Journal of Medicine and Health (JMH) Vol. 6 No. 2 August 2024 e-ISSN: 2442-5257 https://doi. org/10. 28932/jmh. Research Article Moist Sebagai Mediator pada Korelasi UV Damage terhadap Kadar Porfirin pada Siswa SMA Kalam Kudus II Jakarta Moist As A Mediator in The Correlation Between UV Damage and Porphyrin Levels in High School Students at Kalam Kudus II Jakarta Gilda Gilda1*. Elizabeth Novia1. Hendsun Hendsun2. Fendy Wellen1. Yohanes Firmansyah1. Sukmawati T Tan1 1Departemen Dermatologia dan Venerologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Tarumanagara Jalan Letjen S. Parman St No. Tomang. Grogol Petamburan. Jakarta Barat, 11440 Zhejiang Chinese Medical University Hangzho, 548 Binwen Rd. Binjiang District. Hangzhou. Zhejiang. China, 310053 *Penulis korespondensi Email: gildajahja@gmail. Received: April 4, 2024 Accepted: August 19, 2024 Abstrak Radiasi ultraviolet (UV) memiliki sifat sebagai inisiator dan promoter tumor. UV adalah faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk kanker kulit dan gangguan kulit lainnya. Paparan UV yang berlebihan menyebabkan kerusakan secara fisik pada lapisan kulit dan secara kimia pada stres oksidatif. Paparan UV-A, menginduksi fotooksidatif stres, ditandai dengan meningkatkan kadar Porfirin terutama protoporfirin IX. Kandungan sebum, hidrasi yang rendah dan jumlah Porfirin yang rendah, menyebabkan meningkatnya sensitivitas kulit. Tujuan dari penelitian cross sectional ini adalah menguji korelasi antara moist sebagai mediator pada korelasi UV damage terhadap kadar Porfirin. Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Atas Kalam Kudus II Jakarta dengan total 91 responden. Kadar Porfirin dan moist dinilai dengan skin analyzer pada regio Tzone dan V-zone. Uji korelasi dengan Pearson Correlation. Nilai R2 untuk variabel Porfirin, moist, dan UV damage adalah sebesar 0,655, 0,729, dan 0,143, secara berurutan. Variabel moist memiliki kemampuan prediksi relevansi yang kecil dengan nilai Q 2 0,233 dan UV damage didapatkan memiliki kemampuan prediksi yang besar, yaitu 0,604. Dapat disimpulkan, adanya peningkatan kadar Porfirin terhadap pajanan UV, namun pada kulit dengan kadar kelembaban yang rendah akibat pajanan UV, mengalami peningkatan kadar Porfirin yang lebih bermakna. Kata kunci: paparan UV. Porfirin. UV damage. How to Cite: Gilda G. Novia E. Hendsun H. Wellen F. Firmansyah Y. Tan ST. Moist sebagai mediator pada korelasi UV damage terhadap kadar porfirin pada siswa SMA Kalam Kudus II Jakarta. Journal of Medicine and Health. : 31-9. DOI: https://doi. org/10. 28932/jmh. A 2023 The Authors. This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. J Med Health. :31-9 Journal of Medicine and Health Vol. 6 No. 2 August 2024 Moist Sebagai Mediator padaA e-ISSN: 2442-5257 Research Article Abstract Ultraviolet (UV) radiation has properties as initiator and tumor promoter. UV is the most important modifiable risk factor for skin cancer and other skin disorders. Excessive UV exposure causes physical and chemical damage through oxidative stress. UV-A exposure induces photooxidative stress, characterized by increased levels of porphyrins. Low sebum content, low hydration, and low levels of porphyrins contribute to increased skin sensitivity. This crosectional study aimed to examine the correlation between moisture as a mediator in the correlation of UV damage to porphyrin levels. This study was done at a high school in Jakarta, which included 91 respondents. Porphyrin levels and moisture were assessed using a Skin Analyzer on the T-zone and V-zone. Correlation tests were conducted using Pearson Correlation. In this study, the R2 values for porphyrin, moisture, and UV damage were 0. 