MEDIA WISATA ISSN 16935969 - EISSN 26858436 Volume 23. Number 2, 2025 http://jurnal. id/index. php/MWS Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA. Yogyakarta. Indonesia PAKET WISATA BUDAYA DI KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT MELALUI PERTUNJUKAN WAYANG WONG GAGRAK YOGYAKARTA * Enny Mulyantari1. Mona Erythrea Nur Islami2. Diajeng Kusuma Megandini3 . Setyo Prasiyono Nugroho4 1-4Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA. Yogyakarta. Indonesia Email: ennymulyantari@yahoo. *(Correspondence autho. ABSTRACT Yogyakarta Style Wayang Wong is a traditional performance art that blends dance, music, and theater into a cohesive artistic experience. Article History Nowadays, these performances are held at the Srimanganti Hall in Submitted: the Yogyakarta Palace as part of a tourist attraction. The inclusion of 20 July 2025 Wayang Wong in tourism is thought to have altered its original Reviewed: purpose and function, highlighting the need to understand how dance 20 July 2025 artists perceive and engage with this change. This study aims to Accepted: explore the perspectives and roles of dance artists regarding Wayang 05 November 2025 Wong as a cultural tourism draw. The research employs a descriptive Published: qualitative method with a phenomenological approach, which seeks 15 November 2025 to uncover the meanings of experiences shared by individuals. In this context, dance artists involved in Wayang Wong are facing various They are aware of the implications of these changes, particularly the commercialization of Wayang Wong as a tourist attraction, leading to distinct viewpoints and roles among the artists. The findings indicate that . the transformation of the performance has resulted in changes to its value and function due to its focus on tourism. dance artists serve both as conservers and commercial proponents of Wayang Wong as a cultural tourism experience. Keywords: Wayang Wong. Artists. Cultural Tourism. Attraction. Keraton Ngayogyakarta PENDAHULUAN Diskusi mengenai pariwisata tetap menarik karena sektor ini selalu berkembang dan dinamis. Berbagai media sering kali menampilkan konten yang berkaitan dengan pariwisata, mulai dari ulasan destinasi atau objek wisata, promosi fasilitas pendukung seperti maskapai, restoran, dan akomodasi, hingga film yang berlatar di lokasi tertentu. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan mendefinisikan pariwisata sebagai perjalanan sementara dari satu tempat ke tempat lain, biasanya dilakukan untuk mencari hiburan, menyegarkan pikiran, atau menghabiskan waktu luang bersama keluarga. Soekadijo . Article DOI: 10. 36276/mws. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 menyebutkan bahwa ada tiga faktor utama yang menarik perhatian wisatawan: potensi alam, budaya, dan manusia sebagai pelaku dalam kegiatan wisata. Motivasi wisatawan untuk bepergian bervariasi, baik secara umum maupun lebih spesifik. Tunggul Prasodjo . menyatakan bahwa keinginan wisatawan untuk mengunjungi objek wisata budaya sering kali dipicu oleh rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengeksplorasi pengalaman baru, termasuk mencari nilai etika dan estetika dari budaya yang berbeda. Di samping itu. Organisasi Pariwisata Dunia (WTO) memperkirakan bahwa sekitar 40% motivasi perjalanan wisata global dipengaruhi oleh faktor budaya (Mulyantari, 2. Industri pariwisata, dari sudut pandang budaya, memiliki peranan penting dalam perkembangan budaya Indonesia. Dengan adanya objek wisata, berbagai aspek keragaman budaya seperti seni tradisional, ritual keagamaan, dan adat istiadat dapat diperkenalkan kepada wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Pertumbuhan pariwisata juga telah menciptakan kesempatan bagi wisatawan untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal, yang meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan budaya. Melalui interaksi ini, wisatawan dapat lebih mengenal, menghargai, dan memahami budaya lokal yang dianut masyarakat setempat di destinasi yang mereka kunjungi. Pertumbuhan pariwisata budaya juga diiringi oleh munculnya pasar niche yang beragam, termasuk wisata warisan, gastronomi, seni, film, dan kreatif. Dinamika budaya ini mendorong perkembangan berbagai pendekatan budaya dari berbagai disiplin Menurut Soedarsono . , seni wisata memiliki karakteristik unik, antara lain sebagai tiruan bentuk asli yang disajikan dalam durasi lebih pendek atau format lebih ringkas, memiliki variasi yang banyak, serta menghilangkan unsur sakral, magis, dan simbolik yang sebelumnya ada. Selain itu, seni wisata biasanya ditawarkan dengan harga yang lebih terjangkau. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terdapat banyak potensi wisata budaya, salah satunya adalah seni Berbagai seni pertunjukan di DIY dapat ditemukan di lokasi-lokasi terkenal seperti Kraton Yogyakarta. Candi Prambanan, dan Museum Sonobudoyo, yang menawarkan pertunjukan berbeda dan unik bagi wisatawan. Seni pertunjukan mencakup berbagai jenis yang dibedakan berdasarkan bentuk seni yang ditampilkan. Di Indonesia, seni ini telah ada sejak masa prasejarah dan awalnya berfungsi dalam konteks ritual keagamaan. Perkembangannya semakin terlihat seiring waktu, dengan pengaruh budaya Hindu. Islam, masa kolonial, hingga munculnya karya-karya baru pasca kemerdekaan. Transformasi ini berlanjut pada masa Orde Baru dan terus berlanjut hingga era globalisasi. Wulan dkk . menyatakan bahwa seni tari, yang awalnya merupakan ekspresi religius dan penghormatan kepada Tuhan, telah beradaptasi sejalan dengan peluang dalam seni yang berfokus pada pariwisata. Industri pariwisata memberikan kesempatan bagi seni untuk berkembang dan dipresentasikan sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Dalam hal ini, kesenian yang diciptakan