Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN BERDASARKAN NILAI PRODUKSI DI KABUPATEN GROBOGAN ANALYSIS OF LEADING COMMODITIES OF AGRICULTURAL FOOD CROPS BASED ON PRODUCTION VALUE IN GROBOGAN DISTRICT Yohanes Gamaputra1*. Bayu Nuswantara1 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Kristen Satya Wacana. Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga - Indonesia 50711 ABSTRAK Sektor pertanian merupakan sektor yang dapat meningkatkan pendapat masyarakat dan menjadi penggerak utama dalam bidang agribisnis di Kabupaten Grobogan. Sektor pertanian masih sangat dominan terhadap pembentukan Product Domestic Regional Bruto di Kabupaten Grobogan, dibandingkan dengan sektor lainnya yaitu sebesar 28,64%. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan produk dan menganalisis daya saing produk unggulan di Kabupaten Grobogan menggunakan analisis LQ dan tipologi klassen, data yang diambil yaitu melalui BPS yang kemudian diolah lagi time series untuk data tahun Data diperoleh dari nilai produksi komoditi pertanian Kabupaten Grobogan dan nilai produksi komoditi pertanian Provinsi Jawa Tengah dari komoditi tanaman pangan. Terdapat 8 . komoditas tanaman pangan, yaitu: padi sawah, padi ladang, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. dimana tergolong LQ > 1 terdapat komoditas yang memenuhi daerahnya, antara lain: Jagung, kedelai, dan kacang hijau. Jadi, diperoleh nilai jagung sebesar 2,37456, kedelai sebesar 3,83755, dan kacang hijau sebesar 2,91047 dan komoditas lainnya tergolong LQ < 1 dimana komoditas tidak dapat memenuhi daerahnya. Sedangkan, pada analisis tipologi klassen termasuk kategori unggul, antara lain: kacang hijau pada kuadran I lalu jagung dan kedelai pada kuadran i. Sedangkan komoditas lainnya, yaitu padi sawah, kacang tanah, padi ladang, ubi kayu, dan ubi jalar tergolong pada kuadran II dan IV. Kata kunci: Analisis LQ. Peranan sektor pertanian bagi PDRB, tipologi Klassen ABSTRACT The agricultural sector is a sector that can increase people's income and become the main driver in the field of agribusiness in Grobogan Regency. The agricultural sector is still very dominant in the formation of the Gross Regional Domestic Product in Grobogan Regency, compared to other sectors, namely This study aims to describe products and analyze the competitiveness of superior products in Grobogan Regency using LQ analysis and Klassen typology, the data taken is through BPS which is then processed again for time series for 2015-2019 data. The data were obtained from the production value of agricultural commodities in Grobogan Regency and the production value of agricultural commodities in Central Java Province from food crops. There are 8 . food crop commodities, namely: lowland rice, dry land rice, corn, soybeans, peanuts, green beans, cassava, and sweet potatoes. where LQ > 1 is classified, there are commodities that fulfill the area, including: Corn, soybeans, and green beans. So, the value of corn is 2. 37456, soybean is 3. 83755, and green bean is 2. 91047 and other commodities are classified as LQ < 1 where the commodity cannot meet the area. Meanwhile, in the Klassen typology analysis, it is included in the superior category, including green beans in quadrant I then corn and soybeans in quadrant i. While other commodities, namely paddy rice, peanuts, dry land rice, cassava, and sweet potatoes are classified in quadrants II and IV. Keywords : LQ analysis. The role of the agricultural sector for GRDP. Klassen typology -----------------------------------------------------------------*) Penulis Korespondensi. E-mail: ygamaputra99@gmail. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 3 suatu daerah yang meliputi daratan dan lautan yang berada didalam batas-batas geografis daerah Pada PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar. Produk Domestik Bruto atas dasar harga pasar adalah jumlah nilai tambah bruto yang timbul dari seluruh sektor diwilayah itu (Tarigan. Keunggulan komperatif komoditi suatu daerah adalah komoditi itu lebih unggul secara relatif dengan komoditi lain di daerahnya. Pengertian unggul dalam hal ini adalah dalam bentuk perbandingan dan bukan dalam bentuk nilai tambah riil. Keunggulan komperatif adalah suatu kegiatan ekonomi yang secara perbandingan lebih menguntungkan bagi pengembangan daerah (Tarigan, 2. Keunggulan komparatif suatu daerah, spesialisasi wilayah, serta potensi ekonomi yang dimiliki oleh daerah tersebut menjadi dasar pengaruh suatu pertumbuhan ekonomi. Dalam melaksanakan pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan maka dari sebagai prioritas utama yang harus digali dalam pengembangan dan pemanfaatan seluruh potensi ekonomi (Wulandari. Penerapan manajemen dalam agribisnis erat kaitannya dengan kegiatan operasional pertanian. Proses inovasi teknologi sangat mendukung penerapan teknologi yang menghasilkan produk dan jasa yang bermutu tinggi. Teknologi adalah sumber daya buatan manusia yang bersifat dinamis atau kompetitif, karena selalu mengalami perkembangan yang cepat (Said dkk, 2. Perlunya meningkatkan sumber daya manusia bagi para Suatu pendidikan non formal bagi kegiatan masyarakat tani untuk berguna dalam keterampilan dengan tujuan meningkatkan taraf hidup melalui usaha tani sehingga petani mampu meningkatkan better business, better farming, dan better living dan meningkatkan pengetahuan adalah suatu penyuluhan dalam bidang pertanian (Dwijatmiko dan Surtini, 2. Pembangunan regional sangat perlu memperhatikan keunggulan- keunggulan dan karakteristik khusus suatu daerah. Pembangunan juga harus dapat meningkatkan pendapatan per kapita dari penduduk tersebut dan akan meningkatkan daya tarik daerah untuk menarik investor-investor baru untuk menanamkan modalnya di daerah, yang pada akhirnya akan mendorong kegiatan ekonomi yang lebih tinggi (Kuncoro, 2. Pendahuluan Dalam meningkatkan dan memajukan ekonomi suatu negara maka tingkat 2 . kesejahteraan masyarakat menjadi tolak ukur penting dalam mendorong terwujudnya kemajuan suatu negara. Pembangunan daerah memiliki dampak yang sangat besar dan juga strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional dikarenakan bukan sekedar membangun daerah bagian integral pembangunan nasional, namun pembangunan daerah diakui berhasil mendorong peningkatan pemerataan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Indikator pembangunan ekonomi dapat diukur dengan pertumbuhan ekonomi yang memberikan gambaran tentang sejauh mana aktivitas perekonomian daerah pada periode tertentu telah menghasilkan peningkatan pendapatan bagi masyarakat yang ditunjukkan dengan peningkatan pendapatan per kapita (Soepono, 2. Sektor pertanian merupakan sektor terpenting yang dapat ditingkatkan guna meningkatkan pendapat masyarakat dan menjadi penggerak utama dalam bidang agribisnis di Kabupaten Grobogan. Sektor pertanian masih sangat dominan terhadap pembentukan Product Domestic Regional Bruto di Kabupaten Grobogan, dibandingkan dengan sektor lainnya yaitu sebesar 28,64%. Hal ini sangat didukung oleh luasnya lahan pertanian Tanah Sawah: 62. 680,635 ha yang ada. Besarnya peranan sektor pertanian terhadap kontribusi PDRB dipengaruhi mata pencaharian sebagian besar penduduk di Kabupaten Grobogan yaitu 72,51% atau sebesar 537. 