jurnal eta kimia e-ISSN: 2807-7938 . dan p-ISSN: 2807-7962 . Volume 4. Nomor 1. Mei 2024 http://ejurnal. id/index. php/jbk Sintesis Kompleks[Fe(Htr. ]X dari [Fe(Htr. ]BF4 dengan X= PF6- dan B(C6H. 4(Synthesis of Complex [Fe(Htr. ]X from [Fe(Htr. ]BF4 with X= PF6and B(C6H. 4-) Maria Novansia Apolonia*. Djulia Onggo2. Dorthea Maria Woga Nay3. Mesakh T. W Boikh4. Evanisia More5 1 ,2 Institut Teknologi Bandung. Jalan Ganesha. Kota Bandung. Jawa Barat. Indonesia Program Studi Pendidikan Kimia. Universitas Nusa Cendana. Indonesia Universitas Citra Bangsa. Kupang. Indonesia *e-mail korespondensi: marianova384@gmail. Info Artikel: Dikirim: 9 April 2024 Revisi: 23 April 2024 Diterima: 24 April 2024 Kata Kunci: Kompleks Fe(II), anion tetrafluoroborat, anion heksafluorofosfat, anion tetrafenilborat, triazol Keywords: Fe(II) Complex, tetrafluoroborate anion, anion, tetrafenylborate anion, triazole. Lisensi: Attribution-Share Alike 4. International (CC-BY-SA Abstrak- Senyawa spin crossover merupakan senyawa unik yang menjadi pusat perhatian untuk diteliti beberapa tahun terakhir. Sifat peralihan menjadikan senyawa tersebut digunakan untuk aplikasi praktis dalam sensor termal dan tekanan serta perangkat optik. Pada penelitian ini, kompleks [Fe(Htr. ]BF4, [Fe(Htr. ]PF6 dan [Fe(Htr. ]B(C6H. telah berhasil disintesis. Kompleks [Fe(Htr. ] BF4 berwarna ungu pada suhu kamar menunjukkan keadaan spin rendah . , bila dipanaskan kompleks ini berubah menjadi warna putih . Kompleks [Fe(Htr. ]PF6 dan [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 masing-masing disintesis dengan menambahkan garam alkali KPF6 dan NaB(C6H. 4 berlebih ke Fe(BF. 6H2O dan Htrz sebelum terbentuknya endapan, sehingga anion PF 6- dan B(C6H. 4- dapat mendorong BF4keluar dari kompleks [Fe(Htr. ]BF4. Kompleks [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 berwarna ungu . pada suhu kamar dan bila dipanaskan hingga suhu lebih dari 100 AC berubah menjadi putih . Sedangkan kompleks [Fe(Htr. ]PF6 berwarna putih . pada suhu kamar, ketika didinginkan hingga di bawah suhu nol derajat kompleks ini berubah warna menjadi ungu . Data karakterisasi EDS mendukung hasil percobaan dimana anion PF 6- dan B(C6H. 4- berhasil menggantikan anion BF4- sehingga sesuai rumus kimia kompleksnya adalah [Fe(Htr. ]PF6 dan [Fe(Htr. ](C6H. Abstract- Spin crossover compounds are unique compounds that become the focus of research attention in recent years. The transition characteristic make the compound useful for thermal and pressure sensors applicatios and optical devices. In this research, the complex of [Fe(Htr. ]BF4, [Fe(Htr. ]PF6 and [Fe(Htr. ]B(C6H. have been successfully synthesized. The [Fe(Htr. ]BF4 complex is purple at room temperature shows a low spin state . and this complex changes to white . when heated. The complex of [Fe(Htr. ]PF6 and [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 were respectively synthesized by adding excess KPF6 and NaB(C6H. 4 alkali salts to Fe(BF. 6H2O and Htrz before precipitate form, so the PF6- and B(C6H. 4- anions can push BF4- out of the [Fe(Htr. ]BF4 The [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 complex is purple . at room temperature and when heated to a temperature more than 100 AC it turns white . While the [Fe(Htr. ]PF6 complex is white . at room temperature, when cooled to below zero degrees this complex changes to purple . The EDS results validate the experimental observations, indicating the successful replacement of the BF4- ion by