untuk kepentingan lokal disebut art by destination, sedangkan yang disesuaikan untuk wisatawan asing disebut art by metamorphosis, art of acculturation, pseudo traditional art, atau tourist art. Seni pertunjukan yang dirancang untuk wisatawan perlu disesuaikan dengan minat dan selera audiens, yang mengakibatkan perubahan dalam cara penyajiannya. Kesenian ini dikenal sebagai seni wisata atau tourist art, karena ditujukan khusus untuk konsumsi wisatawan. Sebagai akibatnya, seni tersebut bertransformasi menjadi komoditas, yang juga terlihat dalam bentuk suvenir. Ini sejalan dengan ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 perkembangan seni pertunjukan sebagai daya tarik wisata yang khusus diperuntukkan bagi para wisatawan. Saat ini, seni pertunjukan lebih menekankan efisiensi, terutama dalam hal durasi pertunjukan. Dalam konteks pariwisata budaya, daya tarik merupakan elemen kunci yang menarik kedatangan wisatawan. Oleh karena itu, atraksi tersebut harus mampu menampilkan keaslian, orisinalitas, dan keunikan agar dapat bersaing dengan atraksi serupa. Perkembangan seni pertunjukan sebagai bagian dari seni wisata sangat dipengaruhi oleh peran para seniman tari. Keterlibatan penari atau pelaku seni menjadi elemen penting, terutama karena pertunjukan Wayang Wong sangat bergantung pada kehadiran manusia sebagai aktor. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku seni merupakan komponen utama dalam penyelenggaraan pertunjukan yang ditujukan bagi Nilai-nilai yang dibawakan dalam pertunjukan pun lebih berfokus pada aspek hiburan, karena setiap pertunjukan menampilkan gerak dan aksi penari yang Salah satu jenis seni pertunjukan yang menarik bagi wisatawan dan menjadi simbol budaya Yogyakarta adalah Wayang Wong. Wayang Wong adalah bentuk drama yang menggabungkan dialog dengan seni tembang. Di Kraton Yogyakarta, pertunjukan Wayang Wong disajikan sebagai bagian dari paket wisata dan diadakan setiap akhir pekan di Bangsal Srimanganti, melibatkan sejumlah sanggar dan paguyuban seni yang tampil sesuai jadwal. Cerita yang dibawakan dalam pertunjukan ini bervariasi, biasanya diambil dari epos Mahabharata dan Ramayana. Awalnya, pertunjukan Wayang Wong di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengikuti format pementasan wayang kulit. Selain itu. Wayang Wong juga berfungsi sebagai simbol legitimasi kekuasaan bagi raja pada masa itu. Namun, seiring waktu, bentuk dan fungsi Wayang Wong di Yogyakarta mengalami banyak perubahan. Dulu, pertunjukan ini hanya diselenggarakan di dalam lingkungan istana untuk raja dan keluarganya, dengan kadang-kadang dihadiri oleh pejabat kolonial Belanda, sementara kini Wayang Wong telah bertransformasi menjadi sebuah drama tari yang sebelumnya bersifat ritual kenegaraan dan kaya akan unsur politik. Sebagai ritual kenegaraan. Wayang Wong telah memunculkan berbagai warisan budaya tak benda dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang mencerminkan nilai-nilai budaya Jawa yang dalam. Dari sudut pandang budaya, masyarakat kini menggunakan Wayang Wong gaya Yogyakarta sebagai daya tarik wisata. Dalam hal ini, abdi dalem yang juga berfungsi sebagai pengajar tari . amucal beks. mengembangkan Wayang Wong di luar istana dengan mendirikan kelompok seni atau sanggar di sekitar kraton. Para penari Wayang Wong dikenal memiliki karakteristik dan keahlian tinggi dalam menari, karena Wayang Wong gaya Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jenis Wayang Wong lainnya, terutama dalam teknik gerak tarinya dan penguasaan dialog prosa berbahasa Jawa. Seni pertunjukan Wayang Wong, sebagai bagian dari seni wisata, memiliki dua fungsi penting: sebagai daya tarik bagi destinasi wisata dan sebagai bentuk ekspresi yang memberikan makna bagi setiap individu. Meskipun melalui berbagai penyesuaian, pertunjukan ini tetap mempertahankan nilai-nilai unik yang dapat diteliti melalui elemen-unsur yang menyusunnya. Saat ini. Wayang Wong semakin menarik perhatian wisatawan karena bisa dinikmati di luar lingkungan istana. Sebagai atraksi wisata, pertunjukan ini telah mengalami berbagai adaptasi dalam konteks seni pertunjukan. Dulu. Wayang Wong hanya bisa ditonton pada waktu- ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 waktu tertentu dalam acara keraton atau negara, sehingga hanya segelintir orang yang dapat menyaksikannya. Kini, penyajiannya di luar istana tidak hanya memberikan akses bagi publik, tetapi juga menciptakan makna baru bagi para seniman yang terlibat dalam keberlanjutan Wayang Wong sebagai seni pertunjukan Pementasan Wayang Wong yang rutin di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menunjukkan tanggapan positif dari pihak Kraton Yogyakarta dalam upaya menghadirkan inovasi untuk destinasi wisata. Langkah ini diambil agar kekayaan budaya lebih dikenal oleh masyarakat, terutama wisatawan. Sebagai atraksi budaya. Wayang Wong dianggap dapat menambah variasi produk wisata yang ada. Pertunjukan Wayang Wong gaya Yogyakarta berlandaskan pada struktur pementasan wayang kulit purwa, yang mengangkat kisah-kisah dari epos Ramayana atau Mahabharata. Elemen-elemen pementasan, seperti karakter, kostum, dan riasan, menjadi ciri khas dalam setiap pertunjukan. Berdasarkan latar belakang ini, masalah yang akan dibahas dalam artikel ini dapat dirumuskan sebagai berikut: . apa pandangan para seniman tari mengenai seni pertunjukan Wayang Wong sebagai atraksi wisata budaya?. Apa peran seniman tari dalam penyelenggaraan seni pertunjukan Wayang Wong sebagai atraksi wisata budaya?. Dengan demikian, tujuan penelitian ini secara khusus adalah untuk memahami pandangan dan peran para seniman tari dalam pementasan Wayang Wong. ertunjukan Wayang Wong sebagai atraksi wisata budaya. LITERATURE RIVIEW Seni Pertunjukan Bahri . menyatakan bahwa seni adalah