GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Perkembangan Profil Karakter Jujur Mahasiswa Berbasis Pemikiran Al-Ghazali dan Said Hawa Dan Implikasinya Bagi Bimbingan Konseling Neng Gustini1* . Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia. Abstract This study aims to identify and describe the honest character of students based on the thoughts of Al Ghazali and Said Hawa. This research approach is quantitative with the descriptive method of comparative technique using a questionnaire instrument, study documentation, and observation. The data collected were analyzed using descriptive statistical techniques and reliability and validity test analysis techniques. Based on the results of quantitative research through reliability and validity tests, we obtained that the honest character data of students were in the reasonably honest category. There was a need for more profound, honest character development in the oral and determination Keywords: Honest Character. thoughts of Al Ghazali and Said Hawa. Students. Guidance and Counseling Article Info Artikel History: Submitted: 2022-04-14 | Published: 2022-08-30 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 12. No 2 . Page: 239 - 246 (*) Corresponding Author: Neng Gustini. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia. Email: gustine1981@gmail. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium provided the original work is properly cited. INTRODUCTION Karakter sangat penting dalam kehidupan karena ia merupakan hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa mewujudkan sebuah masyarakat yang aman, tertib dan sejahtera. Karakter merupakan pondasi penting bagi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera. Karakter atau dalam pandangan Islam disebut akhlak memiliki keterkaitan yang erat dengan peradaban. Berdasarkan pendapat di atas bahwa karakter berpengaruh terhadap sebuah peradaban sebagaimana dijelaskan A. Juntika (Nurihsani, 2. bahwa akhlak sebagai penentu jatuh bangunnya sebuah Jujur sebagai salah satu karakteristik kepribadian yang ideal dari nilai-nilai dasar Islam dapat dikembangkan selain karakter yang lain, seperti: baik hati, adil, tulus. Page | 239 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA berani, dll. (Rassool, 2. Kejujuran berpengaruh terhadap perilaku atau karakter yang Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian, integritas, kuatnya hati dan jelasnya persoalan. Kejujuran membawa pelakunya bersikap berani, karena ia kokoh dan tidak lentur, dan karena ia berpegang teguh dan tidak ragu-ragu (Al-Jauziyah, 1. Dengan demikian, kejujuran menjadi sorotan dalam masyarakat Indonesia, bahkan internasional persoalan kejujuran ini menjadi sorotan karena adanya fenomena korupsi(Gundlach & Paldam, 2009. Rose-Ackerman, 2. dan fenomena kecurangan atau ketidakjujuran akademik di lembaga Pendidikan (Herdian, 2016. Simpson, 2016. Sukmawati, 2016. Tilke, 2. Konseling religius yang difokuskan pada agama Islam atau lebih dikenal dengan Islamic Counseling dikembangkan oleh Stephen Maynard dkk (Maynard. , & Dharamsi, 2. Konseling ini berbasis pada Quran dan Sunnah dan ilmu pengetahuan Islam tentang diri/jiwa . Konseling ini berbasis pada studi atau pengetahuan tentang diri dan pada hubungan antara individu, lingkungan . dan Pendekatan ini merupakan pendekatan holistic yang menyajikan masalah sebagai perkembangan diri/jiwa dan melalui refleksi diri bahwa klien bias memperbaiki Konseling ini tidak menilai seseorang dan memberikan mereka nasihat tentang fiqh, akan tetapi memfasilitasi individu atau konseli untuk mengembangkan potensinya/fitrahnya. Karakteristik konseling ini adalah diri-pengetahuan, melihat bahwa setiap individu memiliki potensi dan memiliki sifat kebaikan dan proses transformatif. Konseling ini diasumsi berbasis pada konsep Tauhid dan konselornya mengambil banyak peran dalam memberikan nasihat, informasi, konsultasi, konseling-jiwa, raga, pikiran bekerja secara interpersonal pada tingkat sosial dan atau politik. Keshavarzi dan Haque menjelaskan bahwa kerangka kerja konseling ini berbasis pada pengunaan konseptualisasi Al-Ghazali tentang jiwa manusia yang terdiri dari Nafs. Aql. Ruh dan Qalb (Keshavarzi & Haque, 2. (Rassool, 2. Konseling ini memiliki kelebihan, di antaranya adalah cukup fleksibel bagi konselor ketika bertemu dengan keragaman budaya