BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 3 Nomor 2. July 2024 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Meningkatkan Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak melalui Metode ReadAloud di PAUD Al-Hassanah Samarinda Nur Amelia Putri1*. Hanifah Nasywa Imtiyaz2. Ahmad MaAoruf3. Isti Dwiarti4. Isnani5 1,2,3, Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Indonesia PAUD Al-Hasanah Samarinda. Indonesia Received: March 14th, 2024. Revised: March 15th, 2024. Accepted: March 16th, 2024. Published: March 20th, 2024 Abstrak Penelitian ini dilakukan agar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa ekspresif anak menggunakan metode read-aloud. Pada penelitian ini menerapkan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Data primer diperoleh dari wawancara dan observasi. Sedangkan, data sekunder dari literatur seperti buku dan jurnal. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini ialah anak-anak dengan rentang usia 4-6 tahun di PAUD Al-Hassanah Samarinda. Hasil penelitian sebelum dilakukannya tindakan mengungkapkan kemampuan bahasa ekspresif anak mendapatkan ratarata 69 %, kemudian pada siklus I meningkat dengan rata-rata 86 % dengan kategori sangat baik. Hal ini membuktikan bahwa metode read aloud mampu meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak. Kata Kunci: kemampuan bahasa ekspresif, metode read aloud. Abstract This research was conducted in order to improve children's expressive language skills using the readaloud method. This study applied the method of classroom action research (PTK). Primary data was obtained from interviews and observations. Meanwhile, secondary data from literature such as books and journals. Data analysis used descriptive quantitative and qualitative. The subjects in this study were children with an age range of 4-6 years at PAUD Al-Hassanah Samarinda. The results of the study before the action revealed that children's expressive language skills got an average of 69%, then in cycle I increased by an average of 86% with a very good category. This proves that the read aloud method is able to improve children's expressive language skills. Keywords: expressive language skills, read aloud method. Copyright . 2024 Nur Amelia Putri. Hanifah Nasywa Imtiyaz. Ahmad MaAoruf. Isti Dwiarti. Isnani * Correspondence Address: Email Address: nuramelia605@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 2. July 2024 Nur Amelia Putri. Hanifah Nasywa Imtiyaz. Ahmad MaAoruf. Isti Dwiarti, & Isnani Pendahuluan Menurut Permendikbud Tahun 2014 Nomor 137 Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, aspek yang wajib dikembangkan pada peserta didik ialah bahasa (Husna & Eliza. Bahasa digambarkan sebagai sebuah simbol dalam melakukan komunikasi antar individu (Wahidah & Latifah, 2. Bahasa adalah perihal penting bagi manusia karena menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, pemikiran, ataupun perasaan yang dirasakan oleh individu (Hariyanti, 2. Tanpa adanya kemampuan bahasa, manusia akan mengalami kerumitan ketika berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan untuk menyampaikan melalui bahasa baik secara lisan maupun tidak, disebut kemampuan bahasa ekspresif (Husna & Eliza, 2. Bahasa ekspresif memiliki peranan yang penting agar anak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan keinginan tanpa adanya paksaan dari orang sekitar (SyaAobana et al. Kemampuan bahasa ekspresif pada anak menekankan pada kemampuan anak untuk merangkai pemikiran dan merancangnya ke dalam kalimat yang logis sehingga memungkinkan bagi anak untuk menyampaikan kepada individu lain tentang apa yang ia inginkan (Endahwati et al. , 2. Bahasa ekspresif anak akan mulai tampak saat usia prasekolah, dimana muncul kebutuhan anak untuk melakukan komunikasi dengan orang sekitarnya seperti orang tua, teman, guru maupun orang lain. Perkembangan bahasa ekspresif anak ditandai dengan bertambahnya jumlah kosakata anak yang dapat mencapai hingga ratusan kata, mengucapkan kalimat dalam konteks yang lebih panjang dan kompleks sehingga dapat menceritakan kembali sebuah cerita yang telah didengarnya (Syahputri & Suminar, 2. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang di PAUD Al-Hassanah Samarinda ditemukan permasalahan pada kemampuan bahasa ekspresif anak yaitu pengucapan kata yang masih belum jelas, anak belum bisa berpendapat terhadap cerita yang dibacakan, serta terdapat beberapa anak yang belum bisa menceritakan kembali cerita yang pernah didengar. Apabila kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi, maka dikhawatirkan akan berdampak pada kehidupan sehari-hari anak baik secara pribadi ataupun lingkungannya. Anak akan mengalami kesulitan dalam belajar, dalam bersosialisasi karena orang lain tidak dapat memahami perkataannya, dan lainnya. Salah satu solusi yang dapat dilaksanakan oleh guru untuk mengatasi permasalahan di atas adalah melaksanakan metode read-aloud. Membaca nyaring atau yang sering dikenal read-aloud adalah sebuah metode yang dilakukan dengan membacakan cerita atau dongeng dari buku bergambar. Membacakan nyaring mengizinkan anak-anak untuk menemukan kosakata baru dengan struktur kalimat yang kompleks serta menambah pengetahuan yang diperoleh dari buku yang dibacakan (Afifatunnisa et al. , 2. Baiti, dkk . dalam penelitiannya menerangkan bahwa metode read-aloud memiliki pengaruh dalam meningkatkan bahasa peserta didik dengan manfaat yang diperoleh yaitu meningkatnya minat peserta didik pada kegiatan membaca, kosakata peserta didik bertambah, serta bisa bercerita ulang dengan bahasanya sendiri . Selain itu. Yessy dan Nur . dalam penelitiannya juga mengungkapkan, bahwasanya membaca nyaring terbukti mampu mengembangkan kemampuan bahasa serta meningkatkan kecintaan sejak dini kepada buku. Selaras dengan penelitian oleh Meutia dan Dewi . yang mengungkapkan bahwasanya metode repeated interactive read-aloud terbukti memiliki efek yang signifikan dan bisa digunakan dalam meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak usia prasekolah. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 2. July 2024 Meningkatkan Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak melalui Metode Read-Aloud di PAUD Al-Hassanah Samarinda Tinjauan Pustaka Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak Komunikasi melalui bahasa, baik secara tertulis maupun melalui penggunaan simbol dan lambang, itulah yang dimaksud dengan istilah "bahasa". Perkembangan bahasa anak terus menerus meningkat, agar bisa menjadi bekal nantinya. Stimulasi bahasa bagi peserta didik harus dikembangkan dengan maksimal. Dan setiap guru di sekolah wajib andil dalam meningkatkan perkembangan bahasa peserta didik. Kemampuan dalam berkomunikasi pada anak terbagi 2 antara bahasa ekspresif maupun reseptif. Bahasa reseptif melibatkan simbol atau kognisi kata, sedangkan bahasa eskpresif berfokus terhadap pengolahan bunyibunyi dalam berkata-kata (Yuniati & Rohmadheny, 2. Kemampuan berbicara adalah sebuah ungkapan melalui ujaran, yang bersifat ekspresif dan reseptif. Salah satu contoh dari bahasa ekspresif ialah menulis informasi dan bercakap kepada orang lain dalam berdialog. Kemampuan bahasa ekspresif ialah anak sering menyatakan pikiran, perasaan, kebutuhan, dan keinginan kepada individu lainnya secara lisan (Fitriana, 2. Bahasa ekspresif memiliki urgensi untuk perkembangan bahasa anak pada tingkat berikutnya karena kemampuan berbahasa ekspresif berperan agar peserta didik dapat mengekspresikan diri sendiri tanpa adanya paksaan individu lain, oleh karena itu dalam meningkatkan kemampuan ini memerlukan metode maupun stimulan yang tepat (Afian. Empat tahapan perkembangan bahasa pada anak diantaranya: . kalimat kata pada usia 1 sampai 1 thn 6 bln . memberi nama pada 1,5 sampai 2 tahun. kalimat tunggal pada 2 sampai 2,5 tahun. kalimat majemuk pada 2 tahun sampai seterusnya. Keempat tahap itu akan dilewati oleh anak didik sesuai umurnya, dan anak didik tersebut mampu berbahasa secara baik (Yuniati & Rohmadheny, 2. Contoh kemampuan berbahasa ekspresif pada peserta didik yaitu dapat menuturkan huruf vokal, konsonan, suku kata, kalimat, menjawab pertanyaan 5W 1H dengan jelas. anak dapat menyatakan sebuah alasan. serta mampu melakukan komunikasi dua arah (Winarti et al. , 2. Tujuan peningkatan bahasa ekspresif pada anak ialah dapat melakukan komunikasi dengan lingkungan serta anak mempunyai minat untuk bertanya kepada teman maupun individu lainnya. Penyebab kurangnya kemampuan bahasa ekspresif anak ialah