Vol 2 No. 1 Januari 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 19 - 25 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/vrrpc385 PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) IPA BERBASIS MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DI KELAS Sayyida Nafisa a*. Muhamad Rohadi b. Ali Ahmad c. Akmal Fadhillah d. Maura Febrianti Z e. Yulia Rahmadhar f a Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, snafisa054@gmail. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. DKI Jakarta b Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, mrohadi80@gmail. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. DKI Jakarta c Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, aly1715@gmail. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. DKI Jakarta d Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. Fadhiilahakmal04@gmail. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. DKI Jakarta e Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, febriyantimaura0@gmail. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. DKI Jakarta f Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. DKI Jakarta * korespondensi ABSTRACT This study aims to discus development of Student Worksheets (LKPD) based on the Problem Based Learning (PBL) model to enhance student engagement and activity in science learning. Through a Research and Development approach, this study identifies the needs and requirements for creating effective LKPD. The methods employed include the Define. Design. Develop, and Disseminate phases. The findings indicate that the developed LKPD encourages students to actively participate, think critically, and collaborate in groups. Thus, the use of PBL-based LKPD is expected to improve student learning outcomes and the overall quality of education. Keywords : Student Worksheets (LKPD). Problem Based Learning (PBL). Student Engagement. Science Learning. Research and Development Abstrak Artikel ini bertujuan untuk membahas pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berbasis pada model Problem Based Learning (PBL), dengan fokus meningkatkan keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA. Melalui pendekatan Research and Development, penelitian ini mengidentifikasi kebutuhan serta kriteria penting dalam penyusunan LKPD yang efektif. Metode yang diterapkan meliputi tahapan Define. Design. Develop, dan Disseminate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD yang dikembangkan berhasil mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif, berpikir kritis, dan bekerja sama dalam Dengan demikian, penerapan LKPD berbasis PBL diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Kata Kunci: Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Problem Based Learning (PBL). Keterlibatan Siswa Pembelajaran IPA. Research and Development Received November 1, 2024. Revised November 22, 2024. Accepted Januari 3, 2025. Published Januari 9. Sayyida Nafisa dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 19 Ae 25 PENDAHULUAN Pendidikan adalah pembelajaran yang melibatkan pendidik dan peserta didik dan merupakan pembelajaran berkelanjutan yang bertujuan untuk mengubah perilaku dan aspek pengetahuan yang dialami peserta didik. Pendidikan adalah pembelajaran yang berlangsung antara saat guru memasuki kelas dan berakhirnya Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan bakat dan minat siswa, dan tentunya sedemikian rupa sehingga membuat mereka merasa nyaman. Traherti (Saputi, 2. Penelitian Suherman tahun 2016 menemukan bahwa pembelajaran sains itu sendiri dapat mengembangkan keterampilan proses untuk menganalisis lingkungan, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan yang baik. Oleh karena itu, apabila tujuan proses pembelajaran tercapai maka tujuan pendidikan sistem pendidikan nasional juga akan tercapai. Selain itu, pendidik perlu mengembangkan kreativitasnya sendiri untuk menciptakan bahan ajar yang inovatif. Menurut Prastowo . , bahan ajar adalah bahan yang membantu guru mencapai tujuan pembelajaran pada saat pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Isi yang dibahas ada yang tertulis dan tidak tertulis. Dari Hasil wawancara SD Negri dengan siswa kelas i dan guru di Pagi menunjukkan bahwa materi yang digunakan masih terkesan monoton mengingat kebutuhan siswa. Buku cetak, papan