muslim (Rassool, 2. Jujur adalah sifat penting bagi Islam. Salah satu pilar aqidah Islam adalah jujur. Kejujuran adalah perhiasan orang berbudi mulia dan orang yang berilmu. Kejujuran merupakan sifat terpuji dan kunci kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam pendidikan. Orang yang Jujur dengan mudah dapat meningkatkan martabatnya. Kejujuran dapat mengantarkan individu kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan pada surga, sedangkan dusta mengantarkan pada perilaku zalim dan perilaku menyimpang mengantarkan pada neraka. Jujur memiliki peranan penting dalam kehidupan individu, baik sebagai individu maupun makhluk sosial (Al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, 2. Jujur terdiri dari tiga bagian yang tidak sempurna kecuali dengannya: . kejujuran hati dengan iman secara benar, . niat yang benar dalam ucapan, . kata-kata yang benar dalam ucapan. (Al-Jauziyah, 1. Pendapat ini ditambahkan Said Hawa . 7, 322-. bahwa jujur terdiri dari enam aspek . , di antaranya: . jujur dalam lisan . , . jujur dalam niat dan kemauan, . jujur dalam Aoazam . , . jujur dalam menepati tekad, . jujur dalam amal perbuatan dan . jujur dalam berbagai maqam agama, seperti shidiq dalam khauf, rajaAo, taAozhim, zuhud, ridha, tawakkal, cinta dan lain sebagainya Berdasarkan dari teori-teori yang dikembangkan diatas maka kajian ini diarahkan pada riset profil karakter jujur mahasiswa yang dikembangkan pemikiran Imam Al Ghazali dan Said Hawa. Page | 240 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA METHOD Desain Penelitian Peneliti dalam penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif (Sugiono, 2. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab pertanyaan penelitian secara spesifik dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Tarbiyan dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Bertitik tolak dari tujuan umum dan tujuan khususnya, penelitian ini merupakan penelitian murni . asic researc. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah diperoleh perkembangan profil karakter jujur yang berimplikasi pada bimbingan konseling. Dalam konteks penelitian ini, yang dimaksud adalah perkembangan karakter jujur Demi menemukan kendala-kendala dalam aplikasi tersebut diperlukan upaya untuk memotret secara holistik terhadap kasus yang dihadapi konselor selama mengaplikasikan layanan bimbingan dan konseling. Melalui interaksi antara konselor dan mahasiswa, peneliti dapat mengeksplorasi pengalaman yang dirasakan mahasiswa yang menjadi subjek penelitian selama mendapatkan layanan bimbingan dan konseling. Metode penelitian yang telah diaplikasikan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kuantittif. Partisipan Partisipan yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung Fakultas Tarbiyah dan Keguruan tahun akademik 2017/2018 yang mengikuti mata kuliah bimbingan dan konseling dan manajemen bimbingan dan konseling. Adapun pengambilan sampelnya yang sudah ditentukan . urposive samplin. Sampel diambil dari mahasiswa yang memiliki karakter jujur berkategori cukup jujur. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 283 Instrumen Penelitian Instrumen pengungkap karakter jujur dibuat berdasarkan teori Shidq dari Ibnu al-Qoyyim al-Jauzi dan Said Hawa. Instrumen terdiri dari 78 item pertanyaan, masing-masing item memiliki rentang skala likert antara 1 sampai 5 . angat setuju sampai sangat tidak setuju. Item-item pada instrumen ini menggambarkan karakter jujur individu, yang terdiri dari 4 aspek, yaitu hati, lisan, tekad dan amal perbuatan, dengan 6 subaspek, yaitu niat dan kemauan, lisan/perkataan, tekad/azam, penepatan/pemenuhan tekad/azzam, amal perbuatan dan berbagai maqam agama. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa: angket, catatan observasi, dan wawancara. Sumber instrumen yang digunakan disusun oleh peneliti sendiri, setelah itu diuji validitas dan reliabilitasnya. Prosedur Penelitian Sebelum pengisian skala psikologi, responden diberitahu mengenai tujuan penelitian ini dan diminta untuk mengisi secara jujur sesuai dengan diri responden. Selain itu, peneliti juga memastikan kerahasiaan atas informasi yang diberikan responden serta wajib mengisi secara lengkap identitas mereka. Analisis Data Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan uji validitas dengan menggunakan teknik korelasi item total product moment. Sedangkan uji reliabilitas menggunkan rumus Page | 241 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA cronbachAos alpha dan dilakukan dengan bantuan software SPSS versi 26. 