karakteristik anak yang kurang diperhatikan saat kegiatan pembelajaran (Sari et al. , 2. Kemampuan berbahasa anak usia dini membutuhkan perhatian karena aspek tersebut terkait berbagai hal. Oleh karena itu sangat berpengaruh terhadap berbagai hal. Jika seorang anak mampu berbahasa, anak tersebut memiliki potensi dalam meningkatkan keterampilan sosialnya dan memiliki peluang dalam mengantongi kemampuan kognisi dengan baik. Begitupun sebaliknya, anak yang menghadapi persoalan berbahasa berpeluang terganggu kemampuannya dalam bersosialisasi dengan sekitarnya (Fitriani, 2. Permendikbud tahun 2014 nomor 137 mengenai STPPA dalam ruang kemampuan berbahasa anak berusia 4 sampai dengan 5 tahun secara tegas menyatakan bahwa perkembangan bahasa anak meliputi yaitu anak mampu memahami bahasa . engekspresikan pendapatnya, menirukan kalimat yang muda. , mengungkapkan bahasa . apat bercerita ulang ) dapat mengetahui simbol-simbol (Ita & Wewe, 2. Beberapa indikator yang dapat digunakan dalam menilai kemampuan mengekspresikan bahasa pada anak berusia 5 sampai dengan 6 tahun yaitu menjawab pertanyaan rumit, melakukan komunikasi dengan mulut . , membuat kalimat yang BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 2. July 2024 Nur Amelia Putri. Hanifah Nasywa Imtiyaz. Ahmad MaAoruf. Isti Dwiarti, & Isnani mudah dengan terstruktur, lalu mempunyai kosakata. Selain itu, beberapa indikator yang termasuk dalam pencapaian kemampuan anak berusia 5 sampai dengan 6 tahun dalam berbicara ,contoh seperti : mengungkapkan kalimat yang diulang, menanggapi suatu pertanyaan, dapat mengekspresikan perasaannya, dan ia bercerita tentang hal baru/ telah didengar (Yus & Saragih, 2. Metode Read-aloud Kemampuan bahasa pada anak sangat dipengaruhi program gerakan literasi (Sary & Indah, 2. Read-aloud atau membaca nyaring ialah salah satu teknik literasi yang dikenal luas kesuksesannya. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran insidental terhadap kata-kata baru yang digunakan dalam sebuah cerita difasilitasi oleh praktik membacakan nyaring kepada anak-anak. Semakin sering anak-anak dibacakan, maka semakin banyak pula perolehan bahasanya (Eka et al. , 2. Menurut Trelease . hanya terdapat dua cara yang dinilai tepat dalam membenamkan kata-kata di benak seseorang yaitu melalui mata atau melalui telinga. Namun, mata anak masih memerlukan beberapa tahun lagi agar terbiasa untuk membaca, oleh karena itu telinga menjadi sumber terbaik bagi ide dan pembangunan otak. Suarasuara bermakna yang ditangkap telinga, nantinya akan membantu anak untuk memahami kosakata yang didapatnya melalui mata saat dia belajar membaca. Read-aloud terdiri dari kata read dan aloud yang berarti membaca dengan nyaring atau keras (Endahwati et al. , 2. Menurut Musyarifah . read-aloud adalah membacakan buku cerita dengan suara yang keras atau nyaring kepada anak yang disertai dengan intonasi yang jelas, pelafalan vokal dan konsonan, irama yang sesuai, dan dengan hati yang tulus serta hangat kepada anak-anak. Metode read-aloud adalah metode yang berfokus pada aktivitas membacakan buku dengan menggunakan alat peraga sehingga dapat membuat anak tertarik pada cerita yang dibacakan (Syahputri & Suminar, 2. Metode read-aloud adalah metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan membacakan buku cerita kepada anak selama 15 menit. Kegiatan ini bertujuan untuk membiasakan mendengar . dan setelahnya anak berani untuk mengeluarkan pendapat . (Latifa et al. , 2. Selain itu, dengan membacakan nyaring kita juga akan menambah kosakata anak, mengondisikan otak si anak untuk menautkan membaca dengan rasa senang, menciptakan informasi yang berfungsi sebagai latar belakang, memperlihatkan tauladan yang suka sekali akan membaca, serta menanamkan kegemaran membaca pada anak (Trelease, 2. Menurut Baiti Latifa dkk . strategi dalam melakukan kegiatan read-aloud agar dapat mengoptimalkan serta menyesuaikan perkembangan bahasa pada anak yaitu dengan cara kita membacakan cerita harus bervariasi baik secara intonasi atau ekspresi, kemudian setelah cerita dibacakan kita dapat meminta anak untuk menanggapi cerita tersebut. Metode Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di PAUD Al-Hassanah Samarinda. (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh pendidik pada suatu kelas melalui beberapa siklus yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi untuk mencapai tujuan tertentu (Abdillah et al. , 2. Adapun jumlah anak didik sebanyak 4 anak, dengan kategori 1 anak perempuan dan 3 anak laki-laki. Penelitian ini dilakukan di bulan November 2023. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 2. July 2024 Meningkatkan Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak melalui Metode Read-Aloud di PAUD Al-Hassanah Samarinda Adapun sumber data ini diperoleh dari data sekunder dan primer. data primer diproleh dari wawancara dan observasi. Sedangkan, sekunder dari literatur seperti buku dan jurnal. Teknik dan alat untuk mengumpulkan data dalam penelitian saat ini ialah berupa checklist, wawancara dan observasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif menggunakan observasi. Penelitian ini direncanakan dilakukan sebanyak II siklus dengan siklus I yaitu 3 pertemuan lalu siklus II dengan 2 pertemuan. Apabila siklus pertama tidak mencapai hasil yang memuaskan maka maka dilakukan siklus kedua dan seterusnya sampai mendapat hasil yang memuaskan. Hasil dan Pembahasan Prasiklus Langkah yang pertama diambil peneliti sebelum meneliti kelas (PTK) penelitian tindakan kelas yaitu melakukan wawancara dan juga mengamati. Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan tersebut ialah mengetahui kemampuan bahasa ekspresif anak di PAUD Al-Hassanah Samarinda. Indikator yang digunakan dalam melakukan pengamatan dan wawancara terdiri dari yaitu kemampuan anak dalam mengungkapkan pendapat tentang cerita yang didengar dan kemampuan anak untuk menceritakan kembali cerita yang didengar dengan kalimat sederhana. Hasil dari kegiatan tersebut dapat dilihat melalui tabel berikut ini: Tabel 1. Prasiklus Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak Nama Nina Gibran Fatih Farel Indikator Anak mampu Menceritakan kembali cerita yang didengar pendapat tentang cerita dengan kalimat sederhana Skor Skor Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Skor Tabel 2. Persentase Data Prasiklus Indikator Anak mampu mengungkapkan pendapat tentang isi cerita Menceritakan kembali cerita yang didengar dengan kalimat sederhana Rata-rata Persentase Keterangan Cukup Baik Cukup Berdasarkan tabel di atas keterangan kategori keberhasilan anak dapat dilihat sebagai Tabel 3. Kategori Keberhasilan Kesesuaian Kriteria 80 Ae 96 % 70 Ae 79 % 60 Ae 69 % 50 Ae 59 % Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Referensi: (Nasirun et al. , 2. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 2. July 2024 Nur Amelia Putri. Hanifah Nasywa Imtiyaz. Ahmad MaAoruf. Isti Dwiarti, & Isnani Menurut tabel di atas dapat disimpulkan bahwasanya kemampuan bahasa ekspresif anak di PAUD Al-Hassanah Samarinda berada pada kategori cukup dengan rata-rata 69 %. Gambar 1. Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak Prasiklus Berdasarkan grafik kemampuan bahasa ekspresif anak prasiklus tampak dari 2 aspek penilaian masih berada pada kategori cukup dengan rata-rata persentase 69 %, oleh karena itu agar terjadi peningkatan kemampuan bahasa ekspresif pada anak. Siklus I Tindakan pada Siklus I dilakukan dalam 3 kali pertemuan. Kegiatan metode readaloud dilakukan melalui tiga tahapan yaitu pengenalan buku, pembacaan buku, dan diskusi setelah membaca. Tabel 4. Langkah Kegiatan Read-aloud Tahap Pengenalan Buku Pembacaan Buku Diskusi setelah Membaca Deskripsi Memperkenalkan judul dan karakter pada buku cerita - Menambahkan 5-10 kata ke kosakata yang merujuk pada gambar, menggunakan gerakan dramatis, atau menambahkan banyak arti. - Menyisipkan komentar yang dapat mengekspresikan perasaan ataupun pikiran karakter. - Mengajukan pertanyaan kritis berdasarkan umpan balik yang diberikan. - Guru mengajukan pertanyaan AumengapaAy untuk - Menggunakan pertanyaan tindak lanjut untuk mendorong tanggapan seperti Auapa yang terjadi jika. Ay - Menggunakan pertanyaan yang merangsang pemikiran - Tunjukkan cara menjawab pertanyaan dengan mengatakan. AuMenurut saya. Ay Sumber: (Syahputri & Suminar, 2. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 2. July 2024 Meningkatkan Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak melalui Metode Read-Aloud di PAUD Al-Hassanah Samarinda Tabel 5. Hasil Observasi Pertemuan Ke-1 Nama Nina Gibran Fatih Farel Persentase Kategori Indikator Menceritakan kembali Anak mampu cerita yang didengar mengungkapkan pendapat dengan kalimat tentang cerita Skor Skor Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Cukup Baik Oc Cukup Berdasarkan tabel diatas, peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak pada pertemuan pertama masih berada pada kategori cukup sehingga harus dilanjutkan pada pertemuan kedua. Tabel 6. Hasil Observasi Pertemuan Ke-2 Nama Nina Gibran Fatih Farel Persentase Kategori Indikator Menceritakan kembali Anak mampu cerita yang didengar mengungkapkan pendapat dengan kalimat tentang cerita Skor Skor Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Sangat Baik Sangat Baik Oc Sangat Baik Tabel 7. Hasil Observasi Pertemuan Ke-3 Nama Nina Indikator Menceritakan kembali Anak mampu cerita yang didengar mengungkapkan pendapat dengan kalimat tentang cerita Skor Skor Oo Oo BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 2. July 2024 Oc Nur Amelia Putri. Hanifah Nasywa Imtiyaz. Ahmad MaAoruf. Isti Dwiarti, & Isnani Oo Oo Oo Oo Oo Oo Gibran Fatih Farel Persentase Kategori Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Tabel 8. Rata-Rata Persentase Data Siklus I Indikator Anak mampu mengungkapkan pendapat tentang isi cerita Menceritakan kembali cerita yang didengar dengan kalimat sederhana Rata-Rata Persentase Keterangan Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Berlandaskan hasil pengamatan siklus I diperoleh data, terjadinya peningkatan yang cukup signifikan terhadap kemampuan bahasa ekspresif anak. Hal ini dapat diketahui dari aspek anak mampu mengungkapkan pendapat tentang isi cerita dengan persentase 63 % pada prasiklus dan mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 84 %, menceritakan kembali cerita yang didengar dengan kalimat sederhana dengan persentase 75 % pada prasiklus dan mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 88 %. Hasil pada siklus I sudah mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan sudah berada pada kategori Sangat Baik. Gambar 2. Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak Siklus 1 Data di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode read-aloud dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Baiti Latifa dkk . bahwasanya penggunaan metode read-aloud bepengaruh pada perkembangan bahasa anak dalam aspek yaitu terjalinnya komunikasi dua arah antara guru dan anak, anak terlibat aktif dalam menyampaikan tanggapan terhadap isi cerita yang dibacakan oleh guru, serta meningkatnya keingintahuan anak terhadap cerita yang dibacakan. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 2. July 2024 Meningkatkan Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak melalui Metode Read-Aloud di PAUD Al-Hassanah Samarinda Selaras dengan Trelease . yang mengungkapkan dengan membaca nyaring atau read-aloud mampu menambahkan kosakata anak. memunculkan keingintahuan anak. menghubungkan membaca dengan rasa bahagia. mengembangkan kemampuan anak dalam mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. menjadikannya sebagai sumber informasi, imajinasi, dan sarana hiburan. serta memperat hubungan orang tua dan anak. Endahwati dkk, . dalam penelitiannya menyatakan bahwa metode pembelajaran read-aloud lebih efektif jika dipadankan dengan metode pembelajaran yang biasa dilakukan guru dalam mengembangkan kemampuan bahasa ekspresif pada anak usia dini. Simpulan Metode read load memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak di PAUD Al-Hassanah Samarinda. Kemampuan bahasa ekspresif anak rata-rata meningkat sebanyak 86 % dengan kategori sangat baik. Metode read-aloud memberikan pengaruh bagi pengembangan bahasa ekspresif anak yaitu dapat terjalinnya komunikasi dua arah antara anak dan guru dan anak ikut serta secara aktif dalam memberikan tanggapan terhadap cerita yang dibacakan. Selain itu, melalui penggunaan metode read-aloud dapat menambah kosakata yang dimiliki anak dan memunculkan keingintahuan anak terhadap cerita yang dibacakan. Melihat banyaknya manfaat dari metode read-aloud ini maka diharapkan metode ini dapat diterapkan setiap harinya sebelum pembelajaran dimulai di sekolah. Referensi