ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 17 No. 1, 29 Mei 2022 PARTISIPASI PETANI DALAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU TANAMAN PADI (Oryza sativa L. ) DI KECAMATAN JAMANIS KABUPATEN TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT Partisipasi Petani dalam Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Padi (Oryza Sativa L. ) di Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat Ubaidillah Hamzah1*. Achdiyat2 Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan Program Studi Teknologi Mekanisasi Pertanian Jurusan Pertanian Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor *Email: ubaidillahh. hmzh@gmail. ABSTRACT This study aims to describe farmer participation and analyze factors related to farmer participation in integrated pest control of rice (Oryza sativa L. The research was conducted in Jamanis District. Tasikmalaya Regency. West Java Province. Data analysis using descriptive analysis and chi-square. The measurement method uses a Likert modification. Primary data was generated by questionnaire with a research sample of 77 respondents. The independent variables consist of internal factors . ge, education, farm area, farming experience, farmer motivatio. and external factors . ole of extension workers to farmer group function. The dependent variable consists of farmers' participation in decision making, implementation of activities, evaluation, and utilization of activities. The results showed that farmer participation was in the medium category with a percentage of 44. 16%, the low category with 26%, and the high category with 15. Factors that determine farmer participation are the role of extension workers and the function of farmer groups as a vehicle for cooperation. Keywords: farmer participation, integrated pest control, rice plants ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan partisipasi petani dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi (Oryza sativa L. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Data analisis menggunakan analisis deskriptif dan chi square. Metode pengukuran menggunakan modifikasi likert. Data primer dihasilkan dari pengisian kuesioner dengan sampel penelitian sebanyak 77 responden. Variabel independent terdiri dari faktor internal . mur, pendidikan, luas lahan usaha tani, pengalaman berusaha tani, motivasi petan. dan faktor eksternal . eran penyuluh fungsi kelompok tan. Variabel dependent terdiri dari partisipasi petani dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan kegiatan, penilaian evaluasi dan pemanfaatan kegiatan. Hasil penelitian menunjukan partisipasi petani termasuk kedalam kategori sedang dengan presentase 44,16%, kategori rendah 40,26% dan kategori tinggi 15,58%. Faktor yang menjadi penentu partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu adalah peran penyuluh dan fungsi kelompok tani sebagai wahana kerjasama. Kata Kunci: partisipasi petani, pengendalian hama terpadu, tanaman padi Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 17 No. 1, 29 Mei 2022 PENDAHULUAN Kabupaten Tasikmalaya merupakan menyumbang dalam peningkatan jumlah produksi padi di Jawa Barat, tercatat luas panen tahun 2019 yaitu 130. 429 hektar padi dengan produksi 895. 