tulis, penggaris, dan spidol dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Metode pembelajaran utama adalah ceramah dan sesi tanya jawab. Oleh karena itu, disarankan untuk mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKPD) untuk meningkatkan interaksi dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Dari uraian di atas terlihat bahwa bahan ajar itu sendiri rinci, konsisten, efektif, relevan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, dan mencakup semua bentuk tertulis atau indikatif yang digunakan siswa selama proses pembelajaran bahan ajar belum dipersiapkan dengan baik. Bahan ajarnya antara lain sebagai berikut. Menandakan telah diedit. Proses ini menjamin tercapainya tujuan Berdasarkan hal tersebut diharapkan guru mampu mengembangkan bahan ajar yang menunjang proses pembelajaran dan melibatkan siswa secara aktif sebagai alat yang dapat dijadikan sumber belajar. Salah satu materi yang dapat digunakan guru untuk pembelajaran aktif mandiri adalah melalui penggunaan Lembar Kerja Siswa Banyak (LKPD). Lembar Kerja Siswa (LKPD) merupakan alat bantu belajar yang berbentuk lembaran cetak di atas kertas. Berisi materi, rangkuman, dan petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus diselesaikan peserta didik terkait dengan keterampilan dasar yang ingin dikuasai (Prastowo, 2. METODOLOGI PENELITIAN Artikel ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan untuk mengembangkan lembar kerja siswa IPA (LKPD) berdasarkan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yang diambil dari berbagai publikasi akademik, artikel jurnal, dan laporan penelitian tertulis. Menentukan aktivitas belajar siswa. Menurut Asyhari & Silvia . , metode penelitian pengembangan ini bertujuan untuk melakukan inovasi pada produk yang sudah ada. Pada kesempatan ini peneliti akan mengembangkan produk atau mengembangkan produk inovasi berupa LKPD. Model pengembangan yang digunakan peneliti dalam penelitian pengembangan adalah model pengembangan empat dimensi: definisi, desain, pengembangan, dan diseminasi (Thiagarajan ,Dewi & Akhlis, 2. Fase Definisi Fase ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan kondisi yang diperlukan untuk pembelajaran dengan menganalisis tujuan dan batasan materi pendidikan yang dikembangkan untuk perangkat tersebut. Tahap perencanaan . Tahap definisi memerlukan pengumpulan data dalam jumlah besar. Tahap Pengembangan (Developmen. Tujuan tahap ini adalah menghasilkan revisi LKPD berdasarkan masukan para ahli. Tahap Diseminasi Diseminasi merupakan tahap akhir dari penelitian ini. Fase ini merupakan fase dimana LKPD yang dikembangkan digunakan secara luas oleh kelas, sekolah, guru, dan lain-lain. Sosialisasi dibatasi melalui JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 19 - 25 Sayyida Nafisa dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 19 Ae 25 pemberian LKPD IPA kepada siswa dan guru SD Kelas i berdasarkan model Problem Based Learning (PBL). HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pengertian LKPD Menurut Prastowo . LKPD berbentuk lembaran cetak yang berisi keterangan penjelasan, ringkasan, dan langkah-langkah menyelesaikan tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa dan berkaitan dengan pencapaian kompetensi dasar didefinisikan sebagai materi pendidikan tertulis. Dari sudut pandang tersebut dapat disimpulkan bahwa Lembar Kerja Siswa (LKPD) adalah lembaran yang berisi kegiatan siswa, yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan nyata dengan menggunakan benda dan permasalahan yang dipelajari. Fungsinya sebagai pedoman untuk memudahkan belajar siswa dan menunjang kegiatan belajar mengajar guru di sekolah. Menurut Widjajanti . Lembar Kerja Siswa (LKPD) merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan guru dalam perannya sebagai fasilitator proses pembelajaran. LKPD yang dibuat dapat dirancang dan disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang muncul pada saat kegiatan pembelajaran. 