Vol. No. Mei 2024, hal, 28-34 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol1. Iss1. Penyuluhan untuk Meningkatkan Bacaan Al-QurAoan Melalui Program Kaderisasi Al-QurAoan di Masjid Nurul Hidayah Rizky Agung Sanjaya. Reno Aji Prayitno. Farid Farid. 1,2,. Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. Indonesia Info Artikel Kata kunci : Al-QurAoan Tajwid Kaderisasi Email Koresponden : rizkyagungsanjaya@gmail. babayanza17@gmail. albatoti@stai-ali. ABSTRAK KKN dilaksanakan di Desa Planjan. Kecamatan Saptosari. Gunung Kidul. Adapun tempat yang penulis fokuskan untuk jurnal ini ialah di Masjid Nurul Hidayah yang berada di Dusun Blimbing. Penulis memilih judul Penyuluhan untuk Meningkatkan Bacaan Al Quran melalui Program Kaderisasi Al Quran di Masjid Nurul Hidayah karena mengingat kualitas TPA di Desa Planjan ini sangat memprihatikan, terutama kualitas pengajar dalam setiap TPA di Desa Planjan. Banyak pengajar TPA yang kurang benar dalam membaca Al-Qur'an serta kurang mengetahui hukum setiap kaedah tajwid dan fashohahnya. Maka dari itu dalam salah satu program KKN ini penulis mengadakan Program Kaderisasi Al-Qur'an agar pengajar semakin baik dalam ilmu tajwidnya serta dapat melanjutkan estafet dakwah dalam mengajarkan Al-Qur'an. Metode yang digunakan dalam program ini yaitu dengan mengajarkan peserta secara perlahan kaedah tajwid yang sesuai dengan buku "Metode Tajwid Imam Syafi'i". Kemudian peserta mempraktekkan setiap kaedah tajwid beserta fashohahnya dengan baik dan benar. Hasil dari program ini ialah peserta aktif dalam setiap kegiatan, sehingga hampir seluruh peserta dapat membaca AlQur'an dengan benar dan mengetahui setiap kaedah tajwid dan fashohahnya. Penulis mengharapkan agar estafet dakwah dalam mengajarkan Al-Qur'an dapat berjalan secara terus-menerus, sehingga kegiatan TPA dapat berlangsung dengan baik. PENDAHULUAN Al-Qur'an dianggap sebagai panduan utama bagi seorang Muslim, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Setiap individu memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap kitab suci ini, yang mencakup pembelajaran dan penyebaran ajaran Al-Qur'an. Tugas mulia ini mencakup proses belajar dan mengajar Al-Qur'an. Menyelami isi Al-Qur'an merupakan kewajiban utama setiap Muslim, dan sebaiknya dimulai sejak usia dini, idealnya pada usia 5 atau 6 tahun, mengingat pada usia 7 tahun anak diwajibkan untuk menjalankan ibadah sembahyang. (Alfianto, 2. Membaca Al-Qur'an membutuhkan keahlian khusus yang berbeda dengan percakapan seharihari. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, disarankan untuk mempelajari ilmu tajwid guna memahami tulisan suci dengan benar. Para ulama sepakat bahwa membaca Al-Qur'an harus menggunakan metode tajwid, dan hukum mempelajari ilmu tajwid dianggap sebagai fardhu 'ain . ewajiban individ. (Periong, 2. Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan kegiatan pendidikan tingkat perguruan tinggi yang menggabungkan pelaksanaan tiga fungsi utama perguruan tinggi . endidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyaraka. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar dan kerja kepada mahasiswa dalam konteks pembangunan masyarakat, menjadi sarana untuk mengaplikasikan serta Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Rizky Agung Sanjaya. Reno Aji Prayitno. Farid Farid mengembangkan ilmu di luar lingkungan kampus. Kegiatan KKN dilakukan di lokasi di luar kampus dengan mengikuti mekanisme kerja dan persyaratan tertentu. Program KKN dilaksanakan di Desa Planjan. Kecamatan Saptosari. Gunung Kidul, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan keagamaan yang teratur dan berkelanjutan. Walaupun mayoritas penduduk Desa Planjan beragama Islam, sebagian besar dari mereka tidak aktif dalam ibadah, seperti shalat berjamaah di masjid atau mengikuti pembelajaran Al-Qur'an. Seakan-akan mereka hanya memeluk Islam formalitas saja. Meskipun terdapat kegiatan TPA di Desa Planjan, namun hanya dilakukan sepekan dua kali, dengan pengajar yang tidak sepenuhnya kompeten, kebanyakan di antaranya hanya siswa SMA. Aspek keagamaan kurang ditekankan saat pembelajaran Al Quran berlangsung dan sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam mengenali huruf-huruf hijaiyah, meskipun mereka sudah mencapai tingkatan Iqra yang lebih tinggi, termasuk Iqra 5 dan 6. Bahkan, sebagian besar dari mereka belum menghafal surat Al-Fatihah, yang seharusnya menjadi bacaan wajib dalam setiap sholat. Program Kuliah Kerja Nyata ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan membaca Al-Quran melalui penerapan Ilmu Tajwid. Fokusnya adalah memberikan pengetahuan serta pelatihan mengenai metode bacaan Al-Quran yang tepat. Selama program, kelompok memberikan penjelasan mendalam mengenai Ilmu Tajwid dan memberikan panduan praktis untuk membaca AlQuran dengan benar. Sebagai tambahan, kelompok juga menyajikan tiga pertanyaan terkait materi untuk memperdalam pemahaman peserta. Penulis berupaya untuk memperbaiki kondisi TPA yang sangat memprihatinkan ini, dimulai dengan penguatan aqidah, peningkatan doa, dan yang terpenting adalah perbaikan bacaan Iqra dan Al-Qur'an mereka. Mengingat kondisi TPA yang belum membaik, penulis juga berusaha mencari individu yang dapat menjadi penerus dalam menyebarkan dakwah. Para pengajar TPA dan beberapa siswa yang memiliki potensi dilatih agar dapat melanjutkan estafet dakwah ini untuk selamanya. Program ini diberi nama "Kaderisasi Al-Qur'an" dan difokuskan pada perbaikan bacaan Al-Qur'an, baik dari segi tajwid secara menyeluruh maupun fashohah. Harapannya, melalui program ini, masyarakat dapat meneruskan estafet dakwah secara berkesinambungan. Lokasi pelaksanaan Kaderisasi Al-Qur'an mencakup tiga masjid yang terletak di dusun-dusun berbeda, yaitu Masjid Al-Barokah di Dusun Sumber. Masjid Muhammad Ismail di Dusun Klepu, dan Masjid Nurul Hidayah di Dusun Blimbing. Meskipun program ini dijalankan di tiga masjid, penulis memfokuskan upaya pada Masjid Nurul Hidayah karena kegiatan keagamaan di sana terbilang kuat, dengan jamaah yang bersemangat dalam setiap kegiatan keagamaan, sehingga diharapkan estafet dakwah ini dapat berjalan dengan baik. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penyuluhan Untuk Meningkatkan Bacaan Al-QurAoan MelaluiA METODE PENGABDIAN Kegiatan yang dijalankan bertujuan untuk memberikan penyuluhan guna meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an melalui program Kaderisasi Al-Qur'an di Masjid Nurul Hidayah. Pelaksanaannya dilakukan di Masjid Nurul Hidayah di Dusun Blimbing, melibatkan dua pengajar dan lima siswa. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai Mengadakan musyawarah untuk membahas prosedur pelaksanaan Kaderisasi Al-Qur'an. Memulai kegiatan dengan membagi siswa menjadi dua kelompok . dan menggunakan buku "Metode Tajwid Imam Syafi'i". Selanjutnya, mengajarkan peserta tentang tajwid dan fashohah secara bertahap. Peserta melakukan praktik ilmu tajwid dan fashohah yang telah diajarkan oleh pengajar. Hal ini mencakup menyebut setiap huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhrajnya dan membaca surat-surat pendek dengan mengikuti kaedah tajwid dan fashohah yang benar. HASIL DAN PEMBAHASAN Membaca Al-Qur'an tidak terlepas dari ilmu tajwid, yang merupakan ilmu utama yang wajib dikuasai oleh setiap Muslim. Ilmu tajwid ini membahas cara membaca Al-Qur'an dengan akurat, termasuk mengeluarkan bunyi huruf dari tempat asalnya . , sesuai dengan karakter bunyi . , dan memahami konsekuensi dari sifat yang dimiliki oleh huruf tersebut. Selain itu, ilmu tajwid juga mencakup pengetahuan tentang tempat berhenti . dan memulai bacaan kembali . btida'). Tujuan dari ilmu tajwid adalah agar umat Islam bisa membaca AlQur'an sesuai dengan bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, sejalan dengan penurunan Al-Qur'an. (Sholikhah, 2. Pentingnya pemahaman terhadap Al-Qur'an melibatkan kemampuan membaca yang benar, dan tanpa pemahaman ini, seorang Muslim dapat mengalami kesulitan dan membuat banyak kesalahan saat membaca Al-Qur'an. Oleh karena itu, pemahaman tentang ilmu tajwid menjadi suatu keharusan untuk menghindari kesulitan dan kesalahan. Generasi umat Islam secara mandiri terus mewarisi dan mempelajari ilmu tajwid dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Alfianto, 2. Kenyataannya, masih banyak kesulitan di masyarakat dalam membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar, bahkan terdapat banyak yang belum menguasai huruf-huruf Al-Qur'an. Menurut Ustadz Achmad Farid Hasan, sekitar 54% umat Islam Indonesia buta huruf Al-Qur'an, dan riset PTIQ Jakarta menyebutkan sekitar 60-70% tidak bisa membaca Al-Qur'an. Faktor ini disebabkan kurangnya metode pembelajaran yang cepat dan mudah, sehingga banyak yang malas untuk belajar. (Purnamasari, 2. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Rizky Agung Sanjaya. Reno Aji Prayitno. Farid Farid Pentingnya memberikan pendidikan dan pengajaran Al-Qur'an sejak dini kepada anak-anak diakui untuk mendukung perkembangan jiwa sesuai dengan nilai-nilai Islam(Ismail, 2. Oleh karena itu, perlu peningkatan pemahaman oleh seluruh umat Islam. Ilmu tajwid, sebagai ilmu penting dalam membaca Al-Qur'an, menjadi kunci agar umat Islam dapat membaca Kitabullah dengan benar dan minim kesalahan. Untuk itu, pemahaman ilmu tajwid harus dipelajari dengan antusiasme, yang diwariskan dari satu generasi Muslim ke generasi berikutnya. Belajar Al-Qur'an merupakan tanggung jawab setiap Muslim, begitu juga dengan kewajiban untuk mengajarkannya. Memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mempelajari Al-Qur'an sejak usia dini merupakan tugas orang tua mereka masing-masing. Pendidikan dan pengajaran AlQur'an kepada anak-anak Muslim sejak dini diharapkan dapat mendukung perkembangan jiwa sesuai dengan nilai-nilai Islam, dengan tujuan membentuk kepribadian Muslim yang diharapkan. Evaluasi keberhasilan pembelajaran tajwid atau bidang pembelajaran lain dapat dilakukan dengan memperhatikan perubahan dan kemajuan setelah proses belajar-mengajar. Keberhasilan seseorang dalam belajar dapat terlihat dengan jelas setelah selesai kegiatan belajar-mengajar. Jika seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih baik setelah mendapatkan pembelajaran, itu menunjukkan keberhasilan pembelajaran. Sebaliknya, jika seseorang tetap pada tingkat pengetahuan awal