134 ton (BPS Kabupaten Tasikmalaya Produktivitas padi di Kecamatan Jamanis, tercatat luas baku tanah sawah tahun 2020 mencapai 822 hektar dengan ratarata produktivitas sebesar 70,04 kw/ha (Programa. Salah permasalahan yang dapat menghambat pencapaian produktivitas tanaman padi (Oryza sativa L. ) yaitu serangan hama mampu menurunkan produksi antara 5-20%, sedangkan pengendalian OPT di Kecamatan Jamanis masih sekitar 50% (Programa, 2. Pada dasarnya Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sudah dikenali petani melalui program SL-PHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpad. , sehingga seharusnya petani dapat menerapkan pengendalian hama dengan Kajian Dani et al. menyatakan bahwa SL-PHT memberikan dampak positif terhadap penerapan tingkat teknologi PHT padi. Faktanya di lapangan keterlibatan petani dalam keseluruhan menerapkan pengendalian hama terpadu yang diperoleh pada kegiatan SL-PHT. Berdasarkan pengendalian hama dapat dilakukan dan dikerjakan apabila ada dorongan dan bantuan yang menjadi kebiasaan kurang baik bagi petani. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, partisipasi petani sangat dibutuhkan dalam pengendalian hama terpadu secara berkelanjutan. Hal ini merupakan latar belakang penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan partisipasi petani dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu pada tanaman padi (Oryza sativa L. METODE Penelitian dilakukan mulai dari bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2021 di Kecamatan Jamanis. Kabupaten Tasikmalaya. Provinsi Jawa Barat. Metode penarikan sampel yang dilakukan dengan Purposive responden penelitian merupakan anggota kelompok tani yang pernah mengikuti sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SL-PHT) terdiri dari tiga kelompok tani dari tiga desa yaitu Desa Tanjungmekar. Desa Sindangraja dan Desa Geresik dengan jumlah sampel sebanyak 77 responden. Data yang digunakan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan cara: studi pustaka. Instrumen penelitian atau kuesioner yang digunakan telah melalui pengujian yaitu uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dengan menggunakan rumus V Aiken menghasilkan 46 butir pernyataan/pertanyaan valid dan 1 butir pernyataan/pertanyaan yang tidak valid. Data penelitian yang dihasilkan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis Chi Square. Variabel penelitian terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal sebagai variabel independent dan partisipasi petani sebagai variabel dependent. Faktor internal terdiri dari umur, pendidikan, luas lahan usaha tani, pengalaman berusaha tani dan motivasi Faktor eksternal terdiri dari peran penyuluh dan fungsi kelompok tani. Variabel dependent yaitu partisipasi petani terdiri dari keputusan, pelaksanaan kegiatan, penilaian dan evaluasi kegiatan dan pemanfaatan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 17 No. 1, 29 Mei 2022 HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Internal Faktor internal yang terdiri dari umur, pendidikan, luas lahan usaha tani, pengalaman dalam berusaha tani, dan motivasi petani yang terbagi menjadi empat kategori pada setiap faktor. Jumlah responden/petani yang diwawancarai berjumlah 77 orang. Hasil wawancara tersebut dianalisis dengan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1 Faktor Internal Faktor Internal Umur Pendidikan Luas Lahan Usaha Tani Pengalaman Berusaha tani Motivasi Petani Kategori Muda 20-30 tahun Cukup Muda 31-40 tahun Sedang 41-50 tahun Tua 51-60 tahun Jumlah Rendah: SD Cukup : Rendah SMP Sedang : SMA/SMK Tinggi : Perguruan Tinggi Jumlah Sempit 0,1 ha - 0,75 ha Cukup 0,76 ha -1,4 ha Luas 1,5 ha - 2,05 ha Sangat Luas 2,06 ha - 2,7 ha Jumlah Rendah 1-8 tahun Cukup rendah 9-16 tahun Sedang 17-24 tahun Tinggi 25-32 tahun Jumlah Rendah Sedang Tinggi Jumlah Jumlah Persentase(%) 1,30 12,99 35,06 50,65 68,83 24,68 3,90 2,60 81,82 5,19 9,09 3,90 35,06 22,08 19,48 23,38 14,29 58,44 27,27 Sumber: Data primer yang diolah . Umur Umur merupakan salah satu faktor yang mampu mempengaruhi kemampuan, aktivitas fisik dan respon terhadap inovasi atau hal baru. Berdasarkan hasil pengkajian mengenai umur petani di Kecamatan Jamanis sebagian besar memiliki umur antara 51-60 tahun yaitu sebanyak 39 petani atau sekitar 