Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: DimaSTIKa e-ISSN: 3109-1148 Vol. No. Tahun 2025. Hal. 156Ae166 Integrasi Nilai Religius dan Teknologi: Peran Guru PAI di Era Digital Di MA Mualimin Parakan Mafakir1*. Ali Saidi Rodhiya2. M Fauzi Rizal3. M Fathul Ihsanudin4. Umibintiyah5 1,2,3,4,5Sekolah Tinggi Islam Kendal Email Corespondensi: mafakir@stikkendal. *Corespondensi Author Abstrak Era digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi Pendidikan Agama Islam (PAI). Teknologi mempermudah komunikasi, pembelajaran, dan aktivitas seharihari, tetapi penyalahgunaannya berpotensi menimbulkan kecanduan digital, degradasi moral, dan melemahkan keterampilan sosial. Artikel ini bertujuan mengkaji peran guru PAI dalam membentuk karakter religius siswa di era digital. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan menganalisis berbagai literatur terkait implementasi nilai religius, strategi pembelajaran, serta tantangan guru PAI. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru PAI berperan penting sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan dengan memanfaatkan media digital seperti aplikasi Islami, platform pembelajaran, dan media sosial secara kreatif dan Strategi yang digunakan meliputi pendekatan preventif, represif, dan kuratif dalam menanamkan nilai iman, takwa, dan akhlak mulia. Kata kunci: Pendidikan Agama Islam. Era Digital. Karakter Religius. Guru PAI. Abstract The digital era presents both opportunities and challenges for Islamic Religious Education (PAI). Technology facilitates communication, learning, and daily activities, yet its misuse may lead to digital addiction, moral degradation, and weakened social This article aims to examine the role of PAI teachers in shaping studentsAo religious character in the digital age. The method employed is a literature review by analyzing various sources related to the implementation of religious values, learning strategies, and the challenges faced by PAI teachers. The findings indicate that PAI teachers play a vital role as educators, mentors, and role models by creatively and interactively utilizing digital media such as Islamic applications, learning platforms. This is an open access article under the CCAeBY-SA license http://creativecommons. org/licenses/bysa/4. Integrasi Nilai Religius dan Teknologi: Peran Guru PAI di Era DigitalA. and social media. The strategies applied include preventive, repressive, and curative approaches in instilling faith, piety, and noble character. Keywords: Islamic Religious Education. Digital Era. Religious Character. PAI Teacher. PENDAHULUAN Dalam dunia kontemporer, teknologi memiliki peran yang sangat penting. Sekarang, hampir semua aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari bekerja, belajar, hingga berkomunikasi menggunakan teknologi. Ini adalah salah satu aspek kehidupan yang telah berkembang pesat selama bertahun-tahun, yang telah membuat keberadaan manusia jauh lebih mudah. Sebenarnya, penggunaan teknologi dalam pendidikan dan aktivitas lainnya dapat menjadi pelajaran penting bagi pendidik dan masyarakat luas karena akan membuat semua aktivitas lebih Namun, penggunaan teknologi yang tidak berhati-hati dapat menyebabkan masalah baru. Misalnya, menjadi terlalu tergantung pada perangkat digital dapat menyebabkan kehilangan fokus, keterampilan sosial, atau bahkan kehilangan Teknologi yang terlalu formal atau kaku, di sisi lain, dapat membuat interaksi menjadi dingin, kaku, dan canggung. Sistem yang terlalu kaku tanpa fleksibilitas juga sering membuat pengguna tertekan. Oleh karena itu, manusia harus menggunakan teknologi dengan benar. Dalam kenyataannya, teknologi membantu menyebarkan ide, memudahkan aktivitas, dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, teknologi harus diimbangi dengan aspek psikologis manusia. 1 Data menunjukkan bahwa mayoritas pengguna teknologi masih kurang memperhatikan efek sosial dan psikologis dari penggunaan 2 Misalnya, terlalu banyak menggunakan teknologi dapat menyebabkan stres, kurangnya interaksi langsung, dan kurangnya empati di lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi membawa risiko. Komentar negatif di media sosial atau penggunaan teknologi yang salah dapat menyebabkan konflik atau bahkan perlawanan. Oleh karena itu, pola interaksi yang terjadi saat menggunakan Sumarno. AuPembelajaran Kompetensi Abad 21 Menghadapi Era Society 5. 