0 for windows. Analisis data dilakukan untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang karakter jujur mahasiswa yang menghasilkan data ordinal. Keseluruhan proses analisis statistik ini mneggnakan sofware SPSS versi 17 dan untuk melihat profil atau gambaran umum perkembangan karakter jujur mahasiswa di gunakan 5 kategori yaitu skor 312 < X kategori sangat jujur, skor 260 < X O 312 kategori jujur, skor 208 < X O 260 kategori cukup jujur, skor 156 < X O 208 kategori kurang jujur dan skor X O 156 kategori tidak RESULT AND DISCUSSION Hasil Penelitian Gambaran profil karkater jujur mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan diambil dari hasil pengumpulan data mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Jumlah responden sebanyak 283 orang dari angkatan 2016, 2017, 2018 dan 2019. Dari 283 mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam, diperoleh hasil penelitian tentang karakter jujur mahasiswa berada pada kategori Jujur sebanyak 116 orang mahasiswa atau 41,0%, pada kategori sangat jujur 35 mahasiswa atau sekitar 12. 4%, kategori cukup jujur 102 mahasiswa atau 36%, kurang jujur 26 orang mahasiswa 9,2% dan kategori tidak jujur sebanyak 4 mahasiswa dengan presentase 1,4% dari total keseluruhan 283 Dapat dilihat juga pada tabel dibawah ini. Tabel 1. Profil Karakter Jujur Mahasiswa Valid Tidak Jujur Kurang Jujur Cukup Jujur Cumulative Percent Jujur Sangat Jujur Total Frequency Percent Valid Percent Profil jujur mahasiswa mahasiswa berdasarkan aspek hati banyaknya responden pada aspek hati yang berada pada kategori tidak jujur sebanyak 2 orang atau 0,7%, responden pada aspek hati yang berada pada kategori kurang jujur sebanyak 53 orang atau 18,7%, responden pada aspek hati yang berada pada kategori cukup jujur sebanyak 97 orang atau 34,3%, responden yang berada pada kategori jujur sebanyak 100 orang atau 35,3% dan responden yang berada pada kategori sangat jujur yaitu sebanyak 31 orang atau 11,0% dari total sampel sebesar 283 responden. Sedangkan profil mahasiswa ditinjau dasi aspek lisan diperoleh hasil pada kategori tidak jujur sebanyak 1 orang atau 0,4%, responden yang berada pada kategori kurang jujur sebanyak 42 orang atau 14,8%, responden yang berada pada kategori cukup jujur sebanyak 124 orang atau 43,8%, responden yang berada pada kategori jujur sebanyak 98 orang atau 34,6% dan responden yang berada pada kategori sangat jujur yaitu sebanyak 18 orang atau 6,4% dari total sampel sebesar 283 responden. Pada aspek tekad profil karakter jujur mahasiswa dari jumlah responden 283 mahasiswa diperoleh hasil sebanyak 24 orang atau 16,3% berada pada kategori kurang Page | 242 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA jujur, 122 orang atau 43,1% berada pada kategori cukup jujur, 73 orang atau 25,8% berada pada kategori jujur dan 42 orang atau 14,8% berada pada kategori sangat jujur. Profil karakter jujur mahasiswa pada subaspek jujur dalam tekad berada pada kategori cukup jujur sebanyak 136 mahasiswa atau 48,1% dari 283 responden. Sedangkan pada subaspek jujur dalam menepati tekad/azzam berada pada kategori jujur sebanyak 120 mahasiswa atau 42,4%. Profil karakter jujur mahasiswa berdasarkan aspek perbuatan . diperoleh hasil mahasiswa yang berada pada kategori jujur sebanyak 38 orang atau 13,4%,responden yang berada pada kategori cukup jujur sebanyak 92 orang atau 32,5%, responden yang berada pada kategori jujur sebanyak 96 orang atau 33,9% dan responden yang berada pada kategori sangat jujur yaitu sebanyak 57 orang atau 20,1% dari total sampel sebesar 283 responden. Kemudian pengujian profil karakter jujur pada subaspek perbuatan . berada pada kategori jujur sebanyak 136 mahasiswa atau 48,1%. Gambaran profil jujur berdasarkan subaspek jujur dalam berbagai maqam Agma berada pada kategori cukup juju sebanyak 123 mahasiwa atau 43,5% dari jumlah reponden 283 orang. Discussion Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan, mahasiswa berkarakter jujur berada pada kategori jujur sebanyak 41 % mahasiswa. Adapun berdasarkan setiap aspeknya, pada aspek hati mahasiswa berada pada kategori jujur 35, 3%, pada aspek lisan berada pada kategori