Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 TINDAK TUTUR DIREKTIF MODERATIF DALAM WACANA EDUTALENT. Astuti1. Prayitno2 12Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Surakarta Surakarta. Indonesia 1a310220089@student. id, 2hjp220@ums. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan strategi kebahasaan tindak tutur direktif moderatif dalam wacana Edutalent. id tahun 2025. Direktif moderatif dalam penelitian ini didefinisikan sebagai tindak tutur yang bertujuan memengaruhi tindakan mitra tutur melalui strategi mitigasi linguistik sehingga daya paksa berada pada tingkat rendah hingga moderat dan tidak direalisasikan dalam bentuk perintah langsung yang koersif. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan landasan teori tindak tutur Searle dan teori kesantunan Brown dan Levinson. Data berupa wacana tulis yang dipublikasikan selama JanuariAeDesember 2025, dengan total 19 tuturan yang memenuhi kriteria direktif Analisis dilakukan menggunakan metode padan pragmatik dengan mempertimbangkan konteks institusional dan tujuan komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan tiga bentuk dominan, yaitu ajakan . , saran . , dan harapan . Strategi linguistik yang digunakan meliputi . pronomina inklusif sebagai mitigator solidaritas, . pasif impersonal dan penghilangan agen . gent deletio. , . variasi modalitas deontik bertingkat seperti perlu, hendaknya, dan harus, . nominalisasi dan konstruksi impersonal, serta . bentuk ekspresif dan optatif seperti diharapkan dan semoga. Kombinasi strategi tersebut menunjukkan bahwa daya direktif direalisasikan secara tidak langsung dengan spektrum tekanan yang terukur secara linguistik. Penelitian ini berkontribusi pada kajian pragmatik wacana digital dengan memperjelas mekanisme mitigasi direktif dalam komunikasi institusional berbasis media daring serta menawarkan pemetaan strategi linguistik yang dapat digunakan untuk menganalisis tingkat directive force dalam teks edukatif digital. Kata kunci: Direktif Moderatif. Pragmatik. Tindak Tutur. Wacana Digital Abstract This study aims to describe the forms, functions, and linguistic strategies of moderating directive speech acts in the Edutalent. id discourse in 2025. Moderating directives in this study are defined as speech acts that aim to influence the actions of the interlocutor through linguistic mitigation strategies so that the coercive power is at a low to moderate level and is not realized in the form of direct, coercive commands. The study uses a qualitative descriptive approach based on Searle's speech act theory and Brown and Levinson's politeness theory. The data are in the form of written discourse published during JanuaryAe December 2025, with a total of 19 utterances that meet the criteria for moderating directives. The analysis was carried out using the pragmatic matching method by considering the institutional context and communication objectives. The results of the study show three dominant forms, namely invitations . , suggestions . , and expectations . The linguistic strategies used include . inclusive pronouns as solidarity mitigators, . impersonal passives and agent deletion, . variations of graded deontic modalities such as need, should, and must, . nominalization and impersonal constructions, and . expressive and optative forms such as hope and hopefully. The combination of these strategies shows that directive force is realized indirectly with a linguistically measurable spectrum of pressure. This research contributes to the study of digital discourse pragmatics by clarifying the directive mitigation mechanisms in online media-based institutional communication and offering a mapping of linguistic strategies that can be used to analyze the level of directive force in digital educational texts. Keywords: Moderate Directive. Pragmatics. Speech Acts. Digital Discourse Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 PENDAHULUAN Bahasa dalam komunikasi tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan tindakan sosial. Dalam kajian pragmatik, hal ini dijelaskan melalui teori tindak tutur yang menyatakan bahwa setiap ujaran memiliki tiga aspek, yaitu lokusi, ilokusi, dan perlokusi (Austin, 1. Di antara berbagai jenis ilokusi, tindak tutur direktif merupakan bentuk yang bertujuan mendorong mitra tutur melakukan suatu tindakan (Searle, 1. Direktif dapat berupa perintah, permintaan, saran, atau ajakan. Dalam praktiknya, tidak semua direktif disampaikan secara langsung dan tegas. Dalam konteks komunikasi yang menuntut kesantunan, penutur sering menggunakan bentuk yang lebih halus untuk menjaga hubungan interpersonal. Tuturan yang dihasilkan penutur tidak hanya bersifat representatif, tetapi juga memiliki dimensi ilokusi, yaitu