Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 542-551 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Diferensiasi Pengembangan Motorik Anak Usia Dini: Telaah Komparatif Strategi Implementasi Program pada Dua Institusi PAUD Najwa Fadhilah Sofyan1. Rida Hermawati2. Wardiatul Aini3. Tsania Mar'atu Sholihah4. Chalisa Adya Zahra5 Info Artikel Abstract Keywords: Early Childhood Motor Development (ECD). Learning and Teaching Strategies. Developmentally Appropriate Practice (DAP). Dynamic Systems Theory. Curriculum and Classroom Approach. The essential basis for Early Childhood Development (ECD) is physical motor skills. however, the diversity of motor achievements in each individual requires differentiated learning strategies in ECD environments. This study focuses on comparing the efficacy of two different program approaches, namely the Moving Class Model and the Daily Routine Model, in facilitating the differentiation of motor activities in two institutions. The methodology applied was Multi-Site Comparative Qualitative, involving triangulation of data from intensive observation, in-depth interviews, and review of relevant documents. Data were collected through a series of intensive observations, in-depth interviews with educators at RA AlMuttaqin and RA Al-Istiqomah, and careful analysis of all relevant program The research findings indicate that both institutions reflect a strong dedication to motor stimulation, but there are differences in focus in the practice of differentiation. The institution that applies the Moving Class (RA Al-Muttaqi. shows superiority in internal differentiation, by providing specific interventions for children who need individual support. Conversely, institutions that adopt the Daily Routine (RA Al-Istiqoma. are more prominent in terms of consistency in the frequency of daily stimulation and the strengthening of structured parent partnerships for follow-up in the domestic environment. The conclusion that can be drawn is that successful differentiation requires comprehensive synchronization between individual, task, and environmental subsystems, in line with the perspective of Dynamic Systems Theory. The practical implication is the urgent need to integrate adaptive models in school institutions with systematic family partnerships in order to achieve holistic motor physical Kata kunci: Perkembangan Motorik Anak Usia Dini (AUD). Abstrak Basis esensial bagi perkembangan Anak Usia Dini (AUD) adalah kemampuan fisik motorik. kendati demikian, keragaman pencapaian Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: najwafadhilah24@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: ridahermawati11@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: wardiatulaini30@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: tsaniamaratusholihah@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: chalisaadyazahra@upi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Strategi Pembelajaran dan Pengajaran. Praktik Pendidikan yang Sesuai Perkembangan (DAP). Teori Sistem Dinamis. Pendekatan Kurikulum dan Kelas. E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 motorik pada setiap individu menuntut adanya strategi pembelajaran yang terdiferensiasi dalam lingkungan PAUD. Studi ini berfokus pada perbandingan efikasi antara dua pendekatan program yang berbeda, yaitu Model Moving Class dan Model Rutinitas Harian, dalam memfasilitasi diferensiasi kegiatan motorik di dua lembaga. Metodologi yang diaplikasikan ialah Kualitatif Komparatif Multi-Situs, melibatkan triangulasi data dari observasi intensif, wawancara mendalam, dan telaah dokumen Data dikumpulkan melalui serangkaian observasi intensif, wawancara mendalam dengan para pendidik di RA Al-Muttaqin dan RA AlIstiqomah, serta analisis cermat terhadap