PF6- and B(C6H. - anions. Consequently, the resulting complex chemical formulas were determined as [Fe(Htr. ]PF6 and [Fe(Htr. ](C6H. 4 PENDAHULUAN Senyawa kompleks besi(II) dengan ligan turunan triazol paling banyak dipelajari karena menunjukkan keunikan dimana pada medan ligan oktahedral, senyawa mempunyai dua kestabilan, yaitu spin rendah (LS) dan spin tinggi (HS). Kedua keadaan stabil tersebut dapat berubah secara reversibel tergantung pada pengaruh eksternal seperti suhu, radiasi dan tekanan . Ketika besi(II) berikatan dengan ligan membentuk kompleks oktahedral, maka orbital d dari Halaman | 38 Jurnal eta Kimia. Vol. No. Mei . Hal. : https://doi. org/10. 35508/jbk. ion besi tersebut terbelah menjadi dua keadaan dasar yaitu eg dan t2g. Keadaan dasar eg terdiri dari orbital dx2 Ae y2 dan dz2, sementara t2g terdiri dari dxy, dxz, dan dyz. Perbedaan tingkat energy antara dua keadaan dasar tersebut dinyatakan dengan 10 Dq atau i0. Ligan yang dapat membuat semua elektron di orbital d berpasangan dengan besi(II) disebut ligan dengan medan kuat . trong fiel. dan kompleks yang dihasilkan berada dalam keadaan Low Spin (LS) sehingga kompleks bersifat diamagnetik. Sebaliknya, jika 10Dq jauh lebih kecil dari P, maka elektron-elektron akan mengisi kelima orbital d tanpa berpasangan terlebih dahulu. Ketika berpasangan dengan besi(II), kompleks yang diperoleh adalah kompleks oktahedral dengan ligan medan lemah . eak fiel. dan membentuk keadaan High Spin (HS) sehingga kompleks bersifat paramagnetik . Hal yang menarik dari penelitian ini adalah perubahan transisi putaran dapat diamati pada suhu dan tekanan ruangan melalui perubahan warna kompleks yang kontras. Fenomena ini dikenal dengan Spin Crossover (SCO) . Secara visual perubahan keadaan ditandai dengan perubahan warna dari ungu menjadi putih atau sebaliknya. Karakteristik tersebut menjadikan senyawa kompleks tersebut sangat potensial untuk diterapkan sebagai saklar molekuler dan sensor . Selain digunakan sebagai material sensor dan saklar molekular, senyawa kompleks dengan karakteristik TS dapat digunakan sebagai material penyimpanan data . Kompleks yang dapat digunakan sebagai penyimpanan data harus memiliki pola transisi spin serentak yang disertai sifat histeresis. Sifat histeresis adalah sifat yang dimiliki senyawa dengan perubahan transisi pada suhu yang berbeda. Semakin lebar perbedaan suhu transisi naik (Tc I. dan suhu transisi turun (Tc I. maka semakin baik senyawa kompleks tersebut berfungsi sebagai material penyimpan data. Perubahan keadaan spin yang diinduksi secara termal pertama kali dilaporkan sekitar delapan puluh tahun yang lalu dengan memvariasikan subtituen ligan dithiocarbamato dalam kompleks besi. Dari pengukuran kerentanan magnetik ditemukan bahwa beberapa sampel menunjukkan sifat magnetik sesuai dengan lima elektron tidak berpasangan . pin tinggi. HS) dan pada substituen yang berbeda menunjukkan sifat magnetik hanya satu elektron tidak berpasangan . pin rendah. LS) . Selain kompleks besi. , penelitian SCO terhadap kompleks Fe (II) juga banyak dilakukan. Salah satunya adalah pembuatan kompleks besi(II) dengan ligan 1,2,4-4H-triazol dan turunannya. Secara umum kompleks Fe(II) dengan ligan 1,2,4-4H-triazol berwarna ungu pada suhu kamar . dan berwarna putih jika suhu dinaikkan . Perkembangan penelitian kompleks besi(II) dengan ligan 1,2,4-4H-triazol dan turunannya semakin dibuktikan dengan salah satu percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan matriks silika . Proses pembuatan matriks dengan menggunakan teknik sol-gel. Menariknya, terjadi perubahan warna yang kontras pada matriks silika dari putih menjadi merah muda ketika dimasukkan ke dalam larutan [Fe(Htr. ](BF. Percobaan berikutnya adalah dengan menggunakan biopolimer nata de coco, menunjukkan bahwa Selulosa Bakteri dari biopolimer tersebut dapat bertindak sebagai reaktor mikro . Reaktor mikro menghasilkan kompleks berskala nano dalam bentuk film tipis sehingga pemanfaatannya lebih bervariasi dalam bidang elektronika . Perbedaan anion tentunya mempengaruhi morfologi kompleks, suhu transisi, sifat magnetik, dan perubahan warna. Kompleks besi(II) dengan ligan Htrz dan anion tetrafluoroborik pada suhu kamar berwarna merah muda dan diamagnetik tetapi dengan anion heksafluorofosfat di dalamnya berwarna putih dan bersifat paramagnetik . Suhu TS yang diperoleh pada kompleks [Fe(Htr. ]BF4 adalah Tc Ic = 385 K dan Tc Ie= 351 K dengan selisih 34 K dan Tc Ic= 371 K dan Tc Ie = 341 K dengan selisih 30 K, untuk kompleks [Fe(Htr. ]ClO4. n H2O adalah Tc Ic= 360 K dan Tc Ie= 339 K dengan selisih 21 K, serta untuk kompleks [Fe(Htr. ]PF6. n H2O adalah Tc Ic = 249-287 K dan Tc Ie = 242-269 K . Berdasarkan pengukuran sifat magnetik kompleks [Fe(Htr. ] dengan anion PF6-. ClO4- dan BF4- diperoleh bahwa pola transisi serentak dan Hal serupa juga terjadi pada sintesis kompleks Fe(NH 2-tr. 3Br2 yang bersifat Halaman | 39 Maria Novansia, dkk: Sintesis Kompleks. diamagnetik pada suhu kamar, warna ungu dan suhu transisi 312 K . Sintesis kompleks Fe(NH2-tr. 3Cl2 juga bersifat diamagnetik pada suhu kamar, ungu,dan suhu transisinya adalah 355 K. Sedangkan pada kompleks Fe(NH2-tr. 3I2 K pada suhu kamar bersifat paramagnetik dan berwarna putih, suhu transisi 280 K . Penelitian-penelitian sebelumnya hanya sebatas mensintensis kompleks dengan beberapa anion tapi tidak melakukan pengujian terhadap pertukaran anion dalam senyawa kompleks besi(II) sehingga pada penelitian ini akan disintesis besi(II) 1,2,4-4H-triazol dengan menggunakan anion BF4- sebagai anion utama, kemudian anion tersebut akan digantikan oleh anion PF6- dan B(C6H. 4- serta diamati bagaimana pengaruh ketiga anion pada sifat magnetik, perubahan warna dan suhu. Latar belakang pemilihan anion tersebut adalah berdasarkan massa atom relatifnya, dimana Mr BF4- lebih kecil dari Mr PF6- dan Mr B(C6H. 4- sehingga kemungkinan kedua anion tersebut akan mendorong anion BF4- keluar dari kompleks besi(II) dan membentuk senyawa kompleks yang baru. METODE PENELITIAN Bahan kimia Besi(II) Tetrafluoroborat Heksahidrat 97% (Sigma-Aldric. ue Rumus Kimia : Fe(BF. 6H2O ue Warna : Putih Kristal ue Berat Molekul : 337,55 gr/mol ue Fungsi : Sumber besi(II) Htrz (Sigma-Aldric. ue Rumus Kimia : 1,2,4-4H-triazole (C2H3N. ue Warna : Putih sebuk ue Berat Molekul : 69 grm/mol ue Fungsi : Sumber Ligan Asam Askorbat (Sigma-Aldric. ue Rumus Kimia : C6H8O6 ue Warna : Putih kristal dan mudah larut dalam air ue Berat Molekul : 176 gr/mol ue Fungsi : Mencegah besi(II) teroksidasi menjadi besi. Garam Alkali Kalium HeksaFluorofosfat (Sigma-Aldric. ue Rumus Kimia : KPF6 ue Warna : Serbuk Putih ue Berat Molekul : 184,06 gr/mol ue Fungsi : Sumber anion PF65. Garam Alkali Natrium Tetrafenilborat (Sigma-Aldric. ue Rumus Kimia : NaB(C6H. 4 ue Warna : Putih Kristal ue Berat Molekul : 342,21 gr/mol ue Fungsi : Sumber anion B(C6H. 4- Persiapan Kompleks Prosedur awal sintesis kompleks [Fe(Htr. ]BF4 adalah 0,46 g Fe(BF. 6H2O dilarutkan dalam air 2 mL. Kemudian ditambahkan larutan ligan Htrz . igan 0,4 g dilarutkan dalam 2 mL metano. secara perlahan menggunakan pipet tetes disertai kecepatan pengadukan 1000 rpm selama 45 menit. Setelah itu warna larutan berubah menjadi ungu disertai terbentuknya endapan. Endapannya disaring dan dicuci dengan 3 mL aquades sebanyak 5 kali dan didiamkan pada suhu Halaman | 40 Jurnal eta Kimia. Vol. No. Mei . Hal. : https://doi. org/10. 