038 jiwa penduduk bermata pencaharian sebagai petani. PDRB merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi didalam suatu wilayah/region pada jangka waktu tertentu. PDRB tersusun dari nilai-nilai produksi pada masing-masing komoditi dalam suatu Sub sistem, oleh sebab itu dalam perhitungan komoditi unggulan data yang digunakan adalah data nilai produksi pada masing-masing komoditi. Nilai produksi merupakan hasil perkalian dari jumlah produksi dan harga pada setiap komoditi. Dengan menggunakan data nilai produksi dapat diketahui gambaran secara umum tentang produksi yang ada di Kabupaten Grobogan yang akan dibandingkan dengan nilai produksi komoditi pertanian pada tingkat Provinsi Jawa Tengah. Data nilai produksi tingkat kabupaten dan provinsi akan digunakan sebagai dasar dalam perhitungan dengan menggunakan alat Analisis Location Quotient (LQ), yang pada nantinya akan muncul komoditi unggulan dan bukan unggulan. Wilayah domestik e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 Metode Penelitian Penelitian unggulan komoditi pertanian berdasarkan nilai produksi di di Kabupaten Grobogan ini dilaksanakan pada bulanan Januari s/d September 2022 Kabupatenen Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Data sekunder BPS dengan an mengambil sektor pertanian yang paling. Data sekunder melalui BPS yang kemudianan diolah lagi time Data diperoleh dari nilai produksi komoditi pertanian Kabupaten Grobogan dan Nilai produksi komoditi pertanian Provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari komoditi tanaman pangan. Teknik analisis Location Quotient (LQ) dan tipologi Klassen. Untuk mengetahui nilai Location Quotient (LQ), maka perhitungannya adalah LQ = AE atau LQ = Dimana: Pik0 : Pikt : Pi0 : Pit : Ptk : Pik : Pt : Pi : Pij = Nilai produksi komoditi pertanian i pada wilayah kabupaten Pj = Nilai total produksi komoditi pertanian Pir = Nilai produksi komoditi pertanian i pada wilayah provinsi Pr = Nilai total produksi komoditi pertanian Nilai produksi komoditi i tingkat kabupaten pada awal tahun Nilai produksi komoditi i tingkat kabupaten pada tahun akhir Nilai produksi komoditi i tingkat provinsi pada awal tahun Nilai produksi komoditi i tingkat provinsi pada tahun akhir Total nilai produksi tingkat kabupaten Nilai produksi komoditi i tingkat Total nilai produksi tingkat provinsi Nilai produksi komoditi i tingkat Hasil dan Pembahasan Alat analisis Location Quotient adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri disuatu daerah terhadap peranan suatu sektor/industri tersebut secara nasional atau di suatu kabupaten terhadap peranan suatu sektor/industri secara regional atau tingkat provinsi. Analisis ini berguna untuk membandingkan suatu komoditi dengan komoditi lainnya dalam menentukan yang paling unggul atau tidak unggul dan layak atau tidak mendukung dalam budidaya tanaman pangan di Kabupaten Grobogan. Analisis tipologi Klassen menggambarkan pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditi pertanian yang dibedakan menjadi empat bagian yaitu komoditi maju dan tumbuh cepat, komoditi maju tetapi tertekan, komoditi berkembang dengan cepat dan komoditi yang relatif tertinggal. Analisis ini bersifat dinamis karena sangat bergantung pada perkembangan kegiatan pembangunan pada kabupaten dan kota yang bersangkutan (Sjafrizal, 2. Kriteria pengukuran nilai LQ yang dihasilkan sebagai berikut: Bila LQ > 1 berarti komoditi tersebut menjadi basis atau merupakan komoditi unggulan, hasilnya tidak saja dapat memenuhi kebutuhan diwilayah bersangkutan akan tetapi juga dapat di ekspor keluar wilayah. Bila LQ < 1 berarti komoditi tersebut tergolong non basis, tidak memiliki keunggulan, produksi komoditi tersebut disuatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan atau impor dari luar. Bila LQ = 1 berarti komoditi tersebut tergolong non basis, tidak memiliki keunggulan, produksi dari komoditi tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan wilayah sendiri dan tidak mampu untuk di ekspor. Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Grobogan Berdasarkan data BPS selama kurun waktu 5 . tahun terdapat data produksi komoditas tanaman pangan di Kabupaten Grobogan, sebagai Analisis tipologi klassen ini dapat dihitung menggunakan rumus, sebagai berikut: x 100% Keterangan x 100% x 100% x 100% e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 Tabel 1. Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Grobogan No. Komoditas Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Tahun Sumber : Data BPS tanaman pangan di Provinsi Jawa Tengah, sebagai Produksi Tanaman Pangan Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan data BPS selama kurun waktu 5 . tahun terdapat data produksi komoditas Tabel 2. Produksi Tanaman Pangan Provinsi Jawa Tengah No. Komoditas Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Tahun Sumber : Data BPS suatu sektor/industri tersebut 4 . secara nasional atau di suatu kabupaten terhadap peranan suatu sektor/industri secara regional atau tingkat Hasil Perhitungan Analisis Location Quotient (LQ) Alat analisis Location Quotient adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri disuatu daerah terhadap peranan Tabel 3. Hasil Perhitungan Analisis Location Quotient (LQ) No. Komoditas Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Sumber: Data sekunder diolah Tahun 0,82154 0,6647 2,51009 4,25451 0,10365 3,05825 0,11222 0,03884 0,80578 0,56775 2,42109 4,71379 0,10692 3,05049 0,11229 0,03472 0,79150 0,48678 2,33671 5,27617 0,11152 3,01405 0,11317 0,03094 Berdasarkan hasil perhitungan tabel analisis Location Quotient (LQ) diatas, maka dari 8 komoditas tanaman dimana kedelai memiliki rata-rata tertinggi sebesar 3,83755 dan ubi jalar memiliki rata-rata terendah sebesar 0,78585 0,39571 2,33418 2,60657 0,17288 2,56299 0,08153 0,05716 0,85450 0,32044 2,27073 2,31771 0,11166 2,86658 0,04964 0,05427 Rata-rata 0,81184 0,48708 2,37456 3,83755 0,12133 2,91048 0,09377 0,04319 0,04319. Hasil rata-rata dari 8 . komoditas diatas, jika disesuaikan dengan kriteria Location Quotient (LQ), maka padi sawah, padi ladang, kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar tidak dapat memenuhi daerahnya dan diekspor dikarenakan e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 tergolong LQ < 1. Untuk komoditas lainnya, seperti: jagung, kedelai, dan kacang hijau dapat memenuhi daerahnya dan dapat diekspor dikarenakan tergolong LQ > 1. Analisis tipologi Klassen menggambarkan pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditi pertanian yang dibedakan menjadi empat bagian yaitu komoditi maju dan tumbuh cepat, komoditi maju tetapi tertekan, komoditi berkembang dengan cepat dan komoditi yang relatif tertinggal. Tabel 4. Hasil Perhitungan Analisis Tipologi Klassen Komoditas Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar rik (%) -0,01719 -0,37213 0,05170 -0,70916 -0,20731 0,01975 -0,60250 0,38943 ri (%) -0,12274 0,20918 0,07935 -0,50433 -0,31682 0,01007 -0,16570 -0,07668 yik (%) 0,48027 0,00867 0,45062 0,02492 0,00061 0,01806 0,01646 0,00035 yi (%) 0,59243 0,01818 0,18982 0,00649 0,00513 0,00621 0,17352 0,00818 Keterangan rik>ri dan yikyi rikyi rik>ri dan yikri dan yik>yi rikri dan yik ri rik < ri Kuadran I Kuadran i (Subsektor potensial atau (Subsektor maju dan masih dapat berkemban. tumbuh dengan pesa. - Jagung - Kacang Hijau - Kedelai Kuadran II Kuadran IV (Subsektor maju tapi (Subsektor relatif tertingga. - Padi Ladang - Padi Sawah - Ubi Kayu - Kacang Tanah - Ubi Jalar Matriks Tipologi Klassen Matriks tipologi Klassen merupakan tabel yang menggambarkan pola dan struktur pertumbuhan produksi komoditi pertanian yang Kontribusi Sektoral yik > yi yik < yi Kesimpulan Ucapan Terima Kasih Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat dirumuskan kesimpulan penelitian, sebagai berikut: Terima kasih disampaikan kepada BPS dan Bapak dosen yang telah mendukung penuh penelitian melalui website dan tatap muka. Hasil analisis Location Quotient (LQ) rata-rata tahun 2015-2019 yang tergolong LQ > 1 meliputi, antara lain: jagung, kedelai, dan kacang hijau dengan nilai LQ jagung sebesar 2,37456, kedelai sebesar 3,83755, dan kacang hijau sebesar 2,91047. Analisis matriks tipologi Klassen menunjukkan komoditas unggulan, yaitu: Kacang hijau, jagung, dan kedelai. Sedangkan, komoditas selain itu belum mencapai unggulan, yaitu: padi sawah, kacang tanah, padi ladang, ubi kayu, dan ubi jalar. Daftar Pustaka