seluruh dokumentasi program yang terkait. Temuan riset mengindikasikan bahwa kedua institusi merefleksikan dedikasi yang kuat terhadap stimulasi motorik, namun terdapat perbedaan fokus dalam praktik diferensiasi. Lembaga yang mengaplikasikan Moving Class (RA Al-Muttaqi. menunjukkan keunggulan pada diferensiasi internal, dengan menyediakan intervensi spesifik bagi anak yang membutuhkan dukungan individual. Sebaliknya, lembaga yang mengadopsi Rutinitas Harian (RA Al-Istiqoma. lebih menonjol dalam konsistensi frekuensi stimulasi harian serta penguatan kemitraan orang tua yang terstruktur untuk tindak lanjut di lingkungan domestik. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa kesuksesan diferensiasi mensyaratkan sinkronisasi menyeluruh antara subsistem individu, tugas, dan lingkungan, selaras dengan perspektif Teori Sistem Dinamis. Implikasi praktisnya adalah kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan model adaptif di institusi sekolah dengan kemitraan keluarga yang tersistematis demi tercapainya perkembangan fisik motorik yang holistik. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 25 November 2025 16 Desember 2025 17 Desember 2025 17 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Sofyan. Hermawati. Aini. Sholihah. , & Zahra. Diferensiasi Pengembangan Motorik Anak Usia Dini: Telaah Komparatif Strategi Implementasi Program Pada Dua Institusi PAUD. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 542-551, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Najwa Fadhilah Sofyan, najwafadhilah24@upi. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Perkembangan fisik motorik merupakan fondasi utama bagi tumbuh kembang Anak Usia Dini (AUD) karena berperan langsung dalam menunjang perkembangan kognitif, sosial-emosional, bahasa, serta kemandirian anak pada tahap berikutnya. Kemampuan motorik yang terstimulasi dengan baik memungkinkan anak untuk mengeksplorasi lingkungan secara optimal dan membangun pengalaman belajar yang bermakna (Santrock, 2011. Gallahue. Ozmun, & Goodway, 2. Oleh karena itu, pengembangan motorik tidak dapat diposisikan sebagai aktivitas pelengkap, melainkan sebagai inti dari proses pembelajaran di lembaga PAUD. Sejalan dengan hal tersebut, regulasi nasional menegaskan bahwa stimulasi fisik motorik harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan sesuai karakteristik perkembangan anak. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional PAUD secara eksplisit menempatkan aspek fisik motorik sebagai salah satu capaian perkembangan utama yang wajib difasilitasi oleh satuan PAUD (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Namun demikian, implementasi kebijakan ini di lapangan masih menunjukkan variasi strategi dan pendekatan antar lembaga. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Realitas empiris menunjukkan bahwa anak-anak dalam kelompok usia yang sama memiliki capaian motorik yang beragam, baik pada aspek motorik kasar maupun motorik halus. Variasi ini dipengaruhi oleh faktor individu, lingkungan, pengalaman belajar, serta intensitas stimulasi yang diterima anak (Harrist & Han, 2020. Rodiyana & Dwi Puspitasari, 2. Kondisi tersebut menuntut pendidik untuk menerapkan strategi pembelajaran yang bersifat adaptif dan responsif terhadap kebutuhan individual anak. Pendekatan yang relevan dalam merespons keragaman tersebut adalah diferensiasi pembelajaran, yaitu upaya menyesuaikan proses, aktivitas, dan dukungan belajar berdasarkan tingkat kemampuan, minat, dan kesiapan anak. Dewi dan Yulianti . menegaskan bahwa diferensiasi pada PAUD bukan hanya dimaknai sebagai variasi kegiatan, tetapi juga mencakup pemberian dukungan yang berbeda sesuai kebutuhan perkembangan setiap anak. Dalam konteks pengembangan motorik, diferensiasi menjadi krusial agar tidak terjadi