Proceedings Series on Physical & Formal Sciences. Volume 5 Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan ISSN: 2808-7046 Pola Pendapatan Petani Kelapa Sawit Swadaya Pasca Peremajaan Sistem Underplanting di Kecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi Gina Fauzia, 1,2Ernawati Hamid, 1,2Mirawati Yanita Peneliti Consortium Smallholder Studies On Palm Oil. Universitas Jambi Fakultas Pertanian. Universitas Jambi ARTICLE INFO Article history: DOI: 30595/pspfs. Submited: 05 Mei, 2023 Accepted: 21 Mei, 2023 Published: 04 Agustus, 2023 Keywords: Pola Pendapatan. Replanting. Underplanting. Berkelanjutan ABSTRACT Komoditas kelapa sawit merupakan komoditi yang banyak diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi, disamping merupakan wilayah pertama pengembangan budidaya kelapa sawit juga memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan petani kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan petani kelapa sawit swadaya pasca peremajaan sistem underplanting di Kecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 42 petani pasca peremajaan sistem underplanting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani pasca melakukan peremajaan sistem underplanting sebesar Rp 711/tahun. Pola pendapatan petani terdiri dari pola I usahatani kelapa sawit sebesar Rp 53. 933/petani/tahun. Pola II usahatani kelapa sawit ternak sapi Rp 49. 100/tahun. Pola i usahatani kelapa sawit buruh tani sebesar Rp 45. 210/tahun. Pola IV usahatani kelapa sawit pedagang sebesar Rp 44. 140/tahun dan Pola V usahatani kelapa sawit pegawai sebesar Rp 51. 368/tahun. Pendapatan petani kelapa sawit swadaya pasca peremajaan dengan sistem underplanting memberikan gambaran bahwa petani kelapa sawit swadaya harus mempunyai sumber sumber pendapatan lain dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga petani dan mampu melakukan saving untuk menghadapi peremajaan selain itu dari pola yang terbentuk pendapatan petani dari pola I yang bersumber hanya dari usahatani kelapa sawit memiliki pendapatan terbesar, hal ini ditenggarai dengan pilihan sistem underplanting petani masih memiliki pendapatan dari tanaman tua yang belum ditumbang. hal ini masih menjadi pilihan sebagaian petani swadaya terutama yang hanya memiliki 1 hamparan lahan kelapa sawit. Meskipun sistem underplanting juga memiliki kelemahan disisi hama penyakit tanaman. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Gina Fauzia Universitas Jambi Jl. Raya Jambi-Ma. Bulian KM 15 Mendalo Indah Email: gina_fauzia@unja. PENDAHULUAN Pertanian merupakan sektor utama dalam perekonomian. Salah satu subsektor yang paling penting dalam meningkatkan perekonomian indonesia adalah subsektor perkebunan. Subsektor perkebunan berkembang pesat, dilihat dari banyaknya industri yang dibangun terutama industri perkebunan kelapa sawit dan karet. Banyaknya Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 perkebunan milik masyarakat, swasta maupun BUMN diharapkan mampu menaikan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satu komoditas yang berkembang pesat adalah kelapa sawit. Kelapa Sawit saat ini merupakan tanaman komersial paling penting secara global (Byerlee,2017. Qaim dkk, 2. Indonesia merupakan negara penghasil utama minyak sawit baik dari sisi produksi maupun luas lahan di dunia (FAO,2. Posisi ini menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan Indonesia karena menjadi sumber pendapatan negara dan penyedia lapangan pekerjaan yang cukup signifikan serta penyumbang devisa terbanyak sebagai komoditas perkebunan (Yanita M. Ningsih R 2. Provinsi yang menjadi salah satu sumber penyumbang devisa yaitu Provinsi Jambi. Pengusahaan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Jambi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu Perkebunan Rakyat (PR). Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS). Data Disbun Provinsi Jambi Tahun 2021 menunjukkan bahwa pada tahun 2020 luas areal perkebunan kelapa sawit mencapai 1. 477 ha dengan produksi sebanyak 1. 152 ton. Luas areal perkebunan kelapa sawit tersebut didominasi oleh perkebunan rakyat sekitar 51,3% dengan produksi 50,7% dan disusul oleh perkebunan besar swasta dan perkebunan negara. Tiga kelompok tersebut sangat berperan dalam menentukan berjalannya roda industri kelapa sawit nasional melalui penyediaan bahan pokok industri CPO dan turunannya. Keberlanjutan industri kelapa sawit dalam negeri tersebut dapat dicapai apabila pasokan bahan baku tetap tersedia sesuai dengan kebutuhan. Tentu saja hal ini tergantung pada produksi dan produktivitas kelapa sawit itu sendiri. Kabupaten Muaro Jambi sebagai daerah penghasil kelapa sawit memiliki areal perkebunan kelapa sawit terluas sebanyak 22,52% dari keseluruhan lahan kelapa sawit di Provinsi Jambi. Luasan areal kelapa sawit belum menentukkan bahwa daerah tersebut memberikan produktivitas yang tinggi. Menurut data bahwa produktivitas areal kelapa sawit di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2021 sebesar 10,54%, jauh dari Kabupaten penghasil kelapa sawit lainya yang luas areal berada dibawah luas Kabupaten Muaro Jambi (Disbun, 2. Rendahnya produktivitas perkebunan kelapa sawit ditenggarai jumlah areal tanaman rusak yang masih relatif banyak. Alternatif untuk mengurangi areal tanaman tua/rusak dengan melakukan peremajaan perkebunan kelapa sawit yang dapat dilakukan dengan sistem underplanting dan konvensional. Program pemerintah yang dicanangkan untuk peremajaan dengan memberikan dana bantuan melalui BPDPKS sebesar Rp 30. 000/ha belum memberikan perubahan yang signifikan. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi menyatakan bahwa target luas peremajaan perkebunan kelapa sawit dari pemerintah pusat seluas 7. 500 ha dan baru sekitar 2. 000 ha yang direplanting dan masih dalam proses (Mariadi N,2. Sungai bahar sebagai salah satu kecamatan di Muaro Jambi yang engusahakan perkebunan kelapa sawit pertama di Provinsi Jambi, banyak melakukan peremajaan kebun kelapa sawit secara konvensional maupun Peremajaan secara underplanting merupakan peremajaan dengan sistem menyisip tanaman muda dinatara tanaman tua. Sistem ini dilakukan dengan mempertimbangkan masih dapat memberikan penghasilan dari tanaman tua yang belum ditumbang habis. Pekebun kelapa sawit sudah tentu berusaha untuk tidak kehilangan pendapatan dari usahatani nya maka pilihan underplanting dapat menjadi pilihan bagi petani. Pendapatan pekebun kelapa sawit pasca peremajaan memberikan pola pola yang berbeda. Berdasarkan fenomena diatas bagaimana pola dan berapa besar pendapatan petani kelapa sawit swadaya pasca peremajaan sistem underplanting di Kecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi. METODE PENELITIAN Ruang Lingkup dan Tempat Penelitian Ruang lingkup penelitian adalah pola pendapatan pekebun kelapa sawit swadaya yang terdapat di Kecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi. Waktu penelitian dimulai dari Desember 2021 Ae November Jenis dan Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi dan interview yaitu pengamatan dan pengumpulan data secara langsung dilapangan melalui wawancara terstruktur dengan mengajukan pertanyaan berdasarkan kusioner kepada pekebun kelapa sawit yang telah melakukan peremajaan. Menurut Fathoni . , wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya bahwa pertanyaan datang dari satu pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancarai Selain itu juga dilakukan studi literatur atau jurnal ilmiah terdahulu, penelusuran dokumen serta laporan laporan dari instansi Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan metode simple random sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling (Margono,2. Jumlah populasi sampel sebanyak 250 orang dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 42 orang. menurut Sugiyono . apabila sampe lebih dari 100 orang maka diambil presisi 5-15% untuk mewakili populasi keseluruhan. Metode Analisis Data Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif dengan menganalisis pola yang terbentuk dan besar pendapatan petani sampel pasca peremajaan sistem underplanting. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan Usahatani Kelapa Sawit Pasca Peremajaan Sistem Underplanting Keragaan memberikan gambaran usahatani kelapa sawit yang dilakukan oleh petani swadaya pasca sampel sebanyak 42 orang yang merupakan petani swadaya yang melakukan peremajaan dengan sistem underplanting memiliki 2 hamparan kebun kelapa sawit yang berbeda. lahan 1 merupakan lahan yang diremajakan pada tahun 2018 dan 2019 sedangkan lahan 2 merupakan lahan kebun kelapa sawit yang tidak Penggunaan berbagai input produksi pada 2 lahan tersebut tidak lah sama oleh karena itu produksi yang dihasilkan juga akan berpengaruh. Tabel 1. Keragaan Usahatani Kelapa Sawit Swadaya Pasca Peremajaan Sistem Underplanting Uraian Keragaan Usahatani Lahan 1 Lahan 2 Rata-rata Luas Lahan . 2,00 1,33 Umur Tanaman . 5 dan 6 Jarak Tanam . Jenis Bibit Marihat Marihat Jumlah Tanaman . kk/h. Pemupukan . ali/th. 2 kali 2 kali Penggunaan Pupuk (Kg/h. Urea KCL Pertipos NPK Phonska Dolomit Penyemprotan . ali/th. 2 kali 2 kali Penggunaan Obat2an . tr/h. Paratop 2,86 2,18 Rambo 2,55 2,05 10 Pemangkasan . ali/th. 11 Pemanenan . ali/th. 12 Produksi . g/h. Rata-rata produksi kelapa sawit pada lahan 1 dan lahan 2 terdapat selisih sebanyak 4. 334 kg/ha. Selisih ini cukup besar dikarenakan lahan 1 masih berumur 5 dan 6 tahun yang peremajaan nya sistem underplanting dimana tanaman tua tidak langsung ditumbang habis tetapi masih berada pada hamparan tanaman muda. Sementara menurut S Hutabarat,2018 produksi kelapa sawit pekebun swadaya umur 5-9tahun, rata rata sebanyak 14,82 ton TBS/ha/tahun atau sekitar 14. 820 kg/ha/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sistem underplanting masih memberikan produksi yang baik bagi petani sehingga petani masih memilih untuk melakukan underplanting agar masih mendapatkan penghasilan dari lahan yang diremajakan. Namun disisi lain penggunaan input juga cukup tinggi, disamping pemeliharaan untuk tanaman muda juga dilakukan pemeliharaan untuk tanaman tua yang masih Selain keuntungan yang diperoleh petani dengan menerapkan sistem underplanting terdapat sisi kelemahan terhadap sistem underplanting yang dapat menjadi ancaman serius yaitu resiko dengan kegagalan peremajaan terutama serangan hama Oryctes dan penyakit Ganoderma sp yang menyebabkan sebagian besar peremajaan sistem underplanting gagal total. Jika pekebun terpaksa tetap memilih underplanting maka diperlukan disiplin yang tinggi untuk mengurangi resiko kegagalan sistem peremajaan (Edy Sigit S, dkk, 2. Pendapatan Petani Kelapa Sawit Pasca Peremajaan Sistem Underplanting Pendapatan On Farm Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan total biaya yang dikeluarkan selama melakukan produksi . oekartawi,2. Pendapatan petani diperoleh dari beberapa sumber yang berasal dari pendapatan on farm, off farm dan non farm. Pendapatan on farm diperoleh dari pendapatan yang berasal dari usahatani kelapa sawit dimana petani sampel hanya memiliki pendapatan yang berasal dari usahatani kelapa sawit. Rata-rata produksi yang dihasilkan dari lahan 1 dan lahan 2 sebanyak 33. 558 kg/ha/thn dan rata rata harga jual tandan buah segar Rp 2. 023/kg maka penerimaan petani kelapa sawit swadaya sebesar Rp 67. 834/ha/thn. Penerimaan yang berasal dari lahan 1 yang diremajakan dengan sistem underplanting menghasilkan produksi tandan buah segar sebanyak 14. 612 kg/ha/thn dengan rata rata harga jual sebesar Rp 2. 023/kg. Jumlah produksi yang dihasilkan dengan peremajaan sistem underplanting masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan sistem Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 konvensional, dimana peremajaan dengan sistem konvensional dengan perbedaan umur hanya 1-2 tahun mampu menghasilkan produksi tandan buah segar sebanyak 18. 170 kg/ha/thn (Suheri,2. sementara jika dibandingkan pada sistem underplanting hanya mampu menghasilkan 14. 