Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Konseling Penguatan Positif (Positive Reinforcemen. Dalam Menangani Perilaku Membolos pada Seorang Siswa Madrasah Aliyah Negeri Di Jombang Siti Mudawamah. Abd. Syakur. UIN Sunan Ampel Surabaya . Stmudawamah321@gmail. com, . syakur@uinsa. Abstrak. Artikel ini membahas penerapan konseling dengan teknik penguatan positif untuk mengatasi perilaku membolos pada seorang siswa kelas XII di MAN 4 Jombang. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya motivasi belajar, kebiasaan begadang, serta hubungan yang kurang baik antara konseli dan guru BK, sehingga perilaku membolos muncul berulang. Kajian ini penting karena membolos berdampak pada pencapaian akademik, kedisiplinan, dan keberlanjutan pendidikan siswa. Teknik penguatan positif dipilih karena mampu mendorong perilaku positif melalui pemberian penguatan yang menyenangkan dan terarah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas teknik positive reinforcement dalam menurunkan perilaku membolos pada siswa serta melihat perubahan kedisiplinan setelah intervensi Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus, dengan data diperoleh melalui wawancara dan observasi absensi, lalu dianalisis menggunakan pendekatan komparasi dan sintesis untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan positive reinforcement dapat menurunkan frekuensi membolos dan meningkatkan kehadiran siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan positif efektif sebagai strategi konseling untuk membentuk kedisiplinan dan mengurangi perilaku membolos pada siswa. Kata kunci: Penguatan Positif. Perilaku Membolos. Konseling. Kedisiplinan Siswa Abstract. This article discusses the application of counseling with positive reinforcement techniques to address truancy behavior in a 12th-grade student at MAN 4 Jombang. The background of this study is low learning motivation, the habit of staying up late, and a poor relationship between the client and the guidance counselor, resulting in repeated truancy behavior. This study is important because truancy impacts academic achievement, discipline, and the continuity of students' education. Positive reinforcement techniques were chosen because they can encourage positive behavior through the provision of pleasant and targeted reinforcement. The purpose of this study was to determine the effectiveness of positive reinforcement techniques in reducing truancy behavior in students and to observe changes in discipline after the intervention was given. This study used a qualitative method with a case study design, with data obtained through interviews and attendance observations, then analyzed using a comparative and synthetic approach to compare conditions before and after the The results showed that the application of positive reinforcement can reduce the frequency of truancy and increase student attendance. These findings Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 indicate that positive reinforcement is effective as a counseling strategy to build discipline and reduce truancy behavior in students. Keywords: Positive Reinforcement. Truancy. Counseling. Student Discipline. PENDAHULUAN Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, khususnya dalam mencapai kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah merupakan salah satu bagian utama dari sistem pendidikan, tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dalam kegiatan tersebut, guru dan peserta didik menjadi komponen inti. Proses pembelajaran akan berjalan optimal apabila kedua unsur tersebut hadir, dan ketidakhadiran salah satunya dapat menghambat jalannya pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa kehadiran komponen utama dalam proses belajar mengajar sangatlah esensial. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan kenyataan yang berbeda. Salah satu komponen inti, yaitu peserta didik, sering kali tidak hadir tanpa alasan yang jelas maupun dapat dipertanggungjawabkan, yang dikenal dengan perilaku membolos. Fenomena siswa membolos saat pembelajaran berlangsung kini semakin sering dijumpai di sekolah. Keterlibatan dan kehadiran siswa dalam proses pembelajaran dikelas adalah bagian dari peraturan dan tata tertib sekolah yang harus dipatuhi, dengan terselip tujuan agar menumbuhkan sikap disiplin dalam diri siswa. Artinya semua siswa diminta untuk patuh , taat dan melaksanakan tata tertib tersebut dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran pribadi. Namun ternyata menerapkan peraturan kepada siswa agar disiplin bukanlah perkara mudah bagi sekolah. Hal ini dikarenakan masih ada saja siswa yang tidak maksimal mengikuti pembelajaran di kelas oleh karena berbagai faktor sehingga memilih untuk tidak masuk kelas dengan alasan tertentu atau bahkan adapula tanpa disertai alasan yang jelas. Ketidakhadiran siswa selama proses pembelajaran, atau yang umum dikenal sebagai perilaku membolos, merupakan permasalahan yang sering muncul di berbagai sekolah. Kondisi ini menuntut adanya penegakan aturan serta pengawasan yang lebih ketat dari pihak 1 Triana Rosalina Noor dan Cholil. AuPENANGANAN PERILAKU MEMBOLOS SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH AL-IHSAN. SIDOARJO,Ay Conseils : Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam 4, no. : 1Ae11, https://doi. org/10. 55352/bki. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 sekolah agar pelaksanaan tata tertib dapat berjalan dengan efektif. 2 Menurut Qomaria Membolos dapat dipahami sebagai perilaku siswa yang tidak hadir di sekolah tanpa alasan yang sah, atau dapat pula diartikan sebagai ketidakhadiran siswa tanpa penjelasan yang jelas maupun rasional. 3 Menurut Munte, membolos merupakan perilaku meninggalkan kegiatan yang seharusnya dijalankan pada waktu dan peran tertentu tanpa adanya pemberitahuan yang Kebiasaan membolos yang dilakukan secara berulang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi siswa, seperti mendapatkan hukuman, dikenai skorsing, tidak diperbolehkan mengikuti ujian, bahkan berpotensi dikeluarkan dari sekolah. 