MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 Gambaran Penyebab Kematian Neonatal Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Haulussy Ambon Tahun 2019. Penulis Pertama Magdalena Paunno. Fakultas Kesehatan. Universitas Kristen Indonesia Maluku. lenapaunno04@gmail. Penulis Kedua Ns. Nenny Parinussa. Fakultas kesehatan. Universitas Kristen Indonesia Maluku. parinussanenny@gmail. ABSTRACT Neonatal mortality rates in Indonesia in 2010 were still high at 228 / 100,000 live births. Neonatal deaths can occur due to infection, asphyxia or low birth weight. While the medical records of RSUD Dr. Haulussy Ambon is a referral center Hospital that has PONEK services that the number of neonatal deaths in 2013 was 49 cases out of 2633 live births, in 2014 there were 80 cases of 2483 KH while in 2015 in 6 months (January-Jul. already as many as 51 of 983 births. From the death data obtained in 2015 the causes of neonatal death are: LBW 16. Asphyxia 15. Sepsis / Infection 14. Respiratory Disorders 4. and atresia ani 2. The purpose of this study was to determine the frequency distribution of neonatal deaths and a description of the causes of neonatal death in Dr. M Haulussy Ambon in 2015. The research method is descriptive. The study population was all neonates who died in Dr. M Haulussy Ambon in 2015 recorded a diagnosis of obstetric gynecology specialist in the medical record with a total of 51 neonatal. namely data on the description of birth attendants, referral system, and maternal age less than 20 years with Neonatal death in Dr. Haulussy Ambon 2015. The study population was all neonates who died in Dr. Haulussy Ambon 2015 starting from January to July 2015 recorded in the medical record with a total of 51 neonates. The sampling technique used is total sampling. The sample in this study must meet the following criteria: neonatal and died at the age of 0-28 days and a diagnosis was given from the doctor who was on duty at the time of death. Research Instrument The instrument in this study used a checklist, which records the condition of patients who experienced neonatal death in the documentation data, namely medical records. Data The results of further research data are processed in a univariate manner, carried out by tabulating data which is then arranged in a table. The results showed that neonatal mortality of childbirth assistants by 39 health workers . 47%) neonatal consisted of: midwives 29 . 9%). obstetric gynecology specialist 10 . 6%). dukun 12 . 52%). while due to referral 15 . 41 %%), and mortality due to maternal age <20 years neonatal mortality 5 . Keywords: Neonatal mortality, childbirth assistance, referral, age ABSTRAK ABSTRAK Angka kematian neonatal di Indonesia tahun 2010 masih tinggi yaitu 228/100. kelahiran hidup. Kematian neonatal dapat terjadi karena infeksi, asfiksia ataupun berat badan lahir Sedangkan data rekaman medis RSUD Dr. M Haulussy Ambon merupakan Rumah Sakit pusat rujukan memiliki sarana pelayanan PONEK bahwa jumlah kematian neonatal tetap tahun 2013 sebanyak 49 kasus dari 2633 kelahiran hidup (KH), tahun 2014 berjumlah 80 kasus kematian 2483 KH sedangkan di tahun 2015 pada 6 bulan (Januari-Jul. sudah sebanyak 51 dari 983 kelahiran. Dari data kematian yang diperoleh tahun 2015 penyebab kematian neonatal yaitu: BBLR 16. Asfiksia 15. Sepsis/Infeksi 14. Gangguan Pernapasan 4. dan atresia ani 2. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi frekuensi kematian neonatal dan gambaran penyebab kematian neonatal di RSUD Dr. Haulussy Ambon tahun 2015. Metode penelitian adalah deskriptif. Populasi penelitiaan adalah seluruh neonatal yang meninggal di RSUD Dr. M Haulussy Ambon tahun 2015 yang tercatat diagnose dokter spesialis obstetric ginekologi di rekam medik dengan jumlah 51 neonatal. yaitu data gambaran penolong persalinan, sistem rujukan, dan umur ibu kurang dari 20 tahun dengan kematian Neonatal di Penerbit: Lembaga PenerbitanFakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 RSUD Dr. Haulussy Ambon Tahun 2015. Populasi penelitian adalah semua neonatal yang meninggal di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tahun 2015 terhitung mulai bulan Januari sampai Juli 2015 yang tercatat di rekam medik dengan jumlah 51 neonatal. Teknik pengambilan sampel yang di gunakan adalah total sampling. Sampel dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria yaitu: neonatal dan meninggal pada usia 0-28 hari dan tertera diagnose dari dokter yang bertugas saat kematian. Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini menggunakan checklist, yaitu mendata kondisi pasien yang mengalami kematian neonatal pada data dokumentasi yaitu rekam medis. Data Hasil data penelitian selanjutnya diolah dengan cara univariat, dilakukan dengan cara melakukan tabulasi data yang kemudian disusun dalam table. Hasil penelitian diketahui kematian neonatal penolong persalinan oleh tenaga kesehatan 39 . ,47%) neonatal terdiri dari: bidan 29 . ,9%). dokter spesialis obstetric ginekologi 10 . ,6%). dukun bayi 12 . ,52%). sedangkan karena rujukan 15 . ,41%%), dan kematian karena umur ibu bersalin < 20 tahun kematian neonatal 5 . ,8%) Kata kunci : Kematian Neonatal, penolong persalinan, rujukan, umur PENDAHULUAN Latar Belakang Sebagian besar kematian anak di Indonesia saat ini terjadi pada masa baru lahir . yaitu kematian Bayi Baru Lahir (BBL). Kematian neonatal adalah kematian bayi yang berumur 0 sampai 28 hari ditandai dengan ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Kematian BBL merupakan hambatan utama dalam menurunkan angka kematian bayi Penurunan kematian neonatal berlangsung lambat yaitu dari 32 per 1. kelahiran hidup pada tahun 1990 menjadi 19 per 1. 000 kelahiran hidup, dimana 55,8% dari kematian bayi terjadi pada periode neonatal, sekitar 78,5%-nya terjadi pada umur 0-6 hari. Penyebab kematian neonatal: BBLR sebesar 40,4%. asfiksia 24,6%. 10% karena infeksi. Masalah utama bayi baru lahir pada masa perinatal dapat menyebabkan kematian, kesakitan dan kecacatan. Hal ini merupakan akibat dari kondisi kesehatan ibu yang jelek, perawatan selama kehamilan yang tidak adekuat, penanganan selama persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, serta perawatan neonatal yang tidak adekuat. Kematian neonatal tidak dapat diturunkan secara bermakna tanpa dukungan upaya meningkatkan kesehatan ibu. Sebagian besar kematian neonatal yang terjadi pasca lahir disebabkan oleh penyakit Ae penyakit yang dapat dicegah dan diobati dengan biaya yang tidak mahal, mudah dilakukan, bisa dikerjakan dan efektif. Intervensi imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil menurunkan kematian neonatal hingga 33-58%. Intervensi post natal terhadap peningkatan ketrampilan resusitasi bayi baru lahir dapat menurunkan kematian neonatal hingga 6-42%. Salah satu faktor penting dalam upaya penurunan angka kematian tersebut yaitu penyediaan pelayanan kesehatan neonatal yang berkualitas baik terhadap masyarakat, tetapi sekarang belum dapat terlaksana dengan baik. Untuk itu pemerintah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS), yang pada dasarnya menekankan pada penyediaan pelayanan kesehatan neonatal yang costeffective, yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, penanganan komplikasi