0,Ay in Prosiding SEMDIKJAR 3 (Seminar Nasional Pendidikan Dan Pembelajara. , vol. 3, 2019, 272Ae87, http://ojs. id/index. php/SEMDIKJAR/article/view/28. 2 Rohani, & Kurniawati. Peran guru Pendidikan Agama Islam di era digital (Studi kasus di SDN 1 Tanjung Raja Giha. Jurnal Tahsinia, 5. , 696Ae710. Mafakir, dkk teknologi sangat penting agar tercipta lingkungan yang sehat untuk belajar, bekerja, dan bermasyarakat. Faktor psikologis dalam penggunaan teknologi dapat menyebabkan masalah serius, seperti kecanduan, kesulitan beradaptasi, dan gangguan interaksi sosial. Banyak orang, terutama generasi muda, kesulitan mengendalikan diri, mereka lebih suka menyendiri dengan perangkat elektronik, mengabaikan lingkungan mereka, dan bahkan kehilangan keterampilan sosial. Selain itu, kurangnya kesadaran diri dan mengontrol pengunaan teknologi dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Ketergantungan yang berlebihan pada teknologi dapat merusak kepribadian seseorang, membuat mereka kurang mampu beradaptasi dengan masyarakat, dan menyebabkan masalah psikologis yang semakin kompleks. Di satu sisi, teknologi adalah alat vital yang harus digunakan secara fleksibel, kreatif, dan humanistik untuk mendukung pendidikan dan kehidupan modern. Namun, menggunakan teknologi harus dilakukan dengan profesionalisme dan etika agar tidak merugikan diri sendiri atau orang lain. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka . ibrary researc. dengan menelaah berbagai literatur yang relevan, seperti jurnal, buku, dan hasil penelitian terdahulu mengenai peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di era digital. Data dikumpulkan melalui penelusuran sumber-sumber ilmiah yang membahas implementasi nilai religius, strategi pembelajaran, serta tantangan yang dihadapi guru dalam pembentukan karakter siswa. Selanjutnya, data dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai strategi guru PAI dalam membentuk karakter religius siswa di era digital. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kajian menunjukkan bahwa guru PAI memegang peran penting dalam menjaga nilai-nilai religius siswa di tengah arus digitalisasi. Implementasi nilai religius dapat dilakukan melalui integrasi teknologi dengan kegiatan pembelajaran 3 Mauludin. Peran guru PAI dalam membentuk karakter siswa pada era digital di SMA Muhammadiyah I. Jurnal Pendidikan Islam, 6Ae7 Integrasi Nilai Religius dan Teknologi: Peran Guru PAI di Era DigitalA. agama, seperti penggunaan aplikasi Islami, forum virtual, dan media sosial yang mendukung kegiatan religius. Tantangan yang muncul antara lain rendahnya literasi digital sebagian guru, potensi penyalahgunaan teknologi oleh siswa, serta degradasi moral akibat konten negatif. Selain itu, strategi yang diterapkan dalam pelaksanaan pembinaan religius siswa mencakup tiga pendekatan utama. Pendekatan preventif dilakukan dengan membiasakan siswa untuk mengikuti kegiatan keagamaan harian, seperti salat berjamaah, membaca Al-QurAoan, dan berdoa bersama sebelum memulai pelajaran, sehingga nilai-nilai religius tertanam secara alami dalam keseharian mereka. Pendekatan represif diterapkan melalui pemberian nasihat, penegakan aturan, serta penerapan sanksi bagi siswa yang melanggar norma-norma keagamaan atau kedisiplinan, dengan tujuan menumbuhkan tanggung jawab dan kesadaran moral. Sementara itu, pendekatan kuratif dilakukan dengan melibatkan kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua dalam menyelesaikan permasalahan perilaku siswa, sehingga tercipta sinergi antara lingkungan pendidikan dan keluarga dalam membentuk karakter religius yang utuhPersepsi siswa menunjukkan pandangan positif terhadap guru PAI yang mampu memadukan teknologi dengan nilai religius. Guru dipandang tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dan pembimbing dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi Nilai-Nilai Religi Tahun Pelajaran PAI Di Era Digital Implementasi nilai-nilai religi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era digital adalah upaya untuk menanamkan iman, takwa, dan akhlak mulia. Melalui penggunaan teknologi sebagai sarana pembelajaran, guru PAI tidak hanya mengajar siswa secara tatap muka tetapi juga menggunakan platform digital seperti sistem manajemen