overstimulasi pada anak yang belum siap maupun understimulasi pada anak yang sudah berkembang lebih cepat. Penelitian terdahulu pertama dilakukan oleh Harrist dan Han . yang mengkaji implementasi pengajaran keterampilan motorik di lembaga prasekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas stimulasi motorik sangat bergantung pada kompetensi guru dalam merancang aktivitas yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Namun, penelitian ini lebih menitikberatkan pada pengetahuan guru, tanpa membandingkan model program atau struktur implementasi pembelajaran motorik yang digunakan di lembaga PAUD. Penelitian selanjutnya oleh Dewi dan Yulianti . mengkaji strategi diferensiasi pembelajaran pada anak usia dini melalui studi literatur. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa diferensiasi efektif apabila dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, serta didukung oleh pemahaman guru terhadap karakteristik perkembangan anak. Meskipun demikian, kajian ini masih bersifat konseptual dan belum menyajikan data empiris mengenai bagaimana diferensiasi motorik diterapkan melalui model program tertentu di satuan PAUD. Penelitian lain yang relevan dilakukan oleh Jannah dan Safitri . yang meneliti peran kemitraan orang tua dan guru dalam optimalisasi perkembangan fisik motorik anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stimulasi motorik yang konsisten antara sekolah dan rumah memberikan dampak positif terhadap capaian perkembangan anak. Namun, penelitian ini tidak secara spesifik membahas bagaimana strategi pembelajaran di sekolah dirancang dan dibandingkan berdasarkan model implementasi program yang berbeda. Berdasarkan telaah terhadap penelitian-penelitian terdahulu tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar studi masih berfokus pada aspek tunggal, seperti kompetensi guru, konsep diferensiasi, atau peran keluarga, tanpa mengkaji perbandingan konkret antar model implementasi program pengembangan motorik di PAUD. Dengan kata lain, masih terdapat keterbatasan kajian yang mengintegrasikan aspek diferensiasi, struktur program, dan konteks institusional secara bersamaan. Research gap dalam penelitian ini terletak pada belum adanya kajian komparatif yang secara mendalam membandingkan efektivitas strategi implementasi program pengembangan motorik anak usia dini melalui model yang berbeda, khususnya antara Model Moving Class dan Model Rutinitas Harian, dalam memfasilitasi diferensiasi perkembangan motorik anak. Selain itu, belum banyak penelitian yang menganalisis praktik diferensiasi tersebut menggunakan perspektif Teori Sistem Dinamis yang menekankan interaksi antara individu, tugas, dan lingkungan (Smith & Thelen, 2. Teori Sistem Dinamis memandang perkembangan motorik sebagai hasil interaksi kompleks antara karakteristik individu anak, tuntutan tugas, serta kondisi lingkungan belajar. Pendekatan ini relevan untuk menganalisis perbedaan efektivitas program motorik di PAUD, karena setiap model pembelajaran memiliki konfigurasi lingkungan dan tuntutan tugas yang berbeda (Gallahue et al. , 2. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Oleh sebab itu, penggunaan teori ini memungkinkan analisis yang lebih komprehensif terhadap praktik diferensiasi motorik di lembaga PAUD. Selain itu, prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP) menegaskan bahwa pembelajaran anak usia dini harus disesuaikan dengan tahap perkembangan, kebutuhan individual, dan konteks sosial-budaya anak (NAEYC, 2. Integrasi DAP dalam analisis strategi implementasi program motorik menjadi penting untuk memastikan bahwa diferensiasi yang dilakukan benar-benar mendukung perkembangan anak secara optimal, bukan sekadar variasi aktivitas semata. Berdasarkan paparan tersebut, penelitian ini dipandang penting untuk mengkaji secara komparatif efektivitas dua strategi implementasi program pengembangan fisik motorik anak usia dini dalam mendorong diferensiasi pembelajaran. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi teoretis dalam memperkaya kajian pengembangan motorik AUD, serta kontribusi praktis bagi pendidik dan lembaga PAUD dalam merancang program yang adaptif, kontekstual, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan perkembangan anak. METODE Riset ini diselenggarakan dengan mengaplikasikan pendekatan kualitatif, khususnya melalui skema penyelidikan alamiah . aturalistic inquir. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada intensi untuk memahami praktik pengembangan motorik secara menyeluruh dan kontekstual di lingkungan kelembagaan yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, peneliti berperan selaku instrumen vital dalam proses pengumpulan data sampai pada penarikan interpretasi. Desain yang diadopsi adalah Kualitatif Komparatif Multi-Situs. Desain ini memungkinkan adanya deskripsi yang kaya akan detail dan perbandingan yang komprehensif antara dua strategi implementasi program yang berbeda . akni Model Moving Class dan Model Rutinitas Haria. , sebagaimana keduanya diterapkan di dua situs observasi. Fokus perbandingan diletakkan pada sinkronisasi perencanaan, proses pelaksanaan, mekanisme evaluasi, hingga beragam tantangan diferensiasi, sehingga hasil yang diperoleh menyajikan perspektif yang utuh dan tidak bias. Studi komparatif multi-situs ini berlokasi di dua institusi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berada di wilayah Kota Tasikmalaya, yaitu RA Al-Muttaqin dan RA Al-Istiqomah. Pemilihan kedua lokasi ini dilakukan secara terarah . urposive samplin. karena keduanya merepresentasikan model strategi program fisik motorik yang berbeda, menjamin relevansi dan signifikansi data komparatif dalam menjawab tujuan penelitian. Subjek penelitian adalah peserta didik Kelompok A . sia 4Ae5 tahu. yang berjumlah sekitar 20 anak pada setiap lokasi. Sumber data primer dalam penelitian ini meliputi: Informan Kunci: Terdiri dari dua Kepala Sekolah . asing-masing satu dari setiap lembag. dan empat Guru Kelas A . asing-masing dua dari setiap lembag. yang bertanggung jawab langsung dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program motorik. Aktivitas Motorik Anak (Aktivitas yang terekam selama proses pembelajaran, yang merupakan fokus observasi utam. dan Data Sekunder (Seluruh dokumen perencanaan kurikulum, catatan harian pendidik, dan instrumen evaluasi yang digunakan di kedua Untuk menegakkan kedalaman dan menjamin validitas data kualitatif, pengumpulan data diimplementasikan melalui proses triangulasi metode, yakni: . Observasi Partisipan Non-Aktif: Peneliti menjalankan pengamatan sistematis terhadap perilaku motorik halus . eperti menggunting, meronce, menuli. dan motorik kasar . eperti melompat, berlari, menit. anak di lingkungan belajar alamiah. Pengamatan ini bertujuan untuk mendokumentasikan interaksi anak dengan teman sebaya dan lingkungan tanpa adanya manipulasi atau rekayasa. Wawancara Mendalam (In-Depth Intervie. Dijalankan dengan pola terstruktur dan semi terarah diaplikasikan kepada informan kunci . untuk memperoleh penjelasan kontekstual terkait strategi diferensiasi, prosedur evaluasi yang diterapkan. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 serta hambatan praktis yang dihadapi di lapangan. Dokumentasi: Pengumpulan data melalui catatan lapangan, dokumen program, dan bukti visual . digunakan sebagai penguat temuan dan untuk mengontekstualisasikan data yang diperoleh dari observasi (Muslihin. Loita. , & Nurjanah. ,2. Guna menjamin keabsahan data . , studi ini menerapkan teknik Triangulasi Sumber, di mana data yang diperoleh dari wawancara pendidik dikonfirmasi silang dengan hasil observasi langsung terhadap aktivitas motorik anak dan telaah bukti dokumentasi program. Langkah ini memastikan temuan lapangan tidak bias dan terverifikasi. Gambar 1. Skema Triangulasi Sumber Data Proses analisis data untuk studi ini dilakukan secara deskriptif kualitatif dan dilaksanakan secara berkelanjutan . dengan fase pengumpulan data di lapangan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan dan verifikasi. Pada tahap reduksi data, data mentah yang diperoleh dari dua situs penelitian diseleksi secara ketat dan dikategorikan berdasarkan fokus riset, meliputi perencanaan, implementasi, serta diferensiasi pengembangan motorik kasar dan halus. Proses ini bertujuan untuk memusatkan perhatian pada data yang memiliki tingkat relevansi tinggi terhadap rumusan masalah penelitian. Selanjutnya, pada tahap penyajian data, data yang telah direduksi disusun dan disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang sistematis, dengan penekanan pada perbandingan pola, persamaan, dan perbedaan implementasi program antara RA Al-Muttaqin dan RA Al-Istiqomah. Tahap akhir adalah penarikan simpulan dan verifikasi, yang dilakukan melalui interpretasi mendalam terhadap temuan komparatif dengan mengacu pada Teori Sistem Dinamis dan pendekatan Praktik yang Sesuai Perkembangan (Developmentally Appropriate Practice/DAP), sehingga simpulan yang dihasilkan mampu menjawab tujuan penelitian secara komprehensif dan bermakna. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Kontras Model Program Fisik Motorik dan Fokus Diferensiasi Aspek Lembaga A (RA Al-Muttaqi. Lembaga B (RA Al-Istiqoma. Komparatif Model Terstruktur, berbasis sentra dengan Holistik-Integratif, menyatu dengan Program jadwal khusus motorik. kegiatan harian dan keagamaan. Frekuensi Intensif, 3 kali seminggu dengan durasi Harian, namun durasi pendek-pendek khusus . terselip di sela rutinitas. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Fokus Diferensiasi Keunggulan Hambatan Kritis E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Diferensiasi berdasarkan tingkat kemampuan . elompok mahir vs. butuh bimbinga. Capaian keterampilan motorik spesifik lebih terukur dan cepat. Keterbatasan waktu guru untuk menyiapkan APE yang beragam Diferensiasi berdasarkan minat anak pada saat kegiatan berlangsung . Anak tidak merasa tertekan, suasana bermain lebih alami dan Sulit memantau kemajuan individual secara detail karena kegiatan Implementasi Program dan Diferensiasi di Lembaga A (RA Al-Muttaqi. Lembaga A, yang diidentifikasi sebagai RA Al-Muttaqin dalam konteks observasi, melaksanakan program Fisik Motorik dengan mengaplikasikan Model Sentra Olah Tubuh berfrekuensi satu kali dalam seminggu (Moving Clas. Model ini dirancang untuk memberikan stimulasi motorik secara terpusat dengan intensitas durasi yang lebih tinggi. Diferensiasi yang teridentifikasi di Lembaga A bersifat adaptasi internal dan dilaksanakan secara eksplisit. Para pendidik secara aktif mengidentifikasi peserta didik yang mengalami keterlambatan, baik pada Motorik Halus maupun Motorik Kasar, dan selanjutnya memberikan stimulasi khusus di dalam sentra. Sebagai contoh nyata, anak dengan kontrol jari yang lemah diarahkan untuk melaksanakan tugas spesifik, seperti bermain playdoh dengan teknik meremas atau meronce manik-manik berukuran kecil. Implementasi diferensiasi ini didorong oleh komitmen guru untuk merespons kebutuhan individual secara langsung di lingkungan kelas. Walaupun demikian, pelaksanaan program menghadapi hambatan signifikan, terutama karena limitasi ketersediaan Alat Permainan Edukatif (APE) yang variatif. Hal ini dikonfirmasi oleh wawancara dengan Pendidik A yang menyatakan, "Kami harus putar otak, karena APE terbatas, jadi anak yang lain menunggu, atau kami modifikasi alat seadanya di