kegiatan yang dilakukan pada waktu senggang, di luar jam kerja, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Aktivitas ini berfungsi sebagai cara untuk bersantai dan mengurangi stres akibat rutinitas kerja. Di sisi lain. Akuari . menggambarkan seni pertunjukan sebagai ekspresi budaya yang berperan sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya serta mencerminkan norma estetis dan artistik yang berkembang seiring waktu dan lokasi seni itu muncul. Sahri . mengategorikan seni pertunjukan menjadi beberapa jenis, yaitu: . seni musik, yang mengolah suara menjadi pola yang dapat . seni tari, yang merupakan bentuk gerakan yang indah, ritmis, dan artistik sesuai dengan maksud tarinya. seni teater, yang berfokus pada pertunjukan akting di atas panggung. Selain itu. Soedarsono . menyebutkan bahwa seni pertunjukan memiliki berbagai fungsi, seperti alat ritual, hiburan pribadi, serta presentasi estetis yang mengajarkan nilai-nilai perilaku manusia. Oleh karena itu, seni pertunjukan berperan tidak hanya sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai cara untuk menyampaikan nilai budaya, sarana ritual, media hiburan, dan refleksi estetika masyarakat. Variasi bentuk dan fungsinya menunjukkan bahwa seni pertunjukan memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya, termasuk dalam pariwisata yang memanfaatkan seni sebagai daya tarik dan media interpretasi budaya. Wayang Wong Wayang Wong adalah salah satu jenis teater tradisional Jawa yang menggabungkan seni drama Barat dengan tradisi pertunjukan wayang yang ada di ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 Jawa. Kesenian ini pertama kali muncul dan berkembang terutama di lingkungan keraton dan kalangan bangsawan Jawa (Soedarsono, 1. Wayang Wong bisa diartikan sebagai seni drama tari yang dilengkapi dialog prosa yang diadaptasi dari kisah wayang kulit purwa, khususnya dari epos Ramayana dan Mahabharata. Dalam pertunjukannya. Wayang Wong umumnya mengikuti pola pertunjukan wayang kulit purwa dalam hal peran, karakter, gaya bicara, serta tata rias dan kostum, semua berdasarkan pada tradisi wayang yang ada. Sebagai sebuah seni pertunjukan. Wayang Wong memiliki beberapa karakteristik (Soedarsono, 1. Pertunjukan ini tidak terlepas dari elemen penting seperti gerakan tari, kostum, iringan gamelan, tembang, dialog, dan makeup, yang semuanya membentuk sebuah kesatuan artistik. Pertama, kemampuan menari merupakan keterampilan utama yang harus dimiliki oleh penari, ditambah dengan kemampuan lain seperti bernyanyi dan mengingat Kedua. Wayang Wong mencerminkan nilai-nilai tata krama, etika, dan sopan Ketiga, dialog sering kali disampaikan dalam bentuk tembang yang memiliki dua jenis: bhowo atau swara lola, yang dinyanyikan tanpa musik, dan greget saut yang mencerminkan suasana dan emosi tertentu. Keempat, ada konsep wirogo, wiroso, dan wiromo, yang berarti gerakan yang didorong oleh fisik, perasaan, dan Kelima, kostum dan makeup dalam Wayang Wong disesuaikan dengan karakter yang dimainkan, masing-masing memiliki ciri khas dari bentuk mahkota, aksesori, senjata, hingga riasan mata dan elemen lainnya. Atraksi Wisata Budaya Daya tarik wisata adalah komponen penting yang memotivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi, menurut Ismayanti . Daya tarik ini dapat berupa atraksi alam, budaya, atau wisata dengan minat khusus (Yoeti, 2. Indonesia, atraksi budaya dianggap sebagai salah satu unggulan oleh pelaku industri Richard dan Munsters . menjelaskan bahwa produk wisata terbagi menjadi dua kategori: produk inti yang bersifat fisik dan produk tambahan yang mencakup layanan dan fasilitas wisata. Wisata budaya sangat terkait dengan produk wisata ini, karena merupakan salah satu daya tarik di destinasi. Spillane . mengemukakan bahwa pariwisata budaya didorong oleh berbagai motivasi, termasuk keinginan untuk belajar di pusat pendidikan dan penelitian, memahami tradisi dan institusi sosial, mengenal cara hidup masyarakat lain, serta mengunjungi situs bersejarah, pusat seni dan agama, serta berpartisipasi dalam festival musik, teater, dan tarian tradisional. Ragam aktivitas dalam pariwisata budaya sangat luas, mencakup seni pertunjukan, seni rupa, festival, kuliner tradisional, sejarah, serta pengalaman nostalgia dan gaya hidup lokal (Pitana & Diarta, 2. Sejalan dengan itu. Corry . mengartikan wisata budaya sebagai perjalanan yang bertujuan untuk memperluas perspektif melalui kunjungan ke daerah atau negara lain dan mempelajari kondisi sosial, kebiasaan, adat, cara hidup, budaya, dan seni masyarakat setempat. Fenomenologi Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani "phainomenon," yang berarti gejala atau sesuatu yang terlihat (Azkiya, 2. Asih . menguraikan bahwa fenomenologi adalah pendekatan untuk memahami kesadaran dari sudut pandang orang pertama. Secara harfiah, fenomenologi merujuk pada studi tentang fenomena, yaitu segala hal yang muncul dalam pengalaman subjektif manusia, atau bagaimana individu merasakan berbagai peristiwa di sekitarnya. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 Pendekatan ini berusaha untuk menjelaskan esensi suatu fenomena agar dapat menggambarkan keadaan sebenarnya dengan akurat. Fokus fenomenologi adalah pada cara individu mengalami fenomena tertentu. pengalaman ini terbentuk tidak hanya dari peristiwa itu sendiri, tetapi juga dari cara fenomena tersebut hadir dan dirasakan dalam kehidupan seseorang. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono . , metode deskriptif kualitatif berlandaskan pada filsafat postpositivisme dan umumnya diterapkan pada penelitian yang mempelajari kondisi objek secara alamiah, dimana peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi langsung dan indepth interview dengan pihak-pihak yang relevan. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini, peneliti memilih tiga narasumber yang merupakan abdi dalem penari di Kraton Yogyakarta sekaligus pengajar tari di luar lingkungan Kraton Ngayogyakarta. Desain penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi. Hasbiansyah . menyatakan bahwa fenomenologi berangkat dari pandangan bahwa realitas tidak dapat dipahami sepenuhnya melalui pengalaman sehari-hari. Oleh karena itu, fenomenologi berupaya menggali pengalaman yang dihayati secara langsung sebagai dasar untuk memahami suatu realitas. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat menghasilkan kesimpulan yang tepat dan menjawab rumusan masalah terkait pandangan serta peran seniman tari dalam seni pertunjukan Wayang Wong gaya Yogyakarta sebagai atraksi wisata budaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang terletak di Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan luas 14. 000 meter persegi, kraton ini berada di pusat kota dan terdiri dari berbagai bangunan yang menjadi tempat tinggal sultan, keluarganya, dan abdi dalem. Di utara kraton terdapat alun-alun utara, sementara di selatannya terdapat alun-alun selatan, dan lokasi ini juga dekat dengan kawasan Malioboro (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, 2. Kraton berfungsi sebagai pusat kegiatan budaya dan kediaman Sri Sultan Hamengkubuwono serta keluarganya, sehingga tidak semua area dapat diakses oleh publik. Arsitektur bangunan dipengaruhi oleh gaya Eropa (Portugis dan Beland. serta China. Rancangan kraton dibuat oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, yang juga merupakan pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Desain utama bangunan dan tata ruang keraton serta kota tua Yogyakarta disusun antara tahun 1755-1756 (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, 2. Di area kraton terdapat sebuah halaman yang digunakan untuk pertunjukan sebagai bagian dari paket wisata, yang meliputi pertunjukan wayang kulit, uyon-uyon, macapat, dan Wayang Wong. Halaman tersebut adalah Plataran Srimanganti, di mana terdapat bangunan utama. Bangsal ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 Srimanganti, yang terletak di sisi barat dan digunakan oleh Sultan untuk menyambut tamu. Menurut wawancara dengan informan pertama, pertunjukan Wayang Wong di kraton sebelumnya hanya diadakan pada acara-acara tertentu, dan setiap pertunjukan berlangsung selama tiga hari dengan cerita yang padat. Durasi pertunjukan sebenarnya bergantung pada cerita atau lakon yang ditampilkan dan cara sutradara mengatur cerita menjadi adegan demi adegan dengan karakterkarakter yang ada serta alur ceritanya. Di bawah pemerintahan Sultan Hamengkubuwana IX, pertunjukan Wayang Wong hanya diselenggarakan satu atau dua kali setahun untuk merayakan Tingalan Jumenengan Dalem, atau hari ulang tahun kenaikan tahta raja. Namun. Wayang Wong juga dapat menjadi bagian dari ritual kenegaraan atau jamuan bagi tamu negara yang mengunjungi Kraton. Pertunjukan ini dapat dipandang sebagai simbol legitimasi kekuasaan raja, di mana Wayang Wong berfungsi sebagai strategi untuk menunjukkan kemuliaan seorang raja. Keunikan pertunjukan Wayang Wong gaya Yogyakarta terletak pada alur cerita, yang mengikuti struktur drama pada umumnya, mengingat Wayang Wong adalah drama tari dan memerlukan alur yang jelas untuk membantu penonton memahami cerita. Menurut wawancara dengan narasumber, alur cerita dalam Wayang Wong terdiri dari tiga bagian: . Pengenalan Cerita, di mana adegan-adegan mengenalkan karakter dan sifat mereka, dengan elemen simbolis terkait lokasi dan menunjukkan strata sosial antara raja dan prajurit. Pemunculan Konflik, saat insiden yang menimbulkan konflik mulai muncul, ditandai dengan dialog yang saling berlawanan. Komplikasi, di mana konflik meningkat dan menimbulkan insiden yang semakin menegangkan, diwarnai dengan gerakan tari yang dinamis. Klimaks, momen puncak yang terasa nyata bagi penonton saat konflik mencapai titik tertinggi, ditandai dengan pertarungan antar pasukan dan perpindahan para penari yang cepat, ditambah dengan iringan musik cepat serta penggunaan properti seperti keris dan pedang. Gambar 1. Adegan jejeran Dalam pertunjukan Wayang Wong gaya Yogyakarta, dialog antara tokoh mirip dengan pertunjukan drama biasa, tetapi memiliki intonasi yang khas yang membedakannya dari Wayang Wong gaya Surakarta atau Bali. Dialog dalam gaya Yogyakarta cenderung monoton dan fokus pada penggambaran karakter secara keseluruhan, tidak menonjolkan emosi tokoh melalui intonasi. Meskipun dialog mengikuti ketentuan naskah yang telah ditentukan dan memiliki nada monoton. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 artikulasi dan karakter tetap menjadi prioritas. Ciri khas dari Wayang Wong gaya Yogyakarta adalah intonasi monoton, di mana pelafalan setiap tokoh dibedakan hanya melalui variasi nada tinggi dan rendah tanpa banyak improvisasi. Gerakan penari dalam pertunjukan Wayang Wong merujuk pada gerakan wayang kulit Penggambaran karakter tokoh diwujudkan dalam variasi gerak tari yang disesuaikan dengan masing-masing karakter. Melalui gerakan tari yang ditampilkan, penari dapat memperlihatkan perbedaan antara karakter yang halus dan yang keras. Menurut Soedarsono . , gerakan tari dalam Wayang Wong dapat dianalisis dari bentuknya, yaitu simetris dan asimetris. Garis gerak yang simetris menciptakan kesan sederhana, tenang, dan kokoh, sementara pola gerak asimetris memberikan kesan dinamis, meskipun terkadang kurang kokoh. Panggung pertunjukan Wayang Wong menggunakan bentuk persegi panjang yang dikenal sebagai Pendopo. Penggunaan Pendopo sebagai tempat pertunjukan tidak tanpa alasan. tata cara keluar masuk penari menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Selain itu. Pendopo dianggap sebagai simbol keagungan pertunjukan