cukup jujur sebanyak 43,8%, pada aspek tekad berada pada kategori cukup jujur sebanyak 43,1 % mahasiswa dan pada aspek amal . berada pada kategori jujur 33,9% mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka diketahui bahwa karakter jujur mahasiswa masih perlu dikembangkan terutama pada aspek lisan dan tekad yang berada pada kategori cukup jujur. Pengembangan karakter jujur dilakukan melalui model bimbingan dan konseling religius. Kejujuran mengacu pada perilaku, baik itu perkataan dan perbuatan yang tidak tidak berdusta, memberikan informasi kepada orang lain berdasarkan apa adanya, sesuai faktanya, menghindari bias dan melebih-lebihkan dan berani mempertahankan kebenaran. Jujur juga memahami bahwa kebenaran sebagai pondasi dalam bermasyarakat di berbagai bidang kehidupan, baik dalam bidang bisnis, pendidikan, seni hingga keluarga. Karakter jujur yang dilandasi kebenaran dan keimanan dapat dijadikan alat untuk menggapai rida dan rahmat Allah. Dengan karakter ini, individu akan memiliki kedamaian pikiran dan mencapai kesuksesan sejati (Ibnu Abbas, 2013. Imam Al-Ghazali, 2013 & Tara Tomczyk K, 2. Dengan demikian, karakter mulia ini harus dimiliki bila individu ingin beruntung dan sukses. Karakter ini pun harus terinternalisasi pada diri seseorang di manapun, kapan pun, dan saat ia bersama siapa Karakter jujur berpengaruh terhadap perilaku atau karakter yang lain. Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian, integritas, kuatnya hati dan jelasnya Kejujuran membawa pelakunya bersikap berani, karena ia kokoh dan tidak lentur, dan karena ia berpegang teguh dan tidak ragu-ragu (Al-Jauziyah, 1. Kejujuran merupakan sifat terpuji dan kunci kesuksesan dalam kehidupan. (Markas, 2018, hlm. Memaparkan beberapa keutamaan berperilaku jujur sebagai berikut: . Menentramkan hati. Rasulullah saw bersabda: AuJujur itu merupakan ketentraman hatiAy. Membawa berkah. Rasulullah saw. bersabda : AuDua orang yang jual beli itu boleh pilih-pilih selama belum berpisah. Jika dua-duanya jujur dan terus Page | 243 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA terang, mereka akan diberkahi dalam jual belinya. Dan jika dua-duanya bohong dan menyembunyikan, hilanglah berkah jual beli merekaAy. Meraih kedudukan yang syahid. Rasulullah saw. bersabda: AuBarang siapa yang meminta syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh . , maka Allah akan menaikkannya ke tempat para syuhada meskipun mati ditempat tidurnyaAy. Mendapat keselamatan. Dusta juga dalam hal-hal tertentu diperbolehkan, jika jujur ketika itu bisa menimbulkan kekacauan. Fenomena yang terjadi belakangan ini justru sangat berbanding terbalik dengan harapan masyarakat. Mahasiswa membudayakan ketidakjujuran, baik dari hal-hal kecil sampai yang kompleks. Hal ini juga dibuktikan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa hampir 90 persen mahasiswa melakukan cheating dalam ujian dan ditambahkan dengan hasil survei menunjukkan bahwa ketidakjujuran akademik yang dilakukan mahasiswa saat ujian, yaitu dengan menyalin hasil jawaban, menggunakan contekan, dan bekerja sama saat ujian. Ketidakjujuran akademik lainnya adalah menyajikan data palsu, mengijinkan karyanya dijiplak orang lain, menyalin bahan untuk karya tulis dari buku atau terbitan lain tanpa mencantumkan sumbernya dan mengubah atau memanipulasi data penelitian (Brown. Bob S. Weible. Rick J. Olmosk, 2. Fenomena tersebut selaras dengan penelitian Nonis dan Swift yang menjelaskan bahwa peserta didik, khususnya mahasiswa yang terlibat dalam perilaku ketidakjujuran akademik di perkuliahan akan lebih cenderung untuk melakukan kecurangan di dunia Demikian halnya, hasil penelitian lain menambahkan bahwa orang yang menyontek . erperilaku curan. memiliki loyalitas yang rendah dan tentunya loyalitas yang rendah akan mempengaruhi perilaku kerja seseorang manakala ia berada dalam suatu perusahaan. Jika semakin banyak mahasiswa yang melakukan ketidakjujuran akademik, maka akan berdampak pada merosotnya kompetensi profesional mahasiswa dalam dunia kerja (BCachnio & Weremko, 2012. Nonis & Swift, 2. Berdasarkan fakta di atas jelaslah bahwa fenomena ketidakjujuran masih membudaya di kalangan mahasiswa, bahkan permasalahan ini menjadi akar munculnya korupsi, kolusi dan nepotisme. Dengan demikian, kejujuran menjadi sorotan dalam masyarakat Indonesia, bahkan internasional. Persoalan