Room of Civil Society Development DOI: https://doi. org/10. 59110/rcsd. Volume 4 Issue 5. Year 2025 Pemberdayaan Wirausaha Komunitas Berbasis Limbah Industri Mie SoAoon dan Pemasaran Digital di Desa Pucangmiliran Teguh Supriyadi1*. Kurniawati Darmaningrum1. Asni Dania Wati1. Imam Prasetyo Wicahyo1 Daryanti1. Finda Armaya1, 1Universitas Tunas Pembangunan. Surakarta. Indonesia *Correspondence: teguhs_utp@yahoo. ABSTRACT This community service program aimed to enhance the skills and economic independence of the AuSrimulyoAy farmer group in Pucangmiliran Village. Klaten, by utilizing noodle waste . ie soAoo. as raw material for organic fertilizer and oyster mushroom cultivation media. The program adopted a knowledge transfer and technology transfer (TT) approach through problem identification, training, mentoring, and evaluation stages. It also incorporated digital marketing training to expand the market reach of mushroom-based products and organic fertilizer. The results showed significant skill improvement across all indicators: organic fertilizer production . % to 85%), oyster mushroom cultivation . % to 80%), mushroom product processing . % to 75%), and digital marketing . % to 60%). The program successfully strengthened technical capacity, improved digital literacy, and built a community-based entrepreneurship model grounded in local potential and digital innovation. These findings highlight that the synergy between the Asset-Based Community Development (ABCD). Community Capitals Framework (CCF), and Communication Infrastructure Theory (CIT) serves as an effective strategy for fostering sustainable rural economic Keywords: Community Empowerment. Digital Marketing. Organic Fertilizer. Oyster Mushroom. Rural Economy. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi kelompok tani AuSrimulyoAy di Desa Pucangmiliran. Klaten, melalui pemanfaatan limbah industri mie soAoon menjadi pupuk organik dan media tanam jamur tiram. Program dilaksanakan menggunakan metode knowledge transfer dan technology transfer (TT) melalui tahapan identifikasi masalah, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Kegiatan ini juga mengintegrasikan pelatihan digital marketing untuk memperluas jangkauan pemasaran produk olahan jamur tiram dan pupuk organik. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan signifikan pada seluruh indikator: pembuatan pupuk organik . % menjadi 85%), budidaya jamur tiram . % menjadi 80%), pengolahan produk jamur . % menjadi 75%), dan pemasaran digital . % menjadi 60%). Program ini berhasil memperkuat kapasitas teknis, meningkatkan literasi digital, serta membangun model kewirausahaan komunitas berbasis potensi lokal dan teknologi Temuan ini menegaskan bahwa sinergi antara Asset-Based Community Development (ABCD). Community Capitals Framework (CCF), dan Communication Infrastructure Theory (CIT) dapat menjadi strategi efektif dalam mewujudkan ekonomi desa berkelanjutan. Kata Kunci: Digital Marketing. Ekonomi Desa. Pemberdayaan Masyarakat. Pupuk Organik. Jamur Tiram. Copyright A 2025 The Author. : This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development Pendahuluan Desa Pucangmiliran terletak di Kecamatan Tulung. Klaten Utara, berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali. Desa ini memiliki luas 1,75 kmA dan terletak 17 km dari pusat Kabupaten Klaten serta 26 km dari Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Wilayah desa terdiri dari sembilan dukuh dengan total penduduk usia produktif sebanyak 2. 566 jiwa, yang mayoritas berusia antara 27 hingga 40 tahun dan berpendidikan SMA. Sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai wiraswasta . , swasta . , pedagang . , dan petani . , dengan keterbatasan lahan yang tersedia untuk pertanian. Salah satu industri utama di desa ini adalah industri penggilingan pati aren atau tepung kolang-kaling. Tepung yang dihasilkan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan sohun, yang menjadi produk penting dalam pembuatan makanan tradisional. Industri mie soAoon di desa ini melibatkan 11 pengusaha dengan total 54 pekerja dan menghasilkan sekitar 9 ton batang aren setiap harinya. Limbah yang dihasilkan oleh industri mie soAoon cukup besar, mencakup limbah padat sebanyak 3,6 ton, limbah cair 8. 