Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 172-184 DOI: https://doi. org/10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat Eklesiologi Martin Luther sebagai Dasar Teologi Tata Gereja di GKPI Ronald Patiar Hutabarat 1*. Rencan C. Marbun 2 Institut Agama Kristen Negeri Tarutung. Indonesia Jalan Raya Tarutung-Siborongborong KM. 11 Silangkitang. Kec. Sipoholon. Kab. Tapanuli Utara Korespondensi penulis: hutabaratpathiar@gmail. Abstract. Understanding ecclesiology plays a crucial role in the structure and life of the church, because through ecclesiology, the church can recognize its identity and understand its purpose and calling in the world. Proper ecclesiology is the basis for the formation of church organizations and the implementation of religious practices. With this understanding, the church can carry out its function as a community of faith that reflects the love and truth of Christ in life together. GKPI is one of the churches that adheres to Luther's ecclesiology. This study aims to see how the ecclesiology understood by Martin Luther is used as the basis for the theology of church order in GKPI. Keywords: Ecclesiology. Martin Luther. GKPI Abstrak. Pemahaman eklesiologi memiliki peran krusial dalam struktur dan kehidupan gereja, karena melalui eklesiologi, gereja dapat mengenali jati dirinya serta memahami tujuan dan panggilannya di dunia. Eklesiologi yang tepat menjadi dasar bagi pembentukan organisasi gereja dan pelaksanaan praktik keagamaannya. Dengan pemahaman ini, gereja dapat menjalankan fungsinya sebagai komunitas iman yang mencerminkan kasih dan kebenaran Kristus dalam kehidupan bersama. GKPI adalah salah satu gereja yang menganut paham eklsesiologi Luther. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eklesiologi yang dipahami oleh Martin Luther dijadikan sebagai dasar teologi tata gereja di GKPI. Kata kunci : Eklesiologi. Martin Luther. GKPI LATAR BELAKANG Pada masa awal kekristenan, gereja dipahami sebagai sebuah lembaga institusional. Namun, makna sejatinya berasal dari istilah "ekklesia," yang berarti komunitas orang-orang yang dipanggil keluar (Herianani dkk, 2. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan hambatan, baik dari dalam maupun luar, gereja terus berkembang. Perbedaan pandangan dan perdebatan mengenai ajaran yang benar menjadi bagian dari dinamika tersebut. Setiap gereja memiliki rumusan ajaran yang menjadi dasar bagi pertumbuhan dan arah pelayanannya. Tata gereja, yaitu seperangkat aturan dan pedoman yang disusun secara sistematis oleh suatu gereja atau kelompok gereja yang berafiliasi, berfungsi untuk mengatur pelayanan dan kehidupan Ajaran mengenai gereja juga dipengaruhi oleh kontribusi tokoh-tokoh gereja terdahulu yang berupaya mengarahkan gereja sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitabiah seperti Martin Luther, dan John Calvin. Ketika membahas aliran Lutheran, tidak dapat dipisahkan dari sosok Martin Luther, tokoh reformator yang membawa perubahan signifikan dalam ajaran gereja (Aritonan. Jan S. Reformasi yang dipelopori oleh Luther muncul sebagai respons terhadap kondisi Received: April 15, 2025. Revised: April 30, 2025. Accepted: Mei 28, 2025. Published: Mei 30, 2025 Eklesiologi Martin Luther sebagai Dasar Teologi Tata Gereja di GKPI spiritual dan praktik gereja saat itu, terutama yang tidak sejalan dengan ajaran Alkitab. Salah satu pemicu utama Reformasi adalah penjualan surat pengampunan dosa . oleh Gereja Katolik Roma di Jerman, yang menurut Luther tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Sebagai tanggapan. Luther menyusun 95 dalil yang mencerminkan pengalaman dan pergumulannya sendiri, bukan sekadar teori. Setelah dipublikasikan, dalil-dalil tersebut dengan cepat menarik perhatian banyak orang, diperbanyak, dan disebarkan ke berbagai tempat dan Reformasi yang dipimpin oleh Luther dapat dipahami sebagai reaksi terhadap kemerosotan nilai-nilai pendalaman Kitab Suci oleh Gereja Katolik Roma (Tiur dkk, 2. Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) merupakan salah satu gereja di Indonesia yang menganut ajaran Lutheran yang dirumuskan oleh Martin Luther. GKPI didirikan di Pematangsiantar pada tanggal 30 Agustus 1964. Sumatera Utara, sebagai hasil dari keinginan untuk melakukan pembaruan dalam tubuh gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pada awal tahun 1960-an. Perselisihan internal, terutama terkait hubungan antara HKBP dan Universitas Nommensen, memuncak dalam Sinode Khusus di Parapat pada Juli 1964, yang kemudian mendorong sebagian peserta untuk mendirikan GKPI. Sejak pendiriannya. GKPI menghadapi banyak tantangan dan pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan iman dan praktik gereja. Gereja ini berkomitmen untuk tetap setia kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja dan Juruselamat dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pemahaman eklesiologi Martin Luther digunakan sebagai dasar teologis dalam tata gereja GKPI. Dalam pandangan Luther, gereja dipahami sebagai persekutuan orang-orang percaya . , bukan sekadar institusi atau bangunan fisik. Ia menekankan pentingnya keimaman semua orang percaya, di mana setiap individu memiliki peran dalam pelayanan dan penyebaran Injil. Selain itu. Luther juga menyoroti pentingnya pemberitaan firman, sakramen, dan kehidupan komunitas yang berpusat pada Kristus sebagai elemen kunci dalam struktur KAJIAN KEPUSTAKAAN Defenisi Eksiologi Secara etimologis, istilah "eklesiologi" berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani: ekklesia dan logos. Ekklesia berarti "jemaat" atau "gereja", sementara logos berarti "perkataan", "firman", atau "ilmu". Dengan demikian, eklesiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang gereja atau jemaat. Dalam konteks Perjanjian Baru, kata ekklesia digunakan untuk merujuk pada komunitas orang percaya yang dipanggil keluar dari kehidupan lama mereka untuk hidup SEPAKAT - VOLUME. 11 NOMOR 1. MEI 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 172-184 dalam terang Kristus. Istilah ini menekankan bahwa gereja bukan sekadar institusi atau bangunan fisik, melainkan persekutuan orang-orang yang dipanggil untuk menjalankan misi Allah di dunia (Budianto dkk, 2. Dalam konteks Perjanjian Baru, istilah ekklesia digunakan oleh para penulis untuk merujuk pada komunitas orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yaitu mereka yang telah dipanggil keluar dari kehidupan lama mereka untuk mengikuti-Nya. Kata ini muncul sebanyak 115 kali dalam teks Perjanjian Baru, dengan sekitar 10 kali mengacu pada gereja secara universal, seperti yang terlihat dalam Matius 16:18. Istilah ekklesia berasal dari bahasa Yunani yang berarti "mereka yang dipanggil keluar. " Kata ini terdiri dari dua bagian: "ek" yang berarti "keluar dari," dan "kaleo" yang berarti "memanggil. " Secara teologis, ekklesia merujuk pada komunitas orang-orang yang dipanggil oleh Allah keluar dari kehidupan lama yang dikuasai oleh dosa dan kuasa Iblis, untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Hal ini mencerminkan perubahan status dan pola hidup yang mendasar. Lebih lanjut, ekklesia menggambarkan umat yang dipanggil untuk tidak lagi hidup bagi diri sendiri, melainkan hidup bagi Tuhan, beribadah kepada-Nya, dan melayani-Nya. Ini menunjukkan perubahan tujuan hidup dan pandangan dasar sebagai respon atas panggilan Allah. Dengan demikian, ekklesia bukan sekadar istilah untuk sebuah pertemuan atau bangunan gereja, melainkan menggambarkan komunitas orang percaya yang telah mengalami transformasi hidup dan dipanggil untuk menjalani kehidupan yang berpusat pada Tuhan. ( Eunike, 2. Eklesiologi Martin Luther dan Tata Gereja Aliran Lutheran Martin Luther, yang lahir pada 10 November 1483 di Eisleben. Jerman, adalah tokoh sentral dalam Reformasi Protestan. Sebagai seorang teolog dan mantan biarawan