sentra, sehingga fokusnya kurang maksimal. " Keterbatasan ini menuntut kreativitas tinggi dari guru untuk memodifikasi perlengkapan seadanya, namun pada akhirnya membatasi spektrum pengalaman motorik yang ditawarkan kepada seluruh peserta didik. Implementasi Program dan Diferensiasi di Lembaga B (RA Al-Istiqoma. Lembaga B, yaitu RA Al-Istiqomah, menyelenggarakan program Fisik Motorik melalui Model Rutinitas Harian Terpadu. Dalam model ini, aktivitas Motorik Kasar dan Motorik Halus diintegrasikan ke dalam seluruh jadwal pelajaran yang dilakukan setiap hari. Praktik diferensiasi di Lembaga B lebih cenderung pada aspek konsistensi dan dukungan eksternal. Keunggulan utama pendekatan ini adalah frekuensi stimulasi harian yang berkelanjutan, yang menjamin paparan motorik yang stabil. Selain itu. Lembaga B memiliki mekanisme kemitraan orang tua yang sistematis untuk menindaklanjuti program di rumah. Pendidik memberikan umpan balik serta rekomendasi tugas motorik spesifik yang wajib dilatih di lingkungan domestik, sehingga diferensiasi tidak terputus di batas sekolah. Namun, kendala utama yang dihadapi oleh Lembaga B adalah manajemen perilaku peserta didik yang sulit dikendalikan selama kegiatan Motorik Kasar di luar ruangan. Kendala ini diakui oleh Pendidik B yang menuturkan, "Paling sulit itu saat motorik kasar di luar. Anak-anak energinya beda-beda, jadi sulit mempertahankan konsentrasi kolektif, ada saja yang lari tidak sesuai instruksi. " Keragaman pada tingkat energi dan fokus anak-anak membuat guru kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi kolektif dan menjamin seluruh anak berpartisipasi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah terstruktur. Diskusi Komparatif dan Implikasi Teoretis Tabel 2. Sintesis Hasil Observasi Aktivitas Motorik Dimensi Jenis Aktivitas Kunci RA Al-Muttaqin RA Al-Istiqomah Motorik (Observas. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Motorik Halus Menggunting Pola & Meronce Manik Intensif: Anak dibagi meja kerumitan pola. Guru mendampingi ketat anak yang memegang gunting Motorik Kasar Lokomotor Berlari estafet & Melompat Motorik Kasar Non-Lokomotor Gerakan Sholat Dhuha & Peregangan Terjadwal: Dilakukan di halaman dengan instruksi guru Ada target waktu atau jumlah lompatan. Pembiasaan Ketat: Fokus pada ketepatan gerakan ruku' dan sujud. Guru mengoreksi postur satu per Integrasi: Alat simpan di area seni, anak bebas akses saat jam istirahat atau kegiatan bebas. Guru hanya memantau dari Rutinitas: Terjadi saat jam bermain bebas di luar atau saat baris-berbaris masuk kelas. Tanpa target Partisipasi: Fokus pada anak mau mengikuti gerakan bersamasama. Koreksi postur minimal, yang penting anak Telaah komparatif ini mengindikasikan bahwa efektivitas diferensiasi Fisik Motorik tidak didasarkan pada superioritas inheren salah satu model. Justru, efektivitasnya bergantung pada kemampuan model tersebut untuk beradaptasi secara optimal dengan prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP). Lembaga A menunjukkan keunggulan pada aspek adaptasi internal . ntervensi terfokus di institusi sekola. , sebaliknya Lembaga B unggul pada dukungan eksternal . onsistensi harian dan keterlibatan Kedua pendekatan ini memiliki keunggulan dan kelemahan yang saling melengkapi dalam merespons keragaman motorik peserta didik. Tabel 3. Analisi Hambatan Diferensiasi Motorik Berdasarkan Teori Sistem Dinamis Hambatan Kritis Empiris (Temua. Kaitan Subsistem Teori Dinamis RA Al-Muttaqin Keterbatasan Variasi APE dimana Alat permainan edukatif kurang memadai untuk memfasilitasi level kemampuan anak yang berbeda-beda RA AlIstiqomah Inkonsistensi Instruksi Guru Guru memberikan instruksi yang berbeda secara spontan saat kegiatan terintegrasi yang ramai. Ketidakselarasan Subsistem Lingkungan (Environment