655, 0. 729, and 0. Moisture, as a variable, had a small predictive relevance with a Q2 value of 0. while UV damage had a significant predictive ability, of 0. In conclusion, our study has found an increase in porphyrin levels due to UV exposure. However, due to UV exposure, there is a more significant rise in porphyrin levels found in skin with low moisture levels. Keywords: UV exposure. Porphyrin. UV damage. Pendahuluan Dampak dari paparan sinar ultraviolet (UV) terhadap kulit manusia sudah lama menjadi fokus dalam penelitian dermatologi. Radiasi UV diklasifikasikan sebagai "karsinogen lengkap" karena merupakan mutagen dan agen kerusakan non-spesifik serta memiliki sifat sebagai inisiator tumor dan promoter tumor. Paparan sinar UV yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kulit baik secara fisik pada lapisan kulit maupun secara kimia melalui induksi stres oksidatif. Salah satu mekanisme yang berperan dalam kerusakan akibat stress oksidatif adalah produksi Porfirin dalam kulit. Porfirin adalah kelompok senyawa organik yang memiliki peran utama dalam berbagai proses seperti transportasi oksigen dan fotosintesis. Terganggunya produksi dari heme, menyebabkan kondisi yang dinamakan porfiria yang ditandai lapisan kulit menjadi lebih sensitif dengan adanya paparan sinar. 3,4 Bakteri komensal kulit. Propionibacterium acnes, memproduksi Porfirin yang menghasilkan fluoresen sehingga terlihat pada lampu wood. Porfirin yang dihasilkan oleh P. acnes dapat berperan pada reaksi inflamasi perifolikel melalui efek sitotoksik dengan menstimulasi IL-8 keratinosit. Paparan baik sinar UV-A dan UV-B memiliki dampak pada mikrobiota kulit. Saat P. acnes terpapar dengan radiasi UV. Porfirin yang dihasilkan menyerap UV dan memproduksi radikal bebas. Sebagai tambahan, oksidasi protein pada bakteri dapat menjadi penentu utama adanya reaksi bakteri terhadap radiasi. 6-9 Studi oleh Wang dkk, menyatakan penurunan intensitas Porfirin pada paparan sinar UV dimana P. acnes terdeteksi, membuktikan bahwa bakteri pada wajah manusia memberikan reaksi terhadap radiasi UV. 6 Tercatat juga bahwa fluoresen merah yang dihasilkan oleh Porfirin terdapat pada area dimana sebum disekresi, hal ini membuktikan J Med Health. :31-9 Journal of Medicine and Health Vol. 6 No. 2 August 2024 Moist Sebagai Mediator padaA e-ISSN: 2442-5257 Research Article bahwa fluoresen merah dipengaruhi oleh sebum, bukan hanya P. acnes saja. Kandungan sebum, kelembaban kulit . yang rendah, dan penurunan intensitas Porfirin, menyebabkan peningkatan sensitivitas dari kulit. 6,10,11 Pajanan terhadap sinar UV kerap dialami remaja karena mereka umumnya melakukan aktivitas di luar ruangan . , sehingga membuat mereka beresiko terhadap terjadinya kelainan kulit akibat paparan radiasi sinar UV. 12,13 Penelitian oleh Thieden dkk mempelajari proporsi dosis UV terhadap anak-anak, remaja, dan orang dewasa menggunakan UV dosimeter, mendapatkan hasil bahwa dosis UV yang diterima sebelum usia 20 tahun mencapai 25%, dengan remaja mempunyai lebih banyak hari-hari yang beresiko terpapar sinar UV. 12 Tujuan penelitian ini adalah menguji korelasi antara moist . sebagai mediator pada korelasi UV damage terhadap pelajar laki-laki berusia 15-18 tahun di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kalam Kudus II Jakarta. Metode Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang dilaksanakan tanggal 15 Desember 2022 di SMA Kalam Kudus II Jakarta. Populasi pada penelitian ini adalah pelajar di SMA Kalam Kudus II Jakarta, sedangkan sampel pada penelitian ini adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pelajar laki-laki berusia 15-18 tahun. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah responden yang menolak ikut serta, memiliki gangguan claustrophobia, dan tidak kooperatif. Alat yang dipakai pada penelitian ini adalah skin analyzer dari Langdi Inc. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh positif dari variabel bebas, yaitu UV damage. Objek dalam penelitian ini adalah seluruh variabel di dalam model penelitian kali ini. kadar Porfirin dipilih sebagai variabel terikat, sedangkan moist merupakan variabel mediasi penelitian ini. Penilaian UV Damage, moist dan Porfirin sesuai dengan regio T Zone dan V Zone serta didapatkan hasil rerata dari 3 regio yang langsung di analisa oleh skin analyzer dalam satuan persen (%) (Gambar . Analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini berupa pengujian korelasi antara tiga Penelitian ini menggunakan metode analisis multivariat. Metode analisis ini digunakan karena variabel yang diteliti adalah beberapa variabel yang diperkirakan memiliki hubungan atau Penelitian ini menggunakan PLS-SEM karena metode ini mampu melakukan eksplanasi dan prediksi. Fungsi eksplanasi dalam analisis dilambangkan dengan coefficient of determination (R. , sedangkan fungsi prediksi dilambangkan dengan Q2. Alasan berikutnya adalah karena dalam PLS-SEM tidak mensyaratkan input data yang terdistribusi secara normal. J Med Health. :31-9 Journal of Medicine and Health Vol. 6 No. 2 August 2024 Moist Sebagai Mediator padaA e-ISSN: 2442-5257 Research Article Uji korelasi yang digunakan berupa uji Pearson Correlation bilamana sebaran data normal, dan Spearman Rho bilamana sebaran data tidak normal. Seluruh analisis data menghasilkan nilai kekuatan berupa r . dengan interpretasi kekuatan korelasi berupa: sangat kuat . orelasi r pada rentang 0,80-1,. , kuat . orelasi r pada rentang 0,60-0,. , cukup kuat . orelasi r berada pada rentang 0,40-0,. , lemah . orelasi r berada pada rentang 0,20-0,. , dan sangat lemah . orelasi r berada pada rentang 0,00-0,. Apabila QA > 0,5, maka model penelitian kali ini memiliki kemampuan prediktif yang sangat baik. Nilai 0,35 < QA O 0,5, maka model memiliki kemampuan prediktif yang baik. 0,2 < QA O 0,35, model memiliki kemampuan prediktif yang moderat. QA O 0,2, dianggap bawha model memiliki kemampuan prediktif yang buruk atau tidak ada kemampuan prediktif. Selanjutnya, penentuan pengambilan keputusan hipotesis didasarkan pada nilai signifikan p-value < 0,05. Penelitian ini telah mendapatkan izin kaji etik dari Universitas Tarumanagara nomor PPZ20192057 tahun 2022. Gambar 1. Regio Pengukuran Variabel Penelitian Hasil Responden adalah siswa SMA Kalam Kudus II Jakarta yang sebelumnya diminta untuk mengisi persetujuan. Jika responden bersedia dan memenuhi kriteria inklusi, responden akan diikutsertakan dalam penelitian. Berikut merupakan profil distribusi demografi dari 91 responden yang memenuhi kriteria penelitian (Tabel . Tabel 1. Distribusi Demografi Responden Parameter Mean (SD) Median (Min Ae Ma. Usia 16,02 . Ae . Sistolik 125,87 . Ae . Diastolik 76,46 . 75,5 . Ae . Porfirin 55,55 . Ae . Moist 53,71 . Ae . UV Damage 29,93 . Ae . J Med Health. :31-9 Journal of Medicine and Health Vol. 6 No. 2 August 2024 Moist Sebagai Mediator padaA e-ISSN: 2442-5257 Research Article Nilai R2 untuk variabel Porfirin adalah sebesar 0,655 dan dengan demikian memiliki kategori kuat. Variabel Porfirin sebagai variabel dependen dari model penelitian ini dapat dijelaskan sebesar 65,5% oleh variabel bebasnya, sedangkan sisanya dapat dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian ini. Hal yang menjadi catatan bahwa terdapat