mengandung maksud sosial yang ingin dicapai (Rahardi, 2. Dalam penelitian ini, bentuk tersebut disebut sebagai tindak tutur direktif moderatif. Secara operasional, direktif moderatif merujuk pada tuturan yang bertujuan memengaruhi tindakan mitra tutur melalui strategi mitigasi, seperti penggunaan ajakan inklusif . ari, kit. , modalitas . erlu, sebaikny. , ungkapan harapan . iharapkan, semog. Tindak tutur direktif moderatif juga dapat diartikan sebagai bentuk tindak tutur yang bertujuan memengaruhi mitra tutur agar melakukan suatu tindakan, dengan cara yang tidak memaksa (Ruytenbeek, 2. Strategi ini sejalan dengan konsep kesantunan yang dikemukakan Brown dan Levinson, terutama dalam menjaga muka . mitra tutur, serta prinsip kesantunan Leech yang menekankan pengurangan tekanan dalam Dengan demikian, istilah moderatif dalam penelitian ini tidak sekadar merujuk pada sikap moderat secara ideologis, tetapi pada strategi kebahasaan yang menampilkan pengarahan secara santun, proporsional, dan tidak konfrontatif. Dalam konteks pendidikan digital, strategi direktif moderatif menjadi penting karena komunikasi berlangsung secara tertulis dan ditujukan kepada khalayak luas. Bahasa yang digunakan harus mampu mengarahkan, mengajak, atau memotivasi tanpa menimbulkan kesan otoritatif yang berlebihan. Edutalent. id merupakan portal resmi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang memuat artikel, pengumuman, dan konten edukatif. Dalam berbagai wacananya, ditemukan penggunaan ajakan, saran, dan harapan yang disampaikan secara persuasif dan tidak memaksa. Bentuk-bentuk tuturan tersebut tidak hanya mengarahkan pembaca untuk bertindak, tetapi juga mencerminkan upaya menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan nyaman (Safitri, 2. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena menunjukkan bagaimana institusi pendidikan membangun komunikasi yang edukatif sekaligus menjaga etika berbahasa di ruang digital. Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengkaji tindak tutur direktif dalam berbagai konteks, seperti berita daring, iklan layanan masyarakat, media sosial, dan wacana Waljinah dkk . menemukan bahwa direktif dalam berita online sering disampaikan secara tidak langsung. Lazimi & Nasucha . menunjukkan tindak tutur direktif dalam berita solopos dan implikaisnya dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Safira dkk. mengkaji fungsi direktif dalam majalah remaja pendidikan. Meskipun demikian, penelitianpenelitian tersebut belum secara khusus menyoroti strategi mitigasi direktif dalam media edukasi institusional berbasis digital, terutama yang dikaitkan dengan nilai-nilai komunikasi moderatif dalam lingkungan pendidikan tinggi. Celah inilah yang menjadi dasar dilakukannya penelitian ini. Selain itu, dalam konteks institusi pendidikan Muhammadiyah, praktik komunikasi juga tidak terlepas dari nilai-nilai moderatif seperti keseimbangan . , proporsionalitas . Aotida. , musyawarah . , pembaruan . , keteladanan . , dan tanggung jawab sosial . (Arikarani et al. , 2. Nilai-nilai tersebut dalam penelitian ini dipahami sebagai kerangka etis yang dapat tercermin dalam strategi kebahasaan yang santun, inklusif, dan Dengan demikian, kajian direktif moderatif tidak hanya dianalisis dari sisi pragmatik, tetapi juga dikaitkan dengan orientasi nilai yang hidup dalam konteks kelembagaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah penelitian ini adalah bagaimana bentuk, fungsi, dan strategi kebahasaan tindak tutur direktif moderatif digunakan dalam wacana Edutalent. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis bentuk ajakan, saran, dan harapan yang disampaikan secara moderatif, serta menjelaskan fungsi dan strategi kebahasaan yang Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memperkaya kajian pragmatik, khususnya Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 tentang strategi mitigasi direktif dalam media pendidikan digital. Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan komunikasi edukatif yang santun, partisipatif, dan kontekstual di lingkungan pendidikan tinggi. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan landasan teori pragmatik, khususnya teori tindak tutur Searle. Pendekatan ini dipilih untuk memahami makna tuturan berdasarkan konteks penggunaannya (Waruwu, 2. Data penelitian berupa wacana tulis yang dipublikasikan di Edutalent. id selama periode JanuariAeDesember 2025, meliputi artikel berita, pengumuman, dan konten edukatif. Penelusuran dilakukan terhadap seluruh publikasi pada periode tersebut berdasarkan kategori genre. Unit analisis penelitian ini adalah kalimat yang secara pragmatik mengandung maksud direktif moderatif, sehingga satuan data bukan paragraf atau artikel secara keseluruhan, melainkan tuturan tertentu yang berfungsi mengajak, menyarankan, atau mengarahkan secara tidak langsung. Jumlah artikel dan tuturan yang memenuhi kriteria dicantumkan pada bagian hasil untuk menjaga keterukuran penelitian. Pemilihan data didasarkan pada indikator kebahasaan yang jelas, yaitu penggunaan partikel ajakan . ari, ayo, yu. , modalitas anjuran . ebaiknya, hendaknya, perlu, dapat, disaranka. , bentuk imperatif halus, serta kalimat deklaratif atau interogatif yang bermakna ajakan atau saran. Tuturan yang bersifat perintah langsung dan koersif tidak dimasukkan dalam kategori ini. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi yang dipadukan dengan simak dan catat pada teks tertulis (Azizirrohman et al. , 2. Seluruh artikel yang relevan diunduh dan diarsipkan dengan mencantumkan URL serta tanggal publikasi sebagai dokumentasi korpus. Analisis data menggunakan metode padan pragmatik (Susmita, 2. , yaitu dengan menjadikan konteks sebagai alat penentu makna. Konteks ditetapkan berdasarkan latar institusional Edutalent. id sebagai media resmi FKIP UMS, tujuan publikasi, serta genre wacana. Mitra tutur dipahami sebagai pembaca atau audiens akademik. Data diklasifikasikan berdasarkan bentuk direktif moderatif . jakan, saran, dan harapa. , kemudian dianalisis fungsi komunikatifnya dan dikategorikan ke dalam lingkup nilai moderatif yaitu tawazun, iAotidal, tasamuh, shura, islah, qudwah, dan muwathanah berdasarkan indikator konseptual yang telah dirumuskan (Arikarani et al. , 2. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi teori, pembacaan berulang, diskusi sejawat, serta pencatatan proses penelitian secara sistematis. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk dan Fungsi Tindak Tutur Direktif Moderatif dalam Wacana Edutalent. Secara teoretis, tindak tutur direktif menurut John Searle mencakup berbagai bentuk seperti request, command, advise, recommend, invite, dan warn. Dalam penelitian ini, kategori ajakan, saran, dan harapan digunakan sebagai kategori kerja . orking categorie. yang berbasis pada realisasi kebahasaan dalam data, bukan sebagai klasifikasi teoretis baru. Ketiga kategori tersebut tetap berada dalam payung tindak tutur direktif karena memiliki tujuan ilokusi yang sama, yakni mendorong atau memengaruhi tindakan mitra tutur secara tertentu. Berdasarkan analisis terhadap 19 tuturan yang memenuhi kriteria direktif moderatif dalam wacana Edutalent. id tahun 2025, ditemukan tiga bentuk dominan, yaitu ajakan . , saran . , dan harapan . Klasifikasi dilakukan berdasarkan penanda linguistik dominan dalam masing-masing tuturan. Ketiga bentuk tersebut tidak direalisasikan melalui perintah langsung, melainkan melalui strategi mitigasi sehingga daya direktifnya bersifat tidak koersif. Ajakan Bentuk tindak tutur direktif berupa ajakan dalam wacana Edutalent. id berfungsi mendorong partisipasi pembaca melalui realisasi tidak langsung. Dalam klasifikasi tindak tutur John Searle, ajakan termasuk kategori direktif karena bertujuan membuat mitra tutur melakukan tindakan. Namun, pada data Edutalent. id, ajakan tidak diwujudkan dalam imperatif langsung, melainkan melalui struktur deklaratif aspiratif dan pasif impersonal. Penanda linguistik yang digunakan Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 meliputi verba mental seperti ingin, pronomina inklusif kami dan kita, serta bentuk pasif seperti Pilihan ini menunjukkan dorongan yang persuasif, bukan koersif. Dalam kerangka kesantunan (Brown & Levinson, 1. , pronomina inklusif mencerminkan strategi positive politeness melalui pembangunan solidaritas . laim common groun. , sedangkan pasif impersonal menunjukkan negative politeness karena menghapus agen dan mengurangi tekanan Dengan demikian, bentuk ajakan dalam data merepresentasikan kombinasi strategi kesantunan, bukan semata kesantunan positif. Judul Wacana UMS Torehkan Prestasi. Raih CNN Indonesia Award Pendidikan Islam Berkelas Dunia . -10-2. Tingkatkan Mutu Pendidikan. Kepala Sukoharjo Terapkan Growth Mindset Kepemimpinan . Rektor UMS Ajak PCIM Melbourne Kembangkan Pendidikan Bermutu untuk Semua dan Berkelanjutan Bernilai AIK . Perpustakaan dan Pusat Layanan Digital UMS Gelar Sosialisasi Layanan Pencarian Terintegrasi FIND@UMSLib . Tabel 1. Tabel Bentuk Ajakan Tuturan Konteks Mari kita bersama Tuturan UMS tumbuh dan disampaikan berkembang, tidak Rektor UMS dalam hanya berlari cepat wacana sendiri, tetapi berlari Edutalent. jauh dan melibatkan membahas seluruh elemen untuk universitas Islam pendidikan Islam berkelas dunia. Sudah saatnya Tuturan madrasah disampaikan agen wacana Edutalent. yang yang tidak takut gagal, pengembangan mutu terus belajar, dan pendidikan mampu memimpin madrasah. dengan visi yang UMS menegaskan Tuturan ini muncul hendaknya dalam masa Edutalent. depan menekankan membahas visi dan UMS antara kecerdasan terhadap pendidikan Para peserta diajak Tuturan mencoba disampaikan langsung kegiatan fitur-fitur pencarian. FIND@UMSLib yang Perpustakaan Pusat Layanan Digital UMS. Maksud Mengajak seluruh universitas untuk berkontribusi aktif dalam kemajuan pendidikan Islam Mengajak kepala madrasah untuk berperan sebagai agen perubahan terus belajar. Mengajak akademik untuk pendidikan yang Mengajak peserta FIND@UMSLib. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 UMS Dukung Mahasiswa Asah Kompetensi Global Lewat YALA PESAO Internship -07-2. UMS lainnya ayo kesempatan program internasional serupa, mencoba halhal baru. UMS Dorong Untuk itu, mari kita Pemberdayaan kelola sampah dan Desa jangan sampai kita Kembangkuning Pelatihan permasalahan Pupuk Organik . - sampah lingkungan kita. Tuturan magang internasional di luar negeri. Mengajak mahasiswa UMS pengalaman baru melalui program Tuturan mengedukasi warga pengelolaan sampah dan produksi pupuk organik sebagai solusi ramah lingkungan. Mengajak berpartisipasi aktif dalam mengelola sampah secara Keenam tuturan tersebut menunjukkan variasi strategi ajakan dengan tingkat direktivitas yang berbeda. Data . menggunakan imperatif inklusif mari kita. Partikel mari menandai ajakan eksplisit, sedangkan pronomina kita berfungsi sebagai mitigator solidaritas. Penutur memposisikan diri sebagai bagian dari tindakan, sehingga daya paksa menurun dan strategi ini termasuk positive Data . memakai ekspresi evaluatif Ausudah saatnyaAy. Secara gramatikal berbentuk deklaratif, tetapi secara pragmatik mengandung dorongan normatif. Tidak ada perintah langsung, namun terdapat tekanan moral implisit bahwa perubahan perlu dilakukan. Ini termasuk strategi indirektif dengan daya direktif sedang karena membangun urgensi tanpa bentuk imperatif. Data . menggunakan modalitas anjuran hendaknya. Kata ini merupakan penanda deontik yang lebih lunak daripada harus. Ajakan disampaikan sebagai rekomendasi normatif, bukan kewajiban absolut. Strategi ini cenderung masuk negative politeness, karena memberi ruang pilihan bagi mitra tutur. Data . AuPara peserta diajak untuk mencobay menggunakan pasif impersonal . Strategi pasif ini merupakan bentuk mitigasi yang khas dalam negative politeness karena menghindari konfrontasi langsung antara penutur dan mitra tutur. Verba tindakan mencoba tetap menunjukkan arah tindakan yang jelas, tetapi tekanan personal diminimalkan melalui nominalisasi dan pasivisasi. Data . AuAyo manfaatkan kesempatan program internasional. Ay merealisasikan tindak tutur direktif berbentuk ajakan melalui partikel ajakan ayo dan verba imperatif dasar manfaatkan. Secara gramatikal, struktur ini termasuk imperatif, tetapi kehadiran ayo berfungsi sebagai mitigator yang menggeser nuansa perintah menjadi dorongan kolektif atau motivasional. Data . AuMari kita kelola sampahAAy merupakan imperatif inklusif. Partikel mari adalah penanda ajakan eksplisit, sehingga secara bentuk lebih langsung dibanding data sebelumnya. Namun, pronomina kita berfungsi sebagai mitigator solidaritas, karena penutur ikut terlibat dalam Klausa Aujangan sampaiAAy adalah larangan preventif yang bersifat mitigatif . enghindari akiba. , bukan larangan absolut. Dalam skala strategi direktif, bentuk ini memiliki daya ilokusi moderatif. Secara linguistik, keterkaitan nilai dapat ditelusuri melalui unsur leksikal dan strategi Shura tampak pada penggunaan pronomina inklusif . yang menekankan partisipasi Tawazun terlihat pada leksikon keseimbangan. IAotidal tercermin dalam penggunaan modalitas lunak seperti hendaknya, yang menunjukkan dorongan proporsional. Islah hadir melalui leksikon perubahan seperti menjadi agen perubahan dan pengelolaan lingkungan. Tasamuh tampak pada ajakan mencoba pengalaman baru tanpa tekanan. Qudwah muncul Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 dalam dorongan menjadi agen perubahan sebagai teladan. Muwathanah terefleksi pada ajakan mengelola sampah sebagai tanggung jawab sosial. Dengan variasi bentuk tersebut, ajakan dalam wacana ini memperlihatkan spektrum strategi direktif yang santun, partisipatif, dan tetap terukur secara linguistik, sekaligus selaras dengan orientasi nilai moderatif tanpa kesan Saran Bentuk tindak tutur direktif moderatif berupa saran dalam wacana Edutalent. id berfungsi memberikan arahan atau anjuran dengan cara yang sopan dan rasional. Tuturan ini banyak digunakan dalam konteks pendidikan dan pengembangan profesional, ditandai dengan kata seperti harus, perlu, dan sebaiknya. Meskipun mengandung dorongan untuk bertindak, saran tersebut disampaikan secara halus tanpa kesan memerintah. Pada penelitian ini ditemukan dua bentuk saran