Augustinian. Luther dikenal karena upayanya mereformasi ajaran dan praktik Gereja Katolik Roma yang dianggapnya menyimpang dari kebenaran Alkitab. Salah satu praktik yang paling ia kritik adalah penjualan indulgensi, yaitu surat pengampunan dosa yang dapat dibeli umat untuk mengurangi hukuman dosa, yang menurutnya tidak memiliki dasar dalam Kitab Suci . Sebagai tanggapan atas penyimpangan tersebut, pada 31 Oktober 1517. Luther menempelkan 95 Tesis di pintu Gereja Kastil Wittenberg. Tesis-tesis ini berisi kritik terhadap praktik indulgensi dan menyerukan reformasi dalam gereja. Tindakan ini memicu perdebatan luas dan menjadi awal dari gerakan Reformasi Protestan yang menyebar ke seluruh Eropa. Dalam pandangan teologisnya. Luther menekankan bahwa gereja sejati bukanlah institusi yang menyampaikan keselamatan melalui hierarki atau ritual tertentu, melainkan persekutuan orang-orang percaya yang dipersatukan oleh Roh Kudus dan hidup berdasarkan firman Allah. Ia mengajarkan bahwa firman Tuhan harus menjadi pusat dalam ibadah, dan Eklesiologi Martin Luther sebagai Dasar Teologi Tata Gereja di GKPI sakramenAiseperti baptisan dan perjamuan kudusAimerupakan tanda persekutuan dengan Kristus, bukan sarana untuk memperoleh anugerah . Selain itu. Luther memperkenalkan doktrin "keimamatan semua orang percaya," yang menyatakan bahwa setiap orang Kristen memiliki akses langsung kepada Allah tanpa perantara imam, dan memiliki tanggung jawab untuk memberitakan firman serta melayani dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan ini menantang struktur hierarkis Gereja Katolik saat itu dan menekankan peran aktif setiap individu dalam kehidupan rohani . Bagi Martin Luther, isu mengenai struktur gereja dan otoritas kepausan merupakan topik yang sangat penting dalam upaya reformasi gereja. Ia menilai bahwa gereja telah menyimpang dari ajaran murni yang terdapat dalam Kitab Suci, sehingga diperlukan pembaruan yang mendalam untuk mengembalikannya ke dasar-dasar iman yang benar. Luther menolak klaim bahwa Paus memiliki otoritas tertinggi dalam menafsirkan Alkitab dan memimpin gereja, serta menentang gagasan bahwa hanya Paus yang berwenang mengadakan konsili gereja. Sebaliknya, ia menekankan bahwa setiap orang percaya memiliki hak dan tanggung jawab untuk memahami dan menghidupi firman Tuhan secara langsung, tanpa perantara hierarki gerejawi. Luther juga mengkritik keras praktik-praktik gereja yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, seperti penjualan indulgensi, yang dianggapnya sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan gereja. Ia berpendapat bahwa keselamatan dan pengampunan dosa hanya dapat diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus, bukan melalui perbuatan atau ritus tertentu yang ditetapkan oleh gereja. Dalam pandangan Luther, gereja sejati adalah persekutuan orang-orang percaya yang dipersatukan oleh Roh Kudus dan hidup berdasarkan firman Allah. Ia menekankan bahwa firman Tuhan harus menjadi pusat dalam ibadah, dan sakramenAiseperti baptisan dan perjamuan kudusAimerupakan tanda persekutuan dengan Kristus, bukan sarana untuk memperoleh anugerah. Dengan demikian. Luther mengajak gereja untuk kembali kepada ajaran Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran, dan menolak otoritas manusia yang tidak didasarkan pada firman Tuhan. Pendekatan ini menjadi dasar bagi gerakan Reformasi Protestan yang menyebar ke seluruh Eropa dan melahirkan berbagai denominasi Kristen yang menekankan otoritas Kitab Suci dan iman pribadi dalam kehidupan Rohani (Noble P, 2. Dalam pemikiran Martin Luther, terdapat tiga prinsip utama yang membentuk doktrin Keutamaan Injil: Luther menekankan bahwa inti dari gereja sejati adalah pemberitaan Injil yang murni. Ia percaya bahwa di mana Injil dikhotbahkan dengan setia, di situ terdapat SEPAKAT - VOLUME. 