pembelajaran, aplikasi Al-Qur'an, media sosial, dan forum virtual untuk mendekatkan siswa pada ajaran Islam. Selain itu, kegiatan religius dapat dikembangkan secara digital, seperti muroja'ah online, jurnal ibadah harian yang dapat digunakan melalui aplikasi, dan kajian virtual yang interaktif. Adisel and Ahmad Gawdy Prananosa. AuPenggunaan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Sistem Manajemen Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid 19,Ay Journal Of Administration and Mafakir, dkk Penanaman nilai religius di era digital juga menekankan pembentukan karakter, seperti disiplin mengikuti kelas online, jujur menjalani ujian digital, dan beretika di media sosial dengan tetap sopan, menghindari hoaks, dan tidak Guru PAI memanfaatkan media digital dengan benar dan memberikan bimbingan spiritual tentang masalah modern seperti cyberbullying, kecanduan perangkat, dan penyalahgunaan konten negatif. Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai religius dalam pembelajaran PAI di era digital tidak hanya membawa pendidikan ke dunia virtual, tetapi juga mengajarkan peserta didik untuk menyeimbangkan kemampuan teknologi mereka dengan penguatan karakter religius. Ini sangat penting untuk menjaga generasi muda tetap berpegang pada nilai-nilai Islam meskipun mereka hidup di tengah arus deras kemajuan teknologi informasi. Nilai-nilai religius dalam pembelajaran PAI di era digital tidak hanya membatasi siswa dalam menggunakan teknologi sebagai media, itu juga membantu siswa memperkuat iman dan moralitas mereka sehingga mereka dapat memfilter informasi yang masuk. Menurut penelitian, "dalam mengontrol anak solusi yang dianggap paling tepat adalah pendidikan agama dan pembinaan karakter dalam keluarga sejak dini, disiplin yang tegas dalam menggunakan HP, serta kerja sama orang tua dengan pihak sekolah dalam memantau perkembangan perilaku siswa baik di rumah maupun di sekolah. " 5 Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama, termasuk PAI, menjadi benteng utama dalam membimbing peserta didik agar tetap berpegang pada norma dan etika di tengah derasnya pengaruh teknologi digital. Tantangan Guru PAI di Era Digital Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian, akhlak, dan nilai religius siswa. Tugas guru PAI bukan hanya mengajarkan agama, mereka juga mengajarkan nilai, membimbing. Educational Management (ALIGNMENT) . 1Ae10, https://doi. org/10. 31539/alignment. 5 Jurnal Hasil Penelitian. Kajian Kepustakaan, and Bidang Pendidikan. AuJurnal Kependidikan:Ay 5, no. : 61Ae74. Integrasi Nilai Religius dan Teknologi: Peran Guru PAI di Era DigitalA. dan menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Siswa sekarang dapat belajar agama dari berbagai sumber online. Namun, guru PAI harus terus menjadi pembelajar sepanjang hayat, meningkatkan literasi digital, dan mengembangkan metode pembelajaran kreatif untuk menjaga nilai-nilai Islam tertanam kuat dalam otak siswa. Ini karena hanya guru yang dapat menyentuh sisi spiritual, moral, dan Menjadi guru PAI profesional di era modern berarti mampu menggunakan teknologi sambil mempertahankan ruh pendidikan Islam yaitu menanamkan iman, takwa, dan akhlak mulia kepada generasi muda. Agar pembelajaran agama Islam tidak hanya sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga dapat mempengaruhi hati dan perilaku siswa, guru PAI harus bijak dalam memilih dan menggunakan Dalam dunia yang penuh dengan informasi, guru PAI harus menciptakan pembelajaran yang inovatif, interaktif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Aplikasi Pendidikan, video, e-book, dan platform digital lainnya dapat membantu orang belajar lebih banyak tentang agama. Namun, mereka juga harus memfilternya sesuai dengan nilai-nilai Islam yang tepat. Selain itu, guru PAI berfungsi sebagai contoh yang baik. Guru PAI harus hadir di kelas digital dan kelas fisik. Guru harus menunjukkan akhlak Islami saat berinteraksi secara langsung dan di internet. Harapannya, siswa memiliki contoh nyata tentang bagaimana prinsip agama dapat diterapkan dalam kehidupan Pada akhirnya, profesionalitas guru PAI di era modern tidak hanya diukur dari kemampuan mereka untuk menggunakan teknologi, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk memadukan keterampilan digital dengan tanggung jawab utama mereka sebagai pendidik moral, akhlak, dan