Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 Artikel Review Pengaruh Berbagai Metode Ekstraksi dan Jenis Pelarutnya pada Kandungan Fitokimia dalam Minyak Jagung : Literature Review Nurani Sofiana1*. Adi Permadi1*. Siti Jamilatun1. Zafrul Mufrodi1 1Magister Teknik Kimia. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Ahmad Dahlan. Indonesia *Corresponding author: adi. permadi@che. ABSTRACT One of the most well-known vegetable oils in Indonesia and many other nations is corn oil. Corn oil has long been regarded as a top option among edible oils due to its neutral flavor, good stability, and health advantages. In terms of annual output, corn oil is in tenth place among all vegetable oils and makes up roughly 2% of the total vegetable oil produced Corn oil can produced from seed powder that is extracted using reflux and soxhletation techniques with a variety of solvents, including n-hexane, ethanol, and ethyl acetate, to create corn oil. Furthermore, the phenolic and carotenoid contents of corn oil were The results showed that extraction by the soxhletation method using ethyl acetate solvent produced the highest phenolic and carotenoid contents, namely 149,28 A 0,58yca yca mg/kg and 76,42 A 0,20yca mg/g respectively. Meanwhile, extraction by soxhletation method using N-heksana solvent produced the lowest phenolic contents . ,36 mg/k. and maseration method using ethanol solvent produced the lowest carotenoid contents . ,031 mg/. The soxhletation method using ethyl acetate solvent can be used in the corn oil production industry to produce corn oil with higher phytochemical content. Keywords: carotenoid, extraction, corn, phenolic, soxhletation ABSTRAK Salah satu minyak nabati yang paling terkenal di Indonesia dan banyak negara lainnya adalah minyak jagung. Minyak jagung telah lama dianggap sebagai pilihan utama di antara minyak nabati karena rasanya yang netral, stabilitasnya yang baik, dan manfaat kesehatannya. Dalam hal produksi tahunan, minyak jagung berada di urutan kesepuluh di antara semua minyak nabati dan menyumbang sekitar 2% dari total minyak nabati yang diproduksi di seluruh dunia . Minyak jagung didapatkan melalui proses ekstraksi bubuk biji jagung menggunakan teknik refluks dan sokhletasi dengan berbagai pelarut, termasuk n-heksana, etanol, dan etil asetat, untuk menghasilkan minyak jagung. Selanjutnya, dilakukan analisis kandungan fenolik dan karotenoid dalam minyak jagung. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstraksi dengan metode sokhletasi menggunakan pelarut etil asetat menghasilkan kandungan fenolik dan karotenoid tertinggi, yaitu 149,28 A 0,58bb mg/kg dan 76,42 A 0,20b mg/g. Sementara itu, metode sokhletasi dengan pelarut N-heksana menghasilkan kandungan fenolik terendah dan metode maserasi dengan pelarut etanol menghasilkan kadar karotenoid terendah. Sehingga, metode Disubmit: 01/08/2024 Diterima: 28/05/2025 Dipublikasi: 28/05/2025 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 sokhletasi dapat digunakan dalam industri produksi minyak jagung untuk menghasilkan minyak jagung dengan kadar fitokimia lebih tinggi. Kata kunci: ekstraksi, fenolik, jagung, karotenoid, sokhletasi Disubmit: 01/08/2024 Diterima: 28/05/2025 Dipublikasi: 28/05/2025 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 PENDAHULUAN Indonesia memiliki tanah yang subur dan iklim tropis. Indonesia adalah negara agraris dengan keanekaragaman hayati yang beragam. Jagung merupakan bahan pokok di sektor kuliner, industri, dan energi karena kesesuaian iklim dan sejarah perkembangannya . Jagung (Zea mays L. ) adalah tanaman pangan yang penting secara global, selain