11 NOMOR 1. MEI 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 172-184 komunitas Kristen yang sejati. Sebaliknya, jika pengajaran manusia menggantikan Injil, maka komunitas tersebut tidak dapat dianggap sebagai gereja Kristen yang hidup. Firman dan Sakramen: Luther mengajarkan bahwa firman Allah dan sakramen merupakan sarana utama melalui mana Allah bekerja dalam gereja. Sakramen, seperti baptisan dan perjamuan kudus, bukanlah alat untuk memperoleh anugerah, melainkan tanda persekutuan orang percaya dengan Allah. Keimaman Semua Orang Percaya: Luther memperkenalkan konsep bahwa setiap orang Kristen memiliki peran sebagai imam. Ini berarti bahwa setiap individu memiliki akses langsung kepada Allah dan bertanggung jawab untuk melayani-Nya dalam kehidupan sehari-hari, tanpa memerlukan perantara khusus seperti imam atau uskup. Dengan demikian. Luther menekankan bahwa gereja bukanlah institusi yang bergantung pada struktur hierarkis atau tradisi manusia, melainkan komunitas orang-orang percaya yang hidup dalam firman Allah, merayakan sakramen sebagai tanda persekutuan dengan-Nya, dan melayani Allah dalam kehidupan sehari-hari. Pada awalnya. Gereja Katolik Roma memandang gerakan Reformasi sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran yang benar, dengan menyoroti Martin Luther sebagai sosok yang dianggap merusak kesatuan gereja. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya dapat diterima, mengingat sejak masa Kekristenan awal telah terjadi perpecahan dalam tubuh gereja. Perbedaan-perbedaan tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai denominasi yang ada saat ini. Menurut Luther, gereja sejati adalah perkumpulan orang-orang yang sudah diselamatkan melalui kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus. Keselamatan ini diterima melalui iman yang didasarkan pada pemahaman akan Injil. Dengan demikian, gereja dapat ditemukan di mana saja, asalkan firman Tuhan diberitakan dan sakramen dilayankan dengan Luther menekankan pentingnya firman Allah sebagai pusat kehidupan gereja. Ia percaya bahwa tanda pasti dari keberadaan gereja sejati adalah pemberitaan Injil yang murni. Jika Injil tidak lagi menjadi pusat, dan digantikan oleh ajaran-ajaran manusia, maka komunitas tersebut tidak dapat dianggap sebagai gereja yang hidup. Dalam pandangan Luther, gereja adalah komunitas yang dipanggil keluar dari kehidupan lama untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah, dipersatukan oleh Roh Kudus, dan hidup berdasarkan firman Tuhan. Dengan demikian, gereja bukanlah lembaga yang mengantarkan keselamatan, melainkan persekutuan orangorang percaya yang hidup dalam iman dan ketaatan kepada Kristus. Eklesiologi Martin Luther sebagai Dasar Teologi Tata Gereja di GKPI Tata gereja merujuk pada seperangkat aturan dan pedoman yang disusun secara sistematis oleh suatu gereja atau kelompok gereja yang berafiliasi, dengan tujuan mengatur pelayanan dan kehidupan jemaat. Fungsi utama dari tata gereja meliputi: Menetapkan apa yang seharusnya dilakukan dan dihindari oleh jemaat. Menjadi panduan bagi jemaat dalam menjalani kehidupan dan pelayanan di gereja. Mencerminkan identitas dan karakteristik khas dari suatu gereja. Menjaga keteraturan dan kesatuan dalam persekutuan gereja. Pandangan Martin Luther tentang Tata Gereja Martin Luther tidak memberikan banyak petunjuk spesifik mengenai penyusunan tata gereja, karena ia tidak menemukan dasar yang eksplisit dalam Alkitab mengenai struktur dan tata pemerintahan gereja yang baku. Sebaliknya. Luther lebih menekankan bahwa gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang telah diselamatkan oleh kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu, ia memberikan kebebasan kepada masing-masing gereja untuk menentukan struktur dan sistem yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka. Gerejagereja Lutheran mengembangkan struktur yang fleksibel, memungkinkan keseimbangan antara kemandirian lokal dan hubungan global. Pendekatan ini memungkinkan jemaat dan badan gereja untuk mempertahankan