obstetri dan neonatal. Diperkirakan sekitar 15% dari bayi lahir hidup akan mengalami komplikasi. Selain faktor penolong dan rujukan ada juga faktor umur ibu kurang dari 20 tahun secara fisik alat reproduksinya belum matang untuk menerima Penerbit: Lembaga PenerbitanFakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 hasil konsepsi dan dari segi psikis seorang wanita belum cukup dewasa untuk menjadi seorang ibu. Kematian Neonatal di Provinsi Maluku sejak tahun 2012 sampai 2015 tetap tinggi yaitu data tahun 2012 sebanyak 246, tahun 2013 sebanyak 211, tahun 2014 sebanyak 187. Sedangkan data rekaman medis RSUD Dr. M Haulussy Ambon merupakan Rumah Sakit pusat rujukan memiliki sarana pelayanan PONEK bahwa jumlah kematian neonatal tetap tinggi dimana tahun 2013 sebanyak 49 kasus dari 2633 kelahiran, tahun 2014 berjumlah 80 kasus kematian 2483 kelahiran sedang kan di tahun 2015 yang baru 6 bulan (Januari-Jul. sudah sebanyak 51 dari 983 kelahiran. Dari data kematian yang diperoleh tahun 2015 penyebab kematian neonatal yaitu: BBLR 16. Asfiksia 15. Sepsis/Infeksi 14. Gangguan Pernapasan 4. dan atresia ani 2 Klasifikasi Kematian Neonatal: . Kematian neonatal dini Yaitu kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup dalam waktu 7 hari setelah lahir. Kematian neonatal lanjut Yaitu kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup setelah 7 hari, atau sebelum 28 hari Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian neonatal yaitu: . Infeksi Infeksi adalah terkena hama, kemasukan bibit penyakit, atau peradangan, serta pengembangan parasit dalam tubuh. Beberapa tanda dan gejala infeksi yaitu Malas minum, gelisah, frekuensi pernapasan meningkat, berat badan tiba-tiba turun, pergerakan kurang, diare, selain itu dapat terjadi edema, purpura, ikterus, hepatospleno megalia dan kejang, serta pada bayi BBLR seringkali terjadi hipotermia dan sklerema. Asfiksia Asfiksia adalah perubahan patologis yang disebabkan oleh kekurangan oksigen dalam udara pernapasan yang mengakibatkan hipoksia dan Asfiksia berarti hipoksia yang progresif akibat penimbunan CO2 dan Bila proses ini berlangsung terlalu jauh maka dapat mengakibatkan kerusakan pada otak dan kematian. Asfiksia juga bisa mempengaruhi fungsi organ . BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya 2500 gram atau kurang. Menurut WHO BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram. Bayi lahir dengan BBLR memiliki kemungkinan untuk meninggal selama masa neonatal sebanyak 20-30 kali lebih besar dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat cukup Berdasarkan data tersebut di atas maka rumusan masalah penelitian adalah AuBagaimana Gambaran Kematian Neonatal Di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tahun 2015Ay. Dalam penelitian ini akan di teliti tentang: bagaimana gambaran penolong persalinan dengan kematian Neonatal di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tahun 2015 ?. bagaimana gambaran kematian Neonatal di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tahun 2015 ?. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana gambaran umur ibu kurang dari 20 tahun, penolong persalinan dan sistim rujukan dengan kematian Neonatal di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tahun 2015? Manfaat penelitian memberikan pengetahuan dan kepedulian kepada penanggung jawab, pengelolah, pelaksana upaya kesehatan ibu dan anak serta peneliti sebagai pendidik tentang bagaimana gambaran kematian neonatal dari faktor penyebab. METODE Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Kesimpulan yang diberikan selalu jelas dasar faktualnya sehingga semuanya selalu