PASTORAL INKARNATORIS DI ERA DIGITAL ZAMAN MILENIAL Marius Goo STFT Widya Sasana Malang. Jawa Timur Email: goomabipai99@gmail. Abstrak Orang beriman Kristiani memiliki kerinduan untuk bersatu dengan Allah. Allah pun selalu menyapa manusia dengan aneka macam cara. Cara paling utuh dan tertinggi adalah inkarnasi. Allah menyapa manusia dengan menjadi manusia. Keinginan manusia untuk saling menyapa dan berkomunikasi antarmanusia dewasa ini terjalin melalui alat digital. Sapaan Allah merupakan inkarnatoris, artinya hadir secara penuh, sedangkan sapaan antar sesama manusia dalam media sosial merupakan telepresence, artinya hadir tetapi tidak sepenuhnya: hadir sekaligus tidak hadir. Komunikasi sosial ini mempengaruhi seluruh dimensi kehidupan manusia. Dalam situasi inilah Gereja dihimbau untuk menunjukkan sapaan Allah. Cinta Allah yang paling nyata dan mewujud adalah inkarnasi. Hidup inkarnatoris dalam pewartaan Teologi Inkarnasi amat relevan bagi pelayanan pastoral Gereja di dunia digital dewasa ini. Kata-kata kunci: Cinta kasih Allah. Inkarnasi. Telepresence. Alat Digital. Pastoral. Abstract Christian believers have a desire to be one with God. Allah also always greets humans in various The fullest and highest way is incarnation. Allah greets humans by becoming human. The human desire to greet and communicate with each other today is interwoven through digital tools. Greetings of Allah are incarnatorial, meaning that they are fully present, while greetings between humans on social media are telepresence, meaning they are present but not fully present: both present and not present. This social communication affects all dimensions of human life. It is in this situation that the Church is encouraged to show the greeting of God. The most tangible and manifest love of Allah is incarnation. The life of the incarnator in the proclamation of the Incarnational Theology is very relevant for the pastoral ministry of the Church in today's digital world. Keywords: Love of God. Incarnation. Telepresence. Digital Tools. Pastoral. PENDAHULUAN Gereja kini turut berpartisipasi dalam menggunakan yang namanya media sosial. Beberapa fitur internet digunakan untuk mengakses informasi. Internet bagi manusia milenial merupakan satu pemberian Allah agar manusia saling mengkomunikasikan diri antar satu dengan yang lain, terlebih mewartakan nama-Nya. Tulisan ini merupakan usaha menanggapi cinta kasih Allah dalam dunia digital. Pada titik tertentu teknologi digital sendiri merupakan cinta kasih Allah bagi dunia. Walaupun masih sebatas telepresence,1 dapat dilihat sebagai partisipasi dalam inkarnasi Allah. Karena teknologi digital merupakan telepresence, maka Gereja mesti berjuang untuk Telepresence, relasi antartubuh dalam dunia maya, tubuh secara lebih efektif terhubung dengan tubuh yang lain melalui jaringan komputer dan internet, kehadiran tetapi sekaligus ketidakhadiran, hadir dalam dunia maya tetapi secara nyata, dalam bentuk fisik tidak hadir atau tidak nyata. Bdk. Yohanes Wahyu Prastyo. AuHadir dan Tinggal dalam Realitas Manusia: Mengantisipasi. Telepresence dan Belajar dari Inkarnasi,Ay dalam Jurnal Filsafat, 34/2 . , hlm. Media sosial pada akhirnya merupakakan pasrtisipasi inkarnasi, yakni sebagai media pewartaan Kerajaan Allah. Karena itu, bagi orang Kristiani media sosial hanyalah sarana dan bukan tujuan. Tujuannya adalah mencapai Kerajaan Allah. Sehubungan dengan itu, pertanyaan utama yang hendak dijawab dalam artikel ini yakni AuBagaimana Gereja memposisikan diri dalam pewartaan dengan pastoral Inkarnatoris dalam era milenial ini?Ay II. METODE Penelitian ini menggunakan motode library research, yang diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat dan mengolah bahan penelitian dengan empat ciri utama yakni: Pertama, bahwa peneliti berhadapan langsung dengan teks atau data angka, bukan dengan pengetahuan langsung dari lapangan. Kedua, data pustaka bersifat Ausiap pakaiAy artinya peniliti tidak terjun langsung ke lapangan karena peneliti berhadapan langsung dengan sumber data yang ada di perpustakaan. Ketiga, bahwa data pustaka umumnya adalah sumber sekunder, dalam arti bahwa peneliti memperoleh bahan atau data dari tangan kedua dan bukan data orisinil dari data pertama di lapangan. Keempat, bahwa kondisi data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Berdasarkan dengan hal di atas, maka pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan menelaah dan/atau mengekplorasi beberapa jurnal, buku, dan dokumen-dokumen lainnya yang dianggap relevan dengan penelitian atau kajian. PASTORAL INKARNATORIS 2 DI ERA DIGITAL ZAMAN MILENIAL Media Sosial Media digital berisi penggabungan dari data, teks, suara dan berbagai macam . , disimpan di dalam format digital dan didistiribusikan melalui jaringan komunikasi. 3 Pendiri microsoft. Bill Gates menyatakan bahwa perkembangan media baru . , telah menghadirkan era baru dalam perdagangan, di mana proses jual beli akan diwarnai dengan informasi yang lengkap, biaya transaksi yang sangat rendah, sehingga terbentuk Ausurga belanjaAy. Revolusi informasi yang ditandai dengan lahirnya era teknologi digital, telah mengubah seluruh aspek kehidupan manusia baik dalam bidang politik, ekonomi, budaya, sosial, maupun dalam bidang pertahanan keamanan. Berbicara tentang dunia digital berarti berbicara soal Audunia virtualAy, yakni dunia internet. 6 Kehadiran internet mengubah cara berkomunikasi. Sebelumnya komunikasi dalam bentuk face to face kini bukan lagi face to face melainkan melalui online. Dengan kecanggihan teknologi informasi, masyarakat modern dipaksakan untuk harus memilih berinteraksi sosial secara online. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam wujud internet yang dikategorikan sebagai media baru, pada kenyataannya membawa dampak yang signifikan dalam kehidupan individu dan dunia sosial manusia. Teknologi digital merupakan bentuk kemajuan yang paling mutakhir yang melibatkan parangkat-perangkat elektronik digital yang sesungguhnya diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Teknologi digital yang diidentikan dengan internet merupakan satu penemuan teknologi digital yang paling menantang zaman ini. Internet Inkarnasi (Latin Incarnation, menjadi dagin. merupakan keyakinan demi penyelamatan dunia. Lih. Browing. Kamus Alkitab. Penerj. Liem Kiem Yang dan Bambang Subarndrijo (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 154. Sri Hastjarjo. AuLiterasi Media Baru Berbasis Lokal Wisdom Jawa,Ay dalam Literasi Media dan Kearifan Lokal, (Salatiga: Mata Padi Pressindo, 2. , hlm. Bill Gates. The Road Ahead, (New York: Penguin, 1. , hlm. Frano Kleden. AuEtika Komunikasi Digital: Di Era Pasca Kebenaran,Ay dalam Jurnal Filsafat Driyakara, 34/2, . , hlm. Shiefti Dyah Alyusi. Media sosial Interaksi. Indentitas dan Modal Sosial, (Jakarta: Prenadamedia, 2. , 1. Tomi Febryanto. Kesenjangan Digital dan Literasi Media Baru, dalam Literasi Media dan Kearifan Lokal, (Salatiga: Mata Padi Pressindo, 2. , 171. mendapatkan ruang untuk hadir dalam eksistensi yang penuh. 8 Media sosial menghubungkan manusia dari berbagai belahan dunia yang tidak saling kenal sebelumnya, dengan cara mengkoneksikan komputer dengan jaringan internet. Karena itu, internet bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan informasi. 9 Media sosial membentuk manusia untuk saling mengetahui, mengenal dan bahkan menerima sebagai satu rumpun bangsa manusia. Media Sosial pada Eksistensinya Karakter dasar dari media sosial adalah interaksi. Saling berinteraksi karena terjalinnya jaringan antarpengguna dari aneka tempat dan heterogenitas manusia dengan budaya yang beragam. 10 Budaya siber . melihat bagaimana budaya ada di ruang cyber, sekaligus melihat dunia cyber menjadi budaya manusia modern saat ini. Bahkan media sosial sendiri merupakan produk dari budaya dan sekaligus sebagai produser dari budaya itu sendiri. Pada eksistensinya, budaya cyber selalu netral. Menjadi rancu ketika menusia menyentuh dan menggunakan alat digital. Manusia yang memahami alat digital, baik kelemahan maupun kelebihan, pasti akan menggunakan gadget secara bijak dan akan mengarahkan pada kebijaksanaan. Tujuan kebijaksanaan yang dimaksud adalah menjadikannya sebagai Aumedia pewartaan iman. Ay Menunjukkan Allah yang senantiasa menyapa dan menjumpai manusia sepanjang masa. 12 Sebab keberadaan media sosial sejalan dengan misi Allah, yakni memudahkan manusia untuk menemukan jati diri sebagai manusia, baik dimensi kemanusiaan maupun dimensi keilahian. Masalahnya dirancukan oleh para pengguna, misalnya kerohanian manusia mengalami desolasi13 karena lebih mengutamakan yang duniawi semata. Media Sosial bagi Para Pengguna Revolusi teknologi dan media sosial memberikan dampak yang bisa dikatakan AumengepungAy segala aspek kehidupan manusia. Salah satu yang menjadi hakekat adalah membanjirnya informasi. 14 Dalam sebuah penelitian ditemukan perilaku mahasiswa, bahwa mereka lebih bergantung pada perangkat teknologi. Bagi mahasiswa, telepon genggam bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan primer. Seolah telepon genggam menjadi syarat menjadi mahasiswa. 15 Realitas ini menunjukkan bahwa media sosial saat ini benar-benar merasuki semua aspek kehidupan manusia. Dari cara penggunaan media sosial akan menjadi jelas pengguna aktif dan pengguna pasif. Pengguna aktif adalah mereka yang menjadikan media sosial sebagai tujuan, sedangkan pengguna pasif adalah mereka yang menjadikan media sosial hanya sebatas sarana. 1 Pengguna Aktif Para pengguna aktif yang dimaksud di sini adalah orang yang bergantung sepenuhnya pada social media. Keinginannya begitu kuat untuk memiliki dan terpenuhi menggenggamnya secara erat. Mereka menjadikan media sosial adalah tujuan pencarian dan setelah menemukan, dijadikannya sebagai tujuan pencapaian hidup. Keinginan semu itu membentengi diri untuk melampaui dan berdialog dengan sesama. Berelasi pun dibangun untuk memenuhi Seperti dikatakan Freud, manusia di fase narsistik . ase yang penuh keingina. sebagai ingat diri, keinginan untuk memiliki yang lain. Yang lain hanya menjadi objek pemenuhan keinginan. Ibid. , hlm. Shiefti Dyah Alyusi. Op. Cit. , 1. Rulli Nasrullah. Media Sosial. Perspektif komunikasi, budaya dan sosioteknologi, (Bandung: Simbiosa Rekaktama Media, 2. , 25. Bell. An Introduction to Cubercultures, (New York: Routledge, 2. , 8. Komisi Kateketik KWI. Hidup di Era Digital, (Yogyakata: Kanisius, 2. , 2. Ignasius Loyola. Latihan Rohani. Terj. Darminta, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 206. Rulli Nasrullah. Op. Cit. , xi. Ibid. , x. Kevin OAoDonnell. Postmodernisme, (Yogyakarta: Kanisiu. , 68. Internet menyediakan segala sesuatu dan bahkan memenuhi atau menanggapi pencarian dan kebutuhan. Manusia modern jika ingin menemukan jawaban atas pertanyaan, semua lari ke internet. Para pengguna aktif, hampir seluruh waktu dari hidupnya dipergunakan untuk mengakses internet. Internet telah menjadi semacam bagian terpenting dari kehidupan anak muda. 17 Internet telah menjadi segala-galanya, dengan menyediakan segalagalanya pula, baik yang positif maupun yang negatif. Internet menyediakan tawaran-tawaran dunia yang Aumeluluhkan hati dan budiAy, serta membuat terpikat padanya. Manusia terperangkap dalam dunia digital. Setelah terperangkap susah untuk keluar, bahkan tidak ingin keluar karena semacam terhipnotis dan terobsesi dengan aneka fitur, aplikasi dan informasi yang menggiurkan. Kelekatan dan ketergantungan terhadap tawaran-tawaran dunia ini telah membuat manusia kehilangan eksistensi diri sebagai manusia. Manusia kehilangan dimensi hakiki, ialah iman . : mengikuti keinginan dunia dan bergantung penuh pada kuasa dunia. Terbentuk hidup seolah-olah tanpa Tuhan. Bahkan kehilangan cinta kasih Allah, atau melawan Allah dengan menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan diri dari penggunaan sarana teknologi modern. Menggunakan media sosial secara aktif (A 20 jam sehar. dapat dikatakan menggantikan posisi Allah, tercipta ateisme palsu modern. Di mana media sosial menjadi allah yang diagungkan sepanjang hidup, tanpa henti dan secara Pendewaan pada alat digital, membuat hidup menjadi tak bermakna dan kering. Semua waktu tersita, tiada peluang untuk berdoa, bermeditasi dan berbagi firman Allah. 2 Pengguna Pasif Hal sebaliknya dari pengguna aktif di atas yang menjadikan media sosial sebagai tujuan pencarian dan pencapaian hidup, pengguna pasif dipahami sebagai orang yang menggunakan media sosial hanya sebagai sarana. Artinya, media sosial digunakan sebagai alat pembantu untuk mencapai tujuan hidup. Tujuan hidup untuk pengguna pasif adalah Allah, sehingga alat digital digunakan untuk lebih mendekatkan diri dan mencapai Allah sumber cinta Pengguna pasif memandang media sosial sebagai sarana memasuki kebenaran dan iman. Media sosial merupakan ruang baru untuk evangelisasi, sebagaimana disampaikan oleh Paus Fransiskus pada hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-47, 2013. 20 Media sosial membuka ruang baru, sekaligus memberikan dukungan yang berharga untuk karya pewartaan Injil. Ruang baru ini dikerjakan oleh para pengguna pasif, di mana mereka menggunakannya sebagai sarana mencapai kesempurnaan. Kesempuranaan yang dimaksud adalah menjadi saudara Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah cinta kasih Allah yang paling nyata (Yoh. Dihimbau kepada kaum kreatif dewasa, terlebih dalam dunia digital untuk ambil bagian dalam Allah Sang Pencipta sendiri, yang sedang berkarya menyempurnakan dunia (Yoh. Media Sosial: Antara Dunia Maya dan Dunia Nyata Dari dalam dunia media sosial, telepresence. Gereja harus mampu membawa masyarakat media pada satu perasaan atau keyakinan bahwa Allah masih mencintai dunia. Gereja menyadarkan pengguna media tentang karyakarya Allah yang sangat agung. Peristiwa-peristiwa inkarnatoris yang dikerjakan Allah terlaksana hingga hari ini, melalui kemutakhiran digital. Media sosial secara nyata hadir di dunia, berdampak besar bagi kehidupan riil Media sosial dewasa ini benar-benar mencapai suatu peradaban manusia yang menakjubkan. 22 Di samping Roger E. Hernandez. Media dan Remaja, terj. Teens and the media, (United Stated: Mason Crest Publishers, 2. , 34. Komisi Kateketik KWI. Hidup di Era Digital. Op. Cit. , 139-140. Ibid. , 158. Ibid. , 159. Louis Leahy. Masalah Ketuhanan Dewasan Ini, (Jakarta: BPK Gunung Muli. , 63. Tomi Febriyanto. Op. Cit. Literasi Media dan Kearifan Lokal, 170. itu juga terjadi degradasi nilai dalam kehidupan komunitas manusia, yakni ketika media sosial menjadi agen untuk memanipulasi opini publik . Pertama. Dunia Maya . irtual worl. : perkembangan media sosial dalam dunia maya telah membentuk sikap dan cara berada manusia, juga emosi dan bahasa manusia. Bahasa manusia diperkaya, sekaligus diperpadat dalam simbol-simbol, image, ikon dan stiker-stiker yang tersedia dalam internet. Para pengguna memperhatikan dan menggunakan atau meniru simbol-simbol yang tersedia. 24 Dalam dunia maya yang serba lengkap ini pun menciptakan mental pengguna menjadi statis dan cenderung menutup diri terhadap lingkungan sosial. Kedua, dunia nyata . eal worl. : media sosial berkembang di dunia nyata. Dampak dari perkembangannya dapat dialami secara indrawi. Bisa dilihat, dipegang juga bisa didengar. Perkembangan media sosial juga mempengaruhi kehidupan batin, dunia rasa manusia modern. Dampaknya, manusia milenial terlihat lebih banyak menyendiri, bersikap masa bodoh dan tidak simpatik pada dunia nyata. 1 Kebutuhan akan Telepresence Dunia virtual berdampak besar bagi pemenuhan kebutuhan manusia dalam berinteraksi. 25 Melalui media sosial manusia dapat melakukan interaksi dan membangun relasi walaupun jarak jauh dengan saling memandang bentuk rupa. Telepresence, kehadiran rupa . dalam media memberikan kepuasan tersendiri, walaupun tidak Kehadiran rupa dalam media digital merupakan suatu telepresence, namun sekaligus teleabsence karena tidak Ada di depan, namun hanya dunia virtual, maka dikatakan kehadiran yang tidak nyata . Melalui jaringan komputer dan internet, tubuh dapat secara lebih efektif terhubung dengan tubuh yang lain. Jaringan komputer dan internet telah membuka satu horizon baru bagi relasi bertubuh. 28 Manusia memiliki keinginan intim, atau relasi kebertubuhan, sehingga untuk memenuhi keinginan itu dilampiaskan pula dengan membuat perangkat peniru. Kehadiran perangkat ini memiliki arti positif dalam mengatasi keberjauhan jarak antara individu satu dengan lainya. Namun, perangkat tersebut sebenarnya hanya membuat manusia menjadi semakin Kehadiran antarmanusia diperantarai, bahkan diwakilkan oleh teknologi sehingga dengan sesama manusia secara riil makin jauh, karena diganti oleh perangkat. Manusia dapat menjadi semakin terisolasi dari diri dan lingkungannya sendiri. Ada beberapa aspek dalam telepresence, relasi antar-tubuh dalam dunia maya: pertama, hilangnya cengkraman optimal terhadap dunia. Kehilangan kondisi optimum untuk berinteraksi dengan dunia: kehilangan penguasaan menubuh. Karena itu cengkraman yang mungkin adalah sejauh yang dimungkinkan oleh teknologi. Eni Maryani. Media dan Perubahan Sosial, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. , 45. Rulli Nasrullah. Op. Cit. Media Sosial, 184. Riliana Oktavianti. AuMakna Menumbuh dalam Dunia Maya,Ay dalam Jurnal Filsafat Driyakara. Tahun xIV. No. 3, . , 55-66. Yohanes Wahyu Prasetyo. Op. Cit. Jurnal Filsafat Driyakara, 50. Yohanes Sevi Dehut. Op. Cit. Masyarakat Digital. Jurnal Filsafat Driyakara, 71. Dunia virtual telah lama menyediakan ruang bagi terbentuknya identitas kolektif. Pengguna internet dan khususnya pengguna media sosial, dengan mudahnya AomenyerahkanAo identitas personal mereka. Persoalan identitas ini mengkhawatirkan karena identitas adalah hal yang penting dalam kontrol sosial. Beberapa akademia menyebut internet sebagai ruang dengan identitas kolektif dan karenanya mereduksi keunikan individu. Beberapa lainnya menegaskan internet sebagai ruang dimana identitas individu dapat lebih tereksplorasi dan teraplikasi. Dua pemahaman berbeda ini memperlihatkan bahwa dunia digital, indentitas personal dapat dikonstruksi sedemikian Bahkan, kita dapat memilih identitas untuk tidak beridentitas. (Lih. Dinita Andriani Putri. Au(Setenga. Berlari: Manusia di Tengah Gumparan Digital,Ay dalam makalah seminar AoDies Natalis SFT Driyakara ke-49. Jakarta, 21 April 2018, . Riliana Oktavianti. Makna Menubuh dalam Dunia Maya. Op. Cit. , 65. Kedua, kehilangan konteks dan suasana hati . Dalam dunia maya, suasana hati bisa disembunyikan. Karena itu, dalam kehadiran jarak jauh, manusia kehilangan perasaan berada dalam dunia yang sama dengan orang Ketiga, kehilangan keterlibatan manusia akan situasi. Keterbatasan telepresence yang mendasar dalam hal relasi antar-manusia adalah menjadikannya sekedar relasi manusia dengan objek. Manusia tidak hadir secara penuh dalam bentuk perangkat teknologi, baik real-time dan real-place maupun fisik manusia. Keempat, kehilangan rasa percaya. Rasa percaya hilang karena orang tidak dapat mengembangkan rasa saling percaya dan hanya menatap satu sama lain melalui layar komputer dan smatphone. Oleh karena itu, ada hubungan erat antara kepecayaan dan kehadiran fisik. Rasa percaya membutuhkan rasa aman, gembira dan rasa terlindungi. Dalam membangun komunikasi digital yang ideal, ada beberapa hal yang perlu harus diperhatikan: pertama, dalam komunikasi yang bersifat virtual perlu dibentuk kelompok khusus yang mempunyai otoritas menyeleksi informasi yang tersebar luas. Kedua, disusun undang-undang khusus yang dapat digunakan untuk mengatur atau menata ruang digital. Menyusun etika komunikasi yang dapat dijadikan sebagai pedoman setiap orang ketika berada di ruang digital. Harapannya pengirim pesan memperlakukan penerima pesan seperti ia ini diperlakukan. Dengan demikian, perlu diperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Ketiga, membangun semangat bela rasa setiap pengguna dengan tulus. Dalam komunikasi jarak jauh, bela rasa dapat diaktualisasikan, dengan membayangkan wajah-wajah konkret, bukan sekedar pesan-pesan anonim. Hal ini penting untuk mengurangi alienasi dan membangun komunikasi digital lebih efektif dan manusiawi. Keempat, pendidikan menjadi kunci untuk membangun kematangan masyarakat dalam menggunakan media Pendidikan yang dimaksud tidak hanya di sekolah formal melainkan juga di rumah melalui keteladanan orang Pemerintah pun harus berpartisipasi, tidak hanya meminta masyarakat bijaksana menggunakan internet atau mewaspadai hoaks tanpa mengendalikan persaingan harga internet yang masif di antara operator telekomunikasi seluler, khususnya untuk mengakses media sosial. Kehadiran individu melalui dunia digital telepresence, tidak bisa disamakan dengan inkarnasi: kehadiran nyata Allah untuk menyelamatkan manusia. Di mana, telepresence memiliki dampak positif juga negatif, sedangkan inkarnasi lebih bersifat sakramental. Telepresence hadir hanya dalam layar kaca, atau melalui perangkat teknologi, sedangkan inkarnasi lebih dalam bentuk tubuh manusia, yang menyapa dan tinggal bersama manusia secara nyata, di mana-mana dari kekal sampai kekal. 2 Kebutuhan akan Inkarnasi Kebutuhan akan inkarnasi menjadi kerinduan manusia beriman. Allah yang menjadi manusia (Yoh 1:. , mestinya tinggal dan bertahta di hati manusia. Pengetahuan dan iman akan Allah yang berinkarnasi menjadi manusia harus diketahui oleh umat beriman, dan dihayati dalam kehidupan sehari hari. Bahwa, zaman dahulu Allah mengkomunikasikan diri-Nya melalui para nabi. Namun, saat ini Ia datang ke dunia melalui Putera-Nya. Komunikasi diri Allah melalui para nabi masih menyisakan kerinduan dalam diri manusia. Karena manusia merindukan sesuatu yang imanen dari Allah. Allah hadir dalam realitas manusia melalui Yesus Kristus. Demikian Teknologi Digital melahirkan zaman yang kiranya cukup tepat dinamakan AuZaman Rasa Perasaan. Ay Betapa pun rasional promosi tentang jejaring sosial daring Ae keterhubungan Ae keterbukaan Ae saling berbagi Ae solidaritas Ae kata-kata ini mewakili hasrat . erinduan dan harapa. terdalam manusia untuk diakuidan diterima secara rasional. Karlina Supelli. AuTunggang Langgang dalam Dunia Hidbrida,Ay makalah seminar AoDies Natalis STFT Driyakara ke 49. Jakarta, 21 April 2018, . Yohanes Wahyu Prasetyo. Op. Cit. , 52. Bagimanapun, internet sama seperti teknologi lain, selalu memiliki dua sisi, yaitu mendatangkan manfaat atau justru menjerumuskan manusia. Karena itu, masyarakat perlu dipersiapkan menghadapi pemanfaatan internet yang semakin massif ke depan. Jika tidak, bukan hanya masyarakat yang akan mengalami sakit mental, melainkan bangsa pun dapat AusakitAy atau daoat terpecah belas akibat internet dan media sosial. Deonisia Arlinta dan M. Zaid Waahyudi. AuMedia sosial Mengubah Otak dan Jiwa. Kompas 3 Juni 2018. pula dalam relasi dan interaksi yang dibangun dalam masyarakat digital. Pertemuan yang bersifat maya atau virtual pada dasarnya kurang memuaskan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan kehadiran langsung dari sesamanya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia membutuhkan kehadiran fisik . dalam ruang dan waktu. Selain itu, manusia memiliki kerinduan akan Allah yang secara faktual hadir dalam realitas manusia. Kebutuhan terhadap inkarnasi ini akan dibahas lebih lanjut dalam bagian selanjutnya, yakni tentang bagaimana Allah mengasihi manusia hingga Ia mengaruniakan Anak-Nya untuk keselamatan bangsa manusia dari perbudakan dosa, yang membinasakan. Cinta Kasih Allah (Inkarnas. Istilah inkarnasi menegaskan pentingnya arti kehadiran faktual dalam ruang dan waktu. 34 Allah yang mengkomunikasikan Diri sungguh masuk dalam dimensi manusia, dalam ruang dan waktu. Komunikasi Diri Allah tidak hanya dengan Sabda dan pengantaraan para nabi. Ia sendiri hadir dalam dan melalui Yesus Putera-Nya (Yoh. Inkarnasi memperlihatkan sikap penuh pengertian Allah yang adalah Kasih. Cinta Allah lebih agung dari segala cinta yang lainnya. Cinta Tuhan kepada bangsa Israel jauh lebih dalam dibandingkan dengan cinta seorang bapak kepada puteranya . Hos. Cinta itu lebih besar daripada cinta seorang ibu kepada anak-anaknya . Yes. 49:14-. Allah mencintai bangsa-Nya lebih dari seorang pengantin pria mencintai pengantin wanita . Yes. 62:4-. Cinta itu malahan akan mengalahkan ketidaksetiaan yang paling buruk . Yeh. Hos. Ia akan berlangkah sekian jauh, sampai Ia menyerahkan juga yang paling dicintaiNya: AuBegitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal (Yoh. Oleh karena jatuhnya manusia dalam jurang dosa dan menjadi binasa, maka Allah harus menjadi manusia untuk menghasilkan re-kreasi, penciptaan kembali bangsa manusia: Auketika menjelma menjadi manusia. Ia merekapitulasi di dalam diri-Nya sejarah bangsa manusia yang panjang itu, sambil merangkum dan menyelamatkan kita supaya kita dapat menerima kembali dalam Kritus Yesus apa yang telah kita kehilangan dalam Adam, yaitu gambar dan rupa Allah. Ay36 Cinta Allah itu juga AuabadiAy (Yes. : AuBiarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamuAy (Yes. AuAku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamuAy (Yer. Allah mencintai manusia secara penuh dan tanpa syarat. AuKarena dalam cinta-Nya yang tidak bersyarat Allah menurunkan kepada kita Injil Kehidupan, dan oleh Injil itu juga kita mengalami perubahan dan diselamatkan. Kita ditebus oleh AuSang Pemimpin kepada hidupAy (Kis. berkat darah-Nya yang berharga . Kor6:. Dalam dimensi inkarnatoris. Gereja dihimbau untuk menunjukkan reksa penuh perhatian terhadap sesama. AuSebagai murid Yesus, kita dipanggil untuk menjadi sesama bagi tiap orang . Luk. dan menunjukkan perhatian istimewa kepada mereka yang paling miskin, tersendiri dan berkekurangan. Menolong mereka yang haus, lapar, pendatang, telanjang, sakit dan yang dipenjarakan. Ay37 Gereja yang Menyadari Media Sosial sebagai Inkarnasi Kehadiran media sosial dapat diyakini sebagai inkarnasi, walaupun tidak penuh dan utuh. Dilihat sebagai inkarnasi karena Aupada dirinyaAy tidak buruk dan netral, bahkan ada untuk menolong manusia. Inkarnasi media sosial tidak penuh karena bersifat telepresence,38 masih belum bisa menghadirkan secara penuh atau terbatas pada perangkat elektronik. Yohanes Wahyu Prasetyo. Op. Cit. , 53. Yohanes Sevi Dehut. Op. Cit. , 76. Ibid. Ireneus dari Lyon. Melawan Bidaah. V, 14, 2. Nico Syukur Dister. Teologi Sistematika 2: Ekonomi Keselamatan, (Yogyakarta: kanisius, 2. , 52. Yohanes Paulus II. Ensiklik AuEvangeli VitaeAy, 25 Maret 1995, 139. Yohanes Wahyu Prasetyo. Op. Cit. , 50. Media sosial yang memiliki keterbatasan tidak dapat disamakan dengan inkarnasi AuAllah yang menjadi Ay Dalam pemikiran inkarnatoris media sosial. Gereja menggunakan media sosial sebagai AusaranaAy penyelamatan manusia. Media sosial yang memiliki keterbatasan dalam perangkat, memiliki fungsi besar dalam Gereja untuk mewartakan Injil. Ay39 Satu Keyakinan Tunggal: Gereja Hadir di Dunia untuk Menyelamatkan Dunia Tugas utama Gereja adalah menyelamatkan dunia. Dalam usaha menyelamatkan dunia, dibutuhkan manajemen pastoral untuk menata paroki dalam penggembalaan. Reksa pastoral ini butuh komunikasi. Dialog dan konsultasi dalam membangun relasi dengan pastor dan umatnya sebagai umat Allah amatlah penting, bukan hanya hidup rohani, melainkan juga jasmani, untuk menata dunia menjadi sakral. Dunia profan yang makin pesat dengan sekularisasi, menuntut Gereja untuk terus merefleksikan diri, sambil memperbarui strategi dan mengevaluasi arah gerak pendampingan dan pelayanan. Dalam kehidupan pastoral, pewartaan Sabda Allah, pelayanan pastoral, hidup sebagai satu komunitas beriman atau manajemen pastoral Paroki wajib dievaluasi dan diketahui oleh pimpinan Gereja setempat, paling kurang imam dan Dewan Pastoral Paroki (DPP). Gereja wajib mengidentifikasi isu-isu popuper, terlebih mengetahui perubahan atau tanda-tanda zaman. Gereja masuk dan mengenal masalah-masalah yang dihadapi oleh umat dan bersama mereka berjalan untuk 42 Setidaknya, pastor simpatik lewat doa-doa, peneguhan-peneguhan rohani agar umat mampu bertahan hidup. Pastor dituntut untuk turun menjumpai dan berjalan bersama umat. Komunitas gerejawi menjadi wujud nyata dari kehendak untuk berjalan bersama, menemukan Guru Kehidupan Sejati. Yesus Kristus, dalam suka duka bersama. 1 Gereja dan Dunia Milenial Gereja mesti hadir dalam posisi yang tepat, sekaligus memposisikan diri secara tegas, bahwa Gereja ada di dunia bukan untuk teralienasi atau dialienasi oleh dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Karena itu, manusia digital yang hanya sekedar bertujuan ekonomis dan teknologis tidak cukup, karena manusia kehilangan dimensi 44 Gereja diharapkan untuk mengubah ketimpangan dan penyimpangan yang terjadi hanya demi keuntungan ekonomis dan kemajuan teknologis tanpa menghiraukan kehidupan manusia. Gereja adalah sakramen bagi dunia. Gereja hadir untuk menyelamatkan dunia. Gereja yang terdiri dari anggota-anggota mesti membangun communio sejati, yang selalu berkomunikasi untuk membentuk unio, suatu kesatuan hidup umat beriman Kristiani. 2 Gereja Ada untuk Dunia Gereja mesti menyadari bahwa manusia bukanlah atom yang hilang di alam semesta tanpa tujuan, 46 tetapi ia adalah ciptaan Allah, yang dianugerahi jiwa abadi dan yang selalu dicintai-Nya. 47 Allah sungguh menjamin Komisi Kateketik KWI. Hidup di Era Digital. Op. Cit. , 64-65. Charles E. Zech. Introduction, dalam The Parish Management Handbook, (Unites Stated: Twenty-Third Publications, 2. , 1-6 William L. Pickett. A Concise quide to Pastoral Planning, (United States of America. Ave Maria Press, 2. , 100. Ibid. , 104. Eddy Kristiyanto, menjadi Gereja yang Berjalan Bersama Papua. Op. Cit. , xi. Benediktus XVI. Ensiklik AuCaritas in VeritateAy, 29 Juni 2009, 27. Krispurwana Cahyadi. Pastoral Gereja, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 17. Bdk. Benediktus XVI. Homili pada Misa. Islinger Feld. Regensburg, 2 September 2006. Benediktus XVI. Ensiklik AuCaritas in Veritate. Op. Cit. , 35. perkembangan hidup manusia. Dengan demikian. Allah tidak pernah AualpaAy untuk menuntun manusia, sekalipun manusia berbalik dari-Nya. Dosa dan kesalahan manusia tidak pernah membatalkan cinta Allah kepada ciptaan-Nya. Sebagaimana Rasul Paulus mengatakan. Audi mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpahlimpahAy (Rm. Gereja yang diperhadapkan pada kenyataan bahwa kecanggihan berbagai alat teknologi digital dengan internet, sedang berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. 48 Perkembangan ini pun membuat manusia tidak lagi memiliki waktu hening. Akibatnya, manusia hidup di tengah-tengah kedangkalan karena ledakan informasi yang tidak disertai dengan kemampuan untuk merefleksikannya. Padahal refleksi ini melahirkan manusia untuk menjadi bebas dan rileks, karena hanya dengan kebebasan manusia menanggapi pemberian diri Allah dalam sejarah 49 Sejarah perkembangan dunia terhubung dengan sejarah penciptaan dalam sejarah keselamatan yang sedang dikerjakan Allah hingga hari ini. Jadi, antara kenyataan dunia dan karya Allah tak terpisahkan, bahwa semuanya terjadi dalam pantauan dan rencana Allah. Gereja berpartisipasi untuk memperkenalkan rencana Allah bagi dunia. Rencana Allah bagi dunia adalah mencintai dan menyelamatkan dunia. Di mana Allah menciptakan karena mencintai. Allah menciptakan segala sesuatu dalam diri Yesus dan Yesus melaksanakan karya keselamatan Allah secara penuh. 50 Karena itu, tentunya Allah tidak menciptakan dunia jika hendak melepaskan dan membinasakan dari hadapan-Nya. Kasih Allah akan dunia inilah yang menjadi pewartaan, sekaligus kesaksian utama Gereja di dunia. 3 Pertobatan Gereja dan Pembebasan Dunia Pertobatan Gereja yang dimaksud adalah pembaruan Gereja, ecclesia semper reformanda. Gereja yang terus memperbarui dirinya menuju kesempurnaan abadi. Seruan ini seharusnya selalu direfleksikan oleh seluruh anggota Gereja. Komunitas Basis Gerejani (KBG) menjadi Aujalan menuju pemerdekaanAy yang menyoroti pengalamanpengalaman kunci dan saling mensharingkan dalam kelompok basis. Melalui semangat Konsili Vatikan II . Gereja membuka diri terhadap dunia dan Gereja berkomitmen untuk hidup berdampingan dengan dunia. AuKegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orangorang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus jugaAy (Gaudium et Spes. Art. 4 Gereja Memimpin Dunia Bonefasius Melkyor Pando. Menyingkap AuKenyataan Dunia MayaAy, dalam Jurnal Filsafat Driyakara, th. xIV N0. 3/2013, (Yogyakarta: STF Driyakara, 2. , 3. Angga Indraswara. Bertolaklah ke Tempat yang Dalam, dalam Jurnal Filsafat Driyakara, ibid. , 29. Petrus Maria Handoko. Dicipta untuk Dicinta, (Malang: Traktat STFT Widya Sasana Malang, 2. , 6. Victoria Narisco-Apuan. Pendahuluan, dalam Anrique P. Batangan, dkk. Komunitas Basis Gerejani, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 12. Konstitusi Pastoral tentang AuGereja di Dunia Dewasa IniAy terdiri dari dua bagian, yang merupakan satu Konstitusi ini disebut AupastoralAy karena bermaksud menguraikan hubungan Gereja dengan dunia dan umat manusia zaman sekarang berdasarkan asaas-asas ajaran. Bagian pertama tidak terlepas dari maksud pastoral, seperti bagian kedua pun tidak terlepas dari maksud mengajar. Bagian pertama. Gereja memaparkan ajarannya tentang manusia, tentang dunia yang dialaminya dan tentang hubungan keduanya. Dalam bagian kedua ditelaah secara lebih cermat pelbagai bagian segi kehidupan serta masyarakat manusia zaman sekarang: khususnya disoroti soal-soal dan masalah-masalah yang dewasa inii tampak lebih mendesak. Dalam bagian kedua, bahan ulasan lebih berpedaman pada kaidah-kaidah ajaran, bukan hanya mencantumkan unsur-unsur yang serba tetap, melainkan juga menyajikan hal-hal yang silih berganti. Maka, hendaknya konstitusi ini ditafsirkan menurut kaidah-kaidah umumpenafsiran khususnya dalam bagian ekdua hendaknya diperhitungkan keadaan-keadaan yang dapat berubah dan pada hakekatnya tidak terpisahkan dari pokok-pokok yang diuraikan. Diambil dari catatan kaki tentang Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: Obor, 2. , 521. Gereja terus menghendaki untuk membarui dunia sesuai kehendak Allah, yakni mengikuti misi kehadiran Kristus, ialah menyelamatkan dunia. Bercermin pada Yesus Kristus sebagai pemimpin, yang membawa dunia kepada Allah sang Bapa-Nya. Gereja pun meneladani-Nya dengan membawa dunia kepada Pencipta, bukan teralienasi, bahkan disesatkan oleh media. 53 Gereja hadir untuk menerangi dan menggarami dunia, sesuai amanat Yesus (Mat. 5:13-. Gereja menjadi terang berarti harus bercermin pada Yesus sang terang . Yoh. 1:5,7-9. Yesus sang terang itu menghalau kegelapan dunia, dan memimpin manusia kepada terang. Pemberitahuan Yesus: AuTerang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahatAy (Yoh. , hendak memperlihatkan terang itu berkaitan dengan kudus dan suci, sedangkan kegelapan itu lebih mengarah pada kejahatan dan dosa. Karena itu. Yesus datang ke dunia untuk memimpin manusia keluar dari kuasa dosa dan kejahatan untuk mengembalikan manusia kepada kekudusan. Selain itu. Gereja menjadi garam berarti. Gereja hadir secara lain: memberi aroma, rasa yang lain dari dunia. AuKamu adalah garam dunia, jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tiada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang (Mat. Gereja semesta yang sedang mengembang misi Allah, yakni mendirikan Kerajaan Allah. Gereja diwajibkan menghadirkan aroma Kerajaan Allah itu di tengah dunia. Gereja memimpin dunia untuk membalikkan arah kepada Kerajaan Allah. AuKerajaan Allah sudah ada. Kerajaan Allah itu sudah mendekat dalam Sabda yang menjadi manusia, telah diumumkan dalam seluruh Injil dan telah datang dalam kematian dan kebangkitan KristusAy (KGK. Art. Kristus sendiri Kerajaan Allah itu. Gereja dipanggil untuk memimpin dunia kepada Kerajaan Allah, di mana Allah menjadi Raja dan semua manusia menjadi warga Kerajaan-Nya. 5 Gereja Menguduskan Dunia Gereja dibangun untuk menguduskan dunia. Tugas Gereja menguduskan dunia bersumber dari Kristus sebagai sang imam agung (Ibr. 5:65-. , yakni kekudusan yang datang dari Allah sumber kekudusan. Dewasa ini semakin banyak orang meluangkan waktu lebih lama dengan media sosial daripada kegiatan tunggal lain mana pun, kecuali saat tidur. Media telah menjadi bagian dari susunan hidup sehari-hari. Teknologi komunikasi membawa arus berita yang tak berkesudahan di dalam hidup setiap manusia. Teknologi digital sesungguhnya membuat pergeseran yang hakiki terhadap perilaku-perilaku komunikasi, juga terhadap ragam hubungan kemanusiaan. Terlebih kaum muda merasa bahwa dunia digital merupakan rumah sendiri. Era digital ini pun mempunyai pengaruh dalam pertumbuhan iman umat. Dapat dikatakan segalanya disekularisasi atau diprofanisasi. Pandangan manusia hanya mengarah untuk memenuhi kebutuhan dunia dan teralienasi dalam hiburan dunia yang makin hingar-bingar. Manusia menjadi Homo Consumens, yakni nafsu lapar dan haus yang tidak pernah terpuaskan oleh produk komsumsi yang ada. Keinginan yang tak terpuaskan ini melahirkan mental ingin membeli dan memiliki. Dalam situasi dunia inilah Gereja sedang berziarah. Gereja berziarah bersama dan di dalam dunia menuju dunia baru. Yerusalem baru (Why. Untuk mencapai Yerusalem baru. Gereja selalu berjuang untuk menguduskan dunia. Globalisasi memang memiliki pengaruh yang amat besar bagi pengudusan dunia, terkait anjuran pastoral dan ajaran Gereja tentang sakramen pertobatan. 57 Tantangan globalisasi bukan mengecilkan atau memadamkan semangat Gereja untuk menguduskan dunia, sebab Gereja adalah sakramen dan ada untuk menguduskan dunia. Karena itu Gereja harus tetap eksis untuk menjalankan sakramen rekonsiliasi sebagai tanda Sri Pannyavaro Mahathera. Media Memuliakan Kehidupan, dalam Y. Iswarahadi . Media memuliakan kehidupan? Sebuah Antologi Komunikasi, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 19-20. Dokumen Katekismus Gereja Katolik, (Flores: Nusa Indah, 2. , 677. Laurensius Dihe. Sakramen Tobat di Tengah Globalisasi, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 65. Benny Santoso. Bebas dari Konsumerisme, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2. , 43-44. Laurensius Dihe. Op. Cit. , 74. Allah lebih besar kuasa daripada dosa dan kejahatan. Sekalipun manusia mengambil disposisi yang jauh dari posisi Allah,58 Allah tetap mencintai umat-Nya. Gereja diharapkan menampakkan cinta Allah ini kepada dunia. Satu Alternatif: Teologi Cinta Kasih Pastoral di Era Milenial Dunia milenial telah membisukan, bahkan membisingkan manusia dalam hoaks. Kebenaran dimanipulasi dan hal ini dianggap lumrah, mengatakan dan mencari makna kebenaran bukan menjadi prioritas. Berkembangnya aneka informasi pun membisingkan manusia dan apa yang benar dan bernilai terlewatkan tanpa dimaknai dalam refleksi. Media sosial menyediakan segala yang dicari, baik yang positif maupun yang negatif. Ketersediaan ini berpotensi membuat manusia milenial cepat puas. Dianggap pengetahuan yang didapatkan di internet adalah lengkap dan final. Internet yang memberikan kemudahan berpotenesi menghasilkan generasi milenial yang tidak bakal tahan dalam kesulitan, karena itu mereka berjuang menyederhanakan masalah dan berupaya menghindari Kemajuan media sosial juga berpotensi mendorong manusia milenial menjalin hubungan yang dangkal. Menjadi manusia yang aktif di ruang internet, namun pasif di dunia nyata. Dalam situasi semacam ini Teologi Cinta Kasih Pastoral mesti digalakkan. Satu sisi internet memberikan kepuasan dan kemudahan, namun pada sisi lain mengalienasi dan mempersulit manusia menemukan cinta Allah. Bahkan, ketika internet dipergunakan secara salah, manusia dapat kehilangan cinta kasih Allah. Gereja menunjukkan Allah yang menjumpai manusia setiap saat, lebih dari dunia digital. Dunia digital sendiri adalah satu rahmat Allah, satu cara Allah mencintai manusia, berkat tuntunan Roh-Nya (Kej. Kehadiran Gereja yang Mengasihi Dunia Gereja telah menerima Injil sebagai sumber kegembiraan dan keselamatan. 61 Gereja juga menerima Yesus, yang diutus oleh Bapa untuk Aumewartakan Kabar Baik bagi rakyat miskinAy (Luk. Gereja menerima-Nya melalui para Rasul, yang oleh Kristus diutus ke seluruh dunia . Mrk. Gereja diminta untuk mewartakan Injil setiap hari, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus: AuCelakalah aku, kalau aku tidak mewartakan Injil!Ay . Kor. Paus Paulus VI menulis: AuPewartaan Injil ialah rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja, jati dirinya yang Gereja berada untuk mewartakan Injil. Ay62 Evangelisasi merupakan kegiatan Gereja yang meliputi seluruh eksistensinya. Gereja ikut serta dalam misi kenabian, imamat dan rajawi Yesus. Mewartakan Yesus berarti mewartakan hidup. Sebab Yesus adalah AuSabda HidupAy . Yoh. Dalam Dia Aunampaklah hidupAy . Yoh. Dia sendiri Auhidup yang kekal yang ada bersama Bapa dan dinyatakan kepada kitaAy . Yoh. Inkarnasi sebagai Satu Bentuk Teologi Konteks Digital Teologi yang tepat dalam konteks teknologi digital adalah Teologi Inkarnatoris di mana Gereja menunjukkan keunggulan Aukasih AllahAy yang tiada bandingnya dengan perkembangan dunia. Rencana Allah melampaui kemampuan akal manusia . Yes. Rencana Allah yang termulia terjadi dalam peristiwa inkarnasi. Sabda Allah menjadi manusia (Yoh. Sabda Allah mengambil rupa manusia hendak menunjukkan Allah memasuki dimensi manusia. Allah masuk dalam sejarah peradaban manusia. Allah masuk dalam kurung ruang dan waktu. Allah menjadi manusia berarti Ia dapat diindrai secara manusiawi, tanpa batas dan tersembunyi. Yesus menunjukkan wajah Allah (Yoh. 14:9-. Allah mendatangi dan menyapa secara manusiawi, dan Ia hadir secara sempurna dalam ke-Allah-an dan kemanusiaan penuh. Yesus sebagai Allah adalah Anak Allah (Mat. 8:29. 14:33. , sedangkan Yesus sebagai manusia berarti Ia mengalami hidup seperti semua manusia di dunia dalam dimensi ruang dan waktu, kecuali dalam Micael Marsch. Penyebuhan melalui Sakramen, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 85. Komisi Kateketik KWI. Hidup di Era Digital. Op. Cit. , 60-61. Nurudin. Perkembangan Teknologi Komunikasi, (Yogyakarta: PT Rajagrafindo Persad. , 115. Ibid. , 127. Anjuran Apostolik AuEvangeli Nuntiandi, . Desember 1. No. 14, 68. Bahkan sampai tubuh-Nya mengalami kematian dan kembali mengenakan tubuh kemuliaan dengan kebangkitan-Nya dari kubur (Why. Allah yang mengambil tubuh manusia, tinggal dan hidup sebagai manusia, tanpa pengantara atau perangkat tertentu, seperti gadget di zaman ini. Pertemuan atau relasi dalam dunia maya lebih bersifat telepresence, hadir namun tidak penuh, bahkan dengan menggunakan perangkat yang juga memiliki keterbatasan. Keterbatasan yang paling umum adalah AuberkepemilikanAy alat teknologi, karena jika Autidak memilikiAy tentu relasi jarak jauh tidak akan Setelah memilikinya, signal harus terjangkau dan selanjutnya harus memiliki pulsa dan Au tidak bolehAy terjadi gangguan pada alat digital. Kalaupun semua lengkap, masih mempunyai keterbatasan, yakni kontak dalam dunia maya tidak utuh, hadir namun pada saat yang sama tidak hadir, telepresence, namun teleabsence. 63 Artinya, dapat melihat tubuh dan mendengar suara namun tubuh fisiknya tidak berada bersama. Telepresence masih memiliki jarak dalam membangun relasi dan hanya memberikan kepuasan atau kesempurnaan semu. Manusia dialienasi dan dialpakan dari realitas dunia yang nyata. Manusia mendapatkan kepuasan, namun sesungguhnya tidak sejati, bahkan membuat manusia kehilangan jati diri yang memiliki jiwa Walaupun demikian, manusia zaman digital lebih menyukai, memilih dan mencintai kehidupan di dunia Karena itu, untuk menyadarkan manusia milenial di era digital ini, para pewarta Injil mesti memberikan pewartaan Injil yang tepat. Paling kurang menyadarkan dimensi kerohanian dari manusia, sekaligus memupuknya hingga kembali bersatu dengan Allah sumber kekudusan. Sehingga alat digital digunakan untuk membantu menumbuhkan iman dan menjadikan media pewartaan Kerajaan Allah. Penutup Interaksi secara manusiawi, dapat dipahami dalam adikodrati sebagai inkarnasi. Interaksi manusia terbangun karena adanya interelasi timbal balik antara sesama manusia,64 untuk melibatkan diri dalam suatu jaringan sosial. Dengan adanya komunitas online maka arus informasi menjadi lebih efisien dan profesional. 65 Sedangkan Inkarnasi mempunyai nilai lebih, ialah komunikasi diri Allah. Allah yang berelasi dengan manusia pada tingkat yang paling Orang Kristiani dalam pewartaan mesti mempraktekan relasi secara faktual dan aktual AuinkarnasiAy. Teknologi komunikasi memberikan porsi yang tepat, cepat dan memudahkan, namun masih mempunyai jarak dalam ruang dan waktu, telepresence. Keyakinan pada inkarnasi Allah memberikan pemahaman yang memadai bahwa kehadiran faktual sekaligus merupakan bentuk komunikasi yang optimal. Itulah cara terbaik yang dipilih Allah untuk menjumpai manusia. Sekalipun kasih Allah hendak diungkapkan secara telepresence, tidak akan pernah diungkapkan dan dipraktekkan secara optimal, sebab inkarnasi menduduki posisi yang paling tinggi dari segala relasi yang tercipta dalam teknologi informasi. Dalam arti ini, telepresence merupakan satu bentuk partisipasi untuk menyatakan inkarnasi, atau cinta kasih Allah yang terlaksana bagi dunia. Dengan cara apa pun, kasih Allah diwartakan hingga ke ujung bumi. Kesaksian tentang Injil di dalam realitas apa pun, di mana dan kapan pun, baik secara fisik maupun digital mesti dijalankan. Di mana Gereja sebagai satu lembaga agama harus ikut berpartisipasi memberikan pelayanan alternatif, kreatif dan inovatif sesuai perkembangan dunia demi mentransiformasi Kerajaan Allah berdasarkan tuntutan perkembangan zaman. Kehadiran melalui dunia digital telepresence, tidak bisa disamakan dengan inkarnasi, kehadiran nyata Allah untuk menyelamatkan manusia. Telepresence memiliki dampak positif dan negatif sedangkan inkarnasi lebih bersifat sakramental. Selain itu, telepresence hadir hanya dalam layar kaca, atau melalui perangkat teknologi, sedangkan inkarnasi lebih dalam bentuk tubuh manusia, yang menyapa dan tinggal bersama manusia secara nyata. Riliana Oktavianti. Op. Cit. , 61. Hasbullah. Sosial Kapital: Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia, (Jakarta: MR-United Press, 2. , 9. Shiefti Dyah Alyusi. Media Sosial. Op. Cit. , 7. Dokumen Konsili Vatikan II. Dei Verbum, art. 4, (Jakarta: Obor, 2. Komisi Kateketik KWI. Op. Cit, 158-159. DAFTAR PUSTAKA