Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 Pendidikan Sebagai Sarana Emansipasi Sosial: Kajian terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran 1912Ae1944 Education as a Means of Social Emancipation: A Study of the Studiefonds Program in Mangkunegaran 1912Ae1944 Ahmad Dzaky Benson Irani 1 . Nor Huda2. Moh. Ashif Fuadi3 . Aan Ratmanto4 . Adrian Perkasa5 1,2,3,4, UIN Raden Mas Said Surakarta Leiden University Article history: Submitted: 12 November 2025 Accepted: 28 April 2026 Published: 13 Mei 2026 mahdimubarok77@gmail. Abstrak: Penelitian ini menganalisis tentang peran Studiefonds Mangkunegaran sebagai instrumen filantropi pendidikan dalam mendorong transformasi sosial masyarakat pada era kolonial. Sebagai inisiatif mandiri, lembaga ini hadir untuk mengatasi hambatan ekonomi masyarakat dalam mengakses pendidikan modern demi meningkatkan derajat sosial. Dengan menggunakan metode historis yang bersumber pada arsip primer Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, kajian ini mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan pemicu utama modernitas di Praja Mangkunegaran. Studiefonds yang didirikan pada tahun 1912 berdasarkan Pranatan Pustaka Praja (Rijksbla. 15 Oktober 1913 ini pada awalnya bersifat eksklusif bagi golongan sentono dan priyayi. Namun, kebijakan tahun 1915 menandai pergeseran signifikan melalui pemberian akses peringanan biaya pendidikan bagi masyarakat umum. Program tersebut tidak hanya membantu pembiayaan sekolah, tetapi juga membentuk mobilitas sosial baru melalui lahirnya kelompok terdidik pribumi yang kemudian berperan dalam birokrasi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran Studiefonds menunjukkan adanya kesadaran elite Mangkunegaran terhadap pentingnya pendidikan sebagai sarana kemajuan dan emansipasi sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan model kemandirian finansial pribumi sebagai bentuk resistensi terhadap restriksi pendidikan kolonial, yang memberikan kontribusi penting bagi historiografi pendidikan serta kajian filantropi di Indonesia, khususnya dalam konteks modernisasi masyarakat Jawa pada awal abad ke-20. Kata Kunci: Pendidikan. Pura Mangkunegaran. Studiefonds Abstract: This study analyzes the role of the Mangkunegaran Studiefonds as an educational philanthropy instrument in encouraging social transformation during the colonial era. As an independent initiative, this institution was established to overcome the economic barriers that prevented people from accessing modern education in order to improve their social status. Using the historical method based on primary archival sources from the Rekso Pustoko Library of Mangkunegaran, this study reveals that education became the main driving force of modernity within the Mangkunegaran Principality. The Studiefonds, founded in 1912 under the Pranatan Pustaka Praja (Rijksbla. of October 15, 1913, was initially exclusive to the sentono and priyayi classes. However, the 1915 policy marked a significant shift through the provision of tuition relief and educational assistance for the wider community. This program not only supported educational expenses but also fostered new social mobility through the emergence of educated indigenous groups who later played important roles in bureaucracy, education, and social life. The existence of the Studiefonds demonstrates the awareness of the Mangkunegaran elite regarding the importance of education as a means of progress and social emancipation. The novelty of this research lies in its emphasis on indigenous financial independence as a form of resistance against colonial educational restrictions, thereby contributing significantly to the historiography of education and philanthropy studies in Indonesia, particularly in the context of the modernization of Javanese society in the early twentieth century. Keywords: Education. Pura Mangkunegaran. Studiefonds P-ISSN 2798-186X E-ISSN 2798-3110 A 2026 author. Published by FAB UIN Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. DOI: 10. 22515/isnad. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa PENDAHULUAN Sistem pendidikan di Indonesia sesungguhnya telah mengalami perkembangan sejak lama, bahkan Sebelum diberlakukannya Politik Etis dan sebelum berdirinya institusi pendidikan formal . Pada masa tersebut, masyarakat telah memiliki pemahaman mengenai pentingnya pendidikan. Meskipun masih diselenggarakan secara tradisional dan non-formal. Contoh pendidikan tradisional seperti kegiatan pendidikan pada masa itu umumnya berlangsung di lingkungan keluarga, dengan mengedepankan peran orang tua sebagai fasilitator utama Selain itu, pendidikan juga diselenggarakan di Surau dan Pesantren melalui sistem pendidikan berbasis pondok. Namun, karena pendidikan tersebut bersifat tradisional dan nonformal, cakupan serta aksesibilitasnya masih terbatas, sehingga belum mampu mendorong partisipasi masyarakat secara luas dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika Pada masa itu, pendidikan yang diterima masyarakat berfokus pada pembentukan budi pekerti yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan. Materi pembelajaran mencakup penghafalan, membaca dan menulis Al-Quran, serta penguasaan keterampilan dasar dalam membaca dan menulis aksara lokal sesuai dengan karakteristik budaya masing-masing daerah. Selain itu, sistem pendidikan tradisional pada saat itu masih dipengaruhi oleh pandangan hidup masyarakat yang kental dengan unsur kepercayaan terhadap tradisi dan nilai-nilai lokal. Sejak masa VOC hingga periode kolonial Belanda, perkembangan teknologi di Nusantara turut disertai dengan diperkenalkannya sistem pendidikan modern. Namun, akses terhadap pendidikan tersebut bersifat eksklusif dan tidak diperuntukkan bagi seluruh lapisan masyarakat Tujuan utama pendidikan modern yang dikenalkan oleh kolonial adalah membentuk tenaga kerja lokal yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan administrasi kolonial, tanpa perlu mendatangkan pekerja dari wilayah Eropa. Kehadiran pendidikan modern yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial secara tidak langsung telah menggoyahkan eksistensi pendidikan tradisional. Pendidikan tradisional dianggap tidak relevan untuk mendukung kemajuan birokrasi pemerintahan kolonial. 4 Dibalik penyelenggaraan pendidikan modern, terselip agenda ideologis yang tersembunyi. Kolonial Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, dari Budi Utomo sampai Dengan Pengakuan Kedaulatan (Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1. , hlm. Abuddin Nata. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Salemba Diniah: 2. , hlm. Azyumardi Azra. Surau. Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi (Jakarta: Fajar Interpratama Mandiri, 2. , hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 memberikan akses pendidikan bukan semata-mata untuk tujuan pencerahan, melainkan sebagai strategi kontrol sosial. Melalui pendidikan yang dibatasi ruang lingkupnya dan diarahkan sesuai kepentingan kolonial, masyarakat pribumi tetap dijaga dalam kondisi ketertinggalan, ketidaksadaran, serta keterkungkungan intelektual agar tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tengah dijajah secara sistemik. Abad ke-20 telah mengubah kebijakan kolonial Belanda yang awalnya gencar untuk mengeksploitasi kemudian beralih ke pernyataan kepedulian terhadap kesejahteraan kaum 6 Menurut van Deventer menjelaskan bahwa wilayah Nusantara telah berjasa membantu memulihkan perekonomian pemerintah Belanda di Eropa, maka dari itu sudah sewajarnya kaum pribumi mendapatkan hadiah oleh pemerintah dengan Politik Etis. 7 Penerapan Politik Etis khususnya dalam bidang pendidikan, mendorong perluasan akses terhadap pendidikan modern di berbagai wilayah Nusantara. Di wilayah Surakarta, pemerintah Mangkunegaran sebagai salah satu daerah vorstenlanden turut menunjukkan komitmennya dalam memajukan pendidikan bagi rakyatnya melalui berbagai inisiatif yang sejalan dengan kebijakan etis kolonial. Kehadiran pendidikan modern di Mangkunegaran Surakarta mendorong pemimpinnya masa itu yakni Mangkunegara VI dan VII untuk meneladani upaya dari Wahidin Soedirohoesodo dalam mendirikan Studiefonds . rogram beasisw. sebagai bentuk kepedulian terhadap akses pendidikan bagi rakyatnya. Penelitian ini memfokuskan kajian pada wilayah Mangkunegaran dengan periodesasi 19121944. Keberadaan Studiefonds Mangkunegaran merupakan wujud upaya Praja Mangkunegaran dalam meningkatkan derajat dan martabat masyarakat melalui program pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, penulis berupaya melakukan kajian secara mendalam terhadap Studiefonds Mangkunegaran sebagai salah satu bentuk program bantuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah Praja Mangkunegaran. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penelitian ini merumuskan tiga pokok permasalahan sebagai berikut: Pertama, bagaimana kemunculan pendidikan modern di Praja Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1. , hlm. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, terj. Satrio Wahono dkk (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. , hlm. Harry A. Poeze. Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950. Terj. Hazil Tanzil (Jakarta: KPG ,2. , hlm. Wasino. AuPolitik Etis dan Modernisasi Pendidikan di Mangkunegaran . Ay. Laporan Penelitian. Semarang. IKIP Semarang, 1996, tidak diterbitkan, hlm. Mokhammad Fadhil Musyafa, "Sinar Surya Dari Balik Pare Muda: Peran KGPAA Mangkunegaran VII Dalam Pendidikan Keagamaan Islam di Mangkunegaran Tahun 1916-1944. " Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. : hlm. https://doi. org/10. 22515/isnad. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa Mangkunegaran?. Kedua, bagaimana lahirnya program Studiefonds di Nusantara?. Ketiga, bagaimana dukungan Praja Mangkunegaran terhadap pendidikan lewat program Studiefonds?. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis peran strategis Studiefonds Mangkunegaran dalam konstelalsi pendidikan masa kolonial sebagian upaya mandiri masyarakat pribumi untuk mencapai kemajuan sosial. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memperkaya khazanah keilmuan sejarah, khususnya mengenai perkembangan pendidikan modern dan pelaksanaan Studiefonds di wilayah Surakarta, dengan fokus pada lingkungan Praja Mangkunegaran. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan mengikuti tahapan-tahapan sistematis, yaitu pemilihan topik, heuristik . engumpulan sumbe. , kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, sebagaimana dijelaskan oleh Kuntowijoyo dalam karyanya Pengantar Ilmu Sejarah. Topik penelitian ini ditetapkan melalui pertimbangan akademis yang mencakup aspek relevansi keilmuan, ketersediaan sumber primer, serta keterlibatan afektif peneliti terhadap objek kajian, yaitu Pura Mangkunegaran. Peneliti secara intensif melakukan studi pustaka dan kunjungan lapangan ke perpustakaan Rekso Pustoko, yang kemudian membuka akses terhadap dokumentasi historis mengenai Studiefonds Mangkunegaran sebuah lembaga yang merepresentasikan bentuk intervensi pendidikan dalam struktur kekuasaan lokal. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui penelusuran arsip, catatan harian, dan buku kas sezaman, yang berfungsi sebagai artefak tekstual untuk merekonstruksi dinamika pendidikan di lingkungan Mangkunegaran. Dalam penelitian ini menerapkan kritik eksternal untuk menilai keaslian dokumen serta kritik internal guna membandingkan isi berbagai sumber dan memastikan validitas informasi. Tahap interpretasi dilakukan dengan menguraikan data secara analitis untuk menampilkan aspek kausalitas, menghubungkan fakta-fakta historis, serta membandingkan berbagai sumber. Peneliti berupaya meminimalkan bias melalui rujukan terhadap studi-studi terdahulu guna memperkuat kerangka analisis. Hasil penelitian disusun dalam bentuk historiografi yang menekankan kronologi dan konteks peristiwa, untuk menggambarkan dinamika pendidikan modern serta pelaksanaan program Studiefonds di Mangkunegaran. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah sejarah lokal sekaligus memberikan kontribusi terhadap pemahaman historis mengenai perkembangan pendidikan modern dan program Studiefonds Mangkunegaran di masa tersebut. Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Bentang, 1. , hlm. Kuntowijoyo, hlm. Kuntowijoyo, hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 HASIL DAN PEMBAHASAN Kemunculan Pendidikan Modern di Praja Mangkunegaran Pada masa pelaksanaan politik etis di Praja Mangkunegaran, terdapat dua periode pemerintahan, yakni Mangkunegara VI . 6Ae1. dan Mangkunegara VII . 6Ae1. Keduanya pernah menempuh pendidikan modern di Belanda, yang membentuk pola pikir progresif, khususnya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemikiran tersebut diwujudkan melalui prioritas pada pembangunan, khususnya di bidang pendidikan sebagai bagian dari strategi modernisasi dan kemajuan sosial. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat dituntut untuk beradaptasi agar tidak tertinggal. Pendidikan yang berkualitas menjadi salah satu sarana utama dalam menghadapi perubahan tersebut. Oleh karena itu, sejak awal abad ke-20. Pemerintahan Mangkunegaran mulai memprioritaskan pembangunan di bidang pendidikan. Mangkunegara VI menjadi pelopor dengan mendirikan sejumlah sekolah modern, di antaranya:13 Sekolah Siswo Sekolah ini merupakan salah satu sekolah modern pertama yang dimiliki oleh Praja Mangkunegaran. Didirikan pada tahun 1912 dan berlokasi di Pendopo Agung, sekolah ini diperuntukkan khusus bagi kalangan kerabat dan keturunan Mangkunegaran, dengan dominasi peserta didik laki-laki. Setelah dua tahun beroperasi, pada tahun 1914 Sekolah Siswo mengalami transformasi menjadi Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang kemudian dikenal sebagai Mangkoenagaransche School. Sekolah Sisworini Bersamaan dengan pendirian Sekolah Siswo pada tahun 1912. Mangkunegaran juga mendirikan Sekolah Sisworini, sebuah lembaga pendidikan khusus perempuan yang berlokasi di halaman Awalnya. Sisworini berfokus pada pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung. Seiring waktu, sekolah ini berkembang dengan tujuan mempersiapkan perempuan menjadi ibu rumah tangga yang terampil dan cakap dalam berbagai aspek kehidupan. Setelah masa pemerintahan Mangkunegara VI berakhir. Mangkunegara VII menggantikan tahtanya dan melanjutkan perhatian serius terhadap pendidikan rakyat. Ia tidak hanya meneruskan program Sekolah yang sudah berjalan, tetapi juga mengembangkan berbagai inisiatif pendidikan 14 Beberapa sekolah yang didirikan dan dikembangkan oleh Mangkunegara VII antara lain: Van Deventer (Solosche Van Deventer-Schoo. Sekolah Van Deventer merupakan lembaga pendidikan berasrama khusus bagi perempuan pribumi dari latar belakang terhormat. Tujuan utama pendirian sekolah ini adalah untuk membekali para Wasino. AuPolitik Etis dan Modernisasi Pendidikan di Mangkunegaran . Ay. Laporan Penelitian. Semarang. IKIP Semarang, 1996, tidak diterbitkan, hlm. Wasino, hlm. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa siswi dengan pendidikan umum guna mempersiapkan mereka menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang terampil dan berdaya dalam masyarakat. Kurikulum yang diajarkan mencakup bahasa Belanda, berhitung, menulis, menggambar, geografi, sejarah, fisika, biologi, membatik, memasak, mencuci, ekonomi rumah tangga, ilmu kesehatan, perawatan anak, dan pertolongan pertama. Selain itu, siswa juga memperoleh pelatihan tari dari Gusti Kanjeng Ratu Timur di Astana Praja Mangkunegaran. Pelayanan kesehatan umum diberikan secara cuma-cuma, sedangkan perawatan oleh dokter spesialis dikenakan biaya tertentu. 15 Sisworini Sekolah Kelas II (Tweede Klasse Schoo. menjadi Sekolah Kursus Kerumahtanggan (Sisworini Huishoudschoo. Sisworini Sekolah Kelas II (Tweede Klasse Schoo. menjadi Sekolah Kursus Kerumah Tanggaan (Sisworini Huisboudschoo. Sekolah Sisworini didirikan pada masa Mangkunegara VI pada tahun 1912, dan mengalami sejumlah perubahan di bawah pemerintahan Mangkunegara VII. Pada awalnya, sekolah ini dikenal dengan nama Pawulangan Bocah Wadon, dengan lama pendidikan selama tujuh Tenaga pengajar berasal dari kalangan Barat maupun pribumi yang memenuhi kualifikasi sebagai pendidik. Meskipun awalnya diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan Sentono dan Abdi Dalem Mangkunegaran, sekolah ini juga menerima siswa dari luar golongan tersebut, selama memenuhi syarat, seperti bebas dari penyakit menular dan telah menjalani imunisasi cacar. Pendidikan di Sekolah Sisworini menekankan keterampilan kerumahtanggaan seperti memasak, pengelolaan keuangan rumah tangga, kesehatan, dan menjahit, disertai dengan pendidikan umum seperti membaca, menulis, dan 16 Namun, jika dibandingkan dengan Solosche Van Deventer School, kualitas pengajaran dan kurikulum di Sisworini dinilai masih berada di bawah standar, baik dari segi metode maupun isi Sekolah Solosche Van Deventer School mendapat prioritas lebih tinggi dari Mangkunegara VII, sehingga memperoleh fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan dengan Sekolah Sisworini. HIS Siswo (Hollandsch Inlandsche Schoo. merupakan pengembangan dari Sekolah Siswo atau Sekolah Angka Satu HIS Siswo merupakan bentuk pengembangan dari Sekolah Siswo atau Sekolah Angka Satu, yang sebelumnya menjadi sekolah modern pertama di Mangkunegaran dengan sistem pendidikan Barat. Transformasi ini dilakukan pada masa pemerintahan Mangkunegara VII sebagai respons terhadap ketertinggalan Sekolah Angka Satu dibandingkan dengan Europeesche Lagere School (ELS), yang Prospectus Solosche Van Deventerschool Vitgaande van de Solosche Van Deventer-Veteniging. Arsip MN Rijksblaad Mangkunegaran no. 33, tahun 1917. Rospectus Solosche Van Deventerschool Vitgaande van de Solosche Van Deventer-Veteniging. No. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 lebih dahulu berdiri dan telah memberikan pelatihan yang memadai bagi siswa untuk mengikuti ujian pegawai rendahan (Klein Ambtenarenexame. Pembentukan HIS Siswo membuka peluang lebih besar bagi para siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kolonial yang lebih tinggi, seperti MULO dan AMS. Hal ini berbeda dengan Sekolah Angka Satu yang sebelumnya belum memenuhi syarat kurikulum untuk akses ke pendidikan lanjutan tersebut. Pelaksanaan HIS Mangkunegaran mengikuti ketentuan standardschool sebagaimana diatur dalam Staatsblad 1914 No. 359, yang menetapkan kriteria sosial tertentu bagi calon peserta didik. Pendaftaran ke HIS diperuntukkan bagi anak-anak dari golongan bangsawan (Golongan A), pejabat, dan pengusaha. keturunan orang tua lulusan MULO atau Kweekschool ke atas (Golongan B). serta anak dari pegawai rendahan, penguasa lokal, militer, petani, nelayan, atau orang tua yang pernah mengenyam pendidikan di HIS (Golongan C). Meningkatnya popularitas HIS Siswo menyebabkan lonjakan jumlah pendaftar, sehingga gedung lama di kawasan Mangkunegaran tidak lagi memadai. Pada tahun 1920, gedung baru pun dibangun untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut. Selain itu. Mangkunegara VII mengajukan izin kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan HIS di daerah Wonogiri. 20 Namun, sekolah tersebut akhirnya dibangun secara langsung oleh pemerintah kolonial dan dibiayai oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dengan demikian, di wilayah Mangkunegaran terdapat dua HIS, yakni HIS Siswo yang didirikan oleh Praja dan HIS Wonogiri yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Sekolah Modern di Praja Mangkunegaran berbasis pendidikan Islam yaitu HIS Muhammadiyah Muhammadiyah didirikan oleh K. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta, seiring dengan berkembangnya Politik Etis di Hindia Belanda. Organisasi ini merespons perubahan zaman dengan mendirikan sekolah-sekolah modern berbasis pendidikan Islam. Awalnya, izin operasional Muhammadiyah dibatasi hanya untuk wilayah Yogyakarta oleh pemerintah kolonial. Namun, untuk mengatasi pembatasan tersebut, ekspansi ke luar daerah tetap dilakukan melalui penggunaan nama lain, seperti pendirian SATV (Shiddiq. Amanah. Tabligh. Fathona. di Surakarta. Guntur Arie Wibowo. AuPendidikan dan Perubahan Sosial di Mangkunegaran Surakarta 1912-1940Ay. Jurnal Agastya Vol. 1 No. : hlm. http://e-journal. id/index. php/JA/article/view/78. Statblaad tahun 1914 no. Josowidagdo. AuSeri Padoeka Kg. Gt. Pang. Ad. Ar. Mangkoe Nagoro VII dengan Pendidikan Kanak-kanak RakyatAy. Het Triwindoe-Gedenkboek, hlm. Wasino. AuPolitik Etis dan Modernisasi Pendidikan di Mangkunegaran . Ay. Laporan Penelitian. Semarang, hlm. Zarro,M. Yunani. Dhita. AuMuhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan PendidikanAy. FACTUM: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah. Vol. 3 No. : hlm. https://doi. org/10. 17509/factum. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa Hadirnya SATV di Surakarta dilatarbelakangi oleh kebutuhan masyarakat untuk mempelajari agama Islam secara lebih teratur dan mendalam serta mengaitkannya dengan masalah sosial yang dihadapi. Sebelum transformasi menjadi Muhammadiyah Surakarta pada tahun 1922. SATV pada tahun 1920 telah mendirikan sekolah modern Islam bernama HIS Met Quran Mangkunegaran, yang awalnya menyewa gedung dan memiliki sekitar 220 siswa pada tahun 1930. Sekolah ini kemudian berkembang dan mengalami transformasi menjadi HIS Muhammadiyah Mangkunegaran pada tahun 1935. Transformasi HIS Muhammadiyah Mangkunegaran menghadirkan citra pendidikan Islam modern di Surakarta dengan adopsi metode Barat, menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar sekaligus mengajarkan ajaran Islam. Hal ini menarik siswa dari berbagai lapisan Menyikapi antusiasme tersebut. Mangkunegara VII, yang sangat memperhatikan pendidikan rakyat, mewakafkan sebidang tanah seluas sekitar 2. 000 mA di samping Masjid Alwustho Mangkunegaran untuk pengembangan sekolah tersebut. Lahirnya Program Studiefonds di Nusantara Tanpa disadari, munculnya Politik Etis pada awal abad ke-20 mendorong proses modernisasi di Hindia Belanda, terutama di bidang pendidikan. Sekolah-sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan Barat mulai bermunculan, tidak hanya di kawasan perkotaan tetapi juga menjangkau wilayah perdesaan. Peminatnya terus meningkat karena pendidikan bergaya Barat dianggap sebagai kunci untuk memasuki struktur pemerintahan kolonial yang terpusat secara politis. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin besar pula peluang untuk mendekat ke pusat kekuasaan serta memperoleh pekerjaan yang layak, sehingga pendidikan modern dipandang sebagai jalan untuk meningkatkan status sosial. Perkembangan pendidikan turut mendorong lahirnya program bantuan keuangan bagi anakanak pribumi yang ingin melanjutkan studi namun menghadapi keterbatasan ekonomi. Program ini dikenal dengan nama Studiefonds. 26 Program Studiefonds telah lama dikenal dan diterapkan di Belanda, antara lain melalui Studiefonds voor Zuid-Afrikaansche Studenten in Nederland yang Didirikan di Amsterdam pada tahun 1880, 27 serta Philologisch Studiefonds yang didirikan di Utrecht pada tahun 1897. Dana studi filologis ini ditujukan bagi mahasiswa yang ingin melakukan Mohammad Ali. AuPerkembangan Sekolah Muhammadiyah di Surakarta pada Tahun 1920-1970Ay. Jurnal Afkaruna. Vol. No. : hlm. https://doi. org/10. 18196/AIIJIS. Mohammad Ali, hlm. Takashi Shiraishi. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1. , hlm. Kosters. Handboek voor philantropisch en maatschappelijk werk in Ned. Oost en West Indie. (Soerabaja: V Koninklijke Boekhandel En Drukkerijen G. KOLFF, 1. , hlm. Gerrit Besselaar. Zuid-Afrika in de Letterkunde (Amsterdam: Holl-Afrik Uitgevers-Mij, 1. , hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 penelitian di Roma. Athena, dan wilayah Mediterania sebagai bagian dari penyelesaian studi Pembentukan program Studiefonds di Hindia Belanda kemungkinan terinspirasi dari praktik serupa di Belanda sebagai bentuk adopsi nilai positif. Tujuan utamanya adalah memberikan dukungan pendidikan bagi kalangan yang kurang mampu. Salah satu pelopor program ini adalah organisasi Budi Utomo, yang didirikan berdasarkan gagasan Dr. Wahidin Sudirohusodo, dengan tekad mendirikan perkumpulan dana studi bagi pelajar pribumi. Gagasan Dr. Wahidin Sudirohusodo mengenai dana bantuan Studiefonds terealisasi saat Pangeran Ario Noto Dirodjo memimpin Budi Utomo. Di bawah kepemimpinannya, upaya pengembangan intelektual melalui organisasi ini dijalankan dengan lebih kuat dan luas. Dalam pidatonya. Dwijo Sewojo menyatakan bahwa meskipun awalnya Budi Utomo kurang mendapat dukungan dari tokoh-tokoh besar Jawa dan Yogyakarta. Pangeran Ario berhasil menjalin kerja sama dengan kalangan elite, antara lain melalui pendirian Neutraal Onderwijs dan Studiefonds Darmo-Woro. Salah satu gagasan utama Dr. Wahidin pun terwujud melalui alokasi dana studi awal sebesar f 50. Dukungan Praja Mangkunegaran Terhadap Pendidikan Lewat Program Studiefonds Kemunculan Studiefonds di wilayah Praja Mangkunegaran pada tahun 1912 merupakan manifestasi dari komitmen Mangkunegara VI dalam bidang pendidikan, sebagai bagian dari implementasi Politik Etis. Lembaga ini bertujuan untuk memfasilitasi akses pendidikan tinggi bagi masyarakat berprestasi namun mengalami keterbatasan ekonomi. Sebagai anggota organisasi Budi Utomo. Mangkunegara VI berperan aktif dalam mendorong reformasi pendidikan di wilayah kekuasaannya melalui pendirian sekolah dan pembaharuan kurikulum. Inisiatif pendirian Studiefonds merupakan hasil kolaborasi antara Mangkunegara VI dengan Residen Surakarta pada masa itu. van Wijk, yang dikenal memiliki pemikiran progresif terhadap pengembangan sumber daya manusia pribumi. Awalnya, lembaga ini beroperasi berdasarkan regulasi sementara, kemudian diperkuat dengan regulasi permanen sebagaimana tertuang dalam Pranatan tanggal 15 Oktober 1913 No. 11/Q, dan secara resmi disahkan melalui Pustaka Praja (Rijksbla. No. 20 tahun 30 Dalam upaya meningkatkan akses pendidikan bagi kalangan tertentu di lingkungan Praja Mangkunegaran, dibentuklah dua jenis lembaga dana pendidikan yang dikenal sebagai Studiefonds Vereeniging Het Philologisch Studiefonds. Statuten Reglement voor het Bestuur. Reglement voor de Stipendiaten (Utrecht: Den Boer, 1. , hlm. Soembangsih: Gedenkboek Boedi-Oetomo 1908-20 Mei-1918 (Amsterdam: Tijdschrift Nederl Indie Oud & Niew, 1. , hlm. Husodo Pringgokusumo. Dana Praja Mangkunegaran untuk Beasiswa (Surakarta: Reksopustoko, 1. , 1 dan AyHet Studiefonds Van Het Mangkoenagorosche RijkAy, 1924. Djawa Drie Maandelijksch Tijdschrift Orgaan Van Het Java Instituut, hlm. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa A dan Studiefonds B. Dalam naskah Rijksbalad No. 20 tahun 1917 menjelaskan tentang Studiefonds A yang mendapatkan pertolongan uang yang dipergunakan untuk membiayai pendidikan yaitu:31 Putra Sentana Mangkunegaran yang berdomisili di dalam wilayah Praja Mangkunegaran. Putra Sentana Mangkunegaran yang tinggal di luar wilayah Praja namun masih berada dalam kawasan Karesidenan Surakarta. Priyayi dan opsir Mangkunegaran, baik yang masih aktif maupun yang telah memasuki masa Purnabakti. Sementara itu. Studiefonds B mulai diberlakukan pada tahun 1915, menyusul implementasi awal Studiefonds A. Keberadaan Studiefonds B dilatarbelakangi oleh mekanisme pengelolaan dana pendidikan, di mana dana pengganti dari lulusan Studiefonds A tidak langsung disetorkan ke kas pembendaharaan Praja Mangkunegaran, melainkan dikumpulkan secara terpisah. Dana tersebut kemudian dialokasikan untuk mendukung pendidikan bagi siswa berbakat yang tidak memenuhi kriteria penerima Studiefonds A, khususnya mereka yang bukan berasal dari kalangan Sentana, perwira, opsir, maupun pegawai negeri di lingkungan Praja Mangkunegaran. 32 Pembentukan Commissie van Advies berimplikasi pada peningkatan selektivitas dalam pemberian bantuan dana Studiefonds A dan B kepada para pelajar yang bermaksud melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mekanisme pemberian dana bantuan ini tidak lagi bersifat sepenuhnya diskresioner, melainkan melalui prosedur yang lebih sistematis dan ketat. Seleksi awal dilakukan oleh Mangkunegara VII secara langsung, yang hasilnya kemudian dikaji dan dirumuskan dalam bentuk keputusan resmi. Keputusan tersebut selanjutnya disampaikan kepada Residen Surakarta untuk dilakukan evaluasi lanjutan serta peninjauan administratif. Dengan diberlakukannya regulasi baru ini, setiap permohonan dana Studiefonds harus melalui dua tahapan seleksi dari pihak Mangkunegaran dan Residen. Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII, dibentuk sebuah komisi khusus bernama Commissie van Advies pada tahun 1918, yang berfungsi sebagai lembaga penasehat untuk mempermudah proses pengambilan keputusan terkait pemberian bantuan dana pendidikan dari Studiefonds Mangkunegaran. Komisi ini diketuai oleh Patih Gubernur, dengan anggota terdiri dari seorang Superintendent yakni pejabat tinggi yang mengawasi perusahaan-perusahaan di bawah otoritas Mangkunegaran dan seorang Mayor dari Legiun Mangkunegaran. Selain itu. Commissie van Advies juga dibantu oleh seorang Kawedanan Nitiworo dari kantor Hamong Praja yang bertugas mengawasi urusan pendidikan dan sekolah di Rijksblad Mangkoenegaran Tahun 1917 No 20, hlm. Panoedjoe Roewio Darmo Broto. Een en Ander Over Het Mangkoenagorosche Rijksstudiefonds. Het Triwindoe-Gedenboek Mangoe Nagoro VII (Surakarta: Comite voor het Triwindoe-Gedenkboek,1. , hlm. Husodo Pringgokusumo. Dana Praja Mangkunegaran untuk Beasiswa (Surakarta: Reksopustoko, 1. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 wilayah Mangkunegaran. Pejabat ini sekaligus menjabat sebagai sekretaris komisi dan memimpin urusan administrasi. Pada tahun 1919. Mangkunegara VII menginisiasi pendirian Studiefonds baru yang dinamakan Studiefonds Kas Daleman. Dana ini bersumber langsung dari kas pribadi Mangkunegara dan ditujukan khusus untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan ekonomi. Berbeda dengan Studiefonds sebelumnya, dana ini tidak dikelola oleh Commissie van Advies, melainkan langsung oleh pihak Mangkunegaran dengan dukungan dari Kabupaten Mandrapura. Dengan demikian, sejak masa Mangkunegara VI hingga Mangkunegara VII, terdapat tiga jenis Studiefonds, yaitu Studiefonds A dan B pada masa Mangkunegara VI, serta Kas Daleman pada masa Mangkunegara VII. Besaran Tarif Umum yang Diberikan Oleh Commissie van Advies Sebelum terbentuknya Commissie van Advies, pemberian dan besaran dana Studiefonds didasarkan pada laporan gaji orang tua siswa serta penyelidikan penghasilan tambahan, yang dianggap memberatkan masyarakat. Pada tahun 1919. Commissie van Advies mengadakan rapat untuk mereformasi kebijakan tersebut dengan mengusulkan tarif umum besaran dana yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan siswa. Akibatnya, mekanisme penyelidikan penghasilan dan laporan gaji orang tua dihapuskan, termasuk pemberian dana kepada siswa yang menempuh studi malam, karena mereka dinilai mampu mencari penghasilan di siang hari. Tarif umum pemberian dana Studiefonds ini kemudian ditetapkan secara resmi oleh Commissie van Advies sebagai berikut:36 Table. Penetapan tarif umum pemberian dana Studiefonds oleh Commissie van Advies Nama Sekolah OSVIA Techniche School Kota Surabaya. Semarang Dan Batavia Hogere Burger School MULO . pabila orang tuanya tinggal di kot. STOVIA Burgerlijke Avond School Kota Surabaya Dana f 30,f 45,f 50,f 10,f 50,f 45,- Nama Sekolah OSVIR Techniche School Kota Yogyakarta Algemene Middelbare School MULO . pabila orang tuanya tinggal di luar kot. Hogere Kweek-School Kota Purworejo Technische Hoge-School Kota Bandung Dana Perbulan f 50,f 40,f 40,f 20,f 12. 5,f 105,- Rijksblad Mangkoenegaran Tahun 1917 No. 20, hlm. Josowidagdo. AuSri Padoeka Kg. Gt. Pang. Ad. Ar. Mangkoe Nagoro VII dengan Pendidikan Kanak-kanak RakyatAy. Het Triwindoe-Gedenkboek, hlm. Husodo Pringgokusumo. Dana Praja Mangkunegaran untuk Beasiswa (Surakarta: Reksopustoko, 1. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa Middelbare Landbouw School Kota Buitenzorg/ Bogor f 40,- Hogore Landbouw School Kota Wegwnigen Negeri Belanda Sumber: Husodo Pringgokusumo. Dana Praja Mangkunegaran untuk Beasiswa (Surakarta:Reksopustoko. Berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh Commissie van Advies, penerima Studiefonds diwajibkan melakukan pengembalian dana secara bulanan sebesar 20% dari penghasilan jika gaji bulanannya melebihi f 50,-. Namun, apabila penerima mengalami kesulitan finansial, mereka dapat mengajukan permohonan keringanan cicilan melalui surat resmi kepada Commissie van Advies disertai alasan yang sah. Setelah permohonan disetujui, besaran cicilan dapat dikurangi. Khusus bagi penerima yang bekerja di lingkungan pemerintahan Praja Mangkunegaran, tarif pengembalian diturunkan menjadi 5%, sedangkan bagi yang bekerja di luar pemerintahan ditetapkan sebesar 10%. Pengembalian dana Studiefonds disetorkan kepada Bupati-Patih dan kemudian disimpan dalam lembaga perbankan. Dana ini dikumpulkan untuk digunakan kembali dalam mendukung pendidikan bagi siswa yang berhak menerima bantuan, khususnya dari kalangan non-bangsawan melalui Studiefonds B, guna mewujudkan pemerataan akses pendidikan. Selain itu, bunga yang diperoleh dari simpanan bank dimanfaatkan untuk menutupi biaya administrasi, termasuk pembayaran gaji pengelola administrasi Studiefonds sebesar f 10,- per bulan. Pengelolaan dana Studiefonds yang mempertimbangkan keberlanjutan serta perluasan akses bagi siswa non-Sentono menjadikan dana Studiefonds B bersumber dari pengembalian yang dilakukan oleh penerima Studiefonds A. Kebijakan ini mendorong peningkatan signifikan jumlah pendaftar, khususnya pada Studiefonds B. Pada periode 1915Ae1930, pengurus administrasi mencatat dan mengumumkan secara resmi besaran dana Studiefonds yang diterima oleh para Table 2. Rekapitulasi penerimaan dana Studiefonds tahun 1915-1930 Tahun Diterima Tahun Diterima Husodo Pringgokusumo, hlm. Sarwoko Mangoenkoesoemo. Verslag van het Mangkoenagorosche Studiefonds over het Boekjaar 1930 (Mangkoenegaran: t. p, 1. , hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 Total : f 56. Sumber: Sarwoko Mangoenkoesoemo. Verslag van het Mangkoenagorosche Studiefonds over het Boekjaar 1930,(Mangkoenegaran: t. , 1. Sementara itu, pengeluaran dana Studiefonds yang dikelola oleh Praja Mangkunegaran sejak awal Pendiriannya pada tahun 1912 hingga tahun 1923 tercatat sebagai berikut:39 Table 3. Realisasi anggaran dana Studiefonds Mangkunegaran pada tahun 1912-1923 Tahun Diterima Tahun Diterima Sumber: Husodo Pringgokusumo. Dana Praja Mangkunegaran untuk Beasiswa (Surakarta: Reksopustoko, 1. Syarat Untuk Mendapatkan Studiefods Mangkunegaran Pada tahun 1912, sebagai awal pelaksanaan Studiefonds di Praja Mangkunegaran, bantuan pendidikan hanya diperuntukkan bagi kalangan putra Sentono, opsir, dan priyayi, sebagaimana diatur dalam Rijksblad Mangkunegaran No. 20 Tahun 1917. Syarat utama untuk memperoleh bantuan ini adalah dengan mengajukan surat permohonan melalui perantara abdi dalem Praja Mangkunegaran. Surat permohonan tersebut memuat beberapa ketentuan administratif sebagai Husodo Pringgokusumo. Dana Praja Mangkunegaran untuk Beasiswa, hlm. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa Nama Orang tua Menyebutkan hubungan keluarga seperti dari Istri, anak, cucu, buyut, canggah di Praja Mangkunegaran. Pendapatan . ermasuk belanj. orang tua. Pekerjaan bapaknya Nama anaknya. Umur anaknya Anak tadi menjadi murid di sekolah Holland. Jawa atau sekolah lain serta berapa lama anak tersebut telah belajar disekolah tersebut. Laporan anak yang bersangkutan akan melanjutkan sekolah dimana. Surat dari kepala sekolah yang menyatakan rencana bab kualitas anak tersebut yang ingin melanjutkan studinya, rajinnya, sikap dan lainnya, itu serta apakah kecerdasannya cukup atau tidak dengan semaksmal pengajaran (School Rappor. Biaya anak tersebut belajar di sekolah Biaya asrama anak tersebut. Biaya lain-lain. Seberapa kuatkah orangtua dari siswa yang bersangkutan tentang nomor 10, 11, dan 12. Setelah surat permohonan memenuhi syarat administratif, dilakukan verifikasi lanjutan sebelum disetujui oleh Mangkunegara VI dengan persetujuan Residen Surakarta. Apabila permohonan diterima, orang tua atau siswa yang bersangkutan akan menerima surat keputusan resmi yang memuat informasi mengenai besaran dana Studiefonds yang diberikan serta waktu atau hari penyalurannya oleh pihak Mangkunegaran. Selain diperuntukkan bagi kalangan Sentono, priyayi, dan opsir. Studiefonds juga disediakan bagi masyarakat umum di luar golongan tersebut. Namun, calon penerima tetap diwajibkan memenuhi persyaratan umum dan pengajuannya harus ditanggung serta dimohonkan oleh seseorang yang memiliki hubungan langsung dengan Praja Mangkunegaran. Selain itu, siswa juga diwajibkan melampirkan dokumen persyaratan administratif untuk memperoleh bantuan Studiefonds, antara lain:41 Surat permohonan dari orang tua siswa yang ditujukan untuk memperoleh bantuan Studiefonds. Laporan hasil belajar . chool rappor. dari siswa yang bersangkutan. Surat keterangan dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa siswa tersebut terdaftar secara resmi Sebagai murid di sekolah terkait. Lonjakan jumlah pendaftar Studiefonds mendorong dilakukannya pembaruan persyaratan administratif pada tahun 1924 dan 1925. Dalam pembaruan tersebut, mekanisme permohonan diperketat, termasuk penegasan bahwa siswa dari keluarga mampu diwajibkan membiayai Rijksblad Mangkoenegaran Tahun 1917 No. 20 , hlm. Berkas-berkas permohonan studiefonds. Arsip Mangkunegaran No. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 pendidikannya secara mandiri. Ketentuan ini ditegaskan dalam sejumlah peraturan resmi, di antaranya:42 Keterangan buat ongkos makan dan mondok dari yang dipondoki oleh direktur Yang turut menanggung ini mesti diambil dari sentono, opsir dan priyai yang orang tuanya mendapatkan anggaran belanja dari kas Praja atau dari kas Legiun Mangkunegaran, dan mesti diambil dari seorang yang umurnya kurang dari 60 tahun. Dalam surat permohonan harus dilampiri surat keterangan, berapa banyak anaknya bapa dan voogd yang mempunyai surat permohonan tersebut, berapa yang sudah tidak diperlindungi hidupnya dan Berapa yang belum sekolah dan harus diterangkan dimana alamat tempat sekolah itu. Memasuki tahun 1925, kebijakan Pendidikan tersebut beerevolusi menjadi lebih terstruktur melalui pengenalan konsep partisipasi biaya beerdasarkan strata penghasilan. Disinilah letak rasionalisasi subsidi Pendidikan yang diterapkan oleh Mangkunegaran. Pemerintah tidak. Lagi memberikan bantuan penuh secara merata, melainkan menerapkan system kontribusi progresif bagi orang tua atau voogd (Wal. Penerapan aturan baru yang dimulai pada tahun 1924 menitik beratkan pada verifikasi administratif yang lebih ketat. Setiap permohonan bantuan wajib disertai dengan rincian biaya hidup yang akurat, mencangkup ongkos makan serta biaya asrama yang telah diverifikasi oleh pemimpin institusi Selain itu, tanggung jawab pembiayaan tidak hanya diletakan pada pundak orang tua biologis namun juga melibatkan peran voogd (Wal. Hal ini bertujuan untuk setiap anak memiliki penanggung jawab yang sah secara hukum dan finansial, terutama bagi mereka yang orang tuanya telah mencapai usia senja atau berada di luar struktur aktif birokrasi. Inti dari reformasi pendidikan in terletak pada mekanisme AuUrunaAy atau partisipasi biaya sekolah yang bersifat progresif. Pemerintah menerapkan bahwa besaran kontribusi wali murit terhadap biaya pendidikan anak berbanding lurus dengan pendapatan bulanan mereka. Golongan dengan penghasilan tinggi, yakni diatas f 500 per bulan, memikul beban terbesar dengan kewajiban menanggung hingga 30% dari total biaya sekolah anak. Pertama. Sebaliknya, bagi keluarga dengan Tweede Jaaverslag dari Mangkoenegarasche Studiefonds diperiksa sampai penghabisan tahoen 1924. No. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa penghasilan yang lebih rendah, pemerintah memberikan kelonggaran melalui persentase kontribusi yang jauh lebih kecil, bahkan mencapai angka 2,5% bagi mereka yang berpenghasilan minimum. Struktur pembiayaan in juga dirancang dengan mempertimbangkan jumlah anak dalam satu Terdapat gradasi persentase yang menurun untuk anak kedua, ketiga, hingga kelima, yang menunjukkan pemahaman pemerintah terhadap beban kumulatif ekonomi rumah tangga. Dengan adanya sistem ini maka, beban biaya tidak lagi bertumpu sepenuhnya oleh Praja Mangkunegaran, melainkan didistribusikan secara kolektif antara pemerintah dan orang tua. Anak-anak dari keluarga yang lebih mapan secara ekonomi diharapkan menjadi penopang bagi keberlanjutan dana belajar, sehingga alokasi subsidi dapat difokuskan untuk membantu mereka yang memiliki keterbatasan sumber daya. Pada tahun 1930. Commissie Studiefonds melakukan evaluasi mendalam yang berujung pada perubahan fundamental dalam regulasi bantuan pendidikan. Langkah in diambil Sebagian respons terhadap dinamika anggaran dan kebutuhan untuk memperluas jangkauan bantuan secara lebih merata. Dalam keputusan baaru tersebut, otoritas menetapkan pembatasan yang ketat mengenai jumlah anak yang dapat ditanggung oleh satu orang tua atau voogd. Bagi golongan Sentono. Opsir, dan Priyai, jumlah anak yang berhak mendapatkan tunjangan dibatasi hanya untuk dua orang anak. Hal ini mencerminkan upaya sistematis pemerintah dalam melakukan rasiionalisasi kuota agar akses Pendidikan tidak terkonsentrasi pada keluarga tertrntu saja. Selain pengetatan kuota, aspek moral dan tanggung jawab finansial pasca-pendidikan menjadi fokus utama dalam kebijakan tahun 1930. Commissie memperkenalkan sebuah sistem kepercayaan yang berlandaskan pada integritas para siswa dan alumni penerima Studiefonds. Terdapat ekspetasi kolektif bahwa para alumni yang berhasil menyelesaikan pendidikannya dan memiliki kemandirian ekonomi, memilliki kewajiban moral untuk mengembalikan dana yang telah mereka terima. Pengembalian dana ini tidak bersifat memaksa secara kaku, melainkan disesuaikan dengan kapasitas kemampuan finansial masing-masing individu setelah mereka terjun ke dunia Hal Pertolongan Studiefond. Petikan dari Consept Pranatan Baharoe ketika pada 27 September 1925. Arsip No. Agenda jang akan diremboek dalam conferents leden commissie Studefonds Mangkunegaran tertanda pada Hari djoeni 1930. Arsip No. Sarwoko Mangoenkoesoemo. Verslag van het Mangkoenagorosche Studiefonds over het Boekjaar 1930. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 Meskipun sistem in berbasis pada kepercayaan. Commissie tetap menjalankan fungsi pengawasan administratif untuk menjaga keberlangsungan siklus dana tersebut. Bagi para mantan siswa yang belum memenuhi komitmen pengembalian dana. Commissie menjalankan prosedur formal melalui pengiriman surat pemberitahuan. Langkah in diambil bukan untuk sekedar sebagian penagihan administratif, melainkan sebagai pengingat akan kontrak sosial yang telah disepakati sejak awal pemberian dana Studiefonds. Pihak Commissie berupaya menyentuh kesadaran moral paara mantan siswa melalui surat edaran, di dalam surat tersebut, ditegaskan kembali mengenai tanggung jawab penerima bantuan dengan isi surat sebagai berikut:46 Atas permintaan orangtua atau wali anda, anda diberikan beasiswa untuk Pendidikan sekolah oleh Studiefonds Mangkunegaran dengan ketentuan bahwa, setelah anda menerima penghasilan sebesar f50,- perbulan atau lebih, jumlah yang wajib anda kembalikan ke Studiefonds dengan. Pengembalian sebesar 20% dari penghasilan yang anda peroleh. Sekarang Akan menjadi jelas bagi anda, bahwa setelah anda beranjak dewasa, bahwa aturan in dibuat untuk memberikan kesempatan kepada siswa lain agar juga mendapatkan dana Studiefonds sehingga dana yang diperoleh siswa baru diperoleh dari pengembalian dana seperti anda. Oleh karena itu jumlah yang dibayarkan untuk Pendidikan anda dan uang muka yang diberikan kepada anda dimaksudkan untuk digunakan secara bergilir, sehingga jumlah orang yang tidak terbatas dapat memperoleh pendidikan dengan dana yang Jika anda tidak memenuhi kewajiban anda terhadap dana Studiefonds, anda tidak membuat Pendidikan bagi satu orang bagi sejumlah besar orang menjadi mustahil mendapatkan Studiefonds. Oleh karena itu. Commissie Studiefonds sangat sedih dan sangat terkejut dengan keyakinan bahwa, meskipun anda sekarang memegang posisi yang sangat baik di masyarakat, anda memiliki hutang atas beasiswa yang diberikan kepada anda, anda tetap tidak memenuhi peraturan dan kewajiban anda terhadap Studiefonds dan oleh karena itu mengganggu pekerjaan-pekerjaan pembuatan dana tersebut mustahil. Bayangkan saja perasaan apa yang akan anda rasakan terhadap mantan siswa yang tidak membayar jika atas permintaan beasiswa, anda harus diberitahu bahwa anda tidak dapat memperoleh dana pertolongan untuk studi dikarenakan pendahulu anda tidak memenuhi kewajibannya. Kasus itu kini terjadi berulang kali. Dana studi harus berulang kali menolak permohonan untuk menerima beasiswa karena anda dan beberapa orang lain yang bersama anda tidak memenuhi kewajiban anda. Dewan percaya bahwa setelah penjelasan diatas anda akan sampai pada waktunya secara moral anda terdorong untuk memenuhi kewajiban anda terhadap Studiefonds Mangkunegaran dan bahwa dimasa depan pembayaran anda akan diterima secara teratur. Melalui kutipan surat edaran tersebut, terlihat bahwa Commissie Studiefonds tidak hanya menekankan aspek kewajiban moral, tetapi juga menunjukkan sikap adatif terhadap kondisi ekonomi para alumninya. Keputusan Commisie van Advies menunjukkan strategi keberlanjutan Dengan prinsip lebih baik menerima sekecil apapun dari. Pada tidak menerima sama Lembaga in berusaha menjaga likuiditas dana agar tetap mampu membiayai generasi siswa berikutnya, sekaligus mengurangi beban finansial alumni yang merasa keberatan dengan tarif awal Sarwoko Mangoenkoesoemo, hlm. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa Hal. ini dibuktikan bahwa dengan adanya klasifikasi ulang persentase pengembalian dana yang disesuaikan dengan instansi tempat alumni bekerja. Kebijakan penurunan tarif pengembalian dari 20% menjadi 5% bagi pegawai Praja Mangkunegaran dan 10% bagi mereka yang bekerja di luar lingkungan tersebut, mencerminkan upaya pragmatis lembaga agar sirkulasi dana bantuan pendidikan tetap berjalan meskipun dalam jumlah yang lebih kecil. Keputusan Commisie van Advies menunjukkan strategi keberlanjutan lembaga. Dengan prinsip lebih baik menerima sekecil apapun dari. Pada tidak menerima sama sekali. Lembaga in berusaha menjaga likuiditas dana agar tetap mampu membiayai generasi siswa berikutnya, sekaligus mengurangi beban finansial alumni yang merasa keberatan dengan tarif awal 20%. Dalam korespondensi resminya. Commisie menekankan kembali bahwa pemberian bantuan pendidikan tersebut didasarkan atas permohonan tulus dari orang tua atau voogd demi masa depan generasi muda. Oleh karena itu, pengembalian dana dipandang sebagian sebuah bentuk estafet tanggung jawab, dana yang dikembalikan oleh para alumni akan diputar kembali untuk membiayai generasi penerus yang sedang menempuh pendidikan. Dengan demikian. Studiefonds bertransformasi menjadi sebuah sistem dana bergulir yang mandiri, di mana keberhasilannya sangat tergantung pada sinergi antara kebijakan Commissie Studiefonds dan integritas para alumni atau penerima manfaatnya. Hasil Pendidikan Siswa yang Mendapatkan Studiefonds Mangkunegaran Tahun 1912-1944 Dapat dilihat dari Data diatas menunjukkan adanya peningkatan dalam penerimaan dana Studiefonds dari para lulusan serta peningkatan jumlah dana yang disalurkan kepada siswa penerima bantuan. Dewan pengelola berhasil memenuhi sebagian besar permohonan yang terus meningkat setiap tahunnya. Namun, tidak seluruh permohonan dapat disetujui, karena terdapat sejumlah mantan penerima Studiefonds yang belum memenuhi kewajiban pengembalian dana, sehingga memengaruhi kapasitas dana yang tersedia. Berikut ini merupakan data jumlah siswa penerima Studiefonds A yang melanjutkan pendidikan mereka sejak awal pembentukan lembaga tersebut, yakni dari tahun 1912 hingga 1930. Sarwoko Mangoenkoesoemo, hlm. Sarwoko Mangoenkoesoemo. Verslag van het Mangkoenagorosche Studiefonds over het Boekjaar 1930. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 Table 4. Status Pendidikan dan perolehan ijazah siswa penerima Studiefonds Sekolah (Negeri Beland. Jumlah Siswa Ijazah Med. Hooge School Technische Hooge School Landbouw Hooge School Universiteit Leiden Gem. Universiteit Amsterdam Jumlah Siswa yang Siswa yang masih belajar Table 5. Status Pendidikan dan perolehan ijazah siswa penerima Studiefonds di Sekolah HIndia Belanda Sekolah (Hindia Beland. Jumlah Siswa Ijazah Ambachtscholen Boekhoudcursus Osvia (Mosvib. Kon. Wilh School OSVIR Suikercursus Technische Avondschool Kweekschool S (Techn. Schoo. Middelbare Landb. School Technische Hooge School Koningin Emma School MULO Handelschool Koepokinrichting STOVIA Gen. Hooge School Comptabilitieitscursus Cultuurschool Holl. Inl. Kweekschool Van Deventerschool School voor Assist. Apothekers Bestuurschool Siswa yamg Siswa yang masih belajar Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa Jumlah Sumber: Sarwoko Mangoenkoesoemo. Verslag van het Mangkoenagorosche Studiefonds over het Boekjaar 1930,(Mangkoenegaran: t. p, 1. Berdasarkan data penerima Studiefonds A pada periode 1912Ae1930, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendirian lembaga ini telah tercapai dengan tingkat keberhasilan sebesar 56%, meskipun persentase tersebut tidak memperhitungkan 110 siswa yang masih melanjutkan studi. Secara rinci, 35% dari penerima Studiefonds A berhasil memperoleh ijazah, 28% tidak memperoleh ijazah, dan 37% masih dalam proses belajar. Sementara itu, data mengenai penerima Studiefonds B sejak awal pelaksanaannya pada tahun 1915 hingga tahun 1930 adalah sebagai berikut:49 Table 6. Data penerima Studiefonds B pada sekolah di Negeri Belanda tahun 1915-1930 Sekolah (Negeri Beland. Jumlah Siswa Ijazah Siswa yang Siswa yang masih belajar Academie voor Beeldende Kusten Rechts Hooge School Jumlah Table 7. Data penerima Studiefonds B pada sekolah di Hinndia Belanda tahun 1915-1930 Sekolah (Himdia Beland. MULO S A. Kweekschool Mosviba (Techn. Schoo. Holl. Inl. Kweekschool School voor Assistan Apothekers Jumlah Jumlah Studiefonds A Jumlah Studiefonds B Jumlah Siswa Ijazah Siswa yang masih belajar Siswa yang Sumber: Sarwoko Mangoenkoesoemo. Verslag van het Mangkoenagorosche Studiefonds over het Boekjaar 1930,(Mangkoenegaran: t. p, 1. Sarwoko Mangoenkoesoemo, hlm. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 Data di atas menunjukkan jumlah penerima Studiefonds B pada periode 1915Ae1930, dengan tingkat pencapaian dana sebesar 40%, tidak termasuk 26 siswa yang masih dalam proses pendidikan. Secara rinci, 11% dari siswa berhasil memperoleh ijazah, 17% tidak memperoleh ijazah, dan 72% masih melanjutkan studi. Selanjutnya, data dari Studiefonds A dan B akan diklasifikasikan berdasarkan jenis sekolah yang diikuti oleh para siswa, dengan hasil sebagai berikut:50 Table 8. Pengklasifikasian jenis sekolah dari siswa yang mendapatkan dana Studifonds A dan B Sekolah (Negeri Hindia Belanda&Negeri Beland. Jumlah Siswa Ijazah Technische School Technische Hooge Scholen Academie voor Beldende Kusten S A. Geneeskundige Hooge School MULO OSVIA (Mosvib. Kweekscholen Meisjes Scholen Rechtscholen STOVIA Landbouwscholen Cultuurscholen Apothekers School Universiteit Leiden Andere Scholen Jumlah Siswa yang Siswa yang masih belajar Sumber: Sarwoko Mangoenkoesoemo. Verslag van het Mangkoenagorosche Studiefonds over het Boekjaar 1930,(Mangkoenegaran: t. p, 1. Data gabungan penerima Studiefonds A dan B berdasarkan jenis sekolah menunjukkan tingkat keberhasilan sebesar 55%, dengan catatan bahwa persentase tersebut tidak mencakup 136 siswa yang masih dalam proses pendidikan. Dari total penerima, 33% berhasil memperoleh ijazah, 26% tidak memperoleh ijazah, dan 41% masih melanjutkan studi. Temuan ini mencerminkan capaian program Studiefonds dalam mendukung akses pendidikan, meskipun masih terdapat proporsi siswa yang belum menyelesaikan pendidikannya. Sarwoko Mangoenkoesoemo, hlm. Sarwoko Mangoenkoesoemo, hlm. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa Selain laporan anggaran dari Studiefonds A dan B, terdapat pula laporan keuangan Studiefonds Kas Daleman, yaitu dana bantuan pendidikan yang berasal dari kas pribadi Mangkunegara dan tidak dikelola oleh Commissie van Advies. Pengelolaan dana ini berada langsung di bawah otoritas Praja Mangkunegaran melalui pemerintah Kabupaten Mandrapura. Berikut ini merupakan jumlah dana yang telah dikeluarkan pada periode tahun 1939Ae1944. Table 9. Jumlah dana Studiefonds yang telah dikeluarkan pada periode tahun 1939-1944 Tahun Dana yang dikeluarkan 273,74 f 360, f 1389,41 f 60,f 1. 