yaitu saran dalam bidang pendidikan dan saran dalam bidang sosial. Melalui gaya bahasa yang reflektif dan edukatif, bentuk ini menunjukkan upaya penutur untuk mendorong kesadaran, tanggung jawab, dan inovasi dengan tetap menjaga kesantunan berbahasa. Judul Wacana BP2GTK FKIP UMS dan Kemenag Kabupaten Wonogiri Kolaborasi Kembangkan Kompetensi Guru MTs . -10-2. Pengembangan Materi Ajar Bahasa Indonesia Berbasis Literasi Teknologi Komputasi Global -10-2. Tingkatkan Mutu Pendidikan. Kepala Sukoharjo Terapkan Growth Mindset Kepemimpinan . Tabel Bentuk Saran Tuturan Konteks Transformasi Tuturan ini muncul digital dalam wacana yang membahas kerja sama antara FKIP UMS dan berbasis koding dan Kemenag Wonogiri kecerdasan artifisial untuk perlu kompetensi guru MTs. diterapkan secara kreatif, dengan tetap berlandaskan nilainilai Materi ajar harus Tuturan ini terdapat untuk dalam wacana tentang pengembangan materi keterampilan literasi ajar berbasis literasi peserta didik. komputasi global. Para kepala MI dituntut untuk terus madrasah, sehingga dengan kebutuhan Tuturan ini muncul mengenai peningkatan mutu pendidikan di madrasah, khususnya peran kepala MI dalam menghadapi tantangan pendidikan modern. Maksud Saran agar para digital berbasis artifisial secara Saran guru dan pendidik agar merancang materi ajar yang peserta didik. Saran madrasah agar terus melakukan Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 Judul Wacana Rektor UMS Gandeng Aklan State University Kembangkan Program SEA TEACHER Berdampak . Rektor UMS Gandeng Aklan State University Kembangkan Program SEA TEACHER Berdampak . Tuturan Program ini harus terus dikembangkan lebih luas, sehingga tetapi juga merata. Konteks Tuturan ini terdapat dalam wacana kerja sama antara UMS dan Aklan State University dalam pengembangan Program SEA Teacher. Dengan demikian, dalam Program SEA Teacher semakin berdampak Tuturan ini muncul dalam wacana kerja Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Aklan State University. Mahasiswa penghidupan, dan Tuturan ini disampaikan oleh Rektor UMS dalam kegiatan pembekalan mahasiswa baru di Aklan State University. Filipina. Kegiatan positif dan perlu lebih luas. Tuturan ini muncul dalam wacana kegiatan Karang Taruna mengenai pengelolaan bank sampah sebagai solusi edukatif dan Rektor UMS Prof. Harun Joko Prayitno Bekali 000 Mahasiswa Baru AKLAN STATE UNIVERSITY dengan 7 Skills Pemimpin Global -08-2. Karang Taruna Giatkan Bank Sampah: Dari Kepedulian Jadi Solusi Lingkungan dan Ekonomi . Maksud Saran program tersebut yang ada, tetapi Saran dorongan inovatif terus diperbarui dengan ide dan strategi baru. Saran mahasiswa agar tidak hanya fokus akademik, tetapi berbagai aspek Saran dikenal dan diikuti oleh masyarakat Ketujuh data tersebut menunjukkan pola saran yang direalisasikan melalui modalitas deontik seperti perlu, harus, dituntut, serta struktur deklaratif normatif. Secara gramatikal, tuturan-tuturan ini berbentuk pernyataan, tetapi secara pragmatik mengandung dorongan Berbeda dengan ajakan yang memakai partikel seperti mari atau ayo, bentuk saran di sini lebih banyak menggunakan modalitas dan struktur pasif untuk menjaga jarak interpersonal. Data . menggunakan frasa Ausangat perlu diterapkanAy. Kata perlu merupakan modalitas deontik lunak yang menyatakan kebutuhan, bukan kewajiban absolut. Bentuk pasif diterapkan menghilangkan pelaku, sehingga tekanan personal berkurang. Intensifier sangat memperkuat urgensi, tetapi tetap dalam bingkai rekomendatif. Data . memuat modalitas harus dalam Aumateri ajar harus dirancangAAy. Dibanding perlu, harus memiliki daya obligatif lebih kuat. Namun, verba pasif dirancang tetap menghapus agen, sehingga saran diarahkan pada sistem atau kebijakan, bukan individu tertentu. Data . menggunakan bentuk dituntut untuk terus berinovasi. Kata dituntut menunjukkan tekanan normatif yang bersumber dari standar profesional atau institusional. Karena berbentuk pasif, pihak yang menuntut tidak disebutkan. Ini membuat saran tampak sebagai konsekuensi logis dari tuntutan zaman, bukan instruksi personal. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 Data . kembali memakai modalitas harus dalam Auprogram ini harus terus dikembangkanAAy. Daya direktifnya cukup kuat, tetapi dilembutkan oleh struktur pasif Klausa tujuan Auagar manfaatnya lebih luasAy memberikan alasan rasional, sehingga saran tampak argumentatif. Data . menggunakan nominalisasi dalam frasa Auperlu adanya gebrakan baruAy. Tidak ada subjek personal yang diperintah. Nominalisasi adanya gebrakan membuat saran terdengar impersonal dan objektif. Strategi ini menurunkan kesan memerintah secara langsung. Data . berbunyi Aumahasiswa harus berani menyeimbangkanAAy. Di sini, subjek personal disebutkan secara langsung dan diikuti modalitas harus. Ini meningkatkan daya direktif karena sasaran tindakan jelas. Dibanding data lain, bentuk ini paling mendekati instruksi normatif. Data . memakai frasa Auperlu disosialisasikan lebih luasAy. Seperti data . , modalitas perlu bersifat lunak dan verba pasif disosialisasikan menghilangkan agen. Saran diarahkan pada kebijakan umum, bukan individu tertentu. Secara linguistik, nilai moderatif dapat ditelusuri melalui pilihan modalitas dan leksikon. Tawazun tampak pada penggunaan kata keseimbangan dalam data . IAotidal tercermin dari dominasi modalitas perlu dibanding wajib, sehingga dorongan bersifat proporsional. Islah hadir dalam leksikon perubahan seperti transformasi, berinovasi, dan dikembangkan. Shura tidak muncul melalui pronomina inklusif seperti pada ajakan, tetapi melalui orientasi sistemik yang menyasar kebijakan bersama. Qudwah tercermin dalam tuntutan profesional terhadap kepala madrasah dan mahasiswa sebagai figur teladan. Muwathanah terlihat pada saran terkait bank sampah yang mengarah pada tanggung jawab sosial. Sementara itu, tasamuh tidak muncul secara eksplisit, tetapi dapat tersirat dalam dorongan pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan demikian, bentuk saran dalam data tersebut menunjukkan direktif normatif yang dilembutkan melalui strategi pasif dan nominalisasi. Saran tidak disampaikan sebagai komando personal, melainkan sebagai kebutuhan profesional dan sistemik yang argumentatif serta terukur secara linguistik, sekaligus selaras dengan nilai moderatif tanpa kesan Harapan Bentuk tindak tutur direktif moderatif berupa harapan digunakan untuk menyampaikan keinginan atau dorongan secara halus tanpa memberi tekanan kepada pembaca. Dalam wacana Edutalent. id, bentuk ini berfungsi menumbuhkan semangat, motivasi, dan kesadaran partisipatif terhadap nilai-nilai pendidikan dan sosial. Tuturan dengan kata seperti diharapkan, harapannya, atau semoga menunjukkan nada optimis dan sopan. Dalam penelitian ini bentuk harapan dibagi menjadi dua yaitu, harapan dalam bidang pendidikan dan harapan dalam bidang sosial. Melalui gaya bahasa yang lembut dan reflektif, bentuk harapan ini membantu membangun komunikasi yang positif antara lembaga dan audiensnya. Judul Wacana BP2GTK FKIP UMS Kemenag Kabupaten Wonogiri Kolaborasi Kembangkan Kompetensi Guru MTs . -10-2. Tabel Bentuk Harapan Tuturan Konteks Melalui kegiatan ini. Tuturan ini terdapat diharapkan para guru dalam wacana kerja MTs di Kabupaten sama antara BP2GTK Wonogiri dapat FKIP UMS Kemenag Wonogiri dalam pengembangan pedagogis yang lebih kompetensi guru MTs. Maksud Harapan pedagogis yang relevan dengan Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 Judul Wacana Gebyar SPMB MIM Kertonatan Meriahkan Lomba Mewarnai Pentas Seni . Tuturan Harapannya, kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin anak-anak sejak usia dini. Tingkatkan Mutu Pendidikan. Kepala Sukoharjo Terapkan Growth Mindset Kepemimpinan . Dengan berbagi inovasi dan meningkatkan mutu Sukoharjo. Konteks Tuturan ini muncul kegiatan lomba dan pentas seni di MIM Kertonatan sebagai potensi anak sejak Tuturan ini muncul pendidikan madrasah di Sukoharjo yang pentingnya kolaborasi Tim Mahasiswa PGSD FKIP UMS Raih Gold Medal. Best Poster, dan Juara Harapan 1 Ajang Nusantara Creative Competition Bandung Semoga kemenangan ini menjadi langkah Semoga kemenangan ini menjadi langkah Karang Taruna Giatkan Bank Sampah: Dari Kepedulian Jadi Solusi Lingkungan dan Ekonomi . Dalam Karang Taruna kegiatan ini dapat semakin melibatkan masyarakat luas. Karang Taruna Giatkan Bank Sampah: Dari Kepedulian Jadi Solusi Lingkungan dan Ekonomi . Harapannya, masyarakat tentang pentingnya menjaga Tuturan ini terdapat Karang Taruna yang berfokus bank sampah sebagai Tuturan ini muncul Karang Taruna masyarakat sebagai terhadap lingkungan. Maksud Harapan kegiatan serupa terus dilakukan anak-anak. Harapan setiap madrasah mutu pendidikan secara bersamasama. Harapan tersebut menjadi mahasiswa untuk terus berprestasi dan memberikan Harapan berkembang dan melibatkan lebih dalam aksi peduli Harapan kegiatan serupa dapat diperluas lingkungan guna kesadaran dalam kebersihan dan Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 Keenam data tersebut menunjukkan pola tindak tutur direktif berbentuk harapan yang direalisasikan melalui penanda seperti diharapkan, harapannya, semoga, dan berharap. Secara gramatikal, tuturan-tuturan ini berbentuk deklaratif atau ekspresif, tetapi secara pragmatik tetap mengandung orientasi tindakan. Berbeda dengan saran yang memakai modalitas deontik . erlu, haru. , bentuk harapan menggunakan strategi impersonal dan ekspresi keinginan sehingga daya paksa lebih rendah. Data . menggunakan