lebih rendah, masing-masing sebesar 14,5% dan 14,2%. Uji normalitas dan linieritas digunakan sebagai prasyarat dalam pengujian hipotesis melalui analisis regresi sederhana. Uji normalitas menggunakan teknik KolmogorovSmirnov dengan tingkat signifikansi = 0,05. Adapun kriteria pengambilan keputusannya yaitu: jika nilai Dhitung maksimal < nilai Dtabel, maka dapat Vol. No. Desember 2025 Kompetensi Universitas Balikpapan sebaliknya jika Dhitung maksimal > nilai Dtabel, maka data tidak berdistribusi Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Dhitung Variabel N Keterangan nilai Dtabel 95 0,074 < 0,137 Normal 95 0,065 < 0,137 Normal Hasil analisis menunjukkan nilai Dhitung untuk variabel penerapan program sekolah adiwiyata sebesar 0,074 dan kecerdasan sosial emosional sebesar 0,065, keduanya lebih kecil dari Dtabel . Pengujian dengan bantuan software IBM SPSS Statistic 30, menunjukkan nilai Test Statistic sebesar 0,074 dengan nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-taile. sebesar 0,200 yang melebihi batas signifikansi 0,05 atau 0,200 > 0,05. Dengan demikian, data residual berdistribusi normal. Hasil uji linearitas ditampilkan dalam tabel ANOVA yang menunjukkan bahwa nilai P Sig = 0,097 > 0,05 . %) atau Fhitung = 1,484 dan Ftabel dengan dk pembilang 28 dan dk penyebut 65 dan pada taraf kepercayaan . A = 0,05 adalah 1,64 (Fhitung 1,484 < Ftabel 1,. , yang berarti H0 diterima dan H1 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kecerdasan sosial emosional dan penerapan program sekolah adiwiyata bersifat linear. Untuk mengetahui pengaruh program Sekolah Adiwiyata terhadap kecerdasan sosial emosional siswa dilakukan pengujian hipotesis dengan regresi sederhana. Berikut hasil Risma Nur Arsyah Kompetensi Universitas Balikpapan Tabel 8. Hasil Uji Analisis Regresi Linier Sederhana Coefficientsa Model (Constan. Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta Penerapan Program Sekolah Adiwiyata Dependent Variable: Kecerdasan Sosial Emosional Sig. <,001 Model Summaryb Std. Error of the Model R Square Adjusted R Square Estimate Predictors: (Constan. Penerapan Program Sekolah Adiwiyata Dependent Variable: Kecerdasan Sosial Emosional Hasil analisis menunjukkan nilai R2 sebesar 0,418 yang mengindikasikan bahwa program Sekolah Adiwiyata berkontribusi 41,8% . terhadap variasi kecerdasan sosial emosional Artinya, meskipun program Adiwiyata berperan penting, faktor lingkungan keluarga, media digital, dan kultur sekolah masih memiliki pengaruh signifikan terhadap 58,2% variasi yang Persamaan regresi yang terbentuk adalah: Y = 22,400 0,892X, menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu unit program Sekolah Adiwiyata akan meningkatkan kecerdasan sosial emosional sebesar 0,892 satuan. Uji signifikansi menunjukkan nilai t hitung = 8,176 dengan signifikansi <0,001 . < 0,. , sehingga HCA ditolak dan HCA diterima. Dengan demikian, terdapat pengaruh yang signifikan program Sekolah Adiwiyata terhadap kecerdasan sosial emosional siswa kelas V SD di Kelurahan Srengseng Sawah. Jakarta Selatan. Vol. No. Desember 2025 Temuan utama penelitian ini membuktikan secara empiris bahwa program sekolah adiwiyata memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecerdasan sosial emosional siswa. Hasil ini sejalan dengan konsep dasar program adiwiyata yang dikembangkan oleh Tim Adiwiyata Tingkat Nasional. Program tersebut dirancang untuk mendorong dan membangun sekolah yang berbudaya dan peduli lingkungan yang mampu berpartisipasi dan melaksanakan upaya Pembangunan dan pelestarian lingkungan berkelanjutan (Nasional 2. Pendekatan ini diperkuat oleh kerangka CASEL (Collaborative for Academic. Social, and Emotional Learnin. tahun 2020 yang memberikan struktur sistematis untuk pengembangan Keunggulan program Adiwiyata terletak pada kemampuannya mengintegrasikan kelima kompetensi sosial emosional secara simultan, berbeda dengan Risma Nur Arsyah mengajarkan