dapat dikembalikan langsung pada data yang diperoleh. Data gambaran penolong persalinan, sistem rujukan, dan umur ibu kurang dari 20 tahun dengan kematian Penerbit: Lembaga PenerbitanFakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 Neonatal di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tahun 2015. Populasi penelitian adalah semua neonatal yang meninggal di RSUD Dr. Haulussy Ambon Tahun 2015 terhitung mulai bulan Januari sampai Juli 2015 yang tercatat di rekam medik dengan jumlah 51 neonatal. Teknik pengambilan sampel yang di gunakan adalah total Sampel dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria yaitu: neonatal dan meninggal pada usia 0-28 hari dan tertera diagnose dari dokter yang bertugas saat Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini menggunakan checklist, yaitu mendata kondisi pasien yang mengalami kematian neonatal pada data dokumentasi yaitu rekam medis. Data Hasil data penelitian selanjutnya diolah dengan cara univariat, dilakukan dengan cara melakukan tabulasi data yang kemudian disusun dalam tabel HASIL Karakteristik responden Tabel 1 Distribusi Karakteristik Umur Responden Umur Neonatal 6-48 jam 3-7 hari 8-28 hari Total Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa lebih banyak umur neonatal kematian pada umur 6-48 jam yaitu 24 . ,1%) disbanding umur neonatal 8 sampai 28 hari yaitu 18 . ,3%). Sedangkan umur neonatal 3 sampai 7 hari 9 neonatal . Tabel 2 Distribusi Karakteristik Penolong Persalinan Penolong Persalinan Dokter SpOG Bidan Dukun Bayi Total Tabel 2 menunjukan bahwa lebih banyak neonatal kematian yang persalinan ditolong oleh tenaga bidan yaitu 29 . ,9%), namun masih banyak persalinan ditolong dukun yaitu 12 . ,5%) sedangkan lebih sedikit perlasinan ditolong oleh dokter spesialis obstetri dan gynekologi 10 . ,6%). Penerbit: Lembaga PenerbitanFakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 Tabel 3 Distribusi Karakteristik Tempat Persalinan Tempat Persalinan Rumah Sakit Puskesmas Rumah Responden Total Tabel 3 menunjukan bahwa lebih banyak kematian neonatal yang persalinan terjadi di rumah sakit yaitu sebanyak 36 . ,6%), namun masih tergolong tinggi bahwa kematian neonatal persalinan di rumah responden sebanyak 14 . ,5%) responden dibandingkan dengan pemilihan tempat persalinan di Puskesmas yaitu 1 . ,0%) Analisis univariate faktor pengebab kematian neonatal Tabel 4 Faktor Penyebab Kematian Neonatal Berdasarkan Sistem Rujukan Sistem Rujukan Pasien Rujukan Pasien Bukan Rujukan Total Tabel 5 menunjukan bahwa lebih banyak kematian neonatal bukan rujukan yaitu 36 ,6%), dibandingkan dengan pasien rujukan yaitu 15 neonatal . ,4%) Tabel 6 Faktor Rujukan Berdasarkan Penyebab Kematian Neonatal Penyebab Rujukan Sepsis Asfiksia BBLR Gangguan napas Atresia ani Total Tabel 6 menunjukan bahwa jumlah kematian neonatal yang dirujuk 15 dengan penyebab terbanyak sepsis 6 . %) diikuti asfiksia 4 . ,6%) dan BBLR 3. %), sedangkan gangguan napas dan atresia ani masing-masing 1 neonatal. ,6%). Penerbit: Lembaga PenerbitanFakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 Tabel 7 Faktor Penyebab Kematian Neonatal Penyebab Kematian BBLR Asfiksia Sepsis Gangguan Napas Atresia ani Total Tabel 7 menunjukan bahwa kematian neonatal terbanyak dengan penyebab BBLR yaitu 16 neonatal . ,4%), jika dibandingkan dengan kematian neonatal dengan atresia ani yaitu 2 neonatal . ,9%). Tabel 8 Faktor Pengebab Kematian Neonatal Berdasar Umur Ibu Kelompok Umur Ibu < 20 tahun Ou 20 tahun Total Tabel 8menunjukan bahwa lebih banyak kelompok umur ibu lebih dari 20 tahun yaitu 46 orang . ,2%) bila dibandingkan dengan kelompok umur