Original Article Penerimaan diri dengan tingkat stres pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Sleman Yogyakarta Mega Niawati . Deasti Nurmaguphita . Prastiwi Puji Rahayu 1Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas AoAisyiyah Yogyakarta Jurnal Kesehatan e-ISSN: 2502-0439 Informasi artikel Diterima : 22 Januari 2025 Revisi : 17 Februari 2025 Diterbitkan : 31 Juli 2025 Korespondensi : nama penulis : Mega Niawati afiliasi : Universitas AoAisyiyah Yogyakarta email : meganiawati30@gmail. *diisi editor Sitasi: Niawati. Nurmagupitha. Rahayu. Penerimaan diri dengan tingkat stres pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Sleman Yogyakarta. Jurnal Kesehatan. Vol 13. ABSTRAK Latar belakang: Narapidana membutuhkan waktu untuk menerima dirinya di posisi dan lingkungan baru. Penerimaan diri negatif akan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tingkat stres yang dialami individu berbeda tergantung pada penerimaan diri pada setiap individu. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dengan tingkat stres pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman Yogyakarta. Metode: Metode yang digunakan cross-sectional dengan desain penelitian deskriptif korelasional. Responden penelitian yaitu narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman Yogyakarta sebanyak 69 responden. Teknik pengambilan sampling menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner penerimaan diri yang diadopsi dari pramesti . dan kuesioner Depression Anxiety Stress Scales 42 (DASS . Analisis data menggunakan uji kendal tau. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki penerimaan diri tinggi sebanyak 56 responden . ,2%) dan tingkat stres normal sebanyak 32 responden . 4%). Hasil uji kendal tau menunjukkan nilai signifikan sebesar p<0. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara penerimaan diri dengan tingkat stres pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman Yogyakarta. Saran: Penelitian ini dapat dijadikan acuan oleh petugas lapas untuk memberi edukasi kepada narapidana bahwa penerimaan diri sangatlah penting untuk diri sendiri. Kata Kunci : Penerimaan diri. ABSTRACT Background: Prisoners need time to accept themselves in a new position and environment. Negative selfacceptance will make it difficult to adapt to new environments. The level of stress experienced by individuals varies depending on each individual's self-acceptance. Objective: The study aimed to determine the relationship between self-acceptance and stress levels in prisoners at the Class IIB Correctional Institution of Sleman Yogyakarta. Method: The method used cross-sectional with a descriptive correlational research design. The research respondents were 69 inmates at the Class IIB Correctional Institution of Sleman Yogyakarta. The sampling technique used purposive sampling. The instruments were the self-acceptance questionnaire adopted from Pramesti . and the Depression Anxiety Stress Scales 42 (DASS . Data analysis used the tau control test. Results: The results showed that the majority of respondents had high self-acceptance. 2%) and 32 respondents . 4%) had normal stress levels. The results of the tau control test found a p value of p<0. 001 < . The Kendall Tau correlation coefficient value of R -0. 370 indicates the strength of the relationship is low because it is at a coefficient of 0. 20 to 0. 399, while the negative sign (-) indicates the direction of the relationship is negative. Conclusion: There is a relationship between self-acceptance and stress levels in prisoners at the Class IIB Correctional Institution of Sleman Yogyakarta. Suggestion: This research can be used as a reference by prison officers to educate prisoners that self-acceptance is very important for oneself. Keywords : Self-Acceptance. Pendahuluan 89,35%. Narapidana Meski tersebut sudah menurun dibanding yang dipidana dalam kurungan sel persenan sebelumnya sebesar 103% karena ada perilaku yang melanggar (Kemenkumham, 2. aturan dan merugikan korban. Menurut Direktorat peraturan Undang-Undang Nomor 12 pemasyarakatan mengatakan bahwa tahun 1995 narapidana tersebut akan narapidana merasa terputus hubungan menjalani hukumannya karena telah dengan keluarganya yang dijadikan sebagai penguat mentalnya selama ataupun mengakibatkan kerugian yang mengalami hukuman dipenjara. Hal ini sangat besar baik psikis maupun harta dapat diatasi jika narapidana dapat benda yang di miliki oleh seseorang mencari sebuah dukungan sosialnya karena tindakan melawan hukum baik bersifat terpaksa maupun tidak, yang narapidana atau