50,65% dari total responden. Umur petani di wilayah tersebut berada pada kelompok umur yang produktif. Umur merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi petani terhadap penyerapan dan pengambilan keputusan dalam menerapkan teknologi informasi maupun inovasi baru pada kegiatan usaha tani di Kecamatan Jamanis (Ayinun dan Indriana, 2. Pendidikan Pendidikan yaitu lama tahun yang ditempuh seseorang dalam mengikuti sekolah formal berdasarkan jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan formal petani yang menjadi SD/sederajat 68,83% sebanyak 53 orang responden tergolong ke dalam kategori Petani responden memiliki kemampuan membaca dan menulis yang menjadi dasar dalam menerima berbagai informasi dan pengetahuan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 17 No. 1, 29 Mei 2022 Rendahnya keluarga yang tidak menunjang, sehingga melanjutkan usaha tani yang menjadi mata pencaharian orang tua. Petani yang memiliki pendidikan tinggi yaitu SMA/SLTA 3,90% sebanyak 3 orang dan perguruan tinggi 2,60% sebanyak 2 orang memiliki pola pikir, pengetahuan, dan wawasan lebih luas, produktivitas tinggi serta memiliki kemauan yang lebih besar untuk menciptakan perubahan kearah yang lebih baik. Sebagaimana pernyataan Listiana . , bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki petani dapat mempengaruhi kemampuan petani dalam mengelola usaha taninya. Luas Lahan Usaha tani Luas lahan merupakan areal yang digarap oleh petani responden dalam kegiatan budidaya. Luas lahan yang dimiliki petani responden di Kecamatan Jamanis berada pada kategori sempit luas lahan antara 0,1-0,75 ha dengan petani responden sebanyak 63 orang atau 81,82%. Pada dasarnya luas lahan yang diusahakan petani dapat mempengaruhi produksi dan produktivitas yang akan dihasilkan oleh Sejalan dengan Putra dan Malia . bahwa lahan merupakan faktor produksi yang memiliki kedudukan yang penting, semakin luas lahan yang diusahakan maka produksi semakin tinggi. Petani yang memiliki luas garapan lahan yang luas 9,09% sebanyak 7 orang dan lahan sangat luas 3,90% sebanyak 3 Semakin luas lahan usaha tani, maka petani akan berusaha untuk meningkatkan pengetahuannya. Putri et al. Pengalaman Berusaha Tani Pengalaman usaha tani merupakan lama tahun petani mulai berusaha tani hingga mempunyai keahlian di bidagnya, pengalaman usaha tani melekat dengan pemahaman secara teoritis dan praktik terutama pegendalian hama terpadu tanaman padi. Petani responden di Kecamatan Jamanis memiliki pengalaman usaha tani 1-8 tahun berjumlah 27 responden atau 35% yang tergolong dalam kategori rendah. Pengalaman bertani penting dalam menentukan keberhasilan usaha tani padi sawah, karena dengan pengalaman petani akan hambatan dan permasalahan usaha tani Mulyati et al. Semakin lama masa kerja seseorang seharusnya keterampilan dan kemampuan meningkat. Mahendra . Petani yang memiliki pengalaman 9-16 tahun sebanyak 17 responden, 17-24 tahun sebanyak 18 responden dan 25-32 tahun sebanyak 15 responden. Motivasi Petani Motivasi petani responden dalam faktor ekonomi dan sosial mayoritas termasuk kategori sedang sebanyak 45 orang atau 58,44%, 21 orang atau 27,27% termasuk kategori tinggi da 11 orang atau 14,29% kategori rendah. Tujuan yang hendak ingin dicapai petani dalam pelaksanaan usaha tani baik dalam segi ekonomi dan sosial dapat terlaksana karana adanya dorongan dari berbagai faktor mendukung. Pada dasarnya petani memiliki keinginan untuk meningkatkan perekonomian, kesehjahteraan masyarakat dan peningkatan produksi. Petani di Kecamatan Jamanis menunjukan petani cukup termotivasi untuk mengikuti pengendalian hama terpadu karena dapat meningkatkan produksi dan produktivitas usaha tani dalam meningkatkan hasil produksi tanaman padi. Menurut Ramadoan et al. apapun motivasi yang mendorong petani untuk masuk menjadi anggota kelompok, termotivasi karena kesadaran sendiri, terpaksa/desakan atau tuntutan orang lain. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 17 No. 1, 29 Mei 2022 Faktor Eksternal Faktor eksternal yang terdiri dari peran penyuluh dan fungsi kelompok tani yang terbagi menjadi empat kategori rendah, sedang, dan tinggi. Hasil presentase ditunjukkan oleh Tabel 2. Tabel 2 Faktor Eksternal Faktor Eksternal Peran penyuluh Fungsi kelompok Kategori Rendah Sedang Tinggi Jumlah Rendah Sedang Tinggi Jumlah Jumlah Presentase(%) 32,47 42,86 24,68 19,48 55,84 24,68 Sumber: Data primer yang diolah . Indikator peran penyuluh responden dengan kategori sedang yaitu 42,86% artinya 33 orang dari 77 responden dan 19 orang atau 24,68% termasuk kategori tinggi, peran penyuluh dalam membangkitkan harapannya, memberikan berbagai informasi terkait usaha tani, membantu anggota kelompok tani dalam melaksanaan proses dan penyuluh sebagai orang yang memiliki ide gagasan tinggi untuk mengatasi permasalahan yang dialami petani sudah dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat mulai tumbuhnya kemampuan para petani dalam mencari dan memanfaatkan informasi serta terciptanya kepercayaan petani kepada penyuluh. Kegiatan rutin dan pembagian tugas penyuluh telah dilaksanakan, namun pada penyelenggaraannya kegiatan penyuluhan untuk memberikan ide/gagasan tidak mampu melakukan kunjungan kepada masing-masing petani. Sehingga peran penyuluh yang termasuk kategori rendah dinyatakan oleh sebanyak 25 orang atau 32,47%. Indikator fungsi kelompok tani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi sebanyak 43 orang dari 77 responden termasuk pada kategori sedang, sehingga kelompok tani sebagai wahana belajar, wahana kerjasama dan unit poduksi dapat memberikan manfaat dan menguntungkan karena antar anggota saling mengenal, belajar, berdiskusi, bekerjasama dalam menyelesaikan permasalah dan mencari informasi serta pengalaman. Partisipasi Petani dalam Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Padi Partisipasi mengendalikan hama terpadu yang terdiri dari kategori rendah, sedang, dan tingi. Hasil presentase ditunjukkan pada Tabel 3. Tabel 3 Presentase Partisipasi Petani Kategori Rendah Sedang Tinggi Jumlah Presentase (%) 40,26 44,16 15,58 Jumlah Sumber: Data primer yang diolah . Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 17 No. 1, 29 Mei 2022 Partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu 44,16% berada pada kategori sedang, karena petani sudah mulai sadar dan memiliki kemauan untuk ikutserta dalam penerapan pengendalian hama terpadu tanaman padi dengan dorongan sesama anggota kelompok tani maupun petugas. Petani responden sebanyak 31 orang 40,26% termasuk kategori rendah, ini disebabkan karena kurangnya keterlibatan dalam mengeluarkan pendapat yang akhirnya mereka menyerahkan keputusan dalam pemecahan masalah usaha tani kepada pengurus kelompok sehingga bersifat pasif. Hal ini bertolak belakang dengan penelitian Maryani et al. bahwa perencanaan partisipastif pada prinsipnya pola yang melibatkan semua pihak terkait atau terlibat dalam proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan tetap mendudukan masyarakat sebagai pelaku utama. Partisipasi petani yang termasuk kedalam kategori tinggi dengan presentase 15,58% sebanyak 12 orang. Secara umum, petani lebih sering ikutserta aktif dalam pelaksanaan kegiatan karena pelaksanaan dianggap yang paling penting dan bisa langsung bisa dirasakan oleh petani. Hasil pengkajian sejalan dengan Putri et al. bahwa kelompok tani sering melakukan pelaksanaan kegiatan karena termasuk bagian terpenting agar tujuan dapat tercapai. Partisipasi dalam evaluasi kegiatan dan pemanfaatan hasil masih dianggap