akar teologis mereka sambil menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelayanan masa kini secara efektif. Eklesiologi Luther yang berpusat pada Kristus menjadi dasar bagi penyusunan program gereja dalam tradisi Lutheran. Tiga aspek penting yang diwariskan dari eklesiologi masa Reformasi dan masih digunakan hingga kini adalah: Marturia: Kesaksian tentang Injil. Koinonia: Persekutuan antarjemaat. Diakonia: Pelayanan kepada sesama. Dalam tata ibadahnya, gereja-gereja Lutheran tetap mengikuti dasar iman yang dirumuskan oleh Martin Luther, yaitu: Sola Fide: Hanya oleh iman. Sola Gratia: Hanya oleh anugerah. Sola Scriptura: Hanya oleh Kitab Suci. Prinsip-prinsip ini menjadi landasan dalam sikap liturgi dan tata ibadah yang dijalankan oleh gereja-gereja Lutheran hingga saat ini. Struktur Tata Ibadah Gereja Lutheran Ibadah dalam tradisi Lutheran mengikuti pola liturgi yang terstruktur, dimulai dengan nyanyian pembukaan seperti Mazmur atau lagu rohani seperti Kyrie Eleison dan Gloria. SEPAKAT - VOLUME. 11 NOMOR 1. MEI 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 172-184 Setelah itu, dilanjutkan dengan Doa Kolekta dan pembacaan surat-surat dari Kitab Suci. Kemudian, jemaat menyanyikan Mazmur kembali sebelum memasuki bagian inti ibadah. Bagian inti mencakup pembacaan Injil yang diikuti dengan pengakuan iman (Kred. yang biasanya dinyanyikan. Setelah itu, khotbah disampaikan sebagai unsur penting dalam Usai khotbah, jemaat menyanyikan Doa Bapa Kami, yang dapat disertai dengan nasihat atau renungan tambahan. Ibadah kemudian berlanjut ke perjamuan kudus. Setelah perjamuan, jemaat mengucapkan syukur dan ibadah ditutup dengan doa berkat. Struktur ini mencerminkan fokus gereja Lutheran pada pemberitaan Firman dan sakramen, serta mempertahankan elemenelemen liturgis tradisional yang berakar pada ajaran Martin Luther. Jabatan Gereja Martin Luther, melalui kajian mendalam terhadap Alkitab, khususnya kitab Ibrani dan 1 Petrus, menyimpulkan bahwa tidak ada pemisahan hierarkis antara jabatan-jabatan gerejawi. Ia berpendapat bahwa jabatan imam dalam Perjanjian Lama telah disempurnakan dan diakhiri oleh Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung. Dalam pemahamannya. Luther menolak gagasan bahwa hanya kalangan tertentu yang memiliki akses istimewa kepada Allah. Sebaliknya, ia menekankan bahwa semua orang percaya, melalui iman kepada Kristus, memiliki hak dan tanggung jawab yang setara dalam kehidupan rohani. Konsep ini dikenal sebagai "imamat umum orang percaya," yang berarti bahwa setiap individu yang percaya kepada Kristus dipanggil untuk melayani dan beribadah kepada Allah tanpa perantara Dengan demikian. Luther menegaskan bahwa struktur gereja tidak seharusnya didasarkan pada hierarki yang memisahkan antara rohaniwan dan awam, melainkan pada kesetaraan spiritual semua anggota jemaat dalam Kristus. Dengan demikian, tidak diperlukan lagi perantara manusia untuk berhubungan dengan Allah, karena Kristus telah menjadi perantara yang sempurna sekali untuk selamanya. Konsep ini dikenal sebagai "imamat am orang percaya", yang menekankan bahwa setiap orang Kristen memiliki akses langsung kepada Allah dan bertanggung jawab dalam pelayanan rohani. Dalam pandangan Luther, jabatan gerejawi bukanlah posisi hierarkis, melainkan fungsi pelayanan dalam tubuh Kristus, di mana semua anggota memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus Kristus telah menggenapi peran sebagai Imam Besar yang sempurna. Dengan pengorbanan-Nya yang sekali untuk selama-lamanya, tidak diperlukan lagi perantara manusiawi dalam menyampaikan doa, pengakuan dosa, atau persembahan kepada Allah. Namun, seiring berkembangnya gerakan Reformasi dan meningkatnya tekanan dari otoritas gereja. Luther menyadari perlunya pembentukan struktur gereja yang baru. Antara tahun 1525 dan 1529. Luther mulai terlibat dalam pengorganisasian gereja, terutama di wilayah Elektorat Eklesiologi