bentuk pasif impersonal Audiharapkan A dapat mengembangkanAy. Verba pasif diharapkan menghapus agen yang berharap, sehingga tekanan interpersonal Modalitas dapat berfungsi sebagai mitigator karena menyatakan kemungkinan atau kemampuan, bukan kewajiban. Strategi ini menunjukkan negative politeness, sebab tidak ada tuntutan langsung kepada guru. Data . memakai nominalisasi AuharapannyaAy di awal kalimat. Nominalisasi ini menggeser fokus dari subjek personal ke situasi yang diinginkan. Tidak disebutkan siapa yang berharap, sehingga tuturan terdengar lebih objektif. Modalitas dapat kembali menurunkan daya direktif. Ini termasuk bentuk harapan dengan kekuatan rendah. Data . kembali menggunakan pola pasif impersonal Audiharapkan setiap madrasah dapat berbagiAAy. Selain pasif dan modalitas dapat, terdapat frasa pendahuluan Audengan semangat kebersamaanAy yang berfungsi sebagai framing nilai. Data . menggunakan partikel optatif AusemogaAy. Berbeda dari diharapkan, semoga bersifat ekspresif dan biasanya mengarah pada doa atau keinginan baik. Tidak ada subjek yang diperintah dan tidak ada modalitas kewajiban. Oleh karena itu, daya direktifnya paling rendah di antara data lain. Data . berbentuk aktif dengan subjek eksplisit: AuKarang Taruna berharapAAy. Di sini agen harapan disebutkan secara jelas. Namun, verba berharap tetap menunjukkan ekspresi keinginan, bukan tuntutan. Modalitas dapat kembali berfungsi sebagai pelunak. Struktur ini menunjukkan harapan institusional yang tetap moderat. Data . kembali memakai nominalisasi Auharapannya A bisa menumbuhkan kesadaranAy. Modalitas bisa menandakan kemungkinan, bukan keharusan. Fokusnya bukan pada tindakan langsung, melainkan pada hasil jangka panjang . enumbuhkan kesadara. , sehingga daya ilokusinya bersifat persuasif dan aspiratif. Secara linguistik, nilai moderatif tercermin melalui pilihan leksikal dan framing aspiratif. Shura tampak dalam orientasi kolektif seperti Ausetiap madrasah dapat berbagi inovasiAy. Islah terlihat pada harapan peningkatan mutu dan pengembangan kemampuan. Tawazun tercermin dalam dorongan keseimbangan antara inovasi dan kebersamaan. IAotidal hadir melalui penggunaan modalitas dapat dan bisa, yang menunjukkan dorongan proporsional, bukan tuntutan absolut. Tasamuh tersirat dalam semangat berbagi dan kolaborasi. Qudwah muncul ketika institusi seperti Karang Taruna menyampaikan harapan sebagai bentuk tanggung jawab Muwathanah terlihat dalam harapan tumbuhnya kesadaran menjaga lingkungan. Dengan demikian, bentuk harapan dalam data tersebut memperlihatkan direktif dengan daya rendah yang bersifat aspiratif, persuasif, dan tidak konfrontatif. Strategi ini memungkinkan pesan normatif disampaikan secara santun sekaligus tetap mengarahkan tindakan dalam kerangka nilai Strategi Kebahasaan dalam Penyampaian Tindak Tutur Direktif Moderatif pada Wacana Edutalent. Berdasarkan analisis terhadap 19 data wacana Edutalent. id tahun 2025, strategi kebahasaan dalam penyampaian tindak tutur direktif moderatif tidak dapat direduksi hanya pada kategori umum Autidak langsungAy dan Aukata sopanAy. Data menunjukkan adanya mekanisme linguistik yang lebih spesifik dan terukur, yaitu penggunaan pronomina inklusif, pasif impersonal dan penghilangan agen . gent deletio. , variasi modalitas deontik bertingkat, nominalisasi impersonal, serta bentuk ekspresif atau optatif yang berfungsi sebagai direktif. Strategi-strategi tersebut bekerja pada tataran morfosintaksis dan leksikal secara simultan, sehingga Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 menghasilkan directive force yang relatif rendah hingga moderat tanpa menghilangkan orientasi Penggunaan Pronomina Inklusif Penggunaan pronomina inklusif seperti AukitaAy dan AukamiAy merupakan strategi yang secara konsisten muncul dalam data ajakan. Dalam tuturan seperti AuMari kita tumbuh bersamaAy atau AuKami ingin UMS tumbuh bersamaAy, pronomina tersebut berfungsi membangun solidaritas dan mengurangi jarak antara penutur institusional dan pembaca. Kedua pronomina mengacu kepada lebih dari satu orang, tetapi, menyertakan orang yang diajak bicara atau pembaca (Aryanti dkk. Secara pragmatik, direktif tidak diposisikan sebagai instruksi sepihak, melainkan sebagai komitmen kolektif yang melibatkan kedua belah pihak. Dalam kerangka Brown dan Levinson . , strategi ini termasuk positive politeness karena menekankan kesamaan tujuan dan kebersamaan . laiming common groun. Dengan memasukkan penutur ke dalam tindakan, tekanan terhadap mitra tutur menjadi lebih rendah dibandingkan jika digunakan bentuk oposisi seperti Aukalian harusAy. Oleh karena itu, pronomina inklusif berfungsi sebagai mitigator interpersonal yang efektif dalam menurunkan daya paksa direktif. Pasif Impersonal dan