Wayang Wong, sehingga esensi dari pertunjukan ini tetap terjaga. Gambar 2. Pendopo Bangsal Srimanganti Tata Busana dan Rias dalam pertunjukan Wayang Wong bergaya Yogyakarta tetap berpegang pada norma busana Jawa. Contohnya, penari putri mengenakan kain panjang yang menutupi seluruh tubuh, terutama dari perut hingga kaki. Ini bertujuan untuk menjaga identitas feminim penari dan menciptakan kesan bahwa perempuan Jawa tidak berjalan dengan kaki terbuka lebar atau mengangkat kaki Prinsip yang sama diterapkan pada penari putra. untuk menegaskan identitas maskulin mereka, mereka mengenakan busana yang memungkinkan gerakan yang bebas dan fleksibel. Sebagai contoh, penari putra menggunakan celana panjang yang mencapai lutut dan dibalut kain, serta ngliga, di mana mereka tidak mengenakan baju atau tampil telanjang dada sesuai dengan norma etika Jawa, kecuali untuk karakter tertentu seperti raksasa dan kera. Kostum untuk raksasa dan kera cenderung lebih tertutup dan menggunakan topeng sebagai pengganti riasan Menurut Soedarsono . , konsep etika Jawa mengenai penari putra yang telanjang dada di masa lalu berkaitan dengan peraturan pakaian pada masa kolonial Belanda, di mana hanya bangsawan dan abdi dalem yang diperbolehkan masuk ke istana dalam kondisi telanjang dada dan tanpa alas kaki, sementara orang Belanda diizinkan mengenakan pakaian dan alas kaki. ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 Gambar 3. Penari Putra (Kir. dan Gambar Tokoh Raksasa (Kana. Pandangan Seniman Tari Wayang Wong terhadap Seni Pertunjukan sebagai Daya Tarik Wisata Budaya. Wayang Wong awalnya dipentaskan dalam acara Ae acara resmi atau upacara adat tertentu. Pada masa Sultan Hamengkubuwana I, pertunjukan ini berlangsung selama sekitar tiga hari dengan cerita yang berkelanjutan. Namun, seiring waktu, durasinya dikurangi menjadi tiga hingga empat jam dengan penyesuaian cerita, namun tetap bertujuan untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem. Perkembangan ini juga membawa perubahan pada aspek visual, seperti penari dan kostum yang kini lebih berwarna variatif serta didukung dengan rias wajah. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kini menjadi objek wisata budaya dengan berbagai atraksi, salah satunya adalah pertunjukan Wayang Wong. Kehadiran Wayang Wong sebagai bagian dari atraksi wisata di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dikemas dalam paket wisata menjadi hal yang menguntungkan bagi para seniman Untuk menjaga Wayang Wong sebagai pertunjukan wajib dan rutin, penting adanya perspektif dari para seniman yang juga terlibat dalam seni pertunjukan. Perspektif ini akan memberikan dasar penyesuaian yang mencerminkan kesadaran bahwa Wayang Wong telah menjadi bagian dari atraksi wisata budaya di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Wayang Wong adalah pertunjukan yang sangat mengedepankan nilai Ae nilai luhur dari kraton, bukan sekadar pertunjukan tari biasa. Setiap individu yang terlibat dalam pementasan Wayang Wong wajib mematuhi aturan-aturan yang ada. Sebagai bagian dari atraksi wisata. Wayang Wong mengalami evolusi sejalan dengan perubahan ruang dan waktu, sehingga seni wisata ini harus menyesuaikan diri dengan selera pasar, terutama dalam industri pariwisata yang dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Salah satu elemen yang mempengaruhi perubahan ini berkaitan dengan permintaan pasar, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti media rekreasi yang memberikan akses bagi masyarakat terhadap produk budaya massal yang memiliki fungsi kepuasan, para produsen media rekreasi yang menciptakan, memfasilitasi, atau mendistribusikan produk budaya, serta konsumen yang memanfaatkan produk budaya untuk tujuan psikologis atau sosial. Menurut pandangan para seniman. Wayang Wong sebagai atraksi wisata budaya disambut dengan antusias, tetapi mereka menyadari bahwa akan ada perubahan yang tidak terhindarkan ketika pertunjukan ini dijadikan daya tarik bagi Banyak aspek dari pertunjukan Wayang Wong yang akan berubah, baik dalam cara penyampaian maupun tujuannya, bahkan fungsinya. Seniman percaya ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 bahwa perubahan ini akan sedikit mengubah nilai-nilai yang terkandung dalam Wayang Wong, meskipun secara umum, pertunjukan untuk wisatawan masih mengikuti kaidah yang ada. Terdapat elemen magis dan sakral yang tidak seharusnya disajikan kepada pengunjung, sehingga pertunjukan Wayang Wong saat ini diangap sebagai versi tiruan dari yang sebenarnya. Elemen sakral biasanya ditandai dengan adanya cerita tertentu yang telah disepakati dan merupakan dhawuh dalem, di mana persiapan pertunjukannya melibatkan ritual yang melibatkan semua peserta. Namun, pertunjukan Wayang Wong untuk wisatawan dianggap tidak memerlukan elemen tersebut, sehingga nilai-nilai sakral ini hanya dapat dirasakan pada waktu-waktu tertentu. Para seniman juga khawatir bahwa nilai-nilai yang ada dalam Wayang Wong bisa mengalami perubahan yang signifikan. Pergeseran nilai yang mereka maksud bersifat kompleks dan menyeluruh, karena nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari keseluruhan pertunjukan. Perubahan ini terkait dengan nilai-nilai yang melekat pada Wayang Wong, termasuk nilai keluhuran, kesakralan, dan keagungan, yang dianggap sebagai identitas dari Wayang Wong sebagai pertunjukan istana. Para seniman merasakan perbedaan dalam berbagai aspek, baik dari segi pertunjukan maupun teknis. Sisi Pertunjukan Para penari mengungkapkan bahwa perubahan dalam pertunjukan Wayang Wong sebagai daya tarik wisata terlihat dari segi presentasinya. Terdapat penyesuaian pada materi penampilan, seperti pemilihan naskah yang lebih sederhana, di mana sutradara memilih cerita yang lebih mudah dipahami. Hal ini berbeda dengan saat Wayang