35508/jbk. Setelah dikeringkan, endapannya berupa serbuk berwarna ungu dan disimpan dalam desikator yang berisi silika gel sebagai pengering. Prosedur sintesis kompleks Fe(Htr. ]PF6 dan [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 sama seperti di atas, namun sebelum larutan berubah warna ditambahkan KPF6 0,5 g dan NaB(C6H. 1 g yang telah dilarutkan dalam 2 mL air. Karakterisasi Pada tahapan analisa sintesis dilakukan Scanning Electronic Microscope (SEM) dan Energy Dispersive Spectroskopi (EDS) tipe JEOL-JSM-6510LV. Spektroskopi Inframerah (IR) tipe Bruker Alpha. Magnetic Susceptibility Balance (MSB) dan Thermogravimetric Analysis (TGA) tipe STA 4000 Selain itu, pada tahap ini juga dilakukan pengujian efek termokromik dari kompleks sintesis. Dalam pengujian efek termokromik digunakan beberapa alat seperti gelas kimia 100 mL, statif dan klem, hot plate, ampul, styrofoam, termometer 4000 0C dan kamera HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Mikroskop Elektronik (SEM) dan Spektroskopi Dispersif Energi (EDS) Kompleks [Fe(Htr. BF4 . , [Fe(Htr. B(C6H. dan [Fe(Htr. PF6 . telah berhasil disintesis. Senyawa kompleks ini mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, misalnya warna serbuk. Kompleks [Fe(Htr. BF4 memiliki warna ungu yang mirip dengan kompleks [Fe(Htr. B(C6H. 4 (Gambar 1 dan . , sedangkan kompleks [Fe(Htr. PF6 (Gambar . memiliki warna yang berbeda yaitu putih. Perbedaan warna ini disebabkan oleh sifat kemagnetan masing-masing kompleks. Morfologi permukaan kompleks [Fe(Htr. BF4 berbentuk balok dan tumpang tindih dengan ukuran rata-rata 0,86 m (Gambar . Dibandingkan dengan kompleks [Fe(Htr. BF4, ukuran morfologi kompleks [Fe(Htr. B(C6H. 4 lebih kecil yaitu sekitar 0,24 m dan partikel kompleks berbentuk balok (Gambar . Kompleks [Fe(Htr. PF6 memiliki ukuran rata-rata 0,58 m dan tampak seperti batangan kecil (Gambar . Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa ukuran dan morfologi kompleksnya sangat bervariasi. Hal ini disebabkan karena berbagai jenis anion yang digunakan. Rumus kimia ketiga kompleks ditentukan berdasarkan data analisis EDS pada Tabel 1. Rumus kimia menunjukkan salah satu ligan Htrz mengalami deprotonasi. Terjadinya deprotonasi dari salah satu ligan triazol menyebabkan kation kompleks bermuatan 1 karena tersedia anion tetrafluoroborat, tetrafenilborat, dan heksafluorofosfat bermuatan -1. Jika data EDS kedua kompleks dibandingkan, terlihat bahwa perbandingan Fe:F pada kompleks [Fe(Htr. PF6 adalah 1:11 sedangkan pada kompleks [Fe(Htr. BF4 perbandingan Fe:F adalah 1:7. Perbandingan atom F pada kompleks [Fe(Htr. BF4 dan [Fe(Htr. B(C6H. 4 adalah 3 : 1. Hal ini membuktikan perbandingan atom F terhadap rumus kimia kedua kompleks menurut analisis data EDS. Hal yang sama juga terlihat pada kompleks [Fe(Htr. B(C6H. 4 adalah, dimana perbandingan atom Fe:C adalah 1:10 agar sesuai dengan rumus kompleks yang dihasilkan. Selain itu, persentase F dalam kompleks yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan atom lainnya menunjukkan bahwa atom F berhasil digantikan oleh