Martin Luther sebagai Dasar Teologi Tata Gereja di GKPI Sachsen. Ia mendirikan badan pengawas gereja, merumuskan bentuk ibadah baru, dan menulis dua katekismus sebagai ringkasan ajaran iman yang baru. Meskipun demikian. Luther menghindari perubahan yang ekstrem dan tidak ingin menggantikan satu sistem otoriter dengan sistem otoriter lainnya. Ia lebih memilih untuk bertindak sebagai penasihat bagi gereja-gereja di wilayah baru, banyak di antaranya mengikuti model Sachsen yang ia kembangkan. Luther juga menekankan bahwa organisasi gereja seharusnya tidak bersifat permanen atau baku, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks masing-masing jemaat. Ia percaya bahwa karakter sejati gereja ditentukan oleh pewartaan Injil, bukan oleh struktur organisasi Dengan demikian, meskipun Luther tidak secara eksplisit merancang sistem pemerintahan gereja yang baru, kontribusinya dalam membentuk struktur dan praktik gereja yang lebih sesuai dengan ajaran Alkitab sangat signifikan dalam sejarah Reformasi (Isaac G. Juni 2025 ). Tata Gereja GKPI Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) resmi didirikan pada tanggal 30 Agustus 1964 di pekarangan rumah dr. Luhut Lumbantobing. Jalan Simarito No. Pematangsiantar. Pembentukan GKPI merupakan hasil dari keinginan untuk melakukan pembaruan dalam tubuh Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), yang saat itu menghadapi berbagai tantangan internal. Beberapa faktor yang mendorong pendirian GKPI antara lain adalah keprihatinan terhadap pengaruh sekularisme, dominasi kekuasaan duniawi dalam organisasi gereja, serta praktik nepotisme yang mengganggu keharmonisan pelayanan dan kehidupan jemaat. Situasi ini menyebabkan sebagian warga dan pelayan gereja merasa perlu untuk membentuk persekutuan baru yang lebih setia pada ajaran Kristus dan misi gereja yang sejati. Di tengah sejarah berdirinya GKPI tersebut ada beberapa hal yang sangat prinsipil yang menjadi nilai-nilai awal berdirinya GKPI: C Yesus sebagai Gembala yang baik (Yoh. 10:11, . Salah satu faktor utama yang mendorong berdirinya Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) adalah ketidakpuasan sejumlah jemaat terhadap pelayanan dan penggembalaan di gereja sebelumnya, khususnya dalam tubuh Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Banyak anggota jemaat merasa bahwa para pemimpin dan pelayan gereja lebih fokus pada urusan organisasi dan kekuasaan, sehingga mengabaikan tanggung jawab mereka sebagai gembala bagi umat. Akibatnya, pelayanan rohani yang seharusnya menjadi inti dari kehidupan gereja menjadi terabaikan, dan gereja lebih terlihat sebagai lembaga administratif yang menekankan kewajiban keuangan jemaat, seperti iuran bulanan, terutama saat jemaat membutuhkan pelayanan seperti baptisan, pernikahan, atau pemakaman. Situasi ini menimbulkan kekecewaan SEPAKAT - VOLUME. 11 NOMOR 1. MEI 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 172-184 mendalam di kalangan jemaat, yang kemudian mendorong sebagian dari mereka untuk mencari persekutuan baru yang lebih setia pada ajaran dan teladan Kristus sebagai Gembala yang Baik. Hal ini menjadi salah satu alasan utama berdirinya GKPI pada tahun 1964. C Melayani bukan untuk dilayani (Mrk. Semboyan "Melayani bukan untuk dilayani" yang diusung oleh Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) mencerminkan pemahaman teologis yang mendalam tentang peran Yesus sebagai Gembala dan Hamba. Yesus menempatkan diri-Nya dalam dua peran ini untuk menunjukkan bahwa gereja, sebagai tubuh Kristus, dipanggil untuk meneladani semangat pelayanan yang tulus dan rendah hati. Semboyan ini menegaskan bahwa gereja seharusnya aktif dalam melayani jemaat dan masyarakat, bukan menuntut untuk dilayani . C Imamat Am Orang Percaya . Ptr. Konsep Imamat Am Orang Percaya merupakan prinsip teologis yang fundamental dalam Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI). Prinsip ini menegaskan bahwa setiap orang