4 Sedangkan Menurut Mutaqin, membolos merupakan tindakan siswa yang melanggar tata tertib sekolah dengan cara meninggalkan sekolah pada jam pelajaran tertentu, atau tidak mengikuti pelajaran dari awal hingga akhir demi menghindari kegiatan belajar yang semestinya, tanpa memberikan keterangan yang dapat diterima pihak sekolah ataupun dengan menggunakan alasan palsu. Kebiasaan membolos yang dilakukan siswa dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif bagi dirinya. Berbagai sanksi dapat diterima siswa, mulai dari teguran dan hukuman, skorsing, tidak diperbolehkan mengikuti ujian, hingga risiko dikeluarkan dari sekolah. Selain berdampak pada disiplin, perilaku membolos juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan prestasi belajar karena siswa kehilangan kesempatan mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Perilaku ini mencerminkan adanya ketidakmampuan dalam mengendalikan diri sehingga diperlukan suatu bentuk bantuan yang mampu mendukung siswa dalam mengontrol perilakunya secara lebih efektif. Kebiasaan membolos sendiri tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat berasal dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan sekitarnya. 2 Vivi Triana dan Erianjoni Erianjoni. AuMekanisme Pengendalian Sosial di Sekolah untuk Mencegah Pengaruh Narkoba di Kalangan Siswa di SMAN 8 Kota Padang,Ay Jurnal Perspektif 5, no. : 267Ae76, https://doi. org/10. 24036/perspektif. 3 Siti Qomaria dkk. AuPemberian Layanan Informasi untuk Mengurangi Perilaku Membolos Pada Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Maumere,Ay Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha 14, no. : 87Ae95, https://doi. org/10. 23887/jjpe. 4 Bangun Munte. AuIMPLEMENTASI TUGAS GURU PAK SEBAGAI GEMBALA DALAM MENINGKATKAN NILAI MORAL SISWA SMK GKPI 2 PEMATANG SIANTAR,Ay JURNAL DINAMIKA PENDIDIKAN 13, no. : 9Ae38, https://doi. org/10. 33541/jdp. 5 Aroyan Mutaqin dkk. AuEfektifitas Konseling Kelompok Dengan Teknik Behavioral Contract Untuk Mengurangi Kebiasaan Membolos Siswa Kelas Xi Sma Negeri 8 Kota Bengkulu,Ay Psikodidaktika: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan Konseling . https://doi. org/10. 32663/psikodidaktika. 6 Sri Ramadhani dan Laksana Tobing. AuSOSIALISASI DAMPAK PSIKOLOGIS PERILAKU BOLOS SEKOLAH DAN PENANGGULANGANNYA DI SMA 1 LABUHAN DELI MEDAN,Ay Jurnal Bdimas Mutiara 1, no. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Beberapa penyebab perilaku membolos dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan sumber masalah yang berasal dari diri siswa sendiri, misalnya kecenderungan pribadi untuk menghindari kelas atau menganggap sekolah hanya sebagai tempat singgah dari rutinitas rumah yang dirasa Sementara itu, faktor eksternal berkaitan dengan kondisi di luar diri siswa, seperti kebijakan sekolah yang kurang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sikap atau profesionalitas guru yang belum optimal, kurangnya fasilitas pendukung seperti laboratorium atau perpustakaan, serta kurikulum yang dirasa tidak ramah sehingga menghambat kenyamanan dan motivasi belajar siswa. Urgensi penanganan perilaku ini tampak jelas karena membolos bukanlah sekadar tindakan sesaat, tetapi kebiasaan yang dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam diri siswa maupun dari lingkungannya. Jika tidak ditangani dengan tepat, perilaku ini berpotensi berkembang menjadi pola negatif yang terus berulang dan semakin sulit dikendalikan. Karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang dapat mendorong siswa untuk menampilkan perilaku positif secara lebih konsisten. Salah satu teknik yang dapat di gunakan adalah Penguatan Positif. Penguatan positif merupakan pemberian stimulus yang menyenangkan kepada individu setelah ia menampilkan perilaku yang diinginkan, sehingga perilaku tersebut memiliki peluang lebih besar untuk muncul kembali di kemudian hari. Konsep ini berakar pada teori Operant Conditioning yang dikenalkan oleh B. Skinner, salah satu tokoh sentral dalam aliran psikologi behavioristik. Skinner menjelaskan bahwa penguatan positif merupakan teknik yang sangat efektif untuk membentuk sekaligus mempertahankan perilaku tertentu. Dalam konteks pendidikan, bentuk penguatan positif dapat berupa berbagai hal, seperti pujian dari pendidik, pemberian nilai tambahan, penghargaan, pengakuan di hadapan kelas, maupun hadiah sederhana yang diberikan sebagai apresiasi. Dalam konteks ini, penggunaan teknik penguatan positif menjadi relevan karena metode ini memberi penguatan berupa konsekuensi yang menyenangkan setiap kali siswa menunjukkan perilaku yang diharapkan. Cara tersebut dapat membantu meningkatkan 7 Faijin. Sarbudin. Nurhayati. Muhamadiah. AuAnalisis Faktor Penyebab perilaku membolos Pada apeserta Didik dan Upaya Penanganannya,Ay Guiding Wordl Jurnal Bimbingan dan Konseling 6, no. : 77, https://doi. org/1033627. 8 Ranto Jagad Kelana Hasibuan dkk. AuEFEKTIVITAS REINFORCEMENT POSITIF DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA,Ay JURNAL MEDIA AKADEMIK (JMA) 3, no. : 5. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 motivasi, menumbuhkan kebiasaan hadir di sekolah, serta membangun kedisiplinan belajar secara bertahap. Dengan demikian, penerapan penguatan posistif memiliki peran penting sebagai strategi intervensi untuk mengurangi perilaku membolos dan mendorong perkembangan perilaku yang lebih adaptif pada diri siswa. Namun, hingga saat ini penanganan perilaku membolos di sekolah lebih banak mengandalkan pemberian hukuman. Pendekatan seperti ini sering kali tidak memberikan perubahan perilaku yang bertahan lama. Di sisi lain penggunaan penguatan positif sebagai strategi pembinaan masih jarang diterapkan secara terencana, terutama dalam konteks layanan bimbingan konseling. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan teknik positve reinforcement dapat membantu mengurangi kecenderungan membolos pada siswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, karena fokus penelitian ini diarahkan pada pemahaman mendalam mengenai perilaku membolos yang ditujukan oleh satu orang siswa serta proses perubahan yang terjadi setelah diberikan intervensi penguatan positif. Salah satu pendekatan yang banyak dipakai dalam penelitian kualitatif adalah studi kasus. Melalui metode ini, peneliti dapat menelusuri suatu fenomena secara lebih mendalam di dalam situasi nyata, sehingga memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai bagaimana berbagai faktor saling berhubungan dan memengaruhi fenomena Lokasi penelitian ini terletak di Jl. Imam Bonjol. Denanyar Selatan. Denanyar. Kec. Jombang. Kab. Jombang Jawa Timur tepatnya di MAN 4 Jombang. Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian yaitu salah satu siswa kelas 12 dengan inisial F di MAN 4 Jombang yang sering tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Guru bimbingan Konseling serta wali kelas menjadi informan pendukung dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data pada penilitian ini berupa wawancara dan observasi. Teknik wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan melalui kegiatan tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan responden sebagai sumber 9 Miza Nina Adlini dkk. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,Ay Edumaspul: Jurnal Pendidikan 6, no. : 974Ae80, https://doi. org/10. 33487/edumaspul. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 10 Wawancara ini dilakukan terhadap 3 orang yaitu wawancara dengan subjek sebagai informan utama dan wawancara dengan wali jelas serta guru BK sebagai informan Sedangkan Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat kompleks karena dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai aspek. Melalui observasi, peneliti tidak hanya dapat menilai sikap responden, tetapi juga dapat mencatat beragam fenomena yang muncul di lapangan. Metode ini tepat digunakan dalam penelitian yang mengkaji perilaku manusia, alur kerja, maupun fenomena alam tertentu. 11 Observasi pada penelitian ini dilakukan memalui pemantauan absensi harian siswa disekolah. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi 3 komponen yaitu . reduksi data, yaitu proses menyeleksi dan memfokuskan informasi penting, sambil membuang data yang kurang relevan, sehingga analisis menjadi lebih terarah. penyajian data, yaitu menyusun temuan dalam bentuk narasi atau bagan agar peneliti dapat melihat pola dan memahami situasi secara lebih jelas. penarikan kesimpulan/verifikasi, yaitu Kesimpulan dirumuskan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan diverifikasi, sehingga menghasilkan pemahaman akhir yang sesuai dengan temuan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pelaksanaan intervensi menggunakan teknik positive reinforcement dilakukan selama tiga minggu dan menunjukkan adanya perubahan perilaku pada diri konseli, khususnya terkait kehadiran dan kedisiplinan. Berdasarkan hasil wawancara, konseli mengaku bahwa salah satu penyebab ia sering tidak masuk sekolah karena kebiasaan begadang dan kurangnya motivasi Konseli menyatakan . AuSaya sering begadang Ketika malam hari, sehingga besoknya saya bangun kesiangan, kalua udah kesiangan saya jadi malas untuk berangkat kesekolah, akhirnya saya membolosAy. Kondisi tersebut diperkuat oleh keterangan wali kelas yang 10 Aslihatul Rahmawati dkk. AuOptimalisasi Teknik Wawancara Dalam Penelitian Field Research Melalui Pelatihan Berbasis Participatory Action Research Pada Mahasiswa Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang,Ay Jurnal Abdimas Prakasa Dakara 4, no. : 135Ae42, https://doi. org/10. 37640/japd. 11 Giulia Rossetti. AuConceptualising participant observations in festival tourism,Ay Current Issues in Tourism 27, no. : 1884Ae97, https://doi. org/10. 1080/13683500. 12 Rony Zulfirman. AuIMPLEMETASI METODE OUTDOOR LEARNING DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MAN 1 MEDAN,Ay Jurnal Penelitian 3, no. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 menyampaikan bahwa konseli sering tercatat alfa tanpa keterangan yang jelas dan enggan memperbaiki absensi. Wali kelas menyatakan. AuDia sering tidak hadir tanpa izin dan Ketika datang terlambat, tidak segera datang ke ruang BK untuk mengganti keterangan di buku absenAy. Selain itu guru BK di sekolah tersebut juga mengungkapkan bahwa konseli memiliki kecenderungan menghindari datang keruang BK untuk klarifikasi mengenai absensi Guru BK menyatakan. AuKetika dia diminta datang ke ruang BK untuk klarifikasi keterlambatan hadir disekolah, dia sering tidak datang dan malah menghindarAy. Di awal intervensi, konseli masih menunjukkan kecenderungan untuk tidak hadir dan beberapa kali datang terlambat, meskipun frekuensi membolos mulai berkurang. Pada minggu pertama, konseli tercatat tidak hadir satu kali, namun ia mulai menunjukkan usaha untuk memperbaiki absensi ketika datang terlambat. Memasuki minggu kedua, perubahan yang lebih jelas mulai terlihat. Konseli hadir penuh selama lima hari sekolah dan tidak ada lagi catatan Konseli juga mulai datang lebih tepat waktu, serta menunjukkan inisiatif untuk memperbaiki absensi tanpa harus diingatkan oleh guru. Selain itu, tidak ditemukan perilaku konseli meninggalkan sekolah pada jam pelajaran seperti yang biasa terjadi sebelum intervensi Pada minggu ketiga, konsistensi konseli semakin stabil. Tidak ada catatan alfa maupun perilaku keluar sekolah, dan konseli mengikuti seluruh kegiatan belajar dengan lebih teratur. Guru mata pelajaran maupun wali kelas melaporkan bahwa konseli tampak lebih kooperatif, tidak menghindar, dan lebih mudah diajak berkomunikasi. Konseli juga mengaku merasa lebih dihargai ketika mendapatkan apresiasi atas kehadirannya, sehingga ia terdorong untuk mempertahankan perilaku tersebut. Catatan observasi menunjukkan adanya perbaikan pada aspek kesiapan diri, terutama pola tidur. Walaupun belum sepenuhnya stabil, konseli mulai mengurangi kebiasaan tidur larut malam sehingga risiko kesiangan berkurang. Perubahan ini turut mendukung peningkatan kedisiplinan kehadiran konseli selama intervensi berlangsung. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan positive reinforcement memberikan pengaruh positif terhadap perilaku hadir konseli. Perubahan tidak hanya terlihat dari menurunnya frekuensi membolos, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran konseli untuk memperbaiki absensi, mengurangi keterlambatan, serta menahan diri untuk tidak meninggalkan sekolah saat jam pelajaran berlangsung. Perubahan-perubahan tersebut Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 menjadi dasar bahwa teknik ini efektif dalam membantu memperbaiki perilaku membolos pada siswa. Pembahasan Teknik Penguatan Positif Menurut Skinner teknik penguatan merupakan cara untuk mengarahkan individu pada perilaku yang lebih rasional dan sesuai dengan memberikan respon berupa pujian atau penghargaan, maupun hukuman ketika diperlukan. Penguatan sendiri dipahami sebagai suatu kejadian atau stimulus yang membuat perilaku yang diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk muncul kembali karena sifatnya yang menyenangkan bagi individu. Skinner menjelaskan bahwa penguatan terdiri dari dua jenis, yaitu positif dan negatif. Penguatan positif terjadi ketika suatu perilaku semakin kuat karena diikuti oleh stimulus yang menyenangkan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk penguatan positif ini sering terlihat, misalnya seseorang belajar lebih giat setelah mendapat nilai tinggi, atau bekerja lebih keras demi meraih Menurut Komalasari, dalam memberikan penguatan positif, konselor perlu memperhatikan prinsip-prinsip penguatan agar hasil yang dicapai lebih optimal. Beberapa prinsip tersebut antara lain: . penguatan diberikan berdasarkan munculnya perilaku yang diharapkan, . penguatan harus diberikan segera setelah perilaku positif ditunjukkan, . pada tahap awal perubahan, setiap kemunculan perilaku yang diinginkan perlu langsung diberi penguatan, . ketika perilaku positif sudah mulai stabil, frekuensi penguatan dapat dikurangi hingga akhirnya dihentikan, dan . pada tahap awal, penguatan sosial sebaiknya disertai dengan penguatan berbentuk benda. Tujuan dari pemberian penguatan positif adalah mendorong seseorang untuk terdorong mengubah perilakunya ke arah yang lebih baik, mengurangi kecenderungan munculnya perilaku yang tidak diharapkan, serta memperkuat tindakan-tindakan yang mampu menghentikan kebiasaan negatif tersebut. Gelgel Nengah menjelaskan bahwa Penguatan Positif memiliki beberapa sasaran penting, di antaranya meningkatkan motivasi 13 Nafeesa Nafeesa. AuFaktor-Faktor yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik Siswa yang Menjadi Anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah,Ay Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropolog. 4, no. : 53, https://doi. org/10. 24114/antro. 14 Wira Sahida. Samsul Hadi. AuPengaruh Teknik Reinforcement Tewrhadap Sikap Mandiri Siswa SMP Negeri 1 Brang Ene Kabupaten Sumbawa Barat,Ay Jurnal Realita 4, no. : 793. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 individu, merangsang pola pikir yang lebih konstruktif, menumbuhkan perhatian terhadap tugas atau aturan, mengembangkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, serta membantu mengendalikan dan mengubah sikap-sikap negatif yang sebelumnya muncul. Dengan demikian, penguatan positif bukan hanya sekadar memberikan penghargaan, tetapi juga berfungsi sebagai strategi untuk membentuk perilaku adaptif secara lebih menyeluruh. Dalam keterampilan dasar mengajar, dikenal dua bentuk penguatan . yang digunakan pendidik untuk merespons perilaku siswa. Pertama, penguatan verbal, yaitu apresiasi atau dorongan yang disampaikan melalui ucapan, seperti kata AuhebatAy. Aubagus sekaliAy, atau kalimat Autugasmu sangat baik dan sesuaiAy. Kedua, penguatan nonverbal, yakni pemberian penguatan melalui ekspresi wajah atau gerak tubuh, misalnya senyuman, anggukan kepala, atau acungan ibu jari, yang biasanya melengkapi penguatan verbal. Corey menambahkan bahwa dalam modifikasi perilaku terdapat tiga jenis penguatan, yaitu primary reinforcer yang artinya memberikan kepuasan langsung seperti makanan dan minuman. secondary reinforcer yang artinya diperoleh melalui proses belajar, seperti uang, senyuman, pujian, medali, atau bentuk penghargaan lainnya. dan contingency reinforcement, yaitu penguatan yang mensyaratkan individu melakukan suatu tugas sebelum memperoleh hal yang menyenangkan, misalnya menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum menonton televisi. Ketiga bentuk penguatan tersebut efektif digunakan untuk membantu membentuk dan memodifikasi perilaku yang diharapkan. Perilaku Membolos Ketidakhadiran siswa selama proses pembelajaran, atau yang umum dikenal sebagai perilaku membolos, merupakan permasalahan yang sering muncul di berbagai sekolah. Kondisi ini menuntut adanya penegakan aturan serta pengawasan yang lebih ketat dari pihak sekolah agar pelaksanaan tata tertib dapat berjalan dengan efektif. 17 Menurut Qomaria Membolos dapat dipahami sebagai perilaku siswa yang tidak hadir di sekolah tanpa alasan yang sah, atau dapat pula diartikan sebagai ketidakhadiran siswa tanpa penjelasan yang jelas 15 Maryatul Kibtyah dan Dzurratul Lailil Mufidah. AuPenerapan Teknik Reinforcement Positif Dalam Bimbingan Agama Pada Penyandang Disabilitas,Ay International Conference of DaAowa and Islamic Communication 2, 3 . : 9Ae10, http://proceeding. id/index. php/ICODIC. 