kemampuan petugas digunakan untuk kepentingan pribadi Lembaga Pemasyarakatan Narapidana dengan jumlah narapidana yang begitu Lembaga merampas hak-hak milik orang lain. Terlebih Pemasyarakatan kehilangan kebebasan banyak jika baik, maka potensi gesekan antar kontak sosial serta kehilangan hak narapidana bisa terjadi bahkan potensi pribadi (Pardede dkk. , 2. lain dapat memunculkan depresi dan tidak di tangani dengan Kementrian hukum dan hak asasi akhirnya bunuh diri (Ditjenpas, 2. manusia melaporkan jumlah penghuni Stres adalah reaksi seseorang Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia baik secara fisik maupun emosional, mental, ataupun psikis. Apabila ada Jumlah tersebut telah melebihi total kapasitas Lembaga Pemasyarakatan negeri yang seharusnya hanya bisa menyesuaikan diri, seseorang tersebut 424 orang. Dengan akan membutuhkan waktu yang cukup demikian over kapasitas di Lembaga lama untuk menyesuaikan diri dengan Pemasyarakatan Indonesia mencapai cara mereka masing-masing. Setiap orang bereaksi terhadap stres dengan penerimaan terhadap dirinya sendiri cara yang berbeda-beda (Kemenkes RI, (Qoyum, 2. Menurut ArfaAoi & Anwar . Berdasarkan menyatakan bahwa setiap narapidana atau tahanan sudah dipastikan akan Pemasyarakatan mengalami stres. Yogyakarta, lapas tersebut memiliki Kelas Lembaga IIB Sleman Stres kapasitas 225 dengan jumlah warga seperti peneriman diri dimana hal ini sebanyak 317 . aki-laki dewas. , 98 berkaitan dengan bagaimana mereka diantaranya merupakan tahanan yang melihat diri mereka sendiri yang dapat dititipkan pada lapas tersebut. Tahanan ditandai dari segi kelemahan dan yaitu seseorang masih dalam proses keadaan yang dapat memahami serta menerima keadaan yang mereka alami pengadilan Mahkamah Agung yang saat ini dengan perasaan yang baik akan ditempatkan di rumah tahanan maupun buruk. Narapidana dengan . penerimaan diri yang positif akan merupakan narapidana yaitu seseorang merasa mudah beradaptasi yang menjalani pidana penjara dalam lingkungan baru. Namun, narapidana waktu tertentu, seumur hidup atau dengan penerimaan diri negatif merasa terpidana mati. sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru Hasil studi pendahuluan yang di mana mereka dilakukan dengan 3 responden tahanan tinggal (Ernawati & Masnina, 2. di dapatkan hasil ke 3 responden Penerimaan diri merupakan sikap yang objektif terhadap diri sendiri dan penerimaan diri yang sedang, karena keadaan diri sendiri serta menerima responden sudah menerima keadaanya segala sesuatu yang ada pada diri yang sekarang berada dalam lapas. Pada 2 responden mengalami tingkat kekurangan diri. Hidup dengan baik dan stres sedang dengan gejala yang bertanggung jawab serta kemampuan disampaikan seperti sulit tidur, merasa lelah terus menerus padahal tidak melakukan kegiatan yang berat. Serta pengambilan sampling menggunakan 1 responden mengalami tingkat stres purposive sampling. Instrumen yang berat dengan gejala yang disampaikan responden bingung apa yang akan penerimaan diri yang diadopsi dari dilakukan setelah keluar dari lapas. Pramesti responden merasa sedih dan selalu Depression Anxiety Stress Scales 42 mempunyai pikiran negatif terhadap (DASS . Analisis data menggunakan dirinya, serta bingung apa yang mau uji kendal tau. diobrolin lagi dengan teman satu kamar Penelitian ini telah mendapatkan Metode izin dari komisi etik Universitas Aisyiyah Yogyakarta Metode yang digunakan cross- Penelitian 2024 sampai 15 Maret 2024 dengan responden Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Sleman Yogyakarta No. 347/KEP- dilaksanakan pada tanggal 8 Maret Responden penelitian yaitu narapidana di Lembaga UNISA/II/2024. sectional dengan desain penelitian . Hasil karena semua topik sudah diobrolkan. Pemasyarakatan Sleman Yogyakarta. Teknik Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman Yogyakarta Karakteristik Responden Usia 17 - 25 tahun 26 - 35 tahun 36 - 45 tahun 46 - 55 tahun 56 - 65 tahun Frekuensi Persentase (%) Sumber : Data Primer . Tabel sebanyak 28 orang . ,6%) dan 26-35 responden sebagian besar 17-25 tahun tahun sebanyak 28 orang . ,6%). Tabel 2. Distribusi Penerimaan Diri pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman Yogyakarta Penerimaan Diri Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Frekuensi Sumber : Data Primer . Tabel Persentase (%) memiliki kategori sangat rendah 0 penerimaan diri pada narapidana di . %). Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB menunjukkan kategori tinggi sebanyak Sleman Yogyakarta tidak ada yang 56 orang . ,2%). Tabel 3. Distribusi Tingkat Stres pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman Yogyakarta Penerimaan Diri Normal Ringan Sedang Berat Sangat Berat Total Frekuensi Persentase (%) Sumber : Data Primer . Tabel 3 menunjukkan tingkat sangat berat sebanyak 1 orang . ,4%), stres pada narapidana di Lembaga dan sebagian besar adalah normal Pemasyarakatan sebanyak 32 orang . ,4%). Yogyakarta IIB Sleman Tabel 4. Tabulasi Silang dan Hasil Uji Korelasi Kendall Tau Hubungan antara Penerimaan Diri dengan Tingkat Stres pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman Yogyakarta Tingkat Stres Sangat Berat Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Normal Ringan Sedang Sumber : Data Primer . Berat Pvalue -0,370 0,000 disajikam pada tabel 4. 5, diperoleh p- Tabel 4 menunjukkan narapidana dengan peneriman diri rendah sebagian value sebesar 0. besar memiliki tingkat stres normal sebanyak 1 orang . ,1%). Narapidana dengan tingkat stres pada narapidana sebagian besar memiliki tingkat stres di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIB sedang sebanyak 4 orang . ,3%). Sleman Narapidana dengan penerimaan diri korelasi kendall tau sebesar -0,370 tinggi sebagian besar memiliki tingkat rendah karena berada pada koefisien 0,20 sampai 0,399, sedangkan tanda . ,5%). Narapidana Yogyakarta. Nilai yca . penerimaan diri sangat tinggi sebagian besar memiliki tingkat stres normal hubungan negatif. Berdasarkan hasil sebanyak 1 orang . ,1%). penelitian menunjukkan semakin tinggi Hasil (-) penerimaan diri maka tingkat setres semakin rendah. menggunakan uji kendall tau seperti Pembahasan kategori tinggi sebanyak 56 orang Berdasarkan tabel 1 distribusi . ,2%), hal tersebut dikarenakan frekuensi karakteristik responde pada narapidana sudah menerima kondisi 1 diketahui bahwa sebagian yang sedang dialami dengan keputusan besar responden berusia 17-25 tahun masa hukuman yang sudah didapat tanpa memiliki pikiran negatif pada berusia 26-35 tahun sebanyak 28 orang dirinya sendiri. Narapidana yang baru . ,6%). masuk akan melakukan kegiatan masa Berdasarkan . ,6%) pengenalan lingkungan terlebih dahulu menunjukkan penerimaan diri pada Lembaga beradaptasi dengan lingkungan baru. Pemasyarakatan Sleman Di Lembaga Pemasyarakatan Sleman IIB Yogyakarta sebagian besar mempunyai Yogyakarta kunjungan untuk keluarga narapidana 2 kali dalam 1 minggu yaitu hari selasa sangat berat yaitu 1 responden . ,8%) dan kamis, sehingga narapidana akan dimana stres adala keadaan atau mendapatkan support dari keluarga peristiwa yang dapat menimbulkan masing-masing dan penerimaan dirinya perubaan dalam kehidupan individu menjadi lebih baik. sehingga individu tersebut terpaksa menjalani hukuman pidana mengalami mampu menerima dirinya dengan baik, adalah individu yang memiliki aspek sehingga mengakibatkan stres pada dirinya sama atau sederajat dengan awal lagi. Narapidana yang sedang Adinda . yaitu individu dikatakan beradaptasi atau menyesuaikan diri Hasil penelitian ini sejalan dengan Hasil penelitian dengan kategori kemampuan diri, berpendirian teguh, normal sebanyak 32 orang . ,4%), sifat-sifat kemanusiaan. Berdasarkan disebabkan karena individu susah beradaptasi dengan lingkungan baru, merasa bosan dengan aktivitas Dalam Lembaga Pemasyarakatan mengisi waktu sehari-harinya dengan kegiatan tersebut. dan sudah kebingungan apa yang harus di obrolkan dengan teman 1 kamar Masalah karena semua pengalaman cerita yang narapidana sehingga narapidana dapat Lembaga Pemasyarakatan, kesulitan untuk tidur, yang baru dengan aktivitas yang akan kategori sangat berat sebanyak 1 orang dikatakan normal karena individu dapat tingkat stres pada tabel 3 menunjukkan . ,4%) sehingga individu sering ngobrol sendiri penerimaan diri yang rendah individu dikamar saat tengah malam. Menurut bisa mengalami stres yang disebabkan penelitian febrianti & Masnina . oleh berbagai faktor lingkungan sekitar, tetapi narapidana yang mempunyai dan sebagian besar adalah normal penerimaa diri tinggi tingkat stres yang sebanyak 32 orang . ,4%). Terdapat dialami semakin kecil dibandingkan dengan narapidana yang mempunyai dengan tingkat sres berdasarkan hasil uji statistik yang diperoleh dengan uji stresnya akan semakin besar. Pendapat ini didukung oleh teori milik Cahyani p<0. 0001, kurang dari yca . Nilai dkk . dimana setiap beradaptasi koefisien korelasi kendall tau sebesar - manusia yang berhadapan 0,370 situasi tertentu atau baru biasanya hubungan rendah karena berada pada individu mengalami kesulitan sehingga merasa tidak nyaman, gelisah, stres bahkan sampai depresi. menunjukkan arah hubungan negatif. Kesimpulan Saran