000 mA, dan limbah kulit sebanyak 2 ton per hari. Saat ini, sebagian besar limbah tersebut hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa limbah tepung aren mengandung karbohidrat hingga 67% (Nurcahyo, 2. , yang berpotensi untuk dimanfaatkan lebih lanjut dalam produksi pupuk organik atau sebagai media untuk budidaya jamur tiram. Gambar 1. Limbah padat industri mie soAoon yang dibuang di tepi jalan desa dan tepi sungai di Desa Pucangmiliran. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa pengelolaan limbah industri mie soAoon di Desa Pucangmiliran masih bersifat pasif dan berorientasi pada pembuangan, belum diarahkan pada pemanfaatan yang produktif dan berkelanjutan. Pengelolaan limbah yang tidak optimal berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, seperti pencemaran tanah dan air, sekaligus melewatkan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari bahan limbah Oleh karena itu, diperlukan pendekatan inovatif untuk mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai tambah melalui kegiatan kewirausahaan yang melibatkan masyarakat Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatu. merupakan salah satu komoditas dengan prospek pasar yang sangat baik di Indonesia. Permintaan terhadap jamur tiram, baik dalam skala kecil maupun besar, terus meningkat setiap tahunnya, menjadikannya komoditas yang menjanjikan (Bell et al. , 2022. Gonzylez et al. , 2. Budidaya jamur tiram memiliki keunggulan karena tidak memerlukan lahan luas dan mudah dikelola dengan biaya yang Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development relatif rendah (Nurjasmi et al. , 2024. Suharno et al. , 2. Limbah industri mie soAoon yang melimpah dapat dimanfaatkan sebagai media tanam alternatif bagi jamur tiram, sehingga menjadi peluang usaha baru yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan kelompok tani di desa ini. Namun, meskipun potensi pemanfaatan limbah ini cukup besar, kelompok tani di Desa Pucangmiliran masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain rendahnya tingkat kewirausahaan dan kurangnya pemahaman dalam mengolah limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Selain itu, sistem pemasaran yang digunakan masih bersifat konvensional, sehingga jangkauan pasar menjadi terbatas. Kondisi ini memerlukan pendekatan baru yang lebih efisien dan adaptif terhadap perkembangan zaman, salah satunya melalui penerapan pemasaran digital. Pemasaran digital yang memanfaatkan media sosial seperti Facebook. Instagram, dan TikTok terbukti efektif dalam memperluas jangkauan pasar dengan biaya yang lebih rendah. Penelitian oleh Abdurrahman et al. dan Pascucci . menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola interaksi dalam pemasaran dari metode faceto-face menjadi screen-to-face, yang memungkinkan pelaku usaha memasarkan produk secara Penggunaan media sosial dapat memperluas pasar, meningkatkan interaksi dengan konsumen, serta membangun loyalitas merek dengan biaya yang efisien (Popescu & Tulbure, 2. Selain itu, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa pemasaran digital mampu meningkatkan kesadaran merek, menurunkan biaya promosi, dan memperkuat hubungan pelanggan dengan efektivitas tinggi (Darmaningrum et al. , 2024. Yuniar Rahmadieni et al. , 2. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian sebelumnya masih menyoroti pemanfaatan limbah industri dan digital marketing secara terpisah. Sinergi antara pengelolaan limbah berbasis komunitas tani dengan strategi pemasaran digital masih jarang dibahas secara komprehensif (Dolega et al. , 2021. Mudrifah & Risky Angga Pramuja, 2. Penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan menghubungkan pengelolaan limbah mie soAoon dengan penerapan pemasaran digital berbasis komunitas tani, guna menciptakan model kewirausahaan yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan berorientasi pada peningkatan pendapatan masyarakat desa. Program ini berfokus pada pendampingan kelompok tani Desa Pucangmiliran dalam mengembangkan usaha berbasis pupuk organik, budidaya jamur tiram, dan produk olahannya melalui pemanfaatan platform digital untuk memperluas pasar serta meningkatkan daya saing produk lokal. Metode Pelaksanaan Kegiataan pengabdian ini menggunakan metode kombinasi Knowledge Transfer dan Technology Transfer (TT) melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, pendampingan, serta evaluasi. Mitra penelitian adalah anggota Kelompok Tani Srimulyo di Desa Pucangmiliran, yang terletak di Kecamatan Tulung. Klaten. Kegiatan Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Juni 2025 sampai dengan Agustus 2025. Mitra sasaran dalam kegiatan ini adalah anggota kelompok tani AySrimulyoAy sebanyak 20 Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development Gambar 2. Anggota Kelompok Tani foto bersama dengan Tim Pengabdi 1 Persiapan dan Identifikasi Masalah Tahap awal dilaksanakan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan anggota kelompok tani untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan, terutama terkait pemanfaatan limbah industri mie soAoon dan rendahnya pendapatan petani. Pendekatan yang digunakan mengacu pada Participatory Rural Appraisal (PRA), yang menekankan partisipasi aktif masyarakat dalam mengenali dan memecahkan permasalahan mereka (Chambers, 1994. Wardi et al. , 2. Diskusi partisipatif dengan mitra mengadopsi prinsip Asset-Based Community Development (ABCD), yaitu memanfaatkan aset lokal . imbah mie soAoo. sebagai modal pengembangan ekonomi (Lestari et al. , 2020. Phahlevy et al. , 2024. Ridhani & Priyadharma. Pelaksanaan kegiatan juga memperhatikan Community Capitals Framework (CCF) yang menekankan pengembangan modal sosial, manusia, budaya, finansial, dan alam untuk keberlanjutan komunitas (Fitrianto et al. , 2020. Flora & Flora, 1. Kegiatan koordinasi dengan mitra dan perangkat desa dilakukan untuk memetakan potensi serta memastikan keterlibatan aktif seluruh pihak. Gambar 3. Koordinasi awal dengan mitra dan perangkat desa (Dokumentasi penulis, 2. Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development 2 Pelatihan dan Transfer Teknologi Tahap pelatihan dan transfer teknologi dilaksanakan melalui bimbingan teknis, praktik lapangan, dan diskusi kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan produksi dan pemasaran anggota kelompok tani. Pelatihan dilakukan dalam dua bidang utama, yaitu produksi dan pemasaran digital. Pada bidang produksi, peserta mendapatkan pendampingan langsung dalam pembuatan pupuk organik berbasis limbah industri mie soAoon. Kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah padat yang sebelumnya belum termanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Selanjutnya, peserta juga dilatih budidaya jamur tiram menggunakan media limbah padat halus industri mie soAoon, yang terbukti mendukung pertumbuhan jamur secara optimal. Selain itu, pelatihan juga mencakup pembuatan berbagai produk olahan jamur tiram, seperti nugget jamur, keripik jamur crispy, dan kerupuk jamur, guna memperluas peluang usaha dan menambah nilai jual hasil produksi. Sementara itu, pelatihan pada bidang pemasaran digital difokuskan pada peningkatan kapasitas peserta dalam memanfaatkan teknologi informasi. Materi yang diberikan meliputi pengenalan konsep digital marketing, pemanfaatan media sosial dan marketplace sebagai sarana promosi, serta pelatihan pembuatan konten digital dan pengelolaan akun bisnis secara profesional. Tahapan ini diakhiri dengan pendampingan berkelanjutan untuk membantu peserta mengoptimalkan strategi promosi daring, sekaligus mengevaluasi efektivitas kegiatan pemasaran melalui media digital. 