padi dan gandum. Selain digunakan sebagai bahan utama dalam produksi pangan, jagung memiliki berbagai manfaat sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak dan aplikasi industri lainnya . Jagung kaya akan bahan pangan fungsional antara lain serat yang diperlukan tubuh. Selain itu, biji jagung merupakan sumber pati, protein, lemak, vitamin, mineral, dan komponen organik lainnya . Di Asia Tenggara, penanaman jagung dimulai pada pertengahan tahun 1500-an. Pada awal tahun 1600-an. Indonesia. Filipina, dan Thailand merupakan beberapa negara yang menanam jagung secara ekstensif . Masyarakat selama ini memanfaatkan hasil panen jagung dengan berbagai cara, antara lain sebagai pakan ternak, bahan makanan, tepung . , minyak, dan berbagai bentuk penyajian . Karena jagung adalah tanaman yang memiliki banyak keunggulan, komoditas yang terbuat dari jagung memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia . Namun, varietas jagung yang berbeda mengandung profil fitokimia yang berbeda secara signifikan dalam hal flavonoid dan karotenoid. Jagung biru, merah, dan ungu memiliki konsentrasi antosianidin yang lebih tinggi . ingga 325 mg/100 g jagung bera. termasuk turunan sianidin . 90%), turunan peonidin . 20%) dan turunan pelargonidin . 10%). Jagung kuning kaya akan karotenoid . ingga 823 g/100 g jagun. termasuk lutein . %), zeaxanthin . %), y-cryptoxanthin . %), y-karoten . %), dan -karoten . %). Jagung dengan amilosa tinggi kaya akan amilosa . ingga 70% dari seluruh karbohidra. Pemilihan metode ekstraksi minyak jagung juga dapat menghasilkan profil fitokimia yang berbeda. MINYAK JAGUNG Banyak tanaman mengandung minyak yang dapat diekstrak yang selama berabad-abad telah digunakan sebagai makanan atau dalam formulasi kosmetik. Beberapa minyak nabati yang sering dimanfaatkan yaitu minyak sawit, minyak zaitun, dan minyak jagung . Minyak jagung merupakan trigliserida yang terdiri dari campuran gliserin dan asam lemak. Kandungan minyak jagung terdiri dari trigliserida sebesar 98,6%, sisanya terdiri dari zat tidak berminyak seperti abu, air, pewarna, dan lilin. Asam lemak penyusun minyak jagung adalah asam lemak jenuh dan tak jenuh . Kegunaan jagung dan minyak jagung dalam industri seperti resin, bahan bakar, pelumas, industri obat-obatan, industri plastik dan juga digunakan dalam sintesis sabun, pernis, cat dan linoleum . Minyak jagung juga digunakan untuk pencegahan penyakit jantung koroner dan pencegah penuaan dini, kanker , asma dan diabetes . Disubmit: 01/08/2024 Diterima: 28/05/2025 Dipublikasi: 28/05/2025 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 KOMPOSISI MINYAK JAGUNG Triasilgliserol, terdiri dari gliserol dan ester asam lemak, adalah komponen kimia yang membentuk minyak dan lemak alami. Lipid minoritas, seperti diasilgliserol, monoasilgliserol, asam lemak bebas (FFA), fosfolipid, glikolipid, pigmen, tokoferol, lilin, dan sterol, mungkin ada dan larut dalam matriks triasilgliserol, terutama dalam minyak mentah. Minyak jagung mengandung 1,32,3% bahan yang tidak dapat disabunkan, terutama terdiri dari fitosterol, tokoferol, tokotrienol, dan squalene . Asam Lemak pada Minyak Jagung Salah satu hal yang dapat memengaruhi kualitas minyak nabati adalah jumlah asam lemak bebas yang dikandungnya. Banyaknya asam lemak bebas pada minyak dilihat dari angka Indeks asam yang tinggi menunjukkan peningkatan konsentrasi asam lemak bebas minyak nabati, ini menandakan penurunan mutu minyak . Komposisi asam lemak minyak jagung terdiri dari 40-68% asam linoleat, 20-32% asam oleat, dan 8-14% asam lemak jenuh, terutama asam palmitat . Minyak jagung memiliki konsentrasi asam