anion PF6- dan B(C6H. Halaman | 41 Maria Novansia, dkk: Sintesis Kompleks. Gambar 1. Tampilan Serbuk Kompleks [Fe(Htr. ]BF4 Gambar 2 Tampilan Serbuk Kompleks [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 Gambar 3 Tampilan Serbuk Kompleks [Fe(Htr. ]PF6 Gambar 4. Morfologi permukaan[Fe(Htr. ]BF4 Gambar 5. Morfologi permukaan[Fe(Htr. ]B(C6H. 4 Gambar 6. Morfologi permukaan[Fe(Htr. ] PF6 Tabel 1. Presentasi Unsur-Unsur dalam Setiap Kompleks Halaman | 42 Jurnal eta Kimia. Vol. No. Mei . Hal. Elemen Atom % [Fe(Htr. ]BF4 Atom % [Fe(Htr. ]BF4 Elemen : https://doi. org/10. 35508/jbk. Atom % [Fe(Htr. ] B(C6H. 4 93,60 Atom% [Fe(Htr. ]PF6 Spektroskopi Inframerah Gambar 8. a menunjukkan spektrum ligan Htrz yang terdiri dari ikatan NH. CH, dan C = N yang mempunyai energi vibrasi sebesar 3133 cm-1, 3024 cm-1 dan 1632 cm-1. Sedangkan pada kompleks, ikatan antar atom berada pada energi vibrasi 3184 cm-1, 3018 cm-1, dan 1615 cm-1. Ikatan tersebut sesuai dengan ikatan pada ligan Htrz seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7. Pada spektrum kompleks terjadi sedikit pergeseran bilangan gelombang karena energi ikatan pada kompleks lebih besar. Ligan Htrz yang diamati pada spektrum prekursor awal masih dapat dilihat di kompleks. Pada spektrum Fe(BF. 6H2O terlihat adanya serapan BF dan O-H yang muncul pada 1109 cm-1 dan 3547 cm-1 . Ikatan OH berikatan dengan hidrogen membentuk H2O seperti yang ditunjukkan pada rumus kimia. Pada spektrum kompleks juga terdapat serapan BF yang kuat pada 1054 cm-1 karena telah berkoordinasi dengan kompleks sehingga bilangan gelombangnya sedikit bergeser. Kompleks tidak mengandung air ditandai dengan tidak adanya ikatan OH. Koordinasi antara atom donor Fe(II) dan Nitrogen terlihat pada serapan kuat pada 521 cm-1. Hal ini menunjukkan bahwa atom Fe(II) terikat pada ligan Htrz melalui atom nitrogen sebagai atom donor. Hal yang sama juga terjadi pada spektrum pada Gambar 8. b dan 8. c dan serupa dengan spektrum sebelumnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa gugus fungsi yang terlihat pada spektrum IR sesuai dengan gugus fungsi yang diharapkan yang terdapat pada kompleks. Gambar 7. Struktur Ligan 1,2,4-4H-triazol (C2H3N. Halaman | 43 Maria Novansia, dkk: Sintesis Kompleks. Gambar 8. Spektrum IR . ) Fe(Htr. BF4, . ) [Fe(Htr. B(C6H. 4 , . [Fe(Htr. 2( tr. PF6 Neraca Kerentanan Magnetik (MSB) Percobaan suseptibilitas magnet menghasilkan suhu ruang kompleks Fe(Htr. BF4 dan [Fe(Htr. B(C6H. 4 pada spin rendah dan diamagnetik sebesar 1,73 BM. Nilai ini sedikit lebih besar dari nilai momen magnet yang sama dengan nol. Pada penelitian sebelumnya . juga menunjukkan nilai serupa dengan 1,73 BM. Hal ini dikarenakan kedua senyawa kompleks tersebut masih mengandung residu spin yang tinggi atau paramagnetik. Secara teoritis, senyawa Fe(II) dalam keadaan spin rendah bersifat diamagnetik dengan kerentanan magnetik sekitar 0 BM yang menunjukkan bahwa semua elektron berpasangan. Sedangkan pada keadaan spin tinggi senyawa Fe(II) bersifat paramagnetik dengan momen magnet sekitar 4,8-5 BM. Berbeda dengan kompleks Fe(Htr. BF4 dan [Fe(Htr. B(C6H. 4, kompleks [Fe(Htr. 2( tr. PF6 pada keadaan awal berwarna putih pada suhu kamar menunjukkan bahwa kompleks ini bersifat Kerentanan magnetik kompleks [Fe(Htr. ]PF6 berada dalam keadaan putaran tinggi dan bersifat paramagnetik pada 5,00 BM. Berdasarkan teori, senyawa Fe(II) bersifat paramagnetik dengan kerentanan magnetik 4,8 hingga 5 BM. Hal ini menunjukkan bahwa kompleks dalam