tidak perlu namun, sebenarnya keikutsertaan petani termasuk salah satu bentuk loyalitas anggota dan pengawas kegiatan untuk meningkatkan efektivitas serta pengembangan usaha tani. Kegiatan SL-PHT dilaksanakan petani responden dirasa kurang efektif dan petani lebih cenderung melakukan pengendalian hama secara instan dengan menggunakan pengendalian secara kimia hal ini dianggap mengefektifkan dan mengefisiensinkan waktu dan tenaga. Hubungan Faktor Internal dan Faktor Eksternal dengan Partisipasi Petani dalam Pengendalian Hama Terpadu Umur dengan partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi data menunjukan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,889 > 0,05 dan nilai Chi square hitung sebesar 0,020 < 3,841 Chi square tabel, berarti tidak ada hubungan antara umur dengan partisipasi Hal ini menggambarkan petani yang masih termasuk umur produktif belum tentu mau dan mampu ikut serta dalam pengendalian hama terpadu karena memiliki keterbatasan dan kepentingan lain selain kegitan usaha taninya. Menurut Kurniawan dan Prihtanti . , petani dengan usia masih produktif memiliki pekerjaan sampingan diluar usaha taninya. Pendidikan dengan partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi data menunjukan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 dan nilai Chi square hitung sebesar 1,032 < 3,841 Chi square tabel, berarti tidak ada hubungan antara pendidikan dengan partisipasi petani. Dengan demikian petani menerima kegiatan pengendalian hama terpadu walaupun tingkat pendidikan mereka mayoritas SD/sederjat, mereka mempunyai kesempatan yang sama dalam menerapkan teknologi PHT baik itu dengan tingkat pendidikan tinggi maupun rendah. Luas lahan usaha tani dengan partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi data menunjukan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,507 > 0,05 dan nilai Chi square hitung sebesar 0,222 < 3,841 Chi square tabel, berarti tidak ada hubungan antara luas lahan usaha tani dengan partisipasi Luas lahan yang dimiliki berbedabeda dan relatif sempit, petani belum sepenuhnya menerapkan PHT karena petani lebih mencari solusi yang lebih efektif dari segi tenaga, waktu dan memperkecil kemungkinan kegagalan Sejalan dengan penelitian Farid et . , lahan yang kurang luas dengan sendiri menjadikan petani sangat hati-hati dan selektif untuk menerapkan suatu inovasi baru. Pengalaman berusaha tani dengan partisipasi petani dalam pengendalian Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 17 No. 1, 29 Mei 2022 menunjukan bahwa nilai signifikansi sebesar 1,000 > 0,05 dan nilai Chi square hitung sebesar 0,000 < 3,841 Chi square tabel, berarti tidak ada hubungan antara pengalaman berusaha tani dengan partisipasi petani. Lamanya petani dalam berusatani maka tingkat penerapan pengendalian hama terpadu justru semakin rendah. Karena dalam mengatasi suatu permasalahan yang dihadapi selama berusaha tani dapat diambil dan dipelajari dari pengalaman yang mereka Menurut Listiana pengalaman berusaha tani yang dimiliki petani adalah pengalaman yang didapatkan turun temurun dari orangtuanya sehingga sulit untuk untuk merubah perilaku. Motivasi petani dengan partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi menunjukan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,202 > 0,05 dan nilai Chi square hitung sebesar 1,385 < 3,841 Chi square, berarti tidak ada hubungan antara motivasi dengan partisipasi petani. Hal ini menggambarkan bahwa motivasi petani mengikuti kegiatan pengendalian hama terpadu didasarkan hanya pada peningkatan produksi dalam pemenuhan kebutuhan keluarga bukan karena keinginan untuk memenuhi kepentingan dalam sosial ekonomi masyarakat. Tabel 4 Hubungan Faktor-Faktor Partisipasi Petani Variabel Dependen Varibel Independen Value Sig. Keterangan Umur (X1. 