Analisis Komunikasi Kesehatan dalam Kegiatan Donor Darah: Pemberian Informasi. Pemahaman, dan Perilaku Partisipasi Sry Ade Muhtya Gobel1*. Suci Safitri Pakaya 2. Revalina Latinulu3. Fadil Priansyah Nando4 1,2,3,4Program Sarjana Terapan Promosi Kesehatan. Universitas Bina Taruna Gorontalo. Kota Gorontalo. Indonesia Received : 15/08/2025 Revised : 21/10/2025 Accepted : 30/11/2025 Published : 31/12/2025 Corresponding Author: Author Name*: Sry Ade Muhtya Gobel Email*: sryabel. gobel@gmail. DOI: A 2025 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Phone*: 6282247042884 Abstrak: Donor darah merupakan kegiatan kesehatan masyarakat yang sangat bergantung pada partisipasi sukarela individu. Keberhasilan kegiatan donor darah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan, tetapi juga oleh efektivitas komunikasi kesehatan dalam membentuk pemahaman, sikap, dan perilaku masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran komunikasi kesehatan dalam membentuk partisipasi donor darah dengan menyoroti pemahaman informasi, empati sosial, serta hambatan berupa misinformasi dan ketakutan terhadap proses donor darah. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui pengumpulan data kuesioner dan wawancara pada responden di lingkungan kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memahami informasi dasar kegiatan donor darah, seperti waktu, lokasi, dan ajakan partisipasi. Namun, masih ditemukan kesenjangan pemahaman terkait prosedur donor darah dan manfaat ilmiahnya bagi pendonor. Responden yang mendonorkan darah umumnya didorong oleh empati sosial dan nilai solidaritas kemanusiaan, sedangkan responden yang tidak mendonor dipengaruhi oleh ketakutan, misinformasi, persepsi risiko, dan kondisi fisik. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi kesehatan yang bersifat umum dan persuasif belum cukup untuk mendorong partisipasi optimal. Diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih komprehensif melalui edukasi prosedural, klarifikasi ilmiah, penguatan empati sosial, serta peningkatan literasi kesehatan agar partisipasi donor darah meningkat secara Kata Kunci: Komunikasi Kesehatan. Donor Darah. Empati Sosial. Misinformasi Kesehatan. Literasi Kesehatan. Pendahuluan Donor darah merupakan perilaku kesehatan prososial yang memiliki peran penting dalam menjamin ketersediaan darah bagi pelayanan medis, terutama dalam situasi darurat dan operasi World Health Organization (WHO) menegaskan pentingnya donor darah sukarela untuk mencukupi kebutuhan transfusi darah nasional, namun banyak negara masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam donor darah. Riset komunikasi kesehatan memandang bahwa partisipasi dalam donor darah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor medis, tetapi juga oleh kualitas komunikasi ___________ How to Cite: Gobel. Pakaya. Latinulu. , & Nando. Analisis komunikasi kesehatan dalam kegiatan donor darah: Pemberian informasi, pemahaman, dan perilaku partisipasi. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. , 1. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. informasi kesehatan dan pemahaman individu terhadap pesan-pesan yang disampaikan (WHO, 2. Dalam perspektif komunikasi kesehatan, perilaku kesehatan dipengaruhi oleh proses interaksi sosial yang menghasilkan pembentukan pengetahuan, persepsi, serta keputusan untuk bertindak. Komunikasi kesehatan berfungsi sebagai jembatan antara penyampaian informasi dan pembentukan perilaku yang diinginkan, termasuk dalam konteks donor darah. Hal ini penting karena informasi yang disampaikan secara jelas dan disertai strategi yang tepat mampu meningkatkan literasi kesehatan dan mengurangi misinformasi atau stigma yang sering menjadi hambatan dalam tindak lanjut perilaku sehat (Kong et al. , 2. Penelitian di berbagai daerah Indonesia menunjukkan bahwa pengetahuan dan minat masyarakat terhadap donor darah berhubungan kuat dengan tingkat informasi yang mereka terima. Misalnya, studi di Kelurahan Tamparang Keke menemukan bahwa semakin tinggi pengetahuan individu tentang donor darah, semakin tinggi pula minatnya untuk berpartisipasi. Meski demikian, masih terdapat hambatan berupa ketakutan, mitos, dan keterbatasan akses informasi yang memengaruhi minat tersebut. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran komunikasi edukatif dalam meningkatkan pemahaman tentang donor darah (Nur, 2. Selain itu, penelitian kuantitatif di lingkungan masyarakat Babarsari menunjukkan bahwa tingkat komunikasi kesehatan dalam penyuluhan kesehatan berdampak signifikan pada keberhasilan rekruitmen pendonor darah, di mana komunikasi yang efektif meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap donor darah sekaligus ketertarikan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Temuan ini mempertegas pentingnya penyampaian pesan yang tepat dan sumber informasi yang kredibel dalam proses komunikasi kesehatan (Anggraeni et al. , 2. Strategi komunikasi publik juga terbukti berperan dalam pelestarian donor darah. Penelitian di Unit Transfusi Darah PMI Kota Makassar menunjukkan bahwa komunikasi publik yang efektif dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya donor darah, yang pada gilirannya mendukung peningkatan partisipasi sukarela. Temuan ini relevan dengan tujuan penelitian untuk menganalisis aspek pemberian informasi dan pemahaman sebagai faktor utama pembentukan perilaku partisipasi (A et al. , 2. Dinamika persepsi juga menjadi fokus penting dalam penelitian donor darah. Studi yang menelaah persepsi masyarakat terhadap donor darah sebagai bentuk solidaritas sosial menemukan bahwa nilai sosial, termasuk rasa empati dan solidaritas, berperan dalam mempengaruhi pandangan dan perilaku terhadap donor darah, menambahkan dimensi psikososial dalam analisis donor darah yang tidak hanya Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. berkaitan dengan informasi faktual tetapi juga dengan konstruksi sosial individu (Fadilla et al. , 2. Selain faktor lokal, bukti dari kajian internasional menunjukkan bahwa penggunaan teknologi informasi kesehatan juga berpotensi meningkatkan pengetahuan dan perilaku donor darah. Sebuah scoping review menemukan bahwa eHealth technologies, seperti SMS, media sosial, dan aplikasi mobile, berkontribusi pada penyebaran informasi serta motivasi donor darah dan dapat meningkatkan keterlibatan calon pendonor melalui penguatan self-efficacy. Temuan ini mengindikasikan bahwa saluran komunikasi modern juga memiliki peran signifikan dalam mempengaruhi perilaku donor darah. Lingkungan kampus menjadi ruang sosial strategis dalam penerapan komunikasi kesehatan karena melibatkan berbagai aktor, seperti mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum yang berinteraksi dalam sistem sosial dan budaya Mahasiswa berperan sebagai kelompok sasaran utama edukasi kesehatan, dosen sebagai figur referensi yang memengaruhi norma sosial, serta masyarakat umum yang memberikan konteks sosial-budaya dalam pembentukan persepsi bersama. Interaksi ini membentuk suatu ekosistem komunikasi kesehatan yang dapat memperkuat efektivitas pesan donor darah. Meskipun berbagai strategi telah diterapkan, partisipasi dalam kegiatan donor darah masih menunjukkan variasi. Sebagian individu bersedia mendonor secara sukarela, sementara sebagian lainnya memilih untuk tidak berpartisipasi. Variasi tersebut menunjukkan adanya perbedaan dalam proses pemberian informasi, tingkat pemahaman, serta hambatan psikologis dan sosial yang menghalangi perilaku partisipasi. Identifikasi alasan ketidakpartisipasian, seperti ketakutan terhadap prosedur atau kurangnya keyakinan akan manfaat, menjadi aspek penting untuk menggali dinamika komunikasi kesehatan dalam konteks ini. Berdasarkan uraian teoritis dan temuan empiris tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi kesehatan dalam kegiatan donor darah dengan fokus pada tiga aspek utama: pemberian informasi, pemahaman informasi, dan perilaku partisipasi. Penelitian ini melibatkan mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum sebagai informan untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai peran komunikasi kesehatan dan pengaruhnya terhadap perilaku donor darah di lingkungan kampus. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan strategi komunikasi kesehatan yang efektif dan berbasis perilaku untuk meningkatkan partisipasi donor darah secara berkelanjutan. Metode Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain deskriptif-analitik, yang mengombinasikan metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai peran komunikasi kesehatan dalam mendorong partisipasi donor darah. Pendekatan mixed methods dipilih karena memungkinkan integrasi data kuantitatif dan kualitatif guna memahami fenomena kesehatan secara lebih mendalam, khususnya ketika penelitian tidak hanya berfokus pada pengukuran perilaku, tetapi juga pada proses komunikasi dan pemaknaan informasi oleh individu (Creswell & Clark, 2. Penelitian dilaksanakan di lingkungan Universitas Bina Taruna Gorontalo pada saat pelaksanaan kegiatan donor darah yang melibatkan civitas akademika dan masyarakat umum. Subjek penelitian berjumlah 54 responden, yang terdiri atas 27 pendonor darah dan 27 bukan pendonor darah, dengan informan berasal dari kelompok mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum. Jumlah responden tersebut dinilai memadai untuk penelitian deskriptif dengan memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai proses komunikasi kesehatan dan perilaku partisipasi donor darah, bukan untuk melakukan generalisasi statistik yang luas. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian, sehingga data yang diperoleh dapat merepresentasikan pengalaman dan perspektif yang dibutuhkan dalam analisis (Patton, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan pengisian kuesioner survei. Observasi dilakukan secara langsung selama kegiatan donor darah berlangsung untuk mengamati bentuk komunikasi kesehatan yang diterapkan, termasuk cara penyampaian informasi, media komunikasi yang digunakan, serta respons peserta terhadap pesan donor darah. Observasi digunakan untuk memahami konteks dan dinamika komunikasi kesehatan secara alami (Sugiyono, 2. Wawancara semi-terstruktur dilakukan kepada informan terpilih dari kelompok pendonor dan bukan pendonor untuk menggali pengalaman menerima informasi donor darah, tingkat pemahaman terhadap manfaat dan prosedur donor darah, serta faktor-faktor yang memengaruhi perilaku partisipasi atau ketidakpartisipasian. Teknik wawancara semiterstruktur memungkinkan peneliti memperoleh data yang mendalam namun tetap terarah sesuai fokus penelitian Selain itu, kuesioner survei diberikan kepada seluruh responden untuk mengumpulkan data kuantitatif terkait sumber Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. informasi donor darah, tingkat pemahaman informasi, serta perilaku dan niat partisipasi dalam kegiatan donor darah (Creswell & Clark, 2. Data yang diperoleh dianalisis secara terpadu. Data kualitatif hasil observasi dan wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik, yang meliputi proses reduksi data, pengodean, pengelompokan tema, dan penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi pola komunikasi kesehatan serta dinamika perilaku donor darah. Sementara itu, data kuantitatif dari kuesioner dianalisis secara deskriptif, menggunakan distribusi frekuensi dan persentase untuk menggambarkan karakteristik responden, tingkat pemahaman informasi, serta perilaku partisipasi donor darah (Creswell & Poth, 2. Integrasi hasil analisis kualitatif dan kuantitatif dilakukan pada tahap interpretasi untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh mengenai peran komunikasi kesehatan dalam mendorong partisipasi donor darah. Seluruh proses penelitian dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip etika penelitian, termasuk pemberian penjelasan kepada responden mengenai tujuan penelitian, jaminan kerahasiaan data, serta persetujuan responden untuk berpartisipasi secara sukarela, sesuai dengan kaidah penelitian sosial dan kesehatan. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memahami informasi umum tentang kegiatan donor darah, termasuk waktu pelaksanaan, ajakan, serta lokasi kegiatan. Temuan ini konsisten dengan studi yang menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang efektif, termasuk melalui penyuluhan kesehatan, dapat meningkatkan knowledge masyarakat terhadap donor darah (Anggraeni et al. , 2. Meskipun pemahaman terhadap informasi dasar tergolong baik, penelitian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan dalam pemahaman terkait prosedur donor darah dan penjelasan manfaat ilmiahnya. Sebagian besar responden mengaku belum mengetahui tahapan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum donor, durasi proses, atau mekanisme manfaat donor bagi tubuh. Hal ini sejalan dengan temuan pendidikan kesehatan yang menunjukkan bahwa kurangnya informasi rinci berkontribusi pada kekaburan pemahaman dan pengambilan keputusan individu. Analisis perilaku menunjukkan bahwa responden yang menjadi pendonor cenderung melakukan tindakan langsung setelah menerima informasi. Ditemukan pula bahwa motivasi pendonor kental dipengaruhi oleh empati sosial, yaitu dorongan intrinsik untuk membantu orang lain yang membutuhkan darah. Fenomena ini konsisten dengan temuan studi yang menunjukkan bahwa donor darah merupakan bentuk prosocial behavior yang dipengaruhi oleh nilai solidaritas Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. dan kepedulian sosial Dalam konteks penelitian ini, empati sosial muncul bukan sekadar sebagai motivasi altruistik umum, tetapi sebagai pendorong kuat yang menghubungkan pemahaman informasi dasar dengan tindakan nyata mendorong individu mendonorkan darah sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap kesejahteraan orang lain. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa miskomunikasi, misinformasi, dan ketakutan terkait proses donor darah menjadi pendorong utama bagi beberapa responden untuk tidak berpartisipasi. Sejumlah responden menyatakan keraguannya terhadap prosedur donor karena adanya kekhawatiran tentang rasa sakit, efek samping, serta ketakutan terhadap jarum dan prosedur Pada temuan ini diketahui bahwa ketakutan yang tidak beralasanAiyang sering kali diperkuat oleh informasi yang tidak lengkap atau salahAidapat memperkuat persepsi risiko dan hambatan kesehatan yang kemudian menurunkan niat untuk mendonor. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa misinformasi terkait donor darah, seperti anggapan bahwa donor akan melemahkan tubuh atau menyebabkan penyakit, secara signifikan mempengaruhi keputusan individu dalam berpartisipasi (Anggraeni et al. , 2. Kelompok responden yang bukan pendonor banyak mengemukakan alasan yang berkaitan dengan kondisi fisik dan kesejahteraan pribadi, seperti kurang tidur, tekanan darah rendah, konsumsi obat-obatan, atau status kesehatan Faktor-faktor ini mencerminkan bahwa persepsi terhadap kerentanan dan hambatan kesehatan . erceived susceptibility & perceived barrier. merupakan penentu penting dalam perilaku partisipasi donor darah, yang dijelaskan secara teoritis dalam literatur perilaku kesehatan (Alotaibi et al. , 2. Keberadaan ketakutan dan misinformasi ini menyoroti kebutuhan akan peningkatan kualitas komunikasi kesehatan yang tidak hanya menginformasikan keberadaan kegiatan donor darah, tetapi juga mengklarifikasi prosedur secara ilmiah, mengoreksi asumsi keliru, dan menurunkan persepsi risiko yang tidak berdasar. Upaya tersebut penting agar niat dan perilaku donor darah tidak terganggu oleh faktor psikososial yang sebenarnya dapat dikelola melalui komunikasi yang tepat (Artharini & Situmorang, 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun penyebaran informasi donor darah telah mencapai tingkat pemahaman dasar yang baik, efektivitas komunikasi kesehatan masih perlu ditingkatkan, terutama dalam menghadapi hambatan berbasis ketakutan, misinformasi, dan persepsi Perlu adanya pendekatan komunikasi yang lebih mendalamAiyang memadukan informasi ilmiah, edukasi prosedural, dan penguatan nilai prososial Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. seperti empati agar perilaku partisipasi donor darah dapat meningkat secara berkelanjutan di lingkungan kampus dan komunitas umum. Selain empati sosial, penelitian ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap institusi penyelenggara dan tenaga kesehatan turut mempengaruhi keputusan partisipasi donor darah. Responden yang memilih untuk mendonor umumnya memiliki tingkat kepercayaan yang baik terhadap proses medis, petugas kesehatan, serta keamanan prosedur donor darah. Kepercayaan ini berperan sebagai enabling factor dalam komunikasi kesehatan, karena pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima apabila sumber informasi dianggap kredibel dan dapat dipercaya. Temuan ini sejalan dengan kajian komunikasi kesehatan yang menekankan bahwa kredibilitas komunikator merupakan faktor kunci dalam membentuk sikap dan perilaku kesehatan, khususnya pada intervensi berbasis komunitas seperti kegiatan donor darah (Ewald et al. , 2. Di sisi lain, penelitian ini juga mengungkap bahwa ketakutan terhadap jarum, rasa sakit, dan kemungkinan efek samping masih menjadi hambatan psikologis yang cukup dominan, terutama pada kelompok bukan pendonor. Ketakutan tersebut sering kali tidak bersumber dari pengalaman pribadi, melainkan dari cerita orang lain, asumsi yang keliru, serta informasi yang tidak tervalidasi secara ilmiah. Hal ini menunjukkan bahwa misinformasi tidak selalu hadir dalam bentuk informasi palsu yang eksplisit, tetapi juga dapat muncul sebagai informational gaps atau kekosongan pengetahuan yang kemudian diisi oleh persepsi subjektif. Dalam perspektif komunikasi kesehatan, kondisi ini mempertegas pentingnya pesan yang bersifat klarifikatif dan edukatif untuk menurunkan kecemasan serta membangun persepsi risiko yang lebih rasional (Martynez-Sanz & Duryntez-Stolle, 2. Lebih lanjut, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penyampaian informasi donor darah yang masih berfokus pada ajakan partisipasi tanpa disertai penjelasan ilmiah yang komprehensif berpotensi membatasi dampak komunikasi Informasi yang hanya menekankan pentingnya donor darah bagi penerima belum sepenuhnya menjawab kebutuhan kognitif dan afektif calon pendonor, khususnya terkait keamanan prosedur dan manfaat kesehatan bagi pendonor itu sendiri (Munandar et al. , 2. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi kesehatan yang lebih holistik yang mengintegrasikan aspek pengetahuan, emosi, empati sosial, dan penguatan efikasi diri perlu dikembangkan agar pesan donor darah tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga mampu mengubah niat menjadi tindakan nyata secara berkelanjutan. Pembahasan Penelitian Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi kesehatan memiliki peran sentral dalam membentuk pemahaman, sikap, dan perilaku partisipasi donor darah di lingkungan kampus dan masyarakat umum. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah menerima dan memahami informasi dasar mengenai kegiatan donor darah. Namun, pemahaman tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi partisipasi aktif bagi seluruh responden. Temuan ini menguatkan pandangan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mendorong perubahan perilaku, sebagaimana dijelaskan dalam teori perilaku kesehatan yang menempatkan faktor psikososial dan persepsi risiko sebagai mediator penting antara informasi dan Tindakan. Dari perspektif komunikasi kesehatan, keterbatasan utama yang ditemukan