sebelum pembelajaran, maka pembelajaran dianggap tidak berhasil. Berkaitan dengan hal tersebut, sudah menjadi kewajiban umat Muslim untuk mempelajari Al-Qur'an, yang merupakan kitab suci umat Islam. Dalam konteks ini, dibutuhkan lembaga pendidikan Al-Qur'an agar pembelajaran dapat terstruktur dengan baik, seperti TPA atau Program Kaderisasi Al-Qur'an yang menjadi fokus tulisan ini. Program Kaderisasi Al-Qur'an di Masjid Nurul Hidayah diadakan seminggu sekali, pada hari Senin malam, selama penulis menjalankan KKN. Alhamdulillah, program ini sudah berjalan sebanyak tiga kali. Untuk mengevaluasi keberhasilan program, penulis memperhatikan sejauh mana kemampuan peserta dalam menguasai ilmu tajwid dan fashohah. Perkembangan tersebut dapat diamati dari perubahan kualitas peserta dalam membaca AlQur'an dan memahami kaedah tajwid sebelum dan setelah mengikuti Program Kaderisasi Al-Qur'an. Dalam kurang waktu 3 pertemuan kualitas peserta dalam membaca Al-Qur'an dan memahami tajwid semakin meningkat. Beberapa hal yang dapat dicatat meliputi: Di awal pelaksanaan program, 50% peserta menyadari kesalahan dalam membaca Al-Qur'an. Tetapi saat ini, peserta sudah memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an dengan benar dan memahami tajwid serta fashohahnya dengan baik. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penyuluhan Untuk Meningkatkan Bacaan Al-QurAoan MelaluiA Sebanyak 80% peserta terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan Program Kaderisasi Al-Qur'an, tercermin dari partisipasi mereka dalam mendengarkan dan mengaplikasikan setiap prinsip tajwid dan fashohah. 80% peserta siap untuk mengajar siswa TPA dengan mematuhi prinsip tajwid dan fashohah yang GAMBAR Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Rizky Agung Sanjaya. Reno Aji Prayitno. Farid Farid Gambar 1,2,3 : Program Kaderisasi Al-Quran di Masjid Nurul Hidayah. Dusun Blimbing KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Setelah mengimplementasikan Program Kaderisasi Al-Qur'an, dapat disimpulkan bahwa peserta berhasil mengidentifikasi kesalahan-kesalahan dalam membaca Al-Qur'an yang mereka lakukan sebelum pelaksanaan program. Lebih dari sekadar mengenali kesalahan, peserta juga berhasil melakukan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan tersebut dan memahami secara mendalam hukum kaedah tajwid beserta fashohahnya. Dengan demikian, terlihat peningkatan signifikan dalam kualitas peserta dalam membaca Al-Qur'an dan memahami tajwid. Tidak hanya itu, peserta Program Kaderisasi Al-Qur'an juga menunjukkan kesiapan untuk menyampaikan ilmu Al-Qur'an dengan mematuhi kaedah tajwid dan fashohahnya kepada siswa-siswa TPA. Hal ini menunjukkan dampak positif dari program dalam menyiapkan peserta sebagai agen perubahan yang dapat melanjutkan estafet dakwah Al-Qur'an. Keberhasilan peserta dalam memahami dan mengajarkan Al-Qur'an memberikan harapan bahwa program ini dapat berjalan secara Penulis berharap agar Program Kaderisasi Al-Qur'an dapat terus berlangsung secara konsisten, sehingga kontribusi positifnya terhadap peningkatan kualitas kegiatan TPA dapat terus Melalui upaya ini, diharapkan masyarakat dapat melanjutkan estafet dakwah Al-Qur'an dengan semangat dan pengetahuan yang lebih baik, menciptakan dampak positif dalam pendidikan agama di komunitas setempat. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Penyuluhan Untuk Meningkatkan Bacaan Al-QurAoan MelaluiA DAFTAR PUSTAKA / REFERENCES