spiritualitas. Guru PAI profesional selalu belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan sambil tetap teguh pada tujuan pendidikan Islam. Di era informasi dan komunikasi modern ini, usia anak dan remaja sangat rentan terpengaruh dan dapat mengakibatkan dampak negatif seperti pelecehan online, pelemahan hubungan sosial, dan cyberbullying. Remaja menjadi kurang sopan, sering berdebat, dan bahkan melawan guru. Maka teknologi dengan mudahnya memengaruhi hubungan Mafakir, dkk mereka dengan guru dan orang tua mereka. Pendidikan Islam dianggap sebagai kunci untuk mengatasi dampak negatif teknologi. Dalam hal ini, peran guru PAI dan guru secara keseluruhan sangat penting karena mereka tidak hanya diharuskan untuk mengajarkan pengetahuan tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam dan moralitas agar remaja tidak terpengaruh oleh pengaruh teknologi. Menyeimbangkan kecanggihan teknologi dengan pembinaan moral adalah tantangan besar bagi guru dan pendidik di era modern. Remaja mudah terjerumus pada perilaku buruk seperti pornografi, narkoba, berlebihan game online, dan kehilangan sopan santun jika mereka tidak memiliki dukungan moral dari orang tua dan guru mereka. Strategi Guru PAI Untuk Pembentukan Karakter Religius Siswa Di Era Digital Pada era modern, pendidikan agama Islam menghadapi banyak tantangan sekaligus peluang besar. Tidak seperti generasi sebelumnya, generasi muda memiliki perspektif, perilaku, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Di sisi lain, era ini juga menghadirkan ancaman serius seperti peningkatan cyberbullying, degradasi moral, dan penyebaran konten yang dapat merusak akidah. 7 Oleh karena itu, menjadi guru agama Islam yang unggul di era modern menuntut kombinasi antara pemahaman agama yang mendalam, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan teknologi, dan kemampuan untuk mengelola pembelajaran dengan cara yang inovatif dan kreatif. Untuk mengatasi masalah ini. Pendidikan Agama Islam (PAI) menawarkan pendekatan profetik. Humanisme, liberasi, dan transendensi, ketiganya adalah komponen dari pendekatan ini. Aspek humanis menekankan betapa pentingnya mengajar dengan hati-hati, memahami karakteristik peserta didik, dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Aspek liberasi bertujuan membebaskan peserta didik dari kebodohan teknologi dengan mengadopsi perkembangan digital dan membekali pendidik dengan kemampuan kreatif 6 Erni Yusnita et al. AuShaping TeenagersAo Moral in the Digital Era: Islamic Education Perspective,Ay Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan Dan Studi Keislaman 13, no. : 1Ae15, https://doi. org/10. 33367/ji. Muhammad Agiel Dwi Putra. Ajat Rukajat, and Khalid Ramdhan. AuImplementasi Pendidikan Karakter Dalam Proses Pembelajaran Akidah Akhlak Di SMP Negeri 1 Karawang Timur,Ay Jurnal Keislaman Dan Ilmu Pendidikan 4, no. : 476Ae90. Integrasi Nilai Religius dan Teknologi: Peran Guru PAI di Era DigitalA. sehubungan dengan teknologi. Aspek transendensi, di sisi lain, menempatkan ketakwaan sebagai landasan utama, yang berarti bahwa seluruh proses pendidikan berada dalam batas-batas nilai-nilai agama. Selain itu, metode pembelajaran juga sedikit di geser, yang mulanya seorang guru adalah pendidik dan pengajar namun kini guru PAI juga harus bisa sebagai fasilitator pembelajaran kontemporer yang memenuhi persyaratan zaman. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru agama Islam terbaik di era modern adalah mereka yang dapat memadukan keterampilan keagamaan dengan literasi digital, memiliki sikap humanis, dan tetap berpegang pada nilai transendensi melalui pendekatan profetik dan inisiatif kreatifnya. Menurut penelitian, ada tiga cara guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mengajarkan nilai-nilai agama kepada siswa mereka di era modern. Pertama, tindakan pencegahan adalah membiasakan diri dengan kegiatan keagamaan, seperti tadarus pagi sebelum pelajaran, sholat dhuha, sholat dzuhur, dan kultum, serta membuat rangkuman dari buku akidah akhlak. Kedua, tindakan represif adalah memberikan petunjuk dan nasihat, memastikan bahwa aturan sekolah harus dipatuhi, menerapkan hukuman. Ketiga, metode kuratif, di mana siswa diskorsing dan dikembalikan kepada orang tua mereka sebagai pilihan terakhir. Selain strategi-strategi tersebut, guru PAI di era modern