350,f 375,f 625,28 f 129,f 5. 444,08 356,f 3. 837,05 294,01 249,28 014,01 f 771,98 f 270,50 f 1932,05 Keterangan: (-) Aydata tidak menunjukkan ditahun berapa dana tersebut dikeluarkan untuk siswaAy. Sumber: Tjitjilan Ngatoraken Wangsoel Ampilan Arta Studiefonds Saking Ngarsa Dhalem i 1940-1944. Arsip No. Pada masa pendudukan Jepang, anggaran belanja Praja Mangkunegaran mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada awal pendudukan tahun 1942 . , anggaran tercatat sebesar 132, kemudian menurun menjadi f 1. 673 pada tahun 1943 . , dan f 1. 673 pada tahun 1944 . Meskipun pemberian Studiefonds tetap dilanjutkan, penurunan anggaran tersebut berdampak pada berkurangnya jumlah dana studi yang dapat disalurkan serta menurunnya Studiefonds Mangkunegaran. Penurunan anggaran Praja Mangkunegaran selama masa pendudukan Jepang berdampak langsung pada sektor pendidikan. Sebagai konsekuensinya, alokasi anggaran pendidikan Tjitjilan Ngatoraken Wangsoel Ampilan Arta Studiefonds Saking Ngarsa Dhalem i 1940-1944. Arsip No. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 mengalami penyusutan signifikan, yakni sebesar f 112. 562 pada tahun 1942, turun menjadi f 83. pada tahun 1943, dan sedikit meningkat menjadi f 118. 808 pada tahun 1944. Dalam kondisi penurunan anggaran akibat pendudukan Jepang, sektor pendidikan di Praja Mangkunegaran mengalami berbagai hambatan. Meskipun demikian, pemerintah Praja tetap mempertahankan keberlangsungan Studiefonds Mangkunegaran sebagai bentuk komitmen terhadap pendidikan. Pada awal masa pendudukan, tercatat sebanyak 84 siswa menerima bantuan Studiefonds. Table 10. Penerima bantuan Studiefonds pada masa kependudukan kolonial Jepang Sekolah Siswo Rini Van Deventerschool NIAS Christelijke Kweek School Teknische School HBS AMS Jumlah Siswa Sekolah MOSVIA OSVIA MLS THS RHS HIK Lain-lain Jumlah Siswa Sumber: Stat dari adanja anak-anak jang dapat pertolongan dari Studiefonds Mangkunegaran dalam boelan Joeli Vacantie Tahoen 2602. Arsip No. AuData tidak menunjukkan besaran dana yang diberikan kepada siswaAy Penurunan anggaran dan berkurangnya jumlah penerima Studiefonds selama masa pendudukan Jepang berdampak langsung pada besaran dana studi yang diberikan. Akibat keterbatasan fiskal, besaran bantuan studi harus dikurangi hingga mencapai lebih dari 50%. Adapun rincian penyusutan anggaran Studiefonds pada masa tersebut disajikan dalam data berikut:55 Table 11. Pengyusutan anggaran Studiefonds pada masa kependududkan kolonial Jepang Sekolah Sekolah Guru Putri Sekolah Guru Negeri Sekolah Menengah Sekolah Menengah Tinggi Sekolah Keterampilan Putri Sekolah Teknik Menengah Jumlah siswa Jumlah dana studi yang 2,f. 2,f. 2,- sampai f. 3,- perbulan 2,5 sampai f. 4,- perbulan 4,f. Rentjana Anggaran Keoeangan Mangkunegaran koti tahoen 2602, 2603, dan 2604. Arsip No. dan K. Stat dari adanja anak-anak jang dapat pertolongan dari Studiefonds Mangkunegaran dalam boelan Joeli Vacantie Tahoen 2602. Arsip No. Berkas-berkas surat pemberian tahoe kepada orang toea moerid jang dikabulkan bolehnja minta pitolongan Dari banda pasinaon Mangkunegaran tahoen 2605 . Arsip No. Kajian Terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran. Ahmad Dzaky Benson Irani. Nor Huda. Moh Ashif Fuadi. Aan Ratmanto. Adrian Perkasa Sekolah Tabib Semarang Sekolah Pertanian Menengah Tinggi Sekolah Tehnik Tinggi 60,- Pertahun 180,- Pertahun 128,- Pertahun Sumber: Berkas-berkas surat pemberian tahoe kepada orang toea moerid jang dikabulkan bolehnja minta Pitolongan dari banda pasinaon Mangkunegaran tahoen 2605. Arsip No. Tabel di atas menunjukkan terjadinya penurunan yang signifikan dalam jumlah penerima Studiefonds dan besaran dana studi, dengan pemotongan hingga 50%. Jika dibandingkan dengan masa pemerintahan Belanda, perbedaan ini sangat mencolok. Pada masa Belanda, dana studi untuk jenjang setara SLTP berkisar antara f 5,- hingga f 15,-, untuk SLTA antara f 15,- hingga f 30,-, dan untuk pendidikan tinggi mencapai f 150,- hingga f 300,- per tahun. Data ini mencerminkan kemunduran signifikan dalam alokasi dana pendidikan selama masa pendudukan Jepang dibandingkan dengan periode kolonial Belanda. KESIMPULAN Pada awal abad ke-20, di tengah struktur kolonial yang membatasi akses pengetahuan bagi kaum pribumi. Praja Mangkunegaran mengambil langkah visioner yang melampaui zamannya. Narasi kemandirian ini dimulai pada tahun 1912, ketika sebuah lembaga keuangan khusus pendidikan bernama Studiefonds Mangkunegaran didirikan. Melalui legalitas Pranatan Pustaka Praja (Rijksbla. pada 15 Oktober 1913, lembaga ini bukan sekadar menjadi penyalur bantuan, melainkan menjadi simbol perlawanan terhadap pembatasan pendidikan kolonial. Perjalanan Studiefonds mencatatkan sebuah transformasi sosial yang luar biasa. Pada fase awal, program ini dikenal sebagai Studiefonds A yang secara spesifik ditujukan bagi golongan bangsawan . dan priyayi. Namun. Mangkunegaran menyadari bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak bisa bertumpu pada segelintir elit saja. Maka, pada tahun 1915, sebuah gebrakan besar dilakukan melalui pembentukan Studiefonds B. Pintu pendidikan yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar bagi masyarakat umum non-bangsawan. Menariknya, sistem ini tidak bergantung pada belas kasihan kolonial, melainkan menggunakan model pembiayaan berkelanjutan. Dana untuk masyarakat umum ini bersumber dari pengembalian dana para alumni Studiefonds A, menciptakan sebuah siklus tanggung jawab sosial yang mencerminkan kemandirian finansial pribumi yang hakiki. Modernisasi lembaga ini mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan Mangkunegara VII. Beliau melakukan restrukturisasi birokrasi dengan membentuk Commissie van Advies sebagai dewan pengawas yang profesional untuk menjamin distribusi dana yang adil dan Lebih dari sekadar kebijakan politik. Mangkunegara VII menunjukkan komitmen moral yang tinggi dengan menyertakan dana dari Kas Daleman . ana pribad. untuk memperkuat fondasi beasiswa. Tindakan ini mempertegas identitas Studiefonds sebagai instrumen filantropi Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 116-142 pribumi yang digerakkan oleh kepedulian tulus terhadap peningkatan derajat dan martabat Pendidikan kini bukan lagi kemewahan, melainkan hak yang diperjuangkan secara Ujian terberat datang ketika matahari terbit dari Timur membawa pendudukan Jepang. Kondisi ekonomi makro yang carut-marut memaksa anggaran pendidikan merosot tajam hingga Meskipun jumlah penerima beasiswa berkurang drastis. Studiefonds menolak untuk Program ini tetap dipertahankan sebagai benteng pertahanan terakhir bagi akses pendidikan generasi muda. Keberlangsungan Studiefonds di masa krisis ini menjadi bukti nyata adanya resiliensi atau daya tahan. Mangkunegaran berhasil membuktikan bahwa meskipun di bawah tekanan penjajah, agensi dan partisipasi lokal tetap mampu menjaga api pengetahuan agar tidak padam. Studiefonds Mangkunegaran pada akhirnya adalah kisah tentang bagaimana sebuah bangsa menolak untuk tetap berada dalam keterkungkungan. Pendidikan di tangan Mangkunegaran telah menjadi pemicu yang mengubah wajah sosial masyarakat, memicu mobilitas vertikal, dan meletakkan dasar bagi intelektualitas Indonesia modern. Penelitian ini menegaskan bahwa jauh sebelum model beasiswa modern dikenal luas, para pemimpin di Praja Mangkunegaran telah lebih dulu mempraktikkan kemandirian dan keadilan sosial melalui cara-cara yang sangat profesional dan bermartabat. REFERENSI