keadaan spin tinggi ini memiliki empat elektron tidak berpasangan. Uji Efek Termokromik Fenomena spin crossover kompleks [Fe(Htr. ]BF4 terlihat pada kurva transisi kompleks (Gambar . menunjukkan bahwa pada keadaan awal persentase perubahan warna sebesar 0%. Kompleks [Fe(Htr. ]BF4 berwarna ungu dan pada keadaan 100% kompleks menjadi putih. T1 menunjukkan suhu saat terjadi perubahan warna sebagian yaitu 375 K dan T2 menunjukkan suhu saat terjadi perubahan warna putih total yaitu 385 K. Sedangkan pada saat pendinginan. T3 adalah suhu saat terjadi sedikit perubahan warna menjadi ungu dan T4 adalah suhu ketika warna berubah kembali menjadi ungu total, masing-masing suhu adalah 358 K dan 339 K. Perubahan warna pada kompleks ini terjadi akibat transisi spin yang menyebabkan suhu transisi naik (T1/2 meningka. sebesar 381 K dan suhu transisi turun . enurunan T1/. sebesar 348 Lebar histeris yang dihasilkan kompleks [Fe(Htr. ]BF4 adalah 36 K (Gambar . Hasil uji suhu transisi kompleks [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 (Gambar . menunjukkan adanya perubahan warna akibat pengaruh suhu yang reversibel dimana suhu transisi kompleks [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 pada saat pemanasan berubah putih dengan suhu (T. 263 K dan (T. 244 K. Sedangkan kembalinya warna kompleks pada suhu ruang menjadi ungu (T . 258 K dan (T. sebesar 295 K. Perubahan warna pada kompleks ini akibat transisi spin yang menyebabkan suhu transisi naik (T1/2 meningkat ) sebesar 276 K dan suhu transisi turun (T1/2 menuru. sebesar 253 K dengan lebar siklus histeris lebih kecil dibandingkan kompleks 1 yaitu 23 K. Suhu transisi yang dihasilkan kompleks [Fe(Htr. PF6 lebih tinggi dibandingkan kompleks sebelumnya Halaman | 44 Jurnal eta Kimia. Vol. No. Mei . Hal. : https://doi. org/10. 35508/jbk. (Gambar . Pada suhu ruang warna kompleks berwarna ungu seperti kompleks [Fe(Htr. ]BF4. Bila dipanaskan dengan suhu (T. sekitar 427 K sampai 453 K dan kompleks berubah menjadi putih. Sedangkan bila didinginkan pada suhu 391 K hingga 365 K, kompleks akan kembali berwarna ungu. Suhu transisi naik kompleks ini sebesar 440 K dan suhu transisi turun sebesar 378 K dengan lebar siklus histeris 62 K lebih besar dibandingkan kompleks [Fe(Htr. ]BF4 dan [Fe(Htr. ]B(C6H. Gambar 9. Transisi Suhu Kompleks [Fe(Htr. ]BF4 Gambar 10. Transisi Suhu Kompleks [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 Halaman | 45 Maria Novansia, dkk: Sintesis Kompleks. Gambar 11. Transisi Suhu Kompleks [Fe(Htr. 2( tr. PF6 KESIMPULAN Kompleks [Fe(Htr. ]PF6 dan dan [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 telah berhasil disintesis melalui cara pertukaran anion dari kompleks [Fe(Htr. ]BF4. Kompleks [Fe(Htr. ]BF4 disintesis dari garam besi(II) tetrafluoroborate dan ligan Htrz menghasilkan serbuk kompleks berwarna ungu yang pada temperatur ruang berada dalam keadaan spin rendah dan bersifat diamagnetik dengan momen magnet sebesar 1. 73 BM. Kompleks [Fe(Htr. ]PF6 disintesis melalui teknik pertukaran anion dimana anion PF6- berhasil menggantikan anion BF4-. Serbuk kompleks yang dihasilkan berwarna putih pada temperatur ruang dan bersifat paramagnetik yang dibuktikan dengan nilai momen magnet 5 BM. Sedangkan kompleks [Fe(Htr. ]B(C6H. 4 disintesis melalui pertukaran anion B(C6H. 4- yang berhasil menggantikan anion BF4- membentuk serbuk kompleks berwarna ungu pada temperatur ruang dan bersifat diamagnetik yang dikonfirmasi melalui nilai momen magnet 0. 88 BM. DAFTAR PUSTAKA