612 kg/ha/thn. Hal ini menjelaskan bahwa dengan sistem underplanting belum memberikan produksi tandan buah segar yang maksimal. Biaya produksi merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam menghasilkan output tertentu, dimana biaya tersebut menjadi biaya tetap dan tidak tetap. Biaya produksi dalam usahatani kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Biaya Usahatani Petani Kelapa Sawit Pasca Peremajaan Sistem Underplanting Uraian Lahan 1 Lahan 2 Total (Rp/Th. (Rp/Th. (Rp/Th. Biaya Tetap Biaya Variabel Biaya Pupuk Biaya Obat-obatan Biaya Tenaga Kerja Biaya Lainnya Total Total biaya produksi dalam usahatani kelapa sawit sebesar Rp 42. 012/ha/thn dengan selisih biaya antara lahan 1 dan lahan 2 adalah sebesar Rp 4. 713//thn. Diketahui bahwa umur tanaman pada lahan 1 yang diremajakan dengan sistem underplanting adalah 5-6 tahun, membutuhkan biaya produksi sebesar 45,2%. Pada lahan 2, umur tanaman berkisar 20-30 thn dengan total biaya produksi sebesar 54,8% terdapat selisih sebesar 9,5%. Perbedaan komponen biaya terbesar ada pada biaya pupuk sebesar 13,7%. Hal ini disebabkan biaya tenaga kerja pada lahan 2 lebih banyak dibanding lahan 1 karena lahan 2, tenaga kerja lebih banyak diperlukan dalam pemeliharaan dan pemanenan, selain itu penggunaan pupuk yang hampir sama jumlahnya pada lahan 1 juga memberikan dampak yang signifikan dengan harapan tanaman yang sudah masuk pada usia optimal masih mampu memberikan produksi yang maksimal. Peremajaan yang dilakukan secara konvensional dimana tanaman tua langsung ditumbang habis, juga membutuhkan biaya penggunaan pupuk dalam jumlah yang besar yaitu sekitar 60,6% dari total keseluruhan biaya produksi peremajaan konvensional (Suheri A,2. Hal yang sama juga dikemukakan dalam penelitian Putri, 2015 menjelaskan bahwa biaya penggunaan pupuk pada lahan yang diremajakan sebesar 57,9% dari keseluruhan biaya produksi kelapa sawit. Pendapatan yang diterima petani kelapa sawit yang bersumber dari on farm atau usahatani kelapa sawit sebesar Rp 24. 711 /thn. Rincian nya dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 3. Pendapatan Usahatani Petani Kelapa Sawit Pasca Peremajaan Sistem Underplanting yang bersumber dari usahatani . n far. Uraian Lahan 1 (Rp/Th. Lahan 2 (Rp/Th. Total (Rp/Th. Penerimaan Produksi Harga 023,2. 023,2. 023,Total Penerimaan 076,38. 758,67. Biaya yang tidak dibayarkan Penyusutan Alat Biaya yang dibayarkan Biaya Penggunaan Pupuk Biaya Penggunaan ObatAyan Biaya Tenaga Kerja Biaya Lainnya Total Biaya Total Biaya . (R. Pendapatan . (R. Pendapatan Off Farm dan Non Farm Pendapatan yang bersumber dari ofarm atau luar usahatani kelapa sawit pada penelitian ini berasal dari usaha ternak sapi dengan pendapatan yang diterima sebesar Rp 28. 000/petani/tahun. sementara untuk pendapatan yang bersumber dari non farm atau luar dari usahatani terdiri dari beberapa usaha seperti buruh tani. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 pedagang dan pegawai dengan total pendapatan sebesar Rp 10. 625/petani/tahun. Distribusi pendapatan off farm dan non farm dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Pendapatan Petani Kelapa Sawit pada sumber off farm dan non farm Jenis Usaha Petani Sampel Penerimaan Biaya (Or. (Rp/petani/tahu. (Rp/petani/tahu. Ternak Sapi Buruh Tani Pedagang Pegawai Rata rata Pendapatan (Rp/petani/tahu. Rata-rata pendapatan petani yang bersumber pada kegiatan off farm dan non farm sebesar Rp 3. 440,/tahun. sementara pendapatan yang bersumber pada kegiatan on farm yang diterima petani adalah sebesar Rp 580,-/ha/thn, maka petani akan menerima pendapatan dari beberapa sumber adalah sebesar Rp 020/petani/tahun atau dapat dikatakan bahwa untuk setiap bulan petani mendapatkan pendapatan sebesar Rp 4. 