3 Evaluasi dan Mentoring Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta. Observasi langsung digunakan untuk mengukur keterampilan teknis, sedangkan partisipasi mitra dicatat melalui kuesioner dan lembar observasi aktivitas. Evaluasi dilakukan dua kali, yaitu sebelum dan sesudah kegiatan, serta monitoring lanjutan dilakukan enam bulan setelah program untuk mengukur tingkat adopsi keterampilan oleh mitra. Alat dan bahan yang digunakan meliputi limbah padat pati aren, bibit jamur tiram (F. , baglog, media tanam, peralatan fermentasi pupuk organik, serta perangkat digital . martphone dan aplikasi media sosia. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan partisipasi mitra, serta kuantitatif sederhana menggunakan skor preAepost-test untuk menilai peningkatan keterampilan. Hasil Tahap awal kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Pucangmiliran. Klaten, diawali dengan sosialisasi kepada anggota Kelompok Tani Srimulyo. Peserta diperkenalkan dengan tujuan, manfaat, serta rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Setelah sosialisasi, tim pengabdi menyampaikan materi mengenai pemanfaatan limbah industri mie soAoon untuk pembuatan pupuk organik, budidaya jamur tiram, pengolahan produk jamur tiram, dan pemasaran digital. Produksi pupuk organik berbasis limbah industri mie soAoon Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan pupuk organik berbasis mikroba yang diikuti oleh anggota Kelompok Tani Srimulyo. Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif, dengan pendampingan mahasiswa dan bimbingan langsung dari tim dosen pengabdian. Peserta tampak antusias dalam setiap tahap Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development proses, mulai dari penyiapan bahan baku, pencampuran, hingga memahami peran mikroba dalam mempercepat proses dekomposisi. Tim dosen memberikan arahan terkait takaran bahan, teknik pengadukan, dan pengaturan kelembapan untuk menjaga kualitas pupuk. Mahasiswa berperan aktif dalam demonstrasi teknis sehingga menciptakan proses pembelajaran yang komunikatif dan Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis peserta, tetapi juga menumbuhkan kesadaran lingkungan mengenai pemanfaatan limbah organik secara ramah Dengan demikian, praktik ini berkontribusi terhadap transformasi limbah rumah tangga dan industri menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang wirausaha berkelanjutan di tingkat komunitas desa. Gambar 4. pembuatan pupuk organik berbasis limbah mie soAoon Budidaya jamur tiram Pelatihan budidaya jamur tiram dilakukan dengan memanfaatkan limbah padat halus dari industri mie soAoon sebagai bahan utama media tanam. Limbah tersebut dicampur dengan serbuk gergaji, bekatul, kapur, dan air dalam perbandingan tertentu, kemudian difermentasi menjadi baglog yang berfungsi sebagai media tumbuh bagi miselium jamur Inovasi penggunaan limbah mie soAoon sebagai bahan tambahan media tanam ini mampu mempercepat pertumbuhan miselium serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan konvensional seperti serbuk kayu. Kegiatan pembuatan baglog dilaksanakan secara partisipatif, di mana anggota kelompok tani dilibatkan secara langsung dalam proses pencampuran, pemadatan, dan penyegelan media. Pendampingan dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa untuk memastikan teknik pencampuran dan kelembapan media sesuai standar budidaya. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis mengenai komposisi media tanam, tetapi juga keterampilan praktis yang menunjang keberhasilan produksi jamur tiram di tingkat rumah tangga. Aneka olahan berbasis jamur tiram Pelatihan pengolahan jamur tiram menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, di antaranya nugget jamur, keripik jamur, dan kerupuk jamur tiram. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh anggota Kelompok Tani Srimulyo, yang berpartisipasi aktif dalam Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development seluruh tahapan proses, mulai dari persiapan bahan, pengolahan, hingga pengemasan Pelatihan ini berhasil mengubah jamur tiram segar menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi dan gizi tinggi. Nugget jamur tiram diproses dari jamur cincang yang dicampur tepung dan bumbu alami, sedangkan keripik jamur diolah melalui teknik penggorengan suhu rendah untuk mempertahankan tekstur renyah dan kandungan serat. Sementara itu, kerupuk jamur tiram menggunakan ekstrak jamur sebagai bahan tambahan adonan, menghasilkan produk dengan cita rasa khas dan diferensiasi tinggi dibanding kerupuk konvensional. Diversifikasi produk ini memperluas peluang wirausaha anggota kelompok tani karena dapat menembus pasar kuliner sehat yang tengah berkembang. Selain bernilai gizi tinggi . rotein nabati, vitamin B kompleks, dan mineral esensia. , produk-produk tersebut juga berpotensi menjadi ikon pangan lokal jika didukung oleh kemasan menarik dan strategi pemasaran digital yang tepat. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis peserta, tetapi juga memperkuat ekonomi kreatif berbasis pangan sehat di tingkat komunitas. Gambar 5. Produk olahan jamur tiram Digital marketing dan edukasi berbasis teknologi Pelatihan digital marketing dilaksanakan untuk memperkuat kemampuan anggota kelompok tani dalam memperluas jangkauan pasar produk jamur tiram dan pupuk organik melalui pemanfaatan teknologi digital. Peserta diperkenalkan pada konsep pemasaran digital sebagai strategi promosi yang efisien dan berbiaya rendah, dengan memanfaatkan berbagai platform populer seperti Facebook. Instagram, dan WhatsApp Business. Selama pelatihan, peserta mempelajari teknik dasar pembuatan konten promosi yang menarik, seperti pengambilan foto produk, penulisan narasi pemasaran . , serta strategi interaksi dengan calon konsumen secara daring. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mampu membuat akun bisnis secara mandiri dan mulai menerapkan strategi promosi digital pada produk olahan mereka. Pelatihan ini berdampak positif terhadap peningkatan literasi digital dan kepercayaan diri peserta, serta menjadi langkah awal pembentukan ekosistem wirausaha digital berbasis komunitas tani. Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development Selain peningkatan kapasitas internal kelompok tani, kegiatan juga mencakup edukasi digital bagi konsumen dan pemangku kepentingan pertanian. Tim pengabdian bersama mitra mengadakan sesi daring dan menyediakan materi edukatif berupa brosur dan video digital yang menjelaskan manfaat pupuk organik terhadap produktivitas pertanian, kesuburan tanah, dan keberlanjutan lingkungan. Edukasi ini dirancang untuk membangun kesadaran publik sekaligus memperluas pasar bagi produk organik lokal. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas sektor dengan lembaga pemerintah, kelompok tani lain, serta tokoh publik di bidang pertanian. Melalui kolaborasi ini, jaringan distribusi produk diperluas, dan hubungan kemitraan antara produsen dan konsumen dapat terbangun secara berkelanjutan. Ke depan, program ini diarahkan untuk membangun sistem insentif kemitraan bagi petani dan konsumen yang berkomitmen pada praktik pertanian organik, sehingga terbentuk ekosistem pertanian berkelanjutan berbasis kesadaran lingkungan dan inovasi digital. Hasil evaluasi peningkatan keterampilan peserta Evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas kegiatan pelatihan dalam meningkatkan kemampuan anggota Kelompok Tani Srimulyo pada empat aspek utama, yaitu:. pembuatan pupuk organik berbasis limbah mie soAoon, . budidaya jamur tiram, . pengolahan produk jamur tiram, dan . pemasaran digital. Pengukuran dilakukan melalui pre-test dan post-test, serta observasi langsung selama kegiatan berlangsung. Penilaian dilakukan terhadap 20 peserta dengan parameter keterampilan teknis, partisipasi, dan kemandirian dalam praktik. Tabel 1. Hasil Pre-Test dan Post-Test Keterampilan Peserta Indikator Pre-test PostKeterangan Keterampilan (%) test (%) 1 Pembuatan Pupuk Peningkatan signifikan, mayoritas Organik anggota mampu memproduksi pupuk 2 Budidaya Jamur Keterampilan meningkat, mitra Tiram menguasai teknik budidaya jamur tiram. 3 Pengolahan Peserta mampu mengolah jamur menjadi Produk Jamur produk turunan bernilai tambah. 