adalah kurangnya kedalaman pesan terkait prosedur donor darah dan manfaat ilmiah bagi pendonor. Informasi yang bersifat umum dan persuasif tanpa penjelasan prosedural yang jelas berpotensi menimbulkan keraguan dan Hal ini sejalan dengan konsep health literacy yang dikemukakan oleh Nutbeam, bahwa komunikasi kesehatan yang efektif tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan individu mampu memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi tersebut dalam pengambilan keputusan Kesehatan . ntyrk et al. , 2. Dalam konteks penelitian ini, rendahnya pemahaman prosedural dapat menjelaskan mengapa sebagian responden memilih untuk tidak mendonor meskipun memiliki sikap positif terhadap kegiatan donor darah. Aspek empati sosial muncul sebagai temuan penting yang memperkuat motivasi pendonor. Responden yang mendonorkan darah tidak hanya didorong oleh kepentingan kesehatan pribadi, tetapi juga oleh nilai altruistik dan solidaritas Hal ini memperlihatkan bahwa donor darah merupakan bentuk perilaku prososial yang kuat, di mana komunikasi kesehatan berfungsi sebagai pemicu kesadaran moral dan sosial. Temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa empati dan kepedulian terhadap sesama merupakan determinan utama dalam perilaku donor darah, terutama pada kelompok usia muda dan komunitas akademik (Monteiro et al. , 2. Dengan demikian, pendekatan komunikasi yang menekankan nilai kemanusiaan dan dampak sosial donor darah berpotensi meningkatkan keterlibatan masyarakat secara Di sisi lain, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa misinformasi dan ketakutan terhadap proses donor darah menjadi penghambat signifikan dalam Ketakutan terhadap jarum, rasa sakit, dan efek samping donor sering kali tidak didasarkan pada pengalaman empiris, melainkan pada persepsi subjektif dan informasi yang tidak lengkap. Dalam kerangka Health Belief Model. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. kondisi ini dapat dikategorikan sebagai perceived barriers yang memperlemah niat untuk bertindak. Temuan ini memperkuat argumen bahwa komunikasi kesehatan yang tidak secara eksplisit mengklarifikasi risiko dan prosedur medis dapat secara tidak langsung memperkuat hambatan psikologis individu. Alasan tidak mendonor yang dikemukakan responden seperti kondisi fisik yang kurang prima, tekanan darah rendah, konsumsi obat-obatan, atau kondisi fisiologis tertentu menunjukkan bahwa keputusan partisipasi donor darah juga sangat dipengaruhi oleh persepsi kerentanan dan kesiapan fisik. Hal ini menegaskan bahwa strategi komunikasi kesehatan perlu disesuaikan dengan kondisi audiens, termasuk memberikan edukasi mengenai kriteria medis donor darah secara jelas agar individu dapat melakukan penilaian diri yang lebih akurat, bukan berdasarkan asumsi atau ketakutan yang berlebihan. Lebih jauh, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi kesehatan dalam kegiatan donor darah masih cenderung berfokus pada aspek informatif dan ajakan, namun belum sepenuhnya mengakomodasi dimensi afektif dan kognitif secara seimbang. Padahal, literatur komunikasi kesehatan modern menekankan pentingnya integrasi antara informasi ilmiah, pengelolaan emosi, dan penguatan efikasi diri dalam mendorong perubahan perilaku. Dengan demikian, pendekatan komunikasi yang lebih strategis misalnya melalui narasi pengalaman pendonor, klarifikasi mitos, serta visualisasi prosedur donor berpotensi mengurangi ketakutan dan meningkatkan kepercayaan publik. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan kegiatan donor darah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan informasi, tetapi juga oleh kualitas komunikasi kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan pengetahuan, emosi, dan nilai sosial audiens. Temuan penelitian ini memperkuat kontribusi komunikasi kesehatan sebagai instrumen penting dalam membentuk perilaku partisipasi donor darah, khususnya di lingkungan kampus dan komunitas, serta memberikan dasar empiris bagi pengembangan strategi komunikasi yang lebih efektif dan berorientasi pada perubahan perilaku. Simpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa partisipasi donor darah tidak sematamata dipengaruhi oleh ketersediaan informasi atau ajakan normatif, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor kognitif, afektif, dan sosial yang dimediasi oleh kualitas komunikasi kesehatan. Temuan menunjukkan bahwa pemahaman yang terbatas mengenai prosedur donor darah, manfaat ilmiah bagi pendonor, serta persepsi risiko yang tidak proporsional menjadi hambatan utama bagi individu yang belum pernah mendonor. Kondisi ini diperburuk oleh Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. keberadaan misinformasi dan kekosongan pengetahuan yang membentuk ketakutan, meskipun tidak selalu didasarkan pada pengalaman langsung. Di sisi lain, empati sosial dan nilai altruistik terbukti berperan signifikan dalam mendorong keputusan untuk mendonorkan darah. Responden yang menjadi pendonor umumnya memiliki orientasi prososial yang kuat, ditandai dengan kepedulian terhadap sesama dan kesadaran akan dampak sosial dari donor darah. Faktor ini diperkuat oleh tingkat kepercayaan yang baik terhadap institusi penyelenggara dan tenaga kesehatan, yang berfungsi sebagai enabling factor dalam proses komunikasi kesehatan. Kepercayaan tersebut memungkinkan pesan kesehatan diterima secara lebih terbuka dan mengurangi resistensi psikologis terhadap prosedur medis. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas komunikasi kesehatan dalam konteks donor darah tidak hanya bergantung pada intensitas pesan persuasif, tetapi pada kedalaman, kejelasan, dan kredibilitas informasi yang disampaikan. Komunikasi kesehatan yang mampu mengintegrasikan aspek literasi kesehatan, klarifikasi prosedural, penguatan empati sosial, serta pengelolaan persepsi risiko secara rasional berpotensi meningkatkan niat dan perilaku donor darah secara berkelanjutan, khususnya di lingkungan kampus dan komunitas akademik. Rekomendasi Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar strategi komunikasi kesehatan dalam kegiatan donor darah dikembangkan secara lebih komprehensif dan berbasis kebutuhan audiens. Informasi yang disampaikan tidak hanya menekankan urgensi donor darah bagi penerima, tetapi juga perlu memuat penjelasan prosedural yang jelas, transparan, dan berbasis bukti ilmiah mengenai tahapan donor, standar keamanan, serta manfaat kesehatan bagi pendonor. Pendekatan ini penting untuk meningkatkan literasi kesehatan dan menurunkan kecemasan yang bersumber dari asumsi keliru maupun misinformasi. Selain itu, pesan komunikasi kesehatan perlu dirancang dengan mengintegrasikan dimensi afektif dan sosial, khususnya melalui penekanan pada nilai empati, solidaritas, dan dampak kemanusiaan dari donor darah. Narasi berbasis pengalaman positif pendonor, testimoni tenaga kesehatan, serta visualisasi dampak sosial donor darah dapat digunakan untuk memperkuat keterlibatan emosional audiens tanpa mengabaikan akurasi ilmiah. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjembatani aspek rasional dan emosional dalam pengambilan keputusan kesehatan. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan dilakukan pengembangan studi dengan desain intervensi komunikasi kesehatan guna menguji efektivitas pesan berbasis literasi kesehatan dan empati sosial terhadap peningkatan perilaku donor Penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi peran media digital dan media sosial sebagai saluran komunikasi kesehatan, mengingat tingginya potensi penyebaran misinformasi sekaligus peluang edukasi di ruang digital. Dengan demikian, kontribusi penelitian diharapkan tidak hanya memperkaya kajian akademik komunikasi kesehatan, tetapi juga memberikan dasar empiris bagi perumusan strategi promosi donor darah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Referensi