251,-. Pola Pendapatan Petani Kelapa Sawit Pasca Peremajaan Sistem Underplanting Pendapatan petani yang diperoleh pasca peremajaan sistem underplanting merupakan keseluruhan pendapatan yang bersumber dari usaha baik dari usahatani kelapa sawit, usaha pertanian dan diluar usaha Rata rata petani kelapa sawit mempunyai sumber pendapatan lebih dari satu sumber sehingga terbentuk beberapa pola pendapatan. Tabel 5. Pola Pendapatan Petani Kelapa Sawit Swadaya berdasarkan Pola Usaha Pola Usahatani Kelapa Sawit Usahatani Luar Total Usaha (Rp/Tahu. luar Kelapa Usahatani Pendapatan Sawit (Rp/Tahu. Petani Lahan 1 Lahan 2 (Rp/Tahu. (Rp/Tahu. Pola I Pola II Pola i Pola IV Pola V Total Pendapatan Petani (Rp/bula. Pasca peremajaan, petani kelapa sawit swadaya memperlolah pendapatan dalam beberapa pola yaitu: . Pola 1 adalah pendapatan yang berasal dari usahatani kelapa sawit saja, . Pola 2 adalah pendapatan yang berasal dari usahatani kelapa sawit dan ternak sapi , . Pola 3 adalah pendapatan yang berasal dari usahatani kelapa sawit dan buruh tani , . Pola 4 adalah pendapatan yang berasal dari usahatani kelapa sawit dan pedagang, . Pola 5 adalah pendapatan yang berasal dari usahatani kelapa sawit dan pegawai. Tabel 5 menjelaskan bahwa pendapatan terbesar masih berasal dari pola 1 dimana petani hanya mendapatan pendapatan yang berasal dari lahan kelapa sawit saja baik lahan yang diremajakan sistem underplanting dan dengan lahan kelapa sawit lainya yang tidak diremajakan dengan total sebesar Rp 53. 933/tahun atau Rp 4. 494,-/bulan kemudian disusul pendapatan dari pola 5 yaitu petani yang mempunyai sumber penghasilan lainya sebagai pegawai. Peremajaan dengan sistem underplanting masih menjadi pilihan petani karena jika dilihat dari tabel 5, petani masih mendapatkan penghasilan dari tanaman tua yang belum ditumbang habis sehingga hal ini menjadi alternatif petani untuk tidak melakukan tumbang habis pada lahan yang diremajakan . istem konvensiona. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Susanti E dkk, 2014 yang menjelaskan bahwa petani plasma mempertimbangkan aspek finansial sehingga peremajaan underplanting lebih sesuai dengan kondisi sosial ekonomi mereka. petani masih mempunyai penghasilan untuk membiayai kehidupan mereka sementara sebagian tanaman kelapa sawit diremajakan. meskipun demikian sistem underplanting tidak disarankan dilakukan oleh petani karena disamping dapat terjadi kegagalan usahatani juga menghambat pertumbuhan tanaman muda yang akan berdampak pada produksi yang akan dihasilkan kemudian. Disisi lain, harapanya adalah petani bisa mempunyai sumber pendapatan dari sumber sumber lain terutama pada usahatani diluar kelapa sawit misalnya berternak, bercocok tanam dengan jenis tanaman pangan dengan umur 3 bulan. Hal ini dijelaskan dalam Isliana ,2015 bahwa petani memperoleh pendapatan sebesar Rp 621/tahun yang bersumber dari lahan kelapa sawit yang tidak diremajakan dengan usahatani tanaman semangka, selain itu petani yang mempunyai usahatani jagung dengan usahatani kelapa sawit baik yang sedang Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 diremajakan maupun yang tidak diremajakan memperoleh pendapatan sebesar Rp 51. 146/tahun. Dengan kata lain bahwa petani dengan berusahatani tanaman yang masa produksinya tidak lama memberikan keuntungan yang besar bagi petani. Hal ini sangat dianjurkan kepada petani karena kegiatan peremajaan sudah pasti akan dihadapi oleh petani saat umur tanaman sudah mencapai lebih dari 25 tahun maka dengan adanya sumber sumber pendapatan lainnya maka petani tidak akan mempertahankan tanaman kelapa sawit mereka dan mempunyai saving atau tabungan sebelum masa peremajaan harus dilaksanakan. SIMPULAN Proses peremajaan kelapa sawit sudah menjadi suatu kewajiban bagi para petani kelapa sawit sehingga perlu persiapan dari sisi finansial. Pendapatan yang didapatkan petani pada masa pasca peremajaan dengan sistem underplaning diperoleh dari 5 pola yaitu Pola 1 . sahatani kelapa sawi. Pola II . sahatani ternak sap. Pola i . sahatani kelapa sawit buruh tan. Pola IV . sahatani kelapa sawit pedagan. dan Pola V . sahatani kelapa sawit pegawa. Dari 5 pola tersebut pendapatan terbesar diperoleh dari pola I yaitu pendapatan berasal usahatani kelapa sawit sebesar Rp 53. 933,-/petani/tahun atau Rp 4. 494/petani/bulan. Pendapatan terendah diperoleh dari pola IV yaitu pendapatan berasal dari usahatani kelapa sawit dengan pedagang sebesar Rp 140/petani/tahun atau Rp 3. 095/petani/bulan. DAFTAR PUSTAKA