2 Pengertian Model PBL Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan yang sangat efektif dalam pendidikan, di mana pembelajaran dilakukan dengan mengangkat permasalahan dan isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini bertujuan untuk menjadikan proses belajar lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa. Menurut Amir . PBL menciptakan sebuah suasana belajar yang aktif dengan menyajikan masalah-masalah yang sering dihadapi dalam kehidupan, sehingga siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga berlatih untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam situasi nyata. Shofiyah . menegaskan bahwa PBL adalah model pembelajaran yang menantang siswa untuk menyelesaikan masalah tertentu. Dalam konteks ini, siswa tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pemecah masalah yang aktif. Mereka diharapkan untuk menganalisis, merumuskan solusi, dan berdebat tentang berbagai pendekatan yang mungkin untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Pendekatan ini mendorong keterlibatan siswa secara lebih mendalam dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta kreatif. Aziz dalam Firdaus et al. menyatakan bahwa PBL memiliki sejumlah keunggulan yang signifikan. Pertama. PBL mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. Dengan berpartisipasi secara langsung, pengetahuan yang diperoleh siswa tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga dapat terserap dengan lebih baik dan lebih mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua. PBL memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih bekerja sama dalam kelompok. Keterampilan kolaborasi ini sangat penting dalam dunia nyata, di mana individu sering kali harus bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan bersama. Ketiga, melalui model pembelajaran ini, siswa dapat mengakses ilmu dari berbagai sumber. PBL mendorong siswa untuk mencari informasi dari berbagai referensi, baik itu buku, artikel, maupun sumber digital. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar dari satu sumber saja, tetapi juga membuka wawasan mereka terhadap berbagai perspektif dan ide-ide baru. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan mereka, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang lebih adaptif dan inovatif di masa depan. Menurut Ramadhani dan tim . Problem Based Learning (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penentuan masalah dan pencarian solusi alternatif, dengan melibatkan siswa dalam penyelesaian masalah tersebut hingga selesai. Dengan kata lain, model PBL mengajak siswa untuk aktif dalam mengidentifikasi masalah dan mencari solusi secara nyata. Selain itu, model ini juga dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa, sehingga mereka merasa lebih nyaman untuk menyampaikan pendapat dan argumen saat memecahkan masalah. 3 Tujuan LKPD PBL Model pembelajaran problem based learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pendidikan yang sangat efektif dimana pembelajaran terjadi dengan mengajukan permasalahan dan pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa. Menurut Amir . PBL berfokus pada permasalahan yang biasa dihadapi dalam kehidupan, menciptakan suasana belajar aktif, dan memungkinkan siswa tidak hanya belajar teori tetapi juga berlatih menerapkan pengetahuan pada situasi kehidupan nyata. Shofiyah . menekankan bahwa PBL merupakan model pembelajaran yang meminta siswa memecahkan masalah tertentu. Siswa tidak Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) IPA Berbasis Model Problem Based Learning (PBL) di Kelas (Sayyida Nafis. Sayyida Nafisa dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 19 Ae 25 hanya sebagai penerima informasi, namun juga aktif sebagai pemecah masalah. Mereka diharapkan menganalisis permasalahan yang dihadapi, merumuskan solusi, dan mendiskusikan berbagai kemungkinan Pendekatan ini menumbuhkan keterlibatan siswa yang lebih dalam dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Aziz dalam Firdaus dkk . menyatakan bahwa PBL memiliki banyak keunggulan penting. Pertama. PBL mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam semua kegiatan pembelajaran. Partisipasi langsung memungkinkan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga menginternalisasikannya dengan lebih baik dan lebih mudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua. PBL memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih bekerja sama dalam kelompok. Keterampilan kolaborasi ini sangat penting dalam dunia nyata, di mana individu harus bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan Ketiga, melalui model pembelajaran ini siswa dapat mengakses pengetahuan dari berbagai PBL mendorong siswa untuk mencari informasi dari berbagai sumber, antara lain buku, artikel, dan sumber digital. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar dari satu sumber saja, namun juga membuka diri terhadap berbagai sudut pandang dan ide baru. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan mereka tetapi juga mempersiapkan mereka menjadi individu yang lebih mudah beradaptasi dan inovatif di masa Menurut Ramadhani dan tim . , pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang berfokus pada identifikasi masalah dan mencari alternatif solusi dengan melibatkan siswa hingga masalah tersebut teratasi. Dengan kata lain, model PBL mendorong siswa untuk aktif mengidentifikasi masalah dan mencari solusi praktis. Selain itu, model ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa dan membuat mereka nyaman dalam mengemukakan pendapat dan argumentasinya ketika menyelesaikan masalah. 4 Komponen LKPD Dalam menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), terdapat beberapa syarat yang perlu dipenuhi agar LKPD tersebut dapat berfungsi sebagai bahan ajar yang efektif. Memenuhi syarat-syarat ini penting supaya siswa dapat mengoptimalkan penggunaan LKPD. Menurut Darmodjo dan Kaligis (Widjajanti, 2. , syarat-syarat tersebut terbagi menjadi tiga kategori: syarat didaktik, syarat konstrukitif, dan syarat teknis. Pertama, syarat didaktik berkaitan dengan cara penggunaan LKPD. Syarat ini bersifat universal dan dapat diakses oleh semua siswa, baik yang lambat belajar maupun yang cepat. Syarat kedua, yaitu syarat konstrukitif, menyangkut penggunaan bahasa, struktur kalimat, kosakata, kesulitan materi, dan kejelasan. Hal ini penting agar LKPD relevan dan mudah dipahami oleh siswa. Ketiga, syarat teknis menekankan pada aspek penyajian LKPD, termasuk penggunaan huruf, gambar, dan tata letak yang menarik. Oleh karena itu. LKPD sebaiknya dirancang semenarik mungkin agar siswa tidak merasa bosan saat menggunakan materi Pembelajaran Berbasis Masalah. Pendapat ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Rizki. Istiningsih, dan Setiawan . , yang menyebutkan bahwa LKPD online harus terlihat menarik melalui kombinasi gambar, warna, dan jenis huruf di setiap halamannya. Selain itu, penyusunan LKPD harus mengikuti pedoman yang berlaku untuk memastikan akurasi, mencakup seluruh unsur yang seharusnya ada dalam LKPD, seperti judul, petunjuk pembelajaran, kompetensi yang ingin dicapai, informasi pendukung, tugas, instruksi kerja, dan evaluasi (Depdiknas, 2. Prastowo . 1:211-. menjelaskan bahwa dalam proses pembuatan LKPD, terdapat empat metode yang dapat diterapkan untuk memastikan kualitas dan efektivitasnya. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai setiap metode tersebut: Analisis Kurikulum: Langkah pertama adalah melakukan analisis kurikulum. Pada tahap ini, pendidik perlu mengidentifikasi materi-materi relevan yang akan dimasukkan ke dalam LKPD, dengan memahami kurikulum yang berlaku agar materi yang dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran. Analisis ini membantu memastikan bahwa LKPD mendukung pencapaian kompetensi yang diharapkan. Peta Kebutuhan LKPD: Selanjutnya, penting untuk membuat peta kebutuhan LKPD. Pendidik harus menghitung jumlah LKPD yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran, dengan menganalisis jumlah peserta didik, topik yang akan diajarkan, serta frekuensi penggunaan LKPD. Memahami kebutuhan ini memungkinkan pendidik untuk merencanakan dan menyiapkan LKPD dengan lebih efisien. JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 19 - 25 Sayyida Nafisa dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 19 Ae 25 Penentuan Judul: Setelah peta kebutuhan disusun, langkah berikutnya adalah menentukan judul LKPD. Judul harus didasarkan pada kurikulum, mencakup kompetensi dasar, materi inti, dan pengalaman belajar yang relevan. Judul yang tepat memberikan arahan jelas mengenai fokus pembelajaran dan membantu siswa memahami tujuan kegiatan yang akan dilakukan. Penyusunan LKPD: Tahap terakhir adalah menyusun LKPD itu sendiri. Pendidik perlu merumuskan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa dan menentukan bentuk evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur pencapaian siswa. Selain itu, struktur LKPD harus disusun dengan jelas, dan materi yang disajikan harus mudah dipahami untuk mendukung proses belajar. Dengan pendekatan ini. LKPD tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu belajar, tetapi juga sebagai sarana yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. 