lemak yang tinggi. Diantaranya adalah polyunsaturated fatty acid (PUFA) jenis asam linoleat . hingga 60%). Asam lemak lain yang ditemukan pada minyak jagung termasuk asam oleat . -31%) dan asam palmitat . -13%) . Triasilgliserol pada Minyak Jagung Triasilgliserol (TAG) tersusun dari tulang punggung gliserol yang mengandung tiga asam lemak teresterifikasi . Triasilgliserol, yang 59% di antaranya merupakan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA), 24% asam lemak tak jenuh tunggal, dan 13% asam lemak jenuh (SFA), membentuk 99% minyak jagung. Dengan sejumlah kecil asam linolenat (C18: 3n-. , asam linoleat (C18: 2n-. membentuk sebagian besar PUFA . Fosfolipid pada Minyak Jagung Fosfolipid adalah kelas lipid yang penting dalam struktur dan fungsi semua membran biologis . Fosfolipid adalah lipid polar yang terdiri dari komponen utama berupa fosfatidilkolin, fosfatidiletanolamin, fosfatidilinositol dan asam fosfatidat . Fosfolipid memiliki beragam aplikasi pada makanan dan nonmakanan,terutama sebagai pengemulsi tidak beracun yang dapat terbiodegradasi,pelumas industri, dan suplemen nutrisi . Fitosterol pada Minyak Jagung Fitosterol, yang meliputi sterol dan stanol, merupakan senyawa steroid yang terdapat pada tumbuhan dan mirip dengan kolesterol tetapi hanya bervariasi dalam rantai samping karbon atau ada tidaknya ikatan rangkap, dan dapat menurunkan kadar kolesterol darah . fitosterol dianggap sebagai kolesterol tumbuhan, karena mereka adalah senyawa lipid yang berasal dari tumbuhan yang struktur dan fungsinya mirip seperti kolesterol . Minyak jagung mentah mengandung sekitar 850 mg fitosterol/100 g, sedangkan minyak yang disuling secara kimia sekitar 730 mg/100 g . Disubmit: 01/08/2024 Diterima: 28/05/2025 Dipublikasi: 28/05/2025 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 Karotenoid pada Minyak Jagung Di antara fitokimia. Karotenoid mempunyai posisi penting. Karotenoid adalah yang paling tersebar luas dan juga mendapat perhatian besar karena peran provitamin dan antioksidannya . Struktur karotenoid terdiri senyawa poliena isoprenoid yang tersusun dari 8 unit isoprena C5. Sebanyak lebih dari 750 jenis karotenoid yang ditemukan di alam . Karotenoid memberikan warna kuning, oranye dan merah untuk makanan. Karotenoid hadir dalam banyak variasi, termasuk -karoten, -karoten, astaxanthin, likopen, lutein, zeaxanthin, -cryptoxanthin dan fucoxanthin . Tokoferol dan Tokotrienol pada Minyak Jagung Di alam, vitamin E terdiri dari empat tokoferol (-, -, -, dan tokofero. dan empat tokotrienol (-, -, -, dan -tokotrieno. , ditentukan oleh angka dan posisi gugus metil (OeCH. yang ada pada cincin kromanol. Tokoferol dan tokotrienol bersifat kolektif disebut sebagai tokokromanol atau tokol . Pencernaan tokoferol dan tokotrienol mirip dengan lipid, menyebabkan emulsifikasi dan agregasi menjadi misel campuran. Senyawa tersebut kemudian diserap oleh enterosit dan diangkut terutama ke usus proksimal. Konsentrasi tokoferol alfa dan gamma dalam minyak jagung adalah 143,0 mg/kg . Squalene pada Minyak Jagung Kandungan squalene pada minyak jagung adalah rata-rata sebesar 256,84 mg/100 g . Meskipun kandungan squalene yang ditemukan pada beberapa minyak nabati bervariasi, belum ada penyelidikan rinci mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah squalene dalam minyak nabati . MACAM Ae MACAM PELARUT EKSTRAKSI Senyawa yang disebut pelarut digunakan dalam proses ekstraksi untuk menarik senyawa tertentu dari suatu zat. Salah satu elemen kimia eksternal yang memengaruhi kualitas ekstrak adalah pelarut. Berikut adalah berbagai macam jenis pelarut yang biasa digunakan dalam Berikut