16 Masitha Araf dkk. Au(Penerapan Teknik Reinforcement Untuk Mengatasi Prokrastinasi Akademik Siswa di SMK Negeri 1 Polewal. ,Ay PINISI JOURNAL OFEDUCATION, t. 17 Triana dan Erianjoni. AuMekanisme Pengendalian Sosial di Sekolah untuk Mencegah Pengaruh Narkoba di Kalangan Siswa di SMAN 8 Kota Padang. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 maupun rasional. 18 Menurut Munte, membolos merupakan perilaku meninggalkan kegiatan yang seharusnya dijalankan pada waktu dan peran tertentu tanpa adanya pemberitahuan yang Kebiasaan membolos yang dilakukan secara berulang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi siswa, seperti mendapatkan hukuman, dikenai skorsing, tidak diperbolehkan mengikuti ujian, bahkan berpotensi dikeluarkan dari sekolah. 19 Sedangkan Menurut Mutaqin, membolos merupakan tindakan siswa yang melanggar tata tertib sekolah dengan cara meninggalkan sekolah pada jam pelajaran tertentu, atau tidak mengikuti pelajaran dari awal hingga akhir demi menghindari kegiatan belajar yang semestinya, tanpa memberikan keterangan yang dapat diterima pihak sekolah ataupun dengan menggunakan alasan palsu. Rendahnya motivasi siswa menjadi salah satu penyebab munculnya perilaku membolos. Sebagian siswa merasa malas bersekolah karena menganggap aturan yang berlaku terlalu banyak dan membebani. Selain itu, penanganan dari pihak sekolah maupun guru BK dipandang belum maksimal, sehingga siswa belum merasakan dampak nyata yang mendorong perubahan Kurangnya semangat untuk berangkat ke sekolah dan mengikuti pembelajaran membuat siswa sering meninggalkan kelas saat jam pelajaran berlangsung. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah tugas yang belum dikerjakan. beberapa siswa memilih membolos karena khawatir akan menerima hukuman dari guru mata pelajaran jika tetap masuk kelas. Kebiasaan datang terlambat juga memperkuat pola perilaku yang sama karena tindakan yang diberikan belum menimbulkan efek jera. Di samping itu, rasa bosan dan jenuh terhadap pelajaran, terutama mata pelajaran yang dianggap sulit, membuat siswa memilih untuk menghindari pembelajaran. Mereka kerap meminta izin dengan alasan tertentu, seperti pergi ke toilet, namun tidak segera kembali ke kelas meskipun bel pelajaran telah berbunyi. Menurut Prayitno dan Erman, perilaku membolos membawa berbagai konsekuensi yang merugikan bagi siswa. Ketidakhadiran yang berulang menyebabkan minat siswa terhadap pelajaran semakin menurun karena mereka tidak lagi mengikuti proses belajar secara utuh. Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan kegagalan dalam menghadapi ujian, mengingat 18 Qomaria dkk. AuPemberian Layanan Informasi untuk Mengurangi Perilaku Membolos Pada Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Maumere. Ay 19 Munte. AuIMPLEMENTASI TUGAS GURU PAK SEBAGAI GEMBALA DALAM MENINGKATKAN NILAI MORAL SISWA SMK GKPI 2 PEMATANG SIANTAR. Ay 20 Mutaqin dkk. AuEfektifitas Konseling Kelompok Dengan Teknik Behavioral Contract Untuk Mengurangi Kebiasaan Membolos Siswa Kelas Xi Sma Negeri 8 Kota Bengkulu. Ay 21 Wahyu Purnama Sari. STUDI KASUS TENTANG PERILAKU MEMBOLOS SISWA DI SMA NEGERI 1 PLUMPANG TUBAN, t. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 materi yang seharusnya dikuasai tidak dipelajari dengan baik. Akibatnya, hasil belajar yang diperoleh siswa tidak sebanding dengan potensi akademik yang sebenarnya mereka miliki. Dalam jangka panjang, siswa yang sering membolos dapat mengalami ketertinggalan dalam penguasaan materi dibandingkan teman-teman sekelasnya, bahkan berujung pada tidak naik kelas apabila akumulasi ketidakhadiran dan rendahnya pencapaian tidak memenuhi standar Pada tingkat yang lebih serius, siswa juga dapat dikenai sanksi berupa dikeluarkan dari sekolah. Seluruh dampak tersebut menunjukkan bahwa perilaku membolos memberikan pengaruh signifikan terhadap pencapaian belajar dan keberhasilan siswa selama menempuh pendidikan di sekolah. Implementasi Konseling Penguatan Positif (Positive Reinforcemen. Dalam Menangani Perilaku Membolos Pada Seorang Siswa Madrasah Aliyah Negeri di Jombang Identifikasi Masalah (Data Permasalahan Siswa di lapanga. Konseli merupakan seorang siswa kelas XII di salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Jombang dengan inisial F. Berdasarkan hasil wawancara, observasi absensi harian, serta informasi dari wali kelas dan guru BK, dapat dilihat bahwa perilaku membolos yang ditunjukkan oleh konseli bukanlah perilaku yang muncul sesekali, tetapi sudah berkembang menjadi kebiasaan yang berlangsung cukup lama. Pola ketidakhadiran konseli terlihat cukup jelas dan berulang, baik berupa tidak masuk sama sekali, datang terlambat namun tidak memperbaiki absensi, hingga meninggalkan lingkungan madrasah pada saat jam pelajaran masih berlangsung. Pola ini menunjukkan bahwa konseli telah memiliki kecenderungan untuk menghindari situasi sekolah ketika ia merasa tidak nyaman atau tidak siap mengikuti pembelajaran. Secara lebih rinci, bentuk perilaku membolos konseli dapat dikelompokan ke dalam beberapa situasi. Pertama, membolos karena terlambat. Konseli sering terlambat datang karena kebiasaan begadang, dan ketika ia merasa terlalu jauh meninggalkan jam masuk, ia memilih tidak masuk daripada harus berurusan dengan guru BK untuk memperbaiki Ke dua, membolos dengan tidak memberi keterangan, yaitu ketika konseli sedang sakit tetapi tidak melapor kepada orang tua sehingga tidak ada surat izin yang 22 Putri Dwijayanti dan Ikke Yuliani Dhian Puspitarini. AuBahaya Perilaku Membolos dan Kurangnya Sopan Santun Pada Prestasi Belajar Siswa,Ay Seminar Nasional Pendidikan dan Pembelajaran ke 6, 5 Agustus 2023. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 disampaikan ke sekolah. Akibatnya, ketidakhadirannya selalu dicatat sebagai alpa. Ke tiga, membolos di jam pelajaran, yaitu ketika konseli keluar dari madrasah pada jam kosong, atau merasa tidak sanggup mengikuti pelajaran tertentu, sehingga memilih berkumpul dengan temannya di warung kopi. Ke empat, menghindari guru BK, karena konseli merasa guru BK sering menyudutkannya. Perasaan tidak nyaman ini membuat konseli menghindari ruang BK, meskipun seharusnya ia memperbaiki absensi atau melakukan Dari pola-pola tersebut, dapat dilihat bahwa perilaku membolos konseli termasuk dalam kategori membolos secara disengaja, yaitu perilaku yang dilakukan dengan kesadaran untuk menghindari suatu kondisi yang dianggap tidak menyenangkan. Situasi ini sejalan dengan pendapat Mutaqin yang menyatakan bahwa membolos dapat terjadi karena keinginan menghindar dari tuntutan atau ketidaknyamanan yang muncul di Dalam kasus konseli, bentuk ketidaknyamanan tersebut muncul dari masalah motivasi, kelelahan akibat begadang, serta hubungan interpersonal dengan guru BK yang kurang harmonis. Dari keseluruhan data yang diperoleh, perilaku membolos konseli dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Penyebabnya tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk rangkaian yang akhirnya membuat konseli sulit hadir secara konsisten. Dari sisi faktor secara internal faktor pertama yang muncul adalah rendahnya motivasi belajar. Konseli mengaku sering merasa malas, tidak memiliki semangat berangkat sekolah, dan kadang merasa pelajaran terlalu membosankan. Ia juga jarang aktif di kelas dan lebih suka diam, sehingga ketika suasana belajar terasa berat, ia cenderung memilih meninggalkan Kondisi seperti ini sejalan dengan teori Prayitno yang menyebutkan bahwa siswa yang tidak memiliki minat belajar akan lebih mudah menghindari kegiatan pembelajaran dan akhirnya terjerumus pada perilaku membolos. Selain itu, ada kebiasaan begadang yang cukup memengaruhi rutinitas konseli. sering bermain atau nongkrong hingga larut malam bersama temannya. Akibatnya, pagi hari ia sulit bangun, tubuhnya terasa lelah, dan sering kali kesiangan. Ketika sudah terlambat, konseli merasa malu dan takut dimarahi, sehingga ia memilih tidak masuk daripada harus berhadapan dengan guru BK. Kebiasaan ini juga berdampak pada kondisi fisik konseli yang tampak semakin kurus, sebagaimana disampaikan wali kelasnya. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Konseli juga memiliki kecenderungan menghindari situasi yang membuatnya cemas atau Misalnya, ketika ia terlambat dan tahu harus memperbaiki absen, ia memilih pulang atau ke warkop. Pola menghindar ini akhirnya memperkuat kebiasaan membolos. Selain faktor dari dalam diri, perilaku membolos konseli juga diperkuat oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Salah satunya adalah hubungan yang kurang baik dengan guru BK. konseli merasa guru BK sering mempersulit dan mencari-cari kesalahan. Pandangan ini menimbulkan rasa tidak nyaman dan membuat konseli enggan datang ke ruang BK. Ketika konseli enggan memperbaiki absensi, ketidakhadirannya otomatis dicatat sebagai alfa, sehingga ia terlihat semakin sering membolos. Faktor lain adalah lingkungan pergaulan. Konseli memiliki teman-teman yang sering mengajaknya nongkrong hingga malam dan juga sering keluar saat jam pelajaran. Lingkungan seperti ini mendorong dan memperkuat perilaku membolos karena konseli merasa ada tempat yang lebih menyenangkan daripada berada di kelas. Dalam beberapa kasus, konseli juga mengaku lebih memilih ke warkop saat jam kosong atau ketika ia merasa tidak siap mengikuti pelajaran tertentu. Dari sisi keluarga, meskipun kondisi ekonomi dan hubungan keluarga tergolong baik, namun pola komunikasi yang tidak konseli tidak Akibatnya, ketidakhadiran yang sebenarnya bisa diberi keterangan malah menjadi alpa. Selain itu, jarak rumah ke madrasah yang cukup jauh membuat konseli semakin enggan ketika keadaan fisiknya sedang kurang fit. Proses konseling Diagnosis Berdasarkan data permasalahan diatas dapat di diagnosis bahwa konseli yang menjadi penyebab perilaku membolos yang dialaminya yaitu kedisiplinan dan motivasi belajar yang rendah yang di tujukkan melalui perilaku membolos yang dilakukan sejak kelas X hingga kelas XII. Perilaku ini muncul karena pola hidup yang kurang teratur, terutama kebiasaan begadang yang menyebabkan konseli sering terlambat bangun sehingga membuatnya memilih untuk membolos. Selain itu konseli juga memiliki kecenderungan menghindari konsekuensi yang dapat dilihat dari sikapnya yang enggan untuk memperbaiki absensi ke ruang BK ketika datang terlambat sehingga keterangan ketidakhadirannya diabsensi semakin menumpuk. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Hubungan yang kurang harmonis dengan guru BK turut memperkuat perilaku tersebut karena konseli merasa tidak nyaman dan takut dipersulit. Keseluruhan kondisi ini menunjukkan bahwa konseli menghadapi masalah perilaku yang bersifat terus menerus yang disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal . otivasi dan kebiasaa. serta eksternal . elasi dengan guru dan lingkungan pergaula. Pragnosis Berdasarkan hasil diagnosis. Perilaku membolos yang dialami oleh konseli di sebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu rendahnya motivasi belajar, kebiasaan begadang serta kecenderungan konseli menghindari konsekuensi ketika ia terlambat atau tidak hadir di madrasah. Melihat permasalah yang dialami oleh konseli tersebut, peneliti meniali bahwa teknik yang sesuai untuk menangani kasus ini yaitu teknik penguatan positif. Pemilihan teknik ini berdasarkan pada kecenderungan konseli yang cukup responsif ketika ia mendapatkan apresiasi dan perhatian dari guru BK, sehingga penguatan positif diperkirakan mampu memunculkan perubahan perilaku tanpa menimbulkan tekanan. Selain itu, penguatan positif dianggap mampu membantu konseli untuk membentuk kebiasaan baru melalui langkah-langkah sederhana seperti pemberian pujian, perhatian, atau bentuk apresiasi lain yang membuat konseli merasa dihargai saat ia menunjukkan perilaku hadir tepat waktu dan mengikuti pelajaran. Teknik ini juga dinilai efektif karena amsalah konseli lebih berkaitan dengan pembiasaan perilaku dan peningkatan kedisiplinan, bukan pada konkonselilik keluarga atau gangguan emosional yang berat. Dengan pemilihan teknik ini, peneliti memperkirakan perilaku membolos yang dialami oleh konseli dapat mulai berkurang apabila penguatan diberikan secara konsisten dan terstruktur. Namun apabila intervensi tidak segera dilakukan, dikhawatirkan pola membolos yang sudah berlangsung lama akan semakin susah untuk ditangani dan berdampak pada kedisiplinan, prestasi akademik, serta hubungan konseli dengan guru disekolah. Oleh karena itu, peguatan positikonseli menjadi pilihan yang paling relevan umtuk membantu konseli memperbaiki perilakunya yang suka membolos. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Treatment Sesi 1- Wawancara awal dan membuat kesepakatan Pada sesi pertama, saya mengajak konseli untuk mengobrol santai soal kebiasaan membolosnya. Konseli cerita kalau dia sering malas bangun, suka begadang, dan kadang memang nggak semangat ke madrasah. Di sini konseli cerita kalau terkadang iya sebenarnya masuk tapi telat dan tidak mau memeprbaiki absensi ke guru BK dengan alasan guru BK selalu mempersulit. Ia merasa bahwa guru Bk tersebut selalu mencari-cari kesalahan konseli seperti konseli di tuduh melakukan balapan liar padahal ia tidak melakukannyaa. Dari situ lah konseli enggan untuk memperbaiki absennya ke ruang BK. Setelah itu saya menjelaskan kalau nanti setiap kali dia bisa hadir penuh di sekolah, dia akan dapat apresiasi atau reward kecil. Pada sesi ini juga saya memberikan sedikit motivasi agar dia lebih semangat untuk bersekolah, seperti meminta konseli untuk mengurangi perilaku membolos karena sudah kelas 12 agar ia tidak terus-terusan terkena masalah dan dipanggil ke BK. Saya dan konseli kemudian membuat kesepakatan sederhana, seperti: Hadir tiap hari tanpa bolos. Jika konseli hadir penuh beberapa hari, dia dapat reward kecil snack atau jajanan kantin, serta bantuan untuk perbaikan absensi. Kesepakatan ini kita tulis dan konseli setuju untuk mencobanya. Sesi 2 Pada sesi kedua, kembali melakukan pertemuan dengan konseli setelah satu minggu melakukan pengamatan kehadiran konseli di sekolah melalui absensi harian. Satu minggu di awal konseli mulai memberikan perubahan berupa mulai menurunnya perilaku membolos. Diminggu ini konseli hanya membolos selama 1 Pada sesi ini saya juga memberikan sedikit nasihat kepada konseli untuk mengurangi begadang dan bermain hingga larut malam. Di sesi ini saya juga kasih pujian langsung ketika dia mampu hadir, seperti AuMakasih ya dalam satu minggu ini kamu mulai aktif masuk sekolah. Saya senang melihat kamu mulai usaha. Ay Tujuannya supaya konseli merasa dihargai setiap kali menunjukkan perilaku positif. Tidak lupa juga memberikan farhan reward berupa soft drink. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Sesi 3 Ae Penguatan Rutin & Pantau Perubahan Pada pertemuan ke 3 yaitu observasi minggu ke 2. Pada minggu ke 2 ini konseli sudah benar-benar bisa masuk full dalam satu minggu. Lagi-lagi reward pada sesi ini berupa pujian dan snack makanan ringan. Dilihat dari wawancara di awal dengan konseli, konseli ini memiliki hubungan yang lumayan buruk dengan guru BK. Ia merasa bahawa guru BK selalu mencari-cari kesalahannya sehingga ia merasa kurang dihargai. Sehingga ketika ia mendapatkan reward berupa pujian ia merasa senang dan lebih di hargai. Hal tersebut mebuat konseli lebih giat lagiberangkat Di sesi ini ia juga mulai terlihat lebih semangat masuk, ebih sering cerita dan mulai terbuka. Frekuensi bolos mulai menurun. Sesi 4 Ae Evaluasi & Pemberian Reward Pada sesi ini kembali melakukan pertemuan dengan konseli. Memasuki minggu ke 3 ini konseli benar-benar tidak membolos lagi. Seuai perjainjian di awal kalau konseli berhasil tidak membolos maka saya akan memberikan reward berupa bantuan untuk memperbaiki absensi ketika ia telat berangkat sekolah. Saya membantu dia dengan cara memperbaiki absensi konseli agar pihak guru Bk mau mengganti mengurangi alfa nya di absensi. Krena pada saat itu alfa yang dimiliki oleh konseli melebihi batas maksimal dan membuat dia hampir dikeluarkan dari sekolah Sesi 5 Ae Menguatkan Dukungan & Membiasakan Perilaku Baru Sesi ini fokus memastikan konseli bisa mempertahankan kebiasaan hadir. Saya koordinasi dengan wali kelas supaya beliau juga bisa memberikan apresiasi kecil, misalnya: konseli, makasih sudah hadir terus ya. Dukungan sosial ini ngebantu banget buat bikin konseli merasa dihargai dan diterima. Follow up Satu minggu setelah sesi treatment terakhir, saya melakukan tindak lanjut untuk melihat sejauh mana perubahan perilaku konseli bertahan. Pada hari yang sudah saya jadwalkan, saya kembali bertemu konseli di ruang BK. Pertemuan ini sengaja saya buat santai agar konseli merasa nyaman untuk bercerita tentang perkembangan dirinya setelah program penguatan positif selesai. Dalam pertemuan tersebut, konseli menjelaskan bahwa ia mulai mencoba mengatur jam tidurnya dan mengurangi Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 kebiasaan nongkrong hingga larut malam. Ia bilang kalau sekarang bangun pagi terasa lebih mudah dan dia tidak terlalu merasa berat untuk berangkat ke sekolah. juga mengaku bahwa apresiasi yang saya berikan di sesi-sesi sebelumnya membuatnya merasa dihargai. Menurutnya, itu menjadi pemicu awal kenapa ia mau mencoba memperbaiki kehadirannya. Setelah berbincang dengan konseli, saya melakukan cek silang dengan wali Berdasarkan absensi satu minggu terakhir, konseli tercatat hadir penuh dan tidak ada laporan ia keluar sekolah saat jam pelajaran berlangsung. Wali kelas juga menyampaikan bahwa konseli tampak lebih stabil, lebih jarang keluar kelas saat jam kosong, dan terlihat lebih fokus selama pembelajaran. Sebagai langkah tindak lanjut, saya dan konseli sepakat untuk tetap melakukan pemantauan ringan setiap minggu, namun tidak seketat sebelumnya. Tujuannya bukan lagi untuk mengontrol, tetapi untuk menjaga agar perubahan yang sudah terbentuk bisa tetap