Constraint. : Lingkungan fisik tidak menyediakan affordances . tugas yang berbeda. Kelemahan Subsistem Tugas (Task Constraint. Aturan dan instruksi tugas menjadi ambigu dan tidak cukup spesifik untuk memicu respons No. Lembaga Konteks Data Kualitatif (Bukti Pendukun. AyKami ingin membedakan tugas, tapi medianya Akhirnya anak terpaksa menunggu atau memakai alat yang sama dengan yang belum bisa, (Wawancara Pendidik A. "Kalau lagi ramai main bersama, susah saya mau fokus ke satu anak untuk kasih instruksi khusus. Jadinya instruksinya 'ayo main yang rukun' saja (Wawancara Pendidik B. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 motorik yang optimal pada individu berbeda. Hambatan signifikan yang dihadapi oleh kedua lembaga dapat dianalisis secara mendalam melalui lensa Teori Sistem Dinamis. Teori ini memandang proses perkembangan sebagai interaksi multidimensi yang kompleks antara subsistem Individu. Tugas, dan Lingkungan. Di Lembaga A, kendala keterbatasan APE mencerminkan ketidakselarasan subsistem Lingkungan, di mana fasilitas dan infrastruktur belum secara optimal mendukung tugas diferensiasi yang ideal. Analisis kendala APE ini sejalan dengan pandangan Gallahue et al. mengenai interaksi lingkungan yang harus mendukung perkembangan motorik. Sementara itu, di Lembaga B, kendala manajemen perilaku anak mengindikasikan gangguan pada subsistem Individu dan Tugas, yaitu kesulitan pendidik dalam menyesuaikan tugas motorik agar selaras dengan variasi tingkat kontrol diri, energi, dan emosi masingmasing anak. Temuan riset ini memperkaya khazanah literatur dengan menegaskan bahwa diferensiasi Fisik Motorik yang efektif dalam konteks PAUD menuntut adanya integrasi strategis. Keberhasilan diferensiasi mensyaratkan perpaduan antara Prinsip DAP yang Adaptif . isalnya, intervensi terfokus Lembaga A) dengan Penguatan Kemitraan Keluarga yang Tersistematis . isalnya, konsistensi Lembaga B). Integrasi model adaptif internal dan dukungan eksternal inilah yang menjadi katalis kunci bagi peningkatan profesionalisme guru PAUD dalam merespons heterogenitas kebutuhan motorik anak (Jannah & Safitri, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis komparatif yang dilaksanakan terhadap dua strategi pelaksanaan program Fisik Motorik (Model Moving Class di Lembaga A. RA Al-Muttaqin, dan Model Rutinitas Harian Terpadu di Lembaga B. RA Al-Istiqoma. , dapat disimpulkan bahwa kedua institusi merefleksikan dedikasi yang memadai terhadap pengembangan motorik. Disparitas strategi implementasi yang diadopsi secara langsung berimplikasi pada fokus diferensiasi. Diferensiasi Fisik Motorik yang komprehensif bagi Anak Usia Dini dicapai melalui sinergi antara adaptasi kurikulum internal . ang merupakan keunggulan Model Moving Class Lembaga A) dan keterlibatan harian yang konsisten serta kemitraan keluarga yang sistematis . ang merupakan keunggulan Model Rutinitas Harian Lembaga B). Temuan penelitian ini memiliki implikasi praktis yang substansial bagi peningkatan mutu pembelajaran di PAUD. Studi ini menggarisbawahi urgensi penguatan kompetensi guru, yang tidak hanya mencakup perancangan tugas motorik, tetapi juga kemampuan manajemen sumber daya untuk mengatasi limitasi sarana dan prasarana . eperti keterbatasan APE). Selain itu, riset ini menyoroti pentingnya strategi kemitraan yang lebih efektif dengan orang tua, menjamin bahwa tindak lanjut kegiatan motorik tidak terhenti di lingkungan sekolah, melainkan berlanjut secara terstruktur di lingkungan rumah. Untuk pengembangan praktik lebih lanjut, disarankan agar Pendidik dapat menunjukkan kreativitas yang lebih tinggi dalam pemanfaatan Alat Permainan Edukatif (APE) yang tersedia, serta secara proaktif mengintegrasikan mekanisme umpan balik dan tindak lanjut tugas motorik spesifik ke rumah. Bagi institusi PAUD, direkomendasikan agar merumuskan kebijakan yang secara eksplisit memasukkan komunikasi perkembangan Fisik Motorik anak dengan orang tua . eniru sistem terstruktur yang telah diterapkan oleh RA Al-Istiqoma. Kebijakan ini akan memastikan konsistensi dan keberlanjutan stimulasi, yang merupakan prasyarat mutlak keberhasilan diferensiasi. DAFTAR KEPUSTAKAAN Adolph. , & Robinson. The road to walking: What learning to walk tells us about In L. Liben. Mueller, & A. (Eds. Oxford handbook of developmental psychology (Vol. 1, pp. 403Ae. Oxford University Press. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Aminah. Penggunaan metode Montessori dalam kegiatan menulis anak usia dini di PAUD. Jurnal Alhanin, 1. , 45Ae53. Dewi. , & Yulianti. Strategi diferensiasi pembelajaran pada anak usia dini: Sebuah kajian literatur. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5 . , 1547Ae1558. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Edwards. Play-based learning and intentional teaching: Forever different? Australasian Journal of Early Childhood, 42. , 4-11. Frankenberg. Dodds. Archer. Bresnick. Maschka. Edelman. , & Shapiro. Denver II: Technical manual. Denver Developmental Materials. Gallahue. Ozmun. , & Goodway. Understanding motor development: Infants, children, adolescents, adults . th ed. McGraw-Hill Education. Gesell. The first five years of life: A guide to the study of the preschool child . Harper & Brothers. Hapsari. , & Setiawan. Penerapan Developmentally Appropriate Practice (DAP) dalam Kurikulum Merdeka untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini. Jurnal Pendidikan Tambusai. Harrist. , & Han. Teacher knowledge and the implementation of motor skill instruction Early Childhood Research Quarterly, 50, 148Ae158. https://doi. org/10. 1016/j. Haywood. , & Getchell. Life span motor development . th ed. Human Kinetics. Hurlock. Perkembangan anak (Edisi terjemaha. Erlangga. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pentingnya stimulasi bermain untuk merangsang kecerdasan multipel. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jannah. , & Safitri. Peran kemitraan orang tua dan guru dalam optimalisasi perkembangan fisik motorik anak melalui kegiatan home-based learning. Jurnal Riset Pendidikan Dasar, 7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pelaksanaan stimulasi, deteksi, dan intervensi dini tumbuh kembang anak di tingkat pelayanan kesehatan dasar . Direktorat Bina Gizi & Kesehatan Ibu dan Anak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Kemendikbud. Liana. Aunurrahman, & Halida. Guru sebagai fasilitator pembelajaran dalam menghadapi kesulitan belajar anak usia 5-6 tahun di Paud Yayasan Darul Quran Al Haramain. Jurnal Dunia Pendidikan, 5. , 832-841. Malaguzzi. History, ideas, and philosophy. In C. Edwards. Gandini, & G. Forman (Eds. The hundred languages of children: The Reggio Emilia approachAiAdvanced reflections . nd , pp. 49Ae. Ablex Publishing. Muslihin. Loita. , & Nurjanah. Instrumen penelitian tindakan kelas untuk peningkatan motorik halus anak. Jurnal PAUD Agapedia, 6. , 99Ae106 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 National Association for the Education of Young Children (NAEYC). Developmentally appropriate practice in early childhood programs serving children from birth through age 8 . th ed. NAEYC. Pemerintah Indonesia. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini . Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rodiyana. , & Dwi Puspitasari. Karakteristik dan perbedaan individu dalam efektivitas Jurnal Educatio FKIP UNMA, 796Ae803. https://doi. org/10. 31949/educatio. Santrock. Child development . th ed. McGraw-Hill. Smith. , & Thelen. Development as a dynamic system. Trends in Cognitive Sciences, 7. , 343Ae348. https://doi. org/10. 1016/S1364-6613.