4 Pemasaran Digital Terjadi peningkatan, meski keterampilan digital masih perlu pendampingan. Berdasarkan hasil pada Tabel 1, seluruh aspek keterampilan menunjukkan peningkatan signifikan. Kenaikan tertinggi terdapat pada kemampuan pembuatan pupuk organik . %) dan budidaya jamur tiram . %), yang menunjukkan bahwa kegiatan transfer teknologi berhasil memperkuat keterampilan teknis peserta. Aspek pemasaran digital juga mengalami peningkatan meskipun masih tergolong moderat . %), menandakan perlunya pendampingan lanjutan pada bidang non-teknis. Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development Gambar 6. Perbandingan tingkat keterampilan pesert sebelum . re-tes. dan sesudah . ost-tes. kegiatan pelatihan di Desa Pucangmiliran. Gambar 6 memperlihatkan peningkatan yang merata di seluruh aspek keterampilan. Dua bidang yang paling menonjol adalah produksi pupuk organik dan budidaya jamur, diikuti oleh pengolahan produk olahan jamur tiram. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan berbasis praktik lebih mudah diserap oleh peserta dibandingkan materi yang bersifat konseptual seperti digital marketing. Gambar 7. Radar chart peningkatan keterampilan peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Pola peningkatan pada radar chart memperlihatkan bahwa kegiatan pelatihan berhasil membangun keterampilan peserta secara seimbang di berbagai bidang. Aspek teknis seperti pembuatan pupuk organik dan budidaya jamur tiram menjadi pendorong utama peningkatan kapasitas karena melibatkan praktik langsung dan hasil yang dapat segera Sementara itu, keterampilan pengolahan produk dan pemasaran digital berkembang lebih lambat, namun menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan melalui pendampingan lanjutan. Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development Temuan ini menunjukkan bahwa proses transfer teknologi tidak hanya meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga memperkuat kapasitas sosial dan kolaboratif anggota kelompok tani dalam mengelola usaha berbasis limbah lokal. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya literasi digital dan inovasi komunitas sebagai komponen kunci dalam membangun sistem kewirausahaan desa yang berkelanjutan. Dengan fondasi keterampilan yang telah terbentuk, kelompok tani memiliki peluang besar untuk mengembangkan produk ramah lingkungan sekaligus memperluas pasar melalui platform digital. Serah terima asset Sebagai tahap akhir dari kegiatan, tim pengabdi melakukan serah terima aset produksi kepada Kelompok Tani Srimulyo sebagai mitra pelaksanaan. Aset yang diberikan meliputi peralatan pembuatan pupuk organik, bibit jamur tiram (F. , alat fermentasi, serta perangkat pendukung pengemasan produk. Penyerahan ini menandai perpindahan tanggung jawab pengelolaan kegiatan dari tim pengabdi kepada kelompok mitra secara Proses ini menjadi simbol keberlanjutan program, karena mitra kini memiliki kemampuan, sarana, dan jaringan yang cukup untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri. Selain itu, telah disepakati mekanisme pendampingan pasca-program selama enam bulan, untuk memantau perkembangan produksi, pemasaran digital, dan penggunaan pupuk organik di lahan pertanian setempat. Keberlanjutan program juga didukung oleh peningkatan kapasitas anggota kelompok dalam pengelolaan usaha, yang sebelumnya diperkuat melalui pelatihan digital marketing dan edukasi konsumen. Dengan adanya serah terima aset ini, diharapkan terbentuk model kewirausahaan berbasis komunitas yang mampu mengintegrasikan pemanfaatan limbah lokal, inovasi pertanian organik, dan pemasaran digital sebagai satu sistem ekonomi berkelanjutan di Desa Pucangmiliran. Gambar 8. Serah terima aset dan salat satu aset yang diberikan ke pihak Mitra Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development Pembahasan Hasil kegiatan pengabdian di Desa Pucangmiliran menunjukkan perubahan positif dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap anggota kelompok tani terhadap pemanfaatan limbah lokal serta pengelolaan usaha berbasis digital. Peningkatan kemampuan dalam produksi pupuk organik, budidaya jamur tiram, dan pemasaran digital mencerminkan keberhasilan proses transfer pengetahuan dan teknologi yang dilakukan secara partisipatif. Untuk memahami lebih jauh makna dari hasil tersebut, bagian ini membahas bagaimana kegiatan ini berkontribusi terhadap penguatan kapasitas komunitas, pemanfaatan aset lokal, serta pembentukan kewirausahaan desa yang berkelanjutan melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Community Capitals Framework (CCF), dan Communication Infrastructure Theory (CIT). 