Penghilangan Agen (Agent Deletio. Strategi kedua yang dominan adalah penggunaan bentuk pasif impersonal seperti diharapkan, diterapkan, dikembangkan, disosialisasikan, dan dituntut. Dalam tuturan seperti AuDiharapkan para guru dapat mengembangkan kemampuan pedagogisAy atau AuProgram ini harus terus dikembangkanAy, pelaku tindakan tidak disebutkan secara eksplisit. Secara sintaktis, struktur pasif ini menghilangkan agen dan memusatkan perhatian pada proses atau tindakan yang perlu Secara pragmatik, penghilangan agen mengurangi konfrontasi langsung karena tidak ada pihak yang secara eksplisit memerintah. Strategi ini termasuk negative politeness karena meminimalkan pemaksaan langsung terhadap pembaca. Tindakan dibingkai sebagai kebutuhan objektif atau tuntutan situasional, bukan kehendak personal penutur. Variasi Modalitas Deontik Bertingkat Data juga menunjukkan variasi penggunaan modalitas deontik seperti perlu, hendaknya, harus, dan dituntut. Modalitas perlu mengindikasikan kebutuhan yang relatif lunak, sementara hendaknya menunjukkan anjuran normatif. Sebaliknya, harus dan dituntut menunjukkan kewajiban yang lebih kuat. Namun, kekuatan tersebut sering dilembutkan melalui struktur pasif, seperti dalam Auharus dikembangkanAy, yang tidak menyebutkan pelaku secara langsung. Ketika subjek personal disebutkan secara eksplisit, seperti Aumahasiswa harus beraniAy, daya direktif meningkat karena sasaran tindakan menjadi jelas. Dengan demikian, tingkat directive force dapat diidentifikasi melalui kombinasi jenis modalitas dan struktur sintaksis yang menyertainya, sehingga terlihat adanya spektrum tekanan dari rendah hingga relatif kuat. Nominalisasi dan Konstruksi Impersonal Nominalisasi dan konstruksi impersonal juga menjadi strategi penting dalam mitigasi Bentuk seperti Auharapannya kegiatan ini dapat terus digelarAy atau Auperlu adanya gebrakan baruAy mengubah tindakan menjadi konsep abstrak. Nominalisasi mengalihkan fokus dari pelaku tindakan ke situasi atau kondisi yang diharapkan. Tidak adanya subjek personal yang diperintah membuat tuturan terasa lebih objektif dan formal. Secara pragmatik, strategi ini menurunkan tekanan interpersonal dan membingkai direktif sebagai kebutuhan sistemik, bukan instruksi Hal ini memperlihatkan bahwa mitigasi tidak hanya terjadi melalui pilihan kata, tetapi juga melalui struktur gramatikal yang mengabstraksikan tindakan. Bentuk Ekspresif dan Optatif sebagai Direktif Bentuk ekspresif dan optatif seperti semoga dan berharap juga berfungsi sebagai strategi direktif tidak langsung. Dalam tuturan AuSemoga kemenangan ini menjadi langkah awal untuk terus berprestasiAy atau AuKarang Taruna berharap kegiatan ini dapat melibatkan masyarakat luasAy, secara struktural tuturan tersebut termasuk ekspresif karena menyatakan harapan atau doa. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Vol 15 No 1. Maret 2026 Namun secara pragmatik, tuturan tersebut tetap mengarahkan tindakan atau perilaku masa Partikel optatif semoga memiliki daya direktif paling rendah karena dibingkai sebagai aspirasi, bukan kewajiban. Verba mental berharap juga menunjukkan keinginan, bukan tuntutan. Strategi ini secara signifikan menurunkan directive force karena orientasi tindakan disampaikan melalui ekspresi harapan yang bersifat persuasif. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa wacana Edutalent. id tahun 2025 merealisasikan tindak tutur direktif dalam bentuk yang moderatif melalui ajakan, saran, dan harapan yang tetap bertujuan memengaruhi tindakan pembaca, tetapi disampaikan secara santun dan tidak koersif. Ajakan ditandai oleh penggunaan pronomina inklusif seperti kita dan partikel seperti mari atau ayo yang membangun solidaritas. saran direalisasikan melalui modalitas deontik seperti perlu, hendaknya, dan harus yang sering dilembutkan dengan struktur sedangkan harapan menggunakan penanda seperti diharapkan, harapannya, dan semoga yang memiliki daya direktif paling rendah karena dibingkai sebagai aspirasi. Strategi kebahasaan yang dominan meliputi pronomina inklusif, pasif impersonal dan penghilangan agen, variasi modalitas bertingkat, nominalisasi, serta bentuk ekspresif dan optatif, yang secara keseluruhan menempatkan daya direktif pada tingkat rendah hingga moderat. Secara nilai, pola ini selaras dengan prinsip moderatif seperti shura, tawazun, iAotidal, islah, tasamuh, qudwah, dan muwathanah, sehingga komunikasi institusional yang dibangun bersifat partisipatif, proporsional, dan tetap mengarahkan tindakan tanpa kesan memaksa. Dengan demikian. Edutalent. id tidak hanya berperan sebagai media informasi pendidikan, tetapi juga sebagai ruang komunikasi yang humanis dan beretika dalam membangun budaya akademik dan sosial yang partisipatif. DAFTAR PUSTAKA