adalah beberapa pelarut yang biasa digunakan dalam industri. Tabel 1. Berbagai Macam Jenis Pelarut No. Pelarut nAe Heksana Etanol Etil Asetat Disubmit: 01/08/2024 Sumber Heksana sering dipakai dalam ekstraksi minyak karena mudahnya memperoleh minyak, rentang titik didih yang sempit . ntara 63 hingga 69 AC), serta kemampuannya dalam larut sangat baik. Etanol tidak berbahaya dan memiliki titik didih yang rendah. Keamanan operasionalnya yang baik dan toksisitasnya yang rendah. Selain itu, pelarut alternatif ini dapat diperoleh dari sumber Pelarut etil asetat dapat terurai secara hayati dan memiliki tingkat toksisitas yang rendah. Diterima: 28/05/2025 Dipublikasi: 28/05/2025 . DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 Sifat pelarut yang cocok untuk mengekstraksi minyak dari biji sangat beragam. Meskipun beberapa penulis berpendapat bahwa pelarut ideal mungkin tidak ada, industri terus mencari pelarut yang lebih baik. Data hasil rendemen ekstraksi biji jagung dapat dilihat dalam Tabel 2. Tabel 2. Hasil Rendemen Ekstrak Biji Jagung Pelarut Rendemen % Sumber Etanol 31,50 N-heksana 24,87 Etil Asetat Berdasarkan data hasil rendemen ekstrak biji jagung pada Tabel 2. Dapat simpulkan bahwa rendemen tertinggi dihasilkan oleh pelarut etanol sebesar 31,50%. Ekstraksi dengan pelarut yang berbeda polaritasnya akan menghasilkan ekstrak yang berbeda polaritasnya tergantung polaritas masing-masing ekstrak . Dimana polaritas pelarut berkaitan dengan kemampuan pelarut dalam mengikat molekul zat tertentu. Pelarut yang paling menjanjikan untuk ekstraksi minyak adalah pelarut polar. Karena keamanannya yang lebih tinggi dan kemungkinan regulasi yang lebih rendah, alkohol rantai pendek, terutama etanol, telah disarankan sebagai pelarut ekstraksi pengganti di antara pelarut polar . Karakter etanol yang aman dan ramah lingkungan merekomendasikannya untuk aplikasi dalam farmasi dan kosmetik . Metode Ekstraksi Minyak Jagung Metode ekstraksi pelarut didasarkan pada afinitas pelarut-zat terlarut yang memerlukan berbagai jenis interaksi untuk mencapai hasil ekstraksi yang tinggi . Metode refluks adalah teknik ekstraksi yang dibantu dengan pemanasan. Kehadiran panas memiliki dampak yang signifikan pada ekstraksi yang menggunakan refluks, dan pelarut yang digunakan akan tetap segar karena penguapan ulang saat terendam dalam bahan . Sedangkan menurut . Ekstraksi soxhlet merupakan proses ekstraksi yang kontinyu. Pelarut murni digunakan untuk kondensasi untuk mengekstrak sampel, yang membutuhkan waktu lebih cepat dan pelarut yang lebih sedikit. Perbandingan Metode Ekstraksi dan Pelarut Minyak Jagung dapat dilihat dapat dilihat pada Tabel 3. Dari Tabel 3 terlihat kandungan fenolik dan karotenoid tertinggi ada pada ekstrak biji jagung dengan pelarut etil asetat yang diekstraksi menggunakan metode sokhletasi. Ini terjadi karena pelarut etil asetat bersifat semi polar, yang berarti mampu melarutkan bahan polar dan non-polar. Pelarut ini tidak menahan atau menyerap atom air dari sekitarnya dan umumnya aman . Namun menurut penelitian . pelarut polar lebih penting secara farmasi karena nilai aktivitas antioksidan, sifat pereduksi, dan aktivitas penangkapan radikal bebas yang relatif lebih tinggi. Menurut prinsip like disolves like, kelarutan suatu komponen dalam pelarut memiliki dampak besar pada seberapa baik komponen tersebut dapat diekstraksi oleh pelarut. Artinya, senyawa larut dalam pelarut yang polaritasnya sama. Senyawa fenolik dan flavonoid bersifat polar oleh karena itu, diperlukan pelarut polar . Etanol, metanol, dan air adalah pelarut polar yang umum digunakan dalam prosedur ekstraksi . Sedangkan