1 Pemanfaatan Aset Lokal dan Penguatan Modal Komunitas Pelaksanaan program pengabdian di Desa Pucangmiliran menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah industri mie soAoon sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik dan media budidaya jamur tiram merupakan bentuk nyata penerapan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Pendekatan ini berorientasi pada pemanfaatan potensi lokal yang telah ada di masyarakat sebagai modal dasar pemberdayaan, bukan berangkat dari kekurangan atau masalah. Dalam konteks ini, limbah padat mie soAoon yang sebelumnya hanya dianggap sisa produksi tanpa nilai ekonomi berhasil diubah menjadi produk baru yang bernilai guna dan bernilai jual tinggi. Hasil ini sejalan dengan temuan Lestari et al. dan Phahlevy et al. yang menyatakan bahwa pemberdayaan berbasis aset mampu meningkatkan partisipasi masyarakat karena mereka merasa memiliki dan memahami potensi yang dikembangkan. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan baku pupuk organik juga sejalan dengan hasil penelitian Devianti et al. , yang menunjukkan bahwa limbah organik memiliki kandungan nutrisi tinggi dan dapat diolah menjadi pupuk berkualitas melalui teknologi Transformasi limbah menjadi pupuk dan media jamur tidak hanya menghasilkan produk fisik, tetapi juga meningkatkan kemampuan teknis masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan. Jika ditinjau dari kerangka Community Capitals Framework (CCF), kegiatan ini juga berkontribusi terhadap peningkatan berbagai modal komunitas, seperti modal manusia, sosial, finansial, dan alam. 2 Integrasi Teknologi dan Komunikasi dalam Pemberdayaan Masyarakat Kegiatan pelatihan digital marketing dan edukasi publik memperlihatkan peran penting Communication Infrastructure Theory (CIT) dalam membangun komunikasi yang efektif antara produsen dan konsumen. Melalui pendekatan ini, masyarakat dilatih untuk menggunakan media sosial sebagai infrastruktur komunikasi baru yang memperkuat konektivitas sosial dan partisipasi ekonomi. Sebagaimana dijelaskan Ball-Rokeach et al. CIT menekankan bahwa infrastruktur komunikasi yang kuat dapat meningkatkan kapasitas partisipatif komunitas, karena informasi mengalir secara terbuka dan memungkinkan kolaborasi lintas sektor. Pelatihan digital marketing di Desa Pucangmiliran membuktikan bahwa media sosial dapat menjadi jembatan antara produksi dan konsumsi. Peserta tidak hanya belajar membuat konten promosi, tetapi juga mengembangkan jejaring pasar melalui platform digital seperti Facebook dan Instagram. Temuan ini selaras dengan penelitian Juniawan et . , yang menunjukkan bahwa pelatihan digital marketing di tingkat desa mampu meningkatkan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi bisnis dan pemberdayaan ekonomi. Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development 3 Kewirausahaan Digital sebagai Strategi Inovatif Ekonomi Desa Integrasi antara pelatihan produksi dan strategi pemasaran digital menciptakan bentuk baru kewirausahaan berbasis teknologi di tingkat komunitas. Kegiatan ini mengubah orientasi kelompok tani dari sekadar produsen tradisional menjadi pelaku ekonomi kreatif Hal ini sejalan dengan temuan Ridzal et al. yang menegaskan bahwa strategi digital marketing dapat meningkatkan nilai jual dan loyalitas pelanggan bagi UMKM ketika dipadukan dengan promosi berbasis konten dan konsistensi publikasi. Penelitian Aprilia et al. juga menunjukkan bahwa penerapan digital marketing berperan penting dalam mempertahankan dan mengembangkan usaha kecil selama masa disrupsi, karena memungkinkan pelaku usaha menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya promosi yang lebih efisien. Dengan kemampuan ini, peserta pelatihan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan strategi branding dan pengelolaan akun bisnis digital secara mandiri. 