yang beriman kepada Kristus dipanggil untuk berperan aktif dalam kehidupan gereja, baik dalam aspek spiritual maupun material. Hal ini tercantum dalam Tata Gereja GKPI sejak tahun 1966, khususnya pada Pasal VII, yang menyatakan bahwa seluruh anggota jemaat bertanggung jawab dalam pelayanan berdasarkan Imamat Am Orang Percaya. Dalam ayat tersebut, umat percaya disebut sebagai "imamat yang rajani," menandakan bahwa setiap individu yang percaya memiliki peran sebagai imam yang bertugas memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah dan hidup dalam terang-Nya . Dengan memahami makna Imamat Am Orang Percaya, pelayanan di tengah-tengah jemaat hendaklah semakin memberi ruang bagi warga jemaat untuk ambil bagian dalam pelayanan, mencerminkan semangat kesetaraan dan partisipasi aktif dalam kehidupan gereja. C Pekabaran Injil (PI) dan Diakonia. GKPI didirikan dengan tujuan untuk "membayar hutang" dalam hal pekabaran Injil dan diakonia, sebagai respons terhadap keterbatasan gereja sebelumnya yang hanya menjangkau kelompok tertentu . Oleh karena itu, seluruh anggota jemaat didorong untuk aktif dalam misi pekabaran Injil, menjadikan semangat ini sebagai bagian integral dari kehidupan bergereja di GKPI . METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian studi Metode penelitian studi literatur . tau literature revie. adalah pendekatan penelitian yang mengandalkan data sekunder, seperti buku, jurnal, artikel penelitian, dan sumber tertulis Eklesiologi Martin Luther sebagai Dasar Teologi Tata Gereja di GKPI lainnya, untuk menjawab pertanyaan penelitian atau memberikan pemahaman lebih mendalam tentang topik yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) didirikan pada tanggal 30 Agustus 1964 di Pematangsiantar. Sumatera Utara, sebagai hasil dari perpecahan dengan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) akibat perselisihan internal yang berkepanjangan. Perpecahan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kepemimpinan dan struktur organisasi HKBP pada saat itu, yang dianggap telah menyimpang dari prinsip-prinsip gerejawi yang sejati . GKPI menganut tradisi Lutheran, yang berakar pada ajaran Martin Luther. Sebagai gereja Lutheran. GKPI menekankan prinsip-prinsip utama Reformasi Protestan, yaitu: Sola Scriptura (Hanya Kitab Suc. : Kitab Suci sebagai satu-satunya otoritas dalam ajaran dan praktik gereja. Sola Fide (Hanya Ima. : Pembenaran oleh iman saja, bukan oleh perbuatan. Sola Gratia (Hanya Anugera. : Keselamatan adalah anugerah dari Allah, bukan hasil usaha manusia. Dalam struktur dan tata gerejanya. GKPI mengadopsi prinsip-prinsip eklesiologi Lutheran, yang menekankan bahwa setiap orang percaya memiliki peran sebagai imam . mamat am orang percay. , dan bahwa pelayanan gereja harus berpusat pada pemberitaan Firman dan pelaksanaan sakramen. GKPI juga menekankan pentingnya pelayanan yang berorientasi pada kasih dan pengorbanan, sebagaimana tercermin dalam semboyannya "Melayani bukan untuk dilayani", yang mengacu pada teladan Yesus Kristus sebagai Gembala dan Hamba. Semboyan ini menjadi landasan bagi GKPI dalam membentuk identitas pelayanan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Yesus Kristus . Dalam praktiknya, semboyan ini menjadi landasan bagi GKPI dalam membentuk identitas pelayanan yang berfokus pada kasih dan pengorbanan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Yesus Kristus. Hal ini juga tercermin dalam struktur pelayanan GKPI, di mana setiap pelayan, termasuk pendeta, diharapkan untuk mengedepankan sikap melayani dengan kasih dan kerendahan hati, sejalan dengan teladan Kristus sebagai Gembala yang Baik. Dengan demikian, semboyan "Melayani bukan untuk dilayani" bukan sekadar motto, tetapi merupakan panggilan nyata bagi seluruh warga GKPI untuk hidup dalam semangat pelayanan yang mencerminkan kasih Kristus kepada Sebagai bagian dari komunitas gereja Lutheran di Indonesia. GKPI terus berkomitmen SEPAKAT - VOLUME. 