nilai-nilai secara terpisah dan teoritis. Integrasi yang terjadi dalam program Adiwiyata menciptakan sinergi Pengembangan kesadaran diri tentang dampak lingkungan secara natural mengarah pada pengembangan kesadaran sosial yang lebih luas. Kesadaran hubungan interpersonal yang diperlukan untuk berkolaborasi dalam mencari solusi masalah lingkungan. Proses ini kemampuan pengambilan keputusan yang lebih bertanggung jawab, baik terhadap lingkungan maupun terhadap komunitas sosialnya. Majdi . mengungkapkan bahwa implementasi program sekolah ramah lingkungan berkontribusi positif dalam pengembangan sosio-emosional anak usia dasar, yang meliputi kemampuan mengontrol emosi, saling membantu, bekerjasama, bertanggung jawab, responsif terhadap lingkungan, serta meningkatkan kepercayaan diri dan Studi Wang et al . juga mendukung temuan ini dengan menegaskan bahwa iklim sekolah yang meningkatkan keterampilan sosialemosional siswa. Hal ini menunjukkan berbasis lingkungan memiliki potensi universal dalam mengembangkan aspek sosial emosional siswa, tidak terbatas pada konteks budaya atau geografis Menurut Harahap suasana fisik dan psikologis sekolah, termasuk kondisi bangunan, kebersihan, mempengaruhi kesejahteraan emosional Program Adiwiyata secara khusus memperhatikan aspek fisik ini dengan Vol. No. Desember 2025 Kompetensi Universitas Balikpapan menciptakan lingkungan sekolah yang hijau, bersih, dan terorganisir dengan Lingkungan fisik yang kondusif ini tidak hanya mendukung aktivitas program tetapi juga memberikan stimulasi positif bagi perkembangan emosional anak dan menciptakan rasa nyaman yang mendukung proses pembelajaran sosial emosional. Ketika siswa terlibat langsung dalam menciptakan dan memelihara lingkungan sekolah yang indah dan bersih, mereka mengembangkan ikatan emosional terhadap sekolah yang berdampak positif pada motivasi belajar dan keterlibatan sosial. Proses ini secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, ketekunan, dan apresiasi terhadap hasil kerja keras, yang merupakan komponen penting dari kecerdasan emosional. Meskipun adiwiyata memberikan kostribusi yang cukup signifikan, temuan penelitian juga menegaskan bahwa program ini tidak kecerdasan sosial emosional siswa. sekolah harus menciptakan lingkungan pembelajaran yang suportif, responsif, dan melibatkan berbagai pihak untuk mendukung pertumbuhan emosional dan sosial siswa secara menyeluruh (Astuti Oleh karena itu, dukungan dari lingkungan yang lebih luas, termasuk keluarga dan masyarakat, tetap menjadi pengembangan pribadi siswa. Kontribusi sebesar 41,8% yang diberikan oleh program ini menunjukkan perannya yang signifikan namun tidak kecerdasan sosial emosional siswa. Dengan sinergi yang baik antara program sekolah dan faktor-faktor eksternal lainnya, siswa dapat dibekali dengan fondasi yang kuat dalam menghadapi berbagai rintangan di masa depan dan berkembang sebagai individu yang sehat secara sosial dan emosional. Risma Nur Arsyah KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa program sekolah Adiwiyata memberikan emosional siswa kelas V Sekolah Dasar di Kelurahan Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Temuan ini memperkuat konsep lingkungan tidak hanya efektif dalam membangun kesadaran ekologis, tetapi juga dapat mengembangkan kompetensi sosial emosional siswa. Semakin optimal pelaksanaan program Adiwiyata di sekolah, semakin tinggi kecerdasan sosial emosional yang Siswa kesempatan untuk belajar mengelola dan berinteraksi dengan orang lain melalui pengalaman belajar yang nyata dan relevan pada program ini. Meskipun Adiwiyata signifikan, pengembangan kecerdasan sosial emosional tidak dapat bergantung pada satu program sekolah saja. Faktor eksternal lain seperti pola asuh orang tua, lingkungan sekitar, dan faktor internal siswa turut berpengaruh. Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang menunjang perkembangan anak secara DAFTAR PUSTAKA