dua jalur menuju ke nilai Porfirin, dimana nilai R2 dari moist adalah sebesar 0,729 dan UV damage sebesar 0,143 . -value = 0,. Dengan demikian model penelitian ini dapat digunakan atau direplikasi dalam penelitian selanjutnya dengan cakupan populasi yang berbeda. Lebih lanjut, model penelitian ini juga dapat dikembangkan lagi dengan pengujian sampel yang lebih besar dan spesifik untuk membandingkan nilai R2 dari penelitian yang menggunakan model yang sama. Gambar 2. Korelasi antar variabel penelitian Variabel moist memiliki kemampuan prediksi relevansi yang kecil mempunyai kemampuan prediksi relevansi yang kecil . mall predictive relevanc. dengan nilai Q2 0,233 dan UV damage didapatkan memiliki kemampuan prediksi yang besar, yaitu 0,604. Tabel 2. Nilai Q2 J Med Health. :31-9 Variabel Moist 0,233 Porfirin 0,604 Journal of Medicine and Health Vol. 6 No. 2 August 2024 Moist Sebagai Mediator padaA e-ISSN: 2442-5257 Research Article Diskusi Pajanan terhadap radiasi sinar UV kerap dialami remaja dalam aktivitas mereka seharihari. Sinar UV dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan kulit. Berdasarkan panjang gelombangnya, radiasi sinar UV dapat dibedakan menjadi UVA . Ae400 n. UVB . Ae315 n. , dan UVC . Ae280 n. Walaupun UVC merupakan sinar yang paling berbahaya untuk kulit, namun paparannya jarang mencapai bumi karena dihalangi oleh lapisan ozon di atmosfer. Sedangkan UVA dan UVB merupakan sinar yang tersering menyebabkan kelainan kulit, seperti sunburn, photoaging, dan kanker kulit. 5,13,14 Stratum korneum, yang adalah lapisan teratas dari epidermis, berperan dalam mempertahankan integritas sawar kulit, seperti memelihara kelembaban kulit, proteksi terhadap invasi mikroba dan antigen, menurunkan efek radiasi UV, serta menurunkan efek stres oksidatif. Stratum korneum memiliki kemampuan untuk mempertahan kulit dalam keadaan fisiologis, namun pada pajanan terus-menerus terhadap kondisi berbahaya, stratum korneum dapat mengalami tekanan berlebihan dan akhirnya terjadi kerusakan integritas sawar, ditandai dengan peningkatan evaporasi air transepidermal (TEWL), sehingga kulit jadi kehilangan elastisitasnya dan menjadi kurang lembab 15,16 Struktur sawar stratum korneum terdiri dari korneosit yang diikat oleh korneodesmosom dan dikelilingi oleh kompleks intraselular lipid, yaitu asam lemak bebas, kolesterol, dan seramid. Kandungan komponen lipid yang seimbang pada lapisan epidermis membantu proteksi kulit, menjaganya dalam keadaan lembab, serta mencegah terjadinya TEWL. Campuran dari molekul higroskopik yang disebut natural moisturizing factor (NMF), bersama dengan highly cross-linked protein lainnya bekerja dengan mengikat molekul air, sehingga berperan menjaga kelembaban dan memberikan elastisitas pada kulit. 17,18 Porfirin merupakan sebuah kelompok senyawa organik yang berperan dalam berbagai proses biosintesis seperti transportasi oksigen pada heme dan fotosintesis. Jika terpapar oleh sinar ultraviolet yang mendekati 400nm. Porfirin akan tampak berfluoresensi merah. 3 Pada keadaan dimana kulit terpajan sinar UV, proses inflamasi yang dipicu oleh adanya stres oksidatif akan menginduksi proses apoptotik sel-sel kulit, sehingga integritas sawar kulit terganggu dan menyebabkan terjadinya peningkatan Porfirin. 4,5 Porfirin yang dihasilkan akan menyerap foton dari radiasi UV, menyebabkan terbentuknya reactive oxygen species (ROS). Melalui proses ini, radiasi UV merusak kulit serta mempercepat proses penuaan. 4,5,17 Hasil penelitian studi kami mendapatkan adanya peningkatan kadar Porfirin terhadap pajanan sinar UV. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Wellen dkk, dimana studi tersebut menilai korelasi paparan sinar UV terhadap Porfirin pada anak SMA. Ditemukan bahwa paparan J Med Health. :31-9 Journal of Medicine and Health Vol. 6 No. 2 August 2024 Moist Sebagai Mediator padaA e-ISSN: 2442-5257 Research Article radiasi memberikan korelasi positif terhadap peningkatan kadar Porfirin dalam kulit . = 0,529. < 0,. Penelitian ini mengemukakan bahwa Propionibacterium acnes menghasilkan produk berupa Porfirin. Jika fungsi sawar kulit rusak, kolonisasi bakteri komensal pada kulit dapat memicu respon inflamasi, sehingga menyebabkan peningkatan produksi Porfirin. 4,5 Namun, penelitian tersebut belum membahas faktor lain yang mendukung paparan UV terhadap tingginya kadar Porfirin pada kulit. Pada studi ini ditemukan adanya peningkatan kadar Porfirin terhadap pajanan UV, namun pada kulit dengan kadar kelembaban yang rendah akibat pajanan UV, akan mengalami peningkatan kadar Porfirin yang lebih bermakna. Hal ini mungkin terjadi karena pada keadaan pajanan UV berulang pada kulit manusia, menurunkan ikatan intraselular lipid dan Kerusakan dari korneodesmosom ini dapat merubah proses deskuamasi alami dan berpotensi menyebabkan disrupsi sawar kulit jangka panjang. 16 Beberapa penelitian telah membuktikan adanya efek signifikan dari kerusakan fungsi sawar kulit dengan radiasi UV. 14,19 Fungsi sawar kulit yang tidak adekuat karena pajanan sinar UV ini kemungkinan mengganggu difusi gradien air, sehingga kulit kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan kadar 19,20 Sebagai tambahan, studi oleh Kim dkk, menemukan korelasi negatif antara fungsi sawar kulit . engan pengukuran TEWL) dengan sensitivitas kulit terhadap sinar UV. Pada studi tersebut mengemukakan bahwa keadaan sawar kulit yang terganggu dapat menyebabkan kulit lebih rentan terhadap kerusakan oleh sinar UV. Disrupsi sawar kulit yang ditandai dengan alterasi pada pH, kelembaban, dan kadar sebum, dapat mengubah komposisi mikroorganisme komensal kulit. Porfirin yang merupakan produk dari respon inflamasi yang dipicu oleh perubahan komposisi mikrobiom ini juga akan mengalami peningkatan. Penelitian oleh Zhou dkk, mengenai hubungan integritas sawar epidermal dengan keberagaman dan komposisi mikrobiom kulit pada pasien dengan acne vulgaris, menemukan adanya peningkatan yang signifikan dari TEWL, pH, sebum. Porfirin dan red areas . < 0. pada kulit pasien dengan acne dibandingkan kontrol. 3,22 Hal tersebut mungkin dapat menjelaskan hasil penelitian kami, dimana pada responden dengan kelembaban kulit yang rendah karena pajanan sinar UV mengalami disrupsi sawar kulit, sehingga dapat terjadi alterasi komposisi mikrobiom yang akhirnya meningkatkan kadar Porfirin yang lebih bermakna. Simpulan Pada studi ini ditemukan adanya peningkatan kadar Porfirin terhadap pajanan UV, namun pada kulit dengan kadar kelembaban yang rendah akibat pajanan UV, akan mengalami peningkatan kadar Porfirin yang lebih bermakna, dimana nilai R2 dari moist adalah sebesar 0,729 J Med Health. :31-9 Journal of Medicine and Health Vol. 6 No. 2 August 2024 Moist Sebagai Mediator padaA e-ISSN: 2442-5257 Research Article dan UV damage sebesar 0,143 . -value = 0,. Variabel moist memiliki kemampuan prediksi relevansi yang kecil mempunyai kemampuan prediksi relevansi yang kecil . mall predictive relevanc. dengan nilai Q2 0,233 dan UV damage didapatkan memiliki kemampuan prediksi yang besar, yaitu 0,604. Penelitian yang menjelaskan hubungan langsung antara tingkat kelembaban kulit dengan produksi Porfirin masih terbatas sehingga perlunya penelitian lebih luas dengan populasi lebih besar dan penelitian bersifat acak terkendali. Daftar Pustaka