ibu kurang dari 20 tahun yaitu 5 orang . ,8%). Tabel 9 Faktor Penyebab Kematian Neonatal Dengan BBLR Berdasar Penolong Persalinan Penolong Persalinan Dokter SpOG Bidan Dukun bayi Total Tabel 9 menunjukan bahwa kematian neonatal dengan BBLR yang ditolong oleh tenaga bidan lebih banyak yaitu 9 neonatal . ,2%) bila dibandingkan dengan persalinan yang ditolong oleh dukun bayi yaitu 3 neonatal . ,7%). Penerbit: Lembaga PenerbitanFakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 Tabel 10 Faktor Penyebab Kematian Neonatal Dengan Asfiksia Berdasar Penolong Persalinan Penolong Persalinan Dokter SpOG Bidan Dukun bayi Total Tabel 10 menunjukan bahwa kematian neonatal dengan Asfiksia yang ditolong oleh tenaga bidan lebih banyak yaitu 11 neonatal . ,3%) bila dibandingkan dengan persalinan yang ditolong oleh dukun bayi yaitu 3 neonatal . %). Tabel 11 Faktor Penyebab Kematian Neonatal Dengan Sepsis Berdasar Penolong Persalinan Penolong Persalinan Dokter SpOG Bidan Dukun bayi Total Tabel 11 menunjukan bahwa kematian neonatal dengan Sepsis yang ditolong oleh tenaga bidan dan dukun bayi berimbang yaitu 5 neonatal . ,7%) bila dibandingkan dengan persalinan yang ditolong oleh tenaga dokter SpOG yaitu 4 neonatal . ,5%) PEMBAHASAN Kematian neonatal adalah kematian bayi yang berumur 0 sampai 28 hari ditandai dengan ketiadaan nyawa dalam organisme biologis (Cunningham 2. Sebagian besar kematian anak di Indonesia saat ini terjadi pada masa baru lahir . yaitu kematian Bayi Baru Lahir (BBL). Dalam penelitian ini sangat tinggi kematian neonatal di umur 6-48 jam . eonatal din. disbanding neonatal lanjut. Sarimawar dan Soeharsono . mengemukakan bahwa setiap tahun diperkirakan delapan juta Neonatal lahir mati atau meninggal pada bulan pertama dari kehidupannya. Sebagian besar dari kematian ini terjadi di Negara berkembang. Angka kematian neonatal di Indonesia pada tahun 2001 adalah 25 per 1000 kelahiran hidup (Mansjoer, et al. Angka kematian sesuai data (BPS and ICF International, 2. ternyata tidak terlalu kuat menekan angka kematian bayi sejak tahun 2005. Hal ini bisa disebabakan karena AKN menyumbang 19 per 1. 000 kelahiran hidup sehingga AKB tetap tinggi sebesar 32 per 1. 000 kelahiran hidup. Agar dapat menurunan AKB maka perlu memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan sejak bayi dalam kandungan, saat lahir hingga masa neonatal melalui peran bidan sejak pelayanan antenatal care masa kehamilan dan persalinan (Depkes RI, 2. Karena diperkirakan sekitar 15% dari bayi lahir hidup akan mengalami komplikasi untuk itu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan Penerbit: Lembaga PenerbitanFakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 diantaranya tenaga bidan merupakan salah satu strategi dalam mengurangi masalah kesehatan ibu dan anak. Walaupun jika persalinan di fasilitas kesehatan dan di tolong oleh tenaga kesehatan masih ditemukan kejadiaan kematiaan BBL, hal ini terjadi bisa karena faktor ibu sebagai penyebab tidak langsung seperti keadaan 4 terlalu . jarak dekat. dan keadaan 3 terlambat yaitu terlambat mengenal: tanda bahaya. mengambil keputusan. terlambat ditolong. Sangat terkait dengan tindakan rujukan yang terlambat sehingga walau tiba di fasilitas pelayanan kesehatan namun telat memperoleh pelayanan. Kematian neonatal diperparah dengan keadaan penyebab langsung berhubungan dengan komplikasi saat bayi baru lahir yaitu: BBLR. Melalui intervensi dini saat perawatan selama hamil atau antenatal care serta perawatan segera bayi baru lahir dapat menurunkan kematian neonatal hingga 33-58%. Berdasarkan data penelitian daiperoleh kematian neonatal karena sepsis juga tinggi baik ditolong tenaga kesehatan maupun dukun. Infeksi terbanyak pada masa kuman masuk ke tubuh janin melalui peredaran darah ibu ke plasenta dan selanjutnya infeksi melalui serkulasi umbilikalis masuk ke janin. Infeksi intranatal lebih sering terjadi dengan cara kuman dari vagina naik dan masuk kedalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Pecah ketuban lebih dari 12 jam akan menjadi penyebab timbulnya plasentitis dan amnionitis. Infeksi dapat terjadi walaupun ketuban masih Janin terkena infeksi karena inhalasi likuor yang septic sehingga terjadi pneumonia congentinal atau karena kuman memasuki peredaran darahnya dan menyebabkan seplikerta. Infeksi intranatal dapat juga terjadi dengan jalan kontak langsung dengan kuman yang terdapat dalam vagina misalnya blennorhoe. Sedangkan infeksi terjadi akibat penggunaan alatalat perawatan yang tidak steril, tindakan yang tidak antiseptik, atau dapat juga terjadi akibat infeksi silang, misalnya tetanus neonatorum, omfalitis, dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian kematian neonatal akibat asfiksia diketahuai banyak pada bayi BBLR. AsAksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur dalam 1 menit setelah lahir. Biasanya terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu dengan kelahiran kurang bulan (<34mingg. , dan kelahiran lewat Distribusi berat badan neonatal lahir menunjukkan terdapat persentase yang tinggi terhadap kejadian BBLR. BBLR ialah neonatal yang lahirnya dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada saat lahir mengemukakan bahwa masalah yang muncul pada Neonatal BBLR meliputi asfiksia, gangguan nafas, hipotermia, hipoglikemi, masalah pendarahan, dan rentan terhadap pemberian ASI. Hasil penelitian Hoque . yang meneliti Role Of Zinc In Low Birth Weight Neonatal. Berdasarkan hasil penelitiannya adalah insiden tertinggi BBLR merupakan penyebab utama kematian bayi dan morbiditas. itu adalah hipotesis bahwa BBLR neonatus adalah seng kekurangan dan bahwa mungkin mempengaruhi pertumbuhan postnatal. KESIMPULAN Sebagian besar kematian neonatal hamper setengah saat umur peonatal dini . jam sampai 48 ja. Lebih tinggi kematian neonatal dengan BBLR dan tidak berbeda jauh dengan kematian akibat asfiksia dan sepsis walaupun lebih dari setengah kelahiran di tolong tenaga kesehatan bidan namun masih ada bidan yang menolong persalinan di Penerbit: Lembaga PenerbitanFakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 rumah responden. Sebagian besar kematian neonatal dapat dicegah melalui menekan kejadian empat terlalu seperti umur ibu terlalu muda, tiga terlambat agar bias dicegah melalui intervensi masa kehamilan komprehensif, kontinyu sampai persalinan serta perawatan segera bayi setelah lahir dengan upaya-upaya aseptik dengan tidak terlambat mengambil keputusan rujukan jika diperlukan. Bagi petugas pelaksana pelayanan kesehatan neonatal di RSUD M. Haulussy Ambon hendaknya lebih memperhatikan proses persalinan dan perawatan segera setelah bayi lahir, berikan penanganan yang adekuat dengan tindakan aseptic untuk cegah infeksi terutama bagi neonatal BBLR dan asfiksia. Bagi ibu hamil dan melahirkan hendaknya melakukan perawatan selama kehamilan, sehingga perkembangan janin dalam rahim dapat dipantau dan antisipas terhadap kemungkinan terjadinya penyulit pada kehami dan atau persalinan dapat ditekan. Bagi Peneliti berikutnya lakukan penelitian dengan metode seperti kohor prosfektif dengan jumlah sampel yang lebih besar dan wilayah penelitian yang luas. Hal ini bertujuan agar gambaran penyebab kematian neonatal dapat digambarkan dengan lebih jelas. REFERENSI