0,020 0,889 Pendidikan (X1. 1,032 0,189 Luas Lahan Usaha tani (X1. 0,222 0,507 Pengalaman Berusaha tani (X1. Motivasi Petani (X1. 0,000 1,000 1,385 0,202 Peran penyuluh (X2. 8,586 0,003 Tidak Berhubungan Tidak Berhubungan Tidak Berhubungan Tidak Berhubungan Tidak Berhubungan Berhubungan 3,219 0,073 2,495 0,114 8,586 14,287 3,297 0,003 0,000 0,069 4,674 0,032 10,874 4,938 0,001 0,026 Partisipasi Petani (Y) Motivator Komunikator Fasilitator Inovator Fungsi Kelompoktani (X2. Kelas Belajar Wahana Kerjasama Unit Produksi Sumber: Data primer yang diolah . Peran dengan partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi menunjukan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,003 < 0,05 dan nilai Chi square hitung sebesar 8,586 > 3,841 Chi square tabel, berarti ada hubungan antara peran penyuluh dengan partisipasi petani. Hal ini menggambarkan peran penyuluh sangat diperlukan dalam upaya pengembangan kemampuan petani, menganalisis permasalahan, memfasilitasi dalam penerapan PHT dan meyakinkan bahwa keikutsertaan petani Tidak Berhubungan Tidak Berhubungan Berhubungan Berhubungan Tidak Berhubungan Tidak Berhubungan Berhubungan Tidak Berhubungan akan memberikan manfaat ekonomis maupun non ekonomis. Peran penyuluh sebagai komunikator dan inovator dapat membantu meningkatkan partisipasi petani. Menurut Anwarudin . , semakin tinggi kinerja penyuluh pendamping maka semakin tinggi pula tingkat partisipasi petani. Fungsi partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi data menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,069 > 0,05 dan nilai Chi square hitung sebesar 3,297 < Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 17 No. 1, 29 Mei 2022 3,841 Chi square tabel, berarti tidak ada hubungan antara fungsi kelompok tani dengan partisipasi petani. Keadaan ini menggambarkan fungsi kelompok tani belum tentu memberikan peningkatakan semangat petani untuk ikut berpartisipasi dalam pengendalian hama terpadu. Tabel 4 menunjukan indikator wahana kerjasama memiliki hubungan dengan partisipasi petani. Kelompok tani pada umumnya berada pada kondisi terbatas, sehingga membutuhkan faktor pendukung yang dapat membantu meningkatkan kapasitas diri agar berdaya. Kemampuan, keterampilan dan sikap anggota dapat mengenai keterlibatan petani dalam pengendalian Maka harus ada interaksi dan hubungan dalam kelompok dan pihak lain sehingga kegiatan kelompok dapat berjalan sesuai dengan rencana serta keberadaan kelompok akan dinamis. Petani yang tergabung dalam anggota kelompok tani memiliki tingkat kebersamaan yang tinggi. Antar anggota kelompok saling mengenal dan bekerjasama dalam menghadapi permasalahan dan kendala yang dihadapi selama usaha tani. Dalam pengendalian hama penyakit tanaman padi petani saling membantu, bekerjasama, bertukar informasi dan ilmu pengetahuan antar anggota kelompok tani baik itu di dalam maupun di luar keanggotaan kelompok tani tersebut. SIMPULAN Partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu didominasi kategori sedang dapat dilihat dari mulai adanya kesadaran dan kemauan untuk ikut serta kegiatan. Rendahnya partisipasi petani karena kurangnya keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan Tingginya partisipasi karena secara umum petani lebih aktif pada pelaksanaan kegiatan pengendalian hama terpadu tanaman padi. Faktor yang berhubungan signifikan terhadap partisipasi petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi adalah peran penyuluh sebagai fasilitator dan inovator serta fungsi Artinya apabila indikator tersebut ditingkatkan maka partisipasi petani akan meningkat. Perlu dilakukan pendekatan lebih intensif untuk mengetahui lebih jauh mengenai keterlibatan petani dalam pengendalian hama terpadu tanaman padi. SARAN