pelarut non Disubmit: 01/08/2024 Diterima: 28/05/2025 Dipublikasi: 28/05/2025 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 polar yang biasa digunakan adalah n-heksana . Untuk senyawa non polar seperti n-heksana biasa digunakan untuk mengekstraksi senyawa Ae senyawa seperti karotenoid , triterpenoid dan Heksana baru-baru ini diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik, mutagenik, dan reprotoksik di bawah peraturan REACH dan mungkin memiliki aplikasi terbatas untuk penggunaan industri di masa depan. Tabel 3. Perbandingan Metode Ekstraksi dan Pelarut pada Ekstrak Biji Jagung Metode Pelarut Fenolik g/k. Sokhletasi N-heksana 44,08 A 0,14yca Etil asetat 149,28 A 0,58byca 18,36 N-heksana Etil asetat Refluks Karotenoid 15,64 A 0,10yca 76,42 A 0,20yca 1,433 0,600 0,669 A 0,054 5,269 A 0,019 Maserasi Etanol Flavonoid ( mg QE/. 62,44 Sumber 0,031 N-heksana 37,75 A 0,02yca Etil asetat 51,83 A 0,00yca Etanol 54,69 A 0,00yca 2,88 A 0,30yca 11,21 A 0,20yca 6,57 A 0,40yca . Pemanasan dan perendaman bahan membuat proses ekstraksi Sokhlet menjadi lebih baik karena perbedaan tekanan diantara bagian dalam dan luar sel akan memecah dinding dan membran sel, yang berpotensi meningkatkan keefektifannya. Akibatnya, metabolit sekunder sitoplasma larut dalam pelarut organik. Uap air mengembun menjadi tetesan dan berkumpul sekali lagi sebagai hasil dari penguapan lebih lanjut dari larutan ini dan melewati pendingin Sirkulasi akan terjadi jika larutan melewati batas pori-pori tabung pada sisi soxhlet. Rahasia untuk membuat ekstrak berkualitas tinggi adalah prosedur sirkulasi yang berulangulang ini . SIMPULAN Ekstrak etil asetat yang dibuat dengan metode ekstraksi sokhletasi memiliki kadar fenolik dan karotenoid total tertinggi. Ini dikarenakan etil asetat adalah pelarut semi polar yang mampu melarutkan zat polar dan non-polar. Metode sokhletasi adalah metode panas yang bisa menghasilkan ekstrak lebih banyak, menggunakan lebih sedikit pelarut . fisiensi baha. , menggunakan sampel lebih cepat, menghabiskan lebih sedikit waktu, dan memastikan ekstraksi sampel yang akurat karena diulang-ulang. Ekstrak diekstraksi dengan sempurna sebagai hasil dari proses yang lama. Selain itu, pemanasan tidak menghilangkan aktivitas Pemilihan metode ekstraksi sokhletasi dengan pelarut etil asetat dapat menjadi alternatif yang baik untuk menghasilkan minyak jagung dengan kandungan fitokimia tertinggi. Disubmit: 01/08/2024 Diterima: 28/05/2025 Dipublikasi: 28/05/2025 DOI: 10. 24853/mjnf. Vol. 5 No. 1 Tahun 2024 id/index. php/MJNF : . mjnffkk@umj. id : . e-ISSN 2722Ae2942 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis ingin berterimakasih kepada saudara Muhammad Arif Lukman Hakim atas kontribusi berharga anda dalam memberikan saran dan masukan untuk artikel review ini. Kritik dan saran anda sangat bermanfaat untuk membuat karya ini menjadi lebih baik. Penulis sangat menghargai masukan dan sudut pandang anda yang penuh wawasan, yang juga telah meningkatkan kualitas artikel ini. KONFLIK KEPENTINGAN Dalam proses review artikel ini, saya menyatakan bahwa saya tidak memiliki kepentingan apapun yang dapat mempengaruhi pendapat saya atau menghalangi saya untuk memberikan saran yang baik. Saya tidak memiliki hubungan keuangan, profesional, atau pribadi dengan penulis atau pihak lain yang terkait, yang dapat mencemari penilaian saya ketika mengevaluasi karya ini. Dalam peran saya sebagai peninjau, saya berjanji untuk memberikan penilaian yang tidak memihak, adil, dan tidak memihak yang hanya didasarkan pada manfaat ilmiah artikel dan tidak terpengaruh oleh kepentingan saya atau pihak ketiga. REFERENSI