11 NOMOR 1. MEI 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 172-184 untuk melaksanakan misinya dalam memberitakan Injil dan melayani jemaat sesuai dengan ajaran dan teladan Kristus (Hutasoit I dkk. 2024 ). Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) menganut pemahaman eklesiologi yang berpusat pada Kristus, di mana Kristus menjadi inti dari kehidupan gereja, dan seluruh jemaat dianggap sebagai tubuh-Nya (Kristosentri. Pemahaman ini ditegaskan dalam Tata Gereja GKPI dan Pokok-pokok Pemahaman Iman GKPI. Dokumen-dokumen tersebut juga merujuk pada berbagai pengakuan iman gereja sepanjang sejarah, terutama yang berasal dari tradisi reformatoris, seperti Pengakuan Iman Rasuli. Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel. Melalui Pokok-pokok Pemahaman Iman ini. GKPI menegaskan identitasnya sebagai gereja yang hadir di tengah pergumulan bangsa Indonesia dan berkontribusi dalam meletakkan landasan moral, etika, dan spiritual bagi kehidupan bangsa yang sedang membangun demi terwujudnya citacita Bersama. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya tentang nilai-nilai GKPI khususnya keimamatan am orang percaya, juga sama dengan prinsip dasar dalam ajaran Martin Luther dimana semua orang yang beriman atau kepada Kristus, ia adalah imam, memiliki peran dalam imamat kudus dan imamat yang rajani, meneladani Kristus sebagai Imam Besar. Dalam teologi Luther, semua orang Kristen memiliki status rohani yang setara sebagai imam, sebagaimana tertulis dalam 1 Petrus 2:9 . Untuk mencapai tujuan dan mewujudkan visi dan misi GKPI, semua anggota jemaat dipanggil untuk bertanggung jawab dalam bidang spiritual dan material, berdasarkan konsep imamat umum orang percaya. Meskipun semua orang percaya memiliki peran sebagai imam. GKPI juga menetapkan jabatan gerejawi melalui penahbisan atau peneguhan, baik di bidang kerohanian maupun umum, untuk membimbing dan melayani jemaat, mencerminkan pelayanan Yesus Kristus (Sitanggang, 2. Jemaat gereja juga harus memiliki keinginan yang kuat untuk terlibat aktif dalam pelayanan, dengan tujuan menyebarkan Injil Allah ke luar batas-batas fisik gereja. Hal ini mencerminkan pemahaman bahwa pemberitaan Injil tidak terbatas pada kegiatan di dalam gedung gereja, melainkan harus menjangkau setiap tempat di mana orang percaya berada. Sebagaimana dinyatakan dalam Kisah Para Rasul 1:8, setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus "sampai ke ujung bumi," yang menegaskan bahwa misi penginjilan adalah tanggung jawab bersama seluruh jemaat. Dengan demikian, pelayanan dan pemberitaan Injil menjadi bagian integral dari kehidupan setiap orang percaya, tidak hanya dalam konteks ibadah formal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Dalam konsep tata ibadah. GKPI juga mempedomani konsep dalam tata ibadah gereja Lutheran pada umumnya. Dalam tata ibadah GKPI diawalai dengan Pengantar yakni saat teduh Eklesiologi Martin Luther sebagai Dasar Teologi Tata Gereja di GKPI dan nyanyian Rohani. Kemudian memasuki acara ibadah yang terdiri dari votum, introitus, doa introitus kemudian dilanjutkan dengan nyanyian rohani. Epistel. Pembacaan hukum taurat, doa pengakuan dosa, pemberitaan Anugerah dan petunjuk hidup baru, kredo . engakuan ima. , warta jemaat, nyanyian Rohani, kotbah, persembahan kemudian ditutup dengan Doa Bapa kami dan diakhiri dengan Doxology dan Berkat. KESIMPULAN Dari penjelasan di atas dapat disimpulakan bahwa gereja adalah kaum yang dipanggil keluar dari hidup bagi diri sendiri dan dipanggil untuk hidup bagi Tuhan, beribadah kepada Tuhan dan melayani Tuhan. Yang menjadi pusat dari gereja adalah Kristus dan seluruh jemaat dalam gereja adalah tubuhNya. Sebagai gereja yang termasuk dalam aliran Luther. GKPI dalam tata gerejanya didasarkan pada prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Martin Luther yang dinyatakan dalam pokok-pokok pemahaman iman GKPI. DAFTAR PUSTAKA