konsisten. Dari proses follow up ini, saya menyimpulkan bahwa perubahan perilaku konseli menunjukkan hasil yang cukup stabil. Program penguatan positif yang diberikan sebelumnya masih memberikan efek yang kuat terhadap kedisiplinannya, terutama dalam hal kehadiran. Saya tetap menganjurkan keterlibatan wali kelas dan orang tua untuk memberikan penguatan lanjutan agar perubahan ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Analisis Hasil Berdasarkan pelaksanaan intervensi dengan Teknik penguatan positif, terlihat adanya perubahan perilaku pada diri konseli terutama terkait kehadiran dan Pada minggu pertama intervensi, konseli masih menunjukkan perilaku membolos meskipun frekuensinya sedikit menurun. Namun, setelah pemberian penguatan positif dilakukan secara lebih konsisten, konseli mulai menunjukkan respons yang lebih baik. Ia tampak lebih berusaha hadir tepat waktu dan mulai memperbaiki absensinya tanpa harus diingatkan berulang kali. Perubahan ini diperkuat dengan pengakuan konseli bahwa ia merasa lebih dihargai ketika mendapat apresiasi dari guru, terutama berupa pujian sederhana atau perhatian personal saat ia datang tepat waktu. Secara teori, hasil ini sejalan dengan prinsip reinforcement menurut Skinner, bahwa suatu perilaku akan lebih mungkin diulang ketika diberikan penguatan yang Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Dalam kasus konseli, penguatan berupa perhatian, pujian, dan sikap guru yang lebih suportif ternyata menjadi stimulus yang efektif untuk memunculkan perilaku konseli cenderung lebih responsif ketika ia merasa tidak dihakimi, sehingga penguatan positif menjadi teknik yang paling sesuai dengan kondisi emosionalnya. Selain itu, catatan pada akhir sesi intervensi menunjukkan bahwa konseli mulai mampu mengontrol kebiasaan begadang, walaupun belum sepenuhnya stabil. Ia juga mulai memiliki kesadaran bahwa keterlambatan dan membolos berdampak pada catatan Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi tidak hanya memengaruhi perilaku hadir, tetapi juga memengaruhi cara konseli memandang konsekuensi atas Namun, intervensi juga menemukan bahwa perubahan konseli masih membutuhkan penguatan lanjutan. Pada beberapa hari tertentu, terutama ketika ia merasa lelah karena kurang tidur, konseli masih menunjukkan kecenderungan menghindari kelas. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan belum sepenuhnya mantap dan masih diperlukan pemantauan lanjutan. Secara keseluruhan, hasil intervensi menunjukkan bahwa teknik penguatan positif efektif dalam membantu menurunkan perilaku membolos konseli. Efektivitas ini didorong oleh kesesuaian teknik dengan karakter konseli, konsistensi pemberian penguatan, serta dukungan guru yang terlibat dalam proses. Perubahan yang muncul bersifatt positif, namun masih memerlukan pendampingan lanjutan agar perilaku disiplin dapat bertahan secara stabil. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil asesmen, pelaksanaan intervensi, dan tindak lanjut, dapat disimpulkan bahwa Teknik penguatan positif efektif dalam mengurangi perilaku membolos pada subjek. Pemberian penguatan berupa apresiasi setiap kali subjek menunjukkan kehadiran yang baik terbukti mampu meningkatkan motivasi dan mendorong munculnya perilaku disiplin secara lebih konsisten. Selama proses intervensi, subjek menunjukkan perubahan positif berupa peningkatan kehadiran, perbaikan kebiasaan tidur, serta berkurangnya kecenderungan untuk menghindari sekolah. Informasi dari wali kelas dan catatan absensi juga menguatkan bahwa subjek hadir lebih stabil dan jarang keluar kelas saat Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 jam kosong. Temuan pada tahap follow up menunjukkan bahwa perubahan perilaku tersebut tetap bertahan setelah program berakhir. Dengan demikian, penerapan penguatan positif dapat dijadikan alternatif strategi penanganan perilaku membolos, karena mampu mendorong perilaku adaptif melalui penguatan yang sederhana, terarah, dan konsisten. Saran Bagi Konselor Konselor perlu memberikan layanan yang lebih bersifat membangun, bukan hanya menegur atau memberi konsekuensi. Penguatan positif yang sederhana seperti pujian, perhatian, atau bantuan kecil dapat memberikan dampak besar bagi siswa yang sebelumnya merasa kurang dihargai. Konselor juga disarankan menjaga hubungan yang hangat agar siswa nyaman dan mau terbuka mengenai masalahnya. Bagi Guru dan Wali Kelas Guru dan wali kelas memiliki peran penting dalam memantau perubahan perilaku siswa sehari-hari. Ketika siswa menunjukkan usaha untuk hadir lebih disiplin, sebaiknya diberikan apresiasi meskipun dalam bentuk sederhana. Sikap suportif dari guru dapat membuat siswa merasa diakui dan termotivasi untuk mempertahankan perilaku Bagi Orang Tua Orang tua diharapkan lebih memperhatikan rutinitas anak, terutama mengenai pola tidur, kebiasaan bermain, dan kesiapan berangkat sekolah. Komunikasi yang hangat dan tidak menghakimi dapat membantu siswa lebih terbuka ketika mengalami kesulitan. Dukungan dari rumah akan memperkuat perubahan positif yang sudah terbentuk di Bagi Pihak Sekolah Sekolah sebaiknya mulai mengembangkan pendekatan pembinaan yang lebih menekankan pada penguatan, bukan semata-mata hukuman. Sistem apresiasi untuk perilaku positif dapat menjadi bagian dari budaya sekolah. Selain itu, mekanisme penanganan siswa yang terlambat atau membolos perlu dibuat lebih humanis agar tidak menimbulkan rasa takut atau enggan untuk memperbaiki absen. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian lanjutan dapat melibatkan lebih banyak subjek atau dilakukan dalam jangka waktu yang lebih panjang untuk melihat keberlanjutan perubahan perilaku. Peneliti lain juga dapat mencoba memadukan positive reinforcement dengan teknik konseling lain agar hasilnya semakin optimal. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang P-ISSN 2622-674X / E-ISSN 2721-9585 Volume 7 Nomor 2 Desember 2025 DAFTAR PUSTAKA