4 Dampak Sosial dan Keberlanjutan Program Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penguatan kapasitas masyarakat melalui pendekatan partisipatif menghasilkan dampak sosial yang luas. Serah terima aset produksi kepada kelompok tani menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan program, karena menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab dalam mengelola usaha. Pendampingan pasca-program selama enam bulan juga dirancang untuk memantau perkembangan produksi, efektivitas pemasaran digital, dan konsistensi penerapan keterampilan baru. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yudhita et al. yang menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah baglog jamur menjadi pupuk organik mampu memperkuat kemandirian ekonomi komunitas difabel di Bantul. Pola yang sama terlihat di Desa Pucangmiliran, di mana pemanfaatan limbah mie soAoon membentuk ekosistem ekonomi sirkular yang mendukung kesejahteraan petani. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Yusiana et al. , yang membuktikan bahwa diversifikasi produk jamur tiram mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga sekaligus memperkuat ketahanan pangan 5 Tantangan dan Rekomendasi Pengembangan Meskipun hasil kegiatan menunjukkan perkembangan yang positif, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan untuk keberlanjutan program. Salah satunya adalah rendahnya literasi digital sebagian peserta, yang memengaruhi kemampuan mereka dalam mengelola konten promosi dan interaksi daring. Selain itu, ketersediaan bahan baku limbah mie soAoon yang bergantung pada musim produksi industri lokal menjadi kendala dalam menjaga konsistensi produksi pupuk dan media jamur. Ke depan, program ini dapat diperluas melalui pembentukan inkubasi bisnis desa yang melibatkan lembaga pemerintah dan mitra industri sebagai pendukung utama. Strategi ini akan memperkuat kapasitas manajerial, memperluas jejaring pasar, serta memfasilitasi pelatihan lanjutan di bidang digital marketing. Dengan dukungan tersebut. Desa Pucangmiliran berpotensi menjadi model percontohan kewirausahaan digital berbasis pertanian organik yang berkelanjutan, sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal. khususnya poin 8 . ecent work and economic growt. dan 12 . esponsible consumption and productio. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian di Desa Pucangmiliran membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dapat berjalan efektif ketika Volume 4 No 5: 897-911 Room of Civil Society Development dikombinasikan dengan inovasi teknologi dan strategi komunikasi yang tepat. Pemanfaatan limbah mie soAoon menjadi pupuk organik dan media jamur tiram telah memperkuat kapasitas teknis dan ekonomi masyarakat, sementara adopsi digital marketing membuka peluang baru bagi pengembangan wirausaha desa yang adaptif terhadap era digital. Sinergi antara pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Community Capitals Framework (CCF), dan Communication Infrastructure Theory (CIT) menciptakan model pemberdayaan yang tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun kemandirian sosial-ekonomi yang berkelanjutan bagi Ucapan Terima Kasih Tim Pengabdian mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas pendanaan yang diberikan DRPM. DITJEN DIKTI, dan KEMENDIKTISAINTEK. Kegiatan ini mendapatkan hibah dalam program Pemberdayaan Kemitraan Masyarat Tahun 2025 dengan nomor kontrak: 123/C3/DT. 00/PM/2025, 008/LL6/PM/AL. 04/2025, dan 005/PK-PkM/E. 1/LPPM-UTP/V/2025. Terimakasih juga disampaikan kepada masyarakat di desa Pucangmiliran. Tulung. Klaten. LPPM UTP Surakarta. Kelompok Tani AuSrimulyoAy, mahasiswa Fakultas Pertanian UTP yang telah membantu pelaksanaan di lapangan, dan seluruh lapisan masyarakat yang turut serta membantu kelancaran kegiatan selama di lapangan. Daftar Pustaka