Wong menjadi bagian dari ritual, di mana cerita yang dipilih memiliki nilai yang lebih dalam. Struktur cerita juga lebih ringkas, tanpa adegan lucu yang terlalu mencolok, karena sutradara lebih fokus pada keseimbangan antara kesan dramatis dan atraktif. Di samping itu, jumlah karakter dalam pertunjukan juga berkurang, yang berkaitan dengan naskah yang ada, sehingga hubungan antar tokoh menjadi lebih erat. Dengan jumlah karakter yang lebih sedikit, imajinasi wisatawan terhadap alur cerita menjadi lebih mudah terbentuk dan lebih logis. Selain itu, naskah dialog juga dirancang lebih singkat dan sederhana untuk mempertimbangkan durasi pertunjukan dan jumlah karakter yang Penyesuaian dalam aspek pertunjukan adalah salah satu dari sedikit perubahan yang terjadi pada Wayang Wong, sehingga penting untuk melakukan pertimbangan khusus dalam mengemasnya. Upaya ini bertujuan agar nilai-nilai luhur yang telah melekat pada seni pertunjukan Wayang Wong tidak hilang hanya karena adanya kebutuhan untuk menarik wisatawan. Sisi Teknis Para penari percaya bahwa perubahan juga terjadi dalam jumlah peserta yang Dalam konteks ini, kehadiran penari dianggap sebagai aspek teknis yang berhubungan erat dengan pertunjukan. Selain itu, durasi penampilan telah dipangkas menjadi 60-90 menit. Penyesuaian teknis ini menjadi tantangan bagi para seniman untuk mengoptimalkan waktu yang ada, serta jumlah penari yang terlibat, agar dapat menarik perhatian wisatawan dengan penampilan yang menarik. Keterkaitan antara aspek teknis dan pertunjukan sangat signifikan, karena ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 pertunjukan yang menyatu sebagai atraksi wisata akan mengubah beberapa karakteristik asli Wayang Wong itu sendiri. Perubahan tersebut merupakan bagian dari adaptasi Wayang Wong sebagai daya tarik budaya di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, meskipun dapat menggeser esensi dari seni tersebut. Saat ini, penonton lebih cenderung menjadi pengamat yang menikmati pengalaman audio dan visual, bukan berpartisipasi aktif dalam pergelaran seperti pada masa lalu ketika pertunjukan ditujukan untuk istana. Unsur historis Wayang Wong kini lebih mengarah pada hiburan, meskipun tetap dianggap pertunjukan yang megah berkat lokasi yang dipilih di pendopo serta iringan gamelan dan properti yang digunakan oleh penari. Aturan dalam pementasan juga terlihat dari sistem masuk dan keluar penari, yang mewajibkan mereka untuk melakukan sikap jengkeng sebelum meninggalkan pendopo. Peran Penari dalam Pertunjukan Wayang Wong Sebagai Daya Tarik Pariwisata Budaya Pertunjukan Wayang Wong sebagai atraksi wisata budaya di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat melibatkan seniman tari sebagai pelaku Keberadaan seniman tari mengambil peran penting mengingat seniman tari tidak hanya sebatas penari namun juga berperan sebagai pelaku pariwisata secara tidak langsung. Soekanto . peran merupakan aspek dinamis kedudukan . , apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan. Sedangkan Riyadi . berpendapat, bahwa peran dapat diartikan sebagai orientasi dan konsep dari bagian yang dimainkan oleh suatu pihak dalam oposisi sosial. Peran juga diartikan sebagai tuntutan yang diberikan secara struktural . orma-norma, harapan, tabu, tanggung jawab dan lainny. yang di dalamnya terdapat serangkaian tekanan dan kemudahan yang menghubungkan pembimbing dan mendukung fungsinya dalam mengorganisasi. Berdasarkan pendapat tersebut maka sama halnya definisi peran untuk seniman tari yang terkhusus pada bidang pariwisata. Peran seniman tari dalam Wayang Wong sebagai atraksi wisata tidak bisa dianggap mudah karena mereka harus memahami tentang konteks seni pertunjukan untuk kebutuhan pariwisata. Peran yang diambil bisa berupa kegiatan yang berkaitan dengan pertunjukan dan upaya pemertahanan nilai atau biasa disebut sebagai pelaku konservasi. Kedua hal tersebut berkaitan erat dengan siklus seni untuk wisata mengingat Wayang Wong merupakan pertunjukan yang mewakili identitas keluhuran dan kemegahan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pertunjukan Wayang Wong di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berfungsi sebagai daya tarik wisata budaya dan melibatkan para seniman tari sebagai Keberadaan mereka sangat penting, karena seniman tari tidak hanya sekadar menari, tetapi juga berkontribusi pada sektor pariwisata secara tidak Menurut Soekanto . , peran adalah aspek dinamis dari kedudukan . seseorang, dan ketika individu menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan posisinya, mereka memegang peranan tertentu. Riyadi . menambahkan bahwa peran dapat dipahami sebagai orientasi dan konsep dari bagian yang dimainkan dalam interaksi sosial. Peran ini mencakup tuntutan struktural . eperti norma, harapan, tanggung jawab, dan lain-lai. yang menghubungkan dan mendukung fungsi individu dalam mengorganisasi. Dengan demikian, definisi peran dapat diterapkan pada seniman tari dalam konteks ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 Tugas seniman tari dalam Wayang Wong sebagai atraksi wisata sangatlah kompleks, karena mereka perlu memahami konteks seni pertunjukan untuk tujuan pariwisata. Peran mereka meliputi kegiatan yang berhubungan dengan pertunjukan dan upaya menjaga nilai-nilai budaya, yang sering disebut sebagai pelaku konservasi. Keduanya saling berkaitan erat dalam siklus seni untuk pariwisata, mengingat bahwa Wayang Wong mencerminkan identitas dan kemewahan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Seniman tari berperan sebagai pelaku konservasi dengan memahami bahwa konservasi adalah usaha untuk menjaga, melestarikan, dan menerima perubahan atau perkembangan yang terjadi secara alami, bukan secara tiba-tiba. Perubahan yang terjadi pada Wayang Wong sebagai atraksi wisata