5 Pengaruh LKPD PBL Untuk keaktifan Siswa Didalam Pembelajaran Penelitian yang dilakukan oleh Aini . menunjukkan bahwa Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah ini bersifat student-centered, di mana siswa aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran yang dihadapkan pada masalah dari lingkungan mereka. Sesuai dengan hasil studi Winarko . , di mana guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar. Pembelajaran berbasis masalah ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mempelajari materi akademis sekaligus mengembangkan keterampilan dalam mengatasi masalah yang relevan dengan situasi di kehidupan nyata. Penelitian pengembangan ini didasarkan pada studi-studi sebelumnya yang mengkaji pengembangan LKPD IPA. Salah satu di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Aisyah . , yang menyimpulkan bahwa kualitas LKPD yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat baik dan layak digunakan. Widodo . juga menekankan bahwa LKPD berfungsi untuk mengukur sejauh mana ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Lebih lanjut, penelitian Rahman . menunjukkan bahwa bahan ajar LKPD termasuk dalam kategori sangat baik dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penggunaan LKPD telah terbukti sebagai salah satu sarana yang sangat efektif dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran. LKPD khusus dirancang untuk digunakan dalam konteks model pembelajaran berbasis masalah, yang menekankan keterlibatan aktif siswa dalam menghadapi masalah Menurut Gabriella et al. LKPD merupakan media pembelajaran yang terdiri dari lembaranlembaran berisi petunjuk tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik. Dengan demikian. LKPD tidak hanya berfungsi sebagai panduan, tetapi juga sebagai sumber informasi yang membantu siswa memahami materi secara lebih terstruktur. Salah satu manfaat utama dari penggunaan LKPD adalah kemampuannya untuk mendukung dan memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Komunikasi yang efektif antara guru dan siswa berkontribusi pada peningkatan proses belajar mengajar secara keseluruhan. Yurnalis et al. menekankan bahwa LKPD dapat menciptakan interaksi yang lebih baik antara guru dan siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Interaksi ini memungkinkan siswa terlibat lebih aktif dalam diskusi, bertanya, dan berbagi pemikiran, yang merupakan elemen penting dalam sebuah pembelajaran yang efektif. Dalam konteks pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), penggunaan LKPD sangat sesuai dengan hakikat IPA sebagai metode inkuiri dan berpikir kritis. IPA tidak hanya mengajarkan konsep-konsep teoritis, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir kritis, melakukan eksperimen, dan menyelidiki fenomena alam. Yunianti et al. menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA yang efektif memerlukan pedoman yang dapat membantu siswa agar kegiatan belajar mereka terarah dan terorganisir secara ilmiah. LKPD berfungsi sebagai pedoman tersebut, memberikan langkah-langkah yang jelas bagi siswa dalam menjalani proses pembelajaran. Dalam model pembelajaran berbasis masalah. LKPD mencakup tahapan pelaksanaan yang terstruktur. Salah satu tahap penting dalam LKPD adalah berorientasi pada masalah. Pada tahap ini. LKPD menyajikan materi dalam bentuk contoh, fenomena, atau cerita yang relevan dan menarik, dengan tujuan untuk memotivasi siswa agar lebih proaktif dalam mencari solusi. Dengan menghadapi masalah nyata, siswa didorong untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikannya. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) IPA Berbasis Model Problem Based Learning (PBL) di Kelas (Sayyida Nafis. Sayyida Nafisa dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 19 Ae 25 Pada tahap berikutnya, ketika menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. LKPD memberikan instruksi yang jelas agar siswa dapat menulis dan melaksanakan tugas belajar mereka dengan baik. Instruksi ini sangat penting untuk memastikan bahwa siswa benar-benar memahami apa yang diharapkan dari mereka serta cara Kemudian, pada tahap pengelolaan ujian individu dan kelompok. LKPD menyajikan soal-soal yang berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, dan mencari Proses ini tidak hanya melatih siswa dalam aspek akademis, tetapi juga mengembangkan keterampilan kolaboratif saat mereka bekerja dalam kelompok. Dalam tahap pengembangan dan presentasi pekerjaan. LKPD memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan berbagai solusi alternatif dan menyampaikannya di depan kelas. Proses presentasi ini memungkinkan siswa berbagi ide, menerima umpan balik, dan belajar satu sama lain. Selanjutnya, pada tahap analisis dan evaluasi. LKPD membantu siswa mempertimbangkan berbagai alternatif yang telah diajukan dan mengevaluasi solusi yang terpilih. Tahap ini sangat penting dalam proses pembelajaran, di mana siswa diajarkan untuk berpikir reflektif dan kritis terhadap hasil yang mereka capai. LKPD yang dikembangkan dalam konteks ini merupakan LKPD berbasis PBL (Problem-Based Learnin. , yang disusun dengan memperhatikan sintaks PBL dan diarahkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta kreatif siswa. Model pembelajaran berbasis masalah ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dan membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan pemecahan Lestari dan Syamsurizal . menekankan bahwa PBL mendorong siswa untuk menggali informasi sebanyak mungkin dalam rangka mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang ada guna menemukan solusi yang efektif. Sebuah penelitian oleh Musbihin . menunjukkan bahwa produk LKPD yang dikembangkan memperoleh nilai rata-rata validasi materi dan media yang termasuk dalam kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis kontekstual ini efektif digunakan dalam proses pembelajaran. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Netti . , yang menekankan bahwa LKPD yang dikembangkan memiliki keunggulan, antara lain materi yang lebih ringkas dan mencakup semua topik, serta dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran, serta berfungsi sebagai media pembelajaran mandiri bagi mereka. KESIMPULAN Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) IPA yang berlandaskan pada model Problem Based Learning (PBL) merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. LKPD ini dirancang untuk menjadikan siswa bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai peserta aktif dalam proses belajar. Dengan pendekatan PBL, siswa dihadapkan pada isu-isu nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, yang mendorong mereka untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan berbagai masalah. Salah satu manfaat utama dari penggunaan LKPD berbasis PBL adalah peningkatan keterlibatan siswa. Melalui metode ini, siswa diajak untuk bekerja sama dalam kelompok, mencari solusi alternatif, dan mengakses informasi dari beragam sumber. Tidak hanya memperkaya pengetahuan mereka, tetapi juga membantu mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan kolaborasi yang sangat penting dalam kehidupan nyata. Penelitian menunjukkan bahwa LKPD yang dirancang dengan baik dapat secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa yang menggunakan LKPD berbasis PBL terbukti memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang mengikuti pembelajaran konvensional. Selain itu, penggunaan LKPD juga meningkatkan interaksi antara guru dan siswa, menciptakan komunikasi yang lebih efektif dalam proses belajar mengajar. Karena itu, pengembangan LKPD yang menarik dan sesuai dengan kurikulum sangat dianjurkan. Guru diharapkan dapat menciptakan LKPD yang tidak hanya informatif, tetapi juga interaktif, sehingga siswa merasa lebih terlibat dan termotivasi dalam belajar. Keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran akan berpengaruh besar terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Secara keseluruhan, keberadaan LKPD berbasis PBL diharapkan dapat menjadi sarana yang efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan dinamis. Hal ini sangat krusial untuk mempersiapkan siswa menjadi individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 19 - 25 Sayyida Nafisa dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 19 Ae 25 yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, diharapkan pendidikan akan menjadi lebih relevan, kontekstual, dan mampu membentuk karakter serta kompetensi siswa di masa DAFTAR PUSTAKA