kejujuran ini menjadi sorotan karena adanya fenomena korupsi (Gundlach & Paldam, 2009. Rose-Ackerman, 2. dan fenomena kecurangan atau ketidakjujuran akademik di lembaga Pendidikan (Herdian, 2016. Simpson, 2016. Sukmawati, 2016. Tilke, 2. Data yang telah diungkap di atas mengemukakan bahwa ketidakjujuran yang paling sering dilakukan oleh mahasiswa adalah ketidakjujuran akademik, seperti: menyontek dan plagiarisme. Kejujuran dan ketidakjujuran individu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor ekternal dan internal. Faktor eksternal, seperti: harapan akan keuntungannya. Misalnya, individu yang tidak jujur secara akademik . , ia mengharapkan keuntungan dalam bentuk nilai yang diperolehnya akan menjadi lebih baik. Faktor internal, yaitu konsep kejujuran dalam dirinya . elf concept of honest. Kejujuran atau ketidakjujuran berkaitan dengan pilihan dan keputusan individu yang didasari penghargaan dalam dirinya untuk bertindak tidak jujur dengan memperoleh keuntungan atau mengembangkan konsep diri yang positif untuk jujur (Mazar. Nina. On Amir, 2. Pendapat ini ditegaskan oleh Adrian M. Tamayo . 4, hlm. bahwa kejujuran secara akademik dapat diberikan dengan perhatian yang luar biasa khususnya di perguruan tinggi karena kegagalan dalam mengembangkan kejujuran, juga merupakan kegagalan untuk sebuah institusi. Fenomena ketidakjujuran pun terjadi pada mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung bahwa berdasarkan need assessment tentang profil karakter jujur mahasiswa Page | 244 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA UIN Sunan Gunung Djati Bandung berkategori cukup sehingga kondisi ini perlu Pengembangan karakter jujur dapat diimplementasikan melalui layanan bimbingan dan konseling. Hal ini dilandasi oleh konsep bahwa karakter jujur dapat diimplementasikan melalui pendidikan dan bimbingan karena pada dasarnya karakter jujur merupakan pondasi atau dasar bagi tumbuhnya karakter-karakter yang lain. Dengan demikian, pengembangan karakter jujur ini menjadi begitu penting dikembangkan melalui proses bimbingan dan konseling dengan pembelajaran dan pembiasaan. Adapun bimbingan dan konseling yang dianggap tepat untuk mengembangkan karakter jujur adalah bimbingan dan konseling religius yang terintegrasi dengan nilai-nilai ketuhanan . Pengembangan karakter jujur telah banyak dilakukan oleh praktisi, akademisi dan orang tua dengan pendekatan atau intervensi melalui layanan bimbingan dan konseling. Langkah-langkah membentuk karakter jujur pada peserta didik, khususnya Mahasiswa (Aunilah, 2. , di antaranya: . proses pemahaman terhadap kejujuran itu sendiri, . menyediakan sarana yang dapat merangsang tumbuhnya karakter jujur, . keteladanan/contoh, . terbuka dan . tidak bereaksi berlebihan. Keterbabatas dalam penelitian ini yakni sampel yang digunakan masih terbatas dan diperlukan penelitian lanjutan terhadap sampel yang lebih luas lagi dengan metode dan teknik bimbingan dan konseling yang lebih beragam dan variatif lagi. CONCLUSION Berdasarkan data dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa Profil karakter jujur mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung secara umum berada pada kategori jujur dan pada aspek lisan dan tekad berada pada kategori cukup Perguruan tinggi merupakan salah satu institusi yang menjadi representasi dalam membangun karakter jujur pada mahasiswa yang akan membawa pengaruh besar pada integritas diri maupun lembaga yang mampu membawa perubahan dalam lingkungan manapun disekitarnya. Karakter jujur sebagai karakter yang harus terinternalisasi dalam diri individu secara spontan menuntut adanya keselarasan antara hati, lisan tekad dan amal perbuatan di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Implikasi karakter jujur dalam proses bimbingan konseling, pentingnya karakter jujur yang harus dimiliki oleh konselor dan konseli, agar dalam proses bimbingan konseling kedua pihak merasa nyaman serta diharapkan konseli dapat mengemukakan permasalahan yang dihadapinya secara jujur, sehingga konselor dapat memberikan arahan dan bimbingan sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi konseli. Karakter jujur juga merupakan pondasi dalam pembangunan sumber daya manusia pendidikan yang nantinya menjadi identitas dari bangsanya. Page | 245 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA References