ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 Dampak Kebijakan terhadap Keterbatasan Teknologi dalam Pendidikan di Pesantren Hasnah Faizah1. Auzar2 . Okta Hari Mulya3. Andri Azaky4. Intan Saluwa A. Kadir5 1,2,3,4,5 Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Riau e-mail: hasnah. faizah@lecturer. id1, auzar@lecturer. oktaharimulya15@gmail. com3, andriazaky10@gmail. intansaluwaak31@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar dampak yang terjadi dari sebuah kebijakan yang berlaku di lingkungan pesantren terhadap penerapan teknologi dalam melaksanakan proses pembelajaran. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Data berupa kebijakan yang ada dianalisis dan dideskripsikan untuk menemukan jawaban dari masalah yang ingin diketahui. Penelitian ini dilaksanakan di pesantren Imam Ibnu Katsir Pekanbaru. Berdasarkan data temuan dalam penelitian, ada tiga kebijakan yang memiliki dampak terhadap keterbatasan penggunaan teknologi di lingkungan pesantren. Kebijakan yang sangat berpengaruh yaitu tentang larangan santri untuk membawa alat komunikasi ke lingkungan pesantren. Hal tersebut membatasi guru dalam memvariasikan media pembelajaran di kelas. Solusinya pimpinan pesantren perlu mencarikan solusi bijak, dengan maksud tidak membatalkan kebijakan yang menjadi idealisnya, namun dapat memenuhi akses teknologi saat melaksanakan pembelajaran agar kualitas pembelajaran tersebut tidak tertinggal dengan sekolah lain yang mengizinkan siswa untuk menggunakan gawai dalam proses pembelajaran. Kata Kunci: Kebijakan. Pesantren. Teknologi. Pendidikan. Abstract This study aims to determine how much impact occurs from a policy that applies in the pesantren environment on the application of technology in carrying out the learning process. The method used in the research uses descriptive qualitative. Data in the form of existing policies are analyzed and described to find answers to the problems to be known. This research was conducted at Imam Ibn Katsir Islamic boarding school in Pekanbaru. Based on the data found in the research, there are three policies that have an impact on the limited use of technology in the pesantren environment. The most influential policy is the prohibition of students to bring communication devices to the pesantren environment. This limits teachers in varying learning media in the classroom. The solution is that pesantren leaders need to find a wise solution, with the intention of not canceling policies that are idealistic, but can Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 fulfill access to technology when carrying out learning so that the quality of learning is not left behind by other schools that allow students to use devices in the learning process. Keywords: Policy. Pesantren. Technology. Education. PENDAHULUAN Hal tersebut berlaku untuk semua kalangan dan usia, dari miskin hingga yang kaya dan dari muda hingga yang tua. Sebab, pendidikan bisa diperoleh melalui proses pembelajaran yang dapat dilaksanakan atau dialami di mana saja. Apalagi dengan banyaknya teknologi yang ada, dapat membuat proses pembelajaran semakin mudah Oleh karena itu, semua orang dapat mengalami kapan dan di mana saja proses pembelajaran yang menjadi kunci utama dari sebuah pendidikan. Satuan pendidikan atau yang biasa disebut sekolah merupakan satu di antara wadah bagi peserta didik atau siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dimaksud. Sama halnya dengan pesantren yang merupakan wadah dalam melaksanakan proses pembelajaran tersebut. (JaAofar, 2. menjelaskan bahwa setelah Indonesia merdeka, muncul tiga lembaga utama pendidikan yaitu, pesantren, sekolah, dan madrasah, yang masing-masing mengalami perubahan besar dari waktu ke waktu. Adapun yang membedakannya, pesantren mengkhususkan arah pembelajaran pada ilmu yang berkaitan dengan kepercayaan . Hal tersebut sesuai dengan yang dipaparkan (Kompri, 2. bahwa Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang mengkhususkan pada kajian Islam dan umumnya pesantren mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menitikberatkan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa sekolah Belanda, pelajaran yang berkaitan dengan kepercayaan . termasuk yang dikecualikan. Oleh karena itulah munculnya pesantren sebagai salah satu lembaga Pendidikan yang mengkhususkan pada pembelajarana Islam. Namun, saat ini pesantren sudah tidak lagi mengkhususkan proses pembelajarannya hanya pada ilmu Hal tersebut sejalan dengan yang dijelaskan (Lundeto, 2. bahwa pelajaran agama yang sebelumnya dikecualikan pada sekolah Belanda, sekarang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kurikulum. Oleh karena itu, sedikit banyaknya teknologi pendidikan saat ini yang digagas dalam mengembangkan kurikulum, mulai diimplementasikan di pesantren. Berkenaan dengan hal tersebut, tidak semudah dalam pelaksanaannya. Ada banyak permasalahan yang menjadi kendala dalam mewujudkan harapan itu. (Hasbullah, 2. menjelaskan bahwa pelaksanaan otonomi daerah menimubulkan perubahan besar di banyak bidang, termasuk bidang pendidikan yang berdampak pada pengelolaannya. Pesantren yang berharap dapat didesentralisasikan dalam artian pengelolaannya di bawah satu atap yaitu Dinas Pendidikan daerah, justru berada di bawah Departemen Agama. Adapun akibat dari itu, belum adanya persamaan visi dalam pengelolaan lembaga yang menyebabkan Pemerintah Daerah (Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kot. beranggapan bahwa pengelolaan pendidikan Islam bukan tanggung jawab mereka. Oleh karena itu. Pemerintah Daerah tidak perlu membuat anggaran khusus untuk pendidikan Islam. Namun faktanya. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 Departemen Agama yang menjadi payung dari pendidikan Islam justru tidak memiliki anggaran atau lebih tepatnya terbatas dalam hal pembiayaan. Padahal, lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti madrasah maupun pesantren yang tersebar, jumlahnya cukup Secara realitas pendidikan Islam yang dalam konstalasi pendidikan di Indonesia hampir mencapai 35%, secara umum masih sangat tertinggal baik dalam segi mutu, fasilitas sarana dan prasarana, jumlah guru, maupun pendanaan. Padahal pesantren menurut (M. Abd. Muin, 2. secara sah dimasukkan ke dalam sistem pendidikan nasional. Oleh karena itu, wajar jika peramasalahan tersebut di pesantren mendapat perhatian dan penanganan yang serius sesuai dengan tingkat perkembangan dan tuntutan dunia pendidikan modern. Di sisi lain, permasalahan di pesantren juga dijelaskan (Aji & Setyarini, 2. bahwa pesantren selama ini sangat identik dengan istilah lembaga pendidikan tradisional yang metode pembelajarannya masih menggunakan komunikasi satu arah. Guru atau yang disebut ustadz sebagai pemegang kekuasaan dalam proses pembelajaran hanya menggunakan sarana-prasarana seadanya yang mesti diterima santri sebagai bentuk kesederhanaan hidup dan ketaatan pada ustad. tidak lagi menarik bagi sebagian masyarakat untuk belajar di pesantren. Inilah mengapa teknologi pendidikan yang digagas dalam mengembangkan kurikulum tidak mudah untuk diimplementasikan di pesantren. Teknologi Pendidikan itu, di Indoneisa sudah mulai dirintis sejak masa pemerintahan Soekarno. Hal tersebut dijelaskan (Subkhan, 2. terkait sejarah teknologi pendidikan di Indonesia bahwa sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno di tahun 1950-an, didirikannya perguruan tinggi khusus untuk menghasilkan calon guru, yaitu Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Selain itu, banyak akademisi dan praktisi yang dikirim untuk belajar ke beberapa negara maju, termasuk dan terutama di Amerika Serikat. Perkembangan konsep, teori, dan metodologi dalam teknologi pendidikan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi pendidikan di Amerika Serikat, terutama di lingkaran AECT. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pengembangan teknologi pendidikan di Indonesia. Namun, upaya yang sudah dirintis sejak awal tersebut, faktanya belum mampu terlaksana secara baik di kebanyakan lembagalembaga pendidikan Islam khususnya pesantren. Padahal menurut (Nasution, 2. bahwa hasil teknologi sudah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan, seperti penemuan kertas, mesin cetak, radio, film. TV, komputer, dan lainnya. Walaupun pada dasarnya alat-alat tersebut dibuat bukan untuk mengkhususkan pada keperluan pendidikan, akan tetapi alatalat tersebut dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Ada tiga perspektif yang dijelaskan (Miarso, 1. terkait teknologi pendidikan . Pertama, memandang teknologi pendidikan sebagai suatu konstruk teoritis, yaitu suatu konsep abstrak yang berisi sekumpulan gagasan dan prinsip tentang bagaimana seharusnya proses belajar mengajar dilakukan dengan menggunakan teknologi. Kedua, teknologi pendidikan dapat dianggap sebagai bidang penerapan ide-ide dan prinsip-prinsip teoritis untuk memecahkan masalah-masalah konkret dalam bidang belajar mengajar. Bidang ini mencakup teknologi yang digunakan, aktivitas yang dilakukan, informasi dan sumber yang digunakan, serta pelanggan yang dilayani oleh pelaksana di bidang ini. Ketiga, kita dapat menganggap teknologi pendidikan sebagai sebuah profesi, sekelompok praktisi tertentu yang terorganisir, memenuhi kriteria tertentu, mengambil tugas tertentu, dan berintegrasi ke Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 dalam bagian tertentu dari bidang tersebut. Di samping tiga pandangan tersebut, teknologi media elektronik sebagai alat dalam melaksanakan teknologi pendidikan itu juga perlu Saat ini, media yang dapat menunjang proses tersebut ada banyak, baik media komunikasi mau pun media informasi. Selanjutnya (Prawiradilaga & Siregar, 2. menjelaskan bahwa di Indonesia teknologi informasi yang relatif baru adalah e-learning atau yang dikenal dengan istilah pembelajaran elektronik. Dalam prosesnya, komputer menjadi alat bantu dalam pemberlajaran tersebut dan memunculkan istilah Computer Based Learning (CBL) atau Computer Assistend Learning (CAL). Seiring berkembangnya teknologi tersebut, terbagilah teknologi pembelajaran menjadi dua, yaitu: pertama. Technology based learning yang pada prinsipnya terdiri dari audio information technologies . adio, audio tape, voice mail telepo. dan video information technologies . ideo tape, video text, video messagin. Kedua. Technolgy based web-learning yang pada dasarnya adalah data information technologies . ulletin board, internet, e-mail, tele-collaboratio. Adapun karateristik e-learning dijelaskan (Prawiradilaga & Siregar, 2. bahwa terbagi empat, pertama memanfaatkan jasa teknologi elektronik antara guru dan siswa, siswa dan sesama siswa, atau guru dan sesama guru agar dapat berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang bersifat protokoler. Kedua, memanfaatkan keunggulan komputer . igital media dan computer network. Ketiga, menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri . elf learning material. dan disimpan dalam komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan dan di mana saja bila diperlukan. Keempat, memanfaatkan komputer untuk dapat melihat jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan kapan saja. Pada dasarnya teknologi pendidikan yang saat ini sudah banyak tersebar dan digunakan di banyak sekolah umum, masih belum merata penggunaannya dalam pendidikan Islam khususnya pesantren. Tidak hanya keterbatasan sumber biaya dari pengelolaan pemerintah saja yang menjadi kendala, namun andil kebijakan pimpinan pesantren dalam melaksanakankan teknologi pendidikan juga menjadi faktor implementasi tersebut. Sebab mayoritas pesantren memiliki kebijakan yang relatif sama terkait pembatasan teknologi di lingkungan pesantren. (Fattah, 2. membagi tiga kelas masalah kebijakan, yaitu pertama masalah yang sederhana. Masalah sederhana . ell-structure. adalah situasi yang melibatkan satu atau lebih pengambil keputusan dan pilihan kebijakan yang lebih sedikit. Nilai menunjukkan konsensus mengenai tujuan jangka pendek yang ditetapkan secara jelas sesuai dengan preferensi pengambil keputusan. Hasil dari setiap pilihan diketahui dengan tingkat kepastian yang tinggi, atau dalam batas kesalahan. Kedua, masalah yang agak sederhana (Moderately structured problem. , masalah yang melibatkan satu atau beberapa pengambil keputusan dan jumlah pengambil keputusan yang relatif terbatas. Utilitas juga mencerminkan kesepakatan mengenai tujuan jangka pendek yang jelas. Namun, alternatifalternatif ini tidak selalu memberikan hasil positif, dan kemungkinan terjadinya kesalahan tidak dapat diperkirakan secara akurat. Ketiga. Masalah yang kompleks atau rumit . adalah masalah yang melibatkan banyak pengambil keputusan dan manfaatnya . tidak diketahui atau tidak dapat dikategorikan secara konsisten. Meskipun permasalahan yang sederhana dan relatif tidak rumit dapat diselesaikan melalui konsensus. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 permasalahan yang kompleks ditandai dengan tujuan yang saling bertentangan. Permasalahan kebijakan yang paling penting cenderung rumit. Berdasarkan penelitian terdahulu, penulis merujuk pada beberapa artikel yang penelitiannya memiliki korelasi dengan penelitian yang penulis teliti. Pertama, artikel yang ditulis (PS, 2. ini membahas terkait pendidikan agama yang perlu membimbing siswa dalam mengembangkan dirinya, baik mental maupun spiritual dalam membentuk karakter masing-masing yang berlandaskan pada pemahaman agama Islam. Penulis menjelaskan bahwa seiring perkembangan waktu, pendidikan Islam tidak sebagus dulu dikarenakan beberapa faktor. Pesantren yang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam juga belum mampu menghindari berbagai pengaruh negatif atas munculnya globalisasi. Penulis juga menjelaskan bahwa peran pesantren yang dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia memiliki banyak peran penting terutama dalam hal membentuk karakter umat Islam Indonesia. Dalam artikel tersebut, penulis belum membahas secara rinci permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam lingkungan pesantren. Kedua, artikel yang di tulis (Siswati, 2. ini membahasa terkait pendidikan Islam yang memiliki banyak tantangan di era globalisasi. Penulis menjelaskan bahwa kemajuan sains, teknologi, informasi, dan transformasi memberikan dampak pada tatanan masyarakat. Oleh karena tuntutan dalam membina akhlak manusia yang diemban oleh pendidikan sangat berat, maka pesantren yang menjadi satu di antara wadahnya turut memiliki tantangan yang berat pula. Penulis juga menjelaskan terkait pesantren yang harus merespon kemajuan yang ada dengan cara mengembangkan ilmu-ilmu modern dengan tetap mempertahankan nilainilai lama yang sudah baik. Artikel ini sedikit mengulik pembahasan terkait kemajuan teknologi yang mestinya dimanfaatkan dalam lingkungan pesantren, hanya saja penulis tidak membahas keterbatasan penggunaannya di lingkungan pesantren oleh sebab kebijakan yang dikeluarkan pimpinan pesantren. Ketiga, artikel yang ditulis (Nurjanah, 2. Ini menjelaskan tujuan dari penelitiannya adalah untuk mengetahui upaya pesantren dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil dari penelitiannya menjelaskan bahwa pesantren harus mampu dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berbagai tantangan global agar menghasilkan output Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan mampu bersaing di era kemajuan ini. Adapun upaya pesantren dalam menghadapi perkembangan tersebut yang ditemukan penulis adalah dengan melaksanakan proses pembelajaran yang dipadukan dengan program-program pembangunan di segala Dengan demikian, pendidikan pesantren dapat melahirkan manusia untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang secara praktis dan teoritis mampu berperan aktif dalam proses perubahan sosial menuju kehidupan masyarakat yang lebih maju. Secara keseluruhan, artikel ini hanya menjelaskan upaya sebagai solusi pengimplementasian teknologi pendidikan di lingkungan pesantren yang kendalanya muncul dari sistem kelembagaan pesantren yang tidak bisa dilunturkan oleh arus modernisai. Hal tersebut belum menjelaskan kendala yang dihadapi dari sisi kebijakan yang dibuat oleh pimpinan pesantren. Keempat, artikel yang ditulis (Suryati, 2. Ini menjelaskan tujuan penelitiannya adalah untuk mendeskripsikan penerapan teknologi informasi dan komunikasi di pesantren Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 Raudhatul Ulum Sakatiga Sumatera Selatan. Penulis menjelaskan bahwa pesantren selama ini selalu diidentikkan dengan pendidikan tradisional. Berdasarkan hasil penelitiannya, penulis menawarkan beberapa rekomendasi terkait penerapan yang dimaksud yaitu, pihak pesantren harus segera mengatasi masalah kekurangan daya, dan mengadakan client server baru dengan kapasitas yang lebih besar. Selain itu penulis juga menjelaskan bahwa produk pesantren diharapkan memiliki kemampuan tinggi untuk mengadakan respon terhadap tantangan-tantangan dan tuntutan hidup dalam konteks ruang dan waktu yang ada. Sehingga dalam konteks ini peneliti memahami proses tersebut sebagai suatu pendekatan yang berusaha memberikan solusi untuk produk . pesantren yang siap menghadapi tuntutan hidup di era yang penuh dengan teknologi. Dalam artikel ini, peneliti hanya menemukan banyaknya solusi dalam penerapan tanpa menjelaskan permasalahan yang rinci dari segi kebijakan. Permasalahan yang dibawakan penulis dalam analisanya lebih kepada kekurangan sarana dan prasarana dalam mewujudkan penerapan tersebut. Kelima, artikel yang ditulis (Aisyah et al. , 2. Ini menjelaskan tahap yang dilakukan dalam kegiatan pegabdiannya pada Pesantren Ramadhan di Masjid Jabal Nur adalah memberikan pelatihan secara terpadu kepada anak-anak agar mampu memahami penggunaan teknologi positif di masyarakat. Adapun hasilnya, anak-anak memahami dan mengetahui teknologi yang bagus digunakan dan yang tidak layak digunakan. Penulis menjelaskan bahwa sebenarnya kondisi tradisional sangat perlu dipertahankan Namun, kita juga memiliki kewajiban untuk mengikuti situasi dan kondisi yang semakin hari semakin bertambah maju. Kemudian penulis menjelaskan bahwa pesantren telah menjadi trend sejak masa perjuangan kemerdekaan yang bertumpu pada semangat juang dan keimanan kepada Tuhan Zat Pemberi Kemerdekaan bagi seluruh Secara keseluruhan, penulis hanya menjelaskan bagaimana cara dalam menerapkan penggunaan teknologi yang baik dan benar dalam meningkatkan mutu Adapun konteks yang diteliti penulis hanya sebatas pada kegiatan selama bulan Ramadhan di Masjid Jabal Nur, bukan pesantren yang sesungguhnya yang berbentuk lembaga pendidikan Islam. Dari kelima rujukan tersebut, belum sama sekali ada penelitian khusus yang membahas dampak dari kebijakan yang dikeluarkan pimpinan pesantren terhadap keterbatasan penggunaan teknologi pendidikan di lingkungan pesantren. Dalam penelitian ini, kami membatasi permasalahan pada apa saja kebijakan pimpinan pesantren yang berdampak terhadap keterbatasan penggunaan teknologi di lingkungan pesantren. Diharapkan dari tulisan ini, dapat menjadi perhatian khusus kepada para pimpinan pesantren agar merevisi kebijakan yang dapat menghambat penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran yang ujungnya dapat mempengaruhi kulitas pendidikan dilembaga tersebut. Adapun manfaat yang diperoleh dari artikel ini, nantinya dapat menjadi rujukan bagi penulis lainnya dalam meneliti yang berkaitan dengan kebijakan pimpinan dan penggunaan teknologi dalam pendidikan. METODE Penletian ini menggunakan metode deskritif kualitatif. Metede ini berkaitan dengan penilaian subjektif dari sikap, pendapat dan perilaku. Penelitian dengan situasi seperti itu Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 adalah fungsi dari wawasan dan kesan peneliti. Pendekatan penelitian semacam itu membuahkan hasil baik dalam bentuk non kuantitatif atau dalam bentuk yang tidak dikenai analisis kuantitatif yang ketat (Kusumastuti & Khoiron, 2. Jenis penelitian kualitatif yang digunakan merupakan kualitatif deskriptif analisis,sebagaimana yang dijelaskan oleh (Mulya et al. , 2. yaitu dengan cara mendeskripsikan data yang ada kemudian dianalisis dengan menguraikan data tersebut dengan tidak dituangkan dalam bentuk angka statistik atau bilangan Adapun teknik pengeumpulan data yang digunakan adalah teknik analisis data yang diguanakan oleh (Azaky et al. , 2. Teknik ini dioperasionalkan dengan mengumpulkan data yang relevan dengan masalah pokok penelitian. Adapun cara pengumpulannya dengan menemukan indikasi-indikasi keterbatasan Teknologi yang terdapat di sekolah temapat penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Pesantren Imam Ibnu katsir Kota Pekanbaru yang terletak di kecamatan Rumbai Kelurahan Muara Fajar Timur. Data diperoleh dari wawancara kepada pihak guru dan santri yang berada di pondom Pesantren mengenai keterbatsan teknologi yang terdapat di pesantren tersebut. Peneliotian ini dilaksanakan selama dua pekan dari tanggal 16 sampai 28 Oktober 2023. HASIL DAN PEMBAHASAN Pesantren sebagai Lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia, tentunya sangat menjadi harapan bagi Sebagian umat islam yang ada di Indonesia untuk keselamatan pendidikan dan keagamaan anak-anaknya, sehingga tentunya banyak orangtua yang berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke pesantren dengan harapan bekal keagamaan yang mumpuni yang akan dicapai dan diperoleh oleh anak-anak dan generasi Namun belakangan ini pesantren menjadi sorotan setelah maraknya perkembangan teknologi informasi dalam pendidikan. Pesantren sebagai Lembaga pendidikan agama yang berbasiskan asrama tentunya memiliki keterbatasan terhadap penggunaan atau pemanfaatan teknologi informasi dalam pendidikan tersebut, dikarenakan ada beberapa kebijakan dari pesantren yang melarang peserta didiknya menggunakan teknologi seperti gawai dan yang lainnya sehingga hal ini tentunya sangat berdampak bagi perkembangan pendidikan di lingkungan pesantren khususnya. Segala kebijakan mengenai dilarangnya santri membawa barang berteknologi ini tertuang dalam aturan yang dibuat oleh pesantren yang terdapat pada aturan yang telah dibakukan dalam bentuk buku yang terdiri dengan pasal-pasal aturan dan sanksi pelanggaran apabila membawa barang-barang tersebut, hal ini dikarenakan ketakutan dan kekhawatiran pendidik terhadap penyalah gunaan benda berteknologi tersebut, seperti telepon genggam android yang dapat disalah gunakan pada hal-hal yang berbau maksiat, namun tentunya pula ada dampak yang dapat terjadi di dalam dunia pendidikan apabila hal ini tidak dicariak solusi. Dari berbagai macam alat teknologi tentunya pesantren memiliki beberapa alat teknologi namun penggunaannya bagi siswa sangat terbatas, seperti adanya labor TIK yang berjaringan Wify. keterbatasan teknologi tersebut maka ada beberapa dampak yang penulis dapatkan setelah melakukan survei ke beberapa pesantren yang ada di daerah penulis diantaranya sebagai Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 Mengurangi interaksi langsung dalam pembelajaran Keterbatsan teknologi tentunya dapat mengurangi interaksi secara langsung dalam proses belajar mengajar dikarenakan teknologi menjadi penghubung untuk berkomunikasi dalam konteks modrenisasi. Saat teknologi dibatasi akses terhadap pembelajaran secara online, video, atau alat bantu lainnya yang interaktif menjadi Hal ini membuat sulit dalam hal diskusi langsung, berbagai materi, atau berkolaborasi secara efisien, yang merupakan aspek yang sangat vital dalam interaksi langsung di pembelajaran yang sudah modern. Terhambat dalam penggunaan metode yang inovatif Belakangan ini banyak, inoasi-inovasi pendidikan yang bermunculan untuk menjadikan pembelajaran lebih efektif, efisien dan menyenangkan,sehingga peserta didik menjadi bersemangat mengikuti dan menerima Pelajaran di sekolah, namun dengan keterbatasan teknologi hal ini tentu saja tidak akan di dapat oleh peserta didik yang sekolahnya tidak menyediakan teknologi, dikarenakan metode yang inovatif dalam pembelajaran memerlukan dukungan teknologi yang canggih. Seperti halnya, pembuatan media-media pembelajaran berupa games, dan bahan ajar Pengaruh terhadap ketersediaan sumberdaya pendukung pembelajaran . -boo. , akses informasi daring, dan media pembelajaran interaktif. Pada zaman yang penuh teknologi ini, ketrrsediaan buku bacaan sebagai referensi pengetahuan sudah banyak yang berbentuk buku elektronik, sehingga buku yang bersifat cetakan sudah banyak ditinggalkan. Keterbatsan teknologi di sekolah tentunya sangat mempengaruhi keterbatsan informasi dari segi ketersediaan sumber daya pendukung pembelajaran yang pada dasarnya sangat membantu peserta didik dalam menambah wawasan literaturnya dalam belajar, baik itu menulis dan mebaca. Dari dampak yang ada, ditemukan satu sebagai masalah yang sederhana . yaitu pada dampak pertama, sebab dampak tersebut masih dapat diterima. Dalam artian lain, dampak yang muncul dari kebijakan tersebut masih bisa toleransi dan proses pembelajaran masih dapat berjalan sebagai mana mestinya. Kemudian dua dampak lainnya terkategorikan sebagai masalah yang agak sederhana . ll-structure. , sebab dampak tersebut belum bisa dikategorikan sebagai masalah yang rumit. Diizinkannya penggunaan teknologi dalam pendidikan bersifat belum jelas atau bias atau sama. Dengan maksud lain, bila teknologi itu digunakan, belum tentu menghasilkan pembelajaran yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan. Namun dampak yang terkategori sebagai masalah yang agak sederhana tersebut, ada baiknya kebijakan tidak membatasi penggunaannya sebagai keikutsertaan kita dalam mengembangkan kualitas pendidikan. Dalam hal keterbatasan tersebut, manajemen pesantren hendaknya mencari cara yang sesuai, dengan tidak mengurangi kekonsistenan terhadap kebijakan pesantren, serta dapat memenuhi kebutuhan teknologi informasi di pesantren sehinggan proses belajar dan mengajar di pondol pesantren tidak tertinggal dibandingkan sekolah-sekolah lainnya yang sudah terjamah oleh teknologi informasi di dunia pendidikan. Lingkungan sekolah-sekolah yang tidak asrama seperti pesantren telah lama menggunakan teknologi informasi dalam menunjang efektivitas pembelajaran. Mereka Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 23242-23251 Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024 sangat cakap dalam menggunakan teknologi informasi dan paham untuk mengakses kebutuhan materi secara baik dari internet maupun elektronik book. Adapun sekolah berbasis asrama seperti pesantren cukup tertinggal dalam mengimplementasikan teknologi informasi saat melaksanakan proses pembelajaran oleh karena keterbatasan penggunaannya pada peserta didik. SIMPULAN Setelah dilakukan penelitian terhadap masalah yang di kemukakan, maka terdapatlah beberapa dampak yang diakibatkan oleh kebijakan yang diberlakukan di pesantren Imam Ibnu Katsir Pekanbaru, diantaranya: Dapat mengurangi interaksi secara langsung dalam proses pembelajaran dikarenakan teknologi merupakan penghubung langsung untuk berkomunikasi dalam proses pembelajaran pada zaman sekarang. Terhambatnya penggunaan metode yang inovatif yang belakangan ini banyak bermunculan seiiring dengan perkembangan teknologi, untuk keefektifan proses Berpengaruh terhadap ketersediaan suberdaya pendukung pembelajaran, seperti ebook, akses informasi daring, dan media pembelajaran yang bersifat interaktif. Ketiga dampak tersebut hendaknya mendapatkan solusi dari pihak pengelola pesantren sehingga proses belajar mengajar di sekolah berbasis agama islam yang memiliki asrama tidak jauh dari perkembangan teknologi informasi. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu dan memberikan pencerahan kepada penulis sehingga artikel ini dapat diselesaikan dan Kami ucapkan terima terima kasih kepada dosen-dosen yang menyediakan waktunya dalam membimbing penulis dalam membuat artikel. Terima kasih juga kami ucapkan kepada komting angkatan 1 program magister Pendidikan Bahasa Indonesia yang telah banyak memberikan pencerahan dan perbaikan atas artikel ini. Semoga artikel ini, dapat menjadi hal yang bermanfaat untuk publik, khususnya dalam dunia pendidikan. DAFTAR PUSTAKA