juga diminta untuk berperan sebagai murabbi, mu'allim, dan muaddib, yang berarti tidak hanya memberikan pengetahuan agama tetapi juga membimbing, memberi teladan, dan membangun karakter siswa dengan akhlak mulia. Dijelaskan bahwa pendekatan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di era digital membutuhkan penguasaan teknologi pembelajaran yang cukup. Guru PAI sekarang harus menggunakan media digital sebagai alat pembelajaran. Mereka harus menggunakan media sosial, platform pembelajaran digital, dan aplikasi islami sebagai bagian dari pendekatan mereka untuk menyampaikan materi agar lebih interaktif dan mudah dipahami oleh siswa. Selain itu, guru PAI di era modern harus 8 Rohani and Eka Kurniawati. AuPeran Guru Pendidikan Agama Islam Di Era Digital (Studi Kasus Di SDN 1 Tanjung Raja Giha. ,Ay Jurnal Tahsinia 5, no. : 696Ae710. 9 Rohani and Kurniawati. Mafakir, dkk mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kemajuan teknologi sehingga siswa tidak hanya terampil menggunakan teknologi, tetapi juga tahu cara memanfaatkannya secara positif dan menghindari efek negatifnya. Oleh karena itu, pendekatan guru PAI di era modern tidak hanya berfokus pada penyebaran pengetahuan agama tetapi juga pada pembinaan karakter melalui penggunaan teknologi yang inovatif, kreatif, dan berbasis nilai Islam. Persepsi Siswa Tentang Guru PAI Dalam Pembentukan Karakter Religius Di Era Digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki persepsi yang sangat positif terhadap guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pembentukan karakter religius di era modern. Siswa melihat guru PAI bukan hanya sebagai guru agama tetapi juga sebagai contoh hidup yang menunjukkan sikap, perilaku, dan interaksi mereka setiap hari. Penting bagi guru PAI untuk membimbing, membina, dan mengarahkan siswa agar tetap berpegang pada nilai-nilai Islam di tengah arus digitalisasi yang begitu cepat. Selain itu, siswa menilai bahwa guru PAI yang professional Adalah mereka yang mampu mengintegrasikan pembelajaran agama dengan bijak dengan media digital, sehingga nilai-nilai Islam lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya konsistensi guru dalam mengajarkan moralitas, disiplin, dan keagamaan melalui kegiatan keagamaan sehari-hari di sekolah, tetapi juga pemahaman kritis tentang cara siswa bijak menggunakan teknologi mempengaruhi persepsi positif siswa. Hal ini menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di era digital bukan hanya bertindak sebagai pendidik formal tetapi juga sebagai pembimbing moral yang mampu mengatasi tantangan digitalisasi dan kebutuhan pembentukan karakter religius siswa. Persepsi siswa terhadap guru PAI dalam pembentukan karakter religius di era digital cenderung positif. Siswa melihat guru PAI sebagai orang baik yang tidak 10 Figo Zaen Mauludin. AuPeran Guru Pai Dalam Membentuk Karakter Siswa Pada Era Digital Di Sma Muhammadiyah I Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan,Ay 2024, 6Ae7. 11 Ralph Adolph. AuTransformasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Era Digital: Modalitas Belajar Dan Tantangan Pendidikan Di Abad 21Ay 3, no. : 1Ae23. Integrasi Nilai Religius dan Teknologi: Peran Guru PAI di Era DigitalA. hanya mengajarkan agama tetapi juga mengajarkan nilai-nilai moral melalui sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Siswa melihat bahwa guru PAI sangat penting dalam membimbing, membina, dan mengarahkan siswa agar mampu menghadapi tantangan zaman modern tanpa kehilangan jati diri keislaman mereka. Mereka juga melihat bahwa guru PAI dapat menyesuaikan metode pembelajaran mereka dengan kemajuan teknologi, sehingga materi agama lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan hidup mereka di tengah arus digital yang cepat. SIMPULAN Artikel ini menegaskan bahwa peran guru PAI sangat strategis dalam membentuk karakter religius siswa di era digital. Meskipun teknologi menghadirkan menghadapinya melalui pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi, penerapan strategi preventif, represif, dan kuratif, serta penguatan nilai iman, takwa, dan akhlak mulia. Dengan demikian, guru PAI perlu terus meningkatkan literasi digital, kreativitas, serta profesionalisme agar mampu menjadi pendidik, pembimbing, sekaligus teladan yang relevan dengan kebutuhan generasi modern. Daftar Pustaka