memerlukan pemahaman mendalam dari seniman tari tentang seni untuk pariwisata. Seniman tari menunjukkan peran mereka sebagai pelaku konservasi dengan mempertahankan nilai-nilai luhur Wayang Wong. Upaya untuk melestarikan nilai-nilai tersebut dilakukan dengan mengedepankan filosofi joged Mataram, yang meliputi konsep sawiji . onsentrasi tota. , greged . emangat jiw. , sengguh . ercaya dir. , dan ora mingkuh . antang mundu. Oleh karena itu, konsep pelaku konservasi ini menuntut seniman tari untuk menjadi penjaga nilai-nilai Wayang Wong di tengah tuntutan seni pertunjukan yang ditujukan untuk pariwisata. Seniman tari berperan sebagai aktor utama dalam proses komodifikasi pertunjukan Wayang Wong. Secara umum, komodifikasi dipahami sebagai proses transformasi terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi (Subrata, 2. Adorno dkk. menjelaskan bahwa komodifikasi merupakan konsekuensi dari perkembangan industri budaya, di mana industri tersebut menghasilkan berbagai artefak kebudayaan yang diposisikan sebagai kebutuhan massa sekaligus menjadi faktor utama dalam proses produksinya. Dalam konteks ini, karya budaya yang semula sarat dengan nilai keotentikan . dan kebenaran . mengalami perubahan melalui proses produksi massal, sehingga bergeser menjadi komoditas yang dikalkulasikan berdasarkan orientasi keuntungan . Bentuk-bentuk komodifikasi tersebut berkembang seiring dengan penerapan standar-standar tertentu dalam masyarakat. Lebih lanjut, komodifikasi dalam ranah kebudayaan memiliki keterkaitan erat dengan dinamika seni pertunjukan dan pariwisata. Peningkatan kebutuhan wisata mendorong terjadinya komodifikasi budaya, mengingat wisatawan cenderung mencari pengalaman budaya yang berbeda dari lingkungan asal mereka, sekaligus dibatasi oleh keterbatasan waktu kunjungan yang dimiliki. Komodifikasi yang terjadi pada pertunjukan Wayang Wong di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai atraksi wisata tampak pada pengolahan unsurunsur pertunjukan tanpa menghilangkan esensi dasar Wayang Wong itu sendiri. Prinsip komodifikasi dalam pertunjukan Wayang Wong tercermin pada beberapa aspek, antara lain pemendekan durasi pertunjukan, pemilihan alur cerita yang lebih ringkas, pengurangan jumlah penari, penghilangan adegan goro-goro, serta penambahan sarana pendukung guna meningkatkan daya tarik visual pertunjukan bagi wisatawan. Melalui proses ini, unsur-unsur budaya yang sebelumnya sarat dengan nilai luhur, keotentikan . , dan kebenaran . mengalami penyesuaian sehingga diproduksi sebagai komoditas budaya dengan pertimbangan nilai ekonomi dan orientasi keuntungan . Bentuk-bentuk komodifikasi ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 tersebut berkembang seiring dengan penerapan standar-standar yang berlaku dalam masyarakat dan industri pariwisata. Dalam konteks kebudayaan, komodifikasi memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan seni pertunjukan dan pariwisata, khususnya sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan wisatawan yang menginginkan pengalaman budaya yang berbeda dari daerah asal mereka, sekaligus menghadapi keterbatasan waktu kunjungan. Kondisi inilah yang menjadi faktor utama munculnya komodifikasi dalam seni pertunjukan sebagai produk dari suatu kebudayaan. Dalam konteks pariwisata budaya. Wayang Wong diposisikan sebagai atraksi wisata yang dikemas dengan penekanan pada unsur hiburan yang menarik serta penyajian dramatik yang disederhanakan agar mudah dipahami oleh wisatawan. Proses komodifikasi dalam atraksi wisata budaya pada dasarnya berkaitan dengan orientasi ekonomi, karena pariwisata beroperasi dalam mekanisme pasar yang menuntut adanya nilai jual dan keuntungan. Di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, komodifikasi pertunjukan Wayang Wong tidak dilakukan dengan menghilangkan identitas dan nilai utamanya, melainkan melalui penyesuaian pada elemen-elemen Penyesuaian tersebut tercermin dalam pemangkasan durasi pementasan, pemilihan cerita yang lebih singkat dan padat, pembatasan jumlah penari yang terlibat, serta penghilangan adegan goro-goro. Selain itu, penambahan sarana pendukung juga dilakukan untuk memperkuat aspek visual dan estetika, sehingga pertunjukan menjadi lebih menarik bagi wisatawan tanpa meninggalkan esensi Wayang Wong sebagai seni pertunjukan tradisional. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan mengenai Seni Pertunjukan Wayang Wong gaya Yogyakarta sebagai atraksi wisata budaya dalam perspektif fenomenologi . tudi kasus di Kraton Ngayogyakarta Hadiningra. , dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai hasil penelitian ini. Keberadaan dan perkembangan Wayang Wong di lingkungan kraton mendorong pihak Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, melalui tim pengelola pentas paket wisata, untuk menetapkan Wayang Wong sebagai salah satu repertoar utama dalam pertunjukan paket wisata di Bangsal Srimanganti. Wayang Wong gaya Yogyakarta memiliki daya tarik tersendiri bagi penonton karena menyajikan perpaduan berbagai unsur seni tari, musik, tata rias, busana, dan dramatika yang terintegrasi secara harmonis, sehingga menghasilkan pertunjukan yang bersifat dramatik sekaligus atraktif. Ditinjau dari perspektif fenomenologi, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap seni pertunjukan Wayang Wong gaya Yogyakarta sebagai atraksi wisata budaya mencerminkan pengalaman dan kesadaran para pelaku seni yang terlibat di Para seniman tari memandang keberadaan Wayang Wong sebagai atraksi wisata budaya di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat secara positif, terutama dalam konteks pelestarian dan keberlanjutan pertunjukan. Namun demikian, para seniman juga menyadari adanya pergeseran esensi Wayang Wong, baik dari segi fungsi, tujuan, maupun sudut pandang pertunjukan, seiring dengan penyesuaiannya terhadap kebutuhan pariwisata. Dalam konteks pergeseran tersebut, peran seniman menjadi sangat penting dan strategis. Seniman tidak hanya berfungsi sebagai pelaku konservasi yang bertanggung jawab menjaga nilai-nilai filosofis dan estetis Wayang Wong, tetapi juga berperan sebagai agen dalam proses komodifikasi seni ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 Dengan demikian, seniman berada pada posisi ganda, yakni sebagai penjaga tradisi sekaligus sebagai pelaku yang terlibat aktif dalam pengemasan Wayang Wong sebagai atraksi wisata budaya. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut. Pertama, bagi para seniman tari, pementasan Wayang Wong gaya Yogyakarta yang dikemas sebagai atraksi wisata sekaligus ditetapkan sebagai repertoar wajib dapat dimanfaatkan sebagai peluang strategis untuk semakin memperdalam pemahaman terhadap esensi, nilai filosofis, dan pakem Wayang Wong yang sesungguhnya. Melalui keterlibatan yang berkelanjutan dalam pertunjukan, seniman diharapkan tidak hanya berorientasi pada aspek hiburan, tetapi juga tetap menjaga kedalaman makna dan kualitas artistik Wayang Wong. Kedua. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat melalui tim pengelola pentas paket wisata di Bangsal Srimanganti diharapkan dapat mempertahankan konsistensi Wayang Wong sebagai repertoar wajib dalam pertunjukan wisata. Selain itu, diperlukan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan pementasan Wayang Wong yang telah berjalan, dengan tujuan memastikan bahwa pengemasan Wayang Wong sebagai atraksi wisata tetap berlandaskan pada pakem dan tata aturan yang berlaku, sehingga tidak mengaburkan identitas dan nilai tradisionalnya. Ketiga, bagi penelitian selanjutnya, kajian mengenai Wayang Wong dapat dikembangkan melalui pendekatan etnografi atau dramaturgi guna menggali lebih mendalam makna simbolik Wayang Wong dari perspektif para penari dan pelaku Penelitian lanjutan juga disarankan untuk melibatkan perspektif wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan dan ekspektasi pasar wisata budaya. samping itu, cakupan objek penelitian dapat diperluas ke sanggar-sanggar Wayang Wong di luar lingkungan kraton untuk melihat dinamika perkembangan serta relasi antara seni istana dan seni rakyat. Pengkajian terhadap aspek ekonomi budaya juga penting dilakukan guna memahami kontribusi Wayang Wong terhadap industri pariwisata serta dampaknya bagi kesejahteraan seniman. UCAPAN TERIMAKASIH Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada tim redaksi Media Wisata yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mempublikasikan artikel penelitian ini. REFERENSI Adorno. , & Horkheimer. The Culture Industry: Enlightenment as mass deception. In Philosophers on Film from Bergson to Badiou: A Critical Reader . Columbia University Press. Adorno dan Horkheimer. https://doi. org/10. 7312/kul-17602-005 ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 Akuari. Strategi Pemasaran Bisnis Musik Di Boni Entertainment Magelang (Doctoral dissertation. Institut Seni Indonesia Yogyakart. http://digilib. id/id/eprint/4285 Asih. Fenomenologi Husserl: Sebuah Cara AuKembali Ke FenomenaAy. Jurnal Keperawatan Indonesia, 9. https://doi. org/10. 7454/jki. Azkiya. Balqis Tsabita. AuStudi Fenomenologi: Pengertian dan Fokus PenelitiannyaAy https://w. com/skola/read/2022/03/16. Diakses pada tanggal 23 Agustus 2023 Bahri. AuPertunjukan Kesenian Ebeg Grup Muncul Jaya Pada Acara Khitanan di Kabupaten PangandaranAy (Doctoral dissertation. Universitas Pendidikan Indonesi. http://repository. edu/id/eprint/20430 Cooper, et. all, . Tourism: Principles and Practice, 3nd ed. New York: Prentice Hall. Corry Shafia Siti Khoeriyah. Daya Tarik dan Pelestarian Tari Buyung Sebagai Potensi Wisata Budaya di Kabupaten Kuningan. Digilib UNS. https://digilib. Dinas Kebudayaan Tim Penyusun Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. AuMenguak Kejayaan Bangunan Masa Lalu Kota YogyakartaAy. https://kebudayaan. id/page/index/kawasan-kraton Diakses pada tanggal 7 Desember 2025 Dodi Slamet Riyadi. Pengembangan Wilayah: Teori dan Konsep Dasar. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT Hasbiansyah. Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian Dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi. Mediator: Jurnal Komunikasi, 9. , 163-180. Ismayanti. Pengantar Pariwisata. Jakarta: Grasindo Mulyantari. Enny. AuStrategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran sebagai Daya Tarik Wisata BudayaAy. Jurnal Media Wisata. Volume 14. Nomor: Mei 2016 Munsters. , & Richards. Methods In Cultural Tourism Research: The State Of The Art. https://doi. org/10. 1079/9781845935184. Pitana I. Gde. dan I Ketut Surya Diarta, . APengantar Ilmu PariwisataAy. Yogyakarta: Andi Ofset Putri. Peran Komunitas Jatiwangi Art Factory Dalam Pelestarian Kebudayaan Lokal Di Desa Jatisura Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka (Doctoral dissertation. Universitas Pendidikan Indonesi. http://repository. edu/id/eprint/70381 Prasodjo. Pengembangan Pariwisata Budaya dalam Perspektif Pelayanan Publik. Jurnal Office, 3. , 8-12 ISSN 16935969 Media Wisata. Volume 23. Number 2. November 2025 EISSN 26858436 Sahri. Pembelajaran Drama Tari Musik Terintegrasi Pada Pelajaran Seni Budaya Di SMP N 9 Yogyakarta (Doctoral dissertation. ISI Yogyakart. http://digilib. id/id/eprint/5904 Subrata. I Wayan. Dr. MA. AuKomodifikasi Tari BarongAy http://dx. org/10. 26742/panggung. Soedarsono. RM. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ______ . Seni Pertunjukan Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